Anda di halaman 1dari 24

SAP PENYULUHAN KEPERAWATAN KARDIOVASKULER II

“Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji”

OLEH:

Kelas III A

Kelompok III

Mulyani (163110174)

Nada Sari Dewi (163110175)

Nursaidati (163110176)

Puput Nikmat Lestari (163110177)

Putri Septiani (163110178)

Ranny Patria Yolandiani (163110179)

Rifahatul Mahmudah (163110180)

Shelvi Husna Sukrata (163110182)

Silvi Marsya Yuyu (163110183)

Dosen Pembimbing:
Ns. Lola Felnanda Amri, S. Kep., M. Kep

D-III KEPERAWATAN PADANG

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Hipertensi


Sasaran : Pengunjung Puskesmas Kuranji dengan penyakit Hipertensi
atau penyakit jantung
Hari / tanggal : Kamis, 7 Februari 2019
Waktu : 08.00 WIB
Tempat : Puskesmas Kuranji
Pelaksana : Mahasiswa Poltekkes Kemenkes RI Padang Kelas III A
kelompok 3

A. Latar Belakang

Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120
mmHg dan tekanan diastole lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan
perubahan pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya
tekanan darah (Arif Muttaqin, 2009).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab utama gagal
jantung, stroke dan gagal ginjal. Tekanan darah tinggi disebut sebagai
“Pembunuh diam-diam” karena orang dengan darah tinggi sering tidak
menampakkan gejala. Institus Nasional Jantung, Paru dan Darah memperkirakan
separuh orang yang menderita darah tinggi tidak sadar akan kondisinya. Begitu
penyakit ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau dengan interval teratur
karena darah tinggi merupakan kondisi seumur hidup (Kementrian Kesehatan,
2017) .
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama
(persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung
(penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi
secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Banyak pasien hipertensi
dengan tekanan darah tidak terkontrol dan jumlahnya terus meningkat. Oleh
karena itu, partisipasi semua pihak, baik dokter dari berbagai bidang peminatan
hipertensi, pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan agar hipertensi
dapat dikendalikan (kementerian kesehatan, 2017).
Lebih dari seperempat jumlah populasi dunia saat ini menderita hipertensi.
Menu rut American Heart Association {AHA}, penduduk Amerika yang berusia
diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa,
namun hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi
merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing
individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala-gejalanya itu
adalah sa kit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet (vertigo), jantung berdebar-
debar, mudah Ieiah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan
mimisan (Kementerian Kesehatan, 2017).
Di Indonesia banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15.000.000
orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15%
pada orang dewasa, 50% yang diantaranya tidak menyadari sebagai penderita
hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena
tidak menghindari dan tidak mengetahui factor resikonya dan, 90% merupakan
hipertensi esensial. Saat ini penyakit degenerative dan kardiovaskuler sudah
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia (Smeltzer,
2001).
Berdasarkan data profil kesehatan kota Padang tahun 2017 didapatkan data
bahwa penderita hipertensi usia >18 tahun yang dilakukan pengukuran tekanan
darah didapatkan bahwa 9.587 orang yang terdiagnosa hipertensi atau sebesar
4,64 % orang penderita hipertensi. Penderita terbanyak adalah perempuan yaitu
5.909 orang dan laki-laki 3. 678 orang (Dinas Kesehatan Kota Padang, 2017) .
Berdasarkan survey pada pengunjung yang datang dengan hipertensi pada
Puskesmas Kuranji pada bulan januari jumlah kunjungan pasien hipertensi
didapatkan data bahwa ada sebanyak 469 orang yang berkunjung dengan
penderita hipertensi. Hasil wawancara dengan beberapa penderita hipertensi,
bahwa mereka tidak mengetahui apakah hipertensi ini sangat berbahaya, mereka
hanya mengetahui penyakit hipertensi hanya dengan gejala sakit kepala dan
badan terasa lemas dan berat dan banyak dari penderita hipertensi yang
mengabaikan makanan apa saja yang baik dikonsumsi untuk mencegah
timbulnya hipertensi. Dan banyak dari penderita yang tidak mengetahui
komplikasi dari hipertensi.
Berdasarkan data dan masalah banyaknya kunjungan penderita dengan
hipertensi di Puskesmas Kuranji maka kelompok tertarik untuk melakukan
penyuluhan di Puskesmas Kuranji dengan judul “Hipertensi” .

B. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan penyuluhan tentang hipertensi selama 1x30 menit
masyarakat dapat memahami tentang penyakit darah tinggi, diet hipertensi dan
mampu melakukan perawatan diri terhadap penyakit hipertensi.

C. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan selama 1x30 menit masyarakat mampu


menjelaskan kembali tentang:
a. Pengertian Hipertensi
b. Penyebab Hipertensi
c. Tanda dan gejala Hipertensi
d. Makanan yang dianjurkan dan makanan yang dibatasi untuk penderita
Hipertensi
e. Komplikasi dari hipertensi

D. Materi
(Terlampir)

E. Metode Penyuluhan
Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah ceramah dan diskusi,
yaitu pemateri menyampaikan materi penyuluhan tentang Hipertensi dan diakhir
penyuluhan disedikan waktu untuk tanya-jawab antara peserta dan pemateri.
F. Media dan Alat Peraga
Media dan alat peraga yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah :
1. Slide Presentation Power Point
2. Laptop
3. Infocus
4. Leaflet

G. Pengorganisasian
1. Moderator : Shelvi Husna Sukrata
Tugas Moderator :
a. Membuka penyuluhan.
b. Memperkenalan diri sendiri, pemateri, notulen, fasilitator, dan
observer.
c. Memberitahu pokok bahasan penyuluhan kepada peserta.
d. Kontrak waktu dengan peserta penyuluhan.
e. Menyampaikan rute atau tahap-tahap dalam penyuluhan.
f. Menguraikan secara singkat latar belakang dan tujuan penyuluhan.
g. Mempersilakan pemateri untuk menyampaikan materi.
h. Membuka sesi tanya-jawab.
i. Mempersilakan peserta untuk bertanya.
j. Mempersilakan pemateri untuk menjawab pertanyaan peserta.
k. Mengucapan terimakasih kepada pemateri dan peserta.
l. Menutup penyuluhan.

2. Pemateri : Silvi Marsya Yuyu


Tugas Pemateri:
a. Menyampaikan materi penyuluhan.
b. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta.

3. Notulen : Putri Septiani


Tugas Notulen:
a. Bertanggung-jawab atas daftar hadir peserta
penyuluhan.
b. Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
oleh peserta.
c. Mencatat jawaban-jawaban yang disampaikan
oleh pemateri.
d. Membuat rangkuman materi penyuluhan.

4. Fasilitator : Mulyani, Nursaidati, Puput Nikmat Lestari, Ranny


Patria Yolandini
Tugas Fasilitator:
a. Mempersiapkan dan bertanggung-jawab atas
setting tempat penyuluhan, seperti susunan dan jumlah meja dan kursi
yang digunakan dalam penyuluahan.
b. Mempersiapakan dan bertanggung-jawab atas
segala media dan alat peraga yang digunakan oleh pemateri dalam
penyuluhan.
c. Selalu memfasilitasi semua kebutuhan peserta
dalam penyuluhan dan menyesuaikannya dengan kondisi saat
penyuluhan, sehingga penyuluhan berjalan dengan lancar.

5. Observer : Nada Sari Dewi


Tugas Observer :
a. Memonitor atau memantau selama berjalannya
penyuluhan.
b. Mengamati reaksi peserta penyuluhan.
c. Mengamati keberhasilan penyuluhanan.

6. Dokumentasi : Rifahatul Mahmudah


Tugas : Bertanggung jawab dalam mendokumentasikan selama
penyuluhan dan absensi kehadiran baik anggota penyuluhan maupun.

7. Peserta :
Warga RT 01/ RW 03 Kampung Melayu Kecamatan Kuranji

H. Setting Tempat

1 2 3

7
6 4 4

5 8 5
KETERANGAN
1. Moderator
2. Pemateri
3. Notulen
4. Fasilitator
5. Observer
6. Koordinator
Lapangan
7. Peserta
8. Penguji/Penilai

I. Tahap Kegiatan Penyuluhan

Tahap / Kegiatan Pelaksana Kegiatan Sasaran Estimas


Pelaksana i waktu
Pembukaan 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab salam 5 menit
2. Memperkenalan diri sendiri, 2. Mendengarkan
Penyuluhan /
pemateri, notulen, fasilitator,
Moderator
dan observer 3. Mendengarkan
3. Menyampaikan pokok
pembahasan penyuluhan
4. Menyepakati
kepada peserta
4. Kontrak waktu dengan
peserta penyuluhan selama 30 5. Mendengarkan
menit
5. Menyampaikan rute atau
6. Mendengarkan
tahap-tahap dalam
penyuluhan
7. Mendengarkan
6. Menguraikan secara singkat
latar belakang dan tujuan
penyuluhan
7. Mempersilakan pemateri
untuk menyampaikan materi

Penyampaian 8. Mengucapkan terima 8. Mendengarkan dan 20


Materi / kasih menjawab dengan pelan menit
kepada moderator dan peserta
Pemateri atau dengan isyarat
atas waktu dan kepercayaan
(menganggukkan kepala)
yang diberikan sebagai
9. Mendengarkan dan
pemateri
menjawab “ya atau
9. Menyampaikan materi
tidak” ketika sudah
penyuluhan sesuai dengan sub
mengerti atau belum
pokok bahasan sambil
dengan sub pokok
menanyakan kembali kepada
bahasan yang
sasaran apakah sudah paham
disampaikan pemateri
atau belum 10. Mendengarkan

10. Setelah semua materi


disampaikannya, pemateri
mengembalikan wewenang ke
moderator

Konsumsi 11. Membagikan makanan dan 11. Menerima makanan 5 menit


minuman dan minuman

Tanya-Jawab / 12. Moderator membuka sesi 12. Menunjuk tangan, lalu 5 menit
Moderator, Tanya-jawab. Moderator menyampaikan

Pemateri, dan mempersilakan peserta untuk pertanyaannya


bertanya
Peserta 13. Mendengarkan
13. Moderator
mempersilakan pemateri
untuk menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh peserta

Penutup / 14. Mengevaluasi kembali 14. Menjawab atau 5 menit


Moderator materi yang telah menyabutkan pertanyaan
disampaikan dengan yang di tanyakan oleh
bertanya kepada peserta moderator
15. Mendengarkan

16. Mendengarkan
15. Menyimpulkan materi 17. Menjawab salam
penyuluhan
16. Mengucapkan terima kasih
17. Menutup dengan salam

J. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Tempat, media, dan alat peraga sesuai dengan rencana.
b. 80 persen peserta mengikuti penyuluhan.

2. Evalusai proses
a. Waktu yang direncanakan sesuai dengan pelaksanaan.
b. 85 persen peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
c. 85 persen peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai.
d. 85 persen peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan
secara benar.

3. Evaluasi Hasil
a. Sasaran mampu mengetahui tentang pengertian Hipertensi
b. Sasaran mampu mengetahui tentang Penyebab darah tinggi
c. Sasaran mampu mengetahui tentang tujuan Tanda dan gejala darah
Hipertensi
d. Sasaran mampu mengetahui Makanan yang dianjurkan dan makanan
yang dibatasi untuk penderita Hipertensi
e. Sasaran mampu mengetahui tentang komplikasi pada Hipertensi
K. Materi Penyuluhan Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari
120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering
menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan
semakin tingginya tekanan darah (Arif Muttaqin, 2009).
Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan
tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih
dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit
dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang
berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan
kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan
otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat
pengobatan yang memadai (Kementerian Kesehatan, 2017).
Hipertensi lebih dikenal dengan istilah penyakit tekanan darah tinggi.
Batas tekanan darah yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan
normal atau tidaknya tekanan darah adalah tekanan sistolik dan diastolik.
Bedasarkan JNC (Joint National Comitee) VII, seorang dikatakan mengalami
hipertensi jika tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan diastolik 90 mmHg
atau lebih (Chobaniam, 2003).
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg.
Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps, 2005).

Hipertensi adalah suatu penekanan darah sistolik – diastolik yang tidak


normal. Batas sistolik 140 – 190 mmhg dan diastolik 90 – 95 mmhg yang
merupakan garis batas hipertensi ( Silvia A. price. 2000 ).
2. Etiologi Hipertensi

1) Hipertensi essensial

Hipertensi essensial atau idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar


patologis yang jelas. Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi
essensial. Penyebab hipertensi meliputi faktor genetik dan lingkungan.
Faktor genetik mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan
terhadap stress, reaktivitas pembuluh darah terhadap vasokontriktor,
resistensi insulin dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk faktor
lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok, stress emosi, obesitas dan
lain-lain (Nafrialdi, 2009).
Pada sebagian besar pasien, kenaikan berat badan yang berlebihan dan
gaya hidup tampaknya memiliki peran yang utama dalam menyebabkan
hipertensi. Kebanyakan pasien hipertensi memiliki berat badan yang
berlebih dan penelitian pada berbagai populasi menunjukkan bahwa
kenaikan berat badan yang berlebih (obesitas) memberikan risiko 65-70 %
untuk terkena hipertensi primer (Guyton, 2008).

2) Hipertensi sekunder

Meliputi 5-10% kasus hipertensi merupakan hipertensi sekunder dari


penyakit komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan
tekanan darah. Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit
ginjal kronis atau penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang
paling sering.
Obat-obat tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat
menyebabkan hipertensi atau memperberat hipertensi dengan menaikkan
tekanan darah (Oparil, 2003).
Hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, sering berhubungan dengan
beberapa penyakit misalnya ginjal, jantung koroner, diabetes dan kelainan
sistem saraf pusat (Sunardi, 2000).

Terdapat jenis hipertensi yang lain:


a. Hipertensi Pulmonal Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan
tekanan darah pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan
sesak nafas, pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas. Berdasar
penyebabnya hipertensi pulmonal dapat menjadi penyakit berat yang
ditandai dengan penurunan toleransi dalam melakukan aktivitas dan gagal
jantung kanan. Hipertensi pulmonal primer sering didapatkan pada usia
muda dan usia pertengahan, lebih sering didapatkan pada perempuan
dengan perbandingan 2:1, angka kejadian pertahun sekitar 2-3 kasus per 1
juta penduduk, dengan mean survival / sampai timbulnya gejala penyakit
sekitar 2-3 tahun.

Kriteria diagnosis untuk hipertensi pulmonal merujuk pada National


Institute of Health; bila tekanan sistolik arteri pulmonalis lebih dari 35
mmHg atau "mean"tekanan arteri pulmonalis lebih dari 25 mmHg pada
saat istirahat atau lebih 30 mmHg pada aktifitas dan tidak didapatkan
adanya kelainan katup pad a jantung kiri, penyakit myokardium, penyakit
jantung kongenital dan tidak adanya kelainan paru.

3. Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah oleh JNC VII untuk pasien dewasa berdasarkan
rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua atau lebih
kunjungan klinis (Tabel 1). Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori,
dengan nilai normal tekanan darah sistolik (TDS) <120 mmHg dan tekanan
darah diastolik (TDD) <80 mmHg. Prehipertensi tidak dianggap sebagai
kategori penyakit tetapi mengidentifikasikan pasien-pasien yang tekanan
darahnya cenderung meningkat ke klasifikasi hipertensi dimasa yang akan
datang.

Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)

Optimal <120 <80

Normal <130 <85

Tingkat 1 (Hipertensi ringan) 140-159 90-99

Sub Grup:Perbatasan 140-149 90-94

Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109

Tingkat 3 (hipertensi berat) >180 >110

Hipertensi sistol terisolasi >140 <90

Sub group:Perbatasan 140-149 <90

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan
darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah
terjadinya kelainan organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah
>180/120 mmHg, dikategorikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi
urgensi (American Diabetes Association, 2003). Pada hipertensi emergensi,
tekanan darah meningkat ekstrim disertai dengan kerusakan organ target akut
yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus diturunkan segera
(dalam hitungan menit-jam) untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut.
Contoh gangguan organ target akut antara lain, encephalopathy, pendarahan
intrakranial, gagal ventrikel kiri akut disertai edema paru, dissecting aortic
aneurysm, angina pectoris tidak stabil dan eklampsia atau hipertensi berat
selama kehamilan (Depkes 2006).

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi


Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi menurut Depkes 2006 antara lain :
1) Genetik: adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini
berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan
rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang
tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk
menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga
dengan riwayat hipertensi. Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi
esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga.

2) Obesitas: berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan


darah pada kebanyakan kelompok etnik di semua umur. Menurut National
Institutes for Health USA prevalensi tekanan darah tinggi pada orang
dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah 38% untuk pria
dan 32% untuk wanita, dibandingkan dengan prevalensi 18% untuk pria
dan 17% untuk wanita bagi yang memiliki IMT <25 (status gizi normal
menurut standar internasional).

3) Jenis kelamin: prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan


wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum
menopause salah satunya adalah penyakit jantung koroner. Wanita yang
belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang
berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL).
Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam
mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen
dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia
premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi
sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari
kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut
berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang
umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun.

4) Stres: stres dapat meningkatkan tekanah darah sewaktu. Hormon


adrenalin akan meningkat sewaktu kita stres, dan itu bisa mengakibatkan
jantung memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah pun
meningkat.

5) Kurang olahraga: olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan


penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat
menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk
hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila
jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya
kondisi tertentu. Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah
tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang
yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot
jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin
keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan
yang mendesak arteri.

6) Pola asupan garam dalam diet: badan kesehatan dunia yaitu World
Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam
yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang
direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram
sodium atau 6 gram garam) perhari. Konsumsi natrium yang berlebih
menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler
meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar,
sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume
cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah,
sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.
7) Kebiasaan Merokok: merokok menyebabkan peninggian tekanan
darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden
hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang
mengalami ateriosklerosis.

5. Faktor risiko yang dapat diubah

Faktor risiko penyakit jantung koroner yang diakibatkan perilaku tidak sehat
dari penderita hipertensi antara lain merokok, diet rendah serat, kurang aktifitas
gerak, berat badan berlebihan/kegemukan, komsumsi alkohol, hiperlipidemia
atau hiperkolestrolemia, stress dan komsumsi garam berlebih sangat
berhubungan erat dengan hipertensi (Depkes, 2006).

1) Kegemukan (obesitas)

Kegemukan (obesitas) adalah presentase abnormalitas lemak yang


dinyatakan dalam Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu perbandingan antara
berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Kaitan erat antara
kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh
beberapa studi. Berat badan dan IMT berkorelasi langsung dengan tekanan
darah, terutama tekanan darah sistolik. Sedangkan, pada penderita
hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih
(overweight) (Depkes, 2006b). IMT merupakan indikator yang paling
sering digunakan untuk mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan
obesitas pada orang dewasa (Zufry, 2010). Menurut Supariasa,
penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18
tahun (Supriasa, 2001).
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi
pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi
pada orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang
badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33%
memiliki berat badan lebih (overweight) (Depkes, 2006).
Hipertensi pada seseorang yang kurus atau normal dapat juga disebabkan
oleh sistem simpatis dan sistem renin angiotensin (Suhardjono, 2006).
Aktivitas dari saraf simpatis adalah mengatur fungsi saraf dan hormon,
sehingga dapat meningkatkan denyut jantung, menyempitkan pembuluh
darah, dan meningkatkan retensi air dan garam (Syaifudin, 2006).

2) Psikososial dan stress

Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya transaksi antara
individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang untuk
mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber
daya (biologis, psikologis dan sosial) yang ada pada diri seseorang
(Depkes, 2006).

Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam,
rasa takut dan rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal
melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat
serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika stress
berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian
sehingga timbul kelainan organis atau perubahaan patologis. Gejala yang
muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Diperkirakan,
prevalensi atau kejadian hipertensi pada orang kulit hitam di Amerika
Serikat lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih disebabkan
stress atau rasa tidak puas orang kulit hitam pada nasib mereka (Depkes,
2006).

3) Merokok

Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap
melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan
endotel pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses artereosklerosis
dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat antara
kebiasaan merokok dengan adanya artereosklerosis pada seluruh
pembuluh darah. Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan
kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Merokok pada
penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan risiko kerusakan
pada pembuluh darah arteri
(Depkes, 2006).
Menurut Depkes RI Pusat Promkes (2008), telah dibuktikan dalam
penelitian bahwa dalam satu batang rokok terkandung 4000 racun kimia
berbahaya termasuk 43 senyawa. Bahan utama rokok terdiri dari 3 zat,
yaitu 1) Nikotin, merupakan salah satu jenis obat perangsang yang dapat
merusak jantung dan sirkulasi darah dengan adanya penyempitan
pembuluh darah, peningkatan denyut jantung, pengerasan pembuluh darah
dan penggumpalan darah. 2) Tar, dapat mengakibatkan kerusakan sel paru-
paru dan menyebabkan kanker. 3) Karbon Monoksida (CO) merupakan
gas beracun yang dapat menghasilkan berkurangnya kemampuan darah
membawa
oksigen (Depkes, 2008).

4) Olahraga

Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem
penunjangnya. Selama melakukan aktivitas fisik, otot membutuhkan
energi diluar metabolisme untuk bergerak, sedangkan jantung dan paru-
paru memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan
oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh
(Supariasa, 2001).
Olahraga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner melalui
mekanisme penurunan denyut jantung, tekanan darah, penurunan tonus
simpatis, meningkatkan diameter arteri koroner, sistem kolateralisasi
pembuluh darah, meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) dan
menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) darah. Melalui kegiatan
olahraga, jantung dapat bekerja secara lebih efisien. Frekuensi denyut nadi
berkurang, namun kekuatan jantung semakin kuat, penurunan kebutuhan
oksigen jantung pada intensitas tertentu, penurunan lemak badan dan berat
badan serta menurunkan tekanan darah (Cahyono, 2008).
Olahraga yang teratur dapat membantu menurunkan tekanan darah dan
bermanfaat bagi penderita hipertensi ringan. Pada orang tertentu dengan
melakukan olahraga aerobik yang teratur dapat menurunkan tekanan darah
tanpa perlu sampai berat badan turun (Depkes, 2006).

5) Konsumsi alkohol berlebih

Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas.


Namun, diduga peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel
darah merah serta kekentalan darah berperan dalam menaikkan tekanan
darah. Beberapa studi menunjukkan hubungan langsung antara tekanan
darah dan asupan alkohol dilaporkan menimbulkan efek terhadap tekanan
darah baru terlihat apabila mengkomsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas
ukuran standar setiap harinya (Depkes, 2006).

Di negara barat seperti Amerika, komsumsi alkohol yang berlebihan


berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10% hipertensi di
Amerika disebabkan oleh asupan alkohol yang berlebihan di kalangan pria
separuh baya. Akibatnya, kebiasaan meminum alkohol ini menyebabkan
hipertensi sekunder di usia ini (Depkes, 2006).
Komsumsi alkohol seharusnya kurang dari dua kali per hari pada laki-laki
untuk pencegahan peningkatan tekanan darah. Bagi perempuan dan orang
yang memiliki berat badan berlebih, direkomendasikan tidak lebih satu
kali minum per hari (Krummel, 2004).
6) Komsumsi garam berlebihan

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik


cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan
volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer
(essensial) terjadi respon penurunan tekanan darah dengan mengurangi
asupan garam 3 gram atau kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata
rendah, sedangkan pada masyarakat asupan garam sekitar 7-8 gram
tekanan rata-rata lebih tinggi (Depkes, 2006).
Almatsier (2001) dan (2006), natrium adalah kation utama dalam cairan
ekstraseluler. Pengaturan keseimbangan natrium dalam darah diatur oleh
ginjal. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl, selain itu
garam lainnya bisa dalam bentuk soda kue (NaHCO3), baking powder,
natrium benzoate dan vetsin (monosodium glutamate). Kelebihan natrium
akan menyebabkan keracunan yang dalam keadaan akut menyebabkan
edema dan hipertensi. WHO menganjurkan bahwa komsumsi garam yang
dianjurkan tidak lebih 6 gram/hari setara 110 mmol natrium (Almatsier,
2001, 2006).

7) Hiperlipidemia/Hiperkolestrolemia

Kelainan metabolisme lipid (lemak) yang ditandai dengan peningkatan


kadar kolestrol total, trigliserida, kolestrol LDL atau penurunan kadar
kolestrol HDL dalam darah. Kolestrol merupakan faktor penting dalam
terjadinya aterosklerosis yang mengakibatkan peninggian tahanan perifer
pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat.
Penelitian Zakiyah (2006) didapatkan hubungan antara kadar kolestrol
darah dengan tekanan darah sistolik dan diastolik (Zakiyah, 2006).
Penelitian Sugihartono (2007) diketahui sering mengkomsumsi lemak
jenuh
mempunyai risiko untuk terserang hipertensi sebesar 7,72 kali
dibandingkan orang yang tidak mengkomsumsi lemak jenuh (Sugihartono,
2007).

8) Komplikasi/ Bahaya yang dapat ditimbulkan pada penyakit


hipertensi
a. Pada mata
Penyempitan pembuluh darah pada mata karena penumpukan
kolesterol dapat menakibatkan retinopati, dan efek yang ditimbulkan
pandangan mata kabur.
b. Pada Jantung
Dapat menyebabkan serangan jantng dan gagal jantung.
c. Pada Ginjal
Penyakit ginjal kronis
d. Pada Otak
Terjadinya penyumbatan pembuluh darah seperti stroke.

9) Penatalaksanaan Pada Pasien Hipertensi


Penatalaksanaan Teknik Relaksasi Nafas Dalam Ada beberapa posisi
relaksasi nafas dalam yang dapat dilakukan menurut Smeltzer &Bare,
(2002) dalam Trullyen, (2013)yaitu :
a. Posisi relaksasi dengan terlentang Letakkan kaki terpisah satu
sama lain dengan jari-jari kaki agak meregang lurus kearahluar,
menyentuh sisi tubuh, pertahankan kepala sejajar dengan
tulang belakang dangunakan bantal yang tipis dan kecil di
bawah kepala.
b. Posisi relaksasi dengan berbaring miring Berbaring miring,
kedua lutut ditekuk, dibawah kepala diberi bantal dan dibawah
perutsebaiknya diberi bantal juga, agar perut tidak menggantung.
c. Posisi relaksasi dalam keadaan berbaring terlentang Kedua
lutut ditekuk, berbaring terlentang, kedua lutut ditekuk, kedua
lengan disampingtelinga.
d. Posisi relaksasi dengan duduk Duduk dengan seluruh
punggung bersandar pada kursi, letakkan kaki datar pada
lantai,letakkan kaki terpisah satu sama lain, gantungkan lengan
pada sisi atau letakkan padalengan kursi dan pertahankan kepala
sejajar dengan tulang belakang.
Prosedur Teknik Relaksasi Nafas DalamProsedur teknik relaksasi
nafas dalam menurut Priharjo (2003) dalam Trullyen,(2013) yakni
dengan bentuk pernafasan yan digunakan pada prosedur ini adalah
pernafasan diafragma yang mengacu pada pendataran kubah
diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran
abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masukselama
inspirasi. Adapun langkah-langkah teknik relaksasi nafas dalam
adalah sebagai berikut :
a. Ciptakan lingkungan yang tenang
b. Usahakan tetap rileks dan tenang (Dengan memodifikasi
tindakan nonfarmakologis yanglain meliputi distraksi. Menurut
Andarmoyo (2013), distraksi adalah suatu tindakan
pengalihan perhatian pasien ke hal-hal lain di luar nyeri. Dengan
demikian, diharapkanpasien tidak berfokus pada nyeri lagi bahkan
meningkatkan toleransi terhadap nyeri).
c. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru
dengan udara melalui hitungan1,2,3.
d. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil
merasakan ekstrimitas atas danbawah rileks.
e. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
f. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan
melalui Mulut.
g. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa
berkurang.
h. Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5
kali.

Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi napas dalam terhadap


penurunan nyeriMenurut Smeltzer dan Bare (2002) dalam Trullyen,
(2013), teknik relaksasi nafasdalam dipercaya dapat menurunkan
intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu :
a. Dengan merelaksasikan otot-otot skeletal yang mengalami
spasme yang disebabkanoleh peningkatan prostaglandin sehingga
terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akanmeningkatkan aliran
darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic.
b. Teknik relaksasi nafas dalam dipercayai mampu merangsang
tubuh untuk melepaskanopoiod endogen yaitu endorphin dan
enkefalin.
c. Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat Relaksasi
melibatkan sistem otot danrespirasi dan tidak membutuhkan alat
lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atausewaktu-waktu.

Efek Relaksasi Teknik relaksasi yang baik dan benar akan memberi efek
yang berharga bagi tubuh,efek tersebut sebagai berikut :
a. Penurunan nadi, tekanan darah dan pernafasan
b. Penurunan konsumsi oksigen
c. Penurunan ketegangan otot
d. Penurunan kecepatan metabolisme
e. Peningkatan kesadaran global
f. Kurang perhatian terhadap stimulasi lingkungan
g. Tidak ada perubahan posisi yang volunter h.Perasaan damai
dan sejahtera
h. Periode kewaspadaan yang santai, terjaga dan dalam (Sulistyo,
2013). Relaksasi adalah suatu tindakan untuk membebaskan
mental dan fisik dari ketegangan danstres sehingga dapat
meningkatkan toleransi. Teknik ini yang sederhana terdiri
atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat dan berirama.
Hampir semua orang dengan nyerimendapatkan manfaat dari
metode-metode relaksasi (Andarmoyo, 2013).

L. Pustaka
Sylvia A. Price. 2000. Patofisiologi. EGC. Jakarta.
Ignatisius. Donna. 2005. Medical Surgical Nursing Philadephia. Sender
Company.
FKUI/ 2005. Buku Ajar Kardiologi. Gaya Baru. Jakarta
Mansjoer Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran jilid 1 Edisi III. Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Kementerian Kesehatan. 2017. Hipertensi. Infodatin. Jakarta