Anda di halaman 1dari 16

Tugas Makalah Modul Penganggaran

Sistem Informasi Akuntansi Pemerintah

Disusun Oleh :

Dimas Wibisono Putra (10)

Maulana Yusuf (20)

Ni Komang Ayu Rosalina (26)

Sakti Brata Siwi (33)

Politeknik Keuangan Negara STAN

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini, dunia sedang mengalami transformasi menuju era masyarakat informasi.
Kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan pesat memiliki potensi yang
sangat luas. Perkembangan ini membuka peluang bagi pengaksesan, pengelolaan, dan
pendayagunaan informasi dalam volume yang besar secara cepat dan akurat. Begitu
juga pemerintah yang sedang melaksanakan proses transformasi menuju e-goverment.
Dalam bidang Manajemen Keuangan Publik, perubahan yang terbesar yaitu dalam
modernisasi anggaran dan perbendaharaan negara, yang diwujudkan melalui Sistem
Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) serta Sistem Akuntansi Keuangan
Tingkat Instansi (SAKTI). SPAN adalah bagian dari sistem pengelolaan keuangan
negara yang meliputi penetapan proses bisnis dan sistem informasi manajemen DIPA,
penyusunan anggaran, manajemen kas, manajemen komitemen, manajemen
pembayaran, manajemen penerimaan, dan manajemen pelaporan. Sedangkan SAKTI
adalah aplikasi yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan sistem perbendaharaan
dan penganggaran negara pada instansi pemerintah meliputi modul penganggaran,
modul komitmen, modul pembayaran, modul bendahara, modul persediaan, modul aset
tetap, modul piutang, serta modul akuntansi dan pelaporan.
Perubahan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan anggaran berpengaruh
terhadap proses penyusunan dokumen Daftar Isian Pelaksanana Anggaran yang
berfungsi sebagai dasar pelaksannan kegiatan bagi satker. DIPA adalah dokumen
pelaksanaan anggaran yang disusun oleh Pengguna Anggaran dan disahkan oleh
Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara (BUN). DIPA berlaku mulai tanggal 1 januari sampai dengan 31
desember tahun anggaran bersangkutan.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa itu modul anggaran?
2) Bagaimana proses bisnis berdasarkan modul anggaran?
3) Apa saja input, proses dan output modul anggaran?
4) Apa saja input, proses dan output modul anggaran?
5) Bagaimana proses bisnis berdasarkan modul anggaran?
6) Bagaimana gambaran sistem modul anggaran?
7) Bagaimana keterkaitan modul anggaran dengan modul lain dalan SAKTI?
8) Apa saja kontrol pengendalian atau hal yang perlu diperhatikan?
1.3 Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui proses bisnis pada modul anggaran
2) Untuk mengetahui input, proses dan output modul anggaran
3) Untuk mengetahui gambaran sistem modul anggaran
4) Untuk mengetahui keterkaitan modul anggaran dengan modul lain dalan SAKTI
5) Untuk mengetahui kontrol pengendalian atau hal yang perlu diperhatikan
BAB II
LANDASAN TEORI
1.4 Dasar Hukum
Adapun dasar hukum dari penganggaran yaitu sebagai berikut:
a. UU no. 1 tahun 2014 pasal 14 mengenai Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran;
b. PMK Nomor 154/PMK.05/2014 tentang Pelaksanaan Sistem Perbendaharaan
dan Anggaran Negara;
c. PMK Nomor 159/PMK.05/2018 tentang Pelaksanaan Ploting Sistem Aplikasi
Keuangan Tingkat Instansi;

2.2 Kerangka Teori


Modul Penganggaran adalah bagian dari SAKTI yang berfungsi untuk penyusunan
Rencana Kerja dan Anggaran sampai dengan penyusunan Dokumen Pelaksanaan
Anggaran termasuk di dalamnya proses perencanaan penyerapan anggaran dan
penerimaan/pendapatan dalam periode satu tahun anggaran. Proses yang terdapat
pada modul penganggaran SAKTI mencangkup hal-hal berikut:
a. Penyusunan Standar Biaya Kegiatan (SBK);
b. Penyusunan Anggaran berupa Kertas Kerja atau RKAKL/DIPA;
c. Standar Struktur Biaya;
d. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah;
e. Rencana Penarikan Dana;
f. Rencana Penerimaan Dana; dan
g. Revisi Anggaran dan Review Revisi Anggaran.

2.3 Best Pratice


Pemerintah dalam mewujudkan terbentuknya e-goverment di lingkup
Kementerian Keuangan melaksanakan sebuah proyek penyempurnaan manajemen
keuangan yang dikenal dengan nama Goverment Financial Management and Revenue
Administration Project (GFMRAP). GFMRAP meliputi 4 bidang besar, yaitu Manajemen
Keuangan Publik, Administrasi Pendapatan, Tata kelola dan Akuntabilitas, dan Tata
Kelola Proyek dan Implementasi.
Hal yang menjadi perubahan terbesar dalam bidang Manajemen Keuangan Publik
yaitu dengan diimplementasikannya SPAN. SPAN akan diimplementasikan dengan
menggunakan Treasury Reference Model (TRM) atau Model Referensi
Perbendaharaan sebagai dasar atau acuan, dengan modifikasi sesuai dengan
kebutuhan Pemerintah Indonesia. Institusi yang mencanangkan penerapan sistem
perbendaharaan dengan landasan TRM yaitu World Bank dan IMF. IMF dan World
Bank telah ikut serta dalam memberikan arahan kepada pemerintahan di negara
anggota terkait pengembangan kebijakan dalam sektor penganggaran dan akuntansi
sehingga sesuai dapat sesuai dengan praktik terbaik di lingkungan internasional.
TRM ini bertujuan untuk memfasilitasi proses perancangan sistem perbendaharaan.
Dengan menggabungkan fitur desain dan praktik terbaik yang diambil dari berbagai
pengalaman internasional, TRM diharapkan dapat memfasilitasi pemerintah dalam
proses reformasi kelembagaan. TRM akan membantu menerapkan praktik akuntansi,
pengeluaran fiskal, dan memberikan panduan tentang standar yang ditentukan oleh
berbagai standar internasional.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Proses Bisnis Modul Penganggaran


Proses bisnis modul penganggaran terdiri atas 3 aktivitas utama, antara lain:
1. penyusunan RKA-K/L
2. pengesahan DIPA, dan
3. revisi DIPA
Ketiga proses bisnis inilah yang akan kita bahas selanjutnya.
A. Proses bisnis penganggaran pada SAKTI
SAKTI memberikan fitur-fitur penganggaran berupa fitur penyusunan SBK
(Standar Biaya Kegiatan), penyusunan anggaran, dan perencanaan realisasi
anggaran di dalam modul anggarannya. Proses bisnis fitur-fitur tersebut dapat
dilihat dalam Gambar 1. Modul Penganggaran SAKTI.

Gambar 1. Modul Penganggaran SAKTI


Berikut penjelasan proses bisnis dari setiap fitur yang disajikan di atas:
1) Penyusunan SBK
Dalam menyusun Standar Biaya Kegiatan, diperlukan SBK (Standar Biaya
Keluaran) dan SBM (Standar Biaya Masukan) sebagai acuan dalam
perhitungan kebutuhan anggaran. SBK diperlukan dalam menentukan
standar keluaran atas kegiatan yang dilakukan oleh K/L di wilayah tertentu.
Masing-masing Eselon I berhak untuk mengajukan SBK yang kemudian akan
ditindaklanjuti oleh DJA.
2) Penyusunan anggaran (RKA-K/L)
Penyusunan RKA-K/L terdiri atas dua tahapan, antara lain:
a) Tahap penyusunan kertas kerja di level satker
Proses ini dimulai dari review baseline, penyusunan kertas kerja, dan
penyusunan Rencana Realisasi Anggaran yang dilakukan oleh user
sebagai operator/ validator. Langkah selanjutnya yaitu validator
memvalidasi kertas kerja dan Rencana Realisasi Anggaran, jika data
sudah tervalidasi, approver akan melakukan persetujuan atas kertas kerja
dan rencana realisasi anggaran.
b) Tahap konsolidasi di level unit Eselon I
Setelah kertas kerja dan rencana realisasi anggaran sudah disetujui pada
tingkat satker, data akan dikirimkan ke Eselon I masing-masing satker
untuk dikonsolidasi menjadi RKA-K/L. Hasil konsolidasi ini akan di review
kembali yang kemudian akan divalidasi dan disetujui pada tingkat Eselon
I. RKA-K/L kemudian dikirimkan kepada DJA melalui portal SPAN.
3) Perencanaan realisasi anggaran
Proses ini ada dalam tingkat satker yang terdiri sari Rencana Penarikan
Dana, rencana penerimaan dan pergerakan informasi, Perencanaan Kas
Bulanan/AFP. Rencana Penarikan Dana dimulai dari penyusunan POK
(Petunjuk Operasional Kegiatan) yang mengacu pada kertas kerja sakter
yang telah disetujui. POK kemudian disetujui oleh approver yang kemudian
secara otomatis menjadi dasar dalam perhitungan Rencana Penarikan Dana
Bulanan. Informasi dalam rencana ini akan digunakan sebagai acuan Hal III
DIPA, penyusunan Rencana Kas Harian dan Mingguan, dan dasar
perhitungan AFP.
B. Interaksi proses bisnis SAKTI dan SPAN

Gambar 2. Penganggaran SPAN SAKTI

Dalam penjelasan modul SAKTI pada fitur penyusunan RKA-K/L sebelumnya,


dijelaskan bahwa RKA-K/L akan ditelaah oleh DJA. Hasil telaah ini akan mejadi
dasar penyusunan Keputusan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja
Pemerintah Pusat. Rincian inilah yang akan menjadi dasar pembentukan DIPA
(Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). DJA akan menghasilkan DIPA induk yang
kemudian di tingkat sakter akan menerima DIPA petikan yang sudah disahkan.
DIPA petikan akan menjadi dasar Pagu Anggaran yang dapat digunakan dalam
modul SAKTI lainnya.
C. Revisi Anggaran
Revisi anggaran dapat terjadi ketika terdapat perubahan rincian anggaran
yang disebabkan penambahan atau pengurangan pagu anggaran belanja
termasuk pergeseran rincian anggarannya, perubahan atau pergeseran rincian
anggaran dalam hal pagu tetap, dan perubahan karena ralat/ kesalahan
administrasi. (PMK No. 32 tahun 2013). Berikut adalah mekanisme penyelesaian
revisi anggaran pada level-level tertentu:
1) Mekanisme penyelesaian anggaran pada Kanwil DJPB
Gambar 3. Mekanisme penyelesaian anggaran pada Kanwil DJPB

Mekanisme ini dimulai dengan KPA/Eselon I menyampaikan usulan revisi


anggaran yang menjadi kewenangan DJ PB beserta dokumen pendukungnya.
Kanwil akan meneliti usulan revisi serta kelengkapan dokumen pendukung, jika revisi
tidak disetujui, Kanwil DJ PB akan menerbitkan surat penolakan revisi. Sebaliknya,
jika revisi disetujui, ADK RKA-K/L DIPA akan di-upload ke server. Setelah divalidasi,
terbitlah pemberitahuan sistem mengenai pengesahan revisi dan kode digital stamp
yang baru. Pemberitahuan ini akan dilampirkan pada surat persetujuan oleh Kanwil
DJ PB. Pengesahan revisi ini akan menjadi dasar KPA dalam melaksanakan
kegiatan.
2) Mekanisme penyelesaian anggaran pada KPA

Gambar 4. Mekanisme penyelesaian revisi anggaran pada KPA


Revisi dimulai dengan KPA merevisi anggaran sesuai
kewenangannya. KPA memeriksa apakah revisi ini akan mengubah DIPA
Petikan atau tidak. Jika DIPA Petikan tidak berubah, KPA
memperbaharui ADK RKA-K/L DIPA, mencetak, dan menetapkan POK.
Jika revisi akan mengakibatkan perubahan pada DIPA Petikan, KPA
menyiapkan usulan revisi anggaran beserta dokumen pendukung. Bila
satker yang direvisi merupakan BLU dan pagunya tidak berubah, Kanwil
DJ PB akan langung menyelesaikan revisi, namun apabila satker
bukanlah BLU dan pagunya berubah, revisi akan diteruskan ke Eselon I
untuk dipreses lebih lanjut.
3) Mekanisme penyelesaian anggaran pada Unit Eselon I K/L

Gambar 5. Mekanisme penyelesaian anggaran pada Unit Eselon I

Dalam mekanisme ini, KPA mempersiapkan usulan revisi anggaran


yag menjadi kewenangan Eselon I beserta bukti pendukung. Eselon I
kemudian meneliti surat usulan revisi, mengecek kewenangan, dan
memastikan kelengkapan dokumen pendukung. Selanjutnya Eselon I akan
menyiapkan surat usulan revisi anggaran dan dokumen pendukung
sebagai dasar DJA untuk mengesahkan dan meng-update sistem
database. Setelah meng-update database RKA-K/L DIPA, DJA akan
mengesahkan revisi anggaran.

3.2 Input, Proses/Aktivitas, dan Output


a. Input
1. RUH (rekam, ubah, hapus)
a) Belanja, POK, Renkas Harian, Renkas Bulanan, PHLN, Saldo Awal BLU
b) Pendapatan dan Rencana Penerimaan
c) Pegawai
d) SBK
2. Data Internal SAKTI
a) Kuitansi/ bon (Modul Bendahara)
b) Pemasok dan kontrak (Modul Komitmen)
c) SPP/ Resume Tagihan (Modul Pembayaran)
d) Realisasi/SP2D (Modul Pembayaran)
b. Proses/Aktivitas
Proses bisnis modul penganggaran terdiri atas 3 aktivitas utama, antara lain:
1. penyusunan RKA-K/L
2. pengesahan DIPA, dan
3. revisi DIPA

c. Ouput
1. ADK
a) RKA-K/L/DIPA
b) Pegawai
c) Usulan SBK (level Unit)
2. Dokumen
a) Petikan DIPA
b) Matriks Usulan Revisi
3. Report
a) Lampiran RKA Satker
b) Rincian Kertas Kerja Satker
c) Summary Akun
d) Per-unit, per-lokasi, per-program, per-fungsi, per- subfungsi, dll
4. Data
Pagu DIPA (COA) untuk Modul Terkait

3.3 Gambaran Modul Penganggaran

A. Proses yang terdapat pada modul penganggaran mencakup:


1. Penyusunan Standar Biaya Kegiatan (SBK);
2. Penyusunan RKA-K/L;
3. Penyusunan DIPA;
4. Perencanaan Realisasi Anggaran.
B. Ruang Lingkup Modul Penganggaran:

1. Fungsi Penyusunan Anggaran (Kertas Kerja/RKAKL-DIPA): Belanja,


Pendapatan/Penerimaan, Informasi BLU, Informasi Valas/PHLN, KPJM, Terima
Data Pegawai.
2. Fungsi Penyusunan Rencana Penarikan Belanja Dan Penerimaan/Pendapatan:
o Rencana Penarikan Belanja: POK/Hal III DIPA dan Perencanaan Kas
(Renkas) harian.
o Rencana Penarikan Penerimaan/Pendapatan.
3. Fungsi Penyusunan Revisi Anggaran:
o Revisi DIPA, Revisi Renkas

C. Level user yang terlibat dalam Modul Penganggaran


a. Level Satuan Kerja , sebagai pemberi usulan anggaran
b. Level Unit/ Eselon I, sebagai konsolidator
Dimana masing – masing Level user dapat menentukan peran user yang terdiri
dari:
 Operator Penganggaran : pelaksana teknis penganggaran yang melakukan
fungsi teknis atas data transaksi terkait penganggaran;
 Checker/Validator Penganggaran: pelaksana/pejabat penganggaran yang
diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk memvalidasi semua proses
teknis yang dilakukan oleh operator ;
 Approver Penganggaran: pejabat penganggaran yang diberikan kewenangan
dan tanggung jawab untuk menyetujui semua data transaksi penganggaran yang
sudah divalidasi .
Gambar 6: Gambaran Modul penganggaran SAKTI

3.4 Keterkaitan/Hubungan Modul Anggaran dengan Modul Lain

REALISASI/KOMITMEN/REFERENSI/POSTING,
CLOSING

DB SAKTI ANGGARAN
RKAKL/AFP/DIPA/RDIPA/JURNAL ANGGARAN

Dalam integrasinya Modul Anggaran akan membutuhkan infomasi realisasi anggaran


yang akan didapat dari Modul Pembayaran, informasi transaksi kontrak dari Modul
Komitmen, informasi Posting dan Closing dari Modul GLP dan referensi dari Modul
Administrasi.

3.5 Kontrol Anggaran

Mekanisme yang digunakan untuk melakukan pengujian Ketersediaan Dana pada SPAN,
terbagi menjadi 2, yaitu:

a. Absolute : Tidak boleh minus (bisa secara 2 digit ataupun 6 digit)


b. Advisory : Boleh minus

Contoh Budget Control:


B20000 : Absolute secara 2 digit untuk akun-akun berawalan 52

B11129 : Absolute secara 6 digit untuk akun 511129

B12411 : Absolute secara 6 digit untuk akun 512411

B10000 : Boleh minus untuk akun-akun berawalan 51

Kontrol Pengendalian / Hal yang perlu diperhatikan

1. Pejabat pengelolaan keuangan pada satker akan berinteraksi langsung dengan


Sistem
2. Approval melalui SAKTI (jangan serahkan password kepada operator)
3. Akan diterapkan tanda tangan digital (digital signature) sebagai wujud dari full
electronic transaction bagi KPA, PPK dan PPSPM
4. Laporan Keuangan dan Manajerial dapat dihasilkan sewaktu-waktu langsung dari
komputer tanpa menunggu disiapkan oleh staf
5. Revisi anggaran TA 2018 dan Penyusunan Anggaran TA 2019 tidak lagi
menggunakan RKAK/L-DIPA akan tetapi sepenuhnya menggunakan SAKTI. Dalam
waktu dekat fitur KPJM juga akan tersedia dalam SAKTI.
6. Tertib administrasi dalam pencatatan transaksi, misal: dalam pencatatan kwitansi
harus sesuai dengan urutan terjadinya transaksi. Jangan menunda perekaman
kwitansi ke dalam sistem.
7. Hal-hal yang berpengaruh terhadap kulitas laporan keuangan diantaranya: tidak
segera melakukan pendetailan persediaan dan asset, tidak segera melakukan
pencatatan SP2D atas SPM yang sudah diproses oleh KPPN
8. DS pada matriks usulan revisi semula berisi null
9. Validasi data belanja yang tidak valid
10. Salah satu atau beberapa Output pada RUH Belanja sedang digunakan oleh salah
satu pengguna
11. Jumlah volume pada matriks usulan revisi berubah sehingga DS berubah
12. Jumlah pagu pada form RUH belanja tidak sama dengan pagu total.
13. ADK revisi tidak berbentuk pada folder direktori
14. Proses persetujuan yang membutuhkan waktu relatif lama
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa

a. Modul Anggaran merupakan Modul yang memuat proses Penyusunan Rencana


Kerja Anggaran sampai dengan penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran
termasuk didalamnya proses perencanaan penyerapan anggaran dan penerimaan
dalam periode satu tahun anggaran.
b. Modul Anggaran memiliki output berupa RKA-KL dan DIPA.
c. Dalam kaitannya dengan modul lain dalam SAKTI, Modul Anggaran memiliki peran
sebagai penyedia dokumen anggaran.

4.2. Saran

Pelaksanaan modul anggaran harus dikontrol dengan baik. Tidak hanya kontrol terhadap
sistem melainkan juga kontrol pada sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.
Penerapan sanksi yang tegas perlu diadakan guna mencegah oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab. Selain itu, masalah seperti proses persetujuan yang membutuhkan
waktu relatif lama perlu dibenahi agar proyek-proyek tidak terlambat.