Anda di halaman 1dari 19

Pengertian Good Governance, Prinsip-Prinsip, dan Penerapan Good Governance di Indonesia

Pengertian Good Governance – Good governance adalah suatu penyelenggaraan manajemen


pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan
pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik
secara politik maupun administratif. Good governance menjalankan disiplin anggaran serta
penciptaan legal dan politican framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha. Governance pada
dasarnya pertama kali digunakan di dunia usaha atau korporat.

Berdasarkan PP No. 101 tahun 2000 pengertian good governance adalah pemerintahan yang
mengembangkan dan menetapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi,
pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektivitas, supremasi hukum dan dapat diterima oleh
seluruh masyarakat.

Good Governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses
pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara
bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor
swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara.

Pengertian Good Governance Menurut Para Ahli

Governance adalah kata sifat dari govern, yang diartikan sebagai the action of manner of
governing atau tindakan (melaksanakan) tata cara penegendalian. Sebagai sebuah kata,
governance sebenarnya tidaklah baru. Pada tahun 1590 kata ini dipahami sebagai state of being
governed, berkembang menjadi mode of living (1600), kemudian menjadi the office, function,
or power of governing (1643), berkembang menjadi method of management, system of
regulation (1660) dan kemudian dibakukan menjadi the action or manner governing. Sementara
itu, berarti to rule with authority atau mengatur atas nama kewenangan. Pelaksanaannya biasa
disebut sebagai government yang selain mempunyai arti sempit sebagai action of ruling and
directing the affairs of a state, atau pelaksanaan pengaturan dan pengarahan urusan-urusan
negara. Dengan demikian government indentik dengan pengelolaan atau pengurus dengan
makna spesifik atau pengurus negara. ( Nugroho,2004:207).

Bintoro Tjokroamidjojo memandang good governance sebagai suatu bentuk manajemen


pembangunan, yang juga disebut administrasi pembangunan, yang
menempatkan peran pemerintah sentral yang menjadi agent of change dari suatu
masyarakat berkembang/developing di dalam negara berkembang. Agent of change dan karena
perubahan yang dikehendakinya, menjadi planned change (perubahan yang berencana), maka
disebut juga agent of development. Agent of development diartikan pendorong proses
pembangunan dan perubahan masyarakat bangsa. Pemerintah mendorong melalui
kebijaksanaan-kebijaksanaan dan program-program, proyek-proyek, bahkan industri-industri,
dan peran perencanaan dan anggaran penting. Dengan perencanaan dan anggaran juga
menstimulusi investasi sector swasta. Kebijaksanaan dan persetujuan penanaman modal di
tangan pemerintah. Dalam good governance peran pemerintah tidak lagi dominan, tetapi juga
citizen, masyarakat dan terutama sektor usaha/ swasta yang berperan dalam good governance.
Pemerintah bertindak sebagai regulator dan pelaku pasar untuk menciptakan iklim yang
kondusif dan melakukan investasi prasarana yang mendukung dunia usaha.

Pengertian Good Governance menurut Mardiasmo (1999:18) adalah suatu konsep pendekatan
yang berorientasi kepada pembangunan sector public oleh pemerintahan yang baik. Lebih
lanjut menurut Bank Dunia yang dikutip Wahab (2002:34) menyebut Good Governance adalah
suatu konsep dalam penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung
jawab sejalan dengan demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dan
investasi yang langka dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administrative,
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya
aktivitas kewiraswastaan. Selain itu Bank dunia juga mensinonimkan Good Governance sebagai
hubungan sinergis dan konstruktif di antara negara, sector dan masyarakat (Effendi,1996:47).
Prinsip-Prinsip Good Governance

Adapun prinsip-prinsip good gavernance adalah :

Transparency (keterbukaan informasi)

Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. Dalam mewujudkan


prinsip ini, perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang cukup, akurat, tepat
waktu kepada segenap stakeholders-nya.
Accountability (akuntabilitas)

Yang dimaksud dengan akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, system dan
pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara efektif,
maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban dan wewenang serta tanggung
jawab antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi.
Responsibility (pertanggung jawaban)

Bentuk pertanggung jawaban perusahaan adalah kepatuhan perusahaan terhadap


peraturan yang berlaku, diantaranya; masalah pajak, hubungan industrial, kesehatan
dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis
yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Dengan menerapkan prinsip ini,
diharapkan akan menyadarkan perusahaan bahwa dalam kegiatan operasionalnya,
perusahaan juga mempunyai peran untuk bertanggung jawab kepada shareholder juga
kepada stakeholders-lainnya.
Indepandency (kemandirian)

Intinya, prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada
benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak
sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
Fairness(kesetaraan dan kewajaran)

Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak stakeholder
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Diharapkan fairness dapat
menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan perlakuan
yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan..
Pengaruh Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Good Governance Terhadap Efektivitas Kerja

Kantor Dinas Jalan dan Jembatan salah satu lembaga pemerintah yang berfungsi untuk
melayani kebutuhan masyarakat di bidang transportasi khususnya jalan dan jembatan. Dalam
melayani masyarakat aparatur Dinas Jalan dan Jembatan dituntut untuk dapat melaksanakan
tugas dengan baik yakni efektivitas kerjanya harus tinggi. Tercapainya efektivitas kerja bukan
saja ditentukan dari banyaknya jumlah pegawai akan tetapi juga dipengaruhi oleh factor lain
seperti pengelolaan organisasi, pengendalian yang baik yang disebut dengan Good Governance.

Pengelolan dan pengendalian yang baik dari suatu organisasi dalam hal ini organisasi public
menyangkut pencapaian tujuan organisasi secara bersama-sama yaitu untuk menciptakan suatu
penyelengaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab sejalan dengan
prinsip demokrasi, efisiensi, pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara
administrative. Dengan pengertian lain Good Governance adalah proses penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih, transparan, akuntabel oleh organisasi-organisasi pemerintah seperti
organisasi public pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang mencakup kepemimpinan, stuktur
organisasi dan sumber daya manusianya.

Berdasarkan uraian di atas maka disebutkan bahwa apabila pemimpin organisasi public,
struktur organisasi dan sumber daya manusianya baik maka akan tercipta prinsip Good
Governance yang berpengaruh terhadap efektivita kerja pegawai dari organisasi itu sendiri.
Dengan demikian jelaslah pelaksanaan prinsip-prinsip Good Governance akan berpengaruh
terhadap efektivitas kerja pegawai.

Penerapan Good Governance di Indonesia

Good Governance di Indonesia sendiri mulai benar-benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan sistem
pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good Governance
merupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam pemerintahan baru. Akan
tetapi, jika dilihat dari perkembangan Reformasi yang sudah berjalan selama 12 tahun ini,
penerapan Good Governance di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai
dengan cita-cita Reformasi sebelumnya. Masih banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran
dalam pengelolaan anggaran dan akuntansi yang merupakan dua produk utama Good
Governance.

Akan tetapi, Hal tersebut tidak berarti gagal untuk diterapkan, banyak upaya yang dilakukan
pemerintah dalam menciptaka iklim Good Governance yang baik, diantaranya ialah mulai
diupayakannya transparansi informasi terhadap publik mengenai APBN sehingga memudahkan
masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menciptakan kebijakan dan dalam proses
pengawasan pengelolaan APBN dan BUMN. Oleh karena itu, hal tersebut dapat terus menjadi
acuan terhadap akuntabilitas manajerial dari sektor publik tersebut agar kelak lebih baik dan
kredibel kedepannya. Undang-undang, peraturan dan lembaga – lembaga penunjang
pelaksanaan Good governance pun banyak yang dibentuk. Hal ini sangatlah berbeda jika
dibandingkan dengan sektor publik pada era Orde Lama yang banyak dipolitisir pengelolaannya
dan juga pada era Orde Baru dimana sektor publik di tempatkan sebagai agent of development
bukannya sebagai entitas bisnis sehingga masih kental dengan rezim yang sangat menghambat
terlahirnya pemerintahan berbasis Good Governance.

Diterapkannya Good Governance diIndonesia tidak hanya membawa dampak positif dalam
sistem pemerintahan saja akan tetapi hal tersebut mampu membawa dampak positif terhadap
badan usaha non-pemerintah yaitu dengan lahirnya Good Corporate Governance. Dengan
landasan yang kuat diharapkan akan membawa bangsa Indonesia kedalam suatu pemerintahan
yang bersih dan amanah.

ACGS
ACGS, Era Baru Implementasi Good Corporate Governance (GCG)

Lemahnya praktik, pelaksanaan dan pelanggaran prinsip-prinsip Good Corporate


Governance (GCG) menjadi salah satu penyebab Indonesia menjadi bagian dari krisis moneter
di tahun 1997 – 1998. Sejak saat itu istilah GCG menjadi istilah populer disemua kalangan
terutama dunia bisnis. Pemerintah Indonesia kemudian membentuk Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG) untuk mendorong implementasi prinsip-prinsip GCG di seluruh Indonesia.
Secara pararel pemerintah juga melakukan reformasi birokrasi dengan penyesuaian regulasi
yang ada termasuk didalamnya bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penerapan prinsip-
prinsip GCG dianggap sebagai salah satu solusi yang efektif dan efisien dalam proses
pengelolaan perusahaan sehingga dapat mencegah dan meminimalisir dampak krisis keuangan
dunia.

ASEAN Corporate Governance Scorecard

Lahirnya ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) diawali oleh pertemuan para Menteri
Keuangan ASEAN pada tahun 2009 yang memiliki inisiatif untuk mendukung Rencana
Implementasi ASEAN Capital Market Forum (ACMF). Tujuan dari ACGS adalah untuk
meningkatkan standard dan praktek corporate governance di negara-negara ASEAN,
meningkatkan peluang investasi bagi negara-negara ASEAN dan juga mempromosikan negara-
negara ASEAN sebagai pangsa pasar baru bagi investor asing.
Dalam ACGS terdapat dua level, level pertama meliputi lima area prinsip-prinsip corporate
governance dari Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) dengan total
skor 100. Lima area tersebut adalah hak-hak pemegang saham (right of shareholders),
perlakuan yang sama untuk pemegang saham (equitable treatment of shareholders), peran
para pemangku kepentingan (role of stakeholders), pengungkapan dan keterbukaan (disclosure
and transparency), dan tanggung jawab dari Dewan Komisaris dan Direksi (responsibilities of
the board). Sedangkan pada level kedua terdiri atas 34 poin bonus dan pinalti terhadap
penerapan GCG. Hasil pengukuran terakhir adalah jumlah dari level pertama dengan
ditambahkan atau dikurangkan dari nilai level kedua.
Good Corporate Governance (GCG) Perbankan dan Cara Kerjanya

Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan operasional bergantung pada dana yang
dipercayakan oleh pengguna jasanya atau nasabah. Kestabilan suatu perekonomian negara juga
dipengaruhi oleh kesehatan sistem perbankannya. Tanpa adanya lembaga bank yang bisa
menghimpun, mengelola dan menyalurkan dana dari rakyat, sektor-sektor perekonomian tidak
akan berkembang. Oleh karena itu, sangatlah penting jika manajemen operasional dan prinsip
kerjanya dikembangkan dengan baik dan sistematis.

Salah satu cara untuk menilai sistem kerja suatu bank adalah melalui penilaianGood Corporate
Governance atau GCG. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 8/4/PBI/2006,
pengertian GCG Perbankan adalah suatu tata kelola bank yang menerapkan prinsip
keterbukaan (transparency),akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility),
independensi (independency), dan kewajaran (fairness). Sedangkan untuk bank syariah,
pengertian dan peraturannya ditetapkan melalui PBI Nomor 11/33/PBI/2009, yang mencangkup
Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Dasar-dasar inilah yang digunakan sebagai
pedoman dalam melaksanakan tugas dan juga tanggung jawab yang diemban oleh Dewan
Komisaris, Direksi, Komite-Komite beserta satuan kerja sebuah lembaga bank. Adapun prinsip-
prinsip tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Keterbukaan

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, pejabat intern bank beserta seluruh jajaran staff harus bisa
mengungkapkan informasi dengan jelas, lugas, akurat, dan dapat diperbandinkan. Tujuannya
agar seluruh stakeholders atau pemegang saham dapat mengakses informasi tersebut sesuai
dengan haknya. Informasi tersebut meliputi namun tidak terbatas pada visi dan misi, strategi
dan rencana perusahaan, informasi keuangan dan non keuangan, susunan pejabat dan juga
sistem pengawasan, penerapan sistem kepatuhan, serta manajemen resiko. Sehingga, semua
kebijakan bank harus dikomunikasikan dan didata dengan akurat kepada jajaran pemegang
saham yang berhak atas informasi tersebut. Walau demikian, sebagai penyedia jasa
pengelolaan keuangan, pejabat intern bank juga harus bisa memegang data-data sensitif yang
berkaitan dengan data pribadi nasabah dan ketentuan rahasia bank sesuai dengan peraturan
undang-undang.
2. Akuntabilitas

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, bank harus bisa membuat program kerja dan tanggung
jawab tiap-tiap satuan tugas dengan jelas yang mencerminkan visi dan misi serta strategi
perusahaan. Oleh karena itu, sangat penting bagi bank untuk memilih tenaga kerja yang
kompeten sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Demikian pula dalam hal sistem
pengawasan dan manajemen resiko, lembaga bank harus dapat menerapkan disiplin tinggi bagi
setiap satuan tugas dengan sistem reward and punishment yang jelas dan transparan.

3. Tanggung jawab

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, bank harus selalu menerapkan prinsip kehati-


hatian (prudential banking practice), tertama yang berkaitan dengan data-data nasabah dan
pengelolaan dana. Semua standart operasional harus didukung dengan peraturan dan sistem
yang jelas dan lugas untuk menjamin dilaksanakannya peraturan yang berlaku. Selain itu, bank
juga harus menjadi cerminan perusahaan yang baik dan peduli terhadap lingkungan sekitar dan
juga peka terhadap tanggung jawab sosial.

4. Independensi

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, bank harus dapat mengambil keputusan yang objektif dan
bebas dari tekanan oleh pihak manapun. Hal ini dilakukan untuk menghindari dominasi oleh
salah satu atau sebagian dari jajaran pemegang saham yang bisa mempengaruhi strategi
perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang diambil serta mencegah benturan kepentingan dari
pemegang saham.

5. Kewajaran

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, bank harus bisa memperhatikan kepentingan seluruh


jajaran pemegang saham dengan adil dan merata. Pengambilan keputusan harus dilakukan
dengan terbuka dan diketahui oleh seluruh pemegang saham dengan hak dan kewajiban yang
seimbang. Pemegang saham juga berhak untuk memberikan masukan-masukan yang terkait
dengan kinerja bank dan menyampaikan pendapat dengan bebas serta mengakses informasi-
informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan.

Untuk memastikan berjalannya GCG dalam sebuah lembaga bank, Bank Indonesia mewajibkan
setiap lembaga bank melakukan self assesment dan melaporkan hasilnya. Penilaian tersebut
terangkum dalam sebelas faktor penilaian yaitu:

 Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris


 Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab direksi
 Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite
 Penanganan benturan kepentingan
 Penerapan fungsi kepatuhan bank
 Penerapan fungsi audit intern
 Fungsi audit ekstern
 Penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern
 Penyediaan dana kepada pihak terkait (related party) dan penyediaan dana besar (large
exposure)
 Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan bank, laporan pelaksanaan good
corporate governanceserta pelaporan internal
 Rencana strategis bank (PBI nomor 8/14/PBI/2006)

Dalam menjalankan penilaian tersebut, pihak bank wajib mengisi Kertas Kerja Self
Assessment GCG dan menentukan besaran nilai peringkat dari setiap kriteria dengan
membandingkannya dengan indikator yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Pelaksanaan GCG adalah salah satu alat untuk membangun kepercayaan nasabah, masyarakat
maupun dunia internasional yang merupakan syarat mutlak bagi suatu lembaga bank untuk
berkembang. Produk utama bank adalah jasa pengelolaan uang bagi masyarakat, tentunya
tanpa ada kepercayaan yang penuh, masyarakat tidak akan mau membiarkan suatu bank untuk
menyimpan dan mengelola dana yang dititipkan. Pedoman-pedoman GCG juga terus dikaji dan
diawasi oleh Bank for International Settlement (BIS) agar sistem yang digunakan berkembang
sesuai dengan kemajuan teknologi dan situasi perekonomian global. Dengan kata lain,
penerapan GCG akan berpengaruh pada kode etik perbankan yang menjadi faktor penting
dalam menjalankan kegiatan operasional bank sehari-hari.

GCG di sector public


1. Konsepsi Good Governance (Kepemerintahan yang Baik)

Pemerintah atau government dalam bahasa Indonesia berarti “Pengarahan dan


administrasi yang berwenang atas kegiatan orang-orang dalam sebuah negara, negara
bagian, atau kota dan sebagainya” bisa juga berarti lembaga atau badan yang
menyelenggarakan pemerintahan negara, negara bagian, atau kota dan sebagainya.

Sedangkan istilah kepemerintahan atau governance mempunyai arti yaitu tindakan, fakta,
pola, dan kegiaan atau penyelenggaraan pemeritahan. Dengan demikian governanceadalah
suatu kegiatan atau proses, sebagaimana dikemukakan oleh Kooiman (1993 dalam
Sedarmayanti 2004) bahwa governance lebih merupakan serangkaian proses interaksi
sosial politik antara pemerintahan dengan masyarakat dalam berbagai bidang yang
berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan intervensi pemerintah atas kepentingan-
kepentingan tersebut.

United Nations Development Program (UNDP) dalam dokumen kebijakannya yang


berjudul “Governance for sustainable human development” (1997) mendefinisikan
kepemerintahan adalah pelaksanaan kewenangan/kekuasaan di bidang eonomi, politik dan
administrative untuk mengelola berbagai urusan negara pada setiap tingkatannya dan
merupakan instrument kebijakan negara untuk mendorong terciptanya kondisi
keseahteraan integritas, dan kohesivitas sosial dalam masyarakat. Berikutnya secara
konseptual pengertian kata baik (good) dalam istilah kepemerintahan yang baik (good
governance )mengandung dua pemahaman:

Pertama, nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak raktat, dan nili-nilai yang dapat
meningkatkan kemampuan raktyat dalam pencapaian tujuan (nasional) kemandirian,
pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial. Kedua, aspek fungsional dari pemerintah
yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan
tersebut (Sedarmayanti, 2004). Selanjutnya, Lembaga Administrasi Negara mengemukakan
bahwa good governance berorientasi pada:

Pertama, orientasi ideal negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan nasional; Kedua,
pemerintahan yang berfungsi secara ideal, yaitu secara efektif, efisien dalam melakukan
upaya mencapai tujuan nasional. Orientasi pertama megacu pada demokratisasi dalam
kehidupan bernegara dengan elemen-elemen konstituennya seperti: legitimasi,
akuntabilitas, dan lain sebagainya. Sedangkan orientasi kedua, tergantung pada sejauh
mana pemerintah mempunyai kompetensi dan sejauhmana struktur dan mekanisme politik
dan administrative berfungsi secara efektif dan efisien.

Lembaga Administrasi Negara (2000) menyimpulkan bahwawujud good governance


adalah penyelenggaraan negara yang solid dan bertanggungjawab, serta efisien dan efektif,
dengan menjaga kesinergian interaksi yang konstruktif diantara domain-domain negara,
sector swasta dan masyarakat.

Selain itu Peraturan Pemerinah Nomor 101 tahun 2000, merumuskan arti good governace
adalah kepemerintahan yang mengemban akan adan menerapkan prinsip-prinsip
profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi,
efektivitas, supremasi hokum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat.

Dengan demikian terdapat unsur-unsur dalam kepemerintahan yang dapat


dikelompokan menjadi 3 kategori, yaitu:

1. Negara/Pemerintahan: konsepsi pemerintahan pada dasarnya adalah kegiatan


kenegaraan, tetapi lebih jauh dari itu melibatkan pula sector swasta dan kelembagaan
masyarakat madani.
2. Sektor Swasta: pelaku sector swasta mencakup perusahaan swasta yang aktif dalam
interaksi dalam system pasar.
3. Masyarakat Madani: kelompok masyarakat dalam konteks kenegaraan pada dasarnya
berada diantara atau di tengah-tengah antara pemerintah dan perseoranagn, yang
mencakup baik perseorangan maupun kelompok masyarakat yang beribteraksi secara
sosial, politik, ekonomi.

II. Penerapan Prinsip Good Governance pada Sektor Publik

Prinsip yang melandasi perbedaan antara konsepsi kepemerintahan yang tradisional


adalah terletak pada adanya tuntutan yang kuat agar peranan pemerintah dikurangi dan
peranan masyarakat (termasuk dunia usaha dan lembaga Swadaya Masyarakat/organisasi
non pemerintah) semakin ditingkatkan dan terbuka aksesnya. Berikut UNDP (1997)
mengungkapkan prinsipyang harus dianut dan dikembangkan dalam praktek
penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, meliputi :

1) Partcipation

Semua warga negara berhak terlibat dalam pengambilan keputusan, dibangun berdasarkan
kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi
secara konstruktif

2) Rule of law

Proses mewujudkan cita good governance harus diimbangi dengan komitmen untuk
penegakan hukum (gakkum), dengan karakter : (a) supremasi hukum, (b) kepastian hukum,
(c) hokum yang responsif, (d) penegak hukum yang konsisten dan non-diskriminatif, dan (e)
independensi peradilan.

3) Tranparency

Keterbukaan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Untuk memberantas KKN diperlukan


keterbukaan dalam transaksi dan pengelolaan keuangan negara, serta pengelolaan sektor-
sektor publik.
4) Responsiveness

Peka dan cepat tanggap terhadap persoalan masyarakat. Pemerintah harus memiliki etik
individual, dan etik sosial. Dalam merumuskan kebijakan pembangunan sosial, pemerintah
harus memperhatikan karakteristik kultural, dan perlakuan yang humanis pada masyarakat

5) Consensus orientation

Pengambilan keputusan melalui musyawarah dan semaksimal mungkin berdasarkan


kesepakatan bersama.

6) Kesetaraan dan Keadilan

Kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Pemerintah harus memberikan kesempatan


pelayanan dan perlakuan yang sama dalam koridor kejujuran dan keadilan.

7) Effectiveness and efficiency

Berdaya guna dan berhasil guna. Kriteria efektivitas diukur dengan parameter produk yang
dapat menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai kelompok dan
lapisan sosial. Efisiensi diukur dengan rasionalitas biaya pembangunan untuk memenuhi
kebutuhan semua masyarakat. Pemerintah harus mampu menyusun perencanaan yang
sesuai dengan kebutuhan nyata masyayarakat, rasional, dan terukur.

8) Accountability

Pertanggungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang memberikan kewenangan


mengurus kepentingannya. Ada akuntabilitas vertikal (pemegang kekuasaan dengan rakyat;
pemerintah dengan warga negara; pejabat dengan pejabat di atasnya), dan
akuntabilitas horizontal (pemegang jabatan publik dengan lembaga setara; profesi setara).

9) Strategic vision

Pandangan strategis untuk menghadapi masyarakat oleh pemimpin dan publik. Hal ini
penting, karena setiap bangsa perlu memiliki sensitivitas terhadap perubahan serta prediksi
perubahan ke depan akibat kemajuan teknologi, agar dapat merumuskan berbagai kebijakan
untuk mengatasi dan mengantisipasi permasalahan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka hedaknya prinsip good governance dapat diterapkan
dibeseluruh sektor dengan memperhatikan agenda kebijakan pemerintah untuk beberapa
tahun mendatang diarahkan pada :

1. Stabilitas Moneter, khususnya kurs dollar AS (USD) hingga mencapai tingkat wajar dan
stabilitas harga kebutuhan pokok pada tingkat yang terjangkau

2. Penanganan dampak krisis moneter khusus pengembangan proyek padat karya untuk
mengatasi pengangguran, percukupan kebutuhan pangan bagi yang kekurangan.

3. Rekapitalisasi kecil, menengah yang sebenarnya sehat & produktif

4. Operasionalisasi langkah reformasi meliputi kebijaksanaan moneter, sistem perbankan,


kebijakan fiskal dan anggaran serta penyelesaian hutang swasta dan restrukturisasi sektor
riel.

5. Melanjutkan langkah menghadapi era globalisasi khususnya unutk meningkatkan


ketahanan dan daya saing ekonomi.

Dalam praktek good governance perlu dikembangkan indikator keberhasilan pelaksanaan


good governance. Keberhasilan secara umum dapat dilihat dari indicator ekonomi makro
atau tujuan-tujuan pembangunan atau indikator quality of life yang dituju. Untuk negara-
negara terkena krisis, indikator recovery. Tetapi bias juga secara sektoral (produksi tertentu),
peningkatan eskpor, investasi, jaringan jalan, tingkat dan penyebaran pendidikan).

Dan juga secara mikro seperti laporan hasil audit suatu badan usaha. Tidak saja perusahaan
tetapi juga unit-unit birokrasi (misalnya dalam pelayanan). Misalnya Lembaga Administrasi
Negara telah mengembangkan Modul tentang Pengukuran Kinerja Instansi Pemerintah dan
Modul tentang Evaluasi Kinerja Instansi Pemerintah. Pengembangan indicator keberhasilan
atau kegagalan dilakukan antara lain mengenai :
Pelayanan publik UU No.I/1995

1. Koordinasi sector public dan swasta (terutama dari keluhan sector swasta/masyarakat

2. Pengelolaan usaha yang memperhatikan dampak terhadap lingkungan ISO 14.000.

3. ISO 9.000 Kendali Mutu. Penilaian aspek manajemen tertentu.

4. Sertifikasi dan Standarisasi, juga suatu pengukuran / indikator kualitas produk.

5. MRA Standard and Conformance. Adanya kesepakatan aturan penilaian mutu produk
antar negara.

6. Audit Report, NeracaUntung Rugi dan lain sebagainya bagi sesuatu badan usaha.

Beberapa manfaat utama diterapkannya konsep Good Governance adalah sebagai berikut.

Berkurangnya secara nyata praktek KKN di birokrasi pemerintahan

Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih, efisien,


efektif, transparan, professional, dan akuntabel

Terhapusnya peraturan perundang-undangan dan tindakan yang bersifat diskriminatif


terhadap warga negara, kelompok atau golongan masyarakat

Terjaminnya konsistensi dan kepastian hukum seluruh peraturan perundang-undangan baik


ditingkat pusat maupun daerah

III. Penerapan Good Governance dalam Organisasi Kepemerintahan akan Membantu


Penerapan Good Corporate Governance di Sektor Swasta

Kaitannya penerapan prinsip good governance dengan good corporate governancedidasari


pada surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-117/M-MBU/2002
tentang Penerapan Praktik Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), maka ditetapkan bahwa Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur
yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas
perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan
nilai-nilai etika.

Stakeholder adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan dengan BUMN, baik langsung
maupun tidak langsung yaitu Pemegang saham/ pemillik modal, komisaris/ dewan
pengawas, direksi dan karyawan serta pemerintah, kreditur dan pihak berkepentingan
lainnya.

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam pelaksanaannya, yaitu:

1. transparansi;

2. kemandirian;

3. akuntabilitas;

4. pertanggungjawaban, dan

5. kewajaran.

Penerapan prinsip terasebut diharapkan dapat diimplentasikan dalam berbagai sektor


dengan penerapan pola interaksi dan kolaborasi antara pemerintah dengan swasta dan
masyarakat yang disebut kemitraan. Kemitraan antara pemerinath dengan swasta dan
masyarakat madani untuk melakukan transformasi dan reformasi di segala bidang sudah
mulai dilakukan namun belum sesuai dengan harapan. Sehingga dewasa ini, terbentuknya
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfungsi mengawasi dan mengendalikan
jalannya pemerintahan dan pelayanan publik sebagai wujud dari kemitraan.

Dari sinilah muncul pemikiran baru yang mengarah kepada perubahan pola penyelenggaraan
pemerintah, yaitu dari pola tradisional atau konvensional dengan melibatkan kolaborasi
antara pemerintah dengan swasta dan masyarakat, yang dikenal dengan pergeseran
paradigma dari pemerintahan (government) menjadi kepemerintahan (governance).
Diharapkan perubahan paradigma tersebut, akan memiliki dampak yang signifikan
khususnya dalam kepercayaan masyarakat akan kinerja dari pemerintah (good governance
and clean government). Berkaitan dengan hal tersebut, maka dapat diwujudkan dengan cara
melakukan pembangunan kualitas manusia sebagai pelaku good governance, yaitu:

1. Pembangunan oleh dan untuk masyarakat.

2. Pokok pikiran community information planning system, dapat diwujudkan dengan


“sharing” sumber daya terutama sumber daya informasi yang dimiliki oleh pemerintah
kepada masyarakat.

3. Lembaga legislative perlu berbagi informasi dengan masyarakat atas apa yang mereka
ketahui mengenai sumber daya potensial yang diperlukan birokrat kepada masyarakat.

4. Birokrasi harus menajlin kerjasama dengan rakyat.

5. Birokrasi membuka dialog dengan masyarakat, untuk memperkuat interaksi yang lebih
besar antara birokrat dengan rakyat atau pejabat yang dipilih.

6. Nilai managemen strategis, berupaya mengembangkan organisasi yang mampu


beradaptasi dan menanggapi tuntutan dengan lingkungannya.

Perwujudan “clean and good governance” dengan manajemen penyelenggaraan pemerintah


yang baik dan handal, yakni manajemen yang kondusif, responsive dan adaptif perlu
didukung dengan penciptaan administrasi public yang mengandung unsur system koperasi
dan pendekatan pelayanan publik yang relevan bagi masyarakat, maka menurut Nisjar
(1997) hal yang dapat ditempuh adalah:

1. Kerangka kerja tim (teamworks) antar organisasi, departemen dan antar wilayah.

2. Hubungan kemitraan (partnership) antara pemerintha dengan setiap unsur dalam


masyarakat negara yang bersangkutan tadi sekedar kemitraan internal diantara jajaran
instansi pemerintah saja.
3. Pemahaman dan komitmen akan manfaat dan arti pentinya tanggungjawab bersama dan
kerjasama (cooperation) dalam suatu keterpaduan serta sinergisme dalam pencapaian
tujuan.

4. Adanya dukungan dan sistem kemampuan dan keberanian menanggung resiko (risk
talking) dan berinisiatif, sepanjang hal ini secara realistic dapat dikembangkan.

5. Adanya kepatuhan dan ketaatan terhadap nilai-nilai internal (kode etik) administrasi
publik, juga terhadap nilai etika dan moralitas yang diakui dan dijunjung tinggi secara
bersama-sama dengan masyarakat yang dilayani.

6. Adanya pelayanan administrasi public yang berorientasi kepada masyarakat yang dilayani,
inklusi, administrasi publik yang mudah dijangkau masyarakat dan bersifat bersahabat,
berdasarkan pemerataan yang berkeadilan dalam setiap tindakan dan layanan yang
diberikan kepada masyarakat, mencerminkan wajah pemerintah yang sebenarnya atau tidak
menerapkan standar ganda dalam menentukan kebijakan dan memberikan pelayanan
terhadap masyarakat berfokus pada kepentingan masyarakat dan bukannya kepentingan
internal organisasi pemerintah, bersikap professional dan bersikap tidak memihak.

Tiga pilar untuk menyokong konsepsi pemerintahan yang baik yaitu pemerintah, dunia usaha
atau sector swasta dan masyarakat madani sejalan dengan konsepsi dan prinsip
“Reinventing Government” (David Osborne dan Ted Gaebler). Pemerintah hendaknya
berperan sebagai katalis di mana pemerintah hanya dibatasi pada peran “steering rather
than rowing”.

Penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance) menghendaki adanya


akuntabilitas, transparansi, ketebukaan dan rule of law. Sementara pemerintahan yang
bersih menurut terbebasnya praktek yang menyimpang (mal-administration) dari “etika
administrasi negara”. Sedang pemerintah yang berwibawa menuntut adanya ketundukan,
ketaatan dan kepatuhan (compliance) rakyat terhadap undang-undang, pemerintah dan
kebijakan pemerintah.
Dapat disimpulkan, pemerintah memainkan peranan sentral dalam membentukframe
work legal institusional dan regulator di mana dalam frame work ini “governance
systems” dikembangkan. Dengan penerapan good governance atau kepemerintahan yang
baik dalam organisasi kepemerintahan sudah dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yang
seharusnya, maka secara otomatis hal tersebut akan memudahkan pelaksanaan kegiatan
disegala bidang, tak terkecuali pula hal tersebut juga akan membantu penerapan good
corporate governance di sektor swasta.