Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Magma adalah material yang dihasilkan oleh peleburan dan pemanasan


local batuan dalam inti bumi. Paling banyak batuan panas pada temperatur 800
hingga 1200oC. Ketika magma mendingin, maka ini menjadi mengeras oleh
penghabluran mozaik mineral kebentuk batuan beku (Walthan, 2009). Magma yang
mempunyai berat jenis lebih ringan dengan batuan sekelingnya, maka magma
tersebut akan berusaha naik melalui rekahan-rekahan yang ada dalam litosfer
hingga akhirnya mampu mencapai permukaan bumi. Apabila magma keluar
melalui aktivitas vulkanik maka dan mengalir ke permukaan maka ini sebut lava.
Magma dalam perjalanannya dapat juga mulai kehilangan mobilitasnya ketika
masih berada di dalam litosfer dan membentuk dapur-dapur magma sebelum
mencapai permukaan. Dalam situasi ini, magma akan membeku ditempat, dimana
ion-ion didalamnya akan mulai kehilangan gerak bebasnya kemudian menyusun
diri dan membentuk batuan beku. Unsur-unsur utama menyusun magma adalah
oksigen O2, silicon (Si), Aluminium (Al), Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K),
Besi (Fe) dan magnesium (Mg).

Berdasarkan analisis kimia berbagai batuan beku (Arsyad, 2002), maka


magma dapat dibedakan menjadi tiga macam yakni:
a Magma basaltis (basaltic magma), mengandung 50% SiO2, bersuhu tinggi
antara 900-1200oC dan viskositasnya rendah dan mudah mengalir. Contoh
batuannya adalah basalt
b Magma asam (rhyolity magma), berkomposisi SiO2 antara 60% hingga 70%,
bersuhu rendah dibawah 800oC, dengan viskositas yang tinggi. Karena
memiliki viskositas yang tinggi maka magma ini lebih kental dan memiliki
mobilitas yang rendah, Misalnya riorit.
c Magma intermediet, berkomposisi SiO2 berada antara magma basa dan
magma asam, misalnya andesit.
BAB II
ISI

A. Proses Pembanetukan Cebakan Mineral Karena Diferensiasi Magma


Proses pembentukan cebakan mineral logam karena diferensiasi magma (Alan
M. Bateman dalam Sudradjat, 1982) secara umum dalam tiga fase sebagai berikut:
1. Fase Magmatik Cair/Liquid Magmatic Phase (> 600oC):
Fase ini merupakan awal pembentukan mineral – mineral baik logam maupun
non logam yang dicirikan oleh terjadinya pemisahan unsur – unsur kurang
volatil berupa mineral – mineral silikat. Karena penurunan temperatur yang
berlangsung menerus, maka terbentuklah mineral – mineral berikutnya yang
dicirikan oleh unsur – unsur lebih volatil pada kondisi tekanan yang semakin
besar. Cebakan mineral yang terbentuk pada fase ini disebut cebakan magmatik.

Gambar 1. Mekanisme diferensiasi magma pada fase magmatik cair

Pada gambar di atas terjadi beberapa proses diantaranya :


a. Vesiculation, magma yang mengandung unsur-unsur volatil seperti air (H2O),
karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur (S) dan klorin (Cl). Pada saat
magma naik ke permukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti
buih pada air soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-
unsur yang lebih volatil seperti sodium dan potasium.
b. Diffusion, pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material
dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat.
Proses difusi tidak seselektif proses-proses mekanisme diferensiasi magma yang
lain. Walaupun demikian, proses difusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma
diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana
magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari
dinding reservoir.
c. Flotation, kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung
untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoir dengan unsur-
unsur sodium dan potasium.
d. Gravitational Settling, mineral-mineral berat yang mengandung kalsium,
magnesium dan besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak di
bawah reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan
kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan
mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan di
atasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat yang lebih ringan.
e. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu jatuh dari dinding
reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau
secara sempurna terlarut dalam magma.

3. Fase Pegmatitis – Pneumatolitis (600oC– 450oC):


Pada fase ini terjadi pemisahan yang luar biasa dari unsur – unsur volatil larutan
magma sisa pada kondisi tekanan yang cukup besar. Larutan magma sisa ini
sebagian menerobos batuan yang telah ada melalui rekahan dan kemudian
membentuk cebakan pegmatitis. Setelah temperatur mulai menurun (550oC –
450oC), akumulasi gas mulai membentuk mineral. Pada penurunan temperatur
selanjutnya ( 450oC ), volume unsur volatil semakin menurun dan kemudian
membentuk endapan mineral yang disebut cebakan pneumatolitis.
4. Fase hidrotermal (<450oC)
Pada fase terakhir ini keadaan larutan magma sisa sangat encer, tekanan gas menurun
dengan cepat dan setelah temperatur mencapai titik kritik air (372oC), mulailah
terbentuk cebakan hidrotermal. Proses pembentukan mineral pada fase ini
berlangsung terus hingga mencapai tahap akhir pembekuan semua larutan magma
sisa ( 100oC – 500oC ).

B.Genesa Cebakan Mineral

Proses pembentukan endapan mineral dapat diklasifikasikan menjadi dua macam,


yaitu proses internal atau endogen dan proses eksternal atau eksogen. Endapan mineral yang
berasal dari kegiatan magma atau dipengaruhi oleh faktor endogen disebut dengan endapan
mineral primer. Sedangkan endapan mineral yang dipengaruhi faktor eksogen seperti proses
weathering, inorganik sedimentasi, dan sedimentasi organik disebut dengan endapan
sekunder, membentuk endapan plaser, residual, supergene enrichment,
evaporasi/presipitasi, mineral-energi (minyak dan gas bumi dan batubara dan gambut).

Proses internal atau endogen pembentukan endapan mineral yaitu meliputi:


(2) Kristalisasi dan segregrasi magma: kristalisasi magma merupakan proses
utama dari pembentukan batuan vulkanik dan plutonik.
(3) Hidrotermal: Larutan hidrotermal ini dipercaya sebagai salah satu fluida
pembawa bijih utama yang kemudian terendapkan dalam beberapa fase dan tipe
endapan.
(4) Lateral secretion: merupakan proses dari pembentukan lensa-lensa dan urat
kuarsa pada batuan metamorf.
(5) Proses metamorfik: umumnya merupakan hasil dari kontak dan regional
metamorfime.
(6) Volcanic exhalative (sedimentary exhalative); Exhalations dari larutan
hidrotermal pada permukaan, yang terjadi pada kondisi bawah permukaan air
laut dan umumnya menghasilkan tubuh bijih yang berbentuk stratiform.

Proses eksternal atau eksogen pembentukan endapan mineral yaitu


meliputi:
(3) Mechanical Accumulation; Konsentrasi dari mineral berat dan lepas menjadi
endapan placer (placer deposit).
(4) Sedimentary precipitates; Presipitasi elemen-elemen tertentu pada lingkungan
tertentu, dengan atau tanpa bantuan organisme biologi.
(5) Residual processes: Pelindian (leaching) elemen-elemen tertentu pada batuan
meninggalkan konsentrasi elemen-elemen yang tidak mobil dalam material sisa.
(6) Secondary atau supergene enrichment; Pelindian (leaching) elemen-elemen
tertentu dari bagian atas suatu endapan mineral dan kemudian presipitasi pada
kedalaman menghasilkan endapan dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Secara
umumnya proses pembentukan endapan mineral baik jenis endapan logam
maupun non logam dapat terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan
oleh aktivitas magma dan endapan mineral ekonomis selain karena aktifitas
magma juga dapat dihasilkan dari proses alterasi yaitu mineral hasil ubahan dari
mineral yang telah ada karena suatu faktor. Pada proses pembentukan mineral
baik secara mineralisasi dan alterasi tidak terlepas dari faktor faktor tertentu
yang selanjutnya akan dibahas lebih detail untuk setiap jenis pembentukan
mineral.

Adapun menurut M. Bateman dalam Sudradjat (1982) membagi proses


pembentukan mineral ke dalam beberapa proses yang menghasilkan jenis mineral
tertentu baik yang bernilai ekonomis maupun mineral yang hanya bersifat sebagai
gangue mineral, proses tersebut adalah sebagai berikut:
(1) Early Magmatic Proscess
Proses ini sebagian besar berasal dari magma primer yang bersifat ultrabasa
lalu mengalami pendinginan dan pembekuan membentuk mineral-mineral
silikat dan bijih. Pada temperatur tinggi > 600oC fase magmatik cair mulai
membentuk mineral-mineral baik logam maupun non logam. Asosiasi
mineral yang terbentuk sesuai dengan temperatur pendinginan pada saat itu.
Early magmatic yang terbagi atas :
 
Bila tidak terjadi konsentrasi, maka mineral bijih yang terbentuk akan
tersebar merata (dissemination), contoh endapannya Intan
Apabila terjadi diferensiasi kristalisasi (biasa/gravitasi), maka mineral-
 
mineral yang terbentuk bisa terkonsentrasi (segregation) pada tempat-
tempat tertentu.
Apabila terjadi penerobosan/injeksi (injection) ke tempat lain maka
 mineral-mineral yang sudah terbentuk akan  berpindah dan
terkonsentrasi di tempat lain, contoh magmatik Kiruna
(2) Late magmatik Process
Sebagian magma yang belum membentuk mineral; berupa sisa daripada
magma yang telah mengkristal pada “early magmatik process” akan
membentuk mineral secara terkonsentrasi karena proses diferensiasi
 
kristalisasi gravitasi (residual liquid segregation), contohnya Magmatis
Taberg Residual liquid injection, contohnya magmatik Adirondack.
Magma yang tersisa setelah “early magmatik process” bisa diinjeksikan
ke tempat lain yang keadaan tekanannya lebih rendah membentuk
 mineral-mineral berikutnya secara  terkonsentrasi (Residual liquid
injection), contohnya sulfida Insizwa
Terjadi penerobosan (penetration) dan korosi larutan magma yang
tersisa terhadap mineral-mineral yang telah terbentuk pada early
magmatik process dan kemudian membentuk mineral-mineral
 
berikutnya secara terkonsentrasi (Immiseibleliquid separation and
accumulation), contohnya Vlackfontein, Afrika Selatan.
Magma yang tersisa membawa mineral-mineral yang telah terbentuk
pada early magmatik process ke tempat lain karena pengaruh injeksi dan
  bersama-sama mineral lain yang terbentuk kemudian
terkonsentrasi
(injection)
(3) Pegmatisme
Setelah proses pembentukan magmatisme, larutan sisa magma (larutan
pegmatisme) yang terdiri dari cairan dan gas. Fase endapan ini ± 600-450oC
berupa larutan magma sisa. Asosiasi batuan umumnya berupa granit.
(b) Pneumatolisis
Setelah temperatur mulai turun ±550–450oC akumulasi gas mulai
membentuk mineral sampai pada temperatur 450oC volume unsur
volatilnya makin menurun karena membentuk cebakan pneumatolitis dan
tinggal larutan sisa magma yang makin encer. Unsur volatil akan bergerak
menerobos batuan beku yang telah ada dan batuan samping disekitarnya
kemudian akan membentuk mineral baik karena proses sublimasi maupun
karena reaksi unsur volatil tersebut dengan batuan yang diterobosnya
sehingga terbentuk endapan mineral yang disebut endapan pneumatolitis.
(c) Proses hidrotermal
Merupakan proses pembentukan mineral yang terjadi oleh pengaruh
temperatut dan tekanan yang sangat rendah, dan larutan magma yang
terbentuk ini merupakan unsur volatil yang sangat encer yang terbentuk
setelah tiga tahapan sebelumnya. Secara garis besar endapan hidrotermal
dapat dibagi atas:
a. Endapan hipotermal, dengan ciri-ciri yaitu :
Tekanan dan temperatur pembekuan relatif paling tinggi.
Endapan berupa urat-urat dan korok yang berasosiasi dengan
intrusi dengan kedalaman yang besar.
Asosiasi mineralnya berupa sulfida, misalnya pirit, kallopirit,
galena, dan spalerit serta oksidasi besi.
Pada intrusi granit sering berupa nedapan logam Au, Pb, Sn, W,
dan Z.
b. Endapan Mesotermal, dengan ciri-ciri yaitu :
Tekanan dan temperatur yang berpengaruh lebih rendah daripada
endapan hipotermal.
Endapannya berasosiasi dengan batuan beku asam-basa dan dekat
dengan permukaan bumi.
Tekstur akibat cavity filling jelas terlihat, sekalipun sering
mengalami proses penggantian antara lain berupa crustification dan
banding.
Asosiasi mineralnya berupa sulfida, misalnya Au, Cu, Ag, As, Sb
dan oksida Sn.
Proses pengayaan sering terjadi.
c. Endapan Epitermal, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
- Tekanan dan temperatur yang berpengaruh paling rendah.
- Tekstur penggantian tidak luas, jarang terjadi.
- Endapan bias dekat atau pada permukaan bumi.
Kebanyakan teksturnya berlapis atau berupa fissure-vein.
Struktur khas yang sering terjadi adalah cockade structure.
Asosiasi mineral logamnya berupa Au dan Ag dengan mineral
ganguenya berupa klasit dan zeolit disamping kuarsa.
Adapun bentuk bentuk endapan mineral yang dapat dijumpai
sebagai endapan hidrotermal adalah sebagai cavity filling. Cavity filling
yaitu proses mineralisasi berupa pengisian ruang-ruang bukaan atau rongga
– rongga dalam batuan yang terdiri atas mineral-mineral yang
11
diendapkan dari larutan pada rekahan-rekahan batuan, yang berupa fissure
veins, shear-zonedeposits, stockworks, ladder veins, saddle – reefs, tension
crack fillings, breccia fillings (gold vein).

Gambar 7. Diagram Nigli

Dari gambar di atas, dapat diketahui bahwa hubungan antara keterdapatan


mineral dengan magma sangat erat. Dimana mulanya magma bersifat sangat
encer/cair, kemudian mengalami proses penurunan temperatur (kristalisasi) dan
penurunan tekanan pula. Pada kedua proses penurunan temperatur dan tekanan
(diferensiasi magma) inilah magma melewati beberapa fase terbentuknya mineral-
mineral khas yang selanjutnya menjadi suatu ciri fase-fase tersebut. Fase yang
dilewati saat proses diferensiasi magma yaitu, fase magmatik cair, fase pegmatitik
pneumatolitik, dan fase hidrotermal.

Gambar 8. Profill skematis antarmuka


antara magma bebas kristal
pada pusat kamar magma dan
batuan yang sudah
mengalami pematadatan pada
bagian luar (Marsh, 1989
dalam Subiyantoro, 2006)

12
Tabel 1. Hasil analisis kimia unsur Au, Ag, Cu, Pb, Zn di Kawasan Kubah Baya
(Widi, B.N, 2007)

Hasil analisis kimia menunjukkan tipe Cirotan kadar tertinggi; Cu 7397


ppm, Pb 149800 ppm, dan Zn 132900 ppm. Au mencapai hingga 4001 ppb dan Ag
30 ppm, As 100 ppm. Tipe Cikotok kadar tertinggi; Cu 397 ppm, Pb 425 ppm, dan
Zn 408 ppm. Au nilai tertinggi 11479 ppb dan Ag 73 ppm, As 100 ppm. Tipe
Cisungsang menunjukkan kadar tertinggi; Cu 8700 ppm, Pb 15040 ppm, dan Zn
6000 ppm. Sementara Au tertingginya 3163 ppb dan Ag 78 ppm, As 1600 ppm.

Dari jenis alterasinya tipe Cisungsang ; silisifikasi, batuan karbonat terubah


menjadi silika, dan karbonatisasi. Tipe Cirotan alterasinya berupa silisifikasi
“highly altered” ubahan silisifikasi sebagian karbonatisasi. Tipe Cikotok–Cikidang
alterasinya berupa argilitisasi silisifikasi dan propilitisasi ditandai oleh pemunculan
secara dominan klorit dan silika sekunder.

Asosiasi mineral : tipe Cirotan, galena, sfalerit, kalkopirit, dan pirit,


kehadirannya cukup berlimpah. Kovelit-kalkosit muncul sebagai mineral sekunder.
Tipe Cikotok-Cikidang ; elektrum, argentit. Galena, sfalerit, kalkopirit, dan pirit
muncul terbatas dan sangat halus. Tipe Cisungsang ; galena, sfalerit, kalkopirit dan
pirit. Pemunculan kalkopirit pada bagian bawah lebih banyak.

Dalam proses magmatik di Medicine Lake Volcano, N. California yang


menggeneret riolit Gunung Glass(Grove, 1997) diperoleh variasi kimia mineral
dalam inklusi dan lava. Komposisi mineral dalam inklusi magma dilaporkan dari
inti intergrow mineral. Dalam olivine + plag + hi-Ca pyx-bearing inclutions olivine
+ plag atau olivine + plag + hi-Ca pyx glomerocrystic intergrow telah
menampakkan tekstur yang mengindikasikan koesisting fase secara simultan
(gambar 9).

13
Gambar 9. Olivin-Plagioklas dan Ortopiroksin-kovarian Plagioklas dalam lava
Gunung Glass dan mineral yang dihasilkan dalam melting eksperimen
(Grove, L.T,.et.al, 1997)

Gambar 10. Variasi MgO versus K2O dalam inklusi, lava, dan secara eksperimen
menghasilkan cairan(Grove, L.T,.et.al, 1997)

14
Gambar 11. a). Model konveksi mantel dalam bumi dan kenaikan mantel plume
(Davies dan Richard dalam Pirajno, 2007). b). Model mantel plume
(Campbell dan Griffiths dalam Pirajno, 2007). c). Uplift dan hasil
ekstensi dalam pemekaran dan melting dekompresi kepala plume
(Saunders et al dalam Pirajno, 2007). Melting dari hasil mantel litosfer
subkontinental metasomatik dalam magmatisme alkalin dimana
melting kerak bagian bawah menggeneret A-tipe magma (Pirajno,
2007)

3
sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding kaya akan
sodium, potasium dan silikon, magma akan berubah menjadi komposisi
granitik. Jika batuan dinding kaya akan kalsium, magnesium dan besi,
magma akan berubah menjadi berkomposisi gabroik.
Thick Horizontal Sill, secara umum bentuk ini memperlihatkan proses
diferensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan
dinding reservoir. Jika bagian sebelah dalam membeku, terjadi crystal
settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih
berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.
5. Fase Pegmatitis – Pneumatolitis (600oC– 450oC):
Pada fase ini terjadi pemisahan yang luar biasa dari unsur – unsur volatil larutan
magma sisa pada kondisi tekanan yang cukup besar. Larutan magma sisa ini
sebagian menerobos batuan yang telah ada melalui rekahan dan kemudian
membentuk cebakan pegmatitis. Setelah temperatur mulai menurun (550oC –
450oC), akumulasi gas mulai membentuk mineral. Pada penurunan temperatur
selanjutnya ( 450oC ), volume unsur volatil semakin menurun dan kemudian
membentuk endapan mineral yang disebut cebakan pneumatolitis.
6. Fase hidrotermal (<450oC)
Pada fase terakhir ini keadaan larutan magma sisa sangat encer, tekanan gas
menurun dengan cepat dan setelah temperatur mencapai titik kritik air (372oC),
mulailah terbentuk cebakan hidrotermal. Proses pembentukan mineral pada fase
ini berlangsung terus hingga mencapai tahap akhir pembekuan semua larutan
magma sisa ( 100oC – 500oC ).
Gambar 1. Mekanisme diferensiasi magma pada fase magmatik cair

Pada gambar di atas terjadi beberapa proses diantaranya :


f. Vesiculation, magma yang mengandung unsur-unsur volatil seperti air (H2O),
karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur (S) dan klorin (Cl). Pada saat
magma naik ke permukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti
buih pada air soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-
unsur yang lebih volatil seperti sodium dan potasium.
g. Diffusion, pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material
dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat.
Proses difusi tidak seselektif proses-proses mekanisme diferensiasi magma yang
lain. Walaupun demikian, proses difusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma
diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana
magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari
dinding reservoir.
h. Flotation, kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium cenderung
untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoir dengan unsur-
unsur sodium dan potasium.
i. Gravitational Settling, mineral-mineral berat yang mengandung kalsium,
magnesium dan besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak di
bawah reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan
kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan
mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan di
atasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat yang lebih ringan.
j. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari
dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan
magma atau secara sempurna terlarut dalam magma,
sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding kaya akan
sodium, potasium dan silikon, magma akan berubah menjadi komposisi
granitik. Jika batuan dinding kaya akan kalsium, magnesium dan besi,
magma akan berubah menjadi berkomposisi gabroik.
Thick Horizontal Sill, secara umum bentuk ini memperlihatkan proses
diferensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan
dinding reservoir. Jika bagian sebelah dalam membeku, terjadi crystal
settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih
berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.
7. Fase Pegmatitis – Pneumatolitis (600oC– 450oC):
Pada fase ini terjadi pemisahan yang luar biasa dari unsur – unsur volatil larutan
magma sisa pada kondisi tekanan yang cukup besar. Larutan magma sisa ini
sebagian menerobos batuan yang telah ada melalui rekahan dan kemudian
membentuk cebakan pegmatitis. Setelah temperatur mulai menurun (550oC –
450oC), akumulasi gas mulai membentuk mineral. Pada penurunan temperatur
selanjutnya ( 450oC ), volume unsur volatil semakin menurun dan kemudian
membentuk endapan mineral yang disebut cebakan pneumatolitis.
8. Fase hidrotermal (<450oC)
Pada fase terakhir ini keadaan larutan magma sisa sangat encer, tekanan gas
menurun dengan cepat dan setelah temperatur mencapai titik kritik air (372oC),
mulailah terbentuk cebakan hidrotermal. Proses pembentukan mineral pada fase
ini berlangsung terus hingga mencapai tahap akhir pembekuan semua larutan
magma sisa ( 100oC – 500oC ).