Anda di halaman 1dari 44

PERENCANAAN PENGUATAN LERENG MENGGUNAKAN

DINDING PENAHAN TIPE KANTILEVER


DI DESA CISARUA NANGGUNG BOGOR

ISYRAQ ZAKIR

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2017
ii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER


INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perencanaan Penguatan


Lereng Menggunakan Dinding Penahan Tipe Kantilever di Desa Cisarua
Nanggung Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Oktober 2017

Isyraq Zakir
NIM F44130067
iii

ABSTRAK

ISYRAQ ZAKIR. Perencanaan Penguatan Lereng Menggunakan Dinding


Penahan Tipe Kantilever di Desa Cisarua Nanggung Bogor. Dibimbing oleh
ASEP SAPEI.
Sudah sejak lama daerah Jawa Barat khususnya Bogor terkena bencana
longsor. Salah satu wilayah yang terkena bencana longsor ini adalah Desa Cisarua
Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk
mendesain dinding penahan kantilever serta menghitung rencana anggaran biaya
yang diperlukan untuk perkuatan lereng tersebut. Software GEO 5 digunakan
sebagai alat bantu perhitungan stabilitas lereng, sedangkan perhitungan dimensi
dinding penahan tipe kantilever dilakukan secara manual. Berdasarkan hasil
perhitungan, diperoleh nilai faktor keamanan (Fs) lereng sebesar 1,34 yang
menunjukkan bahwa lereng tidak stabil karena berada di bawah batas aman, yaitu
1,5. Perencanaan dimensi dinding dilakukan secara trial and error untuk
mendapatkan kriteria dinding yang aman terhadap gaya guling, gaya geser, dan
keruntuhan. Dimensi dinding yang aman adalah dinding dengan tinggi 7,8 m,
panjang base sebesar 5 m, dan lebar dinding sebesar 4 m. Faktor keamanan
terhadap gaya guling, gaya geser, dan keruntuhan masing - masing sebesar 2,38;
1,56, dan 6,16. Total rencana anggaran biaya yang dibutuhkan adalah sebesar
Rp78.723.493.
Kata kunci: Desa Cisarua, faktor keamanan, GEO5, kantilever, stabilitas lereng.

ABSTRACT
ISYRAQ ZAKIR. Slope Stability Planning Using Cantilever Retaining Wall in
Cisarua Village Nanggung Bogor. Supervised by ASEP SAPEI.
It has been a long time West Java area especially Bogor affected by landslide.
One of the areas affected by landslide is Cisarua village, Nanggung, Bogor
district. This study aimed to design retaining walls of cantilever type and to
calculate the requirement lost for retrofitting the slope. GEO 5 software was used
as a tool for calculating slope stability, while calculation of cantilever retaining
wall dimension was done manually. Based on the calculation, the value of slope
safety factor (Fs) of 1,34 indicated that the slope not stable becauseFs value was it
below Fs standard of 1,5. Wall dimension planning was done with trial and error
to get secure wall criteria against bolsters, shear, and collapse. The secure wall
dimension obtained was a wall with a height of 7,8 m, a base length of 5 m, and a
wall width of 4 m. Safety factor against bolsters, shear, and collapse were
respectively of 2,38; 1,56; and 6,16. The total lost plan required was
Rp78.723.493.
Keywords: cantilever, Cisarua Village, GEO5, safety factor, slope stability.
iv

PERENCANAAN PENGUATAN LERENG MENGGUNAKAN


DINDING PENAHAN TIPE KANTILEVER
DI DESA CISARUA NANGGUNG BOGOR

ISYRAQ ZAKIR

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2017
vi

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas karunia, hidayah, dan rahmat-
Nya, skripsi yang berjudul “Perencanaan Penguatan Lereng Menggunakan
Dinding Penahan Tipe Kantilever di Desa Cisarua Nanggung Bogor” dapat
diselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik pada Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan.
Disampaikan rasa terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS selaku
pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan dalam penyelesaian
skripsi. Terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Sutoyo, S.TP, M.Si dan Ibu
Titiek Ujianti, S.T, M.T selaku penguji yang telah memberikan masukan bagi
perbaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu atas
segala doa dan dukungannya serta semua pihak yang telah membantu dan
memberikan waktunya, khususnya kepada teman-teman di Departemen Teknik
Sipil dan Lingkungan angkatan 50. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Oktober 2017

Isyraq Zakir
vii

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ................................................................................................ viii


DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ viii
PENDAHULUAN ...................................................................................................1
Latar Belakang .................................................................................................... 1
Perumusan Masalah ............................................................................................. 1
Tujuan Penelitian ................................................................................................. 2
Manfaat Penelitian ............................................................................................... 2
Ruang Lingkup Penelitian ................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................................2
Stabilisasi Lereng Rawan Longsor ...................................................................... 2
Tipe Dinding Penahan ......................................................................................... 5
Software Geo 5 .................................................................................................... 7
METODOLOGI PENELITIAN ...............................................................................7
Waktu dan Lokasi ................................................................................................ 7
Alat dan Bahan .................................................................................................... 8
Prosedur Penelitian .............................................................................................. 8
HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................................15
Keadaan Umum Lokasi Penelitian .................................................................... 15
Topografi Lereng dan Karakteristik Tanah ....................................................... 15
Analisis Stabilitas Lereng .................................................................................. 16
Desain Dinding Penahan Kantilever ................................................................. 17
Rencana Anggaran Biaya .................................................................................. 23
SIMPULAN DAN SARAN ...................................................................................24
Simpulan ............................................................................................................ 24
Saran .................................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................25
LAMPIRAN ...........................................................................................................27
RIWAYAT HIDUP................................................................................................36
viii

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Nilai Faktor Keamanan Lereng 5
Tabel 2 Faktor Keamanan Minimum Stabilitas Lereng 5
Tabel 3 Karakteristik tanah di lokasi penelitian 15
Tabel 4 Material dinding kantilever 17
Tabel 5 Jenis material tanah sebagai backfill 18
Tabel 6 Momen akibat beban struktur dan tanah 19
Tabel 7 Perhitungan daya dukung dinding terhadap guling 20
Tabel 8 Perhitungan daya dukung dinding terhadap geser 20
Tabel 9 Nilai Fs guling dan Fs geser dinding penahan 22
Tabel 10 Perhitungan kapasitas daya dukung tanah 23
Tabel 11 Perhitungan anggaran biaya dinding kantilever 24

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Dimensi dinding penahan tipe kantilever 7
Gambar 2 Lokasi penelitian Desa Cisarua Kecamatan Nanggung 8
Gambar 3 Bagan alir penelitian 9
Gambar 4 Desain dinding penahan rencana 1 19
Gambar 5 Desain dinding penahan rencana 2 21
Gambar 6 Desain dinding penahan rencana 3 22

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kondisi Lereng di Lokasi Penelitan Desa Cisarua Nanggung Bogor 27
Lampiran 2 Analisis Faktor Keamanan Lereng dengan Program GEO 5 28
Lampiran 3 Nilai faktor daya dukung 29
Lampiran 4 Komposisi ukuran minimal dinding penahan kantilever 29
Lampiran 5 Gambar teknik dua dimensi dinding penahan 30
Lampiran 6 Gambar teknik tiga dimensi dinding penahan 31
Lampiran 7 Gambar teknik dua dimensi penulangan dinding penahan 32
Lampiran 8 Gambar teknik tiga dimensi penulangan dinding penahan 33
Lampiran 9 Perencanaan penulangan dinding kantilever 34
Lampiran 10 Analisis Harga Satuan Bidang Pekerjaan Umum tahun 2016 35
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan Indonesia sebagai negara maju tidak hanya dilihat dari


pertumbuhan ekonomi perkapita masyarakatnya yang semakin meningkat setiap
tahunnya, namun juga dilihat dari program pembangunan infrastrukur dari
beberapa daerah yang semakin pesat. Pembangunan di atas suatu lereng sangat
riskan dan beresiko terjadi kelongsoran karena komponen gravitasi cenderung
untuk menggerakan massa tanah.
Kelongsoran tanah merupakan bencana yang terjadi akibat meningkatnya
tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatu massa
tanah. Dengan kata lain, kekuatan geser dari suatu massa tanah tidak mampu
memikul beban kerja yang terjadi. Untuk itu kestabilan suatu lereng perlu
dianalisis agar kekuatan geser dari lereng dan faktor keamanannya diketahui. Ada
beberapa pengembangan metode yang dapat digunakan seperti analisis umum,
metode Fellenius, metode Spencer, metode Janbu dan Bishop (Anderson dan
Richards 1987).
Sudah sejak lama daerah Jawa Barat khususnya Bogor terkena bencana longsor
yang sangat merugikan warga sekitar. Hal ini disebabkan oleh perubahan cuaca
yang extreme, seperti hujan berkepanjangan yang menyebabkan kekuatan tanah
menjadi tidak stabil dan berakibat pada kelongsoran. Salah satu wilayah yang
terkena bencana longsor ini adalah pemukiman warga di desa Cisarua Kecamatan
Nanggung Bogor. Pemukiman ini tidak berada jauh dari lereng bukit yang
diatasnya merupakan jalur transportasi umum, akibatnya pada musim hujan
berkepanjangan, lereng ini tidak mampu menahan beban dari kendaraan diatasnya
dan terjadi longsor yang menimpa pemukiman penduduk.
Untuk mencegah terjadinya kelongsoran susulan pada lereng dibutuhkan
sebuah perencanaan dinding penahan yang betul-betul stabil dari segi kekuatan
untuk menopang besarnya gaya guling, gaya geser dan daya dukung. Dinding
kantilever dari beton bertulang masih cukup umum pada daerah perkotaan karena
tidak mudah dirusak dan sering kali tidak memerlukan urugan-balik. Biasanya
dinding ini mampu bersaing baik dalam harga bila dinding tidak terlalu tinggi
(minimal 6m). Dinding ini juga banyak dipakai untuk dinding ruang bawah tanah
gedung maupun digunakan di daerah yang memerlukan stabilisasi pada lereng
yang rawan longsor (Hardiyatmo 2011). Oleh karena itu, dalam penelitian ini
dinding kantilever dipilih sebagai dinding penahan yang akan digunakan untuk
stabilisasi lereng rawan longsor di Desa Cisarua Nanggung Bogor.

Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diketahui bahwa masalah yang muncul karena
kondisi tanah yang tidak stabil . Oleh karena itu diperlukan suatu konstruksi
perkuatan tanah yang efektif untuk mencegah terjadinya longsor.
1. Bagaimana perhitungan dimensi struktur dinding penahan tipe kantilever
untuk penanganan longsor ?
2

2. Bagaimana perhitungan rencana anggaran biaya dalam perencanaan


pembangunan dinding penahan tipe kantilever pada lereng yang diuji?
Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :


1. Merencanakan dinding penahan tipe kantilever yang aman terhadap bahaya
pergeseran, penggulingan dan keruntuhan.
2. Menghitung rencana anggaran biaya dinding penahan tipe kantilever.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh apabila perkuatan lereng yang direncanakan ini
benar-benar diimplementasikan adalah tidak akan terjadi kelongsoran susulan
pada ruas jalan di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung sehingga arus lalu lintas
dan kehidupan masyarakat setempat berjalan lancar.

Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup yang akan dibahas pada tugas akhir ini adalah sebagai
berikut :
1. Lokasi pengambilan sampel tanah dan dimensi lereng adalah di Desa Cisarua
Kecamatan Nanggung.
2. Software yang dipakai adalah GEO 5 sebagai alat bantu perhitungan stabilitas
lereng.
3. Perhitungan dimensi dinding penahan kantilever dilakukan secara manual.
4. Dilakukan analisa biaya berdasarkan perencanaaan dinding penahan tanah.

TINJAUAN PUSTAKA

Stabilisasi Lereng Rawan Longsor

Longsoran
Pengertian longsoran (landslide) dengan gerakan tanah (massmovement)
mempunyai kesamaan. Untuk memberikan definisi longsoran perlu penjelasan
keduanya. Gerakan tanah ialah perpindahan massa tanah/batu pada arah tegak,
mendatar atau miring dari kedudukan semula. Gerakan tanah mencakup gerak
rayapan dan aliran maupun longsoran. Menurut definisi ini longsoran adalah
bagian gerakan tanah (Purbohadiwidjojo, dalam Pangular 1985). Jika menurut
definisi ini perpindahan massa tanah/batu pada arah tegak adalah termasuk
gerakan tanah, maka gerakan vertikal yang mengakibatkan bulging (lendutan)
akibat keruntuhan pondasi dapat dimasukkan pula dalam jenis gerakan tanah.
Menurut Hutchinsons (1968) dalam Hansen (1984), kelompok utama gerakan
tanah terdiri atas rayapan (creep) dan longsoran (landslide) yang terbagi menjadi
sub-kelompok gelinciran (slide), aliran (flows), jatuhan (fall) dan luncuran (slip).
Definisi longsoran (landslide) menurut Sharpe (1938) dalam Hansen (1984),
adalah luncuran atau gelinciran (sliding) atau jatuhan (falling) dari massa
3

batuan/tanah atau campuran keduanya. Secara sederhana, Hansen (1984)


membagi longsoran menjadi luncuran atau gelinciran (slide), aliran (flow) dan
jatuhan (fall). Menurut Varnes (1978) dalam Hansen (1984) longsoran (landslide)
dapat diklasifikasikan menjadi jatuhan (fall), jungkiran (topple), luncuran (slide)
dan nendatan (slump), aliran (flow), gerak bentang lateral (lateralspread), dan
gerakan majemuk (complexmovement).
Klasifikasi para peneliti di atas pada umumnya berdasarkan kepada jenis
gerakan dan materialnya. Klasifikasi yang diberikan oleh HWRBLC, Highway
Research Board Landslide Committee (1978), mengacu kepada Varnes (1978)
yang berdasarkan kepada:
a. material yang nampak,
b. kecepatan perpindahan material yang bergerak,
c. susunan massa yang berpindah,
d. jenis material dan gerakannya.

Berdasarkan definisi dan klasifikasi longsoran (Varnes 1978), maka


disimpulkan bahwa gerakan tanah (mass movement) adalah gerakan perpindahan
atau gerakan lereng dari bagian atas atau perpindahan massa tanah maupun batu
pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukan semula. Apabila suatu
permukaan tanah tidak rata, komponen berat tanah yang sejajar dengan
kemiringan lereng dapat menyebabkan tanah bergerak ke arah bawah karena
adanya pengaruh gaya gravitasi. Longsor dapat terjadi apabila komponen gaya
berat yang terjadi cukup besar (Indrawahyuni et al. 2009).
Faktor – faktor penyebab lereng rawan longsor meliputi faktor internal (tubuh
lereng) maupun faktor eksternal (luar lereng), antara lain kegempaan, iklim (curah
hujan), vegetasi , morfologi, batuan/tanah maupun situasi setempat (Anwar dan
Kesumadharma 1991), tingkat kelembaban tanah (moisture), adanya rembesan,
dan aktifitas geologi seperti patahan (terutama yang masih aktif), rekahan dan
liniasi. Proses eksternal penyebab longsor yang dikelompokkan oleh Brunsden et
al. (1997) adalah pelapukan (fisika, kimawi, dan biologi), erosi, penurunan tanah,
deposisi, getaran akibat aktivitas seismik, dan perubahan rejim air.
Pelapukkan dan erosi sangat dipengaruhi oleh iklim yang diwakili oleh
kehadiran hujan di daerah setempat, curah hujan kadar air (watercontent, %) dan
kejenuhan air (saturation, Sr %). Pada beberapa kasus longsor, hujan sering
sebagai pemicu karena hujan meningkatkan kadar air tanah yang menyebabkan
kondisi fisik/ mekannik material tubuh lereng berubah.
Tanah longsor pada suatu lereng dapat terjadi apabila lereng tersebut cukup
curam yang menyebabkan tanah dapat meluncur secara cepat, adanya lapisan di
bawah permukaan tanah yang kedap air, dan adanya kandungan air yang cukup di
dalam tanah sehingga tanah yang berada di atas lapisan kedap menjadi jenuh
(Wardana 2011).
Sifat-sifat tanahyang mempengaruhi longsor adalah: tekstur, struktur, bahan
organik, kedalaman, sifat lapis air tanah dan tingkat kesuburan tanah (Arifin
2006). Kondisi lingkungan setempat merupakan suatu komponen yang saling
terkait. Bentuk dan kemiringan lereng, kekuatan material, kedudukan muka air
tanah dan kondisi drainase setempat sangat berkaitan pula dengan kondisi
kestabilan lereng (Verhoef 1985).
4

Lereng dapat dianalisis melalui perhitungan Faktor Keamanan Lereng dengan


melibatkan data fisik tanah, mekanika tanah (geoteknis tanah) dan bentuk
geometri lereng (Pangular 1985). Secara khusus, analisis dapat dipertajam dengan
melibatkan aspek fisik lain secara regional, yaitu dengan memperhatikan kondisi
lingkungan fisiknya, baik berupa kegempaan, iklim, vegetasi, morfologi,
batuan/tanah maupun situasi setempat. Kondisi lingkungan tersebut merupakan
faktor – faktor yang mempengaruhi gerakan tanah dan merupakan karakter
perbukitan rawan longsor (Hirnawan, 1993 dan Hirnawan 1994).
Pendekatan masalah tanah longsor dapat melibatkan kajian dampak akibat
faktor – faktor diatas, penanganannya dapat didekati dengan pengelolaan
lingkungan. Arahan pengelolaan lingkungan dilakukan sebagai antisipasi untuk
menanggulangi kemungkinan terjadinya dampak lingkungan negatif (Fandeli
1992), yaitu dengan cara memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak
positif (Soemarwoto 1990), atau dengan kata lain meminimalkan faktor – faktor
kendala kestabilan lereng dan memaksimalkan faktor – faktor pendukung
kestabilan lereng. Dampak lingkungan yang terjadi dapat bersifat langsung
maupun tidak langsung (Catanese dan Snyder 1989). Analisis dampak dapat
dilakukan dengan melihat kondisi fisik sekitar komponen yang terkena dampak.
Menurut Barus (1999), gerakan tanah berkaitan langsung dengan berbagai sifat
fisik alami seperti struktur geologi, bahan induk, tanah, pola drainase, lereng/bentuk
lahan, hujan, maupun sifat-sifat non-alami yang bersifat dinamis seperti penggunaan
lahan dan infrastruktur. Berdasarkan prinsipnya ada dua langkah yang dapat
dilakukan untuk menstabilkan suatu lereng, yaitu mempekecil gaya penggerak dan
memperbesar gaya penahan.
Gaya penggerak dapat diperkecil dengan cara mengubah bentuk lereng, seperti
memperkecil sudut kemiringan, memperkecil ketinggian lereng, dan membuat
lereng bertingkat, sedangkan gaya penahan dapat diperbesar dengan penggunaan
counterweight atau tanah timbunan pada kaki lereng, mengurangi air pori di
dalam lereng, dan memasang tiang pancang atau tembok penahan tanah
(Pangemanan 2014).
Pada prinsipnya, cara yang dipakai untuk menjadikan lereng stabil dapat dibagi
dalam dua golongan yaitu (Wesley dan Pranyoto 2010):
1. Memperkecil gaya penggerak atau momen penggerak dengan cara
mengubah bentuk lereng yang bersangkutan, seperti :
a. Mengubah lereng lebih datar atau mengurangi sudut kemiringan.
b. Memperkecil ketinggian lereng.
c. Mengubah lereng menjadi lereng bertingkat (multislope).

2. Memperbesar gaya melawan atau momen melawan :


a. Dengan memakai “counterweight”, yaitu tanah timbunan di kaki lereng.
b. Dengan mengurangi tekanan air pori didalam lereng.
c. Dengan cara mekanis, yaitu dengan memasang tiang atau membuat
dinding penahan.

Faktor Kemanan Lereng


Kestabilan suatu lereng secara umum dapat dinyatakan dengan faktor
keamanan. Faktor keamanan adalah perbandingan antara gaya penahan dengan
5

gaya penggerak pada suatu lereng. Hasil dari analisis kestabilan lereng dengan
faktor keamanan adalah nilai faktor keamanan yang menunjukkan kondisi lereng.
Lereng dengan nilai faktor keamanan >1,5 adalah lereng yang stabil, sedangkan
lereng yang tidak stabil mempunyai nilai faktor keamanan <1,5 (Hariyadi dan
Wahyudhi 2016).
Banyak rumus perhitungan faktor keamanan lereng (material tanah) yang
diperkenalkan untuk mengetahui tingkat kestabilan lereng ini. Rumus dasar faktor
keamanan (safety factor) diperkenalkan oleh Fellenius dan kemudian
dikembangkan oleh Lambe dan Whitman (1969). Berdasarkan penelitian-
penelitian yang dilakukan dan studi-studi yang menyeluruh tentang keruntuhan
lereng, maka faktor keamanan (Fs) ditinjau dari intensitas kelongsorannya
dibedakan seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1 (Bowles 1989). Menurut DPU
faktor keamanan minimum stabilitas lereng seperti disajikan pada Tabel 2 (DPU
1987).
Tabel 1 Nilai Faktor Keamanan Lereng
Nilai Faktor
Kejadian Intensitas Longsor
Keamanan
Fs < 1,07 Longsor sering terjadi (tidak stabil)
1,07 < Fs < 1,25 Longsor pernah terjadi (kritis)
Fs > 1,25 Longsor jarang terjadi (stabil)

Tabel 2 Faktor Keamanan Minimum Stabilitas Lereng


Parameter Kekuatan Geser
Kondisi
Resiko Maksimum Sisa
Beban
Teliti Kurang Teliti Teliti Kurang Teliti
Dengan
Tinggi gempa 1,5 1,75 1,35 1,5
Tanpa
gempa 1,8 2 1,6 1,8
Dengan
Menengah gempa 1,3 1,6 1,2 1,4
Tanpa
gempa 1,5 1,8 1,35 1,5
Dengan
Rendah gempa 1,1 1,25 1 1,1
Tanpa
gempa 1,25 1,4 1,1 1,2

Tipe Dinding Penahan


Dinding penahan tanah adalah suatu konstruksi yang dibangun untuk menahan
tanah yang mempunyai kemiringan atau lereng dimana kestabilan tanah tersebut
tidak dapat dijamin oleh tanah itu sendiri. Bangunan dinding penahan tanah
digunakan untuk menahan tekanan tanah lateral yang ditimbulkan oleh tanah
urugan atau tanah asli yang tidak stabil akibat kondisi topografinya (Suyono dan
Kazuto 1994) .
6

Dalam penggunaannya di lapangan, dikenal beberapa jenis atau tipe dinding


penahan tanah, antara lain :
a. Dinding penahan beton tipe gravitasi ; dinding penahan yang dibuat dari beton
tak bertulang atau pasangan batu. Sedikit tulangah beton kadang-kadang
diberikan pada permukaan dinding untuk mencegah retakan permukaan
dinding akibat perubahan temperatur.
b. Dinding penahan tipe semi gravitasi ; dinding gravitasi yang berbentuk agak
ramping, sehingga diperlukan penulangan beton, terutama pada bagian dinding.
Tulangan beton yang berfungsi sebagai pasak, dipasang untuk menghubungkan
bagian dinding dan pondasi.
c. Dinding penahan tipe kantilever ; dinding yang terdiri dari kombinasi dinding
beton bertulang yang berbentuk huruf T. Ketebalan dari kedua bagian ini relatif
tipis dan secara penuh diberi tulangan untuk menahan momen dan gaya lintang
yang bekerja padanya.
d. Dinding counterfort ; dinding yang terdiri dari dinding beton bertulang tipis
yang di bagian dalam dinding pada jarak tertentu didukung oleh plat/dinding
vertikal yang disebut counterfort (dinding penguat). Ruangan di atas plat
pondasi, di antara counterfort diisi dengan tanah urugan.
e. Dinding penahan tembok batu yang berupa balok; terdiri dari balok-balok
beton yang disusun menjadi dinding penahan.
f. Dinding penahan tanah bertulang (reinforce dearth wall); dinding yang terdiri
dari dinding yang berupa timbunan tanah yang diperkuat dengan bahan-bahan
tertentu, seperti geosintetik ataupun baja.
Dalam memilih jenis atau tipe dinding yang akan di gunakan di lapangan, hal-
hal yang harus dipertimbangkan antara lain sifat-sifat tanah pondasi, kondisi
tempat/ lokasi, jenis atau macam pondasi, kondisi pelaksanaan dan nilai
ekonomis. Secara umum penggunaan dinding penahan di lapangan terdiri dari dua
tipe, yaitu tipe gravitasi dan tipe kantilever.
Perbedaan utama konstruksi kedua jenis dinding penahan ini adalah adanya
tulangan pada tipe kantilever, sedangkan pada tipe gravitasi tidak menggunakan
tulangan. Dari sisi penggunaan, tipe kantilever lebih banyak digunakan untuk
lereng/tebing yang mempunyai ketinggian lebih dari 6 meter, sedangkan tipe
gravitasi digunakan untuk ketinggian kurang dari 6 meter (Hadiyatmo 2002).
Dinding penahan tanah merupakan salah satu konsep perkuatan tanah yang
banyak digunakan dalam pekerjaan rekayasa sipil. Dinding penahan tanah
merupakan dinding yang digunakan untuk menahan beban tanah secara vertikal
ataupun terhadap kemiringan tertentu. Dinding-dinding penahan adalah konstruksi
yang digunakan untuk memberikan stabilitas tanah atau bahan lain yang kondisi
massa bahannya tidak memiliki kemiringan alami, dan juga digunakan untuk
menahan atau menopang timbunan tanah atau onggokan material lainnya (Bowles
1989).
Dalam perencanaan sebuah dinding penahan tanah, perlu diambil dimensi
tertentu sehingga dinding yang direncanakan mungkin untuk dikerjakan, cukup
stabil dan kuat. Pengambilan dimensi awal dinding penahan tanah juga sangat
ditentukan dengan bentuk lereng dan tanah yang akan ditahannya. Selain itu
pengambilan dimensi dari segi keterbatasan ruang pekerjaan, kepatutan bentuk
dan juga keindahan harus diperhatikan dalam perencanaan dinding kantilever
(Fitriani 2008).
7

Sebagai pedoman awal dalam pengambilan dimensi dinding kantilever pada


Gambar 1 ditampilkan potongan penampang dinding kantilever. Puncak badan
dinding penahan tanah tidak boleh kurang dari 0,3 m untuk penempatan yang
layak dari beton dapat dilakukan. Dasar badan setidak-tidaknya harus cukup tebal
untuk memenuhi persyaratan geser. Kedalaman ke dasar plat D, harus memenuhi
nilai minimum sebesar 0,6 m. Bagaimanapun, bagian dasar dari plat harus berada
dibawah kedalaman beku dan perubahan volume musiman (Ariana 2000).

Gambar 1 Dimensi dinding penahan tipe kantilever

Software Geo 5
Geo5 merupakan salah satu perangkat lunak (software) yang digunakan untuk
bidang geoteknik dan lingkungan sebagai penerapan prinsip ilmu bumi untuk
memecahkan masalah lingkungan yang berhubungan dengan tanah. Software
Geo5 merupakan program yang mencakup hal-hal antara lain penyelidikan
tentang tanah. Geo5 merupakan perangkat lunak (software) yang dapat
memberikan hasil perhitungan dan analisis dengan mudah dan cepat kasus
kompleks yang berhubungan dengan geoteknik. Beberapa analisis.yang dapat
digunakan dalam perangkat lunak geo5 antara lain adalah tentang desain
penggalian, analisis stabilitas, desain dinding penahan tanah, desain pondasi,
analisis penurunan pada tanah, permodelan tanah dalam bentuk digital (Salih
2014).

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Lokasi

Penelitian ini dilakukan di Desa Cisarua Kecamatan Nanggung yang terletak


pada koordinat 6˚38’30” LS dan 106˚33’39” BT (Gambar 2) dan dilaksanakan
8

pada bulan April hingga bulan Juni 2017. Lokasi ini dipilih sebagai tempat
penelitian dikarenakan belum ada penanganan terhadap longsor yang terjadi pada
bulan Februari 2017.

Gambar 2 Lokasi penelitian Desa Cisarua Kecamatan Nanggung

Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah yang diambil dari
lokasi penelitian. Alat yang digunakan adalah teodolit, GPS, kompas, pita ukur,
ring sampel, piknometer, direct shear apparatus, oven, dan timbangan. Serta
perangkat laptop dengan program yang digunakan meliputi AutoCad 2010, GEO5
2017 (demo version) dan Microsoft Office 2013.

Prosedur Penelitian

Pengambilan data adalah hal utama yang dilakukan terlebih dahulu sebelum
perancangan dinding penahan tipe kantilever. Sampel tanah yang diambil
merupakan tanah terganggu (disturb samples) untuk memperoleh nilai berat isi
maupun kadar air dan tanah tidak terganggu (undisturb samples) yang dipakai
sebagai bahan penyelidikan uji geser di laboratorium. Setelah data yang
dibutuhkan telah diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis kondisi lereng tersebut
dengan bantuan program GEO 5. Perhitungan dimensi dinding penahan maupun
penulangan dilakukan secara manual untuk mendapatkan dimensi dinding
penahan yang aman terhadap bahaya guling, geser, dan runtuh. Setelah dinding
9

penahan tanah telah didapatkan dimensinya, tahap selanjutnya adalah perhitungan


penulangan dan rencana anggaran biaya (RAB) dari dinding penahan. Tahapan
penelitian seperti yang digambarkan pada bagan alir di Gambar 3.

Mulai

Penentuan Lokasi Penelitian

Pengambilan Dimensi Lereng dan Data Tanah

Analisis pada software GEO 5 Tidak


untuk menentukan stabilitas
lereng

Ya
Perhitungan manual dimensi dinding penahan

Perhitungan terhadap bahaya guling, geser, dan keruntuhan

Nilai keamanan guling, geser, Tidak


keruntuhan memenuhi standar
Fs

Ya
Desain dinding penahan

Rencana Anggaran Biaya

Selesai

Gambar 3 Bagan alir penelitian


10

Perhitungan Faktor Keamanan Lereng


Lokasi pengambilan sampel tanah berada di Desa Cisarua Kecamatan
Nanggung. Perhitungan dilanjutkan di laptop dengan bantuan software GEO 5
yang sudah terinstall. Pada analisis ini, metode Bishop digunakan untuk
menganalisis permukaan gelincir yang berbentuk lingkaran.Analisis stabilitas
lereng menggunakan software GEO 5 mempunyai langkah-langkah seperti pada
Gambar 4.

Mulai

Pembuatan topografi lereng pada menu interface

Input data tanah pada menu soils

Data tanah disesuaikan dengan tiap titik pada lereng dalam menu assign

Pilih metode Bishop dengan bidang gelincir berbentuk lingkaran

Diperoleh nilai Fs lereng

Selesai

Gambar 4. Bagan alir software GEO 5

Perencanaan Dinding Penahan Tanah


Analisa stabilitas dinding penahan tanah harus meninjau hal-hal sebagai berikut :
1. Faktor aman terhadap pengulingan dan penggeseran harus memenuhi syarat.
2. Tekanan yang terjadi pada tanah dasar pondasi harus tidak boleh melebihi
kapasitas dukung izin.
Adapun proses dalam perencanaan dinding penahan tanah tipe kantilever adalah
sebagai berikut :
1. Menentukan dimensi dinding penahan.
Pada perencanaan ini dimensi dinding penahan yang digunakan adalah
dinding kantilever dengan penyangga pada bagian depan dan tanpa ada
pengunci pada bagian base maupun wall.
2. Menghitung tekanan tanah, dalam hal ini menggunakan teori Rankine.
Teori dari Rankine (1857) tentang koefisien tekanan tanah aktif dan pasif
pada permukaan tanah datar dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:

( )
11

( )
Keterangan :
Ka = Koefisien tekanan tanah aktif
Kp = Koefisien tekanan tanah pasif
= Sudut geser dalam tanah

3. Menghitung gaya vertikal dan gaya momen terhadap kaki depan pondasi.
Pada perhitungan ini akan diperoleh berat dinding W dan jumlah gaya
momen ΣMw dari setiap bagian dinding dan tanah di atas plat pondasi yang
akan dimasukkan dalam perhitungan stabilitas dinding.
4. Menghitung stabilitas terhadap penggulingan.
Tekanan tanah lateral yang diakibatkan olehtanah urugan di belakang
dinding penahancenderung menggulingkan dinding dengan pusat rotasi pada
ujung kaki depan pondasi. Momen penggulingan ini, dilawan oleh momen
akibat berat sendiri dinding penahan dan momen akibat berat tanah di atas plat
pondasi. Faktor aman terhadap penggulingan (Fgl) didefinisikan sebagai
(Bowles 1989) :

Keterangan :
∑Mw = W
∑Mgl = ∑Pah h1 + ∑Pav B
∑Mw = momen yang melawan penggulingan (kN.m)
∑Mgl = momen yang mengakibatkan penggulingan (kN.m)
W = berat dinding + berat tanah diatas pondasi (kN)
B = lebar kaki dinding penahan (m)
∑Pah = jumlah gaya-gaya horizontal (kN)
∑Pav = jumlah gaya-gaya vertikal (kN)

Dalam tinjauan terhadap bahaya guling, apabila tekanan tanah pasif dapat
diandalkan keberadaannya, maka tekanan tanah pasif dapat mengurangi bahaya
momen aktif (momen guling) atau memperbesar momen pasif (momen
perlawanan).
5. Menghitung stabilitas terhadap penggeseran
Gaya-gaya yang mengeser dinding penahan tanah akan ditahan oleh
gesekan antara tanah dan dasar pondasi, tekanan tanah pasif bila di depan
dinding penahan terdapat tanah timbunan. Faktor aman terhadap pergeseran
(Fgs) didefinisikan sebagai (Bowles 1989) :

Keterangan :
Σ Rh = tahanan dinding penahan tanah terhadap penggeseran (kN)
W = berat total dinding penahan dan tanah di atas plat pondasi (kN)
δh = sudut gesek antara tanah dan dasar pondasi, (1/3 – 2/3)φ (o)
12

Ca = adx c = adhesi antara tanah dasar dan dinding


C = kohesi tanah dasar (kN/m2)
ad = faktor adhesi
B = lebar pondasi (m)
Σ Ph = jumlah gaya-gaya horizontal (kN)
f = tgδb = koefisien gesek antara tanah dasar dan pondasi

Bowles (1989) menyarankan faktor aman terhadap penggeseran dasar


pondasi (Fgs) minimum 1,5. Bila dinding penahan tanah dalam keadaan
stabil, maka gaya-gaya yang bekerja dalam keadaan seimbang (ΣF = 0 dan
ΣM = 0). Perlawanan terhadap gaya dorong ini terjadi pada bidang kontak
antara dasar dinding penahan tanah dan tanah dasar pondasi. Pada kondisi
tertentu gaya geser sedemikian besarnya sehingga konstruksi tidak mampu
melawan gaya geser atau dapat dikatakan konstruksi tidak aman terhadap
bahaya gaya geser, maka diusahakan untuk memperbesar gaya lawan
tersebut. Usaha itu dilakukan dengan memperbesar alas pondasi, atau dibuat
konstruksi pengunci.

6. Menghitung stabilitas terhadap kapasitas dukung tanah.


Kapasitas dukung ultimit dihitung dengan menggunakan persamaan fungsi
dari sudut geser dalam tanah Ø dari Terzaghi (1943). Tabel nilai faktor daya
dukung Terzaghi dapat dilihat pada Lampiran 3.

Keterangan :
qu = daya dukung ultimit untuk pondasi memanjang (kN/m2)
c = kohesi tanah (kN/m2)
Df = kedalaman pondasi (m)
γ = berat volume tanah (kN/m3)
B = lebar pondasi dinding penahan tanah (m)
Nc,Nq,Nγ = faktor kapasitas dukung Terzaghi

Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung didefinisikan pada


persamaan (6). Bila dihitung berdasarkan lebar pondasi efektif, yaitu tekanan
tanah pondasi ke tanah dasar terbagi secara sama rata, maka didapatkan
persamaan persamaan (7) dan (8) (Bowles 1989).

Keterangan :
q = tekanan akibat beban struktur (kN/m2)
13

Dalam perancangan, lebar pondasi dinding penahan (B) sebaiknya dibuat


sedemikian sehinggae e < B/6. Hal ini dimaksudkan agar efisiensi pondasi
maksimum dan perbedaan tekanan pondasi pada ujung-ujung kaki dinding tidak
besar (untuk mengurangi resiko keruntuhan akibat penggulingan).

Penulangann Dinding Penahan Kantilever


Ketentuan mengenai perencanaan dinding penahan tanah basement
berdasarkan SNI-03-2847-2002 Tata cara perhitungan struktur beton untuk
bangunan gedung dinyatakan sebagai berikut :
a) Pelindung Tulangan Beton
Selimut beton berfungsi memberi perlindung terhadap tulangan dari
kondisi luar. Penentuan ketebalan selimut beton untuk pelat satu arah ditentukan
berdasarkan SNI-03-2847-2002 Pasal 9.7.1 Pelindung tulangan beton yang
berhubungan langsung terhadap cuaca dan tanah dengan tulangan D19 mm adalah
sebesar 50 mm.
b) Persyaratan pembatasan rasio tulangan (ρmin dan ρmax)
Rasio digunakan untuk menetukan kebutuhan tulangan struktur beton
bertulang. Rasio tulangan pelat beton bertulang sesuai ketentuan SNI-03- 2847-
2002 yaitu :

ρmin = 1.4/fy ..............................................(9)

ρb = ((0 ,85 . β1 . f’c)/fy) . (600/(600+fy)) (10)

ρmax = 0,75 . ρb .........................................(11)


Keterangan :
ρmin = rasio tulangan min
ρb = rasio tulangan
ρmax = rasio tulangan max
β1 = Faktor bentuk distribusi
f’c = Kuat tekan beton (N/mm2)
fy = Tegangan leleh baja (N/mm2)

c) Perhitungan momen nominal (Mn)


Momen nominal (Mn) merupakan momen yang digunakan untuk
perencanaan tulangan. momen nominal diambil sebesar 80% dari momen ultimate
(Mu) ditentukan dengan persamaan di bawah ini :

Mn = Mu . φ....................................... (12)
Keterangan :
Mn = Momen nominal (kN.m)
Mu = Momen ultimate (kN.m)
φ = 0.8

d) Perhitungan koefisien ketahanan (Rn)


Koefisien ketahanan (Rn) ditentukan dengan menggunakan persamaan di
bawah ini :
14

Rn = Mn / (b . d2 ) .................................................. (13)
Keterangan :
Rn = Faktor tahanan momen
Mn = Momen nominal (kN.m)
b = Tinjauan dinding beton (mm)
d = Tebal efektif (mm)

e) Perhitungan rasio tulangan (ρ)


Rasio tulangan (ρ) ditentukan dengan menggunakan persamaan di bawah
ini :

ρ = 1/m (1- (1- 2 . m . Rn/fy)1/2 )........................... (14)

m = fy / (0,85 . f’c) ............................................... (15)


Keterangan :
ρ = Rasio tulangan
Rn = Faktor tahanan momen
fy = Tegangan leleh baja (N/mm2)
f’c = Kuat tekan beton (N/mm2)

f) Kontrol rasio tulangan


Kontrol rasio tulangan digunakan untuk menetukan rasio tulangan yang
akan digunakan agar kebutuhan tulangan yang direncanakan ekonomis dan
efisien. Kontrol rasio tulangan ditentukan dengan syarat berikut ini :

ρmin < ρ < ρmax .................................................... (16)


Keterangan :
ρmin = Rasio tulangan min
ρmax = Rasio tulangan max

Perhitungan Rencana Anggaran Biaya


Penyusunan anggaran biaya bertujuan untuk menghitung biaya-biaya yang
diperlukan dari suatu bangunan dan dengan biaya ini suatu bangunan dapat
terwujud sesuai dengan yang direncanakan. Mengingat besar serta luas bangunan
yang harus dihitung pembiayaannya, maka hal-hal yang berhubungan dengan
perhitungan biaya saangat diperlukan.
Rencana anggaran biaya keseluruhan dihitung dari pekerjaan tanah, pekerjaan
struktur, serta upah para pekerja. Estimasi biaya pada struktur dinding penahan
tanah terdiri dari material beton, tulangan, dan material beton, tulangan, dan profil
baja menyesuaikan tiap alternatifnya. Estimasi biaya didasarkan pada volume
material yang dibutuhkan untuk membuat dinding penahan tanah.
Pemilihan alternatif konstruksi dinding penahan tanah harus memperhatikan
beberapa pertimbangan seperti kedalaman galian, kondisi geologi, muka air tanah,
bangunan sekitar, kondisi lapangan, waktu pembangunan, dan biaya. Acuan harga
bahan per satuan dan upah tenaga kerja dalam membuat rencana anggaran biaya
dapat dilihat pada Tabel bagian Lampiran. Analisis Harga Satuan Pekerjaan
Bidang Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor Tahun 2015 menggunakan acuan
15

yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang
Pekerjaan Umum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Kecamatan Nanggung merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor


yang berbatasan dengan Kabupaten Lebak, Banten dan Kabupaten Sukabumi. Di
Kecamatan Nanggung terdapat PT Antam, yang merupakan perusahaan milik
negara berbasis sumber daya alam dengan komoditas utama bijih nikel, feronikel,
emas, perak, batubara, alumina dan jasa pemurnian logam mulia. Kecamatan
Nanggung memiliki 10 desa/ kelurahan dan 6230 KK, dengan kepadatan
penduduk sekitar 24927 jiwa/km2. Salah satu desa yang dijadikan lokasi
penelitian adalah Desa Cisarua yang terletak di sebelah Barat dari Kecamatan
Nanggung. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, kondisi tanah di desa
ini sangat rawan akan bahaya longsor. Hal ini dikarenakan perbedaan elevasi
antara permukaan tanah sangat besar, sehingga pada saat musim hujan, longsor
kerap terjadi. Kondisi lereng di lokasi penelitian dapat dilihat pada bagian
Lampiran 1.

Topografi Lereng dan Karakteristik Tanah

Dimensi lereng yang diperoleh dari pengukuran secara langsung yaitu slip
surface sebesar 10,03 m, tinggi lereng (H) sebesar 7,8 m, dan lebar total lereng
sebesar 4 m. Dari data tersebut dapat diketahui sudut kemiringan lereng
menggunakan perhitungan trigonometri, dan diperoleh nilai sebesar 51˚. Sudut
kemiringan lereng sangat berpengaruh terhadap kestabilan tanah, semakin besar
sudutnya maka gaya dorong tanah aktif akan semakin besar dan sewaktu-waktu
dapat menyebabkan longsor susulan. Menurut Wardana (2011), tanah longsor
pada suatu lereng dapat terjadi apabila lereng tersebut cukup curam yang
menyebabkan tanah dapat meluncur secara cepat.
Sampel yang diambil terbagi untuk tiga titik pada slip surface lereng yaitu titik
1 (bawah), titik 2 (tengah), dan titik 3 (atas). Hal ini dikarenakan untuk
mendapatkan hasil yang lebih detail terhadap perbedaan jenis tanah di tiap
lapisan. Pengukuran berat isi tanah dilakukan untuk mendapatkan jenis tanah tiap
titik berdasarkan nilai yang diperoleh serta untuk mengetahui tekanan tanah aktif
existing. Data karakteristik tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Karakteristik tanah di lokasi penelitian
Sudut Geser Kohesi Tanah
Lokasi Berat Isi (kN/m3) Kadar Air (%)
Dalam (˚) (kPa)
Titik 1 14,5262 42,75242 9,75 21,96678
Titik 2 15,5049 41,16246 17,69 3,726508
Titik 3 15,0858 42,99109 10,25 17,25962
16

Berat isi merupakan suatu sifat tanah yang menggambarkan taraf kemampatan
tanah. Tanah dengan kemampatan tinggi dapat mempersulit perkembangan
perakaran tanaman, pori makro terbatas dan penetrasi air terhambat (Darmawijaya
1997). Dalam perhitungan faktor keamanan lereng, berat isi tanah menentukan
kestabilan suatu lereng. Semakin besar berat isi tanah, maka lereng semakin tidak
stabil dikarenakan tekanan aktif tanah semakin besar dibanding tekanan pasif
tanah. Berat isi tanah yang diperoleh dari tanah uji berdasarkan masing-masing
titik adalah 14,52 kN/m3 ; 15,50 kN/m3 ; dan 15,08 kN/m3.
Kadar air berpengaruh pada perubahan stabilitas lereng dimana semakin besar
kadar airnya maka angka keamananya semakin rendah. Pada tanah kondisi lapang
diperoleh nilai kadar air tanah di titik 1 sampai titik 3 tidak jauh berbeda, yaitu
mempunyai kisaran antara 40% – 42 %. Angka tersebut cukup besar, dikarenakan
pengambilan sampel tanah saat cuaca yang tidak mendukung. Titik 3 mempunyai
nilai kadar air lebih besar dibanding titik dibawahnya, hal ini dikarenakan
pengaruh dari elevasi titik 3 yang berada di puncak.
Sudut geser dalam merupakan sudut yang dibentuk dari hubungan antara
tegangan normal, tegangan geser, serta kohesi di dalam material tanah atau
batuan. Sudut geser dalam adalah sudut rekahan yang dibentuk jika suatu material
dikenai tegangan atau gaya terhadapnya yang melebihi tegangan gesernya.
Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih
tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.
Sedangkan kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan,
dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas. Kohesi batuan akan semakin besar
jika kekuatan gesernya makin besar. Nilai sudut geser dalam maupun kohesi
diperoleh dengan cara melakukan uji geser langsung menggunakan direct shear
apparatus.

Analisis Stabilitas Lereng

Analis stabilitas lereng dilakukan setelah semua data yang diperlukan seperti
berat isi tanah, kohesi, serta sudut geser telah diperoleh. Semua data dimasukan ke
dalam program Slope Stability GEO 5 untuk mendapatkan nilai Faktor Keamanan
(Fk) dari lereng yang di uji. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat
interface dari lereng berdasarkan data dimensi yang diperoleh. Setelah dibuat
dimensi lereng dengan elevasi 7,8 m dan sudut kemiringan lereng sebesar 51˚,
dilakukan pembagian sebanyak 3 titik berdasarkan pengambilan sampel tanah di
lokasi penelitian.
Data tanah uji dimasukan berdasarkan titiknya masing – masing sehingga
didapatkan model lereng seperti yang tertera pada lampiran 2. Tahap analisis
keamanan lereng dilakukan dengan menentukan slip surface pada bagian lereng,
hal ini dimaksudkan untuk menentukan daerah yang mempunyai kemungkinan
tinggi sebagai pusat rotasi lingkaran longsor. Parameter dari analisis ini
menggunakan metode Bishop yang menentukan slip surface dengan bidang
circular. Hasil dari analisis diperoleh Faktor Keamanan Lereng sebesar 1,34 yang
dapat dilihat pada lampiran 2. Hal ini menunjukan bahwa lereng tidak stabil
dikarenakan tidak sesuai dengan ketentuan Fk > 1,5 yang merupakan kriteria dari
lereng stabil, sehingga pembangunan dinding penahan tanah sangat diperlukan
untuk menjaga kestabilan tanah terhadap longsor susulan.
17

Desain Dinding Penahan Kantilever

Dinding penahan tanah adalah struktur yang didesain untuk menjaga dan
mempertahankan dua muka elevasi tanah yang berbeda (Coduto, 2001). Dinding
penahan tanah berfungsi untuk menyokong tanah serta mencegahnya dari bahaya
kelongsoran. Baik akibat beban air hujan, berat tanah itu sendiri maupun akibat
beban yang bekerja di atasnya. Jenis-jenis dinding penahan bermacam-macam,
disesuaikan dengan keadaan lapangan dan aplikasi yang akan digunakan.
O’Rouke and Jones (1990) mengklasifikasikan dinding penahan tanah menjadi 2
kategori yaitu sistem stabilitas eksternal dan sistem stabilisasi internal serta sistem
hybrid yang merupakan kombinasi dari kedua metode tersebut.
Pemilihan bahan material sangatlah penting, karena berhubungan dengan
dampak bergeraknya dinding penahan atau kegagalan struktur setelah proses
konstruksi. Jika struktur dinding penahan telah didukung dengan material lain
sehingga bergerak mendekat ke tanah, maka tekanan horizontal dalam tanah akan
meningkat, hal ini disebut tekanan pasif. Bahan material yang diperlukan dalam
perancangan dinding penahan tanah berupa beton yang diperkuat dengan
tulangan, sebagaimana tipe dinding kantilever yang menggunakan tulangan
sebagai perkuatan. Material beton yang digunakan adalah beton mutu K-250
dengan kuat tekan beton sebesar 20,75 Mpa dan berat jenis sebesar 24 kN/m3.
Beton dengan mutu K-250 menyatakan kekuatan tekan karakteristik minimum
adalah 250 kg/cm2 pada umur beton 28 hari, dengan menggunakan kubus beton
ukuran 15x15x15 cm. Sedangkan tulangan yang dipakai adalah baja tulangan
mutu U-39 dengan kuat leleh tulangan sebesar 390 Mpa.

Tabel 4 Material dinding kantilever


Beton
Mutu beton - K 250 kg/cm2
Kuat tekan beton (fc') 20,75 Mpa
Modulus elastik (Ec) 21615,9 Mpa
Angka poison (v) 0,15
Modulus geser (G) 9398,2 Mpa
Berat jenis (γ) 24 kN/m3
Faktor distribusi teg (β1) 0,85
Baja Tulangan
Mutu Baja Tulangan - U 39
Kuat Leleh Tulangan (fy) 390 MPa

Penentuan profil dan jenis tanah disesuaikan dengan data saat analisis stabilitas
lereng. Backfill atau tanah timbunan digunakan sebagai pengisi gap antara bidang
miring lereng dengan bagian belakang dinding penahan. Selain itu, kegunaan
backfill adalah untuk memperkecil sudut geser antara dinding dengan tanah, hal
ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan aktif tanah lateral yang menyebabkan
terjadinya pergeseran pada dinding. Jenis tanah passive resistance digunakan
sebagai faktor untuk memperbesar tekanan pasif tanah. Semakin besar nilai
tekanan pasif tanah dibanding tekanan aktif tanah, maka dinding penahan tanah
18

semakin stabil terhadap bahaya pergeseran. Oleh karena itu, jenis tanah yang
dipilih sebagai passive resistance adalah jenis tanah dengan nilai tegangan geser
yang besar. Jenis tanah yang dipakai sebagai backfill maupun passive resistance
dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Jenis material tanah sebagai backfill


Tanah Timbunan
Jenis tanah Selected fill material
Sudut geser dalam (δ) 17 ˚
Kohesi (Cu) 45 kPa
Berat jenis (γt) 17,2 kN/m3
Passive resistance
Jenis tanah Sandy Silt
Sudut geser dalam (δ) 35 ˚
Kohesi (Cu) 25 kPa
Berat jenis (γt) 19,15 kN/m3

Pemodelan dinding penahan tipe kantilever dibuat menggunakan perhitungan


manual. Tahapan pemodelan dimensi retaining wall dilakukan dengan cara trial
and error untuk menyesuaikan dengan faktor keamanan yang telah ditentukan.
Analisis yang dijadikan acuan adalah safety factor - ASD (allowable strength
design), pemilihan analisis ini digunakan untuk menghitung gaya – gaya dalam
yang nantinya akan dibandingkan dengan kuat ijin sesuai dengan standar. Selain
itu, perhitungan tekanan aktif tanah dan tekanan pasif tanah dihitung
menggunakan teori Rankine.
Dimensi dinding diatur sesuai dengan komposisi ukuran minimal dinding
penahan tanah kantilever (Das 1990). Ketentuan tersebut menentukan ukuran
minimal dari base, toe, heel, dan slope berdasarkan tinggi dinding penahan yang
dapat dilihat pada bagian Lampiran 4. Lebar base dinding yang dianjurkan
berkisar 0,5 H – 0,7 H dari tinggi dinding yang ditentukan. Tinggi toe dan heel
minimal 0,1 H dari tinggi dinding penahan dan lebar toe berkisar 0,1 H – 0,2 H.
Slope dinding dianjurkan mempunyai perbandingan minimal 1 m : 20 mm,
sedangkan lebar bagian atas stem minimal 0,3 m. Ketentuan dimensi minimal ini
nantinya akan dihitung beban vertikal dan momen ultimatenya untuk
mendapatkan nilai eccentricity dan dibandingkan dengan nilai allowable
eccentricity sebesar B/6.
Selanjutnya dipilih tipe dinding kantilever dengan bentuk standar, serta tinggi
dinding penahan disesuaikan dengan tinggi lereng yaitu sebesar 7,80 m. Lebar
bagian base maupun atas dinding mengacu kepada ketentuan ukuran minimal
dengan nilai masing - masing sebesar 4,00 m dan 0,30 m. Tinggi toe dan heel
mengacu pada tinggi dinding dengan nilai masing – masing sebesar 0,80 m. Lebar
toe dan heel masing – masing sebesar 1 m dan 2,2 m. Slope yang digunakan
adalah ukuran minimal dengan perbandingan 1 m : 70 mm. Ukuran dimensi
dinding ini menggunakan ukuran minimal sebagai acuan nilai keamanan minimal
dinding terhadap bahaya geser, guling, maupun keruntuhan. Desain dinding
penahan rencana dibagi menjadi enam bangun untuk memudahkan perhitungan,
yaitu bangun A, B, dan C yang menunjukkan bagian tanah serta bangun 1, 2, dan
19

3 menunjukkan bagian bangunan. Dimensi dimensi dinding penahan dapat dilihat


pada Gambar 4.

Gambar 4 Desain dinding penahan rencana 1

Untuk mengetahui stabilitas dinding penahan kantilever, perlu dilakukan


pengecekan terhadap dinding tersebut. Pengecekan tersebut meliputi daya dukung
terhadap guling, geser, dan kapasitas dukung tanah. Perhitungan Fs terhadap
guling menggunakan nilai momen struktur maupun tanah sebagai perbandingan
terhadap nilai Fs guling. Hasil perhitungan stabilitas dinding terhadap guling
dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Momen akibat beban struktur dan tanah


Momen akibat beban struktur
B H e W M
Bangun (m) (m) (m) (kN) (kN.m)
1 0,500 7,000 1,333 42,000 56,000
2 0,300 7,000 2,000 50,400 100,800
3 4,000 0,800 2,000 76,800 153,600
Total 169,200 310,400
Momen akibat beban tanah
B H e W M
Bangun (m) (m) (m) (kN) (kN.m)
A 1,000 0,200 0,500 3,830 1,915
B 0,014286 0,200 1,004762 0,027357 0,0274874
C 2,200 7,000 2,900 264,88 768,152
Total 268,7374 770,09449
20

Tabel 6 merupakan perhitungan momen akibat beban struktur maupun beban


tanah sebagai nilai tahanan pasif. Nilai momen struktur sebesar 310,400 kN.m,
sedangkan momen akibat tanah sebesar 770,09449 kN.m. Nilai momen tanah
bernilai lebih besar dikarenakan luasnya lebih besar dibanding luas struktur
keseluruhan. Nilai total momen ini nantinya akan dibandingkan dengan nilai
momen akibat tanah aktif untuk mendapatkan nilai safety factor. Hasil
perhitungan nilai momen akibat gaya aktif tanah dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Hasil perhitungan daya dukung dinding terhadap guling


Momen akibat tanah aktif
Koefisien Tekanan (Ka) 0,548
Tekanan Beban Permukaan Tanah (Eaq) 0 kN
Jarak horizontal (e1) 0 m
Tekanan Tanah (Ea) 286,487 kN
Jarak horizontal (e2) 2,6 m
Momen tanah aktif (M) 744,867 kN.m
Fs 1,45
Fs > 1.5 ? Tidak

Pada kondisi aktualnya, jalan di atas lereng tersebut merupakan lintasan


kendaraan bermotor roda dua dan bersifat situational. Oleh karena itu,
diasumsikan jalan diatas lereng tidak dilewati oleh kendaraan, sehingga nilai Eaq
dianggap tidak ada pembebanan. Sedangkan nilai Ea adalah pembebanan yang
diakibatkan oleh tanah aktif. Setelah diperoleh nilai momen tanah aktif, maka
nilai momen tahanan dibagi dengan momen guling dari tanah aktif untuk
mendapatkan nilai Fs guling. Nilai Fs guling yang diperoleh adalah sebesar 1,45
dan tidak memenuhi standar dinding terhadap bahaya guling yaitu sebesar 1,5.
Pengecekan daya dukung dinding terhadap bahaya geser dilakukan dengan
menghitung gaya geser akibat tanah aktif, tahanan tanah pasif maupun tahanan
struktur. Hasil analisis stabilitas dinding terhadap bahaya geser dapat dilihat pada
Tabel 8.

Tabel 8 Hasil perhitungan daya dukung dinding terhadap bahaya geser


Geser akibat tanah aktif
Koefisien Tekanan (Ka) 0,548
Tekanan tanah (Ea) 286,487 kN
Total tekanan (Va) 286,487 kN
Tahanan akibat tanah pasif
Koefisien Tekanan (Kp) 3,69
Tahanan Tanah (Vp) 70,6668 kN
Tinggi tanah (Htp) 1 m
Tahanan akibat berat
288,908 kN
struktur dan friksi (P)
Geser tahanan 395,575 kN.m
Geser terjadi 286,487 kN.m
Fs 1,255
Fs > 1.5 ? Tidak
21

Berdasarkan Tabel 8, nilai Va merupakan pembebanan total yang diakibatkan


gaya horizontal dari tanah maupun pembebanan di atas lereng. Namun dalam
kasus ini, nilai Va hanya bergantung pada gaya aktif tanah tanpa ada pembebanan
di atas lereng. Nilai Vp merupakan nilai tahanan akibat tanah timbunan yg berada
didepan dinding dengan ketinggian (Htp) sebesar 1 m. Tanah timbunan ini
merupakan tanah pasif yang berfungsi menahan gaya geser akibat tanah aktif
dibelakang dinding penahan. Nilai P merupakan tahanan akibat berat struktur itu
sendiri dan gaya gesek base terhadap permukaan tanah, sehingga nilai ini
berfungsi sebagai penahan terhadap gaya geser akibat tanah aktif.
Berdasarkan Tabel 8, nilai total tahanan terhadap geser adalah sebesar 395,575
kNm sedangkan gaya geser yang terjadi sebesar 286,4873 kNm. Kedua nilai
tersebut dapat dimasukkan kedalam persamaan (7) sehingga diperoleh Fs terhadap
geser sebesar 1,25. Hal ini menunjukkan bahwa dinding penahan belum aman dari
bahaya geser, sehingga perlu dilakukan penambahan panjang base maupun
ketebalan dinding atas pada dimensi yang baru. Desain dimensi dinding dapat
dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Desain dinding penahan rencana 2

Perubahan dimensi yang dilakukan pada desain dinding penahan adalah


penambahan panjang base sebesar 0,5 m dan ketebalan dinding atas ditambahkan
sebesar 0,2 m, sehingga didapatkan panjang base sebesar 4,5 m dan ketebalan
dinding atas sebesar 0,5 m. Penambahan panjang pada struktur ini berdampak
besar pada nilai momen tahanan terhadap guling, sehingga diperoleh nilai Fs
guling sebesar 1,91. Namun, nilai Fs geser masih belum memenuhi standar
dinding yang aman terhadap bahaya geser dengan nilai sebesar 1,418. Oleh karena
itu, perlu dilakukan penambahan panjang pada bagian base dinding penahan.
22

Dimensi dinding penahan dengan penambahan panjang base dapat dilihat pada
Gambar 6.

Gambar 6 Desain dinding penahan rencana 3

Pada desain dimensi dinding penahan yang baru, dapat diketahui dimensi base
menjadi sepanjang 5m. Setelah dilakukan perhitungan untuk mencari nilai Fs
guling maupun Fs geser, maka didapatkan nilai masing – masing sebesar 2,38 dan
1,56. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi dinding penahan rencana sudah aman
terhadap bahaya guling maupun geser dan dilakukan perhitungan kapasitas daya
dukung tanah pada dimensi dinding penahan. Perubahan dimensi serta nilai Fs
guling dan Fs geser masing-masing desain dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Nilai Fs guling dan Fs geser dinding penahan


Dinding Lebar Fs Fs
Dimensi Keterangan
Penahan (m) guling geser
Top Stem 0,3
Desain 1 1,45 1,25 Tidak aman
Base 4
Top Stem 0,5
Desain 2 1,91 1,418 Tidak aman
Base 4,5
Top Stem 0,5
Desain 3 2,38 1,56 Aman
Base 5

Pengecekan terhadap kapasitas daya dukung tanah diperlukan untuk


mengetahui bahaya keruntuhan tanah akibat tidak dapat menahan beban struktur
diatasnya. Hasil perhitungan kapasitas daya dukung tanah dapat dilihat pada Tabel
10.
23

Tabel 10 Hasil perhitungan kapasitas daya dukung tanah


Kapasitas Daya Dukung Tanah
Beban Vertikal Pu 587,057 kN
Momen Ultimate Mu 744,87 kN.m
eksentrisitas E 1,268 m
B/6 0,833 m
e<B/6 Tidak
e B/6
Daya dukung ultimit qu 319,971 kN/m2
Tekanan akibat beban struktur Q 51,922 kN/m2
Fs 6,162
Fs > 3 Ya

Berdasarkan Tabel 10, dapat diketahui bahwa nilai eksentrisitas tidak


memenuhi batas yang ditentukan, yaitu e < B/6 . Nilai e adalah sebesar 1,268 m,
sedangkan nilai batas B/6 lebih kecil dari nilai e yaitu sebesar 0,833. Oleh karena
itu, dilakukan pengecekan dengan cara menghitung daya dukung ultimit (qu) serta
tekanan akibat beban struktur (q). Setelah dilakukan perhitungan, maka
didapatkan nilai qu dan q masing – masing sebesar 319,971 kN/m2 dan 51,92
kN/m2. Faktor keamanan terhadap keruntuhan didapatkan dengan membagi nilai
qu terhadap q dan diperoleh nilai F sebesar 6,162. Nilai ini menunjukkan bahwa
dinding penahan aman dari bahaya keruntuhan.
Perencanaan dinding penahan tanah kantilever menggunakan tulangan sebagai
perkuatan, sehingga perlu dihitung kembali jumlah tulangan yang diperlukan
maupun jarak antar tulangan. Pada perencanaan ini mutu baja yang digunakan
adalah U-39 dengan tegangan leleh baja sebesar 390 N/mm2. Tulangan D – 19
digunakan sebagai tulangan utama, sedangkan tulangan D -16 digunakan sebagai
tulangan pembagi. Mutu beton yang digunakan adalah K-250 dengan kuat tekan
beton, tebal dinding beton, dan selimut beton masing -masing sebesar 20,75 MPa,
500 mm, dan 50 mm. Tabel perhitungan penulangan dinding penahan dapat
dilihat pada bagian Lampiran 9. Berdasarkan tabel perencanaan penulangan pada
lampiran 9, dapat diketahui jarak antar tulangan utama sebesar 350 mm,
sedangkan jarak tulangan pembagi sebesar 250 mm.

Rencana Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya untuk perkuatan lereng dengan menggunakan dinding


kantilever yang didesain mengacu kepada Analisis Harga Satuan Pekerjaan
Bidang Pekerjaan Umum tahun 2016 yang telah ditetapkan dalam Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2016 dan
juga mengacu pada satuan pekerjaan kabupaten Bogor tahun 2015 (KemenPUPR,
2016). Analisis Harga Satuan Pekerjaan yang digunakan dapat dilihat di bagian
Lampiran 10.
Berdasarkan perhitungan dan analisis yang telah dilakukan, untuk pembuatan
dinding kantilever dengan dimensi 5 m (p) x 7.8 m (t) x 4 m (l) dibutuhkan biaya
sebesar Rp 38.383.462. Pekerjaan tanah meliputi galian sedalam 1 m dan
24

penimbunan setinggi 7 m dibutuhkan biaya sebesar Rp 18.475.493. Untuk


penulangan dinding maupun base dibutuhkan biaya sebesar Rp21.864.537. Total
dana yang dibutuhkan dalam perencanaan dinding kantilever ini adalah sebesar
Rp78.723.493, seperti disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Perhitungan anggaran biaya dinding kantilever


Harga Satuan
No Uraian Volume Satuan Jumlah (Rp)
(Rp)
1 Pekerjaan Tanah
Pekerjaan Galian 20 m3 55.945 1.118.908
Pekerjaan
84 m3 206.626 17.356.585
Timbunan
Pekerjaan
2
Struktur
Pekerjaan
115,33 kg 189.582 21.864.537
Penulangan
Pekerjaan Beton 38 m3 1.010.091 38.383.462
Jumlah 78.723.493

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Stabilisasi lereng di Desa Cisarua Nanggung Bogor diperlukan karena nilai


faktor keamanan lereng tersebut di bawah standar, hanya sebesar 1,34. Untuk
itu diperlukan penguatan dengan menggunakan dinding penahan tanah tipe
kantilever. Dinding kantilever yang digunakan mempunyai tinggi 7,8 m dan
base sepanjang 5 m. Setelah dilakukan perhitungan secara manual , dapat
diketahui bahwa dinding kantilever sudah aman terhadap bahaya guling, geser,
maupun runtuh. Penulangan yang diperlukan adalah tulangan D 19 -350 dan D
16 – 250.
2. Anggaran biaya yang diperlukan untuk pembangunan dinding kantilever yang
meliputi pekerjaan tanah maupun pekerjaan beton adalah sebesar
Rp78.723.493.

Saran

Saran dari penelitian ini diantaranya perlu adanya manajemen perawatan


lereng berupa penanaman vegetasi dan pembuatan pipa pembuangan di sekitar
lereng sebelum pembangunan dinding penahan dilakukan. Selain itu, dibutuhkan
suatu peraturan terkait pelarangan pemukiman di sekitar lereng sebagai bentuk
pengamanan pada penduduk.
25

DAFTAR PUSTAKA

Anderson M G, Richards K S. 1987. Slope Stability Geotechnical Engineering


and Geomorphology. Chichester [UK] : John Wiley and Sons Ltd.
Anwar H Z, Kesumadhama S. 1991. Konstruksi Jalan di daerah Pegunungan
tropis. Jurnal Ikatan Ahli Geologi Indonesia, PIT ke-20, hal. 471- 481.
Ariana, Ida Bagus Made. 2000. Perencanaan Tembok Penahan Sebagai Alternatif
Penanggulangan Longsoran Pada Poros Jalan Salua – Kulawi [skripsi]. Palu
(ID) : Fakultas Teknik Universitas Tadulako.
Arifin S, Ita C. 2006. Implementasi Pengindraan Jauh dan SIG untuk Inventarisasi
Daerah Rawan Bencana Longsor. Jurnal Pengindraan Jauh LAPAN. Vol 3,
hal 80-81.
Barus B. 1999. Pemetaan Bahaya Longsoran Berdasarkan Klasifikasi Statistik
Peubah Tunggal Menggunakan SIG Studi Kasus Daerah Ciawi-Puncak-Pacet
Jawa Barat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 2: 7-16.
Bowles J E. 1989. Sifat-sifat Fisik & Geoteknis Tanah. Jakarta (ID) : Erlangga.
Brunsden D, Schortt L, Ibsen M L. 1997. Landslide Recognition, Identification
Movement and Causes. Chichester (UK) : John Wiley and Sons.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2002. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
Untuk Bangunan Gedung. SNI-03-2847-2002. Departemen Pemukiman dan
Prasarana Wilayah.
Catanese A J, Snyder J C. 1989. Perencanaan Kota. Edisi Kedua. Jakarta (ID) :
Erlangga.
Das B M. 1990. Principles Of Foundation Engineering. 2nd ed. Boston (US) :
PWSKENT Publishing Company.
[DPU] Direktorat Pekerjaan Umum. 1987. Petunjuk Perencanaan
Penanggulangan Longsoran, SKBI – 2.3.06. Jakarta (ID) :Yayasan Badan
Penerbit PU. DPU.
Fandeli C. 1992. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Prinsip Dasar dan
Pemampanannya dalam Pembangunan. Yogyakarta (ID) : Liberty, 346 hal.
Fitriani. 2008. Perencanaan Tembok Penahan Kolam Renang Pada Lokasi
Kampus UNTAD [skripsi]. Fakultas Teknik Universitas Tadulako, Palu.
Hansen M J. 1984. Strategies for Classification of Landslides. Chichester (UK) :
John Wiley and Sons Ltd.
Hardiyatmo, Hary Christiady. 2011. Analis dan Perancangan Pondasi Bagian 1.
Yogjakarta (ID) : Gadjah Mada University Press.
Hariyadi S, Wahyudhi A. 2016. Kajian Stabilitas Lereng Timbunan pada PT.
kayan Kaltara Coal Job Site PT. Nata Energi Resources Kabupaten Bulungan
Propinsi Kalimantan Utara. Jurnal Geologi Pertambangan. 45 (1) : 40-53.
Hirnawan R F. 1993. Ketanggapan Stabilitas Lereng Perbukitan Rawan
Gerakantanah atas Tanaman Keras, Hujan dan Gempa [disertasi]. UNPAD.
Hirnawan R F. 1994. Peran Faktor-Faktor Penentu Zona Berpotensi Longsor di
Dalam Mandala Geologi dan Lingkungan Fisiknya Jawa Barat. Majalah
Ilmiah Universitas Padjadjaran. No. 2, Vol. 12, hal. 32-42.
Indrawahyuni H, Munawir A, Damayanti I. 2009. Pengaruh Variasi Kepadatan
pada Permodelan Fisik Menggunakan Tanah Pasir Berlempung terhadap
Stabilitas Lereng. Jurnal Rekayasa Sipil. 3(3) : 192-208. Malang.
26

[KemenPUPR] Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 2016.


Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
28/PRT/M/2016. Jakarta (ID) : Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Republik Indonesia.
Lambe T W, Withman R V. 1969. Soil Mechanics. New York (US) : John Willey
and Sons Inc. 553 p.
Pangemanan V G M. 2014. Analisis Kestabilan Lereng dengan Metode Fellenius
(Studi Kasus: Kawasan Citraland). Jurnal Sipil Statik. Vol 2 No 1:37-46.
Manado.
Pangular D. 1985. Petunjuk Penyelidikan & Penanggulangan Gerakan Tanah.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan Balitbang. Jakarta (ID) :
Departemen Pekerjaan Umum. 233 hal.
Salih A S. 2014. The Effective Contribution of Software Applications in Various
Disciplines of Civil Engineering. Sulaimani Polytechnic University.
IJCIET.Volume 5, Issue 12.
Soemarwoto O. 1990. Analisis Dampak Lingkungan. Yogyakarta (ID) : Gajah
Mada University Press. 378 hal.
Suyono S, Kazuto N. 1994. Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi. Jakarta (ID) :
Paradnya Paramita.
Terzaghi K. 1943. Theoritical Soil Mechanics. New York (US) : John Wiley dan
Sons
Varnes D J. 1978. Slope movement types and processes. In Special Report
176: Landslides Analysis and Control (Eds: Schuster R L dan Krizek R J).
Washington D C (US) : Transportation and Road Research Board, National
Academy of Science.
Verhoef P N W. 1985. Geologi untuk Teknik Sipil. Jakarta (ID) : Penerbit
Erlangga.
Wardana I G. 2011. Pengaruh Perubahan Muka Air Tanah dan Terasering
terhadap Perubahan Kestabilan Lereng. Jurnal Ilmu Teknik Sipil. 15(1): 83-
92.
Wesley L D, Pranyoto S. 2010. Mekanika Tanah untuk Tanah Endapan & Residu.
Yogyakarta (ID) : Andi.
28

Lampiran 2 Analisis Faktor Keamanan Lereng dengan Program GEO 5


29

Lampiran 3 Nilai faktor daya dukung

Ф Nc Nq Nγ Nc' Nq' Nγ'


0 5,7 1,0 0,0 5,7 1 0
5 7,3 1,6 0,5 6,7 1,4 0,2
10 9,6 2,7 1,2 8 1,9 0,5
15 12,9 4,4 2,5 9,7 2,7 0,9
20 17,7 7,4 5,0 11,8 3,9 1,7
25 25,1 12,7 9,7 14,8 5,6 3,2
30 37,2 22,5 19,7 19 8,3 5,7
34 52,6 36,5 35,0 23,7 11,7 9
35 57,8 41,4 42,4 25,2 12,6 10,1
40 95,7 81,3 100,4 34,9 20,5 18,8
45 172,3 173,3 297,5 51,2 35,1 37,7
48 258,3 287,9 780,1 66,8 50,5 60,4
50 347,6 415,1 1153,2 81,3 65,6 87,1
Sumber : Terzaghi (1943)

Lampiran 4 Komposisi ukuran minimal dinding penahan kantilever

Sumber : Das (1990)


Lampiran 5 Gambar teknik dua dimensi dinding penahan
30
Lampiran 6 Gambar teknik tiga dimensi dinding penahan
31
Lampiran 7 Gambar teknik dua dimensi penulangan dinding penahan
32
Lampiran 8 Gambar teknik tiga dimensi penulangan dinding penahan
33
34

Lampiran 9 Perencanaan penulangan dinding kantilever

Perencanaan Penulangan Dinding Tulangan Tulangan


Satuan
Retaining Wall Utama D - 19 Pembagi D -16

Kuat tekan beton mutu K -250


21,15 21,15 N/mm2
(fc' )

Tebal dinding beton (h) 500 500 mm


Selimut beton (d') 50 50 mm
Tegangan leleh baja mutu U-39
390 390 N/mm2
(fy)
Diameter baja (D) 19 16 mm
Modulus elastisitas (Es) 200000 200000
Faktor bentuk distribusi (β1) 0,85 0,85
Tebal efektif 440,5 442 mm
Rasio tulangan min (pmin) 0,003589744 0,003589744
Rasio tulangan (pb) 0,023746503 0,023746503
Rasio tulangan max (pmax) 0,017809878 0,017809878
Ditinjau dinding beton (b) 1000 1000 mm
Momen rencana ultimit (Mu) 1772,142 1772,142 kN.m
Faktor reduksi (Φ) 0,8 0,8
Momen nominal rencana (Mn) 2215,1775 2215,1775 kN.m
Faktor tahanan momen (Rn) 0,011416072 0,011338719
Rasio tulangan (p) 2,93E-05 2,91E-05
Luas tulangan pakai (As perlu) 1581,282051 1586,666667 mm2
Luas penampang tulangan (As) 567 402 mm2
Jarak tulangan (s) 358,4243554 253,3109244 mm
350 250 mm
Luas tulangan ada (As ada) 1619,342857 1607,68
35

Lampiran 10 Analisis Harga Satuan Bidang Pekerjaan Umum tahun 2016

Harga Satuan Harga


No Uraian Satuan Volume
(Rp) (Rp)
1 Menggali 1 m3 tanah biasa sedalam 1 meter
Pekerja Oh 0,75 70.593 52.945
Mandor Oh 0,025 120.009 3.000
Jumlah 55.945
2 Pekerjaan timbunan biasa (per 1 m3)
Bahan timbunan m3 1 96.500 96.500
Pekerja Oh 0,8 70.593 56.474
Tukang batu Oh 0,4 98.831 39.532
Kepala tukang Oh 0,04 112.949 4.517
Mandor Oh 0,08 120.009 9.600
Jumlah 206.626
3 Membuat 1 m3 lantai kerja beton mutu f'c = 21,7 Mpa (K250)
Semen Portland kg 384 1.804 692.736
Pasir Beton m3 0,4943 318.180 157.272
Kerikil kg 0,7696 4.290 3.301
Pekerja Oh 1,65 70.593 116.479
Tukang Batu Oh 0,275 98.831 27.178
Kepala Tukang Oh 0,028 112.949 3.162
Mandor Oh 0,083 120.009 9.960
Jumlah 1.010.091
4 Pembesian 10 kg dengan besi polos atau besi ulir
Besi beton
kg 10,5 16.500 173.250
(polos/ulir)
Kawat Beton Kg 0,15 23.281 3.492
Pekerja Oh 0,07 96.500 6.755
Tukang Besi Oh 0,07 70.593 4.941
Kepala Tukang Oh 0,007 98.831 691
Mandor Oh 0,004 112.949 451
Jumlah 189.582
36

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 Agustus


1995 dari pasangan Bapak Abdul Razak dan Ibu Irmayani.
Penulis adalah putra pertama dari empat bersaudara. Penulis
memulai pendidikan dasar di SDN 05 dan lulus pada tahun
2007. Kemudian pada tahun 2010 menyelesaikan pendidikan
menengah pertama di SMPN 131 Jakarta. Pendidikan
menengah atas diselesaikan penulis pada tahun 2013 di
SMAN 38 Jakarta dan pada tahun yang sama diterima di
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Tulis. Selama
menjadi mahasiswa, penulis aktif di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Teknologi Pertania (BEM-F) bagian Pengabdian Masyarakat periode
2014-2016. Penulis juga aktif pada berbagai acara kepanitian lingkup Departemen
dan Fakultas. Pada bulan Juni–Agustus 2016, penulis melaksanakan praktik
lapangan dan menyusun laporan dengan topik “Mempelajari Metode Pelaksanaan
Kegiatan Cut and Fill pada Proyek Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) Sta
2+600 - 3+275 Section IA”. Pada tahun 2017, penulis menyelesaikan tugas akhir
dengan judul “Perencanaan Perkuatan Lereng Menggunakan Dinding Penahan
Tipe Kantilever di Desa Cisarua Nanggung Bogor” di bawah bimbingan Prof. Dr.
Ir. Asep Sapei, MS.