Anda di halaman 1dari 52

Makalah Sejarah Tasyri Periode Rasulullah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tasyri’ secara istilah adalah pembentukan undang-undang untuk mengetahui hukum-hukum bagi
perbuatan orang dewasa dan ketentuan-ketentuan hukum serta peristiwa yang terjadi dikalangan mereka.
Melihat dari makna Tasyri’ tersebut, maka mucul sebuah permasalahan yang sangat perlu diperhatikan, yaitu
keberadaan sebuah agama (Islam) yang berada dalam lingkungan orang-orang yang berwatak keras (Badui)
dan masyarakat yang hidup penuh dengan kebiadaban dan pelecehan serta belum memiliki sebuah aturan
baku untuk dijalani oleh pemeluk-pemeluknya, dalam hal ini adalah Tasyri’.
Tentunya melihat kondisi tersebut, maka Allah mengutus Rasulullah sebagai wasilah pertama untuk
menegakkan syariat Islam yang benar. Penegakan syariat Islam (Tasyri’) ini tidak berhenti setelah Rasulullah
wafat, akan tetapi hal ini berlangsung sampai beberapa periode, mulai dari periode Rasulullah,
Khulafaurrasyidin, Tabiin dan seterusnya. Akan tetapi dalam makalah ini, kami hanya memaparkan tentang
penegakan syariat Islam(Tasyri’) pada periode Rasulullah saja.
Tidak terlepas bahwa berbagai faktor sosial juga menjadi latar belakang turunnya Al-Qur’an. Banyak
hal-hal yang menjadi Asbabun Nuzulnya Al-Qur’an sebagai sumber Tasyri’ periode Rasulullah ini. Akan tetapi
bukan keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan karena adanya Asbabun Nuzul. Kesesuaian tradisi dan
al-quran juga terlihat disana, akan tetapi bukan berarti Al-Qur’an dapat dikatakan sebagai tradisi orang Arab,
karena diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk seluruh umatnya.
Adapun pada periode Rasulullah ini memiliki dua fase, yaitu fase Mekkah dan fase Madinah. Secara
sosio cultural kedua fase ini berbeda dalam penerimaan Tasyri’ yang dibawa oleh Rasulullah ini. Karena corak
kehidupan Mekkah dan Madinah sangatlah jauh berbeda. Keadaan Mekkah yang saat itu penuh dengan hal-
hal yang menyimpang dari aturan atau hukum Islam, tentunya bagi masyarakat tersebut sulit untuk menerima
hal-hal yang baru dibawa oleh Rasulullah. Sehingga yang pertama kali ditanamkan dalam hati mereka adalah
hal-hal yang menyangkut dengan ketauhidan.
Berbeda halnya dengan keadaan masyarakat Madinah yang sangat mudah menerima Islam, bahkan
mereka menerima kedatangan Rasulullah dengan senang hati. Sehingga pembentukan tasyri’ pada masa ini
dirasa jauh lebih mudah dibanding dengan fase Mekkah, dan pada masa inilah hal-hal yang berkaitan dengan
Ibadah, tauhid dan sebagainya menjadi Tasyri’.
1. Al-Qur’an dan Hadist pada periode ini menjadi sebagai sumber penetapan Tasyri’, kemudian permasaalahan
yang muncul adalah keterkaitan dengan ijtihad pada masa ini, apakah ijtihad juga menjadi sumber Tasyri’ saat
itu. Maka untuk lebih lengkapnya akan kita bahas pada bab selanjutnya.
Melihat berbagai latar belakang diatas, maka penulis dapat merangkaikan rumusan masalah sebagai
berikut:

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pembentukan Hukum Islam?
2. Bagaimana pembinaan hukum islam pada masa Rasulullah?
3. Apa saja yang menjadi landasan hukum islam periode Rasulullah?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui sejarah pembentukan hukum islam pada masa Rasulullah.
2. Mengetahui cara pembinaan hukum islam pada masa Rasulullah.
3. Mengetahui apa saja yang menjadi landasan hukum islam pada masa Rasulullah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pembentukaan Hukum Islam


Allah SWT. mengutus Rasulullah sebagai wasilah pertama untuk menegakkan syariat Islam yang
benar. Penegakan syariat Islam (Tasyri’) ini tidak berhenti setelah Rasulullah wafat, akan tetapi hal ini
berlangsung sampai beberapa periode, mulai dari periode Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Tabiin dan
seterusnya.
Adapun pada periode Rasulullah ini memiliki dua fase, yaitu fase Mekkah dan fase
Madinah. Secara sosio cultural kedua fase ini berbeda dalam penerimaan Tasyri’ yang dibawa oleh Rasulullah
ini
1. Tasyri’ Periode Mekkah
Selama 13 tahun masa kenabian Muhammad SAW di Mekkah sedikit demi sedikit turun
hukum. Periode ini lebih terfokus pada roses penamaan (ghars) tata nilai tauhid, seperti iman kepada Allah,
Rasulnya, hari kiamat, dan perintah untuk berakhlak mulia seperti keadilan, kebersamaan, menepati janji dan
menjauhi kerusakan akhlak seperti zina, pembunuhan dan penipuan.[i]
Pada awalnya Islam berorientasi memperbaiki akidah , karena akidah merupakan fundamen yang
akan berdiri diatasnya, apapun bentuknya.[ii] Sehingga bila telah selesai tujuan yang pertama ini, maka Nabi
melanjutkan dengan meletakkan aturan kehidupan (tasyri’). Bila kita perhatikan ayat-ayat al-quran yang Turun
di Mekkah, maka terlihat disana penolakan terhadap syirik dan mengajak mereka menuju tauhid, memuaskan
mereka dengan kebenaran risalah yang disampaikan oleh para Nabi. Mengiringi mereka agar mengambil
pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu, menganjurkan mereka agar membuang taklid pada nenek
moyangnya, dan memalingkan mereka dari pengaruh kebodohan yang ditinggalkan oleh leluhurnya seperti
pembunuhan, zina dan mengubur anak perempuan hidup-hidup.
Kebanyakan ayat-ayat al-quran itu meminta mereka agar menggunakan akal pikiran, Allah
mengistimewakan mereka dengan akal, yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya agar mereka mendapat
petunjuk kebenaran dari dirinya sendiri (rasionalitas). Mengingatkan mereka agar tidak berpaling dengan
ajaran para Nabi, agar tidak tertimpa azab seperti apa yang ditimpakan pada Amat-umat terdahulu yang
mendustakan Rasul-rasul mereka dan mendurhakai perintah tuhannya.
Pada masa ini al-quran hanya sedikit memaparkan tujuan yang kedua, sehingga mayoritas
masalah Ibadah belum disyariatkan kecuali setelah hijrah. Ibadah yang disyariatkan sebelum hijrah erat
kaitannya dengan pemeliharaan akidah, sepertti pengharaman bangkai, darah dan sembelihan yang tidak
disebut nama Allah. Dengan kata lain, periode Mekkah merupakan periode revolusi akidah untuk mengubah
sistem kepercayaan masyarakat jahiliyah menuju penghambaan kepada Allah semata. Statu revolusi yang
menghadirkan perubahan fundamental, rekonstruksi social dan moral pada seluruh dimensi kehidupan
masyarakat.
Namun ada beberapa hal yang menyebabkan ajaran Nabi Muhammad SAW tidak diterima oleh
masyarakat Mekkah, terutama dalam aspek ekonomi, faktor diantaranya yatu :
1. Ajaran tauhid menyalahkan kepercayaan dan praktek menyembah berhala. Bila menyembah berhala
dihapuskan maka berhala yang ada tidak laku lagi. Hal ini mengancam sisi ekonomi mereka (produsen
berhala). Karena itu ajaran tauhid juga banya ditolak oleh masyarakat Mekkah.
2. Ajaran Islam mengecam perilaku ekonomi masyarakat Mekkah yang mempunyai ciri pokok penumpuk
harta dan mengabaikan fakir miskin serta anak yatim.
Seperti yang kita ketahui bahwa Mekkah terletak dijalur perdagangan yang penting. Mekkah
makmur karena letaknya yang berada dijalur penting dari Arabia selatan sampai utara dan mediteranian, teluk
Persia, laut merah melalui jiddah dan afrika. Dan Mekkah adalah salah satu pusat perdagangan yang ramai.
Maka faktor tersebut sangat mempengaruhi penolakan dakwah Nabi.[iii]

2. Tasyri’ Periode Madinah


Pada fase atau periode ini Islam sudah kuat dan berkembang dengan pesatnya, jumlah umat Islam
pun sudah betambah banyak dan mereka sudah memiliki suatu pemerintahan yang gilang
gemilang.[iv] keadaan inilah yang mendorong perlunya mengadakan tasyri’ dan pembentukan undang-
undang untuk mengatur perhubungan antara individu dari suatu bangsa dengan bangsa lainnya, dan untuk
mengatur pula perhubungan mereka dengan bangsa yang bukan Islam baik di waktu damai maupun perang.
Adapun periode madinah ini dikenal dengan periode penataan dan pemapanan masyarakat
sebagai masyarakat percontohan oleh karena itu di periode madinah inilah ayat-ayat yang memuat hukum-
hukum untuk keperluan tersebut (ayat-ayat ahkam) Turun, baik yang berbicara tentang ritual maupun social.
Meskipun pada periode ini Nabi Muhammad SAW baru melakukan legislasi, Namun ketentuan yang bersifat
legalitas sudah ada Sejak periode Mekkah, bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kukuh
dalam periode Mekkah tersebut. Dasar-dasar itu memang tidak langsung bersifat legalistik karena selalu
dikaitkan dengan ajaran moral dan etik.[v]
Pada periode ini tasyri’ Islam sudah berorientasi pada tujuan yang kedua yaitu disyariatkan bagi
mereka hukum-hukum yang meliputi semua situasi dan kondisi, dan yang berhubungan dengan segala aspek
kehidupan, baik individu maupun kelompok pada setiap daerah, baik dalam Ibadah, muamalah, jihad, pidana,
mawaris, wasiat, perkawinan, thalak, sumpah, peradilan dan segala hal yang menjadi cakupan ilmu fiqih.
Proses pembentukan hukum pada masa kenabian tidak dipaparkan peristiwa-peristiwa,
menggambarkan kejadiannya, mencari sebab-sebab pencabangannya dan kodifikasi huku-hukum,
sebagaimana masa-masa akhir yang telah dimaklumi. Tetapi pembentukan hukum pada masa ini berjalan
bersama kenyataan dan pembinaan bahwa kaum muslimin, apabila menghadapi suatu masalah yang harus
dijelaskan hukumnya, maka mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW. Terkadang Rasulullah SAW
memberikan fatwa kepada mereka dengan satu atau beberapa ayat (wahyu) yang diturunkan Allah kepadanya,
terkadang dengan hadis dan terkadang dengan memberi penjelasan hukum dengan pengalamannya. Atau
sebagian mereka melakukan suatu perbuatan lalu Nabi SAW menetapkan (takrir) hal itu, jika hal tersebut
benar menurut Nabi SAW.
Ada tiga aspek yang perlu dijelaskan dari proses perkembangan syariat pada periode
ini.[vi] Pertama adalah : metode Nabi dalam menerangkan hukum. Dalam banyak hal syariat Islam Turun
secara global nabi sendiri tidak menjelaskan apakah perbuatannya itu wajib atau sunnah, bagaimana syarat
dan rukunnya dan lain sebagainya. Seperti ketika nabi salat para sahabat melihat salat nabi dan mereka
mengikutinya tanpa menanyakan syarat dan rukunnya.
Kedua adalah: kerangka hukum syariat. Ada hukum yang disyariatkan untuk suatu persoalan yang
dihadapi oleh masyarakat, seperti bolehkah menggauli istri ketika mereka sedang haid, bolehkah berperang
pada bulan haji. Dan ada pula yang disyariatkan tanpa didahului oleh pertanyaan dari sahabat atau tidak ada
kaitannya dengan persoalan yang mereka hadapi, termasuk didalamnya adalah masalah ibadah dan beberapa
hal yang berkaitan dengan muamalat.
Ketiga adalah: turunnya syariat secara bertahap (periodik). Maksudnya pembentukan kondisi
masyarakat yang layak dan Siap dan menerima Islam harus menjadi prioritas yang diutamakan.

B. Pembinaan Hukum Islam


Dalam pembinaan hukum Islam telah dipelihara empat dasar (asas):
1. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum.
Berangsur-angsur ini berlaku dalam masa tasyri’ dan berlaku pula dalam macam-macam hukum
yang disyariatkan. Hikmah dari berangsur-angsurnnya masa turunnya hukum ialah agar secara bertahap
mudah diketahui isi undang-undangnya, materi demi materi, dan mudah dipahami hukum-hukumnya secara
sempurna, dengan berpijak kepada peristiwa dan situasi yang memerlukan penetapan hukum.
Adapun tujuan hukum diturunkan dan disyariatkan secara berangsur-angsur adalah agar segenap
umat pada masa pertama memeluk agama Islam tidak dibebani sesuatu yang menyusahkan, baik yang ingin
dikerjakan maupun ingin ditinggalkan, sehingga segenap umat bersedia menerima dan taklif.
Sebagaimana ketika Rasulullah ditanya masalah khamer dan judi, sedang keduanya termasuk adat-
istiadat yang kokoh dikalangan mereka. maka beliau menjawab mereka dengan ayat Al-Qur’an surat al-
Baqarah: 219
Ĩ$¨Z=Ï9 ßìÏÿ»oYtBur × •Î7 2 ÖNøOÎ) !$yJÎg Ïù ö@è% ( Πţ÷•yJø9$#ur Ì•ôJy ø9$# y7tRqè=t«ó¡o ÇÆtã
3 $yJÎgÏèøÿ¯R `ÏB ç t9ò2r& !$yJßgßJøOÎ)ur
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan
beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya".
Ayat tersebut tidak menjelaskan tuntutan untuk meninggalkannya, tetapi disuruh untuk memahaminya terhadap
perbuatan yang tidak banyak manfaatnya. kemudian Al-Qur’an menjelaskan kepada mereka tentang shalat dalam keadaan
mabuk sehingga mereka tidak mengetahui apa yang mereka katakan. Allah berfirman dalam surat an-Nisa: 43
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti
apa yang kamu ucapkan.”
Larangan ini tidaklah membatalkan kepada yang pertama bahkan dia menguatkannya. Kemudian Al-Qur’an
menjelaskan larangan sebagai keputusan secara tegas kepada suatu hukum.
2. Mengefisienkan pembuatan undang-undang.
Disini hukum-hukum disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya sekedar menurut kebutuhan-kebutuhan
hukum yang diperlukan, serta merespon kejadian yang mengharuskan adanya hukum. Hikmah pembinaan dari
tasyri’ ini adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia dan mewujudkan kemaslahatan, maka sebaiknya pada
tiap masa peraturan itu dibatasi sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan zamannya, sehingga orang-
orang yang terdahulu, kini, dan yang akan datang, tidak menemukan kesulitan akibat peraturan-peraturan
diluar kebutuhan dan kemaslahatan mereka.
Diantara prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam syariat Islam ialah bahwa hukum asal segala sesuatu
adalah dibolehkan. Untuk itu segala binatang dan benda atau perjanjian atau transaksi yang tidak disyariatkan
hukumnya oleh dalil syara’ adalah boleh. Atas dasar inilah maka dengan mengefisienkan undang-undangpun
tidak mendatangkan kesempitan. Permasalahan apapun yang tidak ada peraturan undang-undangnya, maka
hukumnya boleh berdasarkan ibahah ashliyah(kebolehan menurut asal).
3. Memberi kemudahan dan keringanan.
Prinsip ini paling menonjol dalam perundang-undangan hukum Islam. Dalam banyak hal, hukum-
hukum itu tujuannya adalah memberi kemudahan dan keringanan bagi para mukallaf.
Dalam keadaan khusus dimana hukum ‘adzimah mendatangkan kesulitan, maka disyariatkanlah
hukum rukhshah (keringanan). maka dibolehkanlah hal-hal yang terlarang ketika terjadi darurat, dan
dibolehkan meninggalkan perbuatan wajib jika untuk menunaikannya terdapat kesulitan. Adanya paksaan,
keadaan sakit, bepergian, khilaf, lupa, dan ketidaktahuan, merupakan alasan untuk keringanan hukum.

4. Berjalannya undang-undang sesuai dengan kemaslahatan umat manusia.


Bukti adanya prinsip ini adalah bahwa syari’ (pembuat undang-undang) banyak memberikan ta’lil
hukum dengan kemaslahatan manusia sebagai ‘illat hukum. Syara’ menetapkan bahwa hukum-hukum yang
ada berdasarkan ‘illat akan berputar bersama ‘illatnya, yaitu adanya ‘illat menetapkan adanya hukum dan tidak
ada ‘illat meniadakan hokum. untuk ini Allah mensyariatkan sebagian hukum, kemudian membatalkan dan
menghapusnya, Karena kemaslahatan mengharuskan perubahan yang demikian.
Salah satu contohnya, mula-mula Allah mewajibkan menghadap Baitul Maqdis ketika shalat,
kemudian hukum ini dihapuskan dan diganti dengan perintah menghadap Ka’bah ketika shalat.
Adanya penghapusan hukum, penggantian hukum, dan perubahan hukum, menjadi bukti bahwa
perundang-undangan dalam Islam ditetapkan untuk kemaslahatan umat manusia. Untuk memeliharanya maka
pembuat undang-undang memperhatikan ‘urf (adat kebiasaan masyarakat diwaktu peraturan berlaku) selama
adat istiadat tersebut tidak merusak salah satu dasar dari pokok agama. Oleh karena itu syari’ (pembuat
undang-undang) memperhatikan adanya kafa’ah (keseimbangan, kufu) dalam perkawinan, memperhatikan
‘ashabah dalam hukum pewarisan dan perwalian, serta mewajibkan pembayaran diyat (denda).
Demi kemaslahatan umat manusia, maka perlu diperhatikan adat kebiasaan serta hal-hal yang biasa
dilakukan masyarakat setempat (lokal), selama yang demikian itu tidak berlawanan dengan pokok-pokok
agama serta tidak mendatangkan kemudharatan.[vii]

C. Sumber Hukum Islam pada Masa Rasulullah SAW


Penentuan hukum pada periode Rasulullah SAW mempunyai dua sumber[viii], yaitu :
1. Wahyu Ilahi (Al-Quran)
Al-quran adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung
petunjuk kebenaran bagi kebahagiaan ummat manusia. Dalam bahasa “Fazlurrahman,[ix] Al-Quran adalah
dokumen keagamaan dan etika yang bertujuan praktis menciptakan masyarakat yang bermoral baik dan adil,
yang terdiri dari manusia-manusia saleh dan religius dengan keadaan yang peka dan nyata akan adanya satu
tuhan yng memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan.
Ketika terjadi sesuatu yang menghendaki adanya pembentukan hukum dikarenakan suatu peristiwa,
perselisihan, pertanyaan, permintaan fatwa, maka Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW satu atau
beberapa ayat al-quran yang menjelaskan hukum yang hendak diketahuinya. Kemudian Rasulullah
menyampaikan kepada umat Islam apa-apa yang sudah diwahyukan kepada beliau itu, dan wahyu itu menjadi
undang-undang yang wajib diikuti.
Ada karakteristik yang sangat menonjol dari al-quran yaitu, bahwa meskipun al-quran diturunkan
dalam ruang waktu tertentu, sebab tertentu, tetapi esensi kalam tuhan tersebut adalah universal, sehingga
mengatasi ruang dan waktu. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sasaran alquran dan juga sebab turunnya
adalah “kemanusiaan(problematika kehidupan manusia), baik pada masa Nabi, masa kini dan masa
seterusnya.
2. Ijtihad Rasulullah (Sunnah)
Sunnah adalah sumber fiqih kedua setelah al-quran. Dalam terminologi muhaddisin, fuqaha dan
ushuliyyin, sunnah berarti setiap sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, baik perkatan, perbuatan
dan ketentuan. Sebagaimana al-quran, sunnah juga tidak muncul dalam satu waktu, tetapi secara
bertahap(periodik) mengikuti fenomena umum dalam masyarakat, atau lebih tepat disebut mengikuti
perkembangan turunnya syariat. Oleh karena itu dalam banyak hal, kita akan melihat bahwa sunnah bertujuan
menerangkan, merinci, membatasi dan menafsirkan al-quran.
Ketika muncul sesuatu yang menghendaki peraturan, sedang Allah tidak mewahyukan kepada
Rasulullah ayat al-quran yang menunjukkan hukum yang dikehendakinya, maka Rasulullah berijtihad untuk
mengetahui ketentuan hukumnya.
Dan dengan hasil ijtihad itulah yang dipergunakan beliau untuk memutusi hukum sesuatu masalah,
atau memberi fatwa hukum atau menjawab pertanyaan atau menjawab permintaan fatwa hukum. Dan hukum
yang terbit dari hasil ijtihad beliau itu juga menjdai undang-undang yang wajib diikuti. Setiap hukum yang
disyareatkan pada periode Rasulullah SAW itu sumbernya adalah dari wahyu ilahi (al-quran) dan ijtihad Nabi
(Sunnah).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada periode Rasulullah pembentukan tasyri’ terbagi menjadi 2 yaitu:

a. Periode Makkah

Pada periode makiyyah Rasulullah lebih memfokuskan kepada pembentukan Akidah dan moral
masyarakat makkah yang bertolak belakang dengan kebiasaan masyarakat mekkah pada masa itu. Contohya,
kebiasaan masyarakat mekkah menyembah berhala, berjudi, meminum khamer, membunuh bayi perempuan,
dan berzinah. Setelah diangkatnya Nabi Muhammad dan berdakwah secara terang-terangan barulah terbentuk
Hukum Islam yang mengajak masyarakat mekkah untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan terdahulu, dan
menyembah kepada Allah SWT.

Ketika Rasulullah mengajak masyarakat makkah untuk menyembah Allah dan meninggalkan
kebiasaan nenek moyang terdahulu, terdapat perlawanan dari masyarakat mekkah yang membenci ajaran
yang dibawa oleh Nabi Muhammad sehingga Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Inti pembentukan Hukum pada periode Makkiyah adalah membentuk akidah yang sesuai dengan
ajaran Islam, dan menyembah kepada Allah SWT.

b. Periode Madinah
Berbeda dengan periode sebelumnya pada periode madinah sudah banyak masyarakat yang
memeluk Agama Islam dan telah terbentuknya pemerintahan yang tertata dengan rapih. Kemudian mendorong
Tasyri’ sesuai dengan perkembangan masyarakat yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan, baik
individu maupun kelompok pada setiap daerah, baik dalam Ibadah, muamalah, jihad, pidana, mawaris, wasiat,
perkawinan, thalak, sumpah, peradilan dan segala hal yang menjadi cakupan ilmu fiqih.
Setelah pembentukan Hukum maka munculah Pembinaan Hukum Pada Masa Rasulullah terdapat 4
dasar pembentukan Hukum Islam yaitu:
a. Berangsur-angsur dalam penetapan hukum.
b. Mengefisienkan Pembuatan Undang-Undang.
c. Memberi Kemudahan dan Keringanan.
d. Berjalannya undang-undang sesuai dengan kemaslahatan umat manusia.
B. Saran
Kami sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, serta masih banyak
kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif,
guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Harapan kami, makalah yang
sederhana ini, dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya pagi para pembaca.
`

DAFTAR PUSTAKA

Asghar ali engineer, Asal-usul dan Perkembangan Islam, 1999. Yogyakarta: INSIST dan IKAPI.
Zuhri, Muhammad Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, 1996. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sirri, Mun’in Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, 1995. Risalah Gusti.
Khallaf, Abdul Wahhab, Sejarah Hukum Islam, (Marja Bandung: 2005) Cet-1, 19-25.
Khallaf, Wahab Terjemahan Khulasah Tarikh Tasyri’ Islam, 1974. Solo: CV.Ramadhani
erkembangan Hukum Islam Pada Masa Rasulullah SAW
BAB I

PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang universal dan rahmatal lil alamin, untuk siapa saja , dimana saja
berada dan kapan saja. Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang mampu menyesuaikan diri
dalam kondisi apapun tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar (substansial) dari ajaran Islam yang luhur.
Hal itulah yang menyebabkan kenapa Islam dapat berlaku selama-lamanya dan dimanapun (Al-Islamu
haqqun likulli zaman wa makan), tidak musnah termakan zaman yang senantiasa dinamis dan menuntut
perubahan.

Berbicara Islam pada masa kini tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelahiran dan pertumbuhan
Islam pada masa silam. Kemunculan Agama Islam sekitar abad keenam masehi tidak dapat dilepaskan
dari kondisi sosial masyarakat Arab pada masa itu yang kita kenal dengan zaman jahiliyahnya. Kondisi
sosial bangsa Arab itulah yang menyebabkan kenapa hukum Islam lebih cenderung bersifat “keras” dan
“tegas” terutama dalam masalah jinayah (hukum pidana). Sehingga dapat kita katakan bahwa kondisi
sosial suatu masyarakat atau bangsa akan berpengaruh terhadap produk hukum yang diberlakukan
dalam masyarakat tersebut.

Untuk lebih lanjutnya makalah kami akan sedikit menguraikan kondisi masyarakat bangsa Arab
pada awal lahirnya agama Islam serta pengaruhnya terhadap hukum Islam pada masa Nabi dan para
sahabatnya. Semoga makalah ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam rangka menambah
khazanah keilmuan kita. Tiada gading yang tak retak, mohon kritik dan sarannya demi perbaikan yang
lebih baik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kondisi Bangsa Sosial Arab

Bangsa Arab adalah penduduk asli jazirah Arab.Semenajung yang terletak di bagian barat daya
Asia ini. Sebagian besar permukaannya terdiri dari padang pasir. Secara iklim di jazirah Arab amat panas,
bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi ini.

Dari segi pemukimannya, bangsa Arab dapat dibedakan atas ahl al-badawi dan ahl al-hadlar.
Kaum Badawi adslah penduduk padang pasir .Mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, tetapi hidup
secara nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk mencari sumber air dan
padang rumput. Mata penghidupan mereka adalah berternak kambing, biri-biri, kuda dan unta.
Kehidupan masyarakat Badawi yang nomaden tidak banyak memberikan peluang kepada mereka untuk
membangun kebudayaan. Karenanya, sejarah mereka tidak diketahui dengan tepat dan jelas. Ahl al-
hadlar ialah penduduk yang sudah bertempat tinggal tetap di kota-kota atau daerah pemukiman yang
subur. Mereka hidup dari berdagang, bercocok tanam, dan industry. Berbeda dengan masyarakat
Badawi , mereka memiliki peluang yang besr untuk membangun kebudayaan, sehingga sejarah mereka
bias diketahui lebih jalas disbanding dengan kaum Badawi.

Bangsa Arab termasuk rumpun bangsa semit, yaitu keturunan Sam ibn Nuh, serumpun dengan
bangsa Babilonia, Kaldea, Asyuria, Ibrani, Phunisia, Aram dan Habsyi. Bangsa Arablah rumpun semit
yang sekarang masih bertahan, sedangkan sebagian besar yang lain sudah leyap dan tidak dikenal lagi.

Dalam bidang ekonomi bangsa Arab memiliki beberapa tempat mereka berkumpul untuk
melakukan taransaksi jual beli dan membaca syair. Pasr-pasar itu terletak di dekat Mekah yang
terpenting di antaranya ialah Ukaz, Majinnah dan Dzul Majaz. Kabilah Quraisy terkenal sebagai
pedagang yang menguasai jalur niaga Yaman-Hijaz- Syria. Mereka juga mendominasi perdagangan lokal
dengan memanftkan kehadiran para peziarah ka’bah, terutama pada musim haji.

Dalam struktur masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai intinya. Ia adalah organisasi keluarga
besar yang biasanya hubungan antara anggota-anggotanya terkait oleh pertalian darah. Akan tetapi ,
adakalanya hubungan seseorang dengan kabilahnya disebabkan oleh perkawinan, suaka politik atau
karena sumpah setia.

Sistem politik sudah ada sejak lama. Sebelum Islam, ka’bah selalu dikunjungi oleh bangsa Arab
dari seluruh penjuru jazirah untuk melaksanakan ibadah haji. Oleh karena itu di Mekah berdirilah
pemerintahan untuk melindungi jamaah haji dan menjamin keslamatan dan keamanan mereka.
Ditetapkan pula larangan berperangan di kota itu, disamping larangan berperang selama bulan-bulan
tertentu. Beberapa kabilah yang pernah menguasai Mekah antara lain Amaliqah, Jurhum, khuza’ah dan
yang terakhir adalah Quraisy.

Pada masa Rasulullah berlangsung hanya beberapa tahun saja yaitu tidak lebih dari 22 tahun
beberapa bulan. Akan tetapi periode ini membawa pengaruh-pengaruh yang besar dan hasil-hasil yang
gemilang. Periode ini terdiri dari dua fase yang berlainan , yaitu :

1. Fase Rasulullah Berada Di Mekkah

Yakni selama 12 tahun beberapa bulan, semenjak beliau diangkat sebagai Rasul sampai waktu
hijrahnya. Pada fase ini kaum muslimin baru beberapa orang saja jumlahnya sedikit dan masih lemah,
belum merupakan suatu umat dan belum mempunyai pemerintahan. Perhatian rasul pada fase ini
diarahkan kepada penyebaran dakwah ketauhidan (meng-Esakan Allah) dan berusaha memalingkan
umat manusia dari menyembah berhala dan patung, menjaga diri dari gangguan orang-orang yang
sengaja menghalangi dakwah beliau, orang-orang yang memperdayakan orang-orang yang beriman
kepada ajarannya. Juga Nabi mengajarkan larangan memakan daging hewan yang disembelih atas
nama berhala, melihat undian nasib dengan anak panah, zina dan lain sebagainya. Justru itu ayat-ayat
yang turun di mekkah khusus menyangkut bidang aqidah, akhlak, dan ibadah (suri tauladan) dari sejarah
ummat yang dahulu.

2. Fase Rasulullah Berada Di Madinah


Yakni selama kira-kira10 tahun, berjalan dari waktu hijrah beliau sampai wafatnya. Selama beliau
berada di Madinah, operasional dakwahnya lebih lancar dibandingkan dengan di Mekkah yang ditandai
dengan banyaknya orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Quran yang turun banyak
mengandung hukum ‘amaliyah, baik yang berkenaan dengan hidup individual maupun masyarakat yang
dapat dipastikan sangat memerlukan ketentuan hukum lembaga pengadilan. Islam telah terbina menjadi
umat, dan telah merupakan satu pemerintahan, media-media dakwah telah berjalan lancar. Keadaan
mendesak adanya tasyri’ dan undang-undang mengatur hubungan antar individu satu dengan yang
lainnya, selaku umat yang berkembang serta mengatur hubungan-hubungan mereka dengan yang lain,
baik di masa damai maupun perang. Untuk ini maka disyari’atkanlah di Madinah hukum-hukum
perkawinan, perceraian, pewarisan, perjanjian hutang piutang, kepidanaan dan lain-lain.

B. Wewenang Dalam Menetapkan Hukum

Melihat situasi seperti ini, maka pembinaan dan pembentukan hukum langsung ditangani oleh
Rasulullah SAW sendiri berdasarkan wahyu, maupun ijtihad (pendapat) beliau sendiri yang disebut
hadits. Tapi walaupun demikian, beliau masih memberi kesempatan ijtihad kepada para sahabatnya,
sekalipun wahyu masih ada dan masih hidup. Hal ini dikarenakan ada kejadian yang khusus untuk
mengadakan hubungan dengan beliau sukar karena jauh ataupun waktunya sangat mendesak. Peristiwa
pernah terjadi pada waktu Rasulullah SAW mengutus sahabatnya Mu’adz ibnu Jabal menjadi duta Islam
(hakim) di Yaman. Dia direstui oleh Rasulullah SAW untuk mengambil inisiatif sendiri dalam menjatuhkan
vonis suatu kasus hukum, andaikan pidananya tidak terdapat dalan Al-Quran dan Hadits.

Perlu diketahui, bahwa keputusan-keputusan dan fatwa-fatwa dari ijtihad para sahabat hanya
bersifatkan penerapan hukum dan bukan bersifat pembentukan hukum (tasyri’). Dengan pengertian
bahwa semua ijtihad para sahabat tersebut bukanlah menjadi undang-undang yang mengikat bagi kaum
muslimin, kecuali kalau sudah mendapatkan ikrar (legalisasi) dari Rasulullah SAW sendiri. Ini secara
tidak langsung berarti Rasululloh SAW juga menetapkan hukum syari’at, semasa beliau masih hidup.

Terjadinya ijtihad pada masa Rasul mempunyai segi-segi hikmat yang besar karena beliau
merupakan petunjuk bagi sahabat-sahabatnya dan fuqaha-fuqaha yang datang sesudahnya untuk
mengambil hukum-hukum dari aturan-aturan syari’at yang umum dan mengembalikan peristiwa-peristiwa
kecil kepadanya, karena adanya persamaan sebab. Apalagi kalau diingat bahwa nash-nash syaria’at
tidak mencakup semua hukum yang timbul. Oleh karena itu Rasul SAW berkata kepada sahabat-
sahabatnya : “Aku tinggalkan untukmu dua perkara, dimana kamu tida akan sesat selama kamu
berpegang dengan keduanya, yaiui kitab Tuhan dan Sunnah Nabi-Nya”

C. Dasar Penetapan Hukum, Sanksi dan Metodenya

Periode Rasululloh SAW ini sumber-sumber dalam penetapan atau pembinaan hukum ada dua yakni
wahyu dan ijtihad Rasulullah SAW sedangkan ijtihad para sahabat pada waktu itu tidak dapat dijadikan
dasar yang mutlak kecuali ada pengakuan dari Rasulullah SAW sendiri.

Adapun Al-Quran sebagai sumber (dasar) pokok dalam penetapan hukum, karena berdasarkan
pernyataan dalam Al-Quran itu diantaranya sebagai berikut:
“Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu
mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu
menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat.” (Q.S.
An-Nisa’ :105).

Kemudian sebagai kelajutan dari ketetapan Al-Quran surat An-Nisa’:105 tersebut Allah akan
mengancam kepada manusia sebagai khilafah di bumi ini yang tidak mempergunakan Al-Quran sebagai
pedoman hukum dengan sanksi sebagai berikut:

1. Kafir adalah vonis pidana yang diberikannya itu merugikan orang lain dan dia sendiri benci kepada
keputusan hokum Al-Quran

“Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang
menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan
mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu
janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-
ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan
Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

2. Zalim adalah vonis pidana yang diberikannya itu menurut hawa nafsu, berakibatkan merugikan orang
lain dia sendiri masih mengakui Al-Quran, tapi pada prakteknya dia tidak menjatuhkan vonis pidana
terhadap Al-Quran.

“Dan kami Telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas)
dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan
gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka
melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. barangsiapa tidak memutuskan perkara
menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

3. Fasiq adalah vonis pidana yang dijatuhkannya kepada seseorang pidana tidak merugikan orang yang
bersangkutan dan keputusan itu tidak berdasarkan Al-Quran. Dia secara pribadi mengakui Al-Quran.

“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan
Allah didalamnya. barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah,
Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.”

Adapun cara atau metode pembentukan hukum periode ini adalah berdasarkan suatu problem
untuk ditentukan hukumnya. Untuk itu Rasululloh terpaksa menunggu dalam beberapa waktu
menjelang wahyu dari Allah sebagai jawaban problem yang dimaksud. Tapi kalau ternyata wahyu yang
diharapkan itu tidak kunjung datang, maka Rasulullah berijtihad sendiri ataupun bermusyawarah dengan
para sahabat, dengan berorientasi kepada kemaslahatan umum (masyarakat).

BAB III
KESIMPULAN

Secara umum kondisi bangsa Arab pada masa Rasul dan sahabat adalah terdiri dari berbagai
kabilah-kabilah dan suku. Kabilah-kabilah tersebut ada yang menetap di perkotaan dan ada pula yang
hidup di pedesaan dengan mengembara. Masyarakat kota mayoritas mata pencahariannya dengan
berdagang ke luar kota dan menjualnya di daerahnya. Sedangkan masyarakat desa hidup dengan
berladang dan berternak hewan. Biasanya masyarakat kota lebih maju dan kuat dibandingkan pedesaan
baik dari segi kekuasaan (politik), kesejahteraan, maupun peradaban.

Pada masa Rasulullah hukum Islam belum mengalami perkembangan yang signifikan. Sumber
hukum yang menjadi titik acuan adalah al-Quran. Apabila terdapat persoalan yang tidak memiliki dasar
hukum dalam al-Quran (wayu), beliau berijtihad sendiri secara langsung dan ijtihad beliau dijadikan
sebagi landasan hukum bagi umat Islam pada masa itu.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad. Fajr Al Islam, (Singapura-Kota Baru-Penang: Sulaimanmar’I), 1965.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1971.

Bik, Hudhari. Tarjamah Tarikh Tasyrik: Sejarah Pembentukan Hukum Islam, (Semarang: Darul Ikhya),
1980.

Farrukh. Al-Arab Wa Al-Islam Fi Al-Haudl Alsyarqiy Al- Bahr Al-Abyad Al-Mutawassith, (Beirut: Dar al
kutub), 1966.

Hanafi, Ahmad. Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang), 1977.

Haris, Gusnam dkk. Sejarah Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: UIN Press).

Muhammad, Noor-Matdawam. Dinamaika Hukum Islam (Tinjauan Sejarah Dan Perkembangannya,


cet.pertama. (Yogyakarta: Bina Karier), 1985.

Wahhab, Khalaf Abdul. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam, cet. Pertama, (Yogyakarta: Dua Dimensi), 1985.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada),1993.


Makalah Tarikh Tasyri’ Periode Masa
Rasulullah di Mekkah dan Madinah

A. Tasyri’ pada Masa Nabi


Nabi muhammad adalah seorang manusia revolusioner sejati. Keberhasilannya mengubah
pola kehidupan masyarakat arab hingga seluruh belahan dunia dalam berbagai aspek kehidupan.
Menjadikannya layak mendapat julukan ini. Setidaknya pendapat ini diyakini oleh semua umat
islam dan sebagian orientalis. Michel H. Hart dalam bukunya yang berjudul 100 Pokoh yang
paling Berpengaruh di Dunia menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama. Ia
mengatakan bahwa Nabi Muhanmmad adalah sosok manusia yang berhasil memimpin dan
menyeberkan agama islam hingga seluruh dunia. Ini tidak lepas dari kesempurnaan hukum dan
ajaran islam yang dibawanya.
Namun terjadinya perang salib akibat gerakan ekspansi kekuasaan dan keagamaan yang
dilakukan oleh pasukan islam sejak masa khulafar rasyidinmenimbulkan kebencian dikalangan
umat islam terhadap sosok Nabi Muhammad. Kebencian ini ini diwujudkan melalui berbagai
cara. Misalnya melalui propaganda artikel, kebebasan berpendapat, dan berbagai tulisan dan
buku yang semuanya bertujuan menjatuhkan pamor Nabi Muhammad dan syariat yang
dibawanya dihadapan umat islam dan seluruh umat.
Al quran dan alhadis yang menjadi sumber hukum islam berkembang. Mereka
mengatakan bahwa alquran merupakam karya Muhammad yang disesuaikan dengan kondisi
masyarat arab saat itu, sehingga kitab tersebut tidaklah wajib diimami. Hal ini bertentangan
dengan doktrin islam yang mengatakan nahwa Alquran berasal dari ALLAH dan tidak ada
campur tangan manusia sama sekali, meskipun unsur kebudayaan Arab masa itu menjadi latar
belakng turunnya ayat.[1]
Tasyri’ pada masa Nabi disebut masa pembentukan hukum (al-insya’wa al-takwin)
karena pada masa beliau inilah mulai tumbuh dan terbentuknya hukumislam, yaitu tepatnya
ketika Nabi hijrag ke Madinah dan menetap disana selama 10 tahun. Sumber asasinya adalah
wahyu , baik Alquran ataupun sunnah Nabi yang terbimbing wahyu. Semua hukum dan
keputusannya didasarkan wahyu. Masa ini sekalipun singkat, tetapi sangat menentukan untuk
perkembangan hukum dan keputusan hukum berikutnya.
Sumber atau kekuasaan tasyri’pada periode ini dipegang oleh Rasulukkah sendiri dan
tidak seorang pun yang boleh menentukan hukum suatu masalah baik untuk dirinya sendiri
ataupun untuk orang lain. Dengan adanya Rasulullah di tengah-tengah mereka serta dengan
mudahnya mereka mengembalikan setiap masalah mereka kepada beliau, maka tidak seorang
pun dari mereka berani berfakwa dengan hasil ijtihadnya sendiri. Bahkan jika mereka dalam
menghadapi suatu oeristiwa atau terjadi persengketaan, mereka langsung mengembalikan
persoalan itu kepada Rasulullah dan beliaulah yang selanjutnya akan memberikan fatwa kepada
mereka, menyelesaikan sengketa, dan menjawab pertanyaan dari masalah yang mereka tanyakan.
Berbicara mengenai tasri’ pada masa Nabi, masa ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Referensi utama untuk mengetahui hukum-hukum syara’ saat itu hanya Rasulullah sendiri,
sebab Allah telah memilihnya untuk menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia (QS.
Al-Maidah (5): 67)
b. Syariat islam telah sempurna hukumnya dan telahdikukuhkan kaidah dan dasarnya (QS.
Al-Maidah (5): 3)
c. Kitabullah dan sunnah Rasul memuat beberapa kaidah dan dasar yang kokoh serta membuka
pintu ijtihad.
Dengan dua pusaka inilah (alquran dan alhadis) peraturan dan perundang-undangan islam
telah dtentukan. Atas dasar ini, perundang undangan pada masa Rasulullah mengalami dua
periode istimewa, yaitu periode legislasi hukum syariat di mekkah yang dinamakan perundang-
undangan era Mekkah (at-tasyri’al-makki) dan periode legislasi hukum syariat di Madinah
setelah hijrah yang kemudian disebut perundang-undangan era Madinah (at-tasyri’ al-madani).
Mengingat masing-masing era memiliki keistimewaan sendiri dalam tata cara regulasi dan
perundang-undangan dan cara penyelesaiannya, maka perlu kiranya menjelaskan satu per satu
sebagai berikut.
a. Tasyri’ pada Periode Mekkah

Periode ini terhitung sejak diangkatnya baginda Rasulullah sebagai Rasul sampai beliau hijrah ke
Madinah. Periode ini berlangsung selama tiga belas tahun.

Perundang-undangan hukum Islam pada periode ini lebih fokus pada upaya mempersiapkan
masyarakay agar menerima hukum-hukum agama, membersihkan akidah dari menyembah
berhala kepada menyembah Allah, selain menanamkan akhlak-akhlak mulia agar memudahkan
jiwa untuk dapat menerima segala bentuk pelaksanaan syariat.

Oleh sebab itu, wahyu pada periode ini turun untuk memberikan petunjuk dan arahan kepada
manusia kepada dua perkara utama:

1. Mengokohkan akidah yang benar dalam jiwa atas dasar iman kepada Allah dan bukan
untuk atas dasar iman kepada Allah dan bukan kepada yang lain, beriman kepada malaikat,
kitab-kitab, rasul, dan hari akhir. Semua ini bersumber dari Alquran yang kemudian dijelaskan
dalam beberapa ayat.

2. Membentuk akhlak agar manusia memiliki sifat yang mulia dan menjauhkan sifat-sifat tercela.
Alquran memerintahkan mereka agar berkata jujur, amanah, menepati janji, adil, saling tolong-
menilong atas dasar kebajikan, memuliakan tetangga, mengasihi fakir miskin, menolong yang
lemah dan orang yang terdzalimi. Selain itu Alquran juga melarang merekadari aklhlak tercela
seprti berdusta, menipu, curang dalam timbangan, mengingkari janji atau tidak amanah, berbuat
dzalim dan aniaya serta perilaku lain yang dianggap melampaui batas dan menyimpang dari adat
kebiasaan.

b. Tasyri’ pada Periode Madinah

Periode ini berlangsung sejak hijrah Rasulullah dari Mekah hingga beliau wafat. Perioe ini
berjalan selama sepuluh tahun.

Perundang-undangan hukum islam pada periode ini menitikberatkan pada aspek hukum-hukum
pratikal dan dakwah islamiyah pada fase ini membahas tentang akidah dan akhlak. Oleh sebab
itu, perlu adanya perundang-undangan yang mengatur tentang kondisi masyarakat dari setiap
aspek, satu persatu ia turun sebagai jawaban terhadap semua permasalahan, kesempatan, dan
perkembangan.

Sebelum zaman ini mencapai tahap kesempurnaannya, ia telah mencakupi semua


dimensi perbuatan dan semua permaslahan yang terjadi. Tidak ada satu aspek pun kecuali sudah
diatur dan dijelaskan hukumnya, baik secara global maupun terperinci dan inilah yang
ditegaskan oleh Alquran dalam firman Allah Swt:

Artinya:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu
nikmat-Ku dan telah Ku-Ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. (QS. Al.Maidah (5):3)
Secara umum hukum baik yang berupa perintah atau larangan kepda mukallaf turun pada fase ini
kecuali hanya sedikit, seperti hukum shalat yang diturunkan pada malam Isra’ dan Mi’raj satu
tahun sebelum baginda berhijrah ke Madinah, selain yang ini berupa ibadah, muamalah, jinayah,
hudud, warisan, wasiat, pernikahan, dan talak semuanya turun pada fase ini.[2]

B. Sumber Tasyri’ pada Masa Kerasulan


a. Al Kitab atau Al Quran adalah suatu kitab yang sudah dikenal, diturunkan kepada Nabi
Muhammad. Dengan berangsur-angsur sejak malam tanggal 17 Ramadhan tahun 41 kelahiran
beliau. Beliau diberi wahyu ketika beliau sedang bertahannuts (menyendiri, menyepi ke suatu
tempat yang sunyi, bertapa atau menjauhkan diri dari keramaian). Sampai tanggal 9 dzulhijjah
dan tahun ke 63 dari kelahiran beliau.
Masa antara mulai diturunkan Alquran dan yang terakhir (penutupnya) adalah 22 tahun 2 bulan
dan 22 hari. Malam diturunkannya Alquran adalah malam Lailatul Qadr.itulah bulan yang mana
Muhammad selalu ber’tikaf dan berpuasa di gua Hira. surat-surat Alquran adalah 114 surat, surat
pertama adalah Al-Fatihah dan surat yang terakhir adalah An-Nas.
Allah menurunkan Alquran berangsur-angsur dengan beberapa alasan, antara lain sebagai
berikut:
1. Mengokohkan hati Rasulullah khususnya, apalagi baginda merasa takut pertama kali bertemu
dengan jibril, setelah itu wahyu teputus beberapa waktusehingga baginda merasa tenag dan ada
rasa rindu dengan wahyu. Dalam hal ini Allah berfirman: Agar Kami mengokohkan hatimu.
2. Memudahkan bagi Nabi untuk menghafalnya sebab Baginda adalah orang yang ummiy (tidak
bisa membaca dan menulis), berbeda dengan Nabi Musa yang dapat membaca dan menulis
sehingga mudah baginya untuk menghafal Taurat, Allah Berfirman:
Janganlah engkau gerakkan lisanmu agar engakau cepat (menghafalnya ), sesungguhnya
Kamilah yang mengumpulkan dan membacanya dan jika Kami sudah membacakannya maka
itkutilah bacaannya, dan Kamilah yang akan menjelaskannya.
3. Mempermudah proses regulasi perundang-undangan sesuai dengan jumlah syariat yang turun
sebab sebagian keadaan Alquran turun sebagai jawaban atas pertanyaamn yang di ajukan,
kejadian yang muncul, atau adanya masalah fatwa. Turunnya ayat-ayat itu sebagai jawaban
terhadap maslah yang dihadapu oleh manusia atau masyarakat. Selain itu, terkadang pertanyaan
kaum musyrik seakan membuat sebuah tantangan, pengingkaran dan menyulut api syubhat, dan
semua pertanyan ini akhirnya dapat dijawab dengan jawaban yang tegas dan jelas.
4. Merealisasikan tujuan dari nasakh, yaitu bertahap dalam pensyariatan, sebab bagian dari
substansi perundang-undangan adalah menetapkan hukum pertama kali lalu mengahpusnya
setelah itu dengan hukum yang lain setelah berjalan beberapa waktu agar manusia dapat
melaksanakannya secara bertahap sesuai dengan kemaslahatan mereka.
5. Memberi kemudahan dan empati kepada hamba dengan menurunkan wahyu secara berangsur-
angsur, mudah untuk diamalkan dan ini tidak mungkin terjadi jika Alquran turun sekaligus,
susah untuk diamalkan terutama mereka yang baru masuk islam karenasebelumnya mereka
hidup di alam serba boleh sebelum diutussnya baginda Raulullah. Hal ini di kuatkan dengan
hadis yang diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “ wahyu yang pertama turun kepada baginda
dari surat Al-Mufalshal adalah ayat yang menyebutkan surga dan neraka sehingga ketika
manusia sudah kembali kepada islam maka turunlah ayat hala dan haram, seandainya ayat yang
pertama turun jangan kamu minum arak niscaya mereka mengatakan kami tidak akan
meninggalkan arak selamanya, seandainya ayat yang turun mengatakan kamu berzina, pastilah
mereka mengatakan kami tidak akab meninggalkan zina selamanya.”

b. As Sunnah , kami maksudkan dengan sunnah Raulullah adalah kumpulan perkataan, perbuatan
atau ketetapan yang keluar dari beliau.Rasulullah selalu menjelaskan apa yang dikehendaki oleh
Alquran, kadang-kadang dengan perkataan saja, kadang-kadang dengan perbuatan saja, kadang-
kadang dengan keduanya bersama-sama.
As Sunnah menempati urutan kedua setelah Alquran karena ia menjadi penguat, penjelas,
penafsiran, penambahan terhadap hukum-hukum yang ada dalam Alquran. Karena rasulullah
sebagai pengatur segala urusan kaum muslimin selain sebagai seorang Nabi yang mendapatkan
perintah untuk menyampaikan syariat Allah kepada seluruh manusia, maka baginda juga
mendapat mandat untuk menjelaskan syariat secara umum yang akan mengatur kehidupan umat
pada setiap waktu dan tempat.
As Sunnah juga datang sebagai penegas terhadap hukum yang ada dalam Alquran seperti
haramnya mencuri, riba dan memakan harta orang lain dengan cara batil.[3]

C. Metode Pensyariatan pada Masa Rasul


Nabi Muhammad menyampaikan syariat (perundang-undangan) pada fase ini melalui
beberapa cara, di antaranya:
1. Memberikan ketentuan hukum terhadap permasalahan atau kejadian yang muncul atau
ditanyakan oleh para sahabat, lalu baginda memberi jawaban terkadang dengan satu ayat atau
beberapa ayatdari Alquran yang memang turun sebagai jawabannya, dan tidak ada ayat yang
lebih jelas dari turunnya beberapa ayat yang menjelaskan tentang jawaban dari pertanyaan yang
diajukan kepada baginda.
2. Terkadang Rasulullah memberi jawaban dengan ucapan dan perbuatannya, sebagaimna sabda
Rasulullah kepada sebagian sahabat ketika ada yang bertanya, “ kami menyebrangi lautan
apakah boleh kami berwudhu dengan air laut? “ Baginda Rasulullah menjawab, “ Ia suci airnya
dan halal bangkainya.”

D. Ijtihad Nabi
Yang dimaksudkan dengan ijtihad Nabi adalah mengeluarkan hukum syariat yang tidak ada
ada nashnya. Ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya Rasullah berijtihad ke dalam
dua kelompok besar:
Pertama, kalangan Asy’ariyah dari ahli sunnah dan mayoritas Mu’tazilah. Mereka berpegang
teguh teguh bahwa Nabi tidak boleh berijtihad sendiri.di antara dalil yang mereka gunakan
adalah firman Allah surat An Najm 9 (53): 3-4.
Ayat ini menafikan bahwa baginda Rasulullah menetapkan sebuah hukum bedasarkan
pendapat pribadi yang tidak ada wahyu tentang itu karena setiap permasalahan yang muncul,
baginda selalu berharap ada wahyu yang turun menjelaskan hukumnya dan ketika wahyu turun
maka itu pasti benar tidak ada salah, dan jika baginda berijtihad dengan pendapatnya sendiri
maka ijtihadnya itu ada kemungkinan benar atau salah, dan jika ia memang benar atau lebih
dekat kepada kebenaran maka tidak bolehditinggalkan lalu mengamalkan yang masih belum
pasti selama yang pertama masih bisa diamalkan.
Dalil ini disanggah karena hujjag (alasan) yang disebutkan tidak dapar diterima. Sebab kata
ganti “huwa” dalam ayat “in huwa illa wahyun yuha”(ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu
yang diwahyukan) kembali kepada Alquran, karena ayat ini turun sebagai jawaban terhadap
ucapan orang kafir yang mengatakan bahwa Alquran adalah rekayasa Muhammad. Ayat ini turun
dengan sebab khusus, sehingga makna yang sesuai adalah bahwa ayat yang dibaca oleh
muhammad bukan keluar dari hawa nafsu melainkan wahyu dari Allah. Oleh karena itu, ayat
tersebut hanya khusus untuk kasus Alquran, dan tidak dapat degeralisie pada keseluruhan ucapan
Nabi.
Seandainya kita sepakat ada makna umum maka, maka ijtihadnya Nabi tidak sama dengan
ijtihadnya orang lain karena ia juga akan berakhir dengan wahyu dari Allah karena jika baginda
tepat dalam ijtihadnya, pastilah wahyu akan mengakuinya dan ika ia salah maka wahyu akan
selalu mengarahkannya.
Kedua, mayoritas ulama ushul mengatakan boleh bagi Rasulullah untuk berijtihad dalam setiap
urusan, baginda boleh berijtihad dalam semua perkara yang tidak ada nashnya, dalil berkata:
Nabi Muhammad diperintahkan untuk berijtihad dengan keumuman firman Allah: “ Maka
carilah pelajaran wahai orang-orang yang berakal”. Artinya bandingkan antara kejadian yang
tidak ada hukumnya dengan kejadian yang sudah ada hukumnya, jika kemiripan antara kedua
dalam illat dan ini adalah salah satu bentuk ijtihad.
Nabi muhammad sangat mengetahui illat-illat (sebab) setiap nash dan hikmah dari pensyariatan,
dan setiap orang yang mengetahui hal ini seharusnya menerapkan untuk masalah untuk masalah
furu’ yang ada kemiripan alasan, dan pekerjaan ini adalah menetapkan hukum pada masalah
dasar untuk masalah cabang dan inilah yang dinamakan qiyas dan ini juga adalah ijtihad dan
dengan begitu maka boleh baginda Rasulullag untuk berijtihad.
Fakta juga membuktikan bahwa Rasulullah pernah melakukan ijtihad dalam banyak kejadian,
diantaranya bahwa ada seorang lelaki dari kabilah ju’tsum datang kepada baginda dan berkata, “
Ayah saya masuk islam, namun ia sudah sangat tua, tidak bisa menaiki kendaraan dan
melaksanakan haji yang diwajibkan kepaadanya, apakah saya boleg menghajikannya?” Baginda
menjawab, “ Apakah kamu anaknya yang paling besar?” Ia menjawab, “ Ya.” Baginda
menjawab. “ Apakah yang akan kamu lakukan juka ayahmu ada utang, lalu kamu membayarnya
apakah itu boleh?” Ia menjawab. “ Tentu. “ Nabi bersabda,” Hajikan ayahmu.” Rasululah disini
juga mengqiyaskan haju dengan utang untuk diwakilkan dalam pelaksanannya.
Contoh ijtihad Rasulullah anatara lain ketika beliau memberikan izin kepada orang-orang
munafik yang meminta izin untuk tidak turut perang tabuk, maka turunlah surat At Taubah (9):
43.
Artinya: semoga Allah memaafkanmu, mengapa kamu memberi izin kepada mereka, sebelum
jelas bagimu orang-orang yang benar dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?
Dari sinilah jelaslah bahwa ijtihadnya Nabi memang telah terjadi dalam perkara yang tidak ada
nashnya, dan semua ijtihad ini dikelilingi oleh wahyu dari segala sisi, jika baginda salah dalam
salah satu ijtihadnya mka wahyu tidak akan membiarkannya begitu saja tetapi akan
meluruskannya sebab semua yang dibawa Rasulullah adalah syariat bagi umatnya, maka perlu
ada peringatan dari wahyu terhadap kesalahan tersebut dan menjelaskan yang benar agar menjadi
sebuah syariat yang bisa mereka amalkan.

E. Hikmah dari Ijtihad Nabi


Lahirnya ijtihad Nabi dilatarbelakangi sebuah hukum yang mulia dan tujuan yang mulia yang
dapat diringkas sebagai berikut:
1. Syariat islam adalah penutup semua syariat langit, tidak ada lagi syariat setelah itu, tidak ada
kitab suci, ataupun wahyu, setiap kaidahnya menjelaskan terperinci atau bagian kecilnya, nash-
nash yang terbatas sedangkan kejadian terus bertambah jadi perlu ijtihad dari Nabi.
2. Mengajarkan manusia cara mengeluarkan hukum, atau cara mengambil hukum dari dalil-dalil
yang ada sehingga dapat memotivasi mereka untuk melaksanakan ijtihad dan fatwa-fatwa agar
mereka tidak takut terjatuh dalam kesalahan sehingga meninggalkan ijtihad dan merasa takut
padahal, padahal Rasulullah sudah mengizinkan seorang sahabat untuk berijtihad dihadapan
Rasulullah dan ketika ia takut salah maka Rasulullah bersabda, jika engkau benar maka engkau
mendapat dua pahala dan jika engkau salah maka engkau mendapat dua pahala, jelas kejadian ini
membuka cakrawala berpikir para ilmuwan islam untuk tidak takut berijtihad..
3. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ijtihad pada zaman pembentukamn dan
pertumbuhan tidak hanya sesuai dengan keinginan Rasulullah, tetapi mencakup para sahabat,
Rasulullah telah memberi izin kepada mereka untuk berijtihad ketika Rasulullah ada di tempat
atau bepergian, rasulullah mengakuinijtihad mereka jika benar dan mencelanya jika memang
salah.

F. Karakteristik perundang-undangan pada Masa Kerasulan


Dari paparan yang sudah dibahas sebelumya trntang dinamika perundang-undangan islam
pada masa ini maka nisa disebutkan beberapa karakteristik pada masa kerasulan, yaitu sebagai
berikut:
a. Sumber perundang-undangan pada masa ini hanya berasal dari wahyu dengan dua bagiannya
baik yang terbaca, yaitu Alquran atau yang tidak terbaca yaitu Assunnah.
b. Referensi utama untuk mengetahui hukum-hukum syara’ pada zaman Rasulullah sendiri, sebab
Allah telah memilihnya untuk menyampaikan risalah
c. Perundang-undangan islam pada masa ini telaah sempurna hukumnya, telah dikukuhkan kaidah
dan dasarnya.
d. Kesempurnaan syariat dapat dapat dilihat dari aspek yang unik dan metode yang khusus ,
dimana kitab Allah dan sunnah Rasulullah memuat kaidag dan dasar-dasar yang kokoh dan
membuka pintu ijtihad kepada para ulama untuk mengeksplorasikan kembali serta memuat
produk perundang-undangan yang elastik dan sesuai dengan kondisi zaman.
e. Pada masa Raulullah jika ada yang bertanya tentang suatu hukum maka Rasulullah kan langsung
menjawabny, dan ketika Rasulullah sedang tidak ada maka para sahabat akan berijtihad sendiri
kemudian keputusannya kembali kepada Rasulullah untuk ditetapkan atau dibatalkan.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Masa tasyri’ pada masa Rasulullah dimulai ketika Allah mengutus Nabi Muhammad
membawa wahyu berupa Alquran saat beliau digua hira pada hari jumat 17 ramadhan tahun 13
sebelum hijrah (661).
Tasyri’ pada masa nabi disebut masa pembentukan tasyri’ karena pada masa inilah
terbentuknya hukum islam.selanjutnya, beliau hijrah ke madinah dan ayat-ayat ahkam turun
beserta hadis-hadisyang berkenaan dengannya.
Bedasarkan periode turunnya , ayat-ayat Alquran dibedakan menjadi dua macam:
1. Periode mekkah, yaitu sebelum Rasulullah hijrah kemadinah. Ayat-ayat yang turun dimekkah
adalah masalah akidah untuk meluruskan keyakinan umat dimasa jahiliyah dan menanamkan
ajaran tauhid.
2. Periode madinah, yaitu setelah rasulullah hijrah kemadinah. Ayat-ayat yang diturunkan dikota
ini adalah masalah hukum dan berbagai aspeknya.
Masa Rasulullah terdapat 4 dasar pembentukan hukum islam yaitu:
a. Berangsur-angsur dalam penetapan hukum.
b. Mengefisienkan pembuatan undang-undang.
c. Memberikan kemudahan dan keringan


Makalah Tasawuf
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang masalah
Al-Qur`an dan hadis bukanlah sebuah aturan-aturan kaku yang membatasi ruang gerak manusia. Al-
Qur`an dan hadis adalah panduan hidup yang menggiring manusia menuju ketentraman, kedamaian
dan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sempurna adalah kebahagiaan yang meliputi dua dimensi, yaitu
dimensi dunia dan dimensi akhirat. Kebahagiaan di dunia dapat dirasakan dengan jiwa yang tentram.
Kebahagiaan akhirat adalah kebahagiaan bertemu dan berkomunikasi dengan Allah.
Tasawuf dalam dunia Islam baru akhir-akhir ini dipelajari sebagai ilmu, sebelumnya dipelajari sebagai
jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia pada dasarnya adalah suci, maka kegiatan
yang dilakukan oleh sebagian manusia untuk mensucikan diri merupakan naluri manusia. Usaha yang
mengarah kepada pensucian jiwa terdapat di dalam kehidupan tasawuf. Tasawuf merupakan suatu
ajaran untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah bahkan kalau bisa menyatu dengan
Allah melalui jalan dan cara, yaitu maqâmât dan ahwâl. Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini saya
akan mencoba memaparkan beberapa persoalan yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu pengertian
tasawuf, sejarah perkembangan tasawuf, dalil Al-Quran dan Hadits tentang perlunya tasawuf, manfaat
tasawuf, serta istilah-istilah dalam tasawuf.

B.Rumusan masalah
1.Apa itu pengertian tasawuf?
2.Bagaimana sejarah perkembangan tasawuf itu?
3.Apa saja dalil Al-Quran dan hadits yang berkenaan tentang perlunya tasawuf?
4.Apa manfaat dari tasawuf itu?
5.Jelaskan istilah-istilah dalam tasawuf: fana, baqa, ittihad dan hulul!

BAB II
PEMBAHASAN
I.Pengertian Tasawuf
Terdapat beragam pendapat mengenai akar kata tasawuf . Ada yang mengatakan bahwa kata
tasawuf berasal dari kata shufah (kain dari bulu), karena kepasrahan seorang sufi kepada Allah ibarat
kain wol yang dibentangkan. Ada yang berpendapat shifah (sifat) sebab, seorang sufi adalah orang
yang menghiasi diri dengan segala sifat terpuji dan meninggalkan setiap sifat tercela.
Pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shuffah (sufah) sebab, seorang sufi
mengikuti ahli sufah dalam sifat yang telah ditetapkan Allah bagi mereka. Al-Qusyari berpendapat
bahwa tasawuf berasal dari shafwah (orang pilihan atau suci). shaf (saf), seolah para sufi berada di
saf pertama dalam menghadapkan diri kepada Allah dan berlomba-lomba untuk melakukan ketaatan.
Sebagian kalangan mengatakan, kata tasawuf dinisbatkan pada kain wol yang kasar (shuf khasyin).
Sebab, para sufi gemar memakainya sebagai simbol zuhud dan kehidupan yang keras.
Jadi Tasawuf adalah usaha untuk membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak dan mencapai maqam
ihsan. Dengan kata lain yaitu usaha menaklukan dimensi jasmani manusia agar tunduk dimensi
rohani.
Tasawuf oleh kaum orientalis disebut dengan sufisme. Sufisme dipakai untuk mistisisme Islam dan
tidak dipakai untuk mistisisme agama-agama lain. Orang yang pertama kali memakai kata sufi adalah
Abu Hasyim al-kufi di Irak (150 H).

II.Sejarah Perkembangan Tasawuf


Fase-fase dalam perkembangan tasawuf:
1.Pada masa awal era Islam dakwah kepada tasawuf itu belum diperlukan, karena pada era itu,
semua orang adalah ahli takwa, waraa dan ahli ibadah. Mereka semua berlomba mengikuti dan
meneladani Rasulullah dalam setiap aspek. Oleh karena itu, mereka belum membutuhkan tasawuf
karena segala sesuatunya didasarkan pada perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah.
2.Pada masa sahabat dan tabi’in sudah menggunakan tasawuf, tetapi belum mengggunakan istilah
tasawuf, karena para sahabat dan tabiin merupakan sufi yang sesungguhnya. Tasawuf merupakan
sifat-sifat umum yang terdapat pada hampir seluruh sahabat Nabi tanpa terkecuali dan adanya
perasaan takut dan cintanya mereka kepada Allah dan Rasulullah melebihi dirinya sendiri.
3.Setelah masa Sahabat dan Tabiin beragam bangsa mulai memeluk Islam. Bidang ilmu pengetahuan
semakin meluas dan terspesialisasi, muncullah ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih,
ilmu faraid dan ilmu-ilmu lainnya.
4.Setelah fase tersebut pengaruh spiritual Islam sedikit demi sedikit melemah. Manusia mulai lupa
akan kewajibannya kepada Allah, sehingga ahli uhud terdorong untuk mengkodifikasikan ilmu tasawuf
serta menerangkan kemuliaan dan keutamaannya diantara ilmu-ilmu lainnya. Mulai dari fase inilah
ilmu tasawuf berkembang.

III.Dalil-Dalil Al-Quran dan Hadits yang Berkenaan tentang Perlunya Tasawuf


Al-Quran
Ayat-ayat Al-Quran yang menjadi sumber ajaran tasawuf dan sebagai pendorong untuk mengikatkan
dan mendekatkan diri kepada Allah, di antaranya adalah sebagai berikut:
ُ‫أ ُ ِجيب‬ َ‫َدع َْوة‬ ِ‫الدَّاع‬ ‫إِذَا‬ ‫ان‬
ِ ‫َد َع‬ ‫َوإِذَا‬ َ‫سأَلَك‬
َ ‫ِعبَادِي‬ ‫َعنِِّي‬ ‫فَإِ ِِّني‬ ‫قَ ِريب‬
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. (Al-Baqarah: 186).
‫َو‬ ِِِ‫لل‬ ُ‫ْال َم ْش ِرق‬ ‫َو‬ ُ‫ْال َم ْغ ِرب‬ ‫فَأ َ ْينَ َما‬ ‫ت ُ َولُّ ْوا‬ ‫فَثَ َّم‬ ُ‫َوجْ ه‬ ِ
‫للا‬ ‫إِ َّن‬ َ‫للا‬ ‫َواسِع‬ ‫َع ِليْم‬
Artinya: Dan kepunyaan Allah lah Timur dan Barat; maka ke mana pun kamu menghadap, di-sanapun
ada wajah Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 115).
‫يَا‬ ‫أَيُّ َها‬ َ‫الَّذِين‬ ‫آ َمنُوا‬ ‫َم ْن‬ ‫يَرْ تَ َّد‬ ‫مِ ْن ُك ْم‬ ‫َع ْن‬ ‫دِينِ ِه‬ ‫ف‬ َ َ‫ف‬
َ ‫س ْو‬ ‫يَأْتِي‬ ‫ّللا‬
ُ َّ ‫بِقَ ْوم‬ ‫يُحِ بُّ ُه ْم‬ َ‫َويُحِ بُّون‬
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya. (QS: Al-Maidah Ayat: 54)

Hadits
1. “Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekatinya sehasta, jika dia
mendekat sehasta, maka Aku mendekat sedepa, jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka
Aku datang kepadanya berlari (H.R.Bukhari)”.
2. “Senantiasa hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amal nawafil sehingga Aku mencintainya,
apabila Aku mencintainya jadilah Aku pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya
yang dipergunakan untuk melihat, lidahnya yang digunakan untuk berbicara, tangannya yang
digunakan untuk menggenggam, kakinya yang digunakan untuk berjalan, dengan Aku dia mendengar,
berpikir, menggengam, dan berjalan (H.R. Bukhari)”.
Hadits juga menggambarkan Tuhan itu dekat. Nabi itu sudah dekat dengan Tuhan, dan praktek Sufi
juga tergambar dalam sunah nabi.
Jadi terlepas dari kemungkinan adanya atau tidak adanya pengaruh dari luar, ayat-ayat serta hadits-
hadits di atas dapat membawa kepada timbulnya aliran sufisme atau tasawuf dalam Islam, yaitu
ajaran-ajaran tentang berada sedekat mungkin pada Tuhan.

IV.Manfaat Tasawuf
Tasawuf memiliki banyak manfaat dalam kehidupan, di bawah ini adalah beberapa manfaat tasawuf
yaitu:
1.Dalam bidang kecerdasan emosional
Apabila dapat mengamalkan tasawuf dengan baik maka dapat mengendalikan emosionalnya dengan
baik pula
2.Dalam bidang kecerdasan spiritual
Tasawuf mengingatkan manusia tentang kemaitian, agar umat manusia selalu beribadah, beramal
shaleh, serta menjauhi perbuatan maksiat dan kejahatan.
3.Dalam bidang Agama
Tasawuf diperlukan untuk mengamalkan Islam secara kaffah serta untuk mengembangkan kerukunan
hidup beragama dan integrasi sosial
4.Dalam bidang etos kerja
Tasawuf dapat memperkuat etos kerja karena dalam ajaran Islam bekerja itu wajib untuk memenuhi
keperluan diri sendiri, keluarga dan umat.
5.Dalam bidang Pendidikan
Tasawuf merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu diajarkan di Madrasah dan mata kuliah di
Perguruan Islam untuk mengembangkan kehidupan agama yang komprehensif dan utuh serta untuk
mengembangkan masyarakat dan bangsa yang bersih, sehat dan maju.
6.Dalam bidang Ilmu Pengetahuan
Tasawuf mendidik anggota masyarakat untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan rasional serta
mendidik untuk memiliki tanggung jawab sosial.

V.Istilah-Istilah dalam Tasawuf


1.Fana: hilangnya sifat-sifat buruk (maksiat lahir dan maksiat batin). Bahwa fana itu ialah lenyapnya
segala-galanya.
2.Itihad: satu tingkatan dalam tasawuf dimana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan
Tuhan. Yaitu pertukaran peranan antara yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu atau
tegasnya antara sufi dengan Tuhan.
3.Baqa: kekal, tetap, terus hidup.
4.Hulul: Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah
sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh itu dilenyapkan.
5.Maqamat: Pada Istilah Maqam atau arti jamak adalah maqamat , sebagaimana juga ahwal, yang
dipahami berbeda menurut para sufi. Namun semuanya sepakat dalam memahami maqamat yang
berarti kedudukan seorang pejalan spiritual atau sufi di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja
keras dalam beribadah kepadaNya, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujahadah), serta
latihan-latihan keruhanian budi-pekerti (adab) yang dapat membuatnya memiliki syarat - syarat
dalam melakukan usaha - usaha untuk menjalankan berbagai kewajiban dengan baik dan mendekati
sempurna.
6.Ahwal: hal atau arti jamak adalah ahwal adalah suasana atau keadaan yang menyelimuti kalbu,
yang diciptakan sebagai hak prerogatif pada Allah dalam hati setiap hambanNya, tidak ada sufi yang
mampu merubah keadaan tersebut apabila datang saatnya, atau memperhatikannya apabila pergi.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Tasawuf bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Prinsip-prinsip ajaran Tasawuf telah ada dalam
Islam semenjak Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul, bahkan kehidupan rohani Rasul dan para
sahabat menjadi salah satu panutan di dalam melakukan amalan-malannya. Ini merupakan sangkalan
terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Tasawuf merupakan produk asing yang dianut oleh umat
Islam. Inti dari ajaran tasawuf ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan melalui tahapan-tahapan
(ajaran)Nya yaitu maqamat dan ahwal. Ajaran-ajaran tasawuf ini bersumber dari al-Qur’an, Hadits
dan perbuatan-perbuatan sahabat. Banyak kita temui ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan
ajaran-ajaran tasawuf. Mulai dari ajaran dasar tasawuf, maupun tingkatan tingkatan yang harus
ditempuh oleh seorang sufi yang kita kenal dengan nama maqamat dan ahwal. Tujuan tertinggi dari
seorang sufi adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah atau kalau bisa menunggal dengan Allah.

B.Saran
Agar kita dapat mengetahui dan mengenal Allah lebih dekat lagi, maka sangat diperlukan ilmu yang
mempelajari hal tersebut yang dikenal dengan Tasawuf.
Dosen: semoga makalah ini dapat memenuhi tugas yang telah diberikan kepada saya.
Mahasiswa: Semoga makalah ini dapat membantu dalam memahami permasalah tentang Tasawuf
Masyarakat: semoga dapat menambah dan mempertajam pengertian dan pembahasan Tasawuf di
kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Isa, Syaikh ‘Abdul Qadir. (2011). Hakekat Tasawuf. Jakarta: Qisthi Press, cetakan ke-13.
Nasution, Harun. (1973). Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Rahiem, Husni. (1986). Orientasi Pengembangan Ilmu Agama Islam. Proyek Pembinaan Prasarana dan
Sarana Perguruan Tinggi Agama / IAIN. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama
Islam Departemen Agama RI.
Tebba, Sudirman . (2008). Tasawuf Positif: Manfaat Tasawuf dalam Kehidupan Sehari-hari.
Tangerang: Pustaka irVan.
Zahri, Mustafa. (1976). Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Categories: Makalah agama, Makalah Fakultas Tarbiyah, Makalah Ilmu Tasawuf, Makalah
keagamaan, Makalah Pendidikan, Makalah Syariah


Pengertian Tasawwuf

1. Pengertian Etimologi
Istilah tasawuf, menurut Amin Syukur adalah istilah yang baru di dunia Islam. Istilah tersebut

belum ada pada zaman Rasulullah saw, juga pada zaman para sahabat. Bahkan, tasawuf sendiri

tidak ditemukan dalam dalam al-Qur’an. Tasawuf adalah sebutan untuk mistisisme Islam. Dalam

pandangan etimologi kata sufi mempunyai pengertian yang berbeda. Menurut Haidar Bagir,

kata sufi berasal bahasa Arab yang merujuk pada beberapa kata dasar. Di antaranya adalah:

1. Kata shaff (baris, dalam shalat), karena dianggap kaum sufi berada dalam shaff pertama.

2. Kata Shuf, yakni bahan wol atau bulu domba kasar yang biasa mencirikan pakaian kaum sufi.

3. Kata Ahlu as-Shuffah, yakni parazahid (pezuhud), dan abid (ahli ibadah) yang tak punya

rumah dan tinggal di serambi masjid Nabi, seperti Abu Hurairah, Abu Dzar al-Ghifary, Imran

ibn Husein, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah ibn Mas’ud, Abdullah ibn Abbas, dan Hudzifah

bin Yaman. 4. Ada juga yang mengaitkannya dengan nama sebuah suku Badui yang memiliki

gaya hidup sederhana, yakni Bani Shufah. Dan yang paling tepat pengertian tasawuf berasal dari

kata suf (bulu domba), baik dilihat dari konteks kebahasaan, sikap sederhana para sufi maupun

aspek kesejarahan.

2. Pengertian Terminologi
a. Imam Junaid dari Baghdad (w. 910) mendefinisikan tasawuf sebagai mengambil setiap sifat

mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah. Atau keluar dari budi perangai yang tercela dan

masuk kepada budi perangai yang terpuji.

b. Syekh Abul Hasan Asy Syadzili (w.1258), syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan

tasawuf sebagai praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk

mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.

c. Ibn Khaldun mendifinisaikan tasawuf adalah semacam ilmu syar’iyah yang timbul kemudian

dalam agama. Asalnya ialah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain

Allah, hanya menghadap kepada Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci

perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan.

Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah”.

d. Ibnu Maskawayh mengatakan akhlak ialah suatu keadaan bagi diri atau jiwa yang mendorong

(diri atau jiwa itu) untuk melakukan perbuatan dengan senang tanpa didahului oleh daya

pemikiran kerana sudah menjadi kebiasaan.


e. Harun Nasution dalam bukunya falsafat dan Mistisme dalam islam menjelaskan bahwa, tasawuf

merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam

bisa sedekat mungkin dengan tuhan.

f. Amin syukur mendefinisikan tasawuf sebagai sistem latihan dengan kesungguhan (riyadhah

mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi dan memeperdalam aspek kerohanian dalam

rangka mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) sehingga segala perhatian hanya tertuju kepada

Nya.

Jafi, tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan

akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Dari definisi

tentang tasawuf di atas diperhatikan dan dipahami secara utuh, maka akan tampak selain

berorientasi spiritual, tasawuf juga berorientasi moral. Dan dapat disimpulkan bahwa basis

tasawuf ialah penyucian hati dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirnya

ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Allah.

Dengan demikian, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan hati dan

menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang

benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad SAW SAW.

B. Dasar-dasar Tasawwuf

Diantara ayat-ayat Al Qur’an yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi

jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepadan Allah dan hanya

berharap kepada-Nya dan berusaha mensucikan jiwa (QS. As Sajadah [32]: 16, QS. Asy Syams

[91]: 7-10), ayat yang berkenaan dengan kewajiban seorang mu’min untuk senantiasa

bertawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah swt semata serta mencukupkan bagi dirinya

cukup Allah sebagai tempat menggantungkan segala urusan. (QS. At Thalaq [65]: 2-3). ayat

yang berkenaan dengan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia (QS. Asy Syuraa [42]: 20)

dan ayat-ayat yang mememerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk

akhirat

Ç`tã öNßgç/qãZã_ 4’nû$yftFs?


öNåk®5u‘ tbqããô‰tƒ ÆìÅ_$ŸÒyJø9$#
$£JÏBur $YèyJsÛur $]ùöqyz
ÇÊÏÈ tbqà)ÏÿZムöNßg»uZø%y—u‘
“lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan

penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS.

As Sajadah [32]: 16)

ÇÐÈ $yg1§qy™ $tBur <§øÿtRur


ÇÑÈ $yg1uqø)s?ur $ydu‘qègéú $ygyJolù;r'sù
$yg8©.y— `tB yxn=øùr& ô‰s%
ÇÊÉÈ $yg9¢™yŠ `tB z>%s{ ô‰s%ur ÇÒÈ
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu

(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan

jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(QS. Asy Syams [91]: 7-

10)

ÏQöqu‹ø9$#ur «!$$Î/ ÚÆÏB÷sムtb%x. `tB


È,- `tBur 4 Ì•ÅzFy$#
ÇËÈ %[`t•øƒxC ¼ã&©! @yèøgs† ©!$# Gtƒ
çmø%ã—
`tBur 4 Ü=Å¡tFøts† Ÿw ß]ø‹ym ô`ÏB ö•tƒur
4 ÿ¼çmç7ó¡ym uqßgsù «!$# ’n?tã ö@©.uqtGtƒ
ô‰s% 4 ¾ÍnÌ•øBr& à÷Î=»t/ ©!$# ¨bÎ)
#Y‘ô‰s% &äóÓx« Èe@ä3Ï9 ª!$# Ÿ@yèy_
2. apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau

lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di

antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi

pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa

bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. 3. dan memberinya

rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada

Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan

urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap

sesuatu.

Íot•ÅzFy$# y^ö•ym ߉ƒÌ•ãƒ šc%x. `tB


šc%x. `tBur ( ¾ÏmÏOö•ym ’Îû ¼çms9 ÷ŠÌ“tR
¾ÏmÏ?÷sçR $u‹÷R‘‰9$# y^ö•ym ߉ƒÌ•ãƒ
`ÏB Íot•ÅzFy$# ’Îû ¼çms9 $tBur $pk÷]ÏB
ÇËÉÈ A=ŠÅÁ¯R
“ barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu

baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya

sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS.

Asy Syuraa [42]: 20)

äo4qu‹ysø9$# $yJ¯Rr& (#þqßJn=ôã$#


×puZƒÎ— ×qølm;ur Ò=Ïès9 $u‹÷R‘‰9$#
Ö•èO%s3s?ur öNä3oY÷•t/ 7•äz$xÿs?ur ur
È@sVyJx. ( ω»s9÷rF{$#ur ÉAºuqøBF{$# ’Îû
¼çmè?$t7tR u‘$¤ÿä3ø9$# |=yfôãr& B]ø‹xî
§NèO #v•xÿóÁãB çm1uŽtIsù ßk‹Íku‰ §NèO
Íot•ÅzFy$# ’Îûur ( $VJ»sÜãm ãbqä3tƒ
«!$# z`ÏiB ×ot•ÏÿøótBur Ó‰ƒÏ‰x© Ò>#x‹tã
äo4qu‹ysø9$# $tBur 4 ×bºuqôÊÍ‘ur
ÇËÉÈ Í‘rã•äóø9$# ßì»tFtB žwÎ) !$u‹÷R‘$!$#
“ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang

melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang

banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani;

kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi

hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-

Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid

[57]: 20)

C. Pandangan tentang Asal Usul Tasawwuf

1. Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen

(yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia

Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah

asketis-mistis dalam ajaran Islam

2. Sufisme yaitu ajaran mistik yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan

India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali

(als idealish verschijnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk

kembali bersatu dengan Dia.

3. Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara

orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru

yang bersumber dari agama-agama non-Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya

paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur Ajaran

Islam, dengan kata lain dalam Agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit

jumah orang Islam yang menganutnya.

4. Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian

yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan Sufi. Soal hakikat Tasawuf,

ia itu bukanlah ajaran Rasulullah dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib ra.

Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode
pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau

pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda

dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini

di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad SAW, dan juga dalam sejarah para

shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini.

Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari

kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha"

D. Sejarah Perkembangan Tasawuf

1. Abad I dan II Hijriyah

Fase abad pertama dan kedua Hijriyah belum bisa sepenuhnya disebut sebagai fase tasawuf tapi

lebih tepat disebut sebagai fase kezuhudan. Tasawuf pada fase ini lebih bersifat amaliah dari

pada bersifat pemikiran. Bentuk amaliah itu seperti memperbanyak ibadah, menyedikitkan

makan minum, menyedikitkan tidur dan lain sebagainya.

Kesederhanaan kehidupan Nabi diklaim sebagai panutan jalan para zahid. Banyak ucapan dan

tindakan Nabi s..a.w. yang mencerminkan kehidupan zuhud dan kesederhanaan baik dari segi

pakaian maupun makanan, meskipun sebenarnya makanan yang enak dan pakaian yang bagus

dapat dipenuhi. Pada masa ini, terdapat fenomena kehidupan spiritual yang cukup menonjol yang

dilakukan oleh sekelompok sahabat Rasul s.a.w yang di sebut dengan ahl al- Shuffah.

Kelompok ini dikemudian hari dijadikan sebagai tipe dan panutan para shufi. Dengan anggapan

mereka adalah para sahabat Rasul s.a.w. dan kehidupan mereka adalah corak Islam. Di antara

mereka adalah Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Fartsi, Abu Hurairah, Muadz Ibn Jabal, Abd

Allah Ibn Mas’ud, Abd Allah ibn umar, Khudzaifah ibn al-Yaman, Anas ibn Malik, Bilal ibn

Rabah, Ammar ibn Yasar, Shuhaib al-Rumy, Ibn Ummu Maktum dan Khibab ibn al-Arut.

2. Fase Abad III dan IV Hijriyah

Abad ketiga dan keempat disebut sebagai fase tasawuf. pada permulaan abad ketiga hijriyah

mendapat sebutan shufi. Hal itu dikarenakan tujuan utama kegiatan ruhani mereka tidak semata-

mata kebahagian akhirat yang ditandai dengan pencapaian pahala dan penghindaran siksa, akan

tetapi untuk menikmati hubungan langsung dengan Tuhan yang didasari dengan cinta. Cinta

Tuhan membawa konsekuensi pada kondisi tenggelam dan mabuk kedalam yang dicintai ( fana
fi al-mahbub ). Kondisi ini tentu akan mendorong ke persatuan dengan yang dicintai ( al-

ittihad ). Di sini telah terjadi perbedaan tujuan ibadah orang-orang syariat dan ahli hakikat.

Pada fase ini muncul istilah fana`, ittihad dan hulul. Fana adalah suatu kondisi dimana seorang

shufi kehilangan kesadaran terhadap hal-hal fisik ( al-hissiyat). Ittihad adalah kondisi dimana

seorang shufi merasa bersatu dengan Allah sehingga masing-masing bisa memanggil dengan

kata aku ( ana ). Hulul adalah masuknya Allah kedalam tubuh manusia yang dipilih.

Di antara tokoh pada fase ini adalah Abu yazid al-Busthami (w.263 H.) dengan

konsep ittihadnya, Abu al-Mughits al-Husain Abu Manshur al-Hallaj ( 244 – 309 H. ) yang lebih

dikenal dengan al-Hallaj dengan ajaran hululnya.

3. Fase Abad V Hihriyah

Fase ini disebut sebagai fase konsolidasi yakni memperkuat tasawuf dengan dasarnya yang asli

yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau yang sering disebut dengan tasawuf sunny yakni tasawuf yang

sesuai dengan tradisi (sunnah) Nabi dan para sahabatnya. Fase ini sebenarnya merupakan reaksi

terhadap fase sebelumnya dimana tasawuf sudah mulai melenceng dari koridor syariah atau

tradisi (sunnah) Nabi dan sahabatnya.

Tokoh tasawuf pada fase ini adalah Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H) atau yang lebih dikenal

dengan al-Ghzali. Tokoh lainnya adalah Abu al-Qasim Abd al-Karim bin Hawazin Bin Abd al-

Malik Bin Thalhah al-Qusyairi atau yang lebih dikenal dengan al-Qusyairi ( 471 H.), al-

Qusyairi menulis al-Risalah al-Qusyairiyah terdiri dari dua jilid.

4. Fase Abad VI Hijriyah

Fase ini ditandai dengan munculnya tasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa

(dzauq) dan rasio (akal), tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani.

Pengalaman-pengalaman yang diklaim sebagai persatuan antara Tuhan dan hamba kemudian

diteorisasikan dalam bentuk pemikiran seperti konsep wahdah al-wujud yakni bahwa wujud yang

sebenarnya adalah Allah sedangkan selain Allah hanya gambar yang bisa hilang dan sekedar

sangkaan dan khayali.

Tokoh-tokoh pada fase ini adalah Muhyiddin Ibn Arabi atau yang lebih dikenal dengan Ibnu

Arabi (560 -638 H.) dengan konsep wahdah al-Wujudnya. Ibnu Arabi yang dilahirkan pada

tahun 560 H. dikenal dengan sebutan as-Syaikh al-Akbar (Syekh Besar). Tokoh lain adalah al-

Syuhrawardi (549-587 H.) dengan konsep Isyraqiyahnya. Ia dihukum bunuh dengan tuduhan

telah melakukan kekufuran dan kezindikan pada masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayubi.
Diantara kitabnya adalah Hikmat al-Israq. Tokoh berikutnya adalah Ibnu Sab’in (667 H.) dan

Ibn al-Faridl (632 H.)

E. Pembagian Ilmu Tasawuf

1. Tasawuf Ahlaki

Tasawuf akhlaki adalah tasawuf yang sangat menekankan nilai-nilai etis (moral) atau taswuf

yang berkonsentrasi pada perbaikan akhlak. Ajaran tasawuf akhlaki membahas tentang

kesempurnaan dan kesucian jiwa yang di formulasikan pada pengaturan sikap mental dan

pendisiplinan tingkah laku yang ketat, guna mencapai kebahagiaan yang optimal. Dengan

metode-metode tertentu yang telah dirumuskan,tasawuf bentuk ini berkonsentrasi pada upaya-

upaya menghindarkan diri dari akhlak yang tercela (Mazmumah) sekaligus mewujudkan akhlak

yang terpuji (Mahmudah) didalam diri para sufi.

Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadi baik dan potensi untuk menjadi buruk. Potensi

untuk menjadi baik adalah al-‘Aql dan al-Qalb. Sementara potensi untuk menjadi buruk

adalah an-Nafs. (nafsu) yang dibantu oleh syaithan. Sebagaimana digambarkan dalam QS. As-

Syams : 7-8 sebagai berikut :

$ygyJolù;r'sù ÇÐÈ $yg1§qy™ $tBur <§øÿtRur


ÇÑÈ $yg1uqø)s?ur $ydu‘qègéú
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu

(jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:

a. Takhalli

Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak

tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang

berlebihan kepada urusan duniawi.

b. Tahalli

Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap,

perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa

dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal

(luar) seperti sholat, puasa, haji, maupun internal (dalam) seperti keimanan, ketaatan dan

kecintaan kepada Allah.

c. Tajalli
Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa yang telah

membiasakan melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur, maka rasa ketuhanan perlu dihayati

lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang

mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya.

Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain : Hasan al-Basri (21 H – 110 H), al-

Muhasibi (165 H – 243 H), al-Qusyairi (376 H – 465 H), Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul

Qadir al-Jilani (470 – 561 H), Hujjatul Islam Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H), Ibnu

Atoilah as-Sakandari dan lain-lain.

2. Tasawuf Amali

Tasawuf amali adalah tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan beribadah, tujuannya agar

diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah. Keseluruhan rangkaian amalan

lahiriah dan latihan olah batiniah dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu

dengan melakukan macam-macam amalan yang terbaik serta cara-cara beramal yang paling

sempurna. Tasawuf Amali berkonotasi dengan tarekat. Tokoh tasawuf ini antara lain, Rabiah Al

Adawiyah dan Dzun Nun Al Misri.

Pengalaman tasawuf amali dibagi kedalam empat bidang sebagai berikut:

a. Syari’at

Syari’at adalah hukum-hukum formal yang dijadikan sandaran amalan lahir yang ditetapkan

dalam ajaran agama melalui Alqur’an dan Sunnah. Sehingga seorang pengamal sufi tidak

mungkin memperoleh ilmu batin tanpa mengamalkan secara sempurna amalan lahiriahnya.

b. Thariqot

Kalangan sufi mengartikan thariqat sebagai seperangkat serial moral yang menjadi pegangan

pengikut tasawuf dan dijadikan metoda pengarahan jiwa dan moral.

c. Hakikat

Dalam dunia sufi hakikat diartikan sebagai aspek bathin yang paling dalam dari setiap amal atau

inti dan rahasia dari syariat yang merupakan tujuan perjalanan menuju Allah.

d. Ma’rifat

berarti pengetahuan atau pengalaman. Dalam istilah tasawuf,diartikan sebagai pengenalan

langsung tentang Tuhan yang diperoleh melalui hati sanubari sebagai hikmah langsung dari ilmu

hakikat.

3. Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi yaitu tasawuf yang menekankan pada masalah-masalah pemikiran mendalam/

metafisik. Dalam upaya mengungkapkan penglaman rohaninya, para para sufi falsafi sering

menggunakan ungkapan-ungkapan yang samar-samar yang dikenal dengan syathahat yaitu suatu

ungkapan yang sulit di pahami, yang sering mengakibatkan kesalhpahaman. Tokoh tasawuf ini

antara lain, Abu Yazid Al Bustami, Al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi.

Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya,setidaknya terdapat

beberapa term yang telah masyhur beserta para tokohnya yaitu ; hulul,wadah al~wujud, insan

kamil, Wujud Mutlak.

a. Hulul

Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan

antara kholiq dengan makhluk. Paham hululini disusun oleh Al-hallaj

Kata hulul berimplikasi kepada bahwa tuhan akan menempati dan memilih tubuh manusia untuk

ditempati, bila manusia dapat menghilangkan sifat nasut( kemanusiaannya) dengan cara fana

(menghilangkan sifat-sifat tercela melalui meniadakan alam duniawi menuju kesadaran

ketuhanan).

b. Wahdah Al-Wujud

Istilah wahdah Al-wujud adalah paham yang mengatakan bahwa manusia dapat bersatu padu

dengan tuhan, akan tetapi tuhan disini bukanlah tapi yang dimkasud tuahn bersatu padu disini

bukanalh Dzat yang tuhan yang sesungguhnya, melainkan sifat-sifat tuhan yang memancar pada

manusia ketika manusia sudah melakukan proses fana’

c. Ittihad

Pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran

Nur Ilahi,oleh karena itu manusia hilang kesadaranya [sebagai manusia] maka padadasarnya ia

telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu nur ilahiatau dengan kata lain ia menyatu

dengan Tuhan.

F. Sumber-sumber Tasawwuf

Sebagaimana layaknya ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu akhlaq, ilmu kalam, ulumul qur’an,

ulumul hadits dan ilmu-ilmu lain dalam Islam yang penamaannya baru muncul setelah Rasul

wafat, demikian juga dengan ilmu tasawuf, exixtensi namanya baru dikenal jauh setelah Rasul
wafat. Namun esensi ilmu tasawuf sesungguhnya bersumber dari Allah, Rasul, ijma’ sufi, ijtihad

sufi dan qiyas sufi.

1. Allah

Allah merupakan Zat sumber ilmu tasawuf, tidak ada seorangpun yang mampu menciptakan

ilmu tasawuf dari selain Zat Allah. Namun Allah mengajarkan secercah ilmuNya kepada para

sufi lewat hidayah (ilham) baik langsung maupun dengan perantaraan lain selain Allah yang

Allah kehendaki.

Ada kalanya lewat Al Qur’an dengan metode iqro’ul Qur’an (membaca, menyimak, menganalisa

isi kandungan Al Qur’an), ada pula melalui alam dengan cara perenungan sufi dan lain

sebagainya yang pada intinya merupakan hidayah dari Allah, kemudian berwujud menjadi ide

tercerahkan dalam nuansa pemikiran dan keyaqinan terunjam di hati untuk dimanifestasikan

dalam realita kehidupan nyata sebagai bentuk pengabdian diri kepada Allah.

2. Rasulullah SAW

Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mendalami dan

pengambangkan ilmunya, karena hanya kepada Rasul sajalah Allah menitipkan wahyuNya,

tentulah Rasul pula yang lebih banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat di balik yang tersurat

dalam Al Qur’an. Semua keterangan tersebut hanya ada di hadits Rasulullah, maka sumber yang

kedua ilmu tasawuf adalah Hadits (Sunnah Rasul).

3. Pengalaman Sahabat

Setelah merujuk pada referensi Al Qur’an dan Hadis, referensi selanjutnya bagi aktivitas tasawuf

adalah pengetahuan dan tindakan para pengikut setia Rasulullah Muhammad SAW SAW.

Pengalaman spiritual yang diperolehnya sebagai penunjang semuanya itu.

4. Ijma’ Sufi

Ijma’ Sufi (kesepakatan para ‘ulama tasawuf) merupakan esensi yang sangat penting dalam ilmu

tasawuf, karenanya mereka dijadikan sebagai sumber yang ke tiga dalam ilmu tasawuf setelah Al

Qur’an dan Hadits.

5. Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengalaman itu

merupakan guru terbaik, namun Allah memberi aqal untuk berfikir semaksimal mungkin sebagai

alat pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan dalam pengalaman.

6. Qiyas Sufi

Qiyas merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara mandiri jika sedang terpisah dari

jama’ahnya.

7. Nurani Sufi

Setiap sufi positif, memiliki nurani yang tajam di hatinya, ada yang menyebutnya dengan istilah

firasat, rasa, radar batin dan sebagainya merupakan anugerah Allah terhadap kaum sufi, bias dari

keikhlashan, kesabaran dan ketawakkalannya dalam beribadah kepada Allah tanpa kenal lelah.

8. Amalan Sufi

Kaum sufi memegang teguh tradisi rahasia (menyembunyikan) nurani dan amalinya, karena jika

dua hal tersebut diketahui umum dapat menimbulkan kesalah fahaman, hal ini disebabkan

dimensi tariqat (perjalanan) sufi merupakan dimensi batin (roh, rohani, jiwa, sesuatu esensi

tersembunyi, gaib) yang tidak semua orang mampu menjalaninya, namun para sufi amat

merindukannya disebabkan semata karena cinta kepadaNya.

G. Istilah-istilah Tasawuf

1. Al Maqamat

a. Pengertian

Definisi Al maqamat secara etimologis adalah bentuk jamak dari


kata maqam, yang berarti kedudukan spiritual (English
: Station). Maqam arti dasarnya adalah tempat berdiri, dalam terminologi
sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada
saat dia berdiri menghadap kepada-Nya.
Menurut Al Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam

rangka wushul (sampai) kepadaNya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan

pencarian dan ukuran tugas. Dalam pandangan Abu Nashr Al Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan

atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian

pengabdian (‘ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit

hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga

semata-mata kepada Allah.


b. Tingkatan Al Maqamat

Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat,

sabar, faqir, zuhud, tawakal, mahabah, ma’rifat dan ridha.

1) Taubah

Dalam ajaran tasawuf konsep taubat dikembangkan dan memiliki berbagai macam pengertian.

Secara literal taubat berarti kembali. Dalam perspektif tasawuf, taubat berarti kembali dari

perbuatan-perbuatan yang menyimpang, berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan kembali

kepada Allah.

Menurut Abu Nashr Al Sarraj taubah terbagi pada beberapa bagian. Pertama, taubatnya orang-

orang yang berkehendak (muridin), muta’arridhin, thalibin dan qashidin. Kedua, taubatnya ahli

haqiqat (kaum khawwas). Pada bagian ini para ahli haqiqat tidak ingat lagi akan dosa-dosa

mereka karena keagungan Allah telah memenuhi hati mereka dan mereka senantiasa berzikir

kepadaNya. Ketiga, taubat ahli ma’rifat (khusus al-khusus). Adapun taubatnya ahli ma’rifat yaitu

berpaling dari segala sesuatu selain Allah.

ä— !$tBur
8ou‘$¨BV{ }§øÿ¨Z9$# ¨bÎ) 4 ûÓŤøÿtR Ìh•t/é&
’În1u‘ ¨bÎ) 4 þ’În1u‘ zOÏmu‘ $tB žwÎ) Ïäþq•¡9$$Î/
×LìÏm§‘ Ö‘qàÿxî
“ dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu

menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya

Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf [12]: 53)

(#qãZtB#uä šúïÏ%©!$# $pkš‰r'¯»tƒ


%·nqÝÁ¯R Zpt/öqs? «!$# ’n<Î) (#þqç/qè?
öNä3Ytã t•Ïeÿs3ムbr& öNä3š/u‘ 4Ó|¤tã
öNà6n=Åzô‰ãƒur öNä3Ï?$t«Íh‹y™
;MȬZy_
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat

yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan

memasukkanmu ke dalam jannah …” (QS. At Tahrim [66]: 8).

2) Wara’

Kata wara’ secara etimologi berarti menghindari atau menjauhkan diri. Dalam perspektif

tasawuf bermakna menahan diri hal-hal yang sia-sia, yang haram dan hal-hal yang meragukan

(syubhat). Hal ini sejalan dengan hadits nabi, “Diantara (tanda) kebaikan ke-Islaman seseorang

ialah meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya”.

Adapun 2 perkara yang wajib ditinggalkan dalam wara’ adalah :


a) Meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan terkait dengan hati (kesesatan, bid’ah,

kefanatikan dan berlebih-lebihan)

b) Meninggalkan segala sesuatu yang terkait dengan syubhat, yang dikhawatirkan akan jatuh pada

keharaman, dan meninggalkan kelebihan meskupun berupa bagian dari kehalalan.

3) Zuhud

Menurut Imam Ghazali, makna kata zuhud adalah mengurangi keinginan


kepada dunia dan menjauh darinya dengan penuh kesadaran. Menurut Abu
Bakr Muhammad SAW Al Warraq (w. 290/903 M ) kata zuhud mengandung
tiga hal yang mesti ditinggalkan yaitu huruf z berarti zinah (perhiasan atau
kehormatan), huruf h berarti hawa (keinginan), dan d menunjuk
kepada dunya (materi). Dalam perspektif tasawuf, zuhud diartikan dengan
kebencian hati terhadap hal ihwal keduniaan padahal terdapat kesempatan
untuk meraihnya hanya karena semata-mata taat dan mengharapkan ridha
Allah SWT. Inti dari zuhd adalah keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia
dengan kenikmatan dunia yang didapat, dan tidak bersedih dan putus asa atas
kenikmatan dunia yang tidak didapat.
Menurut Syaikh Syihabuddin ada tiga jenis kezuhudan yaitu : pertama, Kezuhudan orang-orang

awam dalam peringkat pertama. Kedua, kezuhudan orang-orang khusus (kezuhudan dalam

kezuhudan). Hal ini berarti berubahnya kegembiraan yang merupakan hasil daripada zuhud

hanyalah kegembiraan akhirat, sehingga nafsunya benar-benar hanya dipenuhi dengan

akhirat. Ketiga, Kezuhudan orang-orang khusus dikalangan kaum khusus. Dalam peringkat

ketiga ini adalah kezuhudan bersama Allah. Hal ini hanyalah dikhususkan bagi para Nabi dan

manusia suci. Mereka telah merasa fana’ sehingga kehendaknya adalah kehendak Allah.

Sedangkan menurut Abu Nashr Al Sarraj ada tiga kelompok zuhud :

a) Kelompok pemula (mubtadiin), mereka adalah orang-orang yang kosong tangannya dari harta

milik, dan juga kosong kalbunya.

b) Kelompok para ahli hakikat tentang zuhud (mutahaqqiqun fi Al zuhd). Kelompok ini dinyatakan

sebagai orang-orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan jiwa dari apa-apa yang ada di

dunia ini, baik itu berupa pujian dan penghormatan dari manusia.

c) Kelompok yang mengetahui dan meyakini bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah halal bagi

mereka, namun yakin bahwa harta milik tidak membuat mereka jauh dari Allah dan tidak

mengurangi sedikitpun kedudukan mereka, semuanya semata-mata karena Allah.

äot•ÅzFy$#ur ×@‹Î=s% $u‹÷R‘‰9$# óßì»tFtB


4’s+¨?$# Ç`yJÏj9 ׎ö•yz
”… Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang

bertakwa…” (QS. An Nisa [4]: 77)


öNÏdÍ‘r߉߹ ’Îû tbr߉Ågs† Ÿwur
(#qè?ré& !$£JÏiB Zpy_%tn
öNÍkŦàÿRr& #’n?tã šcrã•ÏO÷sãƒur
`tBur 4 ×p|¹$|Áyz öNÍkÍ5 tb%x. öqs9ur
s-
š•Í´¯»s9'ré'sù ¾ÏmÅ¡øÿtR £xä© qãƒ
ÇÒÈ šcqßsÎ=øÿßJø9$# ãNèd
“ …dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang

diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin),

atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari

kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (QS. Al Hasyr [59]: 9)

4) Al Sabr

Al Sabr secara etimologi berarti tabah hati. Dalam Mu’jam Maqayis Al Lughah disebutkan

bahwa kata sabar memiliki tiga arti yaitu menahan, sesuatu yang paling tinggi dan jenis

bebatuan. Menurut terminologi adalah menahan jiwa dari segala apa tidak disukai baik itu

berupa kesenangan dan larangan untuk mendapatkan ridha Allah. Dalam perspektif tasawuf Al

sabr berarti menjaga menjaga adab pada musibah yang menimpanya, selalu tabah dalam

menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya serta tabah menghadapi segala

peristiwa. Sabar merupakan kunci sukses orang beriman. Sabar itu seperdua dari iman karena

iman terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi syukur baik itu

ketika bahagia maupun dalam keadaan susah. Makna Al Sabr menurut ahli sufi pada dasarnya

sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya.

Ibn ‘Ata’illah membagi sabar menjadi 3 macam sabar terhadap perkara


haram, sabar terhadap kewajiban, dan sabar terhadap segala perencanaan
(angan-angan) dan usaha.
Sabar terhadap perkara haram adalah sabar terhadap hak-hak manusia. Sabar
terhadap kewajiban adalah sabar terhadap kewajiban dan keharusan untuk
menyembah kepada Allah. Segala sesuatu yang menjadi kewajiban ibadah
kepada Allah akan melahirkan bentuk sabar yang ketiga yaitu sabar yang
menuntut salik untuk meninggalkan segala bentuk angan-angan kepada-Nya.
Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha manusia sendiri.
Namun, sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada salik dan
orang-orang yang dipilih-Nya. Maqam sabar itu dilandasi oleh keimanan
yang sempurna terhadap kepastian dan ketentuan Allah, serta menanggalkan
segala bentuk perencanaan (angan-angan) dan usaha.
Ÿwur 4 «!$$Î/ žwÎ) x8çŽö9|¹ $tBur ÷ŽÉ9ô¹$#ur
9,øŠ|Ê ’Îû Û•s? Ÿwur óOÎgøŠn=tæ ÷bt“øtrB
šcrã•à6ôJtƒ $£JÏiB
“ bersabarlah (hai Muhammad SAW) dan Tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati
terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap
apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl [16]: 127)
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh Shabr

a) Sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan seperti musibah, bencana, atau kesusahan.

Adapun contohnya apa yang terjadi pada nabi Ayyub, beliau ditinggalkan oleh istri dan anak-

anaknya tercinta meninggal dunia, kemudian ditambah lagi dengan harta bendanya yang

melimpah habis karena tertimpa bencana.

b) Sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.

Adapun contohnya, sebagaimana yang terjadi pada nabi Yusuf, Allah SWT menguji kesabaran

Yusuf dengan ujian yang lebih berat, yaitu rayuan Siti Zulaikha, seorang wanita cantik lagi

terpandang. Namun, dengan kesabaran dan keteguhan iman, Nabi Yusuf pun mampu melewati

ujian ini dengan selamat. Padahal, saat itu Yusuf pun menyukai Zulaikha, dan suasana pun

sangat mendukung untuk melakukan maksiat.

c) Sabar dalam menjalankan ketaatan.

Sedangkan contoh yang ketiga adalah kesabaran yang di miliki oleh nabi Ibrahim dan anaknya

Ismail, beliau berdua dengan tetap sabar dan taat atas perintah Allah, meskipun saat itu sang

ayah akan menyembelih anaknya sendiri. Inilah bukti kesabaran dalam menjalani ketaatan atas

perintah-Nya.

5) Syukur

Syukur secara terminology berasal dari kata bahasa Arab, syakara yang
berarti membuka segala nikmat, yakni gambaran dalam benak tetang nikmat
dan menampakkannya ke permukaan. Syukur berarti rasa terima kasih atas
nikmat yang telah diberikan, sembari menggunakan nikmat tersebut di jalan
yang diridhai Allah SWT. Syukur tersusun dari ilmu, hal, dan amal
perbuatan. Ilmu berarti mengetahui nikmat yang diberikan dan pemberi
nikmat. Hal berarti gembira atas nikmat yang telah diberikan.
Syukur dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam; pertama shukur dengan lisan,

yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nikmat yang didapat. Kedua, shukur dengan

anggota tubuh, yaitu shukur yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. Ketiga, shukur

dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat, segala bentuk

kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya.

Dengan akal ini manusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak.


Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan
menginginkan suatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal
inilah yang harus ditiadakan dalam pengejawantahan syukur.
ûÈõs9 öNä3š/u‘ šc©Œr's? øŒÎ)ur

öNä3¯Ry‰ƒÎ— óOè?ö•x6x©
¨bÎ) ÷Länö•xÿŸ2 ûÈõs9ur ( V{

Ó‰ƒÏ‰t±s9 ’Î1#x‹tã

“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika


kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih".(QS. Ibrahim : 7)
6) Tawakkal

Tawakkal bermakna berserah diri. Tawakkal dalam tasawuf dijadikan washilah untuk

memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan memikirkan

keduniaan serta apa saja selain Allah. Pada dasarnya makna atau konsep tawakkal dalam dunia

tasawuf berbeda dengan konsep agama. Tawakkal menurut para sufi

bersifat fatalis/majbur yakni menggantungkan segala sesuatu pada takdir dan kehendak Allah.

Syekh Abdul Qadir Jailany menyebut dalam kitabnya bahwa semua yang menjadi ketentuan

Tuhan sempurna adanya, sungguh tidak berakhlak seorang jika ia meminta lebih dari yang telah

ditentukan Allah.

È,- `tBur
%[`t•øƒxC ¼ã&©! @yèøgs† ©!$# Gtƒ
çmø%ã— ÇËÈ
4 Ü=Å¡tFøts† Ÿw ß]ø‹ym ô`ÏB ö•tƒur
uqßgsù «!$# ’n?tã ö@©.uqtGtƒ `tBur
à÷Î=»t/ ©!$# ¨bÎ) 4 ÿ¼çmç7ó¡ym
ª!$# Ÿ@yèy_ ô‰s% 4 ¾ÍnÌ•øBr&
ÇÌÈ #Y‘ô‰s% &äóÓx« Èe@ä3Ï9
“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang

bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya

Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan

ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At Thalaaq [65]: 2-3)

|=tFŸ2 $tB žwÎ) !$uZu;‹ÅÁム`©9 @è%


’n?tãur 4 $uZ9s9öqtB uqèd $uZs9 ª!$#
šcqãZÏB÷sßJø9$# È@ž2uqtGuŠù=sù «!$#

“ Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan

Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman

harus bertawakal." (QS. At Taubah [9]: 51)

7) Ridha
Ridha berarti sebuah sikap menerima dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan

Allah kepada seorang hamba, meskipun hal tersebut menyenangkan atau tidak.

Sikap ridha merupakan buah dari kesungguhan seseorang dalam menahan hawa nafsunya.

Imam Gazali mengatakan bahwa hakikat ridha adalah tatkala hati senantiasa dalam keadaan

sibuk mengingatnya. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa seluruh aktivitas

kehidupan manusia hendaknya selalu berada dalam kerangka mencari keridhaan Allah.

Orang yang ridha terhadap ketentuan dan kepastian Allah, dia akan
menjadikan Allah sebagai penuntun dalam segala urusannya, dia akan
berpegang teguh kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia akan menentukan yang
terbaik bagi dirinya.
ßìxÿZtƒ ãPöqtƒ #x‹»yd ª!$# tA$s%
öNçlm; 4 öNßgè%ô‰Ï¹ tûüÏ%ω»¢Á9$#
$ygÏFøtrB `ÏB “Ì•øgrB ×M»¨Yy_
!$pkŽÏù tûïÏ$Î#»yz ã•»yg÷RF{$#
öNåk÷]tã ª!$# zÓÅ̧‘ 4 #Y‰t/r&
ã— y7Ï9ºsŒ 4 çm÷Ztã (#qàÊu‘ur
ÇÊÊÒÈ ãLìÏàyèø9$# öqxÿø9$#
“ Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar

kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal

di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling

besar".(QS. Al Maaidah [5]: 119)

Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh Ridla

Segala sesuatu yang menimpa kita adalah kehendak-Nya. Tugas kita sebagai manusia hanyalah

berusaha dan bertawakal kepada-Nya. Kita selayaknya senantiasa bersikap ridha

kepada qadha dan qadarn-Nya walaupun terkadang pahit dan menyakitkan. Sikap ridha adalah

cerminan kepatuhan hamba kepada Penciptanya. Apapun bentuk pemberian-Nya merupakan

yang terbaik untuk kita.

2. Al Ahwal

a. Pengertian Al Ahwal

Al ahwal bentuk jamak dari kata dalam bahasa Arab hal, biasanya diartikan sebagai keadaan

mental (menthal states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. Ibn Arabi

menyebut hal sebagai setiap sifat yang dimiliki seorang salik pada suatu waktu dan tidak pada

waktu yang lain, seperti kemabukan dan fana’. Eksistensinya bergantung pada sebuah kondisi. Ia

akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hal tidak dapat dilihat dilihat tetapi dapat

dipahami dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan

ungkapan kata.
b. Tingkatan Al Ahwal

Menurut Al Thusi sebagai item yang termasuk di dalam


kategori hal yaitu: Al Murâqabat (rasa selalu diawasi oleh Tuhan), Al
Qurb (perasaan dekat kepada Tuhan), Al Mahabbat (rasa cinta kepada
Tuhan), Khauf wa Rajâ’ (rasa takut dan pengharapan kepada Tuhan), Al
Dzauq (rasa rindu), Al Uns (rasa berteman), Al Thuma’ninah (rasa
tenteram), Al Musyâhadat (perasaan menyaksikan Tuhan dengan mata hati),
dan Al Yaqîn (rasa yakin).
1) Muraqabah
Muraqabah dalam tradisi sufi adalah kondisi kejiwaan yang dengan
sepenuhnya ada dalam keadaan konsentrasi dan waspada. Sehingga segala
daya pikir dan imajinasinya tertuju pada satu fokus kesadaran tentang dirinya.
Lebih jauh, muraqabah akan penyatuan antara Tuhan, alam dan dirinya
sendiri sebagai manusia.
Muraqabah merupakan bentuk hal yang sangat penting. Karena pada
dasarnya segala perilaku peribadatan adalah dalam rangka muraqabah atau
mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain muraqabah juga dapat
diartikan sebagai kondisi kejiwaan, di mana seorang individu senantiasa
merasa kehadiran Allah, serta menyadari sepenuhnya bahwa Allah selalu
mengawasi segenap perilaku hambanya. Dengan kesadaran semacam ini,
seorang hamba akan selalu mawas diri, menjaga diri untuk tetap pada kualitas
kesempurnaan penciptaannya.
2) Mahabbah
Mahabbah mengandung arti keteguhan dan kemantapan. Seorang yang
sedang dilanda rasa cinta pada sesuatu tidak akan beralih atau berpaling pada
sesuatu yang lain. Ia senantiasa teguh dan mantap serta senantiasa mengingat
dan memikirkan yang dicinta. Al Junaidi ketika ditanya tentang cinta
menyatakan seorang yang dilanda cinta akan dipenuhi oleh ingatan pada sang
kekasih, hingga tak satupun yang tertinggal, kecuali ingatan pada sifat-sifat
sang kekasih, bahkan ia melupakan sifatnya sendiri.
Dilihat dari segi orangnya, menurut Abu Nashr Al Thusi, cinta kepada Tuhan
terbagi menjadi tiga macam cinta. Pertama, cinta orang-orang awam. Cinta
seperti ini muncul karena kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka.
Ciri-ciri cinta ini adalah ketulusan dan keteringatan (zikir) yang terus-
menerus. Karena jika orang mencintai sesuatu, maka ia pun akan sering
mengingat dan menyebutnya.
Kedua, cinta orang-orang yang shadiq dan mutahaqqiq. Cinta mereka ini
timbul karena penglihatan mata hati mereka terhadap kekayaan, keagungan,
kebesaran, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan. Ciri-ciri cinta ini adalah
“terkoyaknya tabir” dan “tersingkapnya rahasia” Tuhan. Selain itu, ciri lain
adalah lenyapnya kehendak serta hilangnya semua sifat (kemanusiaan dan
keinginan duniawi).
Ketiga, cinta orang-orang shiddiq dan arif. Cinta macam ini timbul dari
penglihatan dan pengenalan mereka terhadap ke-qadim-an Cinta Tuhan tanpa
sebab (illat) apapun.
3) Khauf
Al Qusyairi mengemukakan bahwa khauf terkait dengan kejadian yang akan
datang. Yakni akibat datangnya sesuatu yang dibenci dan sirnanya sesuatu
yang dicintai. Takut kepada Allah berarti takut terhadap hukum-hukumnya
baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah
LäêZä. bÎ) Èbqèù%s{ur öNèdqèù$y‚s? Ÿxsù
tûüÏZÏB÷s•B
“… karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah
kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”(QS Ali Imran [3]:
175)
Ç`tã öNßgç/qãZã_ 4’nû$yftFs?
öNåk®5u‘ tbqããô‰tƒ ÆìÅ_$ŸÒyJø9$#
$£JÏBur $YèyJsÛur $]ùöqyz
tbqà)ÏÿZムöNßg»uZø%y—u‘
Seorang yang diliputi perasaan takut hanya akan melakukan tindakan yang
seharusnya ia lakukan untuk kebaikan dalam jangka panjang ke depan, bukan
sekedar karena keinginan-keinginan nafsunya atau karena kepentingan sesaat.
Seorang yang khauf akan berfikiran jauh ke depan.
4) Raja’
Raja’ adalah keterikatan hati dengan sesuatu yang diinginkan terjadi pada
masa yang akan datang. Al Qusyairi membedakan antara harapan dengan
angan-angan (tamanni). Raja’ bersifat aktif, sementara tamanni bersifat pasif.
Seseorang yang mengharapkan sesuatu akan berupaya semaksimal mungkin
untuk meraih dan merealisasikan harapan-harapannya. Sementara orang yang
mengangan-angankan sesuatu hanya berdiam diri dan tidak melakukan
apapun yang dapat mengantarkannyauntuk mendapatkan yang diangan-
angankannya.
Harapan akan membawa seseorang pada perasaan optimis dalam
menjalankan segala aktifitasnya, serta menghilangkan segala keraguan yang
menyelimutinya. Dengan demikian, ia akan melakukan segala aktifitas
terbaiknya dengan penuh kayakinan.
5) Syauq
Rindu (syauq) merupakan luapan perasaan seseorang individu yang
mengharapkan untuk senantiasa bertemu dengan sesuatu yang dicintai.
Luapan perasaan kerinduan terhadap sesuatu akan menghapuskan segala
sesuatu selain yang dirindukan. Begitu pula seorang hamba yang dilanda
kerinduan kepada Allah SWT akan terlepas dari segala hasrat selain Allah.
Oleh karenanya sebagai bukti dari perasaan rindu adalah terbebasnya diri
seseorang dari hawa nafsu.
Secara psikologis, seseorang yang dilanda perasaan rindu, adalah mereka
yang segala aktifitas baik perilaku maupun gagasannya tertuju pada satu titik
tertentu, sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran yang hakiki.
Dan tidak akan tergoyahkan dengan segala keinginan yang semu yang dapat
mengalihkan perhatian dan konsentrasinya. Sehingga ia akan senantiasa
terjaga dari segala hal yang tidak seharusnya ia lakukan atau ia pikirkan. Ia
akan melakukan segala tindakan terbaiknya dengan penuh kesenangan dan
kegembiraan, tanpa rasa keraguan atau kecemasan.
6) Uns
Perasaan suka cita (uns) merupakan kondisi kejiwaan, di mana seseorang
merasakan kedekatan dengan Tuhan. Atau dengan pengertian lain disebut
sebagai pencerahan dalam kebenaran. Seseorang yang ada pada
kondisi uns akan merasakan kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan serta
suka cita yang meluap-luap. Kondisi kejiwaan seperti ini dialami oleh
seorang sufi ketika merasakan kedekatan dengan Allah. Yang mana, hati dan
perasaannya diliputi oleh cinta, kelmbutan serta kasih sayang yang luar biasa,
sehingga sangat sulit untuk dilukiskan.
Keadaan seperti ini dapat dialami oleh seorang sufi dalam situasi tertentu,
misalnya ketika menikmati keindahan alam, keluasan bacaan atau merdunya
alunan musik, yang mana dalam situasi tersebut seorang sufi benar-benar
merasakan keindahan Allah. Tentu saja antara antara individu satu dengan
yang lain memiliki pengalamannya sendiri-sendiri dengan muatan dan rasa
yang bersifat pribadi, sehingga tidak dapat digambarkan dengan jelas oleh
orang lain.
7) Tuma’ninah
Tuma’ninah adalah keteguhan atau ketentraman hati dari segala hal yang
dapat mempengaruhinya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT,
ْ ‫س ْال ُم‬
ْ ٢٧( ُ‫ط َمئِنَّة‬
‫)ار ِج ِعي إِلَى َربِ ِِّك‬ ُ ‫يَا أَيَّت ُ َها النَّ ْف‬
‫ِعبَادِي‬ ‫)فَا ْد ُخ ِلي فِي‬٢٨( ً‫ضيَّة‬ ِ ‫اضيَةً َم ْر‬ ِ ‫َر‬
)٣٠( ‫)وا ْد ُخ ِلي َجنَّتِي‬ َ ٢٩(
27. Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
puas lagi diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-
Ku, 30. masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al Fajr [89]: 27-30).
Ibnu Qayim membagi tuma’ninah dalam tiga tingkatan: pertama, ketenangan
hati dengan mengingat Allah. Kedua, ketentraman jiwa pada kashf,
ketentraman perindu pada batas penantian. Ketiga, ketentraman menyaksikan
Tuhan pada kelembutan kasihnya. Ketiga tingkatan ini berkaitan dengan
konsep fana’ dan baqa’. Menurut pandangan sejumlah sufi, fana’ adalah
gugurnya sifat-sifat tercela, sedangkan baqa’ adalah jelasnya sifat-sifat
terpuji.
8) Musyahadah
Musyahadah adalah kehadiran Al Haqq dengan tanpa dibayangkan. Menurut
Al Junaid, orang yang ada pada puncak musyahadah kalbunya senantiasa
dipenuhi oleh cahaya ketuhanan, sehingga ibarat kilatan cahaya di malam
hari yang tiada putus sama sekali, sehinggga malampun laksana siang yang
nikmat.
9) Yaqin
Al Yaqin dalam terminologi sufi adalah merupakan perpaduan antara ‘ilmu al
yaqin, ’ain al yaqin dan haqq al yaqin. ‘Ilm al Yaqin adalah sesuatu yang ada
dengan syarat adanya bukti. sedangkan ‘Ain al Yaqin, sesuatu yang ada
dengan disertai kejelasan. Haqq al Yaqin adalah sesuatu yang ada dengan
sifat-sifat yang menyertai kenyataannya. ‘Ilm al Yaqin, dibutuhkan untuk
mereka yang cenderung rasional. ‘Ain al Yaqin bagi para ilmuwan.
Sedangkan haqq al Yaqin bagi orang-orang yang ma’rifah.
Jadi, Al Yaqin adalah sebuah kepercayaan yang kuat dan tak tergoyahkan
tentang kebenaran pengetahuan yang dimiliki, karena penyaksiannya dengan
segenap jiwanya dan dirasakan oleh seluruh ekspresinya, serta disaksikan
oleh segenap eksistensinya.

H. Peranan Tasawuf dalam Kehidupan Modern


Prof. Zakiah Darajat, dalam bukunya Peranan Agama Dalam Kesehatan
Mental, menyatakan bahwa fungsi agama adalah :
1. Agama memberikan bimbingan bagi manusia dalam mengendalikan dorongan-dorongan sebagai

konsekwensi dari pertumbuhan fisik dan psikis seseorang.

2. Agama dapat memberikan terapi mental bagi manusia dalam menghadapi kesukaran-kesukaran

dalam hidup. Seperti pada saat menghadapi kekecewaan-kekecewaan yang kadang dapat

menggelisahkan bathin dan dapat membuat orang putus asa. Disini agama berperan

mengembalikan kesadaran kepada sang pencipta.

3. Agama sebagai pengendali moral, terutama pada masyarakat yang mengahadapi problematika

etis, seperti prilaku sex bebas.

Akhlak tasawuf merupakan solusi tepat dalam mengatasi krisis-krisis


akibat modernisasi untuk melepaskan dahaga dan memperoleh kesegaran
dalam mencari Tuhan. Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh
hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa
dengan kesadarannya iu brrada di hadirat-Nya. Tasawuf perlu dikembangkan
dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan beberapa tujuan, antara lain:
1. Menyelamatkan kemanusiaan dari kebingungan dan kegelisahan yang mereka rasakan sebagai

akibat kurangnya nilai-nilai spiritual.

2. Memahami tentang aspek asoteris islam, baik terhadap masyarakat Muslim maupun non

Muslim.

3. Menegaskan kembali bahwa aspek asoteris islam (tasawuf) adalah jantung ajaran islam.

Tarikat atau jalan rohani (path of soul) merupakan dimensi kedalaman


dan kerahasiaan dalam islam sebagaimana syariat bersumber dari Al-Quran
dan As-Sunnah. Betapapun ia tetap menjadi sumber kehidupan yang paling
dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam islam. Ajaran
dalam tasawuf memberikan solusi bagi kita untuk menghadapi krisis-krisis
dunia. Seperti ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan manusia memiliki
pegangan yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan
dirinya sepenuhnya pada Tuhan.
Selanjutnya sikap frustasi dapat diatasi dengan sikap ridla. Yaitu selalu
pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Sikap materialistik
dan hedonistik dapat diatasi dengan menerapkan konsep zuhud. Demikan
pula ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf. Yaitu mengasingkan diri dari
terperangkap oleh tipu daya keduniaan. Ajaran-ajaran yang ada dalam
tasawuf perlu disuntikkan ke dalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu
pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain
sebagainya perlu dilandasi ajaran akhlak tasawuf.
Mempelajari tasawuf membawa manfaat yang sangat banyak dalam kehidupan ini, baik

secara individu, masyarakat, bangsa dan negara. Para Sufi sangat menyadari betul akan siapa

dirinya dan bagaimana posisinya dihadapan Tuhan dan mereka sudah mampu menguasai hawa

nafsu mereka, sehingga dengan demikian segala apa yang mereka lakukan selalu berada dalam

koridor kepatuhan, ketaatan dan ketundukan kepada Allah swt. dengan penuh keridhaan,
kecintaan dan mereka pun diridhai dan dicintai oleh Allah, bahkan Allah mengundang mereka

kesebuah perjamuan yang sangat indah. “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-

Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30). Orang-orang yang diundang

oleh Allah tentunya tidak sembarang orang tetapi yang diundang adalah mereka yang sudah

sampai ketingkat (maqam) insan kamil (manusia paripurna) yang didalam diri mereka sudah

tercermin sifat-sifat Tuhan.

Tujuan akhir dari ajaran tasauf adalah untuk mendekatkan diri seorang hamba kapada Allah

sebagai Khaliknya melalui riyadhah melewati stasiun-stasiun atau maqamat-maqamat tertentu,

dengan selalu mensucikan jiwa (nafs) lahir dan bathin dalam upaya mempersiapkan diri

menggapai ma’rifatullah sampai pada tingkat bertemu dan menyatu dengan Allah menuju

kehidpan yang abadi.

Apabila seseorang mengalami kebingunagan, kebimbangan, dan kehampaan dalam

mengahrungi bahtera kehidupan ini karena mengahadapi berbagai problem dan permasalah

silakan kembali kepada agama sesegera mungkin, insyaallah agama akan memberikan solusi

yang terbaik bagi umatnya. Kehampaan spiritual yang di alami orang-orang Barat, karena

disebabkan paradigma perdaban yang mereka bangun dari awal telah menyatakan adanya

pemisahan antara sains dan agama, padahal seharunya keduanya harus saling

bersinergi. Tasauf Islam tidak menafikan sains, bahkan tasauf Islam banyak menyumbangkan

pemikiran dalam bidang filsafat, sastra, musik, tarian, psikologi, dan sains modren. Dalam

konteks ajaran Islam, untuk mengatasi keterasingan jiwa manusia dan membebaskan dari derita

keterasingan, justru harus menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhir, Tuhan yang Maha Wujud dan

Maha Absolut.

I. Teladan Sufi Nabi dan Sahabat

1. Pengalaman Sufi Nabi Muhamaad. SAW

Dalam sejarah Islam, Muhammad SAW SAW dikenal sebagai pioner yang memiliki peran

terpenting dalam proses tumbuh dan berkembangnya khazanah sufisme Islam dari satu generasi

ke generasi yang lain. Kaum zuhâd atau kaum sufi sejak masa permulaan Islam dalam menjalani

aktivitas sufistik mereka selalu merujuk pada Muhammad SAW sebagai mursyid tertinggi dalam

Islam. Bahkan, kaum sufi sendiri menganggap Nabi SAW. sebagai sosok manusia sempurna (al-
insân al-kâmil) sekaligus mursyid tertinggi yang harus dijadikan teladan (uswah hasanah) dalam

perjalanan sufistik mereka menuju kepada Yang Haq (Allah). Itulah sebabnya, dalam tulisan ini

penulis tertarik memaparkan kajian seputar pengalaman sufistik Muhammad SAW SAW dengan

beragam macamnya itu dengan pendekatan normative-historis.

Keparipurnaannya sebagai seorang nabi telah tercermin melalui beberapa sifat luhur dan

keistimewaan spiritual yang terhimpun dalam dirinya.

Pertama, kehormatan nasabnya dari suku Quraisy yang merupakan keturunan dari Isma’il ibn

Ibrahim, tanda kenabian yang terdapat di antara kedua pundaknya, penampakan wajah, dan

bentuknya yang memancarkan sinar kejujuran dan kenabiannya.

Kedua, sifat dan akhlaknya yang terpuji; seperti sifat kasih sayang, sabar, rendah hati, dan jujur.

Ketiga, tanda-tanda kenabian dan pengalaman sufistik tertinggi yang telah dialirkan oleh Allah

SWT kepadanya, seperti benda-benda padat bisa berbicara kepadanya, dapat menambah

makanan dan minuman, membelah bulan; dan yang paling agung dan abadi adalah memperoleh

wahyu serta menjalani mi’raj untuk bertemu dan berdialog dengan Allah SWT.

Keempat, doanya dikabulkan setiap kali Nabi memohon untuk seseorang atau umatnya.

a. Pengalaman Khalwat di Gua Hira

Mendekati usia 40 tahun, mulailah tumbuh pada diri Muhammad SAW SAW kecenderungan

untuk melakukan uzlah (menjauhi pergaulan masyarakat ramai). Uzlah yang dilakukan

Muhammad SAW SAW menjelang dinobatkan sebagai rasul ini memiliki makna dan

mengandung pelajaran yang sangat besar dalam kehidupan yakni merasakan pengawasan Tuhan

dan merenungkan fenomena-fenomena atau gejala alam semesta yang menjadi bukti keagungan-

Nya.

Dari aktivitas uzlah ini, dapat diambil suatu pelajaran bahwa setiap jiwa manusia memiliki

sejumlah penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali dengan cara uzlah. Sifat sombong, ujub,

hasud, riya, dan cinta dunia merupakan penyakit yang dapat menguasai jiwa, merusak hati

nurani, sekalipun secara lahiriah seseorang terlihat melakukan amal-amal saleh. Di samping itu,

dengan khalwah seseorang dapat sampai pada mahabbah (mencintai) kepada Allah SWT.

Tafakkur, perenungan, banyak mengingat keagungan Allah, nampaknya dapat diwujudkan

melalui cara khalwah. Khalwah ini sekaligus menjadi sarana untuk menciptakan dorongan-

dorongan spiritual di dalam hati; seperti rasa takut, cinta, dan penuh harap, yang bisa menjadi

motivasi kuat dalam keimanan maupun keislaman seseorang. Tetapi khalwah di sini bukan
dipahami sebagai tindakan meninggalkan sama sekali pergaulan sesama manusia dengan hidup

secara terasing. Karena khalwah yang dilakukan Muhammad SAW bersifat temporer, menurut

kadar tertentu, dan sebagai pencarian obat untuk memperbaiki keadaan.

b. Kebenaran Mimpi Nabi SAW (ar ru’yâ as sâdiqah)

Mimpi yang benar juga dipandang oleh Nabi SAW sebagai suatu peristiwa yang dapat terjadi

pada manusia muslim pada umumnya. Bahkan, Muhammad SAW SAW sendiri memandang

mimpi yang benar merupakan bagian dari empat puluh juz kenabian. Sekaligus sebagai nikmat

dari Allah SWT kepada orang muslim yang menerimanya dan juga pengganti dari sifat kenabian

yang telah dicabut setelah Nabi Muhammad SAW.

Pengalaman sufistik ini sama halnya dengan pengalaman mimpi yang dialami Nabi Ibrahim

ketika ia mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Ismail. Pengalaman

sufistik ini merupakan fenomena umum yang terjadi di kalangan para nabi terdahulu agar hatinya

tenang sebagai persiapan mental untuk mengalami pewahyuan dalam kondisi sadar.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi menuturkan sebuah mimpi kepada pamannya.

Nabi berkata, “Wahai paman, orang (malaikat) yang telah saya tuturkan kemarin kepadamu

memasukkan tangannya ke dalam perutku sehingga aku merasakan hawa dinginnya”. Ibn Umar

meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bercerita, “Suatu saat saya sedang tidur,

tiba-tiba saya diberi satu gelas air susu, lalu saya meminum sebagiannya, dan sisanya saya

berikan kepada Umar ibn Khaththab”. Para sahabat lalu bertanya, “Apakah yang kamu tafsirkan

wahai Rasul?” Nabi menjawab, “ilmu”.

c. Masalah wahyu yang turun kepada Nabi SAW

Nabi Muhammad SAW, SAW., dalam konteks ini, telah mengalami pengalaman pewahyuan dari

Allah SWT melalui dua bentuk; langsung dari Allah SWT dan melalui perantara malaikat Jibril.

Pada cara yang pertama, Nabi SAW memperoleh pengalaman pewahyuan itu dari Tuhan secara

langsung, tidak melalui malaikat Jibril, di antaranya mimpi yang benar di waktu tidur. Bentuk

lain dari penyampaian wahyu model ini ialah kalam Allah SWT yang diterima dari

balik hijab tanpa melalui perantara dan dalam keadaan terjaga. Wahyu model ini, menurut ulama

Islam, terjadi pada Nabi SAW di malam isrâ’-mi’râj.

Contoh wahyu Allah SWT yang diturunkan melalui malaikat Jibril tatkala Nabi

sedang bertahanuth di gua Hira dan memperoleh wahyu Al Qur’an yang pertama kali. Dalam

pengalaman sufistik itu, ia melihat Malaikat Jibril tampil menutupi keluasan cakrawala.
Pengalaman sufistik ini dapat dilihat dan didengar. Malaikat itu memerintahkan Muhammad

SAW untuk melafalkan iqra’ yang dalam bahasa Arab adalah bentuk kalimat perintah dari kata

kerja qara’a yang artinya “membaca” (untuk meneliti). Oleh karena itu, bab pertama (surah) dari

Al Qur’an adalah Al Alaq ayat 1-5 diwahyukan kepada umat manusia.

Selama dua puluh tiga tahun sampai meninggal, kapan saja wahyu datang Nabi selalu merasakan

tekanan yang berat. Beliau akan berkeringat hebat dan andaikan beliau sedang naik unta atau

naik kuda, maka hewan-hewan itu akan terbungkuk di bawah tekanan firman yang turun dari

atas. Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Aku tidak pernah menerima wahyu dalam

kesadaran yang lengkap dengan rohku karena ia sedang dihilangkan dariku”.

d. Pengalaman Isra’ Mi’raj

Pengalaman spiritual penting itu adalah perjalanan Nabi pada malam hari naik ke langit untuk

menghadap kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW secara mukjizat dibawa dari Mekkah ke

Jerussalem dan dari sana melakukan mi’râj atau naik ke seluruh tingkat sampai mencapai jagat

yang paling ujung (sidrat-ul muntaha) bahkan jauh lagi di atas itu yaitu tiba pada hadirat Allah

SWT, yang digambarkan sebagai lingkungan “berjarak dua busur panah”. Dalam perjalanan itu,

ia menunggang kuda mistik; buraq dan didampingi oleh malaikat Jibril. Al Qur’an

mengungkapkan perjalanan malam ini dengan mengatakan “Maha suci Allah SWT, yang

membawa perjalanan hamba- Nya malam hari dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsha, yang

Kami berkati sekitarnya untuk memperlihatkan kepadanya beberapa tanda (kebesaran) Kami.

Sungguh Dia itu Maha Mendengar, yang Maha Melihat.”

Pengalaman sufistik Nabi Muhammad SAW yang demikian penting dan terpusat pada

kedalaman spiritual merupakan contoh kualitas spiritual tertinggi dan teladan bagi kedalaman

kehidupan beragama. “Malam kenaikan” disejawatkan dengan “malam kekuasaan”, karena Al

Qur’an juga diwahyukan pada bagian penghujung akhir bulan suci Ramadhan. Pengalaman isrâ’

mi’râj itu, secara sufistik merupakan pengalaman rohaniah tertinggi yang menunjukkan

terpilihnya Muhammad SAW oleh Allah untuk mushâhadah dengan-Nya. Bagi para sufi,

pengalaman itu merupakan pengalaman mistik paling agung dari Nabi Muhammad SAW.

2. Pengalaman Sufi Sahabat

a. Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar r.a adalah salah seorang ahli syuga, Nabi sendiri pernah memberi berita gembira

kepada beliau tentang kedudukan beliau di dalam syurga. Bahkan diberitahu bahawa beliau akan
menjadi ketua kepada satu kumpulan ahli syurga. Semua pintu syurga akan menyeru dan

memanggil nama beliau.

Banyak orang yang sudah biasa dengan suatu kepercayaan sudah tak ragu lagi, sampai-sampai ia

jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi

melihat muka orang yang berbeda kepercayaan. Mereka menganggap bahwa iman yang

sebenarnya harus fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakr, dengan keimanannya yang

begitu agung dan begitu teguh, tak pernah ia goyah dan ragu, jauh dari sikap kasar. Sikapnya

lebih lunak, penuh pemaaf, penuh kasih bila iman itu sudah mendapat kemenangan. Dengan

begitu, dalam hatinya terpadu dua prinsip kemanusiaan yang paling mendasari: mencintai

kebenaran, dan penuh kasih sayang. Demi kebenaran itu segalanya bukan apa-apa baginya,

terutama masalah hidup duniawi. Apabila kebenaran itu sudah dijunjung tinggi, maka lahir

pula rasa kasih sayang, dan ia akan berpegang teguh pada prinsip ini seperti pada yang pertama.

Terasa lemah ia menghadapi semua itu sehingga matanya basah oleh air mata yang

deras mengalir.

Rabi'ah Aslami r.a menceritakan, "Pernah sekali berlaku pertengkaran antara saya dengan Hazrat

Abu Bakar r.a kerana sesuatu perkara. Beliau telah mengatakan sesuatu yang kasar terhadap saya

yang saya tidak suka. Beliau segera menyedari keadaan itu dan berkata kepada saya, "Engkau

pun katakanlah perkataan itu kepada saya supaya menjadi balasan terhadap saya.

Demikian itulah sifat ketakutan Hazrat Abu Bakar r.a kepada Allah. Beliau begitu risau dan

mengambil berat tentang satu perkataan yang remeh sehingga pada mulanya beliau sendiri yang

meminta supaya dibalasi dan kemudian dengan perantaraan Rasulullah s.a.w, beliau ingin supaya

Rabi'ah r.a mengambil tindakan balas.

b. Umar Bin Khattab

Suatu hari Amiril Mukminin Umar bin Khaththab r.a. dikirimi harta yang
banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya.
“Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu
berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk
melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar
kepadanya.
Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan
hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubadah, ia berkata,
“Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga
berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi
kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”
Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan
kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang
berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya
wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu
mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir
miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai
seluruh harta ini habis diinfakkan.
Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar
empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin
Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu.
Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti
sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta
tersebut.
Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-
bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir
miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga
harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat
dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz
berkata, “Ambillah dua dirham saja.”
Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu
dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata
Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya.
Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan
berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”
c. Usman Bin Affan

Dalam kitab Al Thabaqat, Taj-ul Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-
laki bertamu kepada Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan
seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya. Utsman
berkata kepada laki-laki itu, "Aku melihat ada bekas zina di matamu." Laki-
laki itu bertanya, "Apakah wahyu masih diturunkan sctelah Rasulullah Saw
wafat?" Utsman menjawab, "Tidak, ini adalah firasat seorang
mukmin." Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur
laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.
Selanjutnya Taj-ul Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih,
maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah
yang dilihatnya itu kotor atau bersih. Maqam orang-orang seperti itu berbeda-
beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak
mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena mengetahui
sebab kotornya, seperti Utsman r.a. Ketika ada seorang laki-laki datang
kepadanya, Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan
mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang perempuan.
Sekecil apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar
kemaksiatan itu. Kotoran itu bisa dibersihkan dengan memohon
ampun (istighfar) atau perbuatan-perbuatan lain yang dapat
menghilangkannya. Hal tersebut hanya diketahui oleh orang yang memiliki
mata batin yang tajam seperti Utsman bin Affan, sehingga ia bisa mengetahui
kotoran hati meskipun kecil, karena menghayalkan seorang perempuan
merupakan dosa yang paling ringan, Utsman dapat melihat kotoran hati itu
dan mengetahui sebabnya. Ini adalah maqam paling tinggi di antara maqam-
maqam lainnya.
d. Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib ra, selain dalam kehidupan pribadinya, ia adalah orang yang zuhud (sederhana

dalam hidup), beliau memandang bahwa zuhud bagi penguasa merupakan sesuatu yang penting

dan wajib. Beliau berkata, “Allah menjadikanku sebagai imam dan pemimpin dan aku melihat

perlunya aku hidup seperti orang miskin dalam berpakian, makan, dan minum sehingga orang-

orang miskin mengikuti kemiskinanku dan orang-orang kaya tidak berbuat yang berlebihan.”

Ali bin Abi Thalib memakai pakaian yang keras, yang dibelinya seharga lima
dirham. Pakaian itu bertambal sehingga dikatakan, “Wahai Imam Ali!
Pakaian apa yang engkau kenakan?” Beliau berkata, “Pakaian yang menjadi
contoh bagi Mukminin menjadi penyebab khusyuknya hati dan tawadhu’,
menyampaikan manusia kepada tujuan, merupakan syiar orang saleh, dan
tidak menyebabkan kesombongan. Alangkah baiknya kalau Muslimin
mencontohnya.

J. Kesimpulan

1. Tasawuf ialah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa pada kesungguhan amal untuk

menjauhkan keduniaan/ zuhud untuk melakukan pendekatan dari pada Allah SWT.

2. Posisi Tasawuf terhadap ilmu-ilmu Islam lainnya sangat jelas dan gamblang. Tasawuf

merupakan bagian tak berpisahkan dari keseluruhan bangunan Syari’ah; bahkan ia merupakan

ruh/hakikat/inti dari syariah.

3. Perkembangan tasawuf pada abad pertama dan kedua hijriyah disebut sebagai fase kezuhudan.

Baru pada abad ketiga dan keempat hujriyah disebut sebagai fase tasawuf kemudian pada abad

kelima hijriyah dikenal sebagai fase konsolidasi yakni memperkuat tasawuf dengan dasarnya

yang asli yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau yang sering disebut dengan tasawuf sunny yakni

tasawuf yang sesuai dengan tradisi (sunnah) Nabi dan para sahabatnya. Dan pada abad keenam

hijriyah muncultasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa (dzauq) dan rasio

(akal), tasawuf bercampur dengan filsafat.

4. Tasawuf menurut para ahli terbagi dalam tasawuf akhlaki, tasawuf amali dan tasawuf Falsafi

a. Tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak yakni takhalli, tajalli dan tahalli

b. Pengalaman tasawuf amali dibagi kedalam empat bidang yakni syari’at, thariqot, hakikat,

dan ma’rifat

c. Pengalaman tasawuf falsafi diantaranya dilakukan dengan hulul, wahdah Al-wujud dan ittihad

SHARE
MAKALAH PENGERTIAN TASAWUF
SECARA ETIMOLOGI
DAN TERMINOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Tasawuf dalam pengertian umum berarti kecenderungan mistisme universal yang ada sejak
dahulu kala, berdasarkan sikap zuhud terhadap keduniaan (asketisme). Dan bertujuan
membangun hubungan (ittishal) dengan al-mala’al-a’la yang merupakan sumber kebaikan
,emanasi dan iluminasi.

Maksudnya adalah ,tasawuf bukan monopoli umat tertentu , kebudayaan tertentu, agama tertentu,
maupun aliran filsafat tertentu.ia hadir ditengah masyarakat yunani kuno dalam filsafat
phytagoras. Di kalangan bangsa Persia, ia mewujud dalam filsafat mani dan zaroaster,
Sedangkan di india mistisme terkandung dalam ajaran budhisme, brahma dan
kitab weda.Namun di dalan Islam tasawuf mengandung banyak pengertian dan pendapat dari
kalangan para ahli dan sarjana sarjana.
Diharapkan dari penulisan makalah ini, dapat menambah pengetahuan khususnya tentang
pengertian akhlak tasawuf secara etimologi dan terminologi.

1. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :

1. Apa saja definisi Tasawuf secara etimologi menurut para ahli?


2. Apa sajakah pendapat para suffi,sarjana dan para ahli mengenei pengertian tasawuf secara
terminologi

REPORT THIS AD

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian tasawwuf secara etimologis
Kata tasawuf sebelumnya belum dikenal pada massa nabi dan sahabat. akar kata tasawuf
tersendiri tidak ditemukan dalam bahasa arab. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa
kata maupun definisi tasawuf tidak ditemukan dalam al qur’an, namun ada juga yang
berpendapat bahwa tasawuf bersumber dari al quran dan hadis.
Tasawuf yang merupakan ajaran mistik dalam islam memang mengutamakan pemakaian hati
,dzauqi (perasaan) dalam menghayati dan mengamalkan syariat . Para pengamal tasawuf
meyakini bahwa hanya dengan hatilah manusia dapat mencapai kepada hakikat ilahi ,karena
kemuliaan dan keutamaan manusia yang melebihi dari makhluk makhluk lainnya adalah
kemampuan untuk ma’rifat kepada Allah swt.[1]
Oleh imam al Gazali yang diungkapkannya dalam kuitab masterpiece-nya ,kitab ihya ulumuddin
pada bab keajaiban hati sebagai berikut

Artinya :

“Manusia apabila telah mengenal hatinya berarti dia telah mengenal dirinya sendiri dan
selanjutnya dia akan mengenal tuhannya”.

Seluruh sendi kehidupan rasulullah dapat dikatakan sebagai peletak dasar praktek tasawuf, tidak
hanya didasarkan pada pola pikirnya saja tetapi juga tindakan yang bersumberkan kebenaran.

Pengertian Tasawuf menurut para ahli:

Tasawuf barasal dari kata shuff yang berarti woll kasar karena orang orang suffi selalu memakai
pakain tersebut sebagai lambing kesedarhanaan. Seseorang disebut shuffi bukan sekedarkarena
dia memakai kain woll saja , tetapi karena kesucian dan kebersihan hatinya yang merupakan
karunia dari allah swt menurut al ghanimi.

Menurut harun nasution ,tasawuf berasal dari akar kata shafa yang berarti bersih atau suci
.disebut shuffi karena hatinya tulus dan bersih dihadapan tuhannya.Harun Nasution juga
mengatan tasawuf berasal dari kata shuff yang berarti wol kasar, karena orang orang suffi selalu
memakai pakaian tersebut sebagai lambang kesederhanaan. Hal ini merupakan reaksi terhadap
kehidupan mewah yang dinikmati oleh golongan pemerintah.
Menurut ibid kata tasawuf berasal dari kota shophos .kata tersebut berasal dari kata yunani yang
berarti hikmah

Menurut Ibrahim basuni,kata tasawuf berkaitan dengan kata arab asshifat karena para shuffi
sangat mementingkan sifat sifat terpuji dan berusaha keras meninggalkan sifat sifat tercela.

Menurut Ibrahim basuni, berasal dari ahlal shufah yaitu orang orang yang tinggal di suatu kamar
disamping masjid nabi di madinah. Mereka tidur diatas batu dengan pelana sebagai bentang.

Dari beberapa teori yang telah ditemukan para ahli umumnya cenderung memandang teori yang
disebut pada pendapat Al Ghanimi dan Harun Nasution adalah yang paling tepat menurut teori
kebahasaan.[2] Al sarraj, tokoh shuffi akhir abad ke-4 secara tegas menyutujui teori ini dan
mendukungnya dengan ungkapan bawha woll adalah pakaian para nabi dan simbol para wali dan
shuffi. Dengan demikian kata tasawuf merupakan bentuk master dari fi’il tasawuf yang berarti
mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan bulu domba atau wol kasar. Sebagai mana telah
diketengahkan pada awal perkembangannya, ciri khas dari para shuffi, disamping kesholehan
dan sifat zuhud mereka, adalah pakaian mereka yang berupa woll kasar, yang merupakan
lambing kesederhanaan yang menjadi salah satu sifat utama para shuffi tersebut.
Selain dari tokoh tokoh diatas ,Banyak para pakar yang memberikan definisi terhadap istilah
tasawuf.definisi satu dengan yang lainnya berbeda beda, tergantung dari sisi mana pakar tadi
meninjaunya. Ada yang melihat dari sisi sejarah kemunculannya, ada yang melihat dari sisi
fenomena sosisal diabad klasik dan pertengahan ,juga ada yang melihatnya dari sisi substansi
ajarannya. Disamping itu, ada juga yang melihatnya dari sisi tujuannya.
Teori pertama, Menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “sifat” dengan alasan bahwa para
sufi suka membahas sifat sifat allah sekaligus mengaplikasikan sifat sifat Allah tersebut dalam
perilaku mereka sehari-hari, sehingga sifat sifat itu menjadi kepribadiannya.

Teori kedua menyatakan bahwa tasafut diambil dari akar kata “shuffah” artinya selembar bulu,
sebab para shuffi dihadapan tuhannya merasa bagaikan selembar bulu yang terpisah dari
kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa.

Teori ketiga, sebagaimana yang dikemukakan oleh al-busti seorang pakar tasawuf dari al-azhar
mesir, menyatakan bahwa tasawuf berasal dari akar kata “as-safa” yang artinya suci, bersih, dan
murni, sebab para shuffi membersihkan jiwanya hingga berada dalam satu kondisi suci dan
bersih.

REPORT THIS AD

Diantara berbagai pendapat tentang asal usul tasawuf. menurut ahmad as-sirbasi, pendapat al-
gustilah yang paling kuat dan rajin, sebab kenyataannya tasawuf itu adalah upanya penyucian
hati supaya bias dekat dengan allah. Berbeda dengan as-sirbasi, ibnu khaldun berpendapat bahwa
tasawuf yang berasal dari kata “suff” yang artinya wool kasar adalah lebih rajin dan kuat, sebab
kenyataanny waktu pada waktu itu para sufi biasa memakai wol kasar sebagai tanda
kesederhanaan.

Dilihat dari tujuannya, seperti yang telah disinggung diatas, tasawuf adalah proses pendekatan
diri kepada allah dengan cara mensucikan hati (tasfiat al-qolbi). Allah yang maha suci tidak
dapat didekati kecuali oleh manusia yang suci. Manusia yang suci bukan hanya bias dekat
dengan tuhan, malah dapat melihat tuhan (al-ma’rifat) .

1. Pengertian tasawuf secara terminologis.


Tasawuf memiliki banyak sekali definisi.Tidak sedikit dari para ulama,sarjana dan tokoh-tokoh
terkemuka yang mengeluarkan pendapat mereka tentang pengertian tasawwuf
secara terminologi.Dan pendapat mereka pun berbeda satu sama lain.
Berikut bebrapa definisi tasawuf menurut tokoh tokoh islam

1. Basyir al-haris, mendefinisikan orang sufi adalah orang telah bersih hatinya, hatinya semata mata
hanya untuk allah.
2. Abu Muhammad al junrairi berkata tasawuf itu iyalah masuk kedalam budi menurut contoh yang
ditinggalkan oleh nabi dan keluar dari budi yang rendah.
3. Abu ali al-ruzbari berpendapat bahwa seorang sufi iyalah orang yang memakai kain shuf untuk
membersihkan jiwanya, menekan dan menyiksa nafsunya, meletakkan dunia dibawah tempat
duduk dan berjalan menurut contoh rasul Mustafa.
4. Abu bakar al kalabadzi berpendapat bahwa kata sufi memiliki semua arti penting seperti
penarikan diri dari dunia, menjauhkan jiwa dari keduniawian, meninggalkan semua tempat
tinggal yang telah mapan, secara tetap dan terus menerus mengadakan perjalanan (safar),
mengingkari kesenangan dunia(jasmani) bagi jiwanya, menyucikan tinggkah laku,
membersihkan batin, melapangkan dada dan mutu kepemimpinan.
5. Menurut makruf al-karakhi mengartikan tasawuf, seseorang disebut sufi jika mengambil hakikat
dan putus asa dari apa yang ada ditangani sesame makhluk. Ma’ruf al-kharakhi berkata:

Artinya:

“tasawuf adalah hanya menerima kebenaran dan tif=dak mengharapkan apa yang ada ditangan
para makhluk , barang siapa yang tidak sanggup menerima kefakiran berarti tidak berhasil
mencapai derajat tasawuf.

6. Abu husein an-nuri berkata tasawuf itu bukan suatu bentuk atau ilmu tetapi moral, berakhlak
dengan akhlak allah. Jadi tasawuf merupakan kesempurnaan moral yang semata mata hanya
untuk mencapai allah.
7. Imam junaid al Baghdadi mendefinisikan tasawuf dengan bahasa lain yaitu tasawuf adalah jika
engkau dilalaikan dari dirimu sendiri dan dihidupkan oleh Nya. Seorang sufi akan meninggalkan
segala miliknya dan dengan gigih berusaha mencapai segala yang menjadi miliknya, bila ia mati
dalam hal hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri, mak ia akan hidup dalam hal hal yang
berhubungan dengan allah. Imam al junaid al Baghdadi mengatakan:

Arinya:

“tasawuf adalah engkau ada bersama allah tanpa alaqoh (tanpa perantara)

8. Menurut Muhammad bin ali al-qasab, tasawuf adalah akhlak mulia yang Nampak di zaman yang
mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia.
9. Menurut usman al-makki menyatakan bahwa tasawuf adalah keadaan dimana seorang hamba
setiap waktu melakukan sesuatu perbuatan(amal) yang lebih baik dari waktu yang sebelumnya.
10. Syekh abdul qodhir berpendapat bahwa tasawuf adalah mansucikan hati dan melepaskan nafsu
dari pangkalnya dengan khalwat, riyadho, dan terus menerus berdzikir dengan dilandasi dengan
iman yang benar, mahabah, taubat, dan ikhlas.
11. Sirri Assaqoti (W.251H) berkata:

Artinya: “Tasawuf adalah suatu nama bagi 3 makna: yakini (1)Nur Makrifatnya tidak
memadamkan cahaya kewaraannya, (2)Tidak berbicara tentang ilmu batin yang bertentangan
dengan makna zahir Al kitab atau sunah, dan (3)Tidak terbawa oleh karomahnya untuk
melanggar larangan Allah.

BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
2. Pengertian tasawuf secara etimologi adalah pengertian Tasawuf secara bahasa..Banyak sekali
pendapat-pendapat dari para ahli mengenai pengertian tasawwuf secara etimologi.dari pendapat-
pendapat tersebut,dapat ditarik Kesimpulan bahwa tasawwuf berasal dari kata shuf,shafa,ahlus
shuffah dan lain sebagainya.yang maknanya dikaitkan dengan benda dan artefak-artefak
bersejarah yang mengandung makna kesucian dan kebersihan jiwa yang pada dasarnya memiliki
arti yang sama yaitu untuk lebih menekan hawa nafsu duniawi agar dapat meningkatkan iman
dan akhlak menjadi lebih baik dan pada akhirnya dapat lebih dekat dengan Allah SWT.

2.Pengertian tasawuf secara terminologi adalah pembahasan tasawuf secara istilah yang
didefinisikan oleh para ahli,suffi,dan para kalangan sarjana yang mengartikan tasawuf dengan
keadaan dimana seseorang meninggalkan urusan dunia dan lebih mementingkan kehidupan di
akhirat kelak.

1. Saran
Demikian makalah yang dapat penulis sampaikan.Penulis berharap dengan adanya makalah ini
dapat menambah wawasan dan memperdalam keimanan kepada Allah swt.Penulis menyadari
bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan dalam penyajian.Oleh karena itu,sudilah kiranya
pembaca memberi kritik untuk menyempurnakan makalah ini.Akhir kata,semoga makalah ini
bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Khalim,Samidi.Islam dan spiritualitas jawa.Semarang;Rasail Media Group,2008
Rusli,Ris’an.Tasawwuf dan tarekat.Jakarta;Rajawali pers,2013
Alba,Cecep.Tasawuf dan Tarekat.Bandung: Re
[1] Samidi khalim, islam & spiritualitas jawa, RaSAIL Media Group, semarang, 2008 hlm 13
[2] Ris’an rusli,tasawuf dan tarekat, rajawi pers, Jakarta, 2012, hlm 6.
REPORT THIS AD

REPORT THIS AD

Anda mungkin juga menyukai