Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk
Indonesia. Menurut WHO dan UNICEF, terjadi sekitar 2 milyar kasus
penyakit diare di seluruh dunia setiap tahun, dan sekitar 1,9 juta anak
balita meninggal karena penyakit diare setiap tahun, sebagian besar terjadi
di negara berkembang. Dari semua kematian anak balita karena penyakit
diare, 78% terjadi di wilayah Afrika dan Asia Tenggara. Hasil Riskesdas
tahun 2013 menunjukkan period prevalence diare adalah 3,5%, lebih kecil
dari hasil Riskesdas 2007 (9%). Pada Riskesdas 2013, sampel diambil
dalam rentang waktu yang lebih singkat. Insiden diare untuk seluruh
kelompok umur di Indonesia adalah 3,5%. P e r n y a t a a n bersama
WHO-UNICEF tahun 2004 merekomendasikan pemberian oralit,
tablet zinc, pemberian ASI dan makanan serta antibiotika selektif
merupakan bagian utama dari manajemen penyakit diare.
Hasil Kajian Masalah Kesehatan berdasarkan siklus kehidupan 2011
yang dilakukan oleh Litbangkes tahun 2011 menunjukkan penyebab
utama kematian bayi usia 29 hari nil bulan adalah Pnemonia (23,3%) dan
Diare (17,4%). Dan penyebab utama kematian anak usia 1-4 tahun adalah
Pnemonia (20,5%) dan Diare (13,3%).
Hasil kajian morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare dan ISPA
menunjukkan bahwa angka kesakitan diare semua umur tahun 2017
adalah 270/1.000 penduduk semua umur dan angka kesakitan diare pada
balita adalah 900/1.000 balita. Kematian diare pada balita 75,3 per
100.000 balita dan semua umur 23,2 per 100.000 penduduk semua umur.
Penderita diare semua umur di UPTD Puskesmas Buniwangi pada
tahun 2018 sebanyak 682 jiwa, penderita terbanyak adalah balita.
B. Tujuan
1. Umum
Tersusunnya pedoman pengendalian penyakit diare dan
terselenggaranya kegiatan pengendalian penyakit diare dalam rangka
menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit
diare bersama lintas program dan lintas sektor terkait.
2. Khusus
a. Tersedianya panduan bagi penentu kebijakan dalam pelaksanaan
dan pengembangan program pengendalian penyakit diare.
b. Tersedianya panduan dalam pelaksanaan surveilans epidemiologi
penyakit diare dan upaya pengendaliannya.
c. Tersedianya panduan tatalaksana penyakit diare sesuai standar.
d. Tersedianya panduan dalam meningkatkan pengetahuan petugas
dalam pengendalian penyakit diare.
e. Tersedianya panduan untuk sistem pencatatan. pelaporan,
monitoring dan evaluasi program pengendalian penyakit diare.
f. Tersedianya panduan dalam pengadaan logistik untuk pengendalian
penyakit diare.
g. Terbentuknya jejaring kerja dalam pengendalian penyakit diare.

C. Kebijakan
Kebijakan program pengendalian penyakit diare adalah sebagai berikut :
1. Pengendalian penyakit diare berdasarkan pada partisipasi dan
pemberdayaan masyarakat serta disesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan masing-masing daerah (local area spesific).
2. Pengendalian penyakit diare dilaksanakan melalui pengembangan
kemitraan dan jejaring kerja secara multi disiplin, lintas program dan
lintas sektor.
3. Pengendalian penyakit diare dilaksanakan secara secara terpadu baik
dalam upaya preventif, kuratif dan promotif.
4. Pengendalian penyakit diare dikelola secara profesional, berkualitas,
merata dan terjangkau oleh masyarakat melalui penguatan seluruh
sumber daya.
5. Penguatan sistem surveilans penyakit diare sebagai bahan informasi
bagi pengambilan kebijakan dan pelaksana program.
6. Pelaksanaan kegiatan pengendalian penyakit diare hams dilakukan
secara efektif dan efisien melalui pengawasan yang terus ditingkatkan
intensitas dan kualitasnya dengan pemantapan sistem dan prosedur,
bimbingan dan evaluasi.

D. Strategi
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga terhindar dari penyakit diare.
2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta
masyarakat untuk penyebar luasan informasi kepada masyarakat
tentang pengendalian penyakit diare.
3. Mengernbangkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yang efektif dan
efisien terutama bagi masyarakat yang berisiko.
4. Meningkatkan pengetahuan petugas dan menerapkan pelaksanaan
tatalaksana penyakit diare secara standar disemua fasilitas kesehatan.
5. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia dan penguatan
institusi, serta standarisasi pelayanan.
6. Meningkatkan surveilans epidemiologi penyakit diare di seluruh
fasilitas pelayanan kesehatan.
7. Mengernbangkan jejaring kemitraan secara multi disiplin lintas
program dan lintas sektor di semua jenjang baik pemerintah maupun
swasta.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Untuk melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan pelayanan di
Kecamatan Surade terutama dalam pengendalian penularan penyakit
Diare, Puskesmas Buniwangi memiliki tenaga kerja dari Puskesmas
No JENIS TENAGA KUALIFIKASI REALISASI
1 Programer Diare Pendidikan minimal Pendidikan DIII Kebidanan
DIII Perawat/DIII
Kebidanan

Dengan melihat tabel ini, dapat dilihat bahwa ketenagaan dalam


program pengendalian penyakit Diare di Puskesmas Buniwangi sudah
memenuhi standar, dengan adanya satu tenaga bidan untuk
menyelenggarakan pengendalian penyakit Diare Kecamatan Surade
meliputi: Kuratif, Promotif, Preventif, dan Rehabilitatif.

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Pengelola program P2 Diare adalah tenaga kesehatan dari puskesmas
yang ditunjuk oleh kepala puskesmas untuk melaksanakan tugasnya
sebagai pengelola program (programmer) pengendalian penularan penyakit
Diare di wilayah kerja puskesmas.
Programer P2 Diare mendapatkan SK dari kepala puskesmas. Selain
pemegang program Diare pelaksanaan pemberantasan penyakit Diare juga
melibatkan :
1. Dokter
2. Koordinator P2P dan UKM
3. Bidan Desa
4. Petugas Pustu
5. Petugas Laboratorium
6. Petugas Administrasi
7. Kader aktif

C. JADWAL KEGIATAN PELAYANAN


No Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Desiminasi √
Informasi
Program Diare
2 Sosialisasi √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Penyakit Diare
3 Kunjungan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
rumah penderita
diare
4 Monitoring dan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
evaluasi

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. STANDAR FASILITAS
Sarana dan prasarana termasuk fasilitas, dan peralatan yang secara
tidak langsung mendukung pelayanan kesehatan terutama mendukung
pelayanan klinis diwilayah kerja programmer Diare haruslah memadai.
Sesuai standar fasilitas pelayanan penanggulangan penyakit Diare
adalah sebagai berikut:
1. Perlengkapan medis:
No Jenis Alat
1 Poliklinik set :
Stetoskop
Tensimeter
Timbangan berat badan
Termometer suhu
2 SOP pelaksanaan kegiatan

2. Perlengkapan non medis:


No Jenis Alat
1 Buku Pedoman program Diare
2 Alat penyuluhan kesehatan
3 Bagan penatalaksanaan kasus Diare
4 Gelas
5 Air Putih matang
6 Oralit
BAB IV
TATALAKSANA PENYAKIT DIARE

A. LINGKUP KEGIATAN
1. Kegiatan Diare dilakukan di dalam gedung, antara lain :
a. Konseling Diare
b. Pelayanan Klinis Diare
c. Pelayanan rujukan Diare
d. Penyuluhan Diare
e. Pelaporan
2. Kegiatan yang dilakukan diluar gedung meliputi jadwal, pelaksanaan
dan hasil pelaksanaan kegiatan-kegiatan antara lain :
a. Penyuluhan Diare kepada masyarakat
b. Meningkatkan koordinasi dengan lintas program khususnya bidan
desa dan Pustu

B. STRATEGI / METODE
Merupakan cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan kegiatan
upaya Diare. Ada dua strategi yaitu :
1. Strategi advokasi
Merupakan kegiatan untuk meyakinkan orang lain agar membantu
atau mendukung pelaksanaan program. Advokasi adalah pendekatan
kepada pengambil keputusan dari berbagai tingkat dan sektor terkait
dengan kesehatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meyakinkan para
pejabat pembuat keputusan atau penentu kebijakan bahwa program
kesehatan yang akan dilaksanakan tersebut sangat penting oleh sebab
itu perlu dukungan kebijakan atau keputusan dari pejabat tersebut.
Dukungan dari pejabat pembuat keputusan dapat berupa
kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang,
peraturan pemerintah, surat keputusan, surat instruksi, dana atau
fasilitas lain.
2. Strategi kemitraan.
Tujuan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dapat tercapai
apabila ada dukungan dari berbagai elemen yang ada di masyarakat.
Dukungan dari masyarakat dapat berasal dari unsur informal (tokoh
agama dan tokoh adat) yang mempunyai pengaruh dimasyarakat.
Tujuannnya adalah agar para tokoh masyarakat menjadi jembatan
antara sektor kesehatan sebagai pelaksana program dengan
masyarakat sebagai penerima program kesehatan. Strategi ini dapat
dikatanan sebagai upaya membina suasana yang kondusif terhadap
kesehatan. Bentuk kegiatan dapat berupa lokakarya.
3. Strategi pemberdayaan masyarakat.
Adalah strategi yang ditujukan kepada masyarakat secara langsung.
Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
sendiri. Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan
berbagai kegiatan antara lain penyuluhan kesehatan

C. LANGKAH KEGIATAN
Untuk terselenggaranya program Diare di UPTD Puskesmas Buniwangi,
perlu ditunjang dengan managemen yang baik. Managemen Diare di
puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematis
untuk menghasilkan puskesmas yang efektif dan efisiensi di bidang Diare.
Managemen Diare di puskesmas dilakukan dengan cara :
1. Perencanaan (Plan)
2. Pelaksanaan (Do)
3. Pengawasan (Cek)
4. Tindak lanjut dari pengawasan (Action)
Semua fungsi managemen tersebut harus dilakukan secara terkait dan
berkesinambungan.
1. Perencanaan
Perencanaan Diare adalah proses penyusunan rencana tahunan
puskesmas untuk mengatasi masalah dan kebutuhan dan harapan
masyarakat pada pogram Diare di wilayah puskesmas. Langkah-
langkah perencanaan program diare yang dilakukan oleh puskesmas
mancakup hal-hal sebagai berikut :
a. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah dilakukan : Berdasarkan ada tidaknya
masalah, kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap Diare.
b. Menyusun usulan kegiatan (RUK)
Langkah puskesmas dalam menyusun usulan kegiatan Diare
dilakukan dengan menetapkan :
1) Kegiatan
2) Tujuan
3) Sasaran
4) Besar/Volume kegiatan
5) Waktu
6) Lokasi
7) Perkiraan kebutuhan biaya
c. Mengajukan usulan kegiatan
Usulan kegiatan yang telah disusun diajukan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten.
d. Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)
Setelah disetujui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, maka disusun
Rencana Pelaksanaan Kegiatan dalam bentuk matrik. Bentuk
format hampir sama dengan RUK namun lebih detail dalam biaya
dan waktu pelaksanaan. RUK kemudian disosialisasikan pada
tingkat Puskesmas kepada pemegang upaya lainya pada saat
lokakarya mini Puskesmas, tingkat Kecamatan maupun tingkat
desa pada acara pertemuan lintas sektor.
Dalam pertemuaan lintas sektor dapat dilakukan penggalangan
kerjasama atau membuat kesepakatan agar pihak terkait ikut serta
menyukseskan rencana kegiatan yang sudah di buat. Setelah RPK
disosialisasikan kemudian penanggungjawab upaya Diare membuat
Kerangka Acuan kegiatan serta Standart Operasional untuk
memudahkan dalm melaksanakan kegiatan. Contoh format
kerangka acuan dan SOP terlampir dalam buku pedoman ini.
2. Pelaksanaan
Dilakukan dengan tahapan berikut :
a. Mengkaji ulang RPK yang sudah disusun, mencakup jadwal
pelaksanaan kegiatan, target pencapaian lokasi dan rincian biaya
serta tugas para penanggung jawab dan pelaksanaan kegiatan.
b. Menyusun jadwal kegiatan bulanan untuk tiap petugas sesuai
dengan rencana pelaksanaan.
c. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Pada waktu pelaksanaan kegiatan harus diperhatikan hal sebagai
berikut :
 Azas penyelenggaraan puskesmas
 Berbagai standart pedoman pelayanan Diare
 Kendali mutu
 Kendali biaya
3. Monitoring evaluasi
Pengawasan atau pemantauan pelaksanaan kegiatan secara berkala
mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Melakukan telaah penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai
b. Mengumpulkan permasalahan, hambatan dan saran-saran untuk
peningkatan penyelenggaraan serta memberikan umpan baik.
c. Pengawasan meliputi pengawasan internal dan eksternal.
Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan atau
kepala Puskesmas, sedangkan pengawasan eksternal oleh
masyarakat. Pengawasan mencakup administrasi, pembiayaan dan
teknis pelaksanaan serta hasil kegiatan.
4. Rencana Tindak Lanjut
Dari hasil pelaksanaan kegiatan dievaluasi tentang permasalahan,
hambatan dan saran-saran yang ditemukan. Kemudian dianalisis dan
dicari pemecahnya untuk peningkatan mutu pelayanan Diare, untuk
kemudian diterapkan pada kegiatan yang sama di tempat lain.
Pelaksanaan dan hasil kegiatan yang dicapai dibandingkan dengan
rencanan tahunan atau target dan standart pelayanan yang sudah
dibuat. Kemudian penanggung jawab Diare melaporkan pelaksanaan
kegiatan dan laporan berbagai sumber daya kemudian disampaikan
kepada Kepala Puskesmas
Dalam melakukan kegiatan upaya pelayanan Diare petugas
berpedoman pada prosedur yang ada,yaitu
NO NAMA SOP
1 SOP Penatalaksanaan Diare
2 SOP Penyuluhan
3 SOP Kunjungan Rumah

BAB V
LOGISTIK

A. PERENCANAAN
Perencanaan logistik adalah merencanakan kebutuhan logistik yang
pelaksanannya dilakukan oleh semua petugas penanggung jawab program
kemudian diajukan sesuai dengan alur yang berlaku di masing-masing
organisasi. Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan Diare
direncanakan dalam pertemuan lokakarya mini lintas program dan lintas
sektor sesuai dengan tahapan kegiatan dan metoda pemberdayaan yang
akan dilaksanakan.
1. Kegiatan di dalam gedung Puskesmas membutuhkan sarana dan
prasarana antara lain:
a. Meja, Kursi
b. Alat tulis
c. Alkes
d. Buku catatan Kegiatan
e. Leaflet
f. buku panduan
g. komputer dan printer
h. Alat peraga
i. Blangko laporan
2. Kegiatan di luar gedung Puskesmas membutuhkan sarana dan
prasarana yang meliputi :
a. Leaflet
b. Alkes
c. Buku catatan kegiatan
d. Lembar Balik
e. Poster
Prosedur pengadaan barang dilakukan oleh koordinator Diare
berkoordinasi dengan petugas pengelola barang dan dibahas dalam
pertemuan mini lokakarya Puskesmas untuk mendapatkan persetujuan
Kepala Puskesmas. Sedangkan dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan
kegiatan direncanakan oleh koordinator Diare berkoordinasi dengan
bendahara puskesmas dan dibahas dalam kegiatan mini lokakarya
puskesmas untuk selanjutnya dibuat perencanaan kegiatan ( POA – Plan Of
Action ).
BAB VI
KESELAMATAN SASARAN

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti akan menimbulkan resiko


atau dampak, baik resiko yang terjadi pada masyarakat sebagai sasaran
kegiatan maupun resiko yang terjadi pada petugas sebagai pelaksana
kegiatan. Keselamatan pada sasaran harus diperhatikan karena
masyarakat tidak hanya menjadi sasaran satu kegiatan saja melainkan
menjadi sasaran banyak program kesehatan lainnya. Tahapan –
tahapan dalam mengelola keselamatan sasaran antara lain :
1. Identifikasi Resiko.
Penanggungjawab program sebelum melaksanakan kegiatan
harus mengidentifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat
terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Identifikasi resiko atau dampak
dari pelaksanaan kegiatan dimulai sejak membuat perencanaan. Hal ini
dilakukan untuk meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dari
pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan risiko terhadap sasaran
harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Analisis Resiko.
Tahap selanjutnya adalah petugas melakukan analisis terhadap
resiko atau dampak dari pelaksanaan kegiatan yang sudah
diidentifikasi. Hal ini perlu dilakukan untuk menentukan langkah-
langkah yang akan diambil dalam menangani resiko yang terjadi.
3. Rencana Pencegahan Resiko dan Meminimalisasi Resiko.
Setelah dilakukan identifikasi dan analisis resiko, tahap
selanjutnya adalah menentukan rencana yang akan dilakukan untuk
mencegah terjadinya resiko ataudampak yang mungkin terjadi. Hal ini
perlu dilakukan untuk mencegah atau meminimalkan resiko yang
mungkin terjadi.

4. Rencana Upaya Pencegahan.


Tahap selanjutnya adalah membuat rencana tindakan yang akan
dilakukan untuk mengatasi resiko atau dampak yang ditimbulkan oleh
kegiatan yang dilakukan. Hal ini perlu dilakukan untuk menentukan
langkah yang tepat dalam mengatasi resiko atau dampak yang terjadi.
5. Monitoring dan Evaluasi.
Monitoring adalah penilaian yang dilakukan selama pelaksanaan
kegiatan sedang berjalan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui
apakah kegiatan sudah berjalan sesuai dengan perencanaan, apakah
ada kesenjangan atau ketidaksesuaian pelaksanaan dengan
perencanaan. sehingga dengan segera dapat direncanakan tindak
lanjutnya. Tahap yang terakhir adalah melakukan Evaluasi kegiatan.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai.
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari-


hari sering disebut Safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan
baik jasmaniah maupun rohaniah petugas dan hasil kegiatannya. Dari
segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan.
Keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk
menciptakan suasana kerja yang aman, kondisi keselamatan yang
bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan serta penurunan
kesehatan akibat dampak dari pekerjaan yang dilakukan, bagi petugas
pelaksana dan petugas terkait. Keselamatan kerja disini lebih terkait
pada perlindungan fisik petugas terhadap resiko pekerjaan.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang
kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus
melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan
kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan
sekitarnya.
Seiring dengan kemajuan Ilmu dan tekhnologi, khususnya sarana
dan prasarana kesehatan, maka resiko yang dihadapi petugas
kesehatan semakin meningkat. Petugas kesehatan merupakan orang
pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan, untuk itu`semua
petugas kesehatan harus mendapat pelatihan tentang kebersihan,
epidemiologi dan desinfeksi. Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan
kesehatan untuk memastikan kondisi tubuh yang sehat. Menggunakan
desinfektan yang sesuai dan dengan cara yang benar, mengelola limbah
infeksius dengan benar dan harus menggunakan alat pelindung diri
yang benar.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu adalah kegiatan yang bersifat rutin yang


dirancang untuk mengukur dan menilai mutu pelayanan. Pengendalian
mutu sangat berhubungan dengan aktifitas pengawasan mutu,
sedangkan pengawasan mutu merupakan upaya untuk menjaga agar
kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai rencana dan
menghasilkan keluaran yang sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Kinerja pelaksanaan dimonitor dan dievaluasi dengan
menggunakan indikator sebagai berikut:
1. Ketepatan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal
2. Kesesuaian petugas yang melaksanakan kegiatan
3. Ketepatan metoda yang digunakan
4. Tercapainya indikator
Hasil pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi serta
permasalahan yang ditemukan dibahas pada tiap pertemuan lokakarya
mini tiap bulan.
Keberhasilan suatu program harus ditentukan dengan indikator,
untuk upaya pelayanan Diare indikator berdasarkan Standar Pelayanan
Minimal yang telah ditentukan sesuai Kepmenkes no 43 tahun 2016,
yang dimaksud dengan SPM adalah suatu standart dengan batas–batas
tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib
daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar pada masyarakat yang
mencakup jenis pelayanan, indicator dan nilai (BENCHMARK). Prinsip
daripada SPM adalah SUSTAINABLE (terus menerus), MEASUREBLE
(terukur) dan FEASIABLE (mungkin dapat dikerjakan).
Adapun SPM Program Diare sebagai berikut :
NO INDIKATOR KINERJA TARGET
1 Cakupan Penemuan Penderita Diare 75%
Semua Umur
BAB IX
0 PENUTUP

Buku pedoman Diare di UPTD Puskesmas Buniwangi merupakan


sarana penunjang yang sangat dibutuhkan sebagai paduan oleh petugas
kesehatan khususnya tenaga pelayanan Diare UPTD Puskesmas buniwangi
dalam melaksanakan penyelenggaraan kegiatan Diare di UPTD Puskesmas
Buniwangi, agar dapat melaksanakan pelayanan Diare dengan baik, benar,
terukur dan teratur sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat di wilayah Kecamatan Surade.
Diharapkan para tenaga kesehatan mampu merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi upaya Diare di puskesmas secara terpadu
bersama dengan lintas upaya dan lintas sector terkait serta peran serta aktif
masyarakat.
Pedoman ini jauh dari sempurna oleh karena itu diharapkan tenaga
kesehatan lain dapat membaca dan mempelajari buku-buku atau pedoman
Diare yang diperlukan sebagai pelengkap pengetahuan.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dengan harapan
derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Buniwangi
semakin meningkat.

Programer Diare
UPT Puskesmas Buniwangi

N. Ajeng Purnama Suci, A. Md. Keb