Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN ATRESIA ANI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan anak II, dengan dosen
pembimbing Ida Ariani

Disusun oleh:

Kelompok 2

1. Tria Widiastuti 7. Siti Maesaroh


2. Dinda Agestya 8. Elisa Wahyu H
3. Ahda Sabila 9. Etik Dyah A
4. Sri Nunung W 10. Muhamad Anton S
5. Yosi Ismawati 11. Pramesti Lupitasari
6. Erna Ristianti 12. Vinny Alvionita

S1 KEPERAWATAN

STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP

2019

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Atresia ani atau anus imperforata adalah tidak terjadinya perforasi membran
yang memisahkan bagian endoterm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang
tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang
berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rektum (Purwanto,
2010).
Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran
yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang
tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang
berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. ( agung hidayat,
2009 )
Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus
atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi & Yuliani, R, 2010).

B. ETIOLOGI
1. Secara pasti belum diketahui
2. Merupakan anomali gastrointestinal dan genitourynari
Namun ada sumber yang mengatakan kelainan anus bawaan disebabkan oleh:
a. Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena
gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
b. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan dubur, sehingga bayi lahir tanpa
lubang anus.
c. Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada
kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau 3
bulan.
d. Kelainan bawaan , dimana sfingter internal mungkin tidak memadai. (Betz. Ed 7.
2012)

2
C. PATOFISIOLOGI
Terjadinya anus imperforata karena kelainan congenital dimana saat proses
perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan
rectum. Dalam perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang
jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genitor urinary dan struktur anoretal.
Atresia ani ini terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan
kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin. Kegagalan tersebut terjadi
karena abnormalitas pada daerah uterus dan vagina, atau juga pada proses obstruksi.
Anus imperforate ini terjadi karena tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar
anus sehingga menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan.
Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstuksi dan adanya 'fistula. Obstuksi
ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala
akibatnya Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan
diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperchloremia, sebaliknya feses mengalir
kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya
akan terbentuk fistula antara rectum dengan organ sekitarnya. Pada wanita 90%
dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum (rektovestibuler). Pada laki-
laki biasanya letak tinggi, umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke
prostate (rektovesika) pada letak rendah fistula menuju ke urethra (rektourethralis).
(Mediana,2011)

D. KLASIFIKASI
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar
yaitu:
1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus
gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini
terutma melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau
rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan
dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara
waktu.
2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam
keluar tinja. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk
menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk
intervensi bedah segera. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3
sub kelompok anatomi yaitu :
a. Anomali rendah
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis,
terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan
fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.

3
b. Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung
anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.
c. Anomali tinggi
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak
ada. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius –
retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung
buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm. ( Amin Huda &
hardhi Kusuma, 2015 )

E. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala yang khas pada klien antresia ani seperti :
1. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
2. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
3. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya
4. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula).
5. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
6. Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membran anal.
7. Perut kembung. ( Amin Huda & hardhi Kusuma, 2015 )

F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada klien dengan atresia ani menurut Aziz Alimul Hidayat
(2010), Suriadi dan Rita Yuliani ( 2011 ), Fitri Purwanto ( 2009 ) adalah sebagai
berikut :
1. Penatalaksanaan Medis
a. Therapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan
defek. Untuk anomaly tinggi dilakukan colostomi beberapa hari setelah lahir,
bedah definitifnya yaitu anoplasti perineal ( prosedur penarikan perineum
abdominal ). Untuk lesi rendah diatasi dengan menarik kantong rectal melalui
sfingter sampai lubang pada kulit anal, fistula bila ada harus ditutup. Defek
membranosa memerlukan tindakan pembedahan yang minimal yaitu membran
tersebut dilubangi dengan hemostat atau scalpel.
b. Pemberian cairan parenteral seperti KAEN 3B
c. Pemberian antibiotic seperti cefotaxim dan garamicin untuk mencegah infeksi
pada pasca operasi.
d. Pemberian vitamin C untuk daya tahan tubuh.
2. Penatalaksanaan Keperawatan

4
a. Monitor status hidrasi ( keseimbangan cairan tubuh intake dan output ) dan
ukur TTV tiap 3 jam.
b. Lakukan monitor status gizi seperti timbang berat badan, turgor kulit, bising
usus, jumlah asupan parental dan enteral.
c. Lakukan perawatan colostomy, ganti colostomybag bila ada produksi, jaga
kulit tetap kering.
d. Atur posisi tidur bayi kearah letak colostomy.
e. Berikan penjelasan pada keluarga tentang perawatan colostomy dengan cara
membersihkan dengan kapas air hangat kemudian keringkan dan daerah
sekitar ostoma diberi zing zalf, colostomybag diganti segera setiap ada
produksi.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk memperkuat diagnosis yang diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan radiologist
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
3. Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
4. Ultrasound terhadap abdomen
5. Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena
massa tumor.
6. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
7. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
8. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau
jari.
9. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan
dengan traktus urinarius. (Betz. Ed 7. 2012)

H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
1. Obstruksi
2. Perforasi

5
3. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah)
4. Komplikasi jangka panjang.
a. Eversi mukosa anal
b. Stenosis
5. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
6. Inkontinensia (akibat stenosis awal )
7. Prolaps mukosa anorektal.
8. Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi)
9. Sepsis. (Wong, Whaley.2011)

6
I. PATHWAYS

Kelainan Kogenital

1. Gangguan pertumbuhan
2. Fusi
3. Pembentukan anus

ATRESIA ANI

Feses tidak keluar Vistel


Rektovaginal

Feses menumpuk
Feses masuk ke

Reabsorbsi sisa Peningkatan Mikroorganisme


metabolisme tekanan masuk ke saluran

Keracunan Operasi Anoplasti Dysuria

Mual dan muntah Gangguan rasa


Ansietas Perubahan defekasi:
nyaman
Pengeluaran tak
Ketidangseimbangan terkontrol
nutrisi kurang dari
Gangguan
kebutuhan tubuh
Eliminasi urin

Abnormalitas
Trauma jaringan

Resiko Kerusakan Inkontinensia


Perawatan tidak
adekuat
Nyeri Akut

Resiko Infeksi

7
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
ATRESIA ANI

A. PENGKAJIAN
1. Biodata klien
2. Riwayat keperawatan
a. Riwayat keperawatan/kesehatan sekarang
b. Riwayat kesehatan masa lalu
3. Riwayat tumbuh kembang
a. BB lahir abnormal
b. Kemampuan motorik halus, motorik kasar, kognitif dan tumbuh kembang
pernah mengalami trauma saat sakit
c. Sakit kehamilan mengalami infeksi intrapartal
d. Sakit kehamilan tidak keluar mekonium
4. Pola nutrisi – Metabolik
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien dengan atresia
ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh mual
dan munta dampak dari anestesi.
5. Pola Eliminasi
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru maka tubuh
dibersihkan dari bahan – bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk
buangan. Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus,
sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam defekasi
6. Pola Aktivitas dan Latihan
Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari kelemahan otot.
7. Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, daya ingatan
masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan.
8. Pola Tidur dan Istirahat
Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri pada luka
inisisi.
9. Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body comfort.
Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampak luka jahitan operasi
10. Peran dan Pola Hubungan
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah sakit.
Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran

8
11. Pola Reproduktif dan Sexual
Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi
12. Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi, Adanya faktor stress lama, efek
hospitalisasi, masalah keuangan
13. Pola Keyakinan dan Nilai
Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang
dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan ini diharapkan perawat
dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya
pelaksanaan ibadah.
14. Pemeriksaan fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah anus
tampak merah, usus melebar, kadang – kadang tampak ileus obstruksi,
termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan, pada
auskultasi terdengan hiperperistaltik, tanpa mekonium dalam 24 jam setelah bayi
lahir, tinja dalam urin dan vagina. (Mediana,2011)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Nyeri akut b.d Agen cidera biologis
2. Resiko infeksi trauma jaringan , perawatan tidak adekuat
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrien
4. Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi anatomi
5. Inkontinensia urin reflek b.d kerusakan jaringan
6. Ansietas

C. INTERVENSI

No. Diagnosa NOC NIC


Keperawatan
1. Nyeri akut b.d NOC: Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
Agen cidera Setelah dilakukan tindakan 1. Lankukan pengkajian
biologis keperawatan selama 1x24 jam nyeri komprehensif
diharapkan pasien tidak nyeri yang meliputi lokasi,
lagi dengan kriteria: karakterisstik, frekuensi,
Kriteria Hasil IR ER intensitas atau beratnya
Mengenali kapan nyeri
nyeri terjadi 2. Pastikan perawatan
Menggambarkan analgesik bagi pasien
dilakukan dengan

9
faktor penyebab pemantauan yang ketat
Menggunakan 3. Gunakan tindakan
tindakan pengontrol nyeri
pencegahan sebelum nyeri
Melaporkan nyeri bertambah
yang terkontrol 4. Dukung istirahat yang
adekuat untuk
Keterangan: membantu penurunan
1. Tidak pernah menunjukan nyeri
2. Jarang menunjukan
3. Kadang menunjukan
4. Sering menunjukan
5. Secara konsisten
menunjukan

2. Resiko infeksi b.d NOC: Keparahan Infeksi NIC: Kontrol Infeksi


trauma jaringan , Setelah dilakukan tindakan 1. Bersihkan lingkungan
perawatan tidak keperawatan selama 1x24 jam dengan baik setelah
adekuat diharapkan pasien tidak infeksi digunakan untuk setiap
lagi dengan kriteria: pasien
2. Ganti peralatan
Kriteria Hasil IR ER perawatan per pasien
Kemerahan sesuai protokol institusi
Cairan yang 3. Isolasi orang yang
berbau busuk terkena penyakit
Sputum menular
purulen 4. Pertahankan teknik
Piuria atau isolasi yang sesuai
nanah dalam
urin
Hipotermia
Nyeri

Keterangan:
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
3. Ketidakseimbangan NOC: Status Nutrisi NIC:Manajemen Energi

10
nutrisi kurang dari Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji status fisiologi
kebutuhan tubuh keperawatan selama 1x24 jam pasien yang
b.d diharapkan pasien tidak menyebabkan kelelahan
ketidakmampuan kekurangan nutrisi lagi dengan sesuai dengan konteks
mengabsorpsi kriteria: usia dan perkembangan
nutrien 2. Gunakan instrumen yang
Kriteria Hasil IR ER valid untuk mengukur
Asupan gizi kelelahan
Asupan makanan 3. Perbaiki defisit status
Asupan cairan fisiologis
Energi 4. Monitor intake atau
Rasio berat badan asupan nutrisi untuk

Hidrasi mengetahui sumber


energi yang adekuat

Keterangan:
1. Sangat menyimpang dari
rentang normal
2. Bnyak menyimpang dari
rentang normal
3. Cukup menyimpang dari
rentang normal
4. Sedikit menyimpang dari
rentang normal
5. Tidak menyimpang dari
rentang normal
4. Gangguan NOC: Eliminasi Urin NIC: Manajemen Cairan
eliminasi urine b.d Setelah dilakukan tindakan 1. Timbang berat badan
obstruksi anatomi keperawatan selama 1x24 jam setiap hari dan monitor
diharapkan pasien tidak status pasien
mengalami gangguan eliminasi 2. Hitung atau timbang
lagi dengan kriteria: popok dengan baik
3. Masukan kateter urin
Kriteria Hasil IR ER 4. Monitot TTV pasien
Pola eliminasi
Bau urin
Jumlah urin
Warna urin

Keterangan:
1. Sangat terganggu

11
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu

5. Inkontinensia urin NOC: Kontinensia Urin NIC:


reflek b.d Setelah dilakukan tindakan Perawatan inkontinensia
kerusakan jaringan keperawatan selama 1x24 jam urin
diharapkan pasien sudah lebih 1. Monitor eliminasi urin
baik lagi dengan kriteria: meliputi frekuensi, bau,
volume dan warna urin
Kriteria Hasil IR ER 2. Sediakan popok kain
Nyeri saat yang nyaman dan
kencing melindungi
Rasa terbakar 3. Bersihkan kulit sekitar
saat berkemih area genetalia secara
Intkontinensia teratur
urin 4. Monitor kebiasaan BAB
Intkontinensia pasien
berkemih

Keterangan:
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

6. Ansietas b.d NOC: Tingkat Kecemasan NIC: Terapi Relaksasi


perubahan besar Setelah dilakukan tindakan 1. Gambarkan rasionalisasi
keperawatan selama 1x24 jam dan manfaat relaksasi
diharapkan pasien tidak cemas serta jenis relaksasi yang
lagi dengan kriteria: tersedia
2. Tentukan apakah ada
Kriteria Hasil IR ER intervensi relaksasi
Tidak dapat dimasa lalu yang sudah
beristirahat memberikan manfaat
Berjalan 3. Ntisipasi kebutuhan

12
mondar-mandir penggunaan relaksasi
Meremas-remas 4. Berikan waktu yang
tangan tidak terganggu karena
Distress mungkin saja kloen
tertidur
Keterangan:
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Tahap pelaksanaan merupakan tahap ke empat dari proses keperawatan dengan
melaksanakann berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah
direncanakan dalam rencana tindakan keperrawatan. Dalam tahap ini, perawat harus
mengetahui berbagai hal di antaranya bahaya-bahaya fisik dan perlindungan pada
klien, tehnik komunikasi, kemampuan dalam prosedur tindakan, pemahaman tentang
hak-hak dari pasien serta dalam memahami tingkat perkembangan pasien. Dalam
pelaksanaan rencana tindakan terdapat dua jenis tindakan, yaitu tindakan jenis
mandiri dan tindakan kolaborasi (Hidayat, A. Aziz Alimul, 2010: 122).

E. Evaluasi keperawatan
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria
hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Kemampuan yang harus dimiliki perawat
pada tahap ini adalah memahami respon terhadap intervensi keperawatan,
kemampuan mengembalikan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta
kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil. Pada
tahap evaluasi ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu:
a. Evaluasi formatif menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan
intervensi dengan respon segera.
b. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status
klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncanakan pada tahap
perencanaan. Di samping itu, evaluasi juga sebagai alat ukur suatu tujuan yang
mempunyai kriteria tertentu yang membuktikan apakah tujuan tercapai, tidak
tercapai atau tercapai sebagian.
1) Tujuan tercapai
2) Tujuan dikatakan tercapai bila klien telah menunjukan perubahan dan
kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

13
3) Tujuan tercapai sebagian
4) Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak tercapai secara
keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai masalah atau
penyebabnya, seperti klien dapat makan sendiri tetapi masih merasa mual.
Setelah makan bahkan kadang-kadang muntah.
5) Tujuan tidak tercapai
6) Dikatakan tidak tercapai apabila tidak menunjukan adanya perubahan kearah
kemajuan sebagaimana kriteria yang diharapkan.
Adapun evaluasi akhir yang ingin dicapai dari tiap-tiap diagnosa adalah:
a. Klien mampu mempertahankan pola eliminasi BAB dengan teratur.
b. Klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan.
c. Kecemasan orang tua dapat berkurang.
d. Rasa nyeri teratasi/ berkurang.
e. Tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan kulit lebih lanjut.
f. Tidak terjadi infeksi.
g. Gangguan pola eliminasi teratasi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Amin Huda Nurarif & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Nanda NIC-NOC. Jogjakarta
: Penerbit Mediaction

Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. 2012. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.
Edisike-3. Jakarta : EGC.
Hidayat,Agung . 2009. http//Askep Atresia Ani Pada Anak « Hidayat2's
Blog.com yang diakses pada tanggal 12 April 2016 pada pukul 15.20
Hidayat, A. Azis Alimul . (2010) . Pengantar Ilmu Anak buku 2. Editor Dr Dripa
Sjabana
Suriadi & Rita Yuliani, 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak edisi 2. Jakarta :
Penebar swadaya.
Wong, Donna L. 2011. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Monica Ester (Alih
Bahasa). Sri Kurnianianingsih (ed),. edisi ke-4. Jakarta : EGC.

15