Anda di halaman 1dari 10

Sejarah Keberadaan LPD, Tri Hita Karana, dan Catur Purusha Harta

A. Sejarah Keberadaan LPD


Keberadaan LPD di Bali sesungguhnya terproses dari sebuah
kesadaran dan kemauan bersama dari masyarakat adat Bali yang telah lama
ada dan berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka, sebelum Republik
Indonesia ini didirikan. Kesadaran dan kemauan bersama itu terwadahi
melalui organisasi komunitas berbasis wilayah yakni Desa Adat (kini Desa
Pakraman), Banjar Adat (kini Banjar Pakraman). Selain itu, juga tumbuh
berbagai organisasi masyarakat atas dasar aktivitas kegiatan sosial-ekonomi
masyarakat yakni sekaa. Sekaa-sekaa itu di antaranya Sekaa Manyi
(kelompok pemanen hasil pertanian di sawah), Sekaa Gong (kelompok
penabuh), Sekaa Semal (kelompok pengusir hama tupai) dan lain-lainnya.
Masing-masing kelompok sekaa tersebut secara aktif melaksanakan
kegiatan bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Salah satu
kegiatan yang dilaksanakan yakni kegiatan penghimpunan dan peminjaman
dana di antara anggota sekaa. Aktivitas penghimpunan dana itu ada yang
berupa pepeson atau pecingkreman, baik berupa uang maupun barang yang
dilakukan setiap bulan. Uang yang terkumpul itu kemudian didistribusikan
kembali kepada anggota melalui rapat. Anggota yang mendapat kesempatan
meminjam uang itu ditentukan oleh rapat tersebut, termasuk bunga yang
dikenakan kepada yang bersangkutan. Pada akhirnya, semua anggota sekaa
akan mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan dana sekaa itu dalam
upaya mengembangkan aktivitas ekonomi yang bermuara pada peningkatan
kesejahteraan bersama.
Dinamika ekonomi berbasis komunitas khas Bali itu memberi
inspirasi Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Pada tahun 1983,
pucuk pimpinan Pemerintah Daerah Provinsi Bali ini merumuskan gagasan
untuk membentuk sebuah lembaga keuangan berbasis adat dengan
mengadopsi dan mengembangkan konsep sekaa, banjar dan desa adat yang
telah tumbuh di tengah-tengah masyarakat Bali. Untuk memperkuat
gagasannya itu, Gubernur Mantra mengadakan studi banding ke Padang. Di
sana sudah berdiri Lumbung Pitih Nagari (LPN). LPN merupakan lembaga

1
simpan pinjam untuk masyarakat adat Padang yang cukup sukses. LPN
sudah ada di Minang, jauh sebelum Jepang menjajah Indonesia LPN pada
awalnya mengenal prinsip dasar arisan yang dimanfaatkan untuk
kepentingan adat seperti upacara pertunangan, pernikahan, pengangkatan
datuk dan lain-lain. Namun lama-kelamaan pengelolaan uang dimanfaatkan
untuk kegiatan produktif seperti modal usaha.
Pada saat yang sama, Pemerintah Pusat juga meluncurkan program
pembentukan lembaga kredit di pedesaan untuk mendorong pembangunan
ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Beberapa bulan
kemudian digelar seminar tentang Lembaga Keuangan Desa (LKD) atau
Badan Kredit Desa (BKD) di Semarang yang dilaksanakan Departemen
Dalam Negeri pada bulan Februari 1984. Salah satu kesimpulan seminar
tersebut yaitu “perlu dicari bentuk perkreditan di pedesaan yang mampu
membantu pengusaha kecil dipedesaan yang saat itu belum tersentuh oleh
Lembaga Keuangan yang ada seperti bank. Sejumlah provinsi di Indonesia
sesungguhnya sudah memiliki Lembaga Perkreditan Pedesaan yang tumbuh
subur pada dekade 1980-an. Lembaga ini secara umum disebut Lembaga
Dana dan Kredit Pedesaan (LDKP). Namun di setiap daerah namanya
berbeda-beda seperti di Aceh disebut Lembaga Kredit Kecamatan (LKC).
Bali mencoba menerjemahkan hasil keputusan seminar di Semarang
dengan mengandopsi konsep sekaa yang telah tumbuh di masyarakat Bali.
Akhirnya, terbentuklah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali yang
dengan tujuan untuk membantu desa adat. Keuntungan LPD direncanakan
untuk membangun kehidupan religius berikut kegiatan upacaranya seperti
piodalan, sehingga warganya tidak perlu membayar iuran wajib. Mula
pertama, dibuat pilot project satu LPD di tiap-tiap kabupaten. Kala itu, dasar
hukum pembentukan LPD hanyalah Surat Keputusan (SK) Gubernur
Kepala Daerah Tingkat I Bali No. 972 tahun 1984, tanggal 19 Nopember
1984. Sebagai Implementasi dari Kebijakan Pemerintah Daerah Tingkat I
Bali tersebut diatas, maka secara resmi LPD beroperasi mulai 1 Maret 1985,
dimana disetiap Kabupaten didirikan 1 LPD. Selanjutnya LPD diperkuat
oleh peraturan daerah provinsi Bali No. 2 / 1988 hingga peraturan daerah

2
provinsi Bali No.8/2002 dan peraturan terk.Selain persyaratan untuk
memiliki peraturan desa adat tertulis, pendirian LPD juga bergantung
anggaran tahunan pemerintah provinsi untuk menyediakan modal awal dan
menyiapkan para pelaksana manajemen.
Perkembangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Desa Pakraman
di Provinsi Bali sampai saat ini cukup pesat. Jika dicermati data laporan PT
Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali, perkembangan LPD di Bali sangat
menggembirakan. Setelah 30 tahun berjalan, keberadaan LPD terbukti
mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan sekaligus
menyangga tumbuh dan berkembangnya budaya Bali sebagai aset bangsa.
LPD tidak saja memerankan fungsinya sebagai lembaga keuangan yang
melayani transaksi keuangan masyarakat desa tetapi telah pula menjadi
solusi atas keterbatasan akses dana bagi masyarakat pedesaan yang nota
bene merupakan kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi
terbatas.
Kesuksesan LPD ini merupakan buah dari konsep pendirian dan
pengelolaan LPD yang digali dari kearifan lokal dan kultural masyarakat
Bali yang berbasis pada kebersamaan, kekeluargaan dan kegotong-
royongan. Kendati ide pendirian LPD berasal dari Pemerintah Daerah Bali
(Gubernur Prof. IB Mantra), akan tetapi sujatinya gagasan itu digali dari
sesuatu yang telah berkembang sebagai kultur dan kearifan lokal
masyarakat Bali. Artinya, gagasan LPD sesungguhnya berakar pada adat
dan budaya masyarakat Bali. Penyebab kesuksesan LPD juga berasal dari
pola pengelolaan yang berbasis komunitas dengan landasan nilai-nilai
kekeluargaan dan kegotong-royongan dalam bingkai adat dan budaya Bali.
Masyarakat di Desa Pakraman menjadi pemilik sekaligus pengelola LPD
yang menjalankan tugas dan fungsinya dalam ikatan komitmen untuk
mencapai kesejahteraan dan kemajuan bersama. Sebagai buah dari inisiatif
dan pengelolaan oleh masyarakat Desa Pakraman itu lalu hasil yang dicapai
juga akhirnya dinikmati secara bersama-sama. Hasil bersama itu tidak saja
tercermin melalui manfaat ekonomi, tetapi yang jauh lebih penting adalah
manfaat sosial-budaya berupa semakin kokohnya adat dan budaya. LPD

3
menjadi sumber utama pendanaan kegiatan adat, budaya maupun sosial
masyarakat di Desa Pakraman.
Tujuan pendirian sebuah LPD pada setiap desa adat, berdasarkan
penjelasan peraturan Daerah No.2/ 1988 dan No. 8 tahun 2002 mengenai
lembaga peerkreditan desa(LPD), adalah untuk mendukung pembangunan
ekonomi perdesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung masyarakat
desa dan menyediakan kredit bagi usaha skala kecil, untuk menghapuskan
bentuk – benttuk eksploitasi dalam hubungan kredit, untuk menciptakan
kesempatan yang setara bagi kegiatan usaha pada tingkat desa, dan unttuk
meningkatkan tingkat monetisasi didaerah perddesaan (Government of Bali,
1988, Government of Bali, 2002).
Ada empat faktor yang saling terkait yang dapat menjelaskan
pertumbuhan LPD yang sangat cepat tersebut sebagai lembaga perantara
keuangan di provinsi Bali. Pertama, pertumbuhan LPD yang cepat tersebut
secara tidak langsung menunjukan bahwa pemerintah provinsi Bali
memiliki keinginan politis yang kuat untuk menyediakan akses kredit bagi
masyarakatnya melaluui pendirian LPD. Kedua, pertumbuhan yang sangat
cepat pada portofolio nasabah dan pinjaman LPD mengindikasikan bahwa
LPD – baik sebagai lembaga keungan maupun mekanisme tata- kelolanya –
sesuai dengan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Bali, terutama
didaerah perdesaan. Ketiga, Karena masing-masing LPD beroperasi hanya
disebuah desa adat yang wilayahnya relatih kecil, anggota komunitas
memiliki informasi yang cukup mengenai LPD dan dapat dengan mudah
mengaksesnya. Keempat, jumlah tabungan menunjukan bahwa LPD bukan
hanya merupakan lembaga pemberi pinjaman ( lending institution) tetapi
juga sebagai lembaga tabungan (saving institution), yang berarti LPD telah
mampu berperan sebagai lembaga perantara keuangan seperti halnya Bank
umum.
Fungsi LPD didirikan sesuai Perda Tingkat I Bali Nomor 2 Tahun
1988 menyebutkan dalam pasal 3 bahwa: LPD adalah salah satu lembaga
desa yang merupakan unit operasional serta berfungsi sebagai wadah
kekayaan desa yang berupa uang atau surat-surat berharga lainnya.

4
Pendayagunaan LPD diarahkan kepada usaha-usaha peningkatan taraf
hidup krama desa untuk menunjang pembangunan.
LPD berbeda dari lembaga keuangan Mikro lain yang dikendalikan
oleh pemerintah provinsi seperti badan kredit kecamatan (BKK) di Jawa
Tengah atau kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK) di Jawa Timur karena
kepemilikan dan pengorganisasiannya dipengarui oleh adat istiadat
masyarakat Bali. Keputusan Gubernur No. 344 / 1993 juga menyebutkan
fungsi Bank BPD Bali. Dalam pasal 2 keputusan tersebut (pemerintah Bali,
1993b) dinyatakan bahwa Bank BPD Bali memiliki 3 fungsi berkenaan
dengan LPD. Pertama, memberikan bimbingan teknis dalam dua cara yaitu
melalui bimbingan pasif, dan melalui bimbingan aktif yang dilakukan
dengan kunjungan langsung kelokasi LPD. Kedua, Bank BPD Bali
memiliki tugas untuk mengelola koordinasi dengan organisasi lain yang
terlibat didalam proses bimbingan dan pengawasan LPD. Ketiga, Bank BPD
Bali harus menyiapkan laporan evaluasi triwulan tentang kinerja keuangan
dan kesehatan LPD kepada gubernur.

Berdasarkan PERDA Provinsi Bali No.8/2002, setiap LPD dikelola


oleh sebuah komite (ketua, kasir dan petugas administrasi). Deskripsi
manajemen inti dapat dijelaskan bahwa ketua bertugas mengordinasi
kegiatan operasional harian LPD, pembuatan perjanjian kontrak dengan
nasabah, bertanggung jawab pada desa adat melalui pemimpinnya (Dewan
Pengawas LPD), menyusun rencana kegiatan dan anggaran, dan
memformulasikan kebijakan LPD. Petugas administrasi melakukan tugas-
tugas administrasi, baik administasi umum maupun tata buku, bertanggung
jawab kepada ketua LPD, menyusun laporan neraca dan laporan
pendapatan, serta mengelola arsip. Sedangkan kasir adalah mencatat aliran
dana. Staf LPD membantu ketua melaksanakan tugasnya dan terlibat dalam
pembuatan kegiatan dan rencana anggaran dalam keputusan pemberian
kredit. Dalam mengelola LPD, tim manajemen juga memantau perubahan
situasi makro-ekonomi, melakukan rapat formal triwulanan untuk evaluasi
internal yang melibatkan semua staf. Staf pengumpul kredit diberi
pengarahan harian mengenai tugas mereka oleh ketua LPD sebelum mereka

5
mulai bekerja evaluasi internal LPD dilakukan oleh dewan pengawas. Hal
ini membenarkan pendapat bahwa struktur organisasi LPD mampu
mengimplementasikan kebijakan dan strategi LPD untuk mencapai
tujuannya. Kemampuan manajemen internal LPD memperoleh dukungan
dari pengawasan dan bimbingan yang diberikan pemerintah lokal pada tiap
tingkatan dan oleh bank BPD Bali. Kemampuan manajemen internal LPD
memperoleh dukungan dari pengawasan dan bimbingan yang diberikan
pemerintah lokal pada tiap tingkatan dan oleh bank BPD Bali.
Tim manajemen inti direkrut dari desa adat lokal. Mereka dipilih
dari anggota komunitas desa dan ditetapkan dalam rapat desa untuk periode
empat tahun. Namun mereka dapat dipilih kembali apabila mampu bekerja
dengan baik (Government of Bali, 2002, Articli11). Komite manajemen
biasanya dibantu oleh dua atau tiga staf yang bertanggung jawab untuk
mengumpulkan tabungan dan pinjaman. Menurut pasal 11(4) Peraturan
Daerah Provinsi Bali No. 8/2002 bahwa salah satu tugas penting komite inti
adalah menjalankan kewenangan untuk menunjuk staf baru atau untuk
memberhentikan staf manajemen operasional LPD. Rekruitmen staf
tambahan dilakukan berdasarkan perkembangan skala usaha LPD.
Pemilihan staf baru oleh Dewan Pengawas juga didasarkan atas tes
kemampuan dan sifat atau karakter pelamar, dan masing-masing dusun di
desa adat harus terwakili oleh anggota staf. Kemudian para pelamar
mengikuti tes kemampuan yang diadakan oleh PLPDK. Persyaratan umum
untuk pelamar ialah memiliki minimal ijazah tingkat SMU. Singkatnya,
prosedur rekruitmen ini menggambarkan pentingnya peran institusi
informal dalam tata kelola LPD, dan menunjukkan kuatnya keterikatan LPD
dengan lingkungan sosio-kulturalnya. Prinsip Pengaturan Operasional
mencakup peraturan mengenai kecakupan modal (capital adequacy), batas
jumlah peminjaman (legal lending limit), cadangan untuk kerugian
pinjaman manajemen likuiditas, dan sistem pemeringkatan LPD. LPD harus
menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential principle) dari lembaga
keuangan agar dapat menjadi lembaga keuangan yang sehat. Berdasarkan
kriteria CAMEL BPR yang diterapkan BI berdasarkan surat edaran No.

6
30/UUPB, 30 April 1997 (Bank BPD Bali,2000) bahwa pengaturan ini
mengatur CAR, kualitas aset produktif, aspek manajemen, pendapatan dan
likuiditas.
Dalam kaitannya dengan tingkat bunga, pada tahun 2002 tingkat
bunga pinjaman untk pinjaman berkisar antara 27 hingga 33 persen, lebih
tinggi dari pada rata – rata tingkat bunga bank umum yang hanya 22 persen
pertahun pada saat itu. Peraturan desa adat juga berlaku bagi staf LPD yang
melanggar peraturan dan salah dalam mengelola operasional harian LPD,
seperti kolusi, korupsi atau manipulasi. Sanksi sosial dapat dikenakan pada
mereka. Selain itu, berdasarkan peraturan legal formal, pasal 24 peraturan
Daerah No. 8 / 2002 yang menyatakan bahwa staf LPD yang melanggar
peraturan dan menyebabkan LPD menderita kerugian keuangan haruslah
mengganti kerugian tersebut. Pasal 26 yang menerangkan pasal 24
peraturan tersebut menekankan bahwa staf terpidana dapat memperoleh
hukuman maksimum 6 bulan penjara atau maksimum denda Rp 5 juta.
Singkatnya, gambaran ini menunjukan bahwa institusi informal (seperti
norma-norma dan sanksi sosial) dan institusi formal (peraturan legal formal)
digunakan bersama- sama dalam tata-kelola LPD.
Sistem penggajian pada LPD secara umum dimaksudkan untuk
menstimulasi kinerja yang lebih baik dari stafnya, terutama dalam
mengumpulkan pinjaman dan mempromosikan dan melayani tabungan.
Diantara manjemen inti LPD, ketua memperoleh gaji paling tinggi, diikuti
oleh petugas kasir dan tenaga administrasi. Prinsip penentuan gaji pokok
yang didasarkan biaya hidup di desa di mana LPD berada juga tercermin
pada kuatnya hubungan antara LPD dan lingkungan sosio-ekonominya.
Kondisi makro-ekonomi yang terus tumbuh dan stabil disertai dengan
liberalisasi pasar keuangan pada tingkat nasional, stabilitas politik di Bali,
dukungan dari pemerintah pada semua tingkat administrative, tingkat
kohesi sosial masyarakat Bali yang tinggi dan struktur sosial tradisional
yang penting telah mendukung pertumbuhan LPD. Tidak ada keraguan
bahwa kondisi makro-ekonomi yang terus tumbuh dan stabil dan lingkugan

7
sosio-kultural merupakan faktor penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan LPD di Bali.

B. Tri Hita Karana dan Catur Purusha Artha


Sebagai lembaga keuangan milik desa adat, LPD di Bali memiliki
posisi strategis dalam perspektif memperkuat ketahanan ekonomi warga
masyarakat di pedesaan melalui pengelolaan potensi yang dikemas dalam
variasi aspek layanan jasa keuangan. Pada sisi lain, lembaga desa adat dapat
memanfaatkan LPD sebagai “lumbung” tempat penyimpanan kekayaan
desa yang semakin berkembang dan pada gilirannya tiap tahun memperloleh
kompensasi pembagian laba untuk mendukung aktivitas pembangunan di
desa adat yang berkaitan dengan aspek Tri Hita Karana , yakni parahyangan
(hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan sesama manusia)
dan palemahan (hunbungan manusia dengan lingkungannya). Aktivitas
lembaga desa adat tidak bisa lepas dari ketiga aspek tersebut karena falsafah
Tri Hita Karana mengandung makna keseimbangan vertikal dan horizontal.
Hal ini bisa terwujud apabila semua pemangku kebijakan birokrasi di
tingkat kabupaten/kota dan propinsi memiliki kesamaan pandang untuk
membangun kemandirian LPD dengan kebijakan yang berorientasi untuk
memperkuat kelembagaan melalui payung konstitusi.
Sejalan dengan keberadaan dan operasional LPD, tidak ada alasan
untuk “mengkerdilkan” lembaga tersebut, apalagi dengan memanfaatkan
“tangan-tangan” pihak luar Bali yang sejatinya tidak memiliki hubungan
emosional dengan kemandirian LPD, baik secara historis, sosiologis
maupun ekonomis. Otoritas lembaga desa adat seharusnya diakui bukan
semata-mata dalam konteks menjadikan benteng mempertahankan
keberadaan adat dan budaya, tetapi lebih luas perlu dipahami sebagai
institusi masyarakat adat untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal
sekaligus sebagai pembelajaran wirausaha bagi warga masyarakat dalam
menghadapi persaingan ekonomi global. Sejalan dengan hal itu, LPD bisa
dimanfaatkan oleh warga desa adat secara maksimal untuk mengembangkan
potensi ekonomi keluarga, kelompok-kelompok sekeha (organisasi

8
tradisional lokal), banjar, maupun pengembangan bisnis para wirausahawan
pemula dan pengusaha profesional lainnya.
Memang tidak mudah bagi pengurus dan kayawan LPD mengelola
lembaga keuangan milik desa adat di tengah pemahaman, status sosial dan
ekonomi warga masyarakat yang heterogen. Belum lagi adanya rambu-
rambu yang wajib dipenuhi dan diikuti oleh LPD sehingga tidak bisa
mengembangkan usaha lebih luas sebagaimana lembaga keuangan lainnya.
Tetapi dibalik kendala keterbatasan pengembangan usaha, fakta empiris
menunjukkan LPD yang beroperasi di wilayah desa adat dengan tingkat
perkembangan ekonomi yang cukup maju, mampu mengemban visi dan
misinya dengan membukukan capaian sisa hasil usaha (keuntungan).
Dalam menjalankan kegiatan usahanya LPD Desa Pakraman Kikian
didasari dengan prinsip Catur Purusa Artha. Kegiatan usaha LPD
merupakan kegiatan usaha yang disamping bersifat sosial-ekonomi juga
bersifat cultural - religius. Sehingga kegiatan usaha LPD memiliki tujuan
yang sejalan dengan tujuan Agama Hindu. Tujuan agama Hindu yang
dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah "Moksartham
Jagadhitaya ca iti Dharma", yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan
untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau
kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci disebutkan di
dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni
Dharma, Artha, Kama dam Moksa. Konsep Catur Purusa Artha yang
dijadikan dasar Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Pakraman Kikian
dalam menjalankan kegiatan usahanya bersumber atau didasari oleh hukum
Agama Hindu yang bersumber dari Kitab Suci Weda. Catur Purusa Artha
terdiri dari empat komponen yaitu:
1) Dharma, merupakan dasar utama LPD dalam menjalankan kegiatan
usahanya. Dalam kegiatan usaha yang dilakukan oleh LPD Desa
Pakraman Kikian harus selalu didasari oleh Dharma yaitu kebaikan.
Setelah mengamalkan dharma atau kebaikan dalam menjalankan
kegiatan usahanya maka Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan

9
melimpahkan berkatnya berupa Artha kepada umatnya yang telah
mengamalkan ajarannya.
2) Artha, dalam hal ini setelah landasan yang utama dilaksanakan oleh
Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Pakraman Kikian berupa
menjalankan ajaran Dharma atau kebaikan barulah LPD Desa Pkraman
Kikian menekankan kegiatan usahanya pada aspek keuntungan dari
usaha simpan- pinjam yang dilakukan terutama dalam hal pemberian
kredit kepada masyarakat yang akan memberikan keuntungan berupa
bunga.
3) Kama, Setelah aspek artha yang menjadi tujuan yang kedua terpenuhi
maka selanjutnya adalah Kama yaitu nafsu atau keinginan atau
pemenuhan kebutuhan hidup berupa sandang, pangan, dan papan. Jadi
dengan Artha tersebut maka Kama atau Keinginan akan bisa terpenuhi
dengan keuntungan yang diperoleh LPD dalam kegiatan usahanya dapat
membantu masyarakat dalam hidup bermasyarakat, seperti membantu
pendanaan Desa Pakraman dalam melaksanakan pembangunan Desa,
membantu masyarakat baik masyarakat Desa Pakraman Kikian maupun
masyarakat luar Desa Pakraman Kikian dengan memberi pinjaman
misalnya untuk keperluan usaha, menyekolahkan anaknya, dan
kebutuhan - kebutuhan yang lain.
4) Moksa. Moksa yang dimaksud disini adalah kebahagiaan. Jadi dengan
kegiatan usaha yang dilakukan oleh LPD Desa Pakraman Kikian yang
dapat membantu perekonomian masyarakat desa sehingga dapat
meringankan beban kehidupan masyarakat desa sehingga beban hidup
bermasyarakat semakin ringan maka masyarakat akan merasa lebih
senang atau bahagia karena sebagian atau seluruh kebutuhannya telah
dapat terpenuhi. Walaupun pemberian kredit kepada warga luar Desa
Pakraman melanggar Pasal 7 ayat (1) sub PERDA Provinsi Bali Nomor
8 Tahun 2002 yang berbunyi “memberikan pinjaman hanya pada karma
desa”, sampai saat ini tidak ada sanksi adat yang mengaturnya.

10