Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH

EVIDENCE BASED DALAM ASUHAN IBU NIFAS DAN MENYUSUI SERTA


KAJIAN JURNAL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui

Dosen : Rizky Amelia, S.ST.MKes

Disusun Oleh :

KELOMPOK 10

1. Yensy Vira Santyka P1337424417031


2. Tri Wahyuningtyas P1337424417036
3. Titian Arya Prasetyo P1337424417050

PROGRAM STUDI S1 TERAPAN KEBIDANAN SEMARANG

JURUSAN KEBIDANAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepadat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan tugas makalah matakuliah Ilmu Kesehatan Anak yang berjudul “Kebutuhan
Remaja”ini dengan tepat waktu.

Dalam penyelesaian makalah ini, penyusun mendapat banyak bantuan oleh


berbagai pihak. Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rizky Amelia, S.ST.MKes selaku dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan
Menyusui yang telah memberikan tugas makalah dan bantuan dalam penyelesaian
makalah ini.
2. Teman-teman kelas S1 terapan kebidanan Semarang yang telah memberikan
motivasi dan saran-saran dalam penyelesaian makalah ini.
3. Orang tua yang tidak pernah lelah memberikan motivasi dan doa dalam
penyelesaian makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih kurang sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun diharapkan demi kesempurnaan
makalah selanjutnya.

Besar harapan semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai informasi ataupun
pengetahuan bagi pembaca dan dapat menjadi literatur guna membantu mahasiswa dalam
belajar mata kuliah Ilmu Kesehatan Anak.

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................ ii
Daftar Isi ...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 6
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................ 6
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Evidence Based Practice .............................................................. 7
2.2 Manfaat Evidence Based Practice .................................................................. 7
2.3 Karakteristik Evidence Based Practice ........................................................... 8
2.4 Proses Eksplorasi Evidence Based Practice .................................................. 8
2.5 Etika Pemanfaatan Evidence Based Practice ................................................. 9
2.6 Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Dengan Memanfaatkan Evidence
Based Practice................................................................................................ 10
2.7 Based Practice Berdasarkan Jurnal ................................................................ 26
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 39
3.2 Saran .............................................................................................................. 39
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 41

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah partus selesai sampi pulihnya
kembali alat-alat kandungan seperto sebelum hamil. Lamanya masa nifas ini yaitu kira-
kira 6-8 minggu. (Abidin, 2011) Tahap-tahap masa nifas meliputi : puerperium dini,
puerperium intermedial, remot puerperium.
Tidak dapat dipungkiri bahwa periode nifas adalah masa yang beresiko terhadap
ibu dan bayi baru lahir, namun mendapat perhatian yang sangat sedikit oleh petugas
kesehatan, tidak sebesar pada masa hamil dan melahirkan. Hal yang sama juga terjadi
di Indonesia, dimana cakupan kunjungan nifas hanya mencapai 86,64%, sementara
cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai 90,88%.
Fakta lain menyebutkan bahwa dari 30 negara sedang berkembang yang
disurvey sejak tahun 1999 – 2004, terdapat 40% ibu melahirkan yang tidak pernah
memperoleh perawatan nifas.Di antara ibu melahirkan di luar fasilitas kesehatan, rata-
rata lebih dari 70% tidak menerima perawatan postpartum. Di antara semua ibu yang
menerima perawatan postpartum, 57% diperoleh dari tenaga kesehatan dan sisanya
menerima perawatan dari dukun bersalin tradisional (Traditional Birth attendance /
TBA) sebesar 36% dan dari sumber lainnya sebesar 7%.
Pada jam, hari dan minggu pertama setelah persalinan adalah waktu yang
berbahaya bagi ibu dan bayi yang baru lahir. Di antara lebih dari 500.000 wanita yang
meninggal setiap tahun karena komplikasi kehamilan dan persalinan, sebagian besar
kematian terjadi selama atau segera setelah melahirkan.5Setiap tahun tiga juta bayi
meninggal pada minggu pertama kehidupan, dan 900.000 lainnya mati dalam tiga
minggu ke depan. Adapun proporsi kematian ibu dan bayi pada masa nifas dalam satu
minggu pertama persalinan dapat dilihat pada grafik berikut ini.

4
Sumber: WHO (2010)

Sumber: WHO (2010)

Perdarahan dan infeksi setelah proses persalinan untuk banyak kematian ibu,
sementara kelahiran prematur, asfiksia dan infeksi berat berkontribusi pada dua pertiga
dari semua kematian neonatal. Perawatan yang tepat di jam-jam pertama dan hari-hari
setelah melahirkan dapat mencegah sebagian besar kematian ini. WHO
merekomendasikan agar para ahli kesehatan yang terampil menghadiri semua
kelahiran, untuk memastikan hasil terbaik bagi ibu dan bayi yang baru lahir.
Namun, sebagian besar wanita masih kurang peduli. Rata-rata, penolong
kelahiran terampil mencakup 66% kelahiran di seluruh dunia, dan beberapa bagian
Afrika dan Asia memiliki tingkat cakupan yang jauh lebih rendah. Fakta bahwa dua
pertiga kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi pada dua hari pertama setelah kelahiran
membuktikan kurangnya perawatan.

5
Karena permasalahan tersebut, pelayanan kesehatan harus lebih ditingkatkan
menjadi lebih baik. Cara yang dilakukan salah satunya dengan menerapkan evidence
based practice, dimana semua tindakan didasarkan pada bukti penelitian yang telah
dilakukan. Tujuan dari evidence base pada masa nifas yaitu untuk mengetahui
kesejahteraan ibu dan bayi, baik dari kesehatan, kebersihan, nutrisi, pemberian ASI,
tanda bahaya masa nifas dan perdarahan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan
kompetensi tenaga kesehatan dan ibu nifas beserta bayi dapat sehat dan terhindar dari
kematian.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud dengan evidence based practice?
b. Apa manfaat dari evidence based practice?
c. Apa saja karakteristik evidence based practice?
d. Bagaimana proses eksplorasi evidence based practice?
e. Apa saja etika pemanfaatan evidence based practice?
f. Apa saja asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan memanfaatkan evidence based
practice?
g. Apa saja based practice berdasarkan jurnal?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui pentingnya melakukan pelayanan kesehatan berdasarkan
evidence based practice.
b. Untuk mengetahui mengetahui kesejahteraan ibu dan bayi, baik dari kesehatan,
kebersihan, nutrisi, pemberian ASI, tanda bahaya masa nifas dan perdarahan.
c. Untuk mengetahui menghasilkan praktik profesi yang optimal.
d. Agar masyarakat mendapat pelayanan kesehatan yang optimal.

6
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Evidence Based Practice


Pengertian evidence base jika ditinjau dari pemenggalan kata (Inggris) maka
evidence base dapat diartikan sebagai berikut evidence artinya bukti atau fakta dan
based artinya dasar. Jadi evidence based adalah: Praktik berdasarkan bukti.
Evidence Based Midwifery (Practice) didirikan oleh RCM dalam rangka untuk
membantu mengembangkan kuat professional dam ilmiah dasar untuk pertumbuhan
tubuh bidan berorientasi akademis. EBM secara resmi diluncurkan sebagai sebuah
jurnal mandiri untuk penelitian murni bukti pada konferensi tahunan di RCM Harrogate,
Inggris pada tahun 2003 (Hemmings et al, 2003). Itu dirancang ‘untuk membantu bidan
dalam mendorong maju yang terikat pengetahuan kebidanan dengan tujuan utama
meningkatkan perawatan untuk ibu dan bayi’ (Silverton, 2003). EBM mengakui nilai
yang berbeda jenis bukti harus berkontribusi pada praktik dan profesi kebidanan. Jurnal
kualitatif mencakup aktif serta sebagai penelitian kuantitatif, analisis filosofis dan
konsep serta tinjauan pustaka terstruktur, tinjauan sistematis, kohor studi, terstruktur,
logis dan transparan, sehingga bidan benar dapat menilai arti dan implikasi untuk
praktik, pendidikan dan penelitian lebih lanjut.
Jadi pengertian Evidence Base-Midwifery dapat disimpulkan sebaagai asuhan
kebidanan berdasarkan bukti penelitian yang telah teruji menurut metodologi ilmiah
yang sistematis.

2. Manfaat Evidence Based Practice


Manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan Evidence Based antara lain:
a. Keamanan bagi tenaga kesehatan karena intervensi yang dilakukan berdasarkan
bukti ilmiah.
b. Meningkatkan kompetensi (kognitif).
c. Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagai professional dalam memberikan
asuhan yang bermutu.
d. Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien
mengharapkan asuhan yang benar sesuai dengan bukti dan teori serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

7
3. Karakteristik Evidence Based Practice
Menurut Sackett et al. Evidence-based medicine (EBM) adalah suatu
pendekatan medic yang di dasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan
pelayanan kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam praktiknya, EBM
memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah
terkini yang paling dapat dipercaya. Pengertian lain dari evidence based medicine
(EBM) adalah proses yang digunakan secara sistematik untuk menemukan,
menelaah/me-riview, dan memanfaatkan hasil-hasil studi sebagai dasar dari
pengambilan keputusan klinik.
Jadi secara rincinya lagi, EBM merupakan keterpaduan antara (1) Bukti-bukti
ilmiah, yang berasal dari studi yang terpercaya (best research evidence); dengan (2)
Keahlian klinis (clinical expertise) dan (3) Nilai-nilai yang ada pada masyarakat (patient
values). Publikasi ilmiah ada pada pempublikasian Hasil Observasi atau sebuah hasil
pemikiran yang telah ditelaah dan disetujui dengan beberapa pertimbangan baik dari
accountable aspek metodologi maupun accountable aspek ilmiah yang berupa jurnal,
artikel, e-book atau buku yang diakui.
Adapun accountable aspek ilmiah adalah mensurvey secara langsung tentang
suatu pemasalahan dengan penelitian untuk mendapatkan dasar yang valid dan dapat
dipertanggung jawabkan. Maksudnya adalah melalui evidence based medicine kita
mengadakan survei tentang kelainan fisik sejumlah penderita penyakit tertentu. Selain
mensurvei keluhan dan kelainan fisik penderita, melalui evidence based medicine kita
juga dapat mensurvei hasil terapinya. Sedangkan accountable aspek metodologis
adalah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan tata cara
tertentu dalam pengumpulan data Hasil Observasi yang telah ditelaah dan diakui
kebenarannya.

4. Proses Eksplorasi Evidence Based Practice


Pada evidence based medicine, pengobatan didasar pada bukti ilmiah yang
dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan evidence based practice, bukti tidak dapat
hanya dikaitkan dengan bukti-bukti ilmiah saja, tetapi juga harus dikaitkan dengan
bukti/data yang ada pada saat praktik profesi dilakukan. Dengan demikian perbedaan
waktu, situasi, kondisi, tempat dan lain-lain, mungkin akan mempengaruhi tindakan

8
profesi, keputusan profesi, dan hasil dari swamedikasi. Dan jalannya praktik profesi
apoteker tetap harus berjalan optimal pada setiap situasi dan kondisi termasuk pada
swamedikasi. Agar tetap menghasilkan praktik profesi yang optimal, setiap apoteker
atau calon apoteker harus terlatih dalam penguasaan dan penerapan skill dan
knowledge dalam praktik profesi sesuai kebutuhan.
Setiap apoteker bisa jadi mempunyai kebutuhan yang berbeda dalam skill dan
knowledge, hal ini tergantung dari banyak hal, termasuk model, manajemen, lokasi,
orientasi dan lain-lain. Tetapi semua mempunyai semua mempunyai kesamaan dalam
standar profesi. Oleh karena itu pada apoteker komunitas, jam terbang apoteker dapat
mempengaruhi kualitas penguasaan skill dan knowledge dari seorang apoteker.
Apoteker yang sangat cerdas bisa jadi akan kalah dengan apoteker yangsangat aktif
di dalam pelayanan komunitas.
Salah satu standar yang digunakan untuk mendapatkan kualitas layanan yang
‘ajeg’ adalah ‘Standar Prosedur Operasional’ (SPO). Yang mana standar ini harus
disusun sesuai praktik profesi yang telah dilakukan, bukan hanya sekedar teori belaka
yang belum diuji coba, yang ujung-ujungnya adalah membuat susah dalam
penerapannya. Selanjutnya SPO ini harus diuji cobakan secara luas dan proporsional
sebelum dijadikan standar secara nasional.

5. Etika Pemanfaatan Evidence Based Practice


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segala bidang berperngaruh
terhadap meningkatnya kritis masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan
terutama pelayanan kebidanan. Menjadi tantangan bagi profesi bidan untuk
mengembangkan kompetensi dan profesionalisme dalam menjalankan praktik
kebidanan serta dalam memberikan pelayanan berkualitas.
Sikap etis professional bidan akan mewarnai dalam setiap langkahnya, termasuk
dalam mengambil keputusan dalam merespon situasi yang muncul dalam usaha.
Pemahaman tentang etika dan moral menjadi bagian yang fundamental dan sangat
penting dalam memberikan asuhan kebidanan dengan senantiasa menghormati nilai-
nilai pasien.
Etika merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar
atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etika

9
berfokuspada prinsip dan konsep yang membimbang manusia berfikir dan bertindak
dalam kehidupannya dilandasi nilai-nilai yang dianutnya.

6. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas dengan Memanfaatkan Evidence Based Practice
a. Senam Nifas
JURNAL : Perbandingan Efektivitas Senam Nifas dan Pijat Oksitosin Terhadap
Involusi Uteri Pada Ibu Post Partum oleh Andeka Lisni, Misrawati, Gamya Tri
Utami (Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau) pada Oktober 2015
1. Latar Belakang
Selama involusi terjadi secara perlahan uterus akan mengalami pengurangan
ukuran yang memerlukan waktu kira-kira sampai enam minggu. Kemajuan
involusi dapat diukur dengan mengkaji tinggi dan konsistensi fundus uterus.
Fundus dapat meninggi segera setelah persalinan dan pada hari pertama
pasca partum, tapi kemudian turun sekitar 1 cm atau satu jari setiap hari
(Reeder, Martin, & Griffin, 2011). Apabila uterus gagal kembali pada keadaan
tidak hamil, maka disebut dengan subinvolusi uterus. Hal ini merupakan salah
satu penyebab komplikasi pada masa post partum seperti perdarahan dan
jika tidak tertangani akan berlanjut pada kematian ibu (Stright, 2005).
Penyebab kematian ibu melahirkan menurut Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia (2010) mencakup tiga faktor utama yaitu perdarahan
(28%), eklampsia (24%), dan infeksi (11%). Penyebab terbanyak perdarahan
setelah persalinan 50%-60% karena kelemahan atau tidak adanya kontraksi
uterus.
2. Manfaat
Tujuan senam nifas adalah untuk mengurangi bendungan lokia dalam rahim,
memperlancar peredaran darah sekitar alat kelamin, dan mempercepat
normalisasi alat kelamin (Danuatmaja dan Meiliasari, 2009). Senam nifas
merupakan salah satu usaha untuk menguatkan kontraksi otot uterus.Hal ini
terjadi dari adanya peningkatan ion kalsium di ekstra sel yang berikatan
dengan kalmodulin. Ikatan tersebut menyebabkan terjadinya tarikan otot
secara berkala dan terjadi kontraksi uterus yang terus menerus (Ganong,
2008). Oksitosin didalam sirkulasi darah menyebabkan kontraksi uterus dan
pada waktu yang sama membantu proses involusi uterus (Sibagariang,

10
2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Khairani, Komariah, dan
Mardiah (2012) dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pijat oksitosin
terhadap involusi uterus pada ibu post partum.
3. Hasil Observasi
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji t independent
diperoleh rata-rata nilai involusi uteri setelah dilakukan intervensi pada
kelompok senam nifas sebanyak 142,373 jam dengan standar deviasi 15,715
jam.Sedangkan rata-rata waktu pencapaian involusi uteri setelah dilakukan
pijat oksitosin adalah 161,060 jam dengan standar deviasi 16,984 jam.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa waktu untuk mencapai involusi uterus
normal berkisar antara 168 jam sampai 216 jam. Berdasarkan Hasil
Observasi didapatkan bahwa waktu pencapaian involusi uteri setelah
dilakukan tindakan senam nifas dan pijat oksitosin sama-sama berada dalam
rentang normal.
Setelah dilakukan tindakan senam nifas, didapatkan bahwa involusi uteri
pada kelompok responden tercapai dengan rata-rata waktu 142,373 jam.
Waktu tercepat dalam pencapaian involusi uteri pada kelompok senam nifas
adalah 121,717 jam.
Hasil analisa diperoleh p value (0,002) < α (0,05), maka dapat disimpulkan
bahwa Ha diterima yang berarti ada perbedaan waktu involusi uteri setelah
diberikan perlakuan pada kelompok senam nifas dan kelompok pijat
oksitosin. Berdasarkan perbedaan nilai waktu pencapaian involusi uteri
didapatkan senam nifas lebih cepat dibandingkan pijat oksitosin. Hal ini dapat
terjadi karena senam nifas memberikan latihan gerak secepat mungkin agar
otot-otot yang mengalami pengendoran selama kehamilan dan persalinan
kembali normal (Widianti & Proverawati, 2010).

JURNAL : Pengaruh Senam Nifas Terhadap Tinggi Fundus Uteri dan Jenis Lochea
pada Primipara oleh Ineke, S H, Murti Ani, Sri Sumarni tahun 2016
1. Latar Belakang
Penyebab kematian maternal di Indonesia dengan komplikasi kebidanan
paling sering terjadi adalah hipertensi dalam kehamilan (32%), infeksi (31%),
perdarahan pasca bersalin (20%), abortus (4%), dan lain-lain (13%). Apabila

11
terjadi kegagalan involusi uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil
maka akan menyebabkan sub involusi. Penyebab sub involusi uteri yang
paling sering adalah tertahannya fragmen plasenta, infeksi, dan perdarahan
lanjut (late postpartum haemorrhage). Untuk mempercepat proses involusi
uteri, salah satu latihan yang dianjurkan adalah senam nifas. Senam nifas
adalah latihan jasmani yang dilakukan oleh ibu-ibu setelah melahirkan
setelah keadaan tubuhnya pulih kembali.
2. Manfaat
Untuk mengembalikan kondisi kesehatan, untuk mempercepat
penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan
memperbaiki regangan pada otot-otot setelah kehamilan, terutama pada otot-
otot bagian punggung, dasar panggul, dan perut. Manfaat lain melakukan
senam nifas adalah memulihkan kembali kekuatan otot dasar panggul,
mengencangkan otot-otot dinding perut dan perinium, membentuk sikap
tubuh yang baik dan mencegah terjadinya komplikasi.
3. Hasil Observasi
Berdasarkan Hasil Observasi menunjukkan bahwa dari 23 responden yang
tidak mengikuti senam nifas, rata-rata Tinggi Fundus Uteri (TFU) hari pertama
responden adalah 11,2 cm, rata-rata Tinggi Fundus Uteri (TFU) hari kedua
responden adalah 10,2 cm, rata-rata Tinggi Fundus Uteri (TFU) hari keempat
responden adalah 8,2 cm, rata-rata Tinggi Fundus Uteri (TFU) hari ketujuh
responden adalah 5,2 cm.
Sedangkan 23 responden yang mengikuti senam nifas, rata-rata Tinggi
Fundus Uteri (TFU) hari pertama responden adalah 11,2 cm. Rata-rata Tinggi
Fundus Uteri (TFU) hari kedua responden adalah 10,0 cm, rata-rata Tinggi
Fundus Uteri (TFU) hari keempat adalah 7,3 cm. Rata-rata Tinggi Fundus
Uteri (TFU) hari ketujuh responden adalah 3,5 cm.
Nilai rata-rata penurunan tinggi fundus uteri kelompok perlakuan lebih turun
dibanding kelompok kontrol. Pada hari kedua terdapat selisih rata-rata
penurunan 0,144 cm, pada hari keempat terdapat selisih rata-rata penurunan
0,839 cm, pada hari ketujuh terdapat rata-rata selisih penurunan 1,678 cm.
Dengan demikian berarti ada pengaruh senam nifas terhadap tinggi fundus
uteri hari kedua, hari keempat, dan hari ketujuh.

12
Berdasarkan Hasil Observasi dapat dilihat bahwa dari 23 responden yang
tidak mengikuti senam nifas, pada hari pertama jenis lochea adalah rubra
dengan 23 responden (100%), hari kedua lochea rubra dengan 23 responden
(100%), hari keempat lochea sanguinolenta dengan 23 responden (100%)
dan hari ketujuh jenis lochea sanguinolenta sebanyak 8 responden (34,8%)
dan lochea serosa sebanyak 15 responden (65,2%).
Sedangkan dari 23 responden yang mengikuti senam nifas, pada hari
pertama jenis lochea adalah rubra dengan 23 responden (100%), hari kedua
lochea rubra dengan 23 responden (100%), hari keempat lochea
sanguinolenta dengan 23 responden (100%) dan hari ketujuh lochea serosa
dengan 23 responden (100%).
Hasil Observasi menunjukkan bahwa ibu yang melaksanakan senam nifas
memiliki pengeluaran lochea cepat sebanyak 23 orang (100 %). Dengan
demikian ada pengaruh senam nifas terhadap jenis lochea pada hari hari ke-
4 dan hari ke-7 pada ibu nifas primipara di UPT Puskesmas Kaliori Kabupaten
Rembang.

JURNAL : Pengaruh Senam Nifas Terhadap Involusi Uterus dan Pengeluaran


Lokia di Wilayah Kerja Puskesmas Cilembang Kota Tasikmalaya Tahun 2015 oleh
Etin Rohmatin pada tahun 2015.
1. Latar Belakang
Senam nifas harus dilakukan untuk menyadarkan ibu nifas yang
beranggapan bahwa setelah persalinan tidak boleh banyak melakukan
gerakan-gerakan karena akan mengganggu penyembuhan setelah
persalinan, padahal gerakan-gerakan yang dilakukan pasca melahirkan
dapat merangsang otot-otot untuk cepat kembali normal dan mobilisasi
sangat diperlukan untuk mengurangi ketergantungan ibu. Senam nifas perlu
dilakukan oleh ibu pasca melahirkan karena memiliki manfaat untuk proses
involusi uterus dan pengeluaran lokia yang normal.
2. Manfaat senam nifas
i. Membantu mencegah pembekuan (thrombus) pada pembuluh
tungkai

13
ii. Membantu ketergantungan peran sakit menjadi sehat dan tidak
ketergantungan
iii. Mengencangkan otot perut, liang senggama, otot-otot sekitar vagina
maupun otot-otot dasar panggul
iv. Sirkulasi darah menjadi teratur dan optimal
v. Mempercepat penyembuhan dan mencegah terjadinya komplikasi
vi. Dapat menimbulkan kebugaran dan tenaga yang lebih baik sehingga
mampu meningkatkan mobilisasi pada diri ibu nifas.
3. Hasil Observasi
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan mengenai pengaruh senam
nifas terhadap involusi uterus dan pengeluaran lokia di wilayah kerja
Puskesmas Cilembang Kota Tasikmalaya Tahun 2015 dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut : Pelaksanaan intervensi senam nifas ini
dilakukan pada 32 ibu nifas. Involusi uterus pada ibu yang melakukan
senam nifas terbanyak pada kategori normal sebanyak 24 orang (75%).
Pengeluaran lokia pada ibu yang melakukan senam nifas terbanyak pada
kategori normal sebanyak 23 orang (71,9%). Ada pengaruh senam nifas
terhadap involusi uterus dengan  value sebesar 0,005 (<0,05). Ada
pengaruh senam nifas terhadap pengeluaran lokia dengan  value sebesar
0,013 (<0,05).

Dari ketiga jurnal diatas yang membahas tentang Senam Nifas terbukti dapat
membantu mempercepat proses involusi uteri dan mempercepat pengeluaran
lochea saat nifas.

b. Senam Kegel
JURNAL : Efek Latihan Kegel pada Kekuatan Otot Dasar Panggul Ibu Pasca
Persalinan oleh Rahajeng (Divisi Uroginekologi Laboratorium Obstetri dan
Ginekologi Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang) pada Agustus 2010
1. Latar Belakang
Kehamilan dan persalinan menyebabkan perubahan mekanik dan denervasi
otot-otot dasar panggul yang menimbulkan keluhan stres inkotinensia
(ketidakmampuan menahan air kencing), prolaps organ panggul dan

14
gangguan seksual sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Demi
meningkatkan kualitas hidup pasien dapat dilakukan latihan kegel. Latihan ini
berhubungan dengan berbagai perubahan yang terjadi pada kekuatan otot
dasar panggul seperti sphincter uretra dan sphincter anal. Proses ini dapat
meningkatkan tekanan atau tahanan untuk menutup uretra sehingga dapat
mencegah pengeluaran urin di luar kontrol. Hal ini sesuai dengan penelitian
objektif yang pernah dilakukan bahwa 67 % dari pasien yang mengalami
inkontinensia akan mengalami perbaikan dengan latihan otot dasar panggul.
Selain itu latihan otot dasar panggul meningkatkan sirkulasi, mempercepat
penyembuhan luka, dapat melatih otot dasar panggul kembali sehingga
menjadi bertambah volumenya panggul dan dapat kembali berfungsi normal.
2. Manfaat
Latihan otot dasar panggul meningkatkan sirkulasi, mempercepat
penyembuhan luka, dapat melatih otot dasar panggul kembali sehingga
menjadi bertambah volumenya panggul dan dapat kembali berfungsi normal.
Selain itu latihan otot dasar panggul sangat mudah dalam pelaksanaanya,
tidak memerlukan ruang yang luas, dilakukan dalam berbagai posisi, saat
perjalanan, atau istirahat.
3. Hasil Observasi
Hasil analisa menunjukkan terdapat perbaikan bermakna kekuatan otot
panggul ibu selama empat bulan evaluasi dengan pelatihan otot dasar
panggul. Pada awal didapatkan kekuatan sebesar 31.5 (SD±8.89) cmH2O,
pada evaluasi I (perlakuan I) sebesar 41.3 (SD±8.83) cmH2O dan pada
evaluasi III sebesar 58.7 (SD±8.54) cmH2O. Kondisi ini menunjukkan bahwa
kekuatan otot dasar panggul pada ibu pasca persalinan pada saat pada
evaluasi awal dibandingkan dengan saat setelah mendapat latihan otot
panggul. Dasar panggul baik pada evaluasi I, II dan III menunjukkan adanya
perbedaan hasil pengukuran yang cukup besar (68,6%). Hal ini disebabkan
program latihan otot dasar panggul secara progresif pada otot levator ani
yang bekerja dibawah kontrol. Latihan otot dasar panggul ini merupakan
bentuk penguatan kelompok otot dasar panggul, sehingga berhubungan
dengan berbagai perubahan yang terjadi pada kekuatan otot dasar panggul
seperti sphincter uretra dan sphincter anal. Latihan otot dasar panggul ini

15
dapat meningkatkan tekanan atau tahanan untuk menutup uretra, sehingga
dapat mencegah pengeluaran urin di luar kontrol. Hal ini sesuai dengan
penelitian objektif yang pernah dilakukan bahwa 67 % dari pasien yang
mengalami inkontinensia akan mengalami perbaikan dengan latihan otot
dasar panggul.

JURNAL : Pengaruh Senam Kegel Terhadap Proses Involusio Uterus pada Ibu
Post Partum oleh Sarwinarti (Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah
Yogyakarta Indonesia) pada Desember 2018
1. Latar Belakang
Pada saat persalinan pervaginam mengalami peregangan dan kerusakan
yang dapat menyebabkan nyeri setelah melahirkan. Kerusakan dan rasa
nyeri tersebut dapat di kurangi dengan melakukan senam kegel. Senam kegel
merupakan serangkaian gerakan yang berfungsi untuk melatih kontraksi otot
pubococcygeus berkali-kali dengan tujuan meningkatkan tonus dan kontraksi
otot. Sebagian besar perempuan yang tidak terlatih akan mengalami
penurunan uterus. Dengan senam ini otot pubococcygeus yang merupakan
otot utama pendukung uterus akan diperkuat latihan fisik akan menyebabkan
terjadinya eksitasi otot yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan
kalsium sitosol terutama dari cairan ekstraseluler, yang selanjutnya akan
terjadi reaksi biokimia yaitu kolmodulin (protein sel) berkaitan dengan kalsium
akan mengakibatkan kinase rantai ringan myosin menjadi aktif sehingga
jembatan silang myosin terfosforisasi sehingga terjadi pengikatan aktin dan
myosin, maka terjadilah kontraksi. Disamping itu, dengan latihan abdomen
akan memberikan stimulus secara lurus menuju otot uterus sehingga akan
membantu otot uterus berkontraksi maksimal, dengan kontraksi tersebut
akan menjepit pembuluh darah yang terbuka dan menyebabkan proses
involusio uteri menjadi cepat. Uterus yang berkontraksi dengan baik secara
bertahap akan berkurang ukurannya, sampai tidak dapat dipalpasi di atas
simphisis pubis. Bukti lain menyebutkan bahwa senam kegel dapat
mengurangi resiko stress inkontinensia urine (Hi Park, S.,Bum Kang,
C.,2014) (S. Cavkaytar, M. et al, 2015) menyebutkan bahwa latihan senam
kegel berbasis rumah yang dilakukan mandiri oleh ibu nifas terbukti efektif

16
menurukan kejadian Ibu setelah melahirkan apabila statis dan tidak ada
stimulasi gerakan akan menghambat proses pemulihan organ tubuh
termasuk otot otot rahim yang lebih lama pulih dibandingkan dengan ibu yang
melakukan gerakan senam kegel.
2. Manfaat
Untuk melatih otot-otot dasar panggul, otot-otot vagina, perut dan rahim pada
saat persalinan pervaginam mengalami peregangan dan kerusakan yang
dapat menyebabkan nyeri setelah melahirkan. Manfaat lain seam kegel
adalah dapat mencegah dan mengurangi masalah yang disebabkan oleh
relaksasi otot dasar panggul setelah persalinan pervaginam dan untuk
meningkatkan efikasi diri seksual wanita.
3. Hasil Observasi
Berdasarkan Hasil Observasi dapat dilihat bahwa terdapat 9 responden yang
mengikuti senam kegel mengalami proses involusio uterus dalam kategori
baik, yaitu sebanyak 8 orang (89%). Sedangkan responden yang mengikuti
senam kegel terdapat 1 responden (11%) mengalami proses involusio uterus
yang buruk. Berdasarkan data tabel 4 dapat dilihat bahwa dari 21 Ibu yang
tidak mengikuti senam kegel mengalami proses involusio uterus dalam
kategori buruk, yaitu sebanyak 15 orang (71%). Sedangkan responden yang
mengalami proses involusio kategori baik sebanyak 6 orang (29%). Dari
analisis Hasil Observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa senam kegel
sangat effektif untuk mempercepat proses involusio uterus.

JURNAL : Analisis Pengetahuan dan Tindakan Senam Kegel Terhadap


Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas
Purwokerto Selatan oleh Citra Hadi Kurniati, Intan Sari Wulan, Isna Hikmawati
pada Juli 2014
1. Latar Belakang
Selama kehamilan dan persalinan ibu mengalami perubahan fisik seperti
dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama dan otot dasar
panggul. Pada saat persalinan ibu bisa mengalami laserasi perineum.
Laserasi perineum dipengaruhi oleh faktor ibu dan janin. Penyembuhan luka

17
perineum dapat dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya dipengaruhi oleh
senam kegel.
2. Manfaat
Fungsi senam kegel yaitu membuat jahitan lebih merapat, mempercepat
penyembuhan, meredakan hemoroid, meningkatkan pengendalian atas urin.
3. Hasil Observasi
Seperti yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2010), pengetahuan atau
kognitif merupakan domain sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang dan dari pengalaman ternyata perilaku didasari oleh pengetahuan.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspitaningrum
(2012) bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan
dengan pelaksanaan senam nifas. Berdasarkan hasil analisa kuesioner
didapatkan data terdapat sebanyak 32 yang melakukan senam kegel yaitu
melakukan senam kegel selama 6 detik, melakukan senam kegel selama
kurang lebih 20 menit setiap hari, dan melakukan kegiatan tegang-lepas
(keadaan mengencangkan otot vagina - otot perineum - anus selama
beberapa detik, dan kemudian mengendorkannya atau rileks) secara
berulang-ulang pada 1-2 hari setelah melahirkan. Namunhasil analisa juga
terdapat sebagian kecil yang melakukan senam kegel segera setelah
melahirkan.
Berdasarkan Hasil Observasi pada tingkat penyembuhan luka perineum,
terdapat hampir seluruh responden kesembuhan lukanya cepat yaitu 29
orang (65,9%), dan sisanya kesembuhannya sedang. Dalam penelitian ini
tidak ada responden yang kesembuhan luka perineum-nya lambat. Hal ini
dikarenakan selain melakukan senam kegel sebagai upaya mempercepat
penyembuhan luka perineum atau tidak tetapi cepat lambatnya kesembuhan
luka dipengaruhi banyak faktor lain seperti status gizi, lingkungan,
pengetahuan, tradisi, penanganan petugas, personal hygiene, aktivitas
berlebih, dan lain-lain, seperti yang diungkapkan oleh Smelzer (2002). Dari
Hasil Observasi didapatkan ada hubungan antara pengetahuan senam kegel
dengan penyembuhan luka perineum maksimal derajat II. Berikut Hasil
Observasi :

18
 7 responden dengan tingkat pengetahuan senam kegel kurang dan
sembuh secara cepat.
 8 responden dengan tingkat pengetahuan senam kegel cukup dan
sembuh secara cepat.
 14 responden dengan tingkat pengetahuan senam kegel baik dan
sembuh secara cepat.

Berdasarkan ke 3 jurnal yang membahas tentang Senam Kegel di dapatkan hasil


observasi yang sama yaitu pemberian senam kegel sangat efektif untuk
mempercepat involusi uterus, mempercepat penyembuhan luka perinium,
meningkatkan pengendalian atas urin (meningkatkan kekuatan otot dasar
panggul).

b. Pijat Oksitosin
JURNAL : Pijat Oksitosin dan Aroma Terapi Lavender Meningkatkan Produksi ASI
Tuti Melyana dan Nurul Widyawati

1. Latar belakang
Hambatan pemberian ASI Eksklusif pada bayi baru lahir sering disebabkan
karena ASI yang belum keluar dan berkurangnya produksi ASI, hal ini karena
kurangnya rangsangan hormone prolactin dan hormone oksitosin yang
sangat berperan dalam kelancaran produksi ASI..(Heni Setyowati, et al.,
2015) Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi
ketidaklancaran produksi ASI.
2. Manfaat
Hasil Observasi ini dapat mengetahui efektifitas pijat oksitosin dan aroma
terapi lavender pada Ibu nifas. Hal ini diharapkan dapat diterapkan secara
efektif pada pelayanan klinis dan menjadi rekomendasi intervensi kebidanan
dalam melakukan asuhan kepada ibu post partum dengan permasalahan ASI
belum keluar atau tidak lancar.

19
3. Hasil Observasi

Tabel 1. Hasil Observasi sebelum dilakukan kombinasi pijat oksitosin dan


aromaterapi lavender

Variabel

Responden Frekuensi Produksi ASI Frekuensi BAK Frekuensi


menyusu bayi tidur bayi
dalam 24 jam setelah
menyusu

Ny.A 1X/6 jam Post 2 cc kolostrum/ Bayi belum 3 jam


Partum pijatan di areola BAK dalam 6
mamae jam
pertama
lahir

Ny.B 4x/16jam Post 5 cc/ pijatan di Bayi BAK 1x, 2-3 jam/
Partum areola mamae 3x/16 jam PP periode

Setelah dilakukan intervensi kombinasi pijat oksitosin dan aromaterapi


lavender mendapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 2 Hasil observasi sesudah dilakukan kombinasi pijat oksitosin dan


aromaterapi lavender hari 1

Variabel

Responden Frekuensi Produksi ASI Frekuensi BAK Frekuensi


menyusu dalam bayi tidur bayi
24 jam setelah
menyusu

20
Ny.A 6x/24 jam Post 5 cc kolostrum/ 4x/24 jam 2-3 jam
Partum pijatan di areola setelah
mamae menyusu

Ny.B 7x/24jam Post 7 cc/ pijatan di 5x/24 jam 2-3 jam


Partum areola mamae setelah
menyusu

Tabel 3 Hasil Observasi sesudah dilakukan kombinasi pijat oksitosin dan


aromaterapi lavender hari 2

Variabel

Responden Frekuensi Produksi ASI Frekuensi BAK Frekuensi


menyusu dalam bayi tidur bayi
24 jam setelah
menyusu

Ny.A 7x/24 jam Post 0 cc kolostrum/ 5x/24 jam 2-3 jam


Partum pijatan di areola setelah
mamae menyusu

Ny.B 7x/24jam Post 12 cc/ pijatan di 5x/24 jam 2-3 jam


Partum areola mamae setelah
menyusu

Produksi ASI responden setelah dilakukan pijat oksitosin dan aroma terapi
lavender terjadi peningkatan yang signifikan ditandai dengan kenaikan
volume ASI setelah dilakukan pemijatan di areola mamae, peningkatan
frekuensi BAK dan BAB bayi dan lama tidur bayi setelah menyusu, dan juga
ada kenaikan berat badan bayi.

21
JURNAL : Peningkatan Pengeluaran ASI dengan Kombinasi Pijat Oksitosin dan
Teknik Marmet pada Ibu Post Partum (Literatur Review) oleh Lieni Lestari
Melyana, Nurul W, Admini

1. Latar belakang
Pemberian ASI ekslusif dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain ASI tidak
segera keluar setelah melahirkan/produksi ASI kurang, kesulitan bagi bayi
dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu
bekerja dan pengaruh promosi pengganti ASI. Oleh karenanya penulis
tertarik untuk melakukan miniriset dengan tujuan untuk mengetahui
efektivitas kombinasi pijat oksitosin dan teknik marmet terhadap pengeluaran
ASI pada ibu post partum di puskesmas 1 Wangon.
2. Manfaat
Melalui pijatan atau rangsangan pada tulang belakang, neurotransmitter akan
merangsang medulla oblongata langsung mengirim pesan ke hypothalamus
di hypofise posterior untuk mengeluarkan oksitosin sehingga menyebabkan
payudara mengeluarkan air susunya. Dengan pijatan didaerah tulang
belakang ini juga akan merileksasi ketegangan dan menghilangkan stress,
dengan begitu hormon oksitosin keluar dan akan membantu pengeluaran Air
Susu Ibu (ASI), dibantu dengan isapan bayi pada puting susu saat setelah
bayi lahir dengan keadaan bayi normal. Beberapa literatur juga mengatakan
bahwa teknik marmet juga sangat efektif untuk memperlancar produksi ASI,
teknik memerah ASI dengan cara marmet akan mengosongkan ASI dari sinus
laktiferus yang terletak di bawah areola sehingga dengan mengosongkan ASI
pada sinus laktiferus akan merangsang pengeluaran prolaktin.
3. Hasil Observasi
Dari hasil literatur review terhadap 8 artikel, dapat dijelaskan bahwa pijat
oksitosin dan teknik marmet dapat dikategorikan sebagai intervensi yang
aman dan cukup efektif dalam peningkatan produksi ASI atau Pengeluaran
ASI pada ibu post partum yang mengalami masalah dalam produksi ASI yang

22
tidak mendapatkan terapi medis lain yang digabungkan dalam proses
tindakan, dilaksanakan dalam kurun waktu 3-14 hari.

JURNAL : Efektivitas Pijat untuk Merangsang Hormon Oksitosin pada Ibu Nifas
Primipara Murti Ani, Novita Ika Wardani, Septalia Isharyanti tahun 2014

1. Latar belakang
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa
pemberian ASI di Indonesia saat ini memprihatinkan, presentase bayi yang
menyusu eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 15,3%. Hal ini disebabkan
kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih
relatif rendah (Sugiyarti, 2012)
2. Manfaat
Beberapa Hasil Observasi menunjukkan bahwa pijat untuk merangsang
hormon oksitosin memilik manfaat untuk ibu nifas dan bayi. Menurut Lund, et
al (2002) bahwa perawatan pemijatan berulang bisa meningkatkan produksi
hormon oksitosin. Efek dari pijat oksitosin itu sendiri bisa dilihat reaksinya
setelah 6-12 jam pemijatan. Pijat oksitosin berfungsi untuk menstimulasi
sekresi oksitosin yang merangsang sekresi ASI. Oksitosin akan bekerja
memacu refleks pengeluaran ASI atau refleks oksitosin yang disebut juga Let
Down Reflex (LDR).
3. Hasil Observasi
Berdasarkan uji Mann Whitney pada data berat badan didapatkan perbedaan
berat badan bayi antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada hari
ke 7 dan hari ke 10, dibuktikan dengan nilai p value < 0,05. Perubahan pada
hari ke 7 dan ke 10 adanya peningkatan berat badan yang lebih besar pada
kelompok perlakuan daripada peningkatan berat badan pada kelompok
kontrol. Peningkatan berat badan bayi merupakan salah satu indikator
kecukupan produksi ASI. Salah satu tanda bayi tidak cukup mendapat ASI
adalah pertambahan berat badan kurang, bayi kehilangan berat badan lebih
dari 10% dari berat lahir atau kurang dari berat lahir saat usia 2 minggu
(WHO, 2011). Hasil Observasi ini membuktikan bahwa adanya intervensi pijat
untuk merangsang hormon oksitosin mampu memperbanyak produksi ASI
yang dalam hal ini diukur dari peningkatan berat badan bayi.

23
Berdasarkan ke 3 jurnal yang membahas tentang Pijat Oksitosin di dapatkan Hasil
Observasi yang sama yaitu pemberian pijat ositosin sangat efektif untuk
meningkatkan produksi ASI.

c. Pijat Endorphin
JURNAL : Pengaruh Masase Endorphin Terhadap Tingkat Kecemasan dan
Involusio Uteri Ibu Nifas oleh Sri Rahayu, Melyana Nurul Widyawati, Retno
Kusuma Dewi tahun
1. Latar belakang Based practice?
Faktor penyebab terjadinya kecemasan pada ibu post partum yakni
perubahan hormone, payudara membengkak dan menyebabkan rasa sakit
atau jahitan yang belum sembuh. Bila ibu mengalami kecemasan pada saat
menyusui maka akan terjadi suatu blokade dari refleks let down. Ini
disebabkan oleh karena adanya pelepasan dari adrenalin (epinefrin) yang
menyebabkan vasokontraksi dari pembuluh darah alveoli, sehingga oksitosin
sedikit harapannya untuk dapat mencapai target organ mioepitelium (Guyton
&Hill, 2016).
2. Manfaat
pijatan merangsang tubuh untuk melepaskan senyawa endorfin yang dapat
menormalkan denyut jantung dan tekanan darah, mengurangi rasa sakit,
mengendalikan perasaan stres dan menciptakan perasaan nyaman serta
meningkatkan kondisi rileks dalam tubuh ibu dengan memicu perasaan
nyaman melalui permukaan kulit.
3. Hasil Observasi
Hasil uji stataitik menunjukkan ada perbedaan tingkat kecemasan ibu pada
kelompok yang diberikan masase endorphin dan kelompok kontrol. Untuk
involusio uteri hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan antara
kelompok yang diberikan masase endorphin dan kelompok kontrol, namun
ukuran tinggi fundus uteri yang diukur dari tepi atas simpisis pada kelompok
perlakuan (6,85 cm) lebih cepat turun dibandingkan kelompok kontrol (7,08).

24
JURNAL : Pengaruh Metode Pijat Endorphine Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu
Nifas Di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Sari Tahun 2017
1. Latar belakang Based practice?
Menurut Hung (2001), pada periode nifas, ibu nifas akan mengalami
kelelahan, perubahan peran, perubahan mood seperti kesedihan dan
kecemasan (Prabawani, 2015). Menurut Videbeck, Sheila, dkk (2008),
kecemasan yang jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan depresi
postpartum atau baby blues (Nurjanah, dkk. 2013). Upaya menangani
kecemasan khususnya pada ibu nifas merupakan salah satu solusi yang
bermanfaat pada ibu dan bayinya salah satunya dengan pijat endorphine.
2. Manfaat
Pijat endorphine merupakan teknik sentuhan dan pemijatan ringan yang
sangat penting bagi ibu nifas untuk membantu memberikan rasa tenang dan
nyaman. Riset membuktikan bahwa teknik ini meningkatkan pelepasan
hormon endorphine (memberikan rasa nyaman dan tenang) dan hormon
oksitosin (Pamuji, dkk. 2014).
3. Hasil Observasi
Tingkat kecemasan ibu nifas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
usia, pendidikan, pekerjaan dan jumlah paritas. Oleh karena itu, intervensi
metode pijat endorphine pada ibu nifas terbukti dapat dijadikan sebagai salah
satu cara untuk mengatasi kecemasan yang dialami ibu nifas selama masa
nifasnya agar tidak terjadi Postpartum Blues atau Baby Blues bahkan Depresi
Pospartum.

JURNAL : Pengaruh Pijat Endorphin Teradap Percepatan Involusi Uteri Pada Ibu
Nifas Post Sectio Caesarea oleh Nungki Meintri Lanasari, Sri Rahayu, Ardi
Panggayuh
1. Latar belakang Based practice?
Dalam laporan kesehatan ibu yang terjadi di Provinsi Jawa Timur tahun 2014,
angka perdarahan pada saat masa nifas akibat kegagalan uterus untuk
berinvolusi mencapai 29,35 %. Upaya untuk mencegah komplikasi terjadinya
perdarahan dari tempat implantasi plasenta dan memperbaiki kontraksi dan
retraksi uterus dengan memberikan oksitosin. Oksitosin dapat diperoleh

25
dengan berbagai cara baik oral, intranasal, intramuskular, maupun dengan
pemijatan yang dapat merangsang keluranya hormon oksitosin. Salah satu
cara pemijatan untuk menstimulasi keluarnya hormon oksitosin ialah dengan
melakukan pijat endorphin.
2. Manfaat
Pijat endorphin merupakan sentuhan ringan yang dapat menstimulasi ekresi
hormon endorphin untuk memberikan efek relaks dan nyaman pada tubuh
melalui permukaan kulit serta merangsang pengeluaran hormon oksitosin
yang dapat menstimulasi kontraksi uterus.
3. Hasil Observasi
Dari Hasil Observasi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan pijat endorphin terhadap percepatan involusi uteri pada ibu nifas
post Sectio Caesarea dimana sebanyak 60% responden mengalami proses
involusi uteri cepat. Hal ini terjadi karena ibu nifas yang diberikan intervensi
pijat endorphin mengalami homeostatis ion ca2+ yang memicu terjadinya
kontraksi otot polos miometrium secara adekuat sehingga mempercepat
proses involusi uteri. Paritas dan usia ibu tidak berpengaruh terhadap proses
involusi uteri setelah diberikan intervensi pijat endorphin.

Dari ketiga jurnal diatas yang membahas tentang Pijat Endorphin terbukti dapat
mengurangi kecemasan Ibu dan mempercepat proses involusi uteri pada
persalinan normal maupun section caesarea.

7. Based Practice Berdasarkan Kajian Jurnal


a) Perbedaan Efektifitas Daun Kubis Dingin (Brassica Oleracea Var. Capitata )
Dengan Perawatan Payudara dalam Mengurangi Pembengkakan Payudara
(Breast Engorgement) Di Kabupaten Pekalongan oleh Nina Zuhana ( Prodi DIII
Kebidanan STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan )
1. Latar belakang dilakukan perawatan payudara menggunakan daun kubis
dingin.
Dalam jurnal ini membahas faktor yang berhubungan dengan perawatan
pembengkakan payudara menggunakan daun kubis dingin yang ternyata
didapati hasil berupa penurunan pembengkakan payudara. Kubis
26
mengandung sumber yang baik dari asam amino glutamine dan diyakini
untuk mengobati semua jenis peradangan salahsatunya radang
payudara.Selain itu Kubis berisi minyak mustard, magnesium, oksalat dan
sulfur heterosides.Asam metionin sebagai antibiotik dan anti-iritasi,yang
pada gilirannya menarik aliran tambahan darah ke daerah tersebut. Hal Ini
dapat melebarkan
pembuluh kapiler dan bertindak sebagai iritan counter, sehingga
menghilangkan pembengkakan dan peradangan serta memungkinkan ASI
keluar dengan lancar.

2. Manfaat dari daun kubis dingin untuk pembengkakan payudara


Kubis dapat digunakan untuk terapi pembengkakan. Kubis (Brassica
Oleracea Var.Capitata) diketahui mengandung asam amino metionin yang
berfungsi sebagai antibioticdan kandungan lain seperti sinigrin
(Allylisothiocyanate), minyak mustard, magnesium,Oxylate heterosides
belerang, hal ini dapat membantu memperlebar pembuluh darah kapiler
sehingga meningkatkan aliran darah untuk keluar masuk dari daerah
tersebut, sehingga memungkinkan tubuh untuk menyerap kembali cairan
yang terbendung dalam payudara tersebut.
3. Hasil Observasi efektifitas daun kubis dingin untuk perawatan payudara
bengkak
Terdapat 15 responden dengan skala pembengkakan payudara setelah
dilakukan perawatan payudara lebih rendah daripada sebelumnya. Tidak
ada responden yang skala pembengkakan payudaranya tetap ataupun
lebih meningkat.

b) Efektifitas Kunjungan Nifas Terhadap Pengurangan Ketidaknyamanan Fisik yang


Terjadi Pada Ibu Selama Masa Nifas oleh Islami - Staf pengajar STIKES
Muhammadiyah Kudus dan Noveri Aisyaroh - Staff Pengajar Prodi D-III Kebidanan
FIK Unissula
1. Latar belakang dilakukan kunjungan nifas terhadap pengurangan
ketidaknyamanan fisik yang terjadi pada ibu selama masa nifas.

27
Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita setelah
melahirkan. Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi persalinan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Masa nifas ini berlangsung sejak
plasenta lahir sampai dengan 6 minggu setelah kelahiran atau 42 hari
setelah kelahiran. Konsep early ambulation dalam masa postpartum
merupakan hal yang perlu diperhatikan karena terjadi perubahan hormonal.
Pada masa ini ibu membutuhkan petunjuk dan nasihat dari bidan sehingga
proses adaptasi setelah melahirkan berlangsung dengan baik. Asuhan
kebidanan pada masa nifas diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan
fisik dan psikologis ibu.
2. Manfaat dari kunjungan nifas terhadap pengurangan ketidaknyamanan fisik
yang terjadi pada ibu selama masa nifas.
Monitoring ibu nifas terbukti berhubungan dengan kejadian morbiditas nifas
karena dapat memonitor keluhan atau kejadian morbiditas ibu sehingga
dengan monitoring ibu yang baik dapat dideteksi morbiditas ibu lebih
banyak. Kunjungan nifas minimal dilakukan sebanyak empat kali untuk
menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi
dan menangani masalah masalah yang terjadi. Distribusi kunjungan
dilakukan pada enam sampai delapan jam setelah melahirkan, hari ke enam
postpartum, minggu kedua postpartum, dan enam minggu postpartum.
3. Hasil dari kunjungan nifas terhadap pengurangan ketidaknyamanan fisik
yang terjadi pada ibu selama masa nifas.
Perawatan ibu masa nifas terbukti berhubungan dengan risiko terjadinya
morbiditas nifas. Pelaksanaan perawatan yang kurang baik dapat
meningkatkan risiko terjadinya morbiditas nifas, seperti perawatan
payudara untuk mencegah mastitis, membersihkan diri menggunakan
sabun setelah buang air kecil dan buang air besar dapat mencegah infeksi
genitalia. Ibu postpartum mengalami pemulihan fisiologis tanpa komplikasi,
ibu postpartum menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat mengenai
cara menyusui, ibu postpartum mendemonstrasikan perawatan yang tepat
untuk diri dan bayinya.

28
c) Pengaruh Pemenuhan Nutrisi dan Tingkat Kecemasan Terhadap Pengeluaran ASI
Pada Ibu Post Partum Primipara oleh Arfiah (STIKes Widya Nusantara Palu)
1. Latar belakang dilakukan pemenuhan nutrisi dan tingkat kecemasan
terhadap pengeluaran ASI pada ibu postpartum primipara
Rata-rata ibu yang selama masa nifas yang pemenuhan nutrisi tidak
terpenuhi dikarenakan melakukan pantang makanan tertentu seperti
membatasi porsi makan setiap harinya,tidak mengkonsumsi sayur-sayuran
hijau setiap hari, selama masa nifas ibu tidak mengkonsumsi ikan laut
seperti: ikan tongkol, dan pindang, tidak mengkonsumsi susu setiap
harinya, tidak mengkonsumsi telur,dan jawaban paling banyak dari
responden setiap hari ibu hanya makan dengan tahu dan tempe dan ikan
bandeng untuk menu setiap harinya. Nutrisi ibu menyusui adalah makanan
sehat selain obat yang mengandung protein, lemak, mineral, air dan
karbohidrat yang dibutuhkan oleh ibu menyusui dalam jumlah tertentu
selama menyusui .Nutrisi ibu nifas merupakan faktor penunjang yang utama
produksi ASI sehingga apabila gizi tidak terpenuhi akan menghambat
produksi ASI dan dapat mempengaruhi komposisi serta asupan nutrisi
untuk bayi baru lahir.
2. Manfaat dari pemenuhan nutrisi dan tingkat kecemasan terhadap
pengeluaran ASI pada ibu postpartum primipara.
Nutrisi atau gizi merupakan zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan
metabolismenya. Kebutuhan gizi pada masa nifas terutama bila menyusui
akan meningkat 25% karena berguna untuk proses kesembuhan karena
sehabis melahirkan dan untuk produksi air susu yang cukup untuk
menyehatkan bayi.
3. Hasil Observasi pemenuhan nutrisi dan tingkat kecemasan terhadap
pengeluaran ASI pada ibu postpartum primipara.
Ada hubungan yang signifikan (sesuai) antara pola nutrisi ibu nifas dengan
kecukupan ASI pada bayi, yaitu semakin baik pola nutrisi ibu nifas semakin
baik kecukupan ASI pada bayinya. Adanya hubungan yang signifikan
secara statistik ini menunjukkan bahwa semakin ibu terus menerus merasa
gelisah, merasa takut, perasaan was-was, merasa tidak tenang dan selalu

29
mempunyai firasat buruk akan membuat pengeluaran ASI ibu semakin tidak
lancar.

d) Pengaruh Dukungan Suami dan Bounding Attachment Dengan Kondisi Psikologi


Ibu Postpartum di RSUD Kabupaten Tangerang Tahun 2017 Oleh Lastri Mei
Winarni, Esty Winarni, Marthia Ikhlasiah
1. Latar belakang dilakukan
Masa nifas atau postpartum merupakan masa yang penuh stress kedua
dibandingkan masa kehamilan bagi seorang ibu. Secara psikologi ibu nifas
sering mengalami emosi yang labil, sedih dan mudah tersinggung, hal ini
merupakan dasar terjadinya kelainan psikologik selanjutnya. Dukungan
suami menjadi komponen yang penting karena dengan dukungan dari
suami pada ibu postpartum dapat meningkatkan harga diri serta
kepercayaan diri untuk menjalankan peran barunya.
2. Manfaat dari dukungan suami dan bounding attachment dengan kondisi
psikologi ibu postpartum
Dukungan suami merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh suami
dalam memberikan kasih sayang, perhatian dan penghargaan untuk ibu dan
anggota keluarga lainnya agar tercapai kesejahteraan dalam keluarga,
keluarga dapat membantu ibu yang mengalami depresi postpartum dengan
memberikan dukungan emosional dan membantu tugas ibu sehari-hari
dalam mengasuh bayi. Bounding attachment juga merupakan refleksi dari
kemampuan ibu menerima kehadiran bayinya serta mencurahkan kasih
sayangnya. Hal ini membentuk suatu ikatan batin yang kuat antara ibu dan
bayi. Ikatan batin ini dapat dibangun dengan interaksi berupa sentuhan,
belaian, ungkapan cinta, tatapan penuh kasih dan sayang dari ibu untuk
bayi. Oleh karena itu asumsi peneliti jika ibu melakukan proses bounding
attachment dengan baik, maka kadar oksitosin akan meningkat didalam
tubuh ibu, sehingga merangsang hormon penenang lain (serotonin,
dopamine, dan noradrenalin).

30
3. Hasil Observasi dari dukungan suami dan bounding attachment dengan
kondisi psikologi ibu postpartum
Ada pengaruh antara dukungan suami dengan kondisi psikologi ibu
postpartum,sedangkan bounding attachment tidak mempengaruhi kondisi
psikologi ibu postpartum. Bidan perlu memberdayakan suami untuk
memberikan dukungan kepada ibu untuk membantu mekanisme koping
dalam mengatasi gangguan psikologis yang dialami ibu selama postpartum.
Salah satu cara bidan dalam memberdayakan suami untuk memberikan
dukungan saat masa postpartum adalah dengan mengenalkan tentang
perubahan dan adaptasi psikologis ibu masa postpartum kepada suami
sejak pemeriksaan antenatal care, mengingatkan suami untuk
mendengarkan cerita dan keluh kesah ibu baik masa antenatal maupun
postpartum, serta membantu ibu menghubungi tenaga kesehatan jika
menemukan adanya gangguan psikologis pada masa postpartum.

e) Konseling dan Pendampingan Suami Selama Pemberian ASI Pertama Kali


Jurnal : Pengaruh Pelaksanaan Konseling dan Pendampingan Suami Terhadap
Keberhasilan Ibu Menyusui dalam Pemberian Kolostrum oleh Nuraeni, Suryani
Soepardan, Bahiyatun, Ari Soewondo pada tahun 2017.

1) Latar Belakang Pelaksanaan Konseling dan Pendampingan Suami dalam


Pemberian Kolostrum
Pelaksanaan konseling dan pendampingan suami dalam pemberian kolostrum
harus dilakukan agar wanita hamil, ibu menyusui dan para suami mendapatkan
informasi yang jelas, lengkap dan berkelanjutan mengenai pemberian
kolostrum sedini mungkin sehingga dapat menurunkan AKB yang terjadi
dengan cara pemberian kolostrum yang memiliki banyak manfaat.
2) Manfaat pelaksanaan konseling dan pendampingan suami dalam pemberian
kolostrum
Manfaat dilakukan pemberian konseling agar ibu menyusui dapat memberikan
kolostrum pada bayinya sedini mungkin karena kolostrum mengandung
protein, antibody, dan immunoglobulin yang dapat berfungsi sebagai
perlindungan terhadap infeksi pada bayi karena zat antibody yang dimiliki dapat
mencegah dan menetralisir bakteri, virus, jamur dan parasit, serta untuk
31
melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti diare yang menduduki peringkat
ke 3 penyebab kematian bayi. Pendampingan suami dalam pemberian
kolostrum ialah memberikan dukungan penuh pada ibu menyusui untuk
memberikan kolostrumnya dengan baik.
3) Hasil Observasi
Hasil Observasi yang dilakukan di BPM Kota Cirebon pada tanggal 01
November 2013 – 31 Desember 2013 dengan responder berjumlah 30 ibu
hamil aterm dan ibu menyusui, menunjukan bahwa responder yang diberi
tindakan konseling dan pendampingan suami terdapat 14 orang (93,30%) yang
memberikan kolostrum pada bayinya, sedangkan pada responder yang tidak
diberikan tindakan konseling dan pendampingan suami ada 6 orang (40%)
yang memberikan kolostrum pada bayinya.
Hasil : Pengaruh dari tindakan pemberian konseling dan pendampingan suami
adalah bahwa responden yang diberikan tindakan konseling dan
pendampingan suami mempunyai peluang 2,333 kali lebih besar untuk
memberikan kolostrum pada bayinya dibandingkan dengan responden yang
tidak diberikan konseling dan pendampingan suami.

f) Analisis Masukan dan Proses Asuhan Pelayanan Nifas oleh Bidan Pelaksana
Jurnal : Analisis Masukan dan Proses Asuhan Pelayanan Nifas oleh Bidan Pelaksana di
Wilayah Dinas Kesehatan Kota Semarang oleh Sri Wahyuni, Sri Achadi N, Atik Mawarni
pada tahun 2014

1) Latar Belakang Dilakukan Analisis Masukan dan Proses Asuhan Pelayanan


Nifas oleh Bidan Pelaksana
Perlu asuhan masa nifas sangat diperlukan karena masa nifas merupakan
masa kritis yang memungkinkan untuk terjadinya masalah-masalah yang fatal
karena menyebabkan kematian ibu. Sehingga masukan diperlukan dalam
proses asuhan pelayanan nifas supaya masalah yang terjadi pada saat
pemberian asuhan nifas dapat diperbaiki.
Supaya tercipta asuhan pelayanan nifas yang berkualitas mengacu pada
pelayanan nifas sesuai standart dengan demikian permasalahan yang terjadi
pada ibu nifas bisa diminimalkan atau bahkan tidak terjadi sama sekali.
Terlaksananya asuhan nifas tidak terlepas dari unsur input atau masukan yang

32
mempengaruhinya, yang terdiri dari Sumber daya manusia, sarana prasarana,
dana kebi-jakan dan ketersediaan standart operating prosedur.
2) Manfaat pelaksanaan analisis masukan dan proses asuhan pelayanan nifas
Asuhan layanan nifas memiliki manfaat untuk menurangi beberapa
permasalahan pada ibu nifas dan bayinya, permasalahan yang terjadi pada ibu
nifas adalah perdarahan post par-tum, infeksi saat masa nifas, dua masalah
ibu nifas masih merupakan penyebab utama kematian maternal di Jawa
Tengah dan bahkan Indonesia diharapkan dengan dilakukan analisis masukan
untuk segala aspek yang mendukung proses asuhan pelayanan nifas sehingga
dapat mengurangi masalah tersebut.
3) Hasil Observasi
Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Karangdoro, yaitu puskesmas yang
mempunyai cakupan kunjungan nifas tertinggi, dan Puskesmas Padangsari
yang mempunyai cakupan kunjungan nifas terendah.Informan utama penelitian
adalah 2 bidan pelaksana dari 2 puskesmas yang mempunyai cakupan
kunjungan nifas tertinggi dan terendah. Informan dari dua bidan pelaksama
mengatakan pelayanan nifas pada KF 1 disini tidak ada, karena tidak ada
persalinan, KF 2 periksa TFU konseling perawatan bayi, ditensi pasti, KF 3
konseling KB
Pelaksanaan asuhan nifas memang sudah dilakukan sesuai dengan keluhan
dan kunjungannya, namun asuhan ini tidak bisa dilakukan secara komprehensif
karena mengingat pengkajian tidak dilakukan secara keseluruhan. Pada
kunjungan nifas pertama adalah :pemberian ASI awal, pencegahan
perdarahan, memeriksa TFU, asuhan pada kunjungan 2 penkes mengenai
perawatan pada bayi , memandikan, perawatan tali pusat asuhan pada KF3
sama dengan asuhan pada KF 2 ditambah dengan konseling KB dini.

g) Pemberian KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) Persiapan Persalinan dan Nifas


Jurnal: Pengaruh Pemberian KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) Persiapan Persalinan
dan Nifas Terhadap Kejadian Postpartum Blues oleh Dwi Winarni, Krisdiana Wijayanti,
Ngadiyono pada tahun 2017

1) Latar Belakang Dilakukan Pemberian KIE Persiapan Persalinan dan Nifas


Terhadap Kejadian Postpartum Blues

33
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah
melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni 2 hari hingga 2
minggu sejak kelahiran bayi dan dikategorikan sindrom gangguan mental
ringan. Dari penelitian yang dilakukan se Kenwa (2015), didapatkan hasil
bahwa pemberian konseling merupakan salah satu intervensi yang dapat
diberikan pada ibu, yaitu dengan membantu memecahkan masalah yang
dialami saat itu. Dukungan dari tenaga kesehat-an sangat diperlukan
terutama pada masa kehamilan untuk mencegah terjadinya postpartum blues
misal dengan cara memberikan informasi yang memadai atau adekuat
tentang proses kehamilan dan persalinan serta penyulit-penyulit yang
mungkin timbul pada masa tersebut dan penanganannya.
Perlu karena pemberian KIE persiapan persalinan dan nifas ini, ibu merasa
bertambah percaya dan siap dalam hal masalah ataupun perubahan yang
drastis di dalam tubuhnya. Ibu merasa lebih siap dan coping untuk dirinya
lebih dipersiapkan.
2) Manfaat pemberian KIE persiapan persalinan dan nifas ?
KIE adalah metode promosi kesehatan yang bertujuan mendorong
perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dengan pemberian KIE
perubahan yang diharapkan berupa berkurangnya angka postpartum blues
pada ibu diharapkan dapat berkurang bahkan tidak terjadi lagi.
3) Hasil Observasi yang dilakukan di poli kebidanan RSUD Dr. R. Soeprapto
Cepu selama periode april sampai mei 2016 Pengaruh pemberian KIE
persiapan persalinan dan nifas terhadap kejadian postpartum blues :
1. Karakteristik dalam penelitian ini adalah umur, paritas, tingkat pendidikan,
dan pekerjaan. Hasil Observasi tersebut untuk umur adalah usia reproduksi
sehat /tidak beresiko (20-35 tahun) sebanyak 33 (83%), paritas untuk
primipara dan multipara sama-sama 20 (50%), tingkat pendidikan terbanyak
pendidikan SMA 18 (43%), paling sedikit D3/S1 3(8%), pekerjaan
kebanyakan ibu yang tidak bekerja/ ibu rumah tangga 25 (62%)
2. Jumlah postpartum blues pada ibu yang diberikan KIE persiapan persa-
linan dan nifas sebanyak 4 (20%).
3. Jumlah postpartum blues pada ibu yang diberikan leaflet sebanyak 11
(55%).

34
h) Pemberian Tujuh Kontak Konseling Laktasi
Jurnal : Pengaruh Tujuh Kontak Konseling Laktasi Terhadap Kejadian
Postpartumblues oleh Yanik Muyassaroh, Komariyah, Aulia Fatmayanti tahun 2017
1) Latar Belakang dilakukan Pemberian Konseling Laktasi Kepada Ibu Menyusui
terhadap Postpartumblues
Konseling menyusui bisa mencegah terjadinya postpartum blues karena
konseling akan membantu para ibu untuk mempersiapkan kondisi psikologis
sehingga bisa menikmati peran merawat bayi dan menjadi seorang ibu.Selain
itu, ada beberapa bukti bahwa konseling menyusui bisa melindungi atau
membantu dalam pemulihan yang lebih cepat dari gejala postpartum blues.
Konseling yang diberikan diantaranya berupa persiapan menyusui. Wanita
perlu melakukan sejumlah penyesuaian yang diperlukan seiring dengan
pencapaian peran melalui tahapan yang meliputi terjadinya kehamilan, proses
kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan.
Kesulitan menyusui yang dapat meningkatkan risiko depresi. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh (Zubaran dan Foresti, 2013) menunjukkan
bahwa ibu yang menderita gejala depresi mungkin mengalami kurang percaya
diri dalam kemampuan mereka untuk menyusui.
2) Manfaat pemberian konseling laktasi terhadap kejadian postpartumblues
Pada penelitian (Psychiatry, 2010) menunjukkan bahwa kehamilan adalah
waktu yang optimal untuk campur tangan untuk meningkatkan kepercayaan diri
ibu dalam mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Dengan pemberian
konseling menysui bisa meningkatkan kesehatan emosional. Apabila ibu
berhasil dalam proses menyusui, tidak hanya baik untuk tubuh, tetapi juga
untuk pikiran. Studi menunjukkan bahwa ibu menyusui kurang menunjuk-kan
kecemasan dan postpartum blues daripada ibu yang memberikan susu formula
. Hal ini menunjukkan bahwa, wanita yang mendapatkan konseling menyusui,
mempunyai pengurangan risiko postpartumblues.Tetapi ada peningkatan
resiko postpartumblues lebih dari dua kali lipat pada wanita yang ingin
menyusui tapi tidak mampu menyusui.

35
3) Hasil Observasi
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Puskesmas Kota Blora Kabupaten Blora
pada bulan Agustus sampai bulan November 2016. Hasil Observasi pada
kelompok kontrol berdasarkan pendidikan responden, 3 responden (30%)
berpendidikan SMP dan mengalami postpartum blues. Hal ini sejalan dengan
Latipun yang mengatakan bahwa pendidikan seseorang akan mempengaruhi
cara berpikir dan cara pandang terhadap diri dan lingkungannya karena itu
akan berbeda sikap responden yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi
dibandingkan yang berpendidikan rendah dalam menyikapi prosesselama
persalinan.

i) Efektifitas Kompres Hangat dan Kompres Dingin terhadap Intensitas Nyeri Luka
Perineum Pada Ibu Post Partum di BPM Siti Julaeha Pekanbaru oleh Elly
Susilawati dan Wita Raniva Ilda ( Program Studi D-IV Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Riau)
1. Latar Belakang
Luka perineum dapat mempengaruhi kesejahteraan fisik dan psikologis ibu
post partum, sekitar 23-24% ibu post partum mengalami nyeri dan
ketidaknyamanan selama 12 hari post partum. Setiap ibu yang menjalani
proses persalinan yang mengalami luka pada perineum akan merasakan nyeri,
baik luka yang dibuat seperti episiotomi atau luka robekan spontan.
Ketidaknyamanan dan nyeri yang dialami ibu post partum akibat robekan
perineum biasanya ibu takut untuk bergerak setelah persalinan. Bahkan nyeri
akan berpengaruh terhadap mobilisasi, pola istirahat, pola makan, psikologis
ibu, kemampuan untuk buang air besar atau buang air kecil, aktifitas sehari -
hari dalam hal menyusui dan mengurus bayi. Dampak dari mobilisasi yang
terganggu dapat menyebabkan subinvolusi, pengeluaran lokea yang tidak
lancar dan perdarahan post partum. Sehingga diperlukan manajemen nyeri
secara nonfarmakologi yakni dengan kompres hangat dan kompres dingin.
2. Manfaat
Kompres hangat dan kompres dingin ini bekerja dengan memblok transmisi
stimulus nyeri sehingga impuls nyeri yang mencapai otak lebih sedikit.
Kompres hangat dapat memberikan rasa hangat yang bertujuan untuk

36
memberikan rasa nyaman, mengatasi nyeri, mengurangi atau mencegah
spasme otot dan memberikan rasa hangat pada daerah tertentu. Kompres
hangat memiliki dampak fisiologis bagi tubuh, yaitu pelunakan jaringan fibrosa,
mempengaruhi oksigenisasi jaringan sehingga dapat mencegah kekakuan
otot, memvasodilatasikan dan memperlancar aliran darah, sehingga dapat
menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri. Selain itu kelebihan kompres
hangat dapat membantu pemulihan luka, mengurangi infeksi dan inflamasi,
mempelancar pasokan aliran darah serta memberikan ketenangan dan
kenyamanan pada klien.
Selain kompres hangat, manajemen nyeri dengan tindakan kompres dingin
merupakan metode yang dapat diterapkan untuk membantu kenyamanan pada
ibu nifas untuk mengurangi rasa nyeri. Manfaat kompres dingin diantaranya
adalah mengurangi aliran darah ke daerah luka sehingga dapat mengurangi
resiko perdarahan dan oedema, kompres dingin menimbulkan efek analgetik
dengan memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga impuls nyeri yang
mencapai otak akan lebih sedikit.
3. Hasil Penelitian
Pada kelompok perlakuan kompres hangat nilai rata-rata intensitas nyeri luka
perineum sebelum diberikan terapi adalah 4,80 dan setelah diberikan terapi
kompres hangat terjadi penurunan intensitas nyeri dengan nilai rata-rata 2,60.
Sedangkan nilai rata-rata intensitas nyeri luka perineum sebelum diberikan
terapi kompres dingin adalah 4,80 dan setelah diberikan terapi terjadi
penurunan intensitas nyeri dengan nilai rata-rata 1,33.
Hasil uji statistik dengan Mann Whitney bahwa tidak terdapat perbedaan
intensitas nyeri luka perineum ibu post partum sebelum diberikan kompres
hangat dan kompres dingin (p = 0,965) dan terdapat perbedaan intensitas nyeri
luka perineum ibu post partum sebelum diberikan kompres hangat dan
kompres dingin (p = 0,003) dengan nilai mean rank pada kelompok kompres
dingin lebih rendah yaitu 10,87 dibandingkan dengan nilai mean rank pada
kelompok kompres hangat yaitu 20,13 yang artinya kompres dingin lebih efektif
dalam mengurangi intensitas nyeri luka perineum dibandingkan kompres
hangat. Respon fisiologis tubuh terhadap kompres dingin mempengaruhi tubuh
dengan cara menyebabkan pengecilan pembuluh darah (vasokonstriksi),

37
mengurangi aliran darah ke daerah luka sehingga dapat mengurangi resiko
perdarahan dan oedema, kompres dingin menimbulkan efek analgetik dengan
memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga impuls nyeri yang
mencapai otak akan lebih sedikit.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rahayu Purwaningsih
AA tahun 2015) yang membandingkan efektifitas kompres hangat dan kompres
dingin terhadap intensitas nyeri luka perineum. Hasil ini menunjukkan bahwa
ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan setelah kompres hangat
atau kompres dingin untuk mengurangi nyeri luka perineum.

38
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masa nifas merupakan masa dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat kandung kembali seperti semula sebelum hamil, yang berlangsung selama
6-8 minggu. Tahap-tahap masa nifas meliputi : puerperium dini, puerperium intermedial,
remot puerperium. Tujuan dari evidence base pada masa nifas yaitu untuk mengetahui
kesejahteraan ibu dan bayi, baik dari kesehatan, kebersihan, nutrisi, pemberian ASI,
tanda bahaya masa nifas dan perdarahan.

Evidence Base-Midwifery dapat disimpulkan sebaagai asuhan kebidanan


berdasarkan bukti penelitian yang telah teruji menurut metodologi ilmiah yang
sistematis. Manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan Evidence Based antara
lain:
a. Keamanan bagi tenaga kesehatan karena intervensi yang dilakukan berdasarkan
bukti ilmiah.
b. Meningkatkan kompetensi (kognitif).
c. Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagai professional dalam memberikan
asuhan yang bermutu.
d. Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien
mengharapkan asuhan yang benar sesuai dengan bukti dan teori serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Based practice dari kajian jurnal yang bisa diterapkan dalam pelayanan asuhan
kebidanan nifas dan menyusui, yaitu:
1. Melakukan pijat oksitosin.
2. Melakukan senam nifas.
3. Melakukan senam kegel.
4. Melakukan pijat endophrin.
5. Analisis masukan dan proses asuhan pelayanan nifas oleh bidan pelaksana.
6. Konseling dan pendampingan Suami agar menemani ibu saat memberi ASI pertama
kalinya.

39
7. Pemberian KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) untuk persiapan persalinan dan
nifas.
8. Pemberian tujuh kontak konseling laktasi.
9. Memberikan kompres dingin pada perlukaan vagina.

3.2 Saran
Dewasa ini penerapan asuhan pada ibu nifas sangat diperlukan karena sangat
membantu ibu dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu ketika mengalami
kesulitan dalam mengasuh bayinya. Serta, dengan adanya konseling masa nifas ibu
menjadi lebih memahami betapa pentingnya menjaga kebersihan, pemenuhan nutrisi,
waspada akan terjadinya kelainan-kelainan yang dapat membahayakan ibu dan bayi.
Sehingga diharapkan setiap bidan maupun tenaga kesehatan yang lainnya dapat
melakukan asuhan pada ibu nifas dan menyusui dengan benar. Serta untuk mahasiswa
kebidanan diharapkan dapat belajar tentang betapa pentingnya asuhan kebidanan
untuk ibu nifas dan menyusui.

40
DAFTAR PUSTAKA

Ahman E, Zupan J. Neonatal and perinatal mortality: country, region and global
estimates 2004. World Healt Organization, Geneva. 2007.
Asih, Yuri dan Risneni. 2016. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui,
Dilengkapi dengan Evidence Based Practice dan Daftar Tilik Asuhan Nifas. Jakarta: TIM.
Fort AL, Kothari MT, Abderrahim N. Postpartum Care: Levels and determinants in
developing countries: DHS Comparative Reports 15. Marylang USA2006.
Make every mother and child count. World Healt Organization, Geneva. 2005.
Maternal mortality in 2005; Estimates developed by UNICEF, UNFPA, and The World
Bank. World Healt Organization, Geneva. 2008.
Pitriani, Risa dan Rika Andriyani. 2014. Panduan Lengkap Asuhan Kebidanan Ibu
Nifas Normal (Askeb III). Yogyakarta : Deepublish.
Proportion of births attended by skilled helath worker; 2008 Updated — Fact sheet.
Geneva: The World Health Organization; 2008.
Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Repiblik Indonesia; 2012.
WHO Technical Consultation on Postpartum and Postnatal Care. World Healt
Organization, Geneva. 2010.

41
A. 7 Kontak dengan Konselor Laktasi
World Health Organization (WHO) telah menetapkan adanya 7 kontak dengan konselor
laktasi atau klinik laktasi sejak ibu hamil sampai bayi lahir dan menyusui. Tujuh kontak
tersebut dilakukan pada saat:
Ke-1  Umur Kehamilan 28 minggu (membahas dan mediskusikan keuntungan dan
manajemen menyusui)
Ke-2  Umur Kehamilan 36 minggu (membahas lebih rinci mengenai proses
menyusui dan apa yang dirasakan akan menjadi masalah nanti oleh ibu)
Ke-3  Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan melakukan kontak kulit dini antara ibu dan
bayi
Ke-4  Setelah melahirkan (hari pertama, kedua, ketiga, dan selama masih dirawat)
(bimbingan posisi menyusui baik dalam keadaan tidur/duduk (disesuaikan dengan
kondisi ibu) dan membantu ibu melekatan mulut bayi pada payudara dengan baik)
Ke-5  Nifas hari ke-7 (menemukan berbagai kesulitan dan memberi dukungan pada
ibu untuk tetap menyusui)
Ke 6  Nifas hari ke-14
Ke-7  Nifas hari ke-39

B. Pijat Edorphin
Cara pijat Endorphin :
Cara (1) :
1. Ambil posisi senyaman mungkin, bisa dilakukan dengan duduk, atau berbaring
miring. Sementara pasangan Anda berada di dekat Anda (duduk di samping atau
di belakang Anda).
2. Tarik napas yang dalam lalu keluarkan dengan lembut sambil memejamkan mata.
Sementara itu pasangan atau suami mengelus permukaan luar lengan Anda,
mulai dari tangan sampai lengan bawah. Mintalah ia untuk membelainya dengan
sangat lembut yang dilakukan dengan menggunakan jari-jemari atau hanya ujung-
ujung jari saja.
3. Setelah kurang lebih 5 menit, mintalah pasangan untuk berpindah ke lengan/
tangan yang lain.
Meski sentuhan ringan ini hanya dilakukan di kedua lengan, namun dampaknya
luar biasa. Anda akan merasa bahwa seluruh tubuh menjadi rileks dan tenang.

42
Cara (2) :
Teknik sentuhan ringan ini juga sangat efektif jika dilakukan di bagian punggung.
Caranya :
1. Ambil posisi berbaring miring atau duduk.
Pasangan mulai melakukan pijatan lembut dan ringan dari arah leher membentuk
huruf V terbalik, ke arah luar menuju sisi tulang rusuk.
2. Terus lakukan pijatan-pijatan ringan ini hingga ke tubuh Anda bagian bawah
belakang.
3. Suami dapat memperkuat efek pijatan lembut dan ringan ini dengan kata-kata
yang menentramkan Anda. Misalnya, sambil memijat lembut, suami bisa
mengatakan, “Saat aku membelai lenganmu, biarkan tubuhmu menjadi lemas dan
santai,” atau “Saat kamu merasakan setiap belaianku, bayangkan endorphin-
endorphin yang menghilangkan rasa sakit dilepaskan dan mengalir ke seluruh
tubuhmu”. Bisa juga dengan mengungkapkan kata-kata cinta.
Setelah melakukan endorphin massage sebaiknya pasangan langsung memeluk
istrinya, sehingga tercipta suasana yang benar-benar menenangkan.

C. Teknik Kompres Hangat dan Kompres Dingin pada Perineum


Kompres Hangat
Langkah-langkah:
1) Ibu diminta tetap rileks serta nyaman selama dilakukan tindakan.
2) Handuk atau waslap dicelupkan ke dalam air hangat dan diletakkan pada bagian
perineum.
3) Pengompresan pada perineum ini dilakukan selama 3 kali dalam 1 hari.
4) Pengompresan dilakukan selama 20-25 menit pada suhu 37-41°C.
5) Setiap setelah pengompresan dilakukan jeda waktu selama 30 menit lalu diulang
pengompresan kembali.
6) Pengompresan dilakukan pada hari ke 3 – 7 setelah postpartum.
Kompres Dingin
1) Ibu diminta tetap rileks serta nyaman selama dilakukan tindakan.

43
2) Handuk atau waslap dicelupkan ke dalam air es atau dapat dengan batu es yang
dibungkus dengan handuk atau waslap dan diletakkan pada bagian perineum.
3) Pengompresan pada perineum ini dilakukan selama 3 kali dalam 1 hari.
4) Pengompresan dilakukan selama selama 10-15 menit pada suhu 13°C.
5) Setiap setelah pengompresan dilakukan jeda waktu selama 30 menit lalu diulang
pengompresan kembali.
6) Pengompresan dilakukan pada hari ke 3 – 7 setelah postpartum.

D. Cara Memerah ASI dengan Teknik Marmet


Menguras Saluran ASI

1. Posisikan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah sekitar 2,5 sampai 3,75 cm di
belakang pangkal puting susu.
 Tempatkan ibu jari di atas puting susu pada posisi pukul 12 dan jari lain di
bawah puting pada posisi pukul 6 membentuk huruf ‘C’.
 Jari-jari tersebut diposisikan sedemikian rupa sehingga searah dengan puting
susu.
2. Dorong lurus ke arah dada. Untuk payudara besar, angkat dahulu lalu dorong ke
arah
3. Putar-putar ketiga jari ke depan secara bersamaan untuk mengeluarkan ASI.
Hindari gerakan menarik atau memeras agar tidak melukai jaringan payudara yang
sensitif.
4. Ulangi secara teratur untuk mengalirkan ASI. Tempatkan jari secara tepat:
posisikan, dorong, putar-putar, demikian seterusnya.
5. Ganti posisi jari untuk mencapai saluran ASI
 Satu payudara diperah dengan satu tangan, bukan dengan dua tangan.
Namun, Moms bisa memerah kedua payudara bersamaan.
 Pindahkan ibu jari dan jari lainnya pada posisi jam 12 dan 6, kemudian posisi
jam 11 dan 5, jam 2 dan 8, serta jam 3 dan 9.
Membantu Pengeluaran ASI dengan Menstimulasi Aliran Susu

1. Pijatlah sel dan saluran penghasil ASI.

44
 Mulailah dari atas payudara. Gerakkan jari perlahan membentuk lingkaran
kecil sambil menekan kuat ke arah dada.
 Setelah beberapa detik, angkat jari-jari dan pindah ke area berikutnya.
 Lakukan gerakan spiral di sekitar payudara menuju areola dengan teknik pijat
ini.
2. Usaplah payudara dari arah dada ke puting dengan usapan ringan. Lanjutkan
gerakan membelai dari arah dada ke puting susu di sekitar seluruh payudara.
3. Kocoklah payudara dengan lembut sambil mencondongkan tubuh ke depan
sehingga gravitasi akan membantu ASI keluar.

E. Penggunaan Kubis Dingin untuk Mengurangi Pembengkakan Payudara


1. Gunakan kubis yang masih segar dan mentah lalu kupas menyerupai bentuk
payudara.
2. Letakkan kubis selama 15 menit didalam freezer.
3. Letakan daun kubis di sekitar payudara di sela waktu menyusui, dan biarkan
selama sekitar 20 menit. Dua kali sehari sudah cukup.
4. Hentikan penggunaan segera setelah engorgement (pembengkakan) mulai
berkurang dan Anda menjadi lebih nyaman.

45

Anda mungkin juga menyukai