Anda di halaman 1dari 7

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGENDALIAN KEUANGAN

OLEH
KELOMPOK 10
Ni Luh Putu Sri Rahayu Dewi (1707532047)
Ni Putu Ayu Utariyani (1707532063)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2019
2. Aspek Keperilakuan Pada Pengendalian Keuangan
a. Definisi Pengendalian Keuangan
1) Umpan balik Mekanikal VS Respon Perilaku
Fokus utama dalam pengendalian keuangan adalah perilaku dari orang-orang
yang ada dalam organisasi dan bukan pada mesin. Aplikasi mekanikal dari
pengandalian seperti termometer yang mengendalikan temperature tubuh, lebih
menekankan pada sifat mekanikal dari pada sifat perilaku.
2) Perluasan Konsep-Konsep Tradisional
Konsep-konsep pengendalian dalam akuntansi sering kali bearti hasil dari
informasi akuntansi adalah langkah akhir dari peran akuntan. Ketika sistem
pengandalian dirancang secara tepat untuk menghasilkan informasi yang akurat
dan andal, fokus sistem pengambilan secara tradisional terletak pada tujuh
faktor berikut :
 Memperkerjakan karyawan yang akan melaksanakan tanggung jawabnya
dengan kompeten dan penuh integritas.
 Menghindari fungsi-fungsi yang tidak harmonis dengan memisahkan tugas
dan tanggung jawab.
 Mendefinisikan wewenang yang terkait dengan suatu posisi sehingga
kesesuaian dari suatu transaksidilksanakan dan dapat dievaluasi.
 Menetapkan metode yang sistematis guna memastikan bahwa transaksi
telah dicata dengan akurat.
 Memastikan bahwa dokumentasi memadai.
 Menjaga aset dengan mendesain prosedur yang membatasi akses terhadap
aset tersebut.
 Mendesain pengecekan independen untuk meningkatkan akurasi.

Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan desain pengendalian internal


mencerminkan pengalaman dari profesi audit. Pengalaman yang tak ternilai
tersebut dapat digunakan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem
pengendalian keuangan melalui perluasan seperangkat tujuan yang dimiliki
guna melalui informasi akuntansi guna mencakup proses admistratif. Perluasan
lingkup keterlibatan akuntan dalam proses administratif tidak dapat disangkal
lagi adalah suatu yang paling penting dalam suatu pengengalian akuntansi.
b. Pengendalian Terpadu
Secara formal, sistem pengendalian komprehensif merupakan suatu kofigurasi yang
saling melengkapi, yaitu sub-sistem formal yang didukung proses administratif.
Untuk dapat diformalkan suatu sub-sistem pengendalian seharusnya terstruktur dan
berkelanjutan, serta didesain dengan suatu proses yang tepat untuk mencapai tujuan
yang spesifik. Untuk bisa menjadi pengendalian yang komprehensif, suatu sistem
pengendalian seharusnya mencakup aktivitas perencanaan, operasional, dan fungsi
umpan balik.
1) Perencanaan
Proses perencanaan dalam organisasi juga ditandaidengan istilah perilaku
penetapan tujuan. Aspek-aspek terpenting dari proses penetapan tujuan adalah
dasar dari organisasi dan komunikasi. Masalah pokok dari perencanaan dapat
menjadi kunci pengendalian yang efektif. Suatu perencanaan yang terlalu teknis
atau terlalu logis dapat menimbulkan kerusakan pada pengendalian bagi mereka
yang kurang waspada, karena tidak ada perhatian yang utuh pada implikasi
pengendalian terhadap implementasi rencana.
2) Operasi
Dalam organisasi yang terstruktur, fungsi-fungsi organisasi menyadari
keberadan dari rencana manajemen walaupun perencanaan tersebut bersifat
tidak formal atau tidak tertulis. Batasan operasi mengacu pada pelaksanaan
aktivitas-aktivitas organisasi, termasuk didalamnya provisi atau jasa pelayanan
dan produksi produk yang sama pentingnya dengan menjagafungsi operasi.
Pengendalian operasi merupakan suatu proses perantara dan proses perbaikan
terhadap aktivitas-aktivitas operasi selama proses implementasi atas rencana-
rencana manajemen.
3) Umpan Balik
Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal dan informal yang
disusun dari komunikasi non-verbal. Komunikasi tersebut dihasilkan secara
rutin dari statistik yang ditabulasikan sebagai dasar untuk evaluasi penyusunan.
Evaluasi ini akan mempengaruhi distribusi kompensasi, pemberian sanksi dan
perubahan atas proses perencanaan serta operasi sebagai akibat dari umpan
balik.
4) Interaksi Pengendalian.
Perencanaan, operasi dan aktivitas-aktivitas umpan balik telah diindentifikasi
sebagai tiga aspek dari proses administratif yang sangat didukung oleh
rancangan sistem pengendalian terpadu. Hubungan ini dapat ditata untuk
menciptakan kumpulan yang besar jika suatu organisasi dapat menghubungkan
sub-subsistem pengendalian dengan baik guna mendukung perencanaan,
operasi dan umpan balik.

c. Faktor-Faktor Kontekstual
Konteks dapat menjadi menjadi penting untuk keberhasilan dalam mendesain dan
mengimplementasikan sistem pengendalian keuangan. Konteks mengacu
serangkaian karakteristik yang menentukan susunan empiris dalam sistem
pengendalian yang akan ditetapkan. Proses dalam mengindentifikasikan fakttor-
faktor kontekstual yang penting merupakan subjek tertinggi dan sangat temporer,
seperti apakah pendapat seorang manajer lebih penting daripada pendapat manajer
lainnya? Semua daftar dari faktor-faktor kontekstual kritis merupakan subjek untuk
melakukan perbaikan secara menyeluruh.
1) Ukuran
Ukuran dapat dipandang sebagai suatu peluang dan juga suatu hambatan.
Ukuran dipandang sebagai pemberi manfaat ekonomi dan bukan sebagai
strategi pengendalian. Ukuran dapat menjadi hambatan apabila pertumbuhan
ekonomi menyebabkan eliminasi terhadap strategi pengendalian. Ketika ukuran
menjadi suatu yang penting dalam melkukan pembatasan konteks, ukuran juga
banyak dikaitkan dengan variabel-variabel lainya. Kondisi ini menyebabkan
ukuran tidak dapat memisahkan diri menjadi satu varibel saja. Sebagai contoh
stuktur-struktur stabilitas lingkungan dan proses dapat dikaitkan dengan ukuran.
2) Stabilitas Lingkungan
Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dari desain
pengendalian dari lingkungan yang selalu berubah. Stabilitas dari lingkungan
eksogen dapat dilihat dari kekuatan gerakan yang secara eksternal menghasikan
produk-produk yang memerlukan suatu tanggapan.
Suatu lingkungan eksogen yang stabil diasumsikan dalam banyak pembahasan
sistem biaya standar dan analisis hubungan atas varians biaya. Dengan
membadingkan biaya aktual yang terjadi dengan standar yang ditetapkan, sub
sistem biaya standar menjadi penting untuk di tinjau.
3) Motif Keuntungan
Keberadaan motif keuntungan tentunya bukanlah suatu penghalang untuk
menggunakan ukuran-ukuran penilaian akuntansi terhadap produktivitas. Pada
sisi lain, jelas bahwa sistem pengendalian yang didasarkan pada motif dan
ukuran-ukuran provitabilitas seringkali tidak dapat diterjemahkan secara
langsung pada konteks nirlaba (non-profit).
Manfaat terbesar yang berkaitan dengan indikator-indikator berbasis laba
adalah bahwa indikator indikator tersebut secara statistik akan nampak jelas bila
diringkas. Ringkasan-ringkasan tersebut sering diartikan sebagai suatu
ringkasan atas keseluruhan keberhasilan dari sub-sistem yang kompleks dan
sukar dipahami, dimana sub sistem tersebut meliputi seluruh organisasi. Ketika
motif laba tidak muncul, indikator-indikator lain dari organisasi dan
keberhasilan individu seharusnya didasarkan pada hal yang tersebut diatas.
4) Faktor-Faktor Proses
Telah diketahui bahwa tujuan proses terhadap pengendalian akuntansi dapat
menjadi suatu penentu yang penting dalam desain pengendalian. Beberapa
karakteristik proses organisasi dapat menjadi penting bagi tujuan pengendalian,
sementara karakteristik lainnya mungkin bersifat terbatas dan tidak membuat
perbedaan.
Proses sederhana maupun kompleks dan proses biaya variabel maupun biaya
tetap akan diperlihatkan secara singkat. Proses sederhana adalah salahsatu yang
dapat dikarakteristikkan dengan memahami hubungan sebab akibat secara baik.
Suatu proses yang kompleks melibatkan berbagai hubungan yang tidak dapat
dipahami dengan baik. Biaya-biaya yang sulit dihindari terjadi pada unit-unit
dalam perusahaan, seperti riset dan pengembangan, pemasaran, dan
administrasi karyawan. Hal ini sering menjadi kesulitan dalan mendesain
inisiatif-inisiatif pengendalianterhadap aplikasi biaya yang tidak bisa dihindari
karena ketidak pastian dalam pengaruh pengendalian.

d. Pertimbangan-Pertimbangan Rancangan
Pengendalian telah didefinisikan sebagai suatu inisiatif karena diyakini bahwa
kemungkinan pencapaian hasil yang diharapkan tinggi. Untuk memperbaiki
kemungkinan keberhasilan, para desainer akan mencari cara untuk menghubungkan
yang dipercaya bersifat nyata dalam lingkungan.
1) Antisipasi terhadap Konsekuensi Logis
Antisipasi terhadap konsekuensi logis merupakan komponen-komponen inti
dalam mendesain pengendalian. Kondisi ini merupakan hal yang penting bagi
seorang manajer keuangan yang terbiasa membuat pertimbangan berdasarkan
apakah suatu hasil itu baik atau buruk. Suatu pengendalian akan berhubungan
dengan hasil atau konsekuensibaik yang tepat maupun tidak. Perilaku pekerja
yang rasional, dapat diprediksi dan logis merupakan konsekuensilogis yang
sering dikaitkan terhadap pengenalan dengan sistem biaya standar. Para manajer
yang berpengalaman seringkali mengantisipasi berbagai output yang berkaitan
dengan proses pengendalian yang mereka pahami.
2) Relevansi dengan Teori Agensi
Salah satu hal yang sangat berharga dari desntralisasi atau pendelegasian
wewenang dalam pengambilan keputusan adalah jika seorang manajer
mendelegasikan suatu keputusan kepada seorang karyawan, maka karyawan
tersebut dapat mengambil keputusan yang berbeda dengan manajernya. Teori
agensi menyangkut persoalan biaya, dimana suatu pendelegasian dengan
asumsi keputusan-keputusan tertentu bersifat tidak nyata atau dipengaruhi
secara bersama-sama agar menjadi tidak nyata. Ide-ide mengenai teori agensi
dapat diilustrasikan dengan perjalanan seorang tenaga penjualan yang secara
terus menerus berada jauh dari kantor. Manajer penjualan akan memiliki sedikit
gagasan mengenai tingkat usaha yang dilakukan oleh agen tersebut, oleh karena
itu perjajian kerja dari tenaga penjualan akan didasarkan pada prestasi penjualan
3) Pengelolaan Perubahan
Pengelolaan perubahan adalah sesuatu yang penting dalam menentukan
rancangan-rancangan pengendalian. Para manajer melaksanakan pengendalian
untuk mencapai tujuan-tujuan yang sering kali dihadapkan pada satu atau lebih
dilema bisnis. Suatu tantangan yang lebih logis dan lebih menimbulkan
ketegangan adalah ketika manajer tidak tanggap terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi. Banyak organisasi menggunakan konsultan dari luar atau fungsi
audit internalnya sebagai bagian dari pengendalian yang baru. Dalam jangka
panjang akan memelihara lingkungan pengendalian lewat suatu proses
perubahan dan kompensasi.
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keperilakuan. Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat