Anda di halaman 1dari 15

Nurul Fatihah Auliani 1710711076

Riski Dwiana 1710711080

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN


KLIEN DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Proses Keperawatan
1. Deskripsi Pasien
Nn. Nurul 20 tahun masuk ke rumah sakit jiwa tanggal 4 September
2019. Pasien tidak mau mandi dan gosok gigi sejak kejadian gagal dalam
pemilu DPRD. Tanggal 5 September 2019 perawat melakukan pengkajian
dan melakukan intervensi hari pertama. Dari hasi pengkajian didapat klien
mengatakan tubuhnya gatal dan bau, belum mandi, dan terlihat kotor.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: Kebersihan diri

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu mandi secara mandiri
b. Pasien mampu membersihkan rambut/keramas secara mandiri
c. Pasien mampu gosok gigi secara mandiri
d. Pasien mampu memotong kuku secara mandiri

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 1: Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri (pengkajian dan
melatih cara menjaga kebersihan diri: mandi
a. Identifikasi masalah perawatan diri: kebersihan diri: mandi
b. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri: mandi
c. Menjelaskan alat-alat untuk mandi
d. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri : mandi dan ganti
pakaian, sikat gigi, cuci rambut, potong kuku
e. Melatih pasien mempraktekkan cara mandi.
f. Memasukkan dalam jadwal kegiatan.

B. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


1. Fase Orientasi:
a. Salam Terapeutik
“Selamat Pagi, Kak”.
“Saya suster Riski Dwiana, suster suka dipanggil suster Riski, saya
suster yang bertugas pada pagi ini dari jam 08.00-14.00 WITA.
Selama 1 minggu kedepan suster akan merawat Kakak.”

b. Validasi klien
“Nama Kakak siapa? Biasanya dipanggil siapa, kak?”
“Suster lihat dari tadi Bapak menggaruk badannya. Kenapa, pak?”
“Bapak, apa tadi pagi bapak sudah mandi?”
“Kenapa, Bapak belum mandi?”

c. Kontrak Kerja
“Kalau begitu kak, bagaimana kalau kita bicara tentang perawatan
kebersihan diri, kira-kira waktunya 20 menit, tempatnya disini saja.
Gimana kak?”

2. Fase Kerja:
SP 1: Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri (pengkajian
dan melatih cara menjaga kebersihan diri: mandi
a. Identifikasi masalah perawatan diri: kebersihan diri
“Kakak berapa kali biasanya mandi”
“Kenapa jadi seperti itu, kak?”

b. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri.


“Kalau begitu kita sekarang bicara tentang pentingnya mandi. Coba
bapak pikirkan, kalau bapak mandi, apa yang kakak rasakan?”
“Nah, sekarang suster akan menyebutkan gunanya jika kakak mandi.
Pertama, Kakak bersih. Kalau, yang kedua apa Kakak?”
“Coba, Kakak ingat-ingat dulu”
“Iya kakak benar, lalu apa lagi kak?”
“Iya, Kakak bagus sekali. Terus, kalau kita tidak mandi apa
akibatnya?” “Iya, Kakak bagus sekali”

c. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri


“Baiklah kak, Sekarang coba kakak sebutkan dulu alat-alat yang
biasanya digunakan bapak untuk mandi”
“Suster sebutkan dulu ya kak.. pertama sabun.. lalu apa lagi kak?”
“Benar kak, lalu apa lagi kak?”
“Benar sekali kakak”

d. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri: mandi dan


ganti pakaian, sikat gigi, cuci rambut, potong kuku dan melatih
pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri.
“Nah kakak sudah tahu kan alat-alat untuk mandi. Sekarang suster
akan menjelaskan cara-cara mandi, sikat gigi, cuci rambut, dan potong
kuku,”
“Kita mulai dengan mandi ya kak, pertama kita guyur seluruh tubuh,
ambil sabun, tuangkan sabun ke telapak lalu gosok-gosok, kak Nurul.
Kemudian usapkan keseluruh tubuh.”
“Sekarang pakai shampoo kak, pertama tuangkan sedikit shampoo di
telapak tangan, lalu gosok-gosok, lalu gosokkan di kepala”
“Terakhir kita guyur seluruh badan sampai shampoo dan sabunnya
hilang, ya Kak.”
“Kemudian pakai handuk. Selanjutnya gosok gigi.”
“Pertama beri pasta gigi di atas sikat gigi, beri sedikit air lalu
digosokkan ke mulut dan gigi, setelah itu kumur-kumur dan buang
airnya.”
“Kalau sudah ganti baju dulu, terus kita lanjutkan dengan memotong
kuku”
“Kalau kak Nurul melakukan kegiatan ini nanti badannya tidak gatal
sama bau lagi, kak. Tiap hari bapak jadi wangi, kak.”
“Sekarang suster praktekkan dulu, kak Nurul lihat ya.”

e. Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri


“Nah sekarang kita praktekkan di kamar mandi ya kak”

f. Memasukkan dalam jadwal kegiatan.


“Kakak Nurul tadi kita sudah selesai mempraktekkan cara menjaga
kebersihan diri, nanti Kakak mau latihan mandinya jam berapa?”
“Kalau sikat gigi? potong kukunya?”
“Baik, kak Nurul suster masukkan ke jadwal ya”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi Subjektif
“Nah, Kakak bagaimana perasaanya setelah mandi?”

b. Evaluasi Objektif
Kakak masih ingat apa yang kita lakukan tadi?”

c. Tindak Lanjut
“Kakak Nurul, tadi kan sudah dibuat jadwal kapan kak Nurul mau
melakukannya, besok suster cek ya sudah dilakukan apa belum. Kalau
kak Nurul sudah melakukan sendiri tanpa diingatkan, nanti dijadwal
suster tulis M ya, kalau masih perlu diingatkan nanti suster tulis B
ya.”

d. Kontrak Yang Akan Datang


“Kalau begitu Kak, Saya akan kembali ke ruang perawat, besok saya
akan menemui bapak lagi jam 09.00 pagi untuk latihan berdandan,
tempatnya di ruangan ini saja. Bagaimana, kak?”

A. Proses Keperawatan
1. Deskripsi Pasien
Tanggal 6 Mei 2014 pada jam 09.00, klien mengatakan badannya
sudah tidak gatal dan bau, terasa lebih segar, klien tampak bersih dan
segar. Tetapi, pada hari itu terlihat klien memakai baju miring, salah
memaki kancing baju, rambut tidak disisir, dan jenggot tidak dicukur.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: Berdandan

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu berpakaian secara mandiri
b. Pasien mampu menyisir rambut secara mandiri
c. Pasien mampu mencukur jenggot secara mandiri

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 2: Melatih cara berdandan setelah kebersihan diri: sisiran, rias muka
untuk perempuan; sisiran.
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
b. Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama
c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama
d. Jelaskan cara dan alat untuk berdandan
e. Latih cara berdandan setelah kebersihan diri: sisiran, rias muka untuk
perempuan; sisiran, cukuran untuk pria
f. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan berdandan
B. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi, kak Nurul”
“Kakak Nurul masih ingat dengan suster?”

b. Validasi Pasien
“Bagaimana perasaan Kakak hari ini?”
“Iya kakak, kakak tampak segar dan wangi, kakak sudah mandi ya”

c. Kontrak kerja
“Nah kakak sesuai janji kita kemarin hari ini kita akan melakukan
kegiatan merias diri atau berdandan, tempatnya disini saja kak,
waktunya kurang lebih 20 menit. Bagaimana kak?”

2. Fase Kerja
SP 2: Melatih cara berdandan setelah kebersihan diri: sisiran, rias muka
untuk perempuan; sisiran.
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
“ Kakak Nurul, suster liat kancing baju Kak Nurul tidak pas.”
“Terus, Kak Nurul tadi setelah mandi sudah sisiran.”

b. Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama


“Gimana kak, apakah kakak ada kesulitan melakukan kegiatan yang
telah kita jadwalkan kemaren kak?”
“Kakak melakukan kegiatannya diingatkan perawat atau
melakukannya sendiri?”
“Bagus sekali, Kak”

c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama


“Apa yang Kakak rasakan setelah melakukan kegiatan tersebut kak?”
“Iya kakak, benar sekali
d. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan
berdandan
“Nah, Kakak bisa melakukan berdandan ini setelah mandi. Kalau
mencukur kakak kapan mau melakukannya?”
“Suster masukkan ke dalam jadwal ya, kak.”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi Subjektif
“Nah bagaimana perasaan kakak setelah belajar berdandan tadi?”
b. Evaluasi Objektif
“Nah Kakak… Kakak masih ingat kita tadi belajar apa?”
“Coba sebutkan kak.”
“Bagus kakak, kakak bisa mengingatnya dengan tepat.”

c. Rencana Tindak Lanjut


“Nah tadi kan, kak Nurul bilang ingin melakukan kegiatan berdandan
dan mencukur semingu sekali, ini akan dimasukkan ke jadwal harian
Kakak. Nah lakukan ya, kak.”
“Nah, beri tanda jika Kakak sudah melakukannya. Tanda M jika
Kakak melakukannya sendiri atau tanpa bantuan orang lain, tanda B
jika diingatkan baru dilakukan, dan tanda T jika tidak dilakukan.”
d. Kontrak Yang Akan Datang
“Baiklah Kak, kalau begitu saya permisi ya pak, saya ke ruang
perawat dulu, Nanti siang jam 12 kita latihan makan dan minum yang
baik di ruang makan.”
A. Proses Keperawatan
1. Deskripsi Pasien
Tanggal 6 Mei 2014 pada jam 12.00 di ruang makan, klien masih
terlihat rapi. Dari hasil pengamatan sebelumnya, klien makan
sembarangan tempat.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: makan dan minum

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu makan dan minum secara mandiri
b. Pasien mampu makan dan minum dengan baik
c. Pasien mampu makan dan minum dengan rapi

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 3: Melatih pasien makan secara mandiri (melatih cara makan dan
minum yang baik)
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri.
b. Validasi kemampuan kegiatan pertama & kedua yg telah dilatih &
beri pujian.
c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama, kedua & ketiga
d. Menjelaskan kebutuhan (kebutuhan makan perhari dewasa 2000-2200
kal (perempuan) dan laki-laki antara 2400-2800 kal setiap hari makan:
minum 8 gelas (2500ml setiap hari) dan cara makan dan minum.
e. Menjelaskan cara makan yang tertib.
f. Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan.
g. Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik; Latihan cara
makan dan minum yang baik.
h. Masukkan latihan kegiatan pada jadwal kegiatan.
C. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi, kak Nurul ”

b. Validasi Pasien
“Kakak siang ini masih terlihat rapi ya.”

c. Kontrak kerja
“Nah Kakak sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan melakukan
kegiatan latihan makan dan minum yang baik, tempatnya disini,
waktunya kurang lebih 20 menit. Bagaimana kak?”

2. Fase Kerja
SP 3: Melatih pasien makan secara mandiri (melatih cara makan dan
minum yang baik).
a. Evaluasi tanda dan gejala defisit perawatan diri
“Kakak biasanya makan dimana?”

b. Validasi kemampuan pasien melakukan kegiatan pertama dan


kedua yang telah dilatih dan beri pujian
“Gimana kak, apakah kakak ada kesulitan melakukan kegiatan yang
telah kita jadwalkan, kak?”
“Kakak melakukan kegiatannya diingatkan perawat atau
melakukannya sendiri?”
“Wah, itu bagus sekali, Kakak.. tetap lanjutkan sampai Kakak bisa
melakukan tanpa diingatkan.”

c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama dan kedua


“Bagaimana perasaan bapak setelah mandi, kak?”
“Kalau setelah berdandan, apa yang Kakak rasakan?”
“Iya kakak, benar sekali
d. Menjelaskan kebutuhan (kebutuhan makan perhari dewasa
2000-2200 kal (perempuan) dan laki-laki antara 2400-2800 kal
setiap hari makan: minum 8 gelas (2500ml setiap hari) dan cara
makan dan minum.
“Kakak, sekarang kita membicarakan tentang kebutuhan kita makan
perhari, yaitu satu kali makan kita dengan 1 piring nasi dengan sayur
dan lauk pauk sama 1 gelas air, ya kak.”
“Sekarang suster nanya apa yang harus kita lakukn sebelum makan?”
“Sebelum makan kita harus cuci tangan, Setelah itu?”
“Suster akan menjelaskan cara makan yang baik, saat makan kita
harus menyuap makanan satu-satu dengan pelan-pelan. Jika, merasa
haus, Kak Nurul bisa minum.”

e. Menjelaskan cara makan yang tertib


“Kak Nurul kalau makan yang tertib, ya…., Ini piring dan makanan
Kak Nurul. Dan, itu piring punya teman Kakak. Jadi, Kakak makan
yang ada di piring Kakak, ya.”

f. Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan


“Setelah selesai kita bereskan dan taruh gelas dan piring yang kotor ke
tempat pencucian piring. Setelah itu, Kakak cuci tangan.”
“Kak Nurul, kalau bapak makan tiap hari sesuai kebutuhan nanti
badan bapak akan lebih sehat.”

g. Praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik; Latihan


cara makan dan minum yang baik.
“Sekarang, ayo kita ke ruang makan, kak Nurul.”
“Ada Suster Husna ingin membagikan obat.”
“Coba Kak Nurul sendiri yang minta obatnya.”
h. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan makan dan
minum yang baik
“Nah, Kakak kapan akan melakukan latihan makan dan minum ini.”
“Suster masukkan ke jadwal ya kak.”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi Subjektif
“Nah bagaimana perasaan Kakak setelah belajar latihan makan dan
minum yang baik tadi?”

b. Evaluasi Objektif
“Nah Kakak… Kakak masih ingat kita tadi belajar apa?”
“Coba sebutkan Kakak..”
“Bagus kakak, kakak bisa mengingatnya dengan tepat. “

c. Rencana Tindak Lanjut


“Nah tadi kan, kak Nurul bilang ingin melakukan latihan makan dan
minum yang baik sewaktu makan, ini akan dimasukkan ke jadwal
harian Kakak. Nah lakukan ya, kak…”
“Nah, beri tanda jika Kakak sudah melakukannya. Tanda M jika Kakak
melakukannya sendiri atau tanpa bantuan orang lain, tanda B jika
diingatkan baru dilakukan, dan Tanda T jika tidak dilakukan.”

d. Kontrak Yang Akan Datang


“Baiklah Kak, kalau begitu saya permisi ya pak, saya ke ruang
perawat dulu, Besok jam 09.00 pagi latihan BAB/BAK secara mandiri
disini saja, waktunya kurang lebih 20 menit.”
A. Proses Keperawatan
1. Deskripsi Pasien
Tanggal 7 Mei 2014 pada jam 09.00 pagi klien merasa segar, rapi
dan bersemangat. Tampak baju yang dipakai dan rambut klien rapi,
jenggot dicukur, makan tidak sembarangan lagi. Tetapi klien sering
didapatkan BAK dan BAB di sembarang tempat.

2. Diagnosa Keperawatan
Defisit perawatan diri: BAK/BAB

3. Tujuan Keperawatan pada Klien


a. Pasien mampu melakukan BAK/BAB secara mandiri
b. Pasien mampu melakukan BAK/BAB pada tempatnya

4. Rencana Tindakan Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


SP 4 : Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
b. Validasi kemampuan melakukan kegiatan pertama, kedua & ketiga yg
telah dilatih & beri pujian
c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama,kedua & ketiga
d. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
e. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK
f. Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK.
g. Latih BAB dan BAK yang baik.
h. Masukkan pada jadwal kegiatan

B. Rencana Komunikasi Keperawatan Pada Pasien Defisit Perawatan Diri


1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Selamat pagi Kak Nurul”
b. Validasi Pasien
“Kak tampak segar dan wangi, bapak sudah mandi ya”
“Kakak pagi ini terlihat rapi ya.”
c. Kontrak kerja
“Nah kakak sesuai janji kita kemaren hari ini kita akan melakukan
kegiatan latihan BAB/BAK secara mandiri tempatnya disini,
waktunya kurang lebih 20 menit. Bagaimana kak?”

2. Fase Kerja
SP 4 : Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
a. Evaluasi tanda & gejala defisit perawatan diri
“Bapak, biasanya BAB dan BAK dimana?”
“Setelah selesai BAB atau BAK apa yang Kak Nurul lakukan?”
b. Validasi kemampuan melakukan kegiatan pertama, kedua dan
ketiga yang telah dilatih dan beri pujian
“Gimana kak, apakah kakak ada kesulitan melakukan kegiatan yang
telah kita jadwalkan, pak?”
“Kakak melakukan kegiatannya diingatkan perawat atau melakukannya
sendiri?”
“Wah, itu bagus sekali, Kakak. Terus, Bagaimana dengan latihan
makan dan minum, kemarin.”
“Wah, bagus sekali.”

c. Evaluasi manfaat melakukan kegiatan pertama, kedua dan ketiga


“Bagaimana perasaan bapak setelah mandi, kak?”
“Kalau setelah berdandan, apa yang Kakak rasakan?”
“Iya kakak, benar sekali. Terus, setelah Kakak latihan makan dan
minum yang baik kemarin. Apa yang Kakak rasakan?”
“Bagus sekali, Kak Nurul”
d. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
“Sekarang Suster tanya, dimana seharusnya Kak Nurul BAB dan
BAK?”
“Iya, betul sekali. Kalu kita mau BAB dan BAK tempatnya di WC.”
e. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK.
“Sekarang Suster akan menjelaskan cara Bapak Donny membersihkan
diri setelah BAB dan BAK. Setelah BAB dan BAK Bapak
membersihkan anus atau kemaluan dengan air yang bersih dan pastikan
tidak ada tinja/air kencing yang masih tersisa di tubuh Bapak Donny.
Bapak paham.”

f. Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK.


“Setelah Kak Nurul selesai membersihkannya, jangan lupa tinja/air
kencing yang ada di WC dibersihkan. Caranya siram tinja/air kencing
tersebut dengan air secukupnya sampai tinja/air kencing itu tidak tersisa
di WC. Jika Kak Nurul membersihkan tinja/air kencing seperti ini,
berarti Kakak ikut mencegah menyebarnya kuman yang berbahaya yang
ada pada kotoran/air kencing. Setelah selesai membersihan tinja/air
kencing, Kak Nurul perlu merapihkan kembali pakaian sebelum keluar
dari WC. Pastikan resleting celana telah tertutup rapi, lalu cuci tangan
dengan menggunakan sabun.”

g. Latih BAB dan BAK yang baik.


“Sekarang kita latihan ya, Kak…”
“Pertama, kita latihan membersihkan diri setelah BAB atau BAK”
“Kedua, kita latihan membersihkan tempat BAB dan BAK”

h. Masukkan pada jadwal kegiatan


“Nah, Kakak bisa lakukan latihan ini sewaktu Kakak ingin BAK atau
BAK.”
“Jadi, kakak sewaktu ingin BAB atau BAK Kakak bisa melakukan
latihan yang kita lakukan tadi.”

3. Fase Terminasi Sementara


a. Evaluasi subjektif
“Nah bagaimana perasaan kakak setelah belajar BAB atau BAK secara
mandiri tadi?”
b. Evaluasi Objektif
“Nah Kakak… Kakak masih ingat kita tadi belajar apa?”
“Coba sebutkan Kak..”
“Bagus kak, kakak bisa mengingatnya dengan tepat.
c. RencanaTtindak Lanjut
“Nah tadi kan, kak Nurul bilang akan melakukan latihan BAB dan
BAK secara mandiri sewaktu Kakak ingin BAB atau BAK, ini akan
dimasukkan ke jadwal harian Kakak. Nah lakukan ya, kak…”
“Nah, beri tanda jika Kakak sudah melakukannya. Tanda M jika
Kakak melakukannya sendiri atau tanpa bantuan orang lain, tanda B
jika diingatkan baru dilakukan, dan Tanda T jika tidak dilakukan.”
d. Kontrak Yang Akan Datang
“Baiklah Kak, kalau begitu saya permisi ya pak, saya ke ruang
perawat dulu, “Besok jam 09.00 pagi saya akan menemui Kakak untuk
berdiskusi tentang perkembangan kondisi Kak Nurul dengan keluarga
Kakak di ruangan kak Nurul.”