Anda di halaman 1dari 8

Kepemimpinan secara harfiah bisa dikatakan sebagai proses yang membuat orang lain

bertindak.Dari penjelasan sederhana ini maka muncullah beberapa macam defenisi yang
intinya adalah kepemimpinan merupakan fenomena kelompok, kepemimpinan menuntun
orang lain melakukan tindakan untuk mencapai tujuan, dan meskipun tidak harus,
pemimpin biasanya terkait dengan kedudukan seseorang dalam organisasi.

Ada 4 (empat) alasan mengapa kepemimpinan itu perlu :

1. Dalam batas tertentu, desain organisasi sering tidak lengkap sedangkan


organisasi terdiri dari orang-orang yang membutuhkan sentuhan, memerlukan
inspirasi, dorongan dan motivasi.
2. Seseorang pemimpin diperlukan untuk mengindentifikasikan strategi baru yang
mungkin bisa dijalankan untuk menyikapi perubahan lingkungan eksternal.
3. Peran seorang pemimpin menjadi penting untuk melakukan koordinasi dan
menyelsaikan konflik.
4. Seorang pemimpin sangat diperlukan untuk memberikan motivasi, menginspirasi
dan menjaga agar karyawan mau terus terlibat dalam kehidupan organisasi.

Jenis pengaruh yang diharapkan dari seorang pemimpin agar organisasi berjalan efektif
tidak sama untuk semua pemimpin. Masing-masing pemimpin dituntut untuk memainkan
peran dan kemampuan berbeda tergantung pada level organisasi yang ditempati. Tiga
jenis perang yang biasanya dimainkan seorang pemimpin adalah
1. Peletak dasar (origination)
Sebagai peletak dasar , seorang pemimpin dituntut untuk membuat keputusan
strategis berkaitan dengan formulasi dan perubahan struktur organisasi.
Keputusan ini sangat penting karena akan menentukan misi dan budaya
organisasi.
2. Interpolasi
Berkaitan dengan upaya untuk menginterpretasikan keptusan strategi dan
mendesain metode untuk mengimplementasikan keputusan tersebut. Yang
termasuk interpolasi dalah melakukan adaptasi terhadap kebijakn baru organisasi.
Selain itu menutup kekurangan struktur organisasi yang berjalan juga merupakan
bagian dari interpolasi.
3. Administrasi.
Mengimplementasikan kebijakan dan prosedur yang telah dibuat sebelumnya
untuk menjaga agar organisasi bisa beroperasi secara efesien.

Ada 3 (tiga) teori kepemimpinan, yaitu :

1. Teori sifat
Teori ini lebih untuk mengetahui apakah seseorang bisa menjadi pemimpin yang
efektif, perhatian ditujukan pada sifat-sifat orang tersebut.
2. Teori perilaku
Perkembangan selanjutnya, fffaktor yang dianggap penting sebagai penentu
kepemimpinan bukan lagi sifat seseorang, melainkan perilakunya, yakni
bagaimana seseorang berinteraksi dan mempengaruhi orang lain.

3. Jika kedua teori yang sebelumnya level analisanya adalah individu dan kelompok, level
analisis teori kontingensi adalah organisasi sehingga bisa diartikan bahwa kepemimpinan
juga dipengaruhi situasi yang melingkupi proses terjadinya kepemimpinan.

Budaya Organisasi

Pengertian budaya organisasi secara umum salah satunya merupakan rangkaian dasar
dari asumsi-asumsi yang ada. Asumsi tersebut kemudian berkembang di suatu kelompok
menjadi acuan bertingkah laku dalam organisasi. Kebiasaan inilah yang akan diwariskan
kepada generasi penerus sebagai cara pandang, dasar bertindak dalam organsiasi.

Sedangkan menurut para ahli :

 Budaya organisasi adalah kumpulan asumsi dan nilai baik yang disadari maupun tidak
yang dapat mengintegrasikan organisasi. Asumsi dan nilai tersebut menjadi penentu
tingkah laku anggota organisasi (Walter R. Freytag).
 Definisi budaya organisasi yaitu pola dari rangkaian asumsi dasar yang ditemukan,
dibentuk dan berkembang pada kelompok. Asumsi tersebutk memiliki tujuan agar
organisasi mampu mengahadapi permasalahan yang muncul diakbatkan
penyesuaian eksternal dan integrasi internal yang telah berjalan dengan baik.
Sehingga harus diajarkan kepada generasi berikutnya mengenai metode untuk
mencapai pemahaman, bagaimana memikirkan dan merasakan terkait problematika
yang ada (Schein).
 Budaya organisasi merupakan nilai-nilai yang menjadi acuan SDM dalam
menyelesaikan problem eksternal serta usaha untuk menyesuaikan integrasi ke
internal perusahaan sehingga tiap anggota organisasi perlu mengerti nilai-nilai yang
ada untuk berperilaku di dalam organisasi (Susanto).

Budaya organisasi menjadi bagian dari teori komunikasi. Teori komunikasi yang
membahas seluruh simbol dalam berinteraksi seperti action, kebiasaan, obrolan, dan
prinsip yang terkait.

Budaya organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang perlu diketahui dan dipahami. Adapun
karakteristik terssebut adalah :

1. Adanya Inovasi dan Pengambilan Resiko. Karakteristik ini mencoba mendorong


anggota untuk bersikap selalu inovatif dalam bekerja khususnya pada penyelesaian
masalah. Selain itu anggota diminta tidak takut dalam mengambil resiko asalkan telah
melalui perhitungan yang matang.
2. Memperhatikan secara mendetail. Para anggota organisasi diminta fokus pada hal
yang dikerjakan dan selalu teliti dan mendetail dalam menganalisis
3. Berorientasi pada kebermanfaatan. Manajemen organisasi memusatkan pada
keluaran khususnya pada kebermanfaatan bagi berbagai pihak.
4. Berorientasi pada orang. Setiap keputusan yang diambil oleh organisasi harus melalui
pertimbangan bahwa dampaknya harus positif terhadap anggota dalam organisasi.
5. Berorientasi pada tim. Program dan tindakan dalam organisasi condong pada kinerja
tim dibandingkan kinerja personal.
6. Bersifat Agresif. Budaya organisasi membuat anggota bertindak agresif dalam
bekerja.
7. Stabilitas. Budaya dalam organisasi memberi penmekanan pada stabilitas status quo.
Berdasarkan artikel tentang Kepemimpinan dan Budaya Organisasi yang menekankan
pada peran seorang pemimpin sebagai pelopor penciptaan dan pemeliharaan budaya
suatu organisasi, saya beranggapan bahwa fase-fase yang ada tersebut lebih kepada
kepemimpinan dalam perubahan.

Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan kearah yang
dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, di bagian apapun, tidak berubah dan
tidak tumbuh. Sebuah organisasi tidak bisa tumbuh di luar sampai para pemimpinnya
sendiri tumbuh di dalam. Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka
pertumbuhan organisasi atau Pengaruh Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi
(Setyaningsih SU.) 125 perusahaan akan terjadi secara otomatis.

Perubahan lingkungan (environmental change) akan mengakibatkan tekanan pada


organisasi untuk melakukan perubahan organisasional (organizational change). Di
tengah kuatnya arus perubahan lingkungan, tanpa perubahan diri secara tepat dan
signifikan organisasi tersebut niscaya akan jatuh, bahkan akan mati secara cepat.

Sejumlah faktor lingkungan eksternal yang mendorong perubahan, yaitu kekuatan


kompetisi, kekuatan ekonomi, kekuatan politik, kekuatan globalisasi, kekuatan sosial-
demografik, dan kekuatan etika. Perubahan seringkali perlu dirancang, direkayasa dan
dikelola oleh suatu kepemimpinan yang kuat, visioner, cerdas, dan berorientasi
pengembangan .

Dari teori-teori yang ada, terdapat teori kepemimpinan beorientasi perubahan yang dirasa
sesuai dengan artikel tersebut yaitu kepemimpinan transformasional.

Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan mempunyai


peran sentral serta strategi dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin
transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa
depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang
lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Komponen Perilaku Kepemimpinan Transformasional antara lain :

1. Kharismatik. Bahwa kharisma secara tradisional dipandang sebagai hal yang bersifat
inheren dan hanya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin kelas dunia.
2. Pengaruh idealis. Para pemimpin transformasional berfungsi sebagai role model bagi
pengikut. Karena pengikut percaya dan menghormati pemimpin, mereka meniru
orang ini dan internalisasi kedalam dirinya.
3. Motivasi Inspirasi. Pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas bahwa mereka
mampu mengartikulasikan kepada pengikut.
4. Stimulasi intelektual. Pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan kembali cara
kerja dan mencari cara-cara kerja baru dalam menyelesaikan tugasnya.
Menurut Robbins dan Judge (2008:91), ciri-ciri Kepemimpinan Transformasional, yaitu:
a. Idealized Influence (pengaruh Ideal)

Idealized Influence (pengaruh Ideal) adalah perilaku pemimpin yang memberikan visi
dan misi, memunculkan rasa bangga, serta mendapatkan respek dan kepercayaan
bawahan.
b. Inspirational Motivation (Motivasi Inspirasional)

Inspirational Motivation adalah perilaku pemimpin yang mampu mengkomunikasikan


harapan yang tinggi, menyampaikan visi bersama secara menarik dengan
menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan upaya bawahan dan mengispirasi
bawahan untuk mencapai tujuan yang menghasilkan kemajuan penting bagi
organisasi.
c. Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual)

Intellectual Stimulation adalah perilaku pemimpin yang mampu meningkatkan


kecerdasan bawahan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi mereka,
meningkatkan rasionalitas, dan pemecahan masalah secara cermat.
d. Individualized Consideration (Pertimbangan Individual)

Individualized Consideration adalah perilaku pemimpin yang memberikan perhatian


pribadi, memperlakukan masing-masing bawahan secara individual sebagai seorang
individu dengan kebutuhan, kemampuan, dan aspirasi yang berbeda, serta melatih
dan memberikan saran. Individualized consideration dari Kepemimpinan
transformasional memperlakukan masing-masing bawahan sebagai individu serta
mendampingi mereka, memonitor dan menumbuhkan peluang.

Menurut Luthans (Safaria, 2004:63), pemimpin transformasional memiliki beberapa


karakteristik tertentu, yaitu:

1. Pemimpin mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai agen perubahan.


2. Pemimpin mendorong keberanian dan pengambilan resiko.
3. Pemimpin percaya pada orang-orang.
4. Pemimpin dilandasi oleh nilai-nilai.
5. Pemimpin adalah seorang pembelajar sepanjang hidup (lifelongs learners).
6. Pemimpin memiliki kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan
ketidakpastian.
7. Pemimpin juga adalah seorang pemimpin yang visioner.

Prinsip-prinsip yang harus diciptakan oleh seorang pemimpin transformasional, yaitu


(Erik Rees, 2001):
1. Simplifikasi, keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan
menjadi cermin dan tujuan bersama.
2. Motivasi, Kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat
terhadap visi yang sudah dijelaskan adalah hal kedua yang perlu kita lakukan.
3. Fasilitasi, dalam pengertian kemampuan untuk secara efektif memfasilitasi
pembelajaran yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok, atau
pun individual.
4. Mobilitasi, yaitu pengerahan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan
memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya dalam mencapai visi dan tujuan.
5. Siap Siaga, yaitu kemampuan untuk selalu siap belajar tentang diri mereka sendiri
dan menyambut perubahan dengan paradigma baru yang positif.
6. Tekad, yaitu tekad bulat untuk selalu sampai pada akhir, tekad bulat untuk
menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas. Untuk ini tentu perlu pula didukung
oleh pengembangan disiplin spiritualitas, emosi, dan fisik serta komitmen.
Pemimpin transformasioanal adalah orang yang membantu perusahaan dan orang lain
untuk membuat perubahan positif dalam aktivitas mereka. Perubahan itu sering kali
berskala besar dan dramatis.Setelah menetapkan arah baru yang menarik bagi
perusahaan atau menciptakan masa depan, pemimpin biasanya memilih salah satu dari
enam metode yang berada untuk melahirkan perubahan, yaitu (Dubrin, 2005:143-145):
1. Mengubah kultur organisasi. Tindakan paling luas yang dilakukan pemimpin
transformasional adalah mengubah kultur organisasi. Ini berarti bahwa nilai, sikap,
dan bahkan atmosfer organisasi diubah. Perubahan paling umum adalah mengubah
kultur dari kultur birokratis, kaku dan sedikit mengambil resiko menjadi kultur di mana
orang bisa lebih bergerak dan tidak terlalu dibatasi oleh aturan dan regulasi.
2. Meningkatkan kesadaran orang tentang imbalan. Pemimpin transformasional
membuat anggota kelompok sadar akan arti penting imbalan tertentu dan bagaimana
cara mendapatkannya. Dia mungkin menyebutkan kebanggaan yang akan dirasakan
karyawan jika perusahaan menjadi nomor satu dibidangnya.
3. Membantu orang tidak sekedar mengejar kepentingan diri. Pemimpin
transformasional membantu anggota kelompok untuk melihat pada gambaran yang
lebih besar demi kebaikan tim dan organisasi. Sedikit demi sedikit pemimpin membuat
pekerja menyadari bahwa tindakan mereka memberi kontribusi pada tujuan yang lebih
luas ketimbang sekedar memenuhi kepentingan diri sendiri.
4. Membantu orang mencari pemenuhan diri. Pemimpin transformasional membantu
orang lain untuk tidak sekedar berfokus pada kesuksesan kecil-kecilan, tetapi juga
pada usaha mencari pemenuhan diri.
5. Memberi pemahaman kepada orang lain tentang keadaan urgen. Untuk
menciptakan transformasi, pemimpin mengumpulkan para manajer kritis dan
karyawan lainnya dan melibatkan mereka dalam diskusi urgensi perubahan.
6. Mengejar kejayaan. Tindakan transformasional tertinggi adalah membuat orang lain
bersemangat untuk melakukan kerja keras demi kebesaran dan kejayaan organisasi

Referensi :
BMP EKMO5101 Perilaku Organisasi hal. 7.3 s.d 7.37
https://jurnalmanajemen.com/budaya-organisasi/
https://media.neliti.com/media/publications/23380-ID-pengaruh-kepemimpinan-dalam-
perubahan-organisasi.pdf
https://www.kajianpustaka.com/2017/08/kepemimpinan-transformasional.html
https://jurnalmanajemen.com/budaya-organisasi/
https://ariefyantoshared.wordpress.com/2013/09/29/kepemimpinan-transformasional/

Anda mungkin juga menyukai