Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN MINI PROJECT

PENGARUH PENYULUHAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DENGAN


METODE PANGGUNG BONEKA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ANAK
USIA SEKOLAH DASAR DI WILAYAH DUSUN PAMOT RW 02 KELURAHAN
NOBOREJO, PUSKESMAS CEBONGAN KOTA SALATIGA

Disusun oleh:
dr. Sheila Savitri

Pendamping:
dr. Galuh Ajeng
NIP. 19821014 201001 2 017

Periode November 2018 - Maret 2019


Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode November 2018 - November 2019
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)


Laporan F7. MINI PROJECT

Topik:
PENGARUH PENYULUHAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DENGAN
METODE PANGGUNG BONEKA TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ANAK
USIA SEKOLAH DASAR DI WILAYAH DUSUN PAMOT RW 02 KELURAHAN
NOBOREJO, PUSKESMAS CEBONGAN KOTA SALATIGA

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus sebagai
bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas
Cebongan Kota Salatiga

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal Maret 2019

Mengetahui,
Dokter Internship, Dokter Pendamping

dr. Sheila Savitri dr. Galuh Ajeng Hendrasti


NIP. 19821014 201001 2 017
BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) merupakan salah satu
program utama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh Indonesia. Salah
satu fokus program P2P adalah untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat
demam berdarah dengue (DBD).
Demam berdarah dengue masih menjadi masalah kesehatan utama di berbagai
daerah di dunia, terutama di negara-negara Asia. Data dari WHO menunjukkan lebih
dari 52% dari populasi berisiko DBD di seluruh dunia tinggal di negara-negara Asia
Tenggara. Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2012 menyebutkan
jumlah penderita DBD di Indonesia sebanyak 90.245 kasus dengan jumlah kematian
816 orang (Index Rate 37,27 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate sebesar
0,90%). Jumlah kasus penyakit DBD terbanyak terdapat di provinsi Jawa Barat
(19.663 kasus), diikuti oleh Jawa Timur (8.177 kasus), Jawa Tengah (7.088 kasus),
dan DKI Jakarta (6.669 kasus). Angka kematian tertinggi akibat DBD pada tahun
2012 terdapat di provinsi Jawa Barat (167 kematian), Jawa Timur (114 kematian), dan
Jawa Tengah (108 kematian).
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh bagian Kesehatan Lingkungan
Puskesmas Cebongan pada tahun 2018 terdapat 15 kasus DD di wilayah kerja
Puskesmas Cebongan, dengan persentase tertinggi berada di daerah Pamot. Angka
kesakitan ini meningkat dari tahun 2017 di mana terdapat 2 kasus DBD dan 1 DD di
wilayah kerja Puskesmas Cebongan.
Angka kesakitan dan kematian akibat DBD dapat diturunkan melalui Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diterapkan di berbagai tatanan masyarakat,
salah satunya di tatanan pendidikan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah
merupakan perilaku positif yang dilakukan oleh setiap komponen sekolah untuk
mencegah penyakit serta meningkatkan kesehatan pribadi dan lingkungan secara aktif.
Pemahaman mengenai arti penting kesehatan harus dimulai sejak dini agar hasil
tersebut dapat dirasakan di kemudian hari.
Salah satu indikator PHBS di tatanan sekolah adalah pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) secara berkala. Pemberantasan sarang nyamuk merupakan upaya
pencegahan terjadinya kasus DBD. Terdapat tiga bagian PSN, yaitu secara fisik
menggunakan gerakan 4M plus (menutup, menguras, mengubur, memantau; plus
menghindari gigitan nyamuk), secara biologis dengan cara memelihara ikan pemakan
jentik nyamuk, dan secara kimia dengan menggunakan program abatisasi. Dengan
dilakukannya PSN secara berkala diharapkan dapat menekan angka kesakitan dan
kematian akibat DBD.

II. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana tingkat pengetahuan anak-anak usia sekolah dasar di Pamot RW 02
mengenai PSN?
2. Apakah pertunjukan panggung boneka dapat meningkatkan pengetahuan anak-
anak usia sekolah dasar di Pamot RW 02 mengenai PSN?

III. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan anak-anak usia sekolah dasar di Pamot
RW 02 mengenai PSN.
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan pengetahuan anak-anak usia sekolah dasar di Pamot RW 02
mengenai PSN melalui pertunjukan panggung boneka.

IV. MANFAAT
1. Manfaat bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dari pendidikan
untuk menambah wawasan anak-anak di wilayah kerja Puskesmas Cebongan
terutama di Pamot RW 02 mengenai PSN.
2. Manfaat bagi Puskesmas
Membuat gambaran tingkat pengetahuan anak-anak di wilayah kerja Puskesmas
Cebongan terutama di daerah Pamot RW 02 mengenai PSN sebagai masukan bagi
Puskesmas Cebongan untuk membuat strategi pemberantasan DBD
3. Manfaat bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan anak-anak di
wilayah kerja Puskesmas Cebongan terutama di daerah Pamot RW 02 mengenai
PSN dengan harapan dapat menurunkan angka kasus DBD di wilayah kerja
Puskesmas Cebongan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)


1. Definisi
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut menular
yang sering ditemukan di negara tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Dahulu
penyakit ini banyak menyerang anak-anak, akan tetapi akhir-akhir ini orang
dewasa juga sudah banyak terinfeksi.
Tingkat penularan DBD dipengaruhi oleh cuaca yang berkaitan dengan
meningkatnya populasi vektor penyakit ini. Derajat penyakit DBD bervariasi,
mulai dari tanpa gejala (asimptomatik), demam ringan, hingga demam disertai
hipotensi dan syok, dengan atau tanpa perdarahan yang dapat menyebabkan
kematian.

2. Etiologi
Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus Dengue (DENV) dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, terutama Aedes aegypti yang
mengandung virus dengue dalam kelenjar salivanya. Virus ini termasuk dalam
kelompok Flavivirus dan terdapat 4 serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan
DEN-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotipe akan memberikan kekebalan seumur
hidup, tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain.

3. Kriteria Diagnosis
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria WHO dan memenuhi dua
kriteria klinis disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Oleh WHO,
berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium, DBD diklasifikasikan
menjadi 4 derajat.
Tabel 1. Kriteria diagnosis DBD
Kriteria klinis Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari
Manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet positif, petekie,
purpura, ekimosis, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan
gusi, hematemesis dan melena
Hepatomegali
Syok yang ditandai dengan nadi lemah dan cepat, tekanan nadi
turun, tekanan darah turun, kulit dingin dan lembab, sianosis
sekitar mulut, gelisah
Kriteria Trombositopenia ( 100.000/mm3)
laboratorium Hemokonsentrasi, peningkatan hematokrit 20% atau lebih

Tabel 2. Derajat DBD


II. PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN)
Pengelolaan lingkungan meliputi berbagai kegiatan untuk mengkondisikan
lingkungan menyangkut upaya pencegahan dengan mengurangi perkembang biakan
vektor sehingga mengurangi kontak antar Vektor dengan manusia. Metode
pengelolaan lingkungan mengendalikan Aedes aegypti dan Aedes albopictus serta
mengurangi kontak vektor dengan manusia adalah dengan melakukan pemberantasan
sarang nyamuk. Pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembang biakan
buatan manusia dan perbaikan desain rumah.
Secara rinci Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dapat dikelompokkan
menjadi 3 bagian yaitu :
1. Fisik
Cara ini dilakukan dengan gerakan 4M plus, yaitu dengan menguras bak mandi,
WC; menutup tempat penampungan air seperti tempayan, drum, dll; mengubur
atau menyingkirkan barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas, dan
sebagainya; memantau barang-barang yang dapat menampung air; serta
menghindari gigitan nyamuk dengan cara menggunakan kelambu atau memakai
lotion anti nyamuk. Pengurasan tempat penampungan air perlu dilakukan secara
teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali sebab daur hidup nyamuk Aedes
aegypti adalah 7 - 10 hari.
2. Biologi
Dengan cara memelihara ikan pemakan jentik nyamuk (ikan kepala timah, ikan
gupi, ikan nila merah, dll).
3. Kimia
Cara memberantas jentik Aedes aegypti dengan menggunakan racun pembasmi
jentik (larvasida) yang dikenal dengan abatisasi . Larvasida yang biasa digunakan
adalah temphos. Formulasi temphos yung digunakan adalah berbentuk butiran
pasir (sand granules). Dosis yang digunakan I ppm atau 10 gram (kurang lebih 1
sendok makan) untuk setiap 100 liter air. Abatisasi dengan temphos ini
mempunyai efek residu 3 bulan. Racun pembasmi jentik ini aman meskipun
digunakan di tempat penampungan air yang aimya jernih untuk mencuci atau air
minum sehari-hari. Selain itu dapat digunakan pula racun pembasmi jentik yang
lain seperti: Bacillus thuringiensis var israeiensis (Bti) atau Altosid golongan
insect growth regulator.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “4M Plus”, yaitu menutup,
menguras, menimbun, memantau dan menghindari gigitan nyamuk. Selain itu juga
melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida,
menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan
insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik
berkala, dll.
Dengan melakukan kegiatan PSN DBD secara rutin oleh semua masyarakat
maka perkembang biakan penyakit di suatu wilayah tertentu dapat di cegah atau
dibatasi.
BAB III
METODOLOGI

I. KERANGKA ACUAN
INPUT
1. Man
1) Narasumber
Dokter internsip Puskesmas Cebongan periode November 2018 – Maret 2019
2) Sasaran
Anak usia sekolah dasar di Pamot RW 02
3) Pelaksana
Dokter internsip Puskesmas Cebongan periode November 2018 – Maret 2019
2. Money
Dana program UKM Puskesmas Cebogan dan swadana dokter internsip Puskesmas
Cebongan
3. Material
1) Surat tugas Kepala Puskesmas Cebongan untuk mengadakan kegiatan penyuluhan
2) Materi penyuluhan tentang PSN
3) Pretest dan post test mengenai PSN
4) Panggung boneka dengan tema DBD, PSN, dan PHBS
4. Method
Memberikan materi penyuluhan dengan metode panggung boneka
5. Machine
1) Alat tulis (pensil, pulpen)
2) Lembar pretest dan post test
3) Mikrofon, pengeras suara
4) Panggung boneka dan alat peraga boneka
5) Senter dan bubuk abate
6) Leaflet materi PSN
7) Alat dokumentasi
8) Alat transportasi
PROSES
1. P1
Perencanaan
1) Membuat rencana pelaksanaan kegiatan
2) Menemui koordinator program kesehatan lingkungan Kelurahan Noborejo
3) Mempersiapkan tempat dan sarana
4) Mencari referensi materi PSN
5) Mempersiapkan skenario panggung boneka dan peralatan
2. P2
Penggerakan
1) Mengajukan izin kepada Kepala Puskesmas Cebongan
2) Menemui kader kesehatan di wilayah kelurahan Noborejo
3) Koordinasi dengan tim bina wilayah kelurahan Noborejo

Pelaksanaan
1) Menyiapkan perlengkapan pelaksanaan kegiatan
2) Melakukan pengisian pretest
3) Memberikan penyuluhan menggunakan panggung boneka
Cerita panggung boneka berjudul PAUS MUMARA yang merupakan akronim dari
Pasukan Usir Nyamuk Demam Berdarah. Isi dari cerita PAUS MUMARA memuat
pengetahuan mengenai DBD, PSN, dan PHBS.
4) Melakukan simulasi PSN ke rumah-rumah
5) Melakukan tanya jawab mengenai materi yang telah disampaikan
6) Melakukan pengisian post test
7) Mendokumentasikan pelaksanaan acara
3. P3
Pengawasan
Mengawasi pelaksanaan kegiatan panggung boneka sesuai dengan rencana yang telah
disusun, baik dalam hal sasaran, waktu, maupun hasil yang dicapai.

Pengendalian
Mengendalikan pelaksanaan kegiatan apabila didapatkan hal-hal yang tidak sesuai dengan
perencanaan

Penilaian
Menilai pelaksanaan dan efektivitas kegiatan penyuluhan
OUTPUT
1) Data jumlah peserta yang menghindari kegiatan penyuluhan dengan metode panggung
boneka
2) Informasi mengenai pengetahuan dasar anak-anak usia sekolah dasar di Pamot RW 02
mengenai PSN
3) Peningkatan pengetahuan anak-anak usia sekolah dasar di Pamot RW 02 mengenai PSN

II. METODE PENGAMATAN TERLIBAT


Metode pengamatan terlibat yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah dengan
pretest dan posttest menggunakan instrumen yang sesuai dan pencatatan hasil.
BAB IV
HASIL

I. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS CEBONGAN


1. Data Wilayah
Puskesmas Cebongan merupakan Puskesmas yang terletak paling selatan dari
Kota Salatiga. Lokasi bertempat di Kelurahan Cebongan, Kecamatan Argomulyo
Kota Salatiga. Batas wilayah Puskesmas Cebongan adalah :
Utara : Kelurahan Gendongan Kota Salatiga
Timur : Ds. Bener, Ds. Tegal Waton, Kabupaten Semarang
Selatan : Desa Patemon, Desa Karang Duren Kabupaten Semarang
Barat : Kelurahan Randuacir dan Kelurahan Tegalrejo Kota Salatiga
Puskesmas Cebongan pada Tahun 1994 bergabung dengan Kota
Salatigasetelah sebelumnya merupakan bagian dari Puskesmas di Kabupaten
Semarang. Puskesmas Cebongan Terdiri dari 4 wilayah, yaitu kelurahan Tingkir
Tengah, Kelurahan Tingkir Lor, Kelurahan Cebongan & Kelurahan Noborejo.
Pada tahun 2007 ditambah layanan rawat inap dan dilakukan rewilayah kerja
Puskesmas menjadi 3 wilayah, yaitu Kelurahan Cebongan, Kelurahan Noborejo &
Kelurahan Ledok. Wilayah kerja Puskesmas Cebongan terletak daerah
bergelombang (kelurahan Ledok), daerah miring ± 25 % (Kelurahan Cebongan)
dan Daerah datar ± 10 % (kelurahan Noborejo). Dengan ketinggian 450 – 825
meter diatas permukaan laut dan beriklim tropis berhawa sejuk dan udara segar.

2. Jumlah Desa/Kelurahan
Wilayah kerja Puskesmas Cebongan meliputi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan
Cebongan, Kelurahan Noborejo, dan Kelurahan Ledok.

3. Data Penduduk
Jumlah Penduduk wilayah kerja Puskesmas Cebongan 22.607 jiwa terdiri dari :
 Kelurahan Cebongan : 5.140 Jiwa
 Kelurahan Noborejo : 2.034 Jiwa
 Kelurahan Ledok : 11.065 Jiwa
Jumlah KK wilayah Puskesmas Cebongan 6.916 KK, terdiri dari :
 Kelurahan Cebongan : 1.460 KK
 Kelurahan Noborejo : 2.034 KK
 Kelurahan Ledok : 3.422 KK

4. Peta Wilayah

II. HASIL PENELITIAN


1. Data Kesehatan Masyarakat (Primer)
Jumlah penderita demam dengue (DD) di wilayah kerja Puskesmas Cebongan
dari tahun 2017 sampai dengan bulan Februari 2019 dapat dilihat di Grafik 1.
Terdapat peningkatan angka penderita DD dimana pada tahun 2017 didapatkan 1
kasus DD sedangkan pada tahun 2018 didapatkan 15 kasus DD. Pada bulan
Januari dan Februari 2019, ditemukan 10 kasus DD.
Data penderita demam berdarah dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas
Cebongan dari tahun 2017 sampai dengan bulan Februari 2019 dapat dilihat di
Grafik 2. Terjadi fluktuasi angka penderita DBD dari tahun ke tahun. Pada tahun
2017 didapatkan 2 kasus DBD, sedangkan di tahun 2018 tidak terdapat penderita
DBD. Pada bulan Januari dan Februari 2019 angka penderita DBD naik menjadi 1
orang.
Grafik 1. Jumlah penderita demam dengue di wilayah kerja Puskesmas Cebongan
dari tahun 2017 sampai Februari 2019

DD
16

14

12

10

8
DD
6

0
2017 2018 2019 (Jan-Feb)

Grafik 2. Jumlah penderita demam berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas


Cebongan dari tahun 2017 sampai Februari 2019

DBD
3

DBD
1

0
2017 2018 2019 (Jan-Feb)

2. Gambaran Tingkat Pengetahuan mengenai PSN


Distribusi pengetahuan responden mengenai pemberantasan sarang nyamuk
sebelum dilakukan intervensi penyuluhan berupa panggung boneka dapat dilihat
di Tabel 1. Berdasarkan data yang diperoleh, 55,55% responden memiliki
pengetahuan tinggi mengenai PSN; 33,33% responden memiliki pengetahuan
sedang; sedangkan 11,11% anak memiliki pengetahuan rendah mengenai PSN.
Pengetahuan responden mengenai PSN berdasarkan soal pretest dapat dilihat
pada Tabel 2. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pertanyaan dengan jumlah
jawaban benar paling banyak adalah soal nomor 3 dan 4, sedangkan pertanyaan
dengan jumlah jawaban benar paling sedikit adalah soal nomor 5.
Pengetahuan responden mengenai PSN berdasarkan soal posttest dapat dilihat
pada Tabel 3. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pertanyaan dengan jumlah
jawaban benar paling banyak adalah soal nomor 3, sedangkan pertanyaan dengan
jumlah jawaban benar paling sedikit adalah soal nomor 5.

Tabel 1. Distribusi tingkat pengetahuan responden mengenai PSN


Tingkat Jumlah (n = 18) Persentase
Tinggi (4-5) 10 55,55%
Sedang (2-3) 6 33,33%
Rendah (0-1) 2 11,11%

Tabel 2. Pengetahuan responden mengenai PSN berdasarkan soal pretest


Kategori Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Soal 5
n % n % n % n % n %
Benar 11 61,11 13 72,22 15 83,33 15 83,33 10 55,56
Salah 7 38,89 5 27,78 3 16,67 3 16,67 8 44,44
Jumlah 18 100 18 100 18 100 18 100 18 100

Tabel 3. Pengetahuan responden mengenai PSN berdasarkan soal posttest


Kategori Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Soal 5
n % n % n % n % n %
Benar 15 83,33 14 77,78 18 100 16 88,89 12 66,67
Salah 3 16,67 4 22,22 0 0 2 11,11 6 33,33
Jumlah 18 100 18 100 18 100 18 100 18 100

Pada Grafik 3 dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan persentase


pengetahuan responden mengenai PSN setelah dilaksanakannya intervensi
penyuluhan berupa panggung boneka dengan melihat adanya perbaikan nilai
posttest.
Grafik 3. Perbandingan persentase pengetahuan responden mengenai PSN
berdasarkan soal pretest dan posttest
120

100

80

60 Pretest
Posttest
40

20

0
Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Soal 5
BAB V
DISKUSI

I. PEMBAHASAN
Meningkatnya angka kesakitan DD dan DBD di wilayah kerja Puskesmas
Cebongan menjadi salah satu permasalahan utama di bagian kesehatan lingkungan
Puskesmas Cebongan. Pencegahan demam berdarah tidak akan efektif jika hanya
dilakukan oleh Puskesmas sebagai roda penggerak PSN, sehingga diperlukan peran
aktif masyarakat untuk memutus rantai penularan demam berdarah.
Diperlukan pengetahuan mengenai DBD, PSN, dan PHBS untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai cara pencegahan DBD serta
pentingnya hidup bersih dan sehat. Kami melakukan kegiatan penyuluhan anak usia
sekolah dasar dengan menggunakan panggung boneka karena pemahaman mengenai
arti penting kesehatan harus dimulai sejak dini agar hasil tersebut dapat dirasakan di
kemudian hari.
Berikut teknis pelaksaan acara penyuluhan menggunakan panggung boneka
yang kami lakukan. Setelah dilakukan pretest, selanjutnya penyuluh melakukan
intervensi penyuluhan berupa panggung boneka pada anak-anak di RW 2 Pamot,
Noborejo. Anak-anak menyambut dengan antusias dan memperhatikan cerita
panggung boneka dengan baik.
Cerita panggung boneka berjudul PAUS MUMARA yang merupakan akronim
dari Pasukan Usir Nyamuk Demam Berdarah. Isi dari cerita PAUS MUMARA
memuat pengetahuan mengenai demam berdarah dengue, pemberantasan sarang
nyamuk, dan perilaku hidup bersih dan sehat. Setelah panggung boneka selesai, kami
memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan isi cerita PAUS MUMARA dan
memberikan reward kepada anak-anak yang berhasil menjawab.
Setelah tanya jawab, kami melakukan simulasi pemberantasan sarang nyamuk
ke rumah-rumah warga di sekitar lokasi penyuluhan. Sebelum dilakukan simulasi
pemberantasan sarang nyamuk, penyuluh memberikan contoh bentuk jentik nyamuk
Aedes aegypti. Peserta kemudian dibagi menjadi 6 kelompok dengan didampingi oleh
1 orang penyuluh. Masing-masing penyuluh membawa senter, bubuk abate, dan
leaflet mengenai gerakan 4M+. Penyuluh bertugas untuk memberikan simulasi dan
penjelasan mengenai pemberantasan sarang nyamuk. Selesai melakukan simulasi
pemberantasan sarang nyamuk, peserta kembali ke lokasi penyuluhan untuk dilakukan
post test dan penutupan.
Hal yang kami gunakan sebagai penilaian pada kegiatan ini adalah pretest dan
posttest. Melalui pretest dan posttest dapat dinilai apakah terjadi peningkatan nilai
dari pretest ke posttest. Dari hasil pretest dan posttest mengenai PSN di Pamot RW 02
didapatkan peningkatan pengetahuan setelah mengikuti penyuluhan metode panggung
boneka PAUS MUMARA sehingga kegiatan penyuluhan dianggap efektif.

II. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN


1. Kelebihan
Pada mini project ini didapatkan data mengenai pengetahuan anak-anak di RW 2
Pamot, Noborejo. Pemilihan metode intervensi menggunakan panggung boneka
dinilai lebih efektif daripada penyuluhan konvensional, mengingat sasaran
penyuluhan merupakan anak-anak usia sekolah dasar. Dengan adanya mini project
ini telah diberikan pengetahuan baru kepada peserta sehingga diharapkan angka
kejadian demam berdarah bisa berkurang.

2. Kekurangan
a. Pada mini project ini kami hanya menilai tingkat pengetahuan melalui pretest
dan posttest sederhana dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia, baik
dari pihak peserta maupun pelaksana. Sehingga kami tidak dapat menilai
secara lebih komprehensif apakah materi sudah benar-benar dipahami setelah
dilakukan penyuluhan berupa panggung boneka.
b. Pada mini project ini, sasaran utama kami adalah anak usia sekolah dasar
berjumlah 30 orang. Pada saat pelaksanaan, hanya ada 18 anak usia sekolah
dasar yang hadir.
DAFTAR PUSTAKA

CDC. 2009. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. U.S. Department of Health and Human
Service Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada tanggal 28
Desember 2018 dari URL
http://www.cdc.gov/Dengue/resources/Dengue&DHF%20Information%20for%20H
ealth%20Care%20Practitioners_2009.pdf

Departemen Kesehatan RI. 1995. Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit Demam


Berdarah. Direktorat Jenderal. PPM & PLP, buku paket B. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 1996. Menggerakkan Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang


Nyamuk Demam Berdarah. Depkes, Jakarta.

Hadinegoro et al. 2001. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Jakarta:


Depkes RI.

Hapsari, MMDEAH. 2014. Tatalaksana Infeksi Dengue. Divisi Infeksi & Penyakit Tropis
Departemen Kesehatan Anak RSUP Dr Kariadi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. Semarang.

Kaushik A, Pineda C, Kest H. 2010. Diagnosis and management of dengue fever in children.
Peds in Review; 31(2):30.

Karyanti MR, Hadinegoro SR. 2009. Perubahan epidemiologi demam berdarah dengue di
Indonesia. Sari Pediatri:424-32.

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. 1992. Pemberantasan


Penyakit Demam Berdarah. Litbang., Depkes., Jakarta.

Lyn, Tan Ee. 2010. Treating Dengue More Difficult With Growing Obesity. Diakses pada 28
Desember 2018. Available from :
http://cid.oxfordjournals.org/content/52/5/i.full.pdf+html

Nasrodin. 2007. Penyakit Infeksi di Indonesia Solusi Kini & Mendatang. Surabaya
:Airlangga University Press.

Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI. 2012. Buku ajar infeksi dan pediatri
tropis. 2nd ed. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. p. 155-66.

Sidiek A. 2012. Hubungan tingkat pengetahuan ibu mengenai penyakit dbd terhadap kejadian
penyakit dbd pada anak. Universitas Diponegoro.

Pusat data dan surveilans epidemiologi kementrian kesehatan republik indonesia. Demam
berdarah dengue. Buletin jendela epidemiologi 2010.
Mayetti. 2010. Hubungan gambaran klinis dan laboratorium sebagai faktor risiko syok pada
demam berdarah dengue. Sari Pediatri;11(5):367-73.

Meisyaroh M, Askar M, Simunati. 2013. Faktor yang berhubungan dengan derajat keparahan
dbd (demam beradarah dengue) pada anak di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar [Online]. Diakses pada 28 Desember 2018. Available from:
URL:http://library.stikesnh.ac.id/files/disk1/4/e-
library%20stikes%20nani%20hasanuddin--meriemmeis-156-1-artikel-5.pdf

Rajapakse S. 2008. Intravenous immunoglobulins in the treatment of dengue illness. Trans R


Soc Trop Med Hyg;103:867-70.

Sudaryono. 2011. Perbedaan manifestasi klinis dan laboratorium berdasarkan jenis


imunoglobulin pada penderita demam berdarah dengue. Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

Thomas Suroso. 2003. Pencegahan Dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue Dan
Demam Berdarah Dengue. Jakarta : Diterbitkan atas kerjasama Word Health
Organization Dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia

World Health Organisation. 1999. Demam Berdarah Dengue, Diagnosis, Pengobatan,


Pencegahan, dan Pengendalian. Depkes. RI, Jakarta.
LAMPIRAN

I. Soal pretest dan posttest


1. Apa itu Jumantik Cilik?
a) Juru Pemakan Jentik
b) Juru Pemantau Jentik
c) Juru Makan Cantik

2. Apa saja tugas Jumantik Cilik?


a) Melakukan pemeriksaan jentik di lingkungan sekolah dan rumah
b) Melakukan pemeriksaan kesehatan
c) Melarang teman jajan tidak membayar

3. Bagaimana cara melihat jentik nyamuk pada bak mandi?


a) Menggunakan senter
b) Menggunakan mikroskop
c) Menggunakan teropong

4. Apa yang harus dilakukan jika melihat jentik nyamuk pada bak mandi?
a) Kuras air
b) Tutup bak mandi
c) Digunakan untuk mandi

5. Berikut merupakan cara memberantas sarang nyamuk, kecuali?


a) 4M+
b) Fogging
c) Membiarkan genangan air
II. Dokumentasi acara

Panggung boneka PAUS MUMARA Pembukaan panggung boneka PAUS


MUMARA

Pelaksanaan panggung boneka


Proses pengerjaan pretes

Pembagian kelompok simulasi PSN

Simulasi PSN