Anda di halaman 1dari 15

gustingurahblog

INDUSTRI DAN INDUSTRIALISASI


istapradipta 3 tahun yang lalu

Iklan

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor industri diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lain
dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Produk – produk industrialisasi selalu
memiliki “dasar tukar” (terms of trade) yang tinggi atau lebih menguntungkan serta
meciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk – produk sektor lain.
Hal ini disebabkan karena sektor industri memiliki produk yang sangat beragam dan
mampu memberikan manfaat marjinal yang tinggi kepada pemakainya seta
memberikan marjin/keuntungan yang lebih menarik. Oleh sebab itu industrialisasi
dianggap sebagai ‘alternatif ’ untuk mengatasi masalah pembangunan ekonomi di
negara berkembang.

Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang direncanakan sebagai salah


satu upaya manusia dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Begitu pun dengan
pembangunan secara nasional yang erat kaitannya dengan kemampuan negara dalam
memanfaatkan sumber daya yang dimiliki baik dengan menggunakan bantuan
teknologi ataupun tanpa bantuan teknologi. Pembangunan nasional pada hakikatnya
bersifat multidimensi dengan melibatkan berbagai sektor, seperti sektor pendidikan,
pertanian, kesehatan, industri dan sebagainya.

Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang mengupayakan perkembangan


ekonomi melalui industrialisasi. Sektor industri sering disebut juga sebagai sektor
pemimpin (leading sector), karena dengan pembangunan industry akan memicu dan
mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sector jasa. Sehingga sektor
industri dapat dikatakan sebagai tulang punggung pembangunan nasional. Selain itu
proses industrialisasi akan dapat menjadi penggerak utama laju pertumbuhan
ekonomi dan perluasan lapangan kerja. Di Indonesia sektor industrialisasi diarahkan
untuk mendorong peningkatan kesempatan usaha, peningkatan investasi,
pengembangan teknologi, peningkatan pemanfaatan sumber daya ekonomi secara
optimal sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan bisa bersaing dengan
produk luar negeri.

Salah satu tujuan dari adanya pembangunan industri itu di antaranya untuk
memperluas lapangan kerja, menunjang pemerataan pembangunan sehingga
ketimpangan antar wilayah dapat diminimalisir, dan menciptakan daerah yang
mandiri sehingga dapat membantu perekonomian negara. Sehingga
pembangunanindustri diharapkan dapat membantu perkembangan ekonomi dan
tentunya pembangunan nasional, serta dapat mempercepat terciptanya kesejahteraan
masyarakat yang makmur, adil dan merata.

Rumusan Masalah

1. Apa yang menjadi masalah keterbelakangan industrialisasi di Indonesia?


2. Bagaimana kebijakan industrialisasi?
3. Bagaimana sektor industri dalam pembangunan?
4. Apa yang menjadi dampak industrialisasi  Indonesia?
5. Bagaimana kebijakan pemerintah dalam menangani kendala-kendala industrialisasi
di Indonesia?
 

BAB II

TELAAH LITERATUR

tiga pemikiran strategi industrialisasi yang berkembang di Indonesia, dimana


ketiganya pernah diaplikasikan secara tersendiri ataupun bersama-sama, yaitu:

Strategi industrialisasi yang mengembangkan industri-industri yang berspektrum


luas(broadbased industry).
Strategi industrialisasi yang mengutamakan industri-industri berteknologi canggih
berbasis impor.
Industri hasil pertanian (agroindustry) berbasis dalam negeri dan merupakan
kelanjutan pembangunan pertanian (Saragih, 1998).

Seperti pada negara berkembang lainnya, proses industrialisasi di Indonesia ditopang


sejumlah besar kebijakan yang sangat memproteksi pada bidang perdagangan dan
industri termasuk didalamnya penggunaan bea masuk dengan prosentase nominal
yang efektif, penggunaan non-tari barriers, dan larangan total terhadap impor.
Dengan pola pandang tersebut, sejak awal industrialisasi di Indonesia telah
menempuh strategi substitusi impor sebagai alat membangun sektor industri, dimana
strategi ini sarat dengan berbagai intervensi negara untuk melindungi kegiatan
ekonomi nasional.

Reformasi kebijakan terpenting yang dilakukan pada masa awal pemerintahan


Presiden Soeharto adalah dibebaskannya sistem kontrol devisa, diberlakukannya
kebijakan anggaran berimbang sebagai alat stabilitas ekonomi, dan dibukanya pintu
bagi masuknya modal asing melalui UU Penanaman Modal Asing No. 1/1967, dan
ditarik masuknya devisa yang dimiliki oleh penduduk Indonesia yang lari dan
bermukim di luar negeri, melalui UU Penanaman Modal Dalam Negeri No.6/1966.
Stabilisasi dan liberalisasi ekonomi pada akhir tahun ’60-an ini merupakan titik awal
bagi pembangunan ekonomi dan industri yang berkelanjutan di Indonesia.

Orientasi kebijakan ekonomi-politik Orde Baru bisa diibaratkan bergerak seperti


ayunan pendulum. Hal inilah yang membuat sulitnya mengambil sebuah generalisasi
yang kuat, terutama jika kita coba menyimpulkan paham atau ‘ideologi’ apa yang
dianut. Pada kenyataannya, apa yang dianggap sebagai ‘ideologi’ yang
melatarbelakangi sebuah kebijakan ekonomi sebenarnya tak lain dari sebuah
pragmatisme. Hal ini juga diungkapkan secara skeptis oleh Robison (1986:109):
kebijakan dipilih bukan karena yang terbaik, baik menurut pandangan obyektif maupun
universal, namun karena kebijakan tersebut menjanjikan pertumbuhan sosial dan ekonomi
yang bisa diterima oleh penguasa politik baru di Indonesia.

Senada dengan Robison, Hill (1997:305) juga mengatakan:

Adalah kesalahan dalam melihat perubahan rezim ditahun 1966 sebagai perubahan dari
‘sosialis’ ke ‘kapitalis’ atau rezim ‘pasar bebas’. Saat itu masih terdapat penyalah gunaan
kekuatan pasar, liberalisme ekonomi dan kepemilikan swasta (terutama etnis Cina) pada
banyak sektor penting di Indonesia.

Inti dari teori ini adalah susunan institusi dari sebuah negara yang memfokuskan pada
perkembangan akan menjadi konvergen secara perlahan-lahan, karena industrialisasi
bergantung pada difusi dari produksi teknologi, dan peranan kuat dari teknologi dalam
membentuk kemampuan, pembagian kerja tenaga kerja, dan struktur kekuasaan
(Lincoln, 1990). Prinsip dari penerapan secara universal terhadap semua pihak dalam
pasar ekonomi adalah adanya pembagian kerja, spesialisasi, dan teknologi, karena
pihak-pihak tersebut mencari e siensi. Menurut pandangan konvergen, selanjutnya
akan selalu ada metode dan cara yang lebih baik dari metode-metode maupun cara-
cara produksi sebelumnya. Lebih lanjut, teori ini memprediksikan industrialisasi
secara linier, dari kerajinan ke pabrik, yang berujung pada produksi masal. Selanjutnya
teori ini berpendapat akan pentingnya dari kemajuan masyarakat industri akan
semakin mengurangi perbedaan pada organisasi sosial antara pelaku industrialisasi
lama dan baru, yang memimpin difusi dari organisasi industri pada backward zones.
Sehingga, jika ada pertanyaan bagaimana negara yang tertinggal dapat menyusul,
maka jawabannya adalah ‘Duplikat’. Sejauh ini telah ditunjukkan bahwa model kasar;
awal dari industrialisasi adalah evolusioner atau linier pada karakternya, dan menitik
beratkan pada ide bahwa tahap dari produksi pabrik berskala besar adalah
menggambarkan karakteristik dari industrialisasi.

BAB III

PEMBAHASAN

Defenisi Industri dan Industrialisasi


Industri mempunyai dua pengertian yaitu pengertian secara luas dan pengertian
secara sempit. Dalam pengertian secara luas, industri mencakup semua usaha dan
kegiatan dibidang ekonomi yang bersifat produktif. Sedangkan pengertian secara
sempit, industri atau industri pengolahan adalah suatu kegiatan yang mengubah suatu
barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang
setengah jadi atau barang jadi. Dalam hal ini termasuk kegiatan jasa industri dan
pekerja perakitan (assembling). Dalam istilah ekonomi, industri mempunyai dua
pengertian. Pertama, industri merupakan himpunan perusahaan-perusahaan sejenis,
contoh industri kertas berarti himpunan perusahaan-perusahaan penghasil kertas.
Kedua, industri adalah sektor ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan produktif
yang mengolah barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi (Arsyad,
2004).

Dalam pengertian kedua, kata industri sering disebut sektor industry pengolahan /
manufaktur yaitu salah satu faktor produksi atau lapangan usaha dalam perhitungan
pendapatan nasional menurut pendekatan produksi. Sukirno (2006) pengertian
industri adalah:

“Suatu unit atau kesatuan produk yang terletak pada suatu tempat tertentu yang
meletakan kegiatan untuk mengubah barang-barang secara mekanis atau kimia,
sehingga menjadi barang (produk yang sifatnya lebih dekat pada konsumen terakhir),
termasuk disini memasang bahagian dari suatu barang (assembling).

Ketika satu negara telah mencapai tahapan dimana sektor industri sebagai leading
sectormaka dapat dikatakan negara tersebut sudah mengalami industrialisasi (Yustika,
2000). Dapat dikatakan bahwa industrialisasi sebagai transformasi struktural dalam
suatu negara. Oleh sebab itu, proses industrialisasi dapat didefenisikan sebagai proses
perubahan struktur ekonomi dimana terdapat kenaikan kontribusi sektor industri
dalam permintaan konsumen, PDB, ekspor dan kesempatan kerja.

Industrialisasi dalam pengertian lain adalah proses modernisasi ekonomi yang


mencakup seluruk sektor ekonomi yang mempunyai kaitan satu sama lain dengan
industri pengolahan. Artinya industrialisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah
seluruh sektor ekonomi dengan sektor industri pengolahan sebagai leading sector,
maksudnya adalah dengan adanya perkembangan industri maka akan memacu dan
mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya (Arsyad, 2004).

Pembangunan Industri Nasional


Proses industrialisasi di Indonesia terbagi dalam berbagai tahapan, dimana pergeseran
kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno ke Jenderal Soeharto pada tahun 1966
membukacakrawala baru bagi Indonesia dalam bidang ekonomi dan politik
(Weinstein, 1976). Pada saat itu, kondisi ekonomi Indonesia sangat parah dimana
kondisi ini ditandai dengan tingginya tingkat in asi yang mencapai ratusan persen per
tahun serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah (bahkan negatif),
utang luar negeri yang menumpuk dan tidak bisa diangsur kembali dengan hasil
ekspor yang nilainya hanya beberapa ratus dolar per tahun (Kuncoro, 2007). Akhir
1960-an sampai dekade 1970-an, industri tambang menjadi primadona dengan
sebagian besar hasil eksploitasi dibawa ke luar negeri, baik barang dagangan maupun
akumulasi keuntungannya.

Pembangunan industri nasional hingga saat ini telah mencapai kemajuan yang sangat
berarti, dimana industri pengolahan non-migas mampu tumbuh dan berkembang
secara signi kan. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam
sambutannya pada Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015 di Ruang
Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis – 5 Februari 2015. Pada
kesempatan tersebut, Menperin didampingi pejabat eselon I dan II di lingkungan
Kementerian Perindustrian serta dihadiri pimpinan KADIN, asosiasi industri, pelaku
usaha, dan wartawan.

Rapat kerja tersebut merupakan upaya Kementerian Perindustrian untuk mengawali


kerja besar dalam pembangunan sektor industri selama satu tahun ke depan. “Tahun
ini menjadi awal dari tahapan pembangunan jangka menengah nasional tahun 2015-
2019,” tegas Menperin.

Dapat disampaikan, pertumbuhan industri pengolahan non-migas secara kumulatif


hingga triwulan III tahun 2014 mencapai 5,30%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari
pertumbuhan ekonomi (PDB) pada periode yang sama sebesar 5,11%. Cabang-cabang
industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi antara lain: Industri Barang Lainnya
sebesar 10,77%; Industri Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 8,80%; Industri
Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya sebesar 7,27%; serta Industri Kertas dan Barang
Cetakan sebesar 6,02%.

Kontribusi sektor industri pengolahan non-migas mencapai 20,65% dari total PDB
nasional, yang tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya.Nilai ekspor industri
non-migas pada Januari-Oktober 2014 mencapai US$ 98,43 miliar atau memberikan
kontribusi sebesar 66,48% dari total ekspor nasional. Meskipun impor produk industri
masih lebih tinggi dari ekspor, de sit neraca perdagangan industri telah ditekan dari
USD 17,49 miliar pada Januari-Oktober 2013 menjadi USD 5,47 miliar pada Januari-
Oktober 2014.

Sementara itu, nilai investasi PMDN sektor industri non-migas pada sepanjang tahun
2014 mencapai Rp 59,03 triliun atau meningkat sebesar 15,37% dari tahun 2013 dan
memberikan kontribusi sebesar 39,93% dari total investasi PMDN tahun 2014.
Sedangkan nilai investasi PMA sektor industri non-migas mencapai US$ 13,02 milyar
atau menurun sebesar 17,9% dan memberikan kontribusi sebesar 45,63% dari total
investasi PMA tahun 2014.

Dalam rangka menapaki tahun 2015 yang penuh tantangan dan masih adanya
ketidakpastian ekonomi global, Kemenperin terus melakukan berbagai upaya untuk
melaksanakan pembangunan industri nasional dengan sasaran utama, antara
lain:pertumbuhan industri pengolahan non-migas sebesar 6,1-6,8%, jumlah tenaga
kerja sektor industri sebanyak 15,5 juta orang, kontribusi ekspor sektor industri
mencapai 67,3%, dan nilai investasi sektor industri sebesar Rp 270 Triliun.

Sementara itu, arah kebijakan pembangunan industri nasional akan difokuskan pada:
(1) Pengembangan Perwilayahan Industri di luar Pulau Jawa melalui fasilitasi
pembangunan 14 Kawasan Industri, fasilitasi pembangunan 22 Sentra Industri Kecil
dan Menengah, serta berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan; (2)
Penumbuhan Populasi Industri dengan target penambahan sebesar 9 ribu usaha
industri berskala besar dan sedang dimana 50 persen tumbuh di luar Jawa, serta 20
ribu unit Industri Kecil yang dilakukan melalui mendorong investasi untuk industri,
memanfaatkan kesempatan dalam jaringan produksi global, pembinaan industri kecil
dan menengah (IKM) agar dapat terintegrasi dengan rantai nilai industri pemegang
merek di dalam negeri; (3) Peningkatan Daya Saing dan Produktivitas, khususnya
peningkatan nilai ekspor dan nilai tambah per tenaga kerja melalui peningkatan
e siensi teknis, peningkatan penguasaan IPTEK/inovasi, peningkatan penguasaan dan
pelaksanaan pengembangan produk baru (new product development) oleh industri
domestik, serta pembangunan faktor input (peningkatan kualitas SDM industri dan
akses ke sumber pembiayaan yang terjangkau), serta fasilitasi dan insentif dalam
rangka peningkatan daya saing dan produktivitas.

Menperin juga menyampaikan beberapa prestasi Kemenperin yang membanggakan


dalam Capaian Kinerja Kelembagaan, antara lain:(1) Berhasil mempertahankan
predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas audit Laporan Keuangan
tahun 2013, yang telah diraih secara berturut-turut selama 6 (enam) tahun sejak tahun
2008; (2) Penghargaan “E-Transparency Award 2014” sebagai Ranking 4 (Empat) dari
10 pemenang utama situs Kementerian/Lembaga (K/L) terbaik yang diikuti oleh 47
K/L; (3) Penghargaan peringkat kedua dari 10 Badan Publik Pemerintahan terbaik
dalam pelaksanaan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik; dan
(4) Penghargaan sebagai Kementerian Terbaik dalam Pemeringkatan e-
Government Indonesia (PeGI) tingkat Kementerian.

Kendala dalam Pertumbuhan Industrialisasi

Pemerintah fokus mengatasi tiga hambatan pertumbuhan industri untuk menjaga


momentum pertumbuhan ekonomi.Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa
mengatakan pemerintah telah mengidenti kasi tiga masalah yang menekan daya
saing industri nasional.Tiga hambatan utama itu adalah biaya logistik yang tinggi,
ketergantungan pada bahan baku industri impor, serta masalah produktivitas pekerja
dan sistem pengupahan.Pemerintah, lanjut Menko, bertekad untuk mengurangi
hambatan-hambatan pertumbuhan industri melalui belanja pemerintah serta
harmonisasi regulasi dan perizinan.“Biarlah negara sedikit bangkrut, yang penting
hambatan bagi dunia usaha bisa diatasi,” tegasnya,  setelah membuka Rakernas
Kementerian Perindustrian, Rabu 1 Februari 2012.Saat ini, masalah infrastruktur
membuat biaya logistik mencapai 14,08% dari harga akhir produk industri, 67% dari
beban logistik tersebut habis untuk biaya transportasi.Hatta mengatakan pemerintah
telah menyiapkan rancangan sistem logistik nasional yang diharapkan menekan
kontribusi biaya logistik hingga di bawah 10%.Ketergantungan atas bahan baku impor,
lanjut Menko, diatasi melalui dorongan investasi dalam sektor industri hulu untuk
meningkatkan kapasitas produksi bahan baku di dalam negeri.Adapun masalah
perburuhan dan produktivitas akan diselesaikan melalui revisi peraturan mengenai
pengupahan yang mempertegas sistem penetapan upah minimum di daerah.Selain itu,
Hatta mengatakan daya saing industri akan didorong melalui langkah revitalisasi
industri strategis, penguatan struktur industri dan peningkatan produktivitas melalui
peningkatan nilai tambah.

Lemahnya sumber daya manusia (SDM)

Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih berpendidikan rendah. Insinyur-


insinyur hasil lulusan dalam negri juga masih kurang baik dari segi kualitasnya, masih
kurang dalam problem-solving serta kurang kreatif dan kurang mampu dalam
melakukan riset serta pengembangannya. Maka dari itu, peran pemerintah sangat
diperlukan dalam bidang pendidikan agar kualitas pendidikan di Indonesia
ditingkatkan.
Masalah Biaya dan Pendanaan

Industri manufactur pada umumnya adalah industri padat modal dan Mempunyai
operating leverage (rasio antara biaya tetap dan biaya variabel total) yang tinggi.
Sebagai industri padat modal (pada umumnya), sebuah industri Manufaktur harus
menekan biaya variabel serendah-rendahnya. Oleh karena itu (mengingat biaya
variabel yang antara lain mencakup biaya buruh langsung), adalah sangat naif
pendapat yang mengatakan bahwa suatu industri padat modal sekaligus dapat menjadi
industri padat karya

Strategi Industrialisasi

1. Strategi Subtitusi Impor (SI)

Dalam melaksanakan industrialisasi, ada dua pilihan strategi, yaitu strategi subsitusi
impor (SI) atau strategi promosi ekspor (PE). Strategi SI lebih menekankan pada
pengembangan industri yang berorientasi kepada pasar domestik. SI adalah industri
domestik yang membuat barang-barang menggantikan impor, sedangkan strategi PE
lebih berorientasi ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri di
dalam negri. Jadi berbeda dengan strategi SI, dalam strategi PE tidak ada diskriminasi
dalam pemberian insentif dan fasilitas-fasilitas kemudahan lainnya dari pemerintah,
baik untuk industri yang berorientasi kepada pasar domestik maupun industri yang
berorientasi ke pasar ekspor.

Strategi SI dilandasi oleh pemikiran bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dapat dicapai dengan mengembangkan industri di dalam negeri yang memproduksi
barang-barang pengganti impor. Strategi PE dilandasi oleh pemikiran bahwa laju
pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa direalisasikan jika produkproduk yang
dibuat di dalam negeri dijual di pasar ekspor.

Beberapa pertimbangan yang lazim digunakan dalam memilih strategi ini terutama
adalah sebagai berikut :

1. Sumber daya alam (seperti bahan baku) dan faktor produksi (terutama tenaga kerja)
cukup tersedia didalam negeri sehingga secara teoritis, biaya produksi untuk
intensitas penggunaan sumber-sumber ekonomi tersebut yang tinggi menjadi
rendah.
2. Potensi permintaan didalam negeri yang memadai.
3. Untuk mendorong perkembangan sektor industri manufaktur didalam negeri.
4. Dengan berkembangnya industri didalam negeri, maka kesempatan kerja
diharapkan terbuka luas.
5. Dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, yang berarti juga mengurangi
de sit saldo neraca perdagangan dan menghemat cadangan devisa.

Pelaksanaan strategi SI terdiri atas dua tahap yaitu :

1. Industri yang dikembangkan adalah industri yang membuat barang-barang


konsumsi, walaupun tidak semuanya durable goods (seperti kendaraan bermotor,
kulkas, TV, alat pendingin). Untuk membuat barang-barang tersebut diperlukan
barang modal, input perantara, dan bahan baku uang dibanyak negara yang
menerapkan strategi ini tidak tersedia sehingga tetap harus diimpor.
2. Industri yang dikembangkan adalah industri hulu (upstream industries).

1. Strategi Promosi Ekspor (PE)

Melihat pengalaman yang kurang berhasil dengan strategi SI, badan-badan dunia
(seperti IMF dan Bank Dunia) menganjurkan agar negara-negara berkembang
menerapkan strategi PE. Sesuai dengan teori klasik mengenai perdagangan
internasional, outward-oriented strategy ini melibatkan pembangunan sektor industry
manufaktur sesuai dengan keunggulan komperatif yang dimiliki negara
bersangkutan.Dalam prakteknya, banyak negara yang menerapkan strategi PE dengan
menghilangkan beberapa rintangan terhadap ekspor.

Beberapa syarat penting yang diberikan agar penerapan strategi tersebut membawa
hasil yang baik adalah sebagai berikut :

1. Pasar harus menciptakan sinyal harga yang benar, yang sepenuhnya mere eksikan
kelangkaan dari barang yang bersangkutan, baik dipasar output maupun pasar
input.
2. Tingkat proteksi dari impor harus rendah.
3. Nilai tukar mata uang harus realistis, sepenuhnya mere eksikan keterbatasan uang
asing yang bersangkutan.
4. Lebih penting lagi, harus ada insentif untuk meningkatkan ekspor.

Menurut strategi ini, paling tidak kesempatan yang harus diberikan kepada industri-
industri yang memproduksi untuk pasar dalam negeri dan indutri-industri untuk
pasar ekspor.

Peranan Industri Terhadap Perekonomian

Filoso mendasar dari pembangunan suatu negara adalah menciptakan kemakmuran


bagi rakyatnya. Di era globalisasi perdagangan dewasa ini, tidak bisa kemakmuran
suatu bangsa hanya dapat terwujud melalui pembangunan industri, baik industri jasa
maupun industri barang (manufaktur).

Bagi Indonesia, dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta, pembangunan sektor

manufaktur merupakan satu-satunya pilihan, sebab sektor inilah yang mampu


memberikan lapangan kerja besar dengan pengupahan yang lebih sistematis
dibandingkan sektor industri produk primer (pertanian) maupun industri jasa.

Peranan industri terhadap perekonomian dapat dilihat dari kontribusinya pada Produk
Domestik Bruto (PDB), peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, perolehan
devisa neto dari kegiatan ekspor, pembentukan nilai tambah serta sumbangan
terhadap pajak bagi negara. Sayangnya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dari
sekitar 145 juta angakatan kerja (usia produktif) saat ini baru sekitar 15 juta orang yang
bekerja pada sektor industri. Sektor ini ternyata juga baru mampu menyumbang
sekitar 25% dari total PDB Indonesia. Angka yang relative masih sangat kecil.

Rendahnya kontribusi industri terhadap PDB mengindikasikan bahwa pembangunan


sektor tersebut sejauh ini belum mampu menjadi penolong yang besar terhadap
tumbuh dan berkembangnya sektor usaha lain. Kondisi tadi juga mengindikasikan
bahwa pembangunan industri nasional belum mampu menciptakan keterkaitan yang
e sien antar sektor hulu dan hilir serta antara industri dengan sector ekonomi lainya.

Tahun 2007, sebenarnya dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengikis
gejala deindustrialisasi yang sempat muncul selama 2006 sekaligus menata lagi
strategi dalam mengembangkan dan memperkuat struktur industri nasional. Sekarang
semua bergantung pada seberapa serius dan seberapa cerdas pemerintah menciptakan
kemakmuran bagi rakyat, dengan belajar pada apa yang terjadi selama tahun 2006,
yang merupakan tahun kegagalan dalam pembangunan industri nasional

Kebijakan atau Strategi Pemerintah yang Diterapkan


Pola industrialisasi di negara yang menerapkan kebijakan substitusi impor dan
kebijakan perdagangan luar negeri yang protektif seperti Indonesia selama orde baru
berbeda dengan di negara yang menerapkan kebijakan promosi ekspor dalam
mendukung perkembangan industrinya. Keadaan Industri Kerajinan Bantul pasca
gempa sangat memprihatinkan, porak porandanya tempat kerja bahkan juga banyak
yang sekaligus tempat tinggal, hancurnya peralatan/ mesin-mesin kerja, bahan baku,
barang setengah jadi, barang jadi siap kirim., alat-alat dan bahan pendukung. Selain
itu mundurnya mentalitas pekerja, mental entrepreneur, beban hutang / kredit yang
menghimpit, beban pekerjaan / tanggungan pekerjaan yang belum terselesaikan,
hilangnya pelanggan, serta turunnya pendapatan dan omset ditambah lagi dengan

kondisi ekonomi secara nasional yang ikut memburuk menyebabkan sector kerajinan
mengalami penurunan yang signi kan.

Paska terjadinya gempa bumi di Kabupaten Bantul, sebagian besar proses produksi
masih tetap dapat berjalan walaupun tidak dalam kapasitas penuh, namun hambatan
terbesar yang dihadapi selain masalah hilangnya bahan baku dan juga rusaknya alat
kerja adalah masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang
terampil, mahalnya tenaga kerja dan masih banyaknya tenaga kerja yang berubah
profesi menjadi tehaga kerja bangunan yang memang banyak dibutuhkan untuk
merekonstruksi perumahan setelah terjadinya gempa bumi.

Berbagai masalah yang muncul pada sektor industri pengolahan di Bantul pada
dasarnya masih pada permasalahan yang sama, akan tetapi permasalahan makin
muncul dan berkembang dengan adanya gempa bumi yang terjadi. Permasalahan yang
dihadapi antara lain adalah: Ketidakmampuan membayar kredit, omzet yang
menurun, ketidakmampuan berproduksi, kehilangan pasar, mundurnya mentalitas
pekerja dan mental entrepreneur, beban pekerjaan yang belum terselesaikan dan
ketidaksinkronan program pengembangan industri yang dibuat eksekutif dengan
kebutuhan riil.

Berbagai kebutuhan pendukung yang masih diperlukan oleh kabupaten Bantul untuk
pengembangan sektor industrinya antara lain adalah: perlunya database industri
sehingga intervensi yang dilakukan pemerintah untuk mendorong perkembangan
industri bisa optimal, selain itu juga diperlukan lembaga desain produk mebel dan
kerajinan sehingga produk kerajinan

mempunyai karakter yang kuat, serta perlu ditingkatkankannya kemampuan


pengrajin membaca trend pasar sehingga produknya dapat diserap pasar.
 

BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan pengalaman di sebagian besar negara, dapat disimpulkan bahwa


industrialisasi adalah suatu keharusan karena menjamin kelangsungan proses
pembangunan ekonomi jangka panjang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dan berkelanjutan yang menghasilkan pendapatan perkapita setiap tahun. Di
Indonesia industri masih sangat ketertinggalan dari negara-negara lainnya, bahkan
kalah dengan industri negara yang kecil, padahal d Indonesia potensi untuk di
adakannya perindustrian itu sangat bagus. Namun ada bebarapa faktor yang
mempengaruhinya seperti kurangnya SDM, kurangnya teknologi dan pendanaan dari
pemerintah. Pada saat sekarang ini, industri di Indonesia mengalami kemajuan banyak
industri-industri kecil yang muncul. Akan tetapi, hal ini kurang tepat, karena
menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik, karena industri-industri di Indonesia
tidak memperhatikam permasalah lingkungan terutama permasalahan limbah yang
tidak terorganisir secara baik.

Di Indonesia industri masih sangat ketertinggalan dari negara-negara lainnya, bahkan


kalah dengan industri negara yang kecil, padahal d Indonesia potensi untuk di
adakannya perindustrian itu sangat bagus. Industri adalah kegiatan ekonomi yang
mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi
barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya, termasuk kegiatan rancang
bangun dan perekayasaan industri. Namun ada bebarapa faktor yang
mempengaruhinya seperti kurangnya SDM, kurangnya teknologi dan pendanaan dari
pemerintah. Pada saat sekarang ini, industri di Indonesia mengalami kemajuan banyak
industri-industri kecil yang muncul. Akan tetapi, hal ini kurang tepat, karena
menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik, karena industri-industri di Indonesia
tidak memperhatikam permasalah lingkungan terutama permasalahan limbah yang
tidak terorganisir secara baik. Meskipun dalam upaya yang dilakukan oleh bangsa ini,
supaya perindustrian di Indonesia tidak tertinggal telah dibuat kebijakan tentang
perindustrian namun pada kenyataannya kebijakan itu belum sepenuhnya efektif.

Meskipun dalam upaya yang dilakukan  oleh bangsa ini, supaya perindustrian di
Indonesia tidak tertinggal telah dibuat kebijakan tentang perindustrian namun pada
kenyataannya kebijakan itu belum sepenuhnya efektif. Maka dari itu pemerintah harus
lebih memperhatikan permasalahan dalam perindustrian ini baik dalam segi modal
ataupun memikirkan bagaimana cara supaya limbah perindustrian tidak mencemari
lingkungan. Dan industri yang ada dapat dikelola sesuai dengan kebijakan yang
dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.upi.edu/14401/6/S_SOS_1001839_CHapter1.pdf

http://jiae.ub.ac.id/index.php/jiae/article/download/149/118

http://e-journal.uajy.ac.id/2584/3/2EP14851.pdf

http://www.kemenperin.go.id/artikel/11043/Raker-Kemenperin-Tentukan-Arah-
Pembangunan-Industri-Nasional

Subandi, 2005, Sistem Ekonomi Indonesia, Bandung: Alfabeta.

Iklan

Kategori: Tak Berkategori

Tinggalkan sebuah Komentar


gustingurahblog
Blog di WordPress.com. Kembali ke atas

Iklan