Anda di halaman 1dari 26

Makalah Refleks Fisiologis dan Patologis

Diposting oleh admin di 19.56 | Kamis, 03 Mei 2012 | 0 komentar


Label: Makalah, Makalah IPA, Makalah Kebidanan, Makalah Kesehatan, Makalah Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Refleks adalah respon yang terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar. Ada
dua jenis refleks, yaitu refleks sederhana atau refleks dasar, yaitu refleks built-in yang
tidak perlu dipelajari, misalnya mengedipkan mata jika ada benda asing yang masuk;
dan refleks didapat atau refleks terkondisi, yang terjadi ketika belajar dan berlatih,
misalnya seorang pianis yang menekan tuts tertentu sewaktu melihat suatu di kertas
partitur.
Jalur – jalur saraf saraf yang berperan dalam pelaksanaan aktivitas refleks
dikenal sebagai lengkung refleks. Refleks sangat penting untuk pemeriksaan keadaan
fisis secara umum, fungsi nervus, dan koordinasi tubuh. Dari refleks atau respon yang
diberikan oleh anggota tubuh ketika sesuatu mengenainya dapat diketahui normal
tidaknya fungsi dalam tubuh. Oleh karena itu, pelaksanaan praktikum ini sangat penting
agar diketahui bagaimana cara memeriksa reflex fisiologis yang ada pada manusia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan reflek ?
2. Apa saja reflek fisiologis ?
3. Apa saja reflek patologis ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
a. Agar mahasiswa mengetahui apa pengertian gerak reflek;
b. Agar mahasiswa mengetahui apa saja jenis reflek fisiologis;
c. Agar mahasiswa mengetahui apa saja reflek patologis;
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa mampu membedakan reflek fisiologis dan reflek patologis;
b. Agar mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan kepada pasien yang
memiliki masalah persyarafan
c. Agar mahasiswa keperawatan mamu meningkatkan pelayanan terhadap pasien di
rumah sakit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gerak Reflek


Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun ada pula gerak yang terjadi
tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang,
yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak,
kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai
perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor. Gerak refleks berjalan sangat cepat dan
tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari
otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa
disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai
dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat
saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak
langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot
atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan
atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya,
gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang
belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya
refleks pada lutut. Unit dasar setiap kegiatan reflex terpadu adalah lengkung reflex.
Lengkung reflex ini terdiri dari alat indra, serat saraf aferen, satu atau lebih sinaps yang
terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion simpatis, serat saraf eferen, dan
efektor. Pada mamalia, hubungan (sinaps) antara neuron somatil aferen dan eferen
biasanya terdapat di otak atau medulla spinalis.
Serat neuron aferen masuk susunan saraf pusat melalui radiks dorsalis medulla
spinalis atau melalui nervus kranialis, sedangkan badan selnya akan terdapat di
ganglion-ganglion homolog nervi kranialis atau melalui nervus cranial yang sesuai.
Kenyataan radiks dorsalis medulla spinalis bersifat sensorik dan radiks ventralis bersifat
motorik dikenal sebagai hokum Bell-Magendie. Kegiatan pada lengkung reflex dimulai
di reseptor sensorik, sebagai potensial reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat
rangsang. Potensial reseptor ini akan membangkitkan potensial aksi yang bersifat gagal
atau tuntas, di saraf aferen. Frekuensi potensial aksi yang terbentuk akan sebanding
dengan besarnya potensial generator. Di system saraf pusat (SSP), terjadi lagi respons
yang besarnya sebanding dengan kuat rangsang, berupa potensial eksitasi
pascasinaps (Excitatory Postsynaptic Potential=EPSP) dan potesial inhibisi postsinaps
(Inhibitory Postsynaptic Potential=IPSP) di hubungan-hubungan saraf (sinaps). Respon
yang timbul di serat eferen juga berupa repons yang bersifat gagal atau tuntas. Bila
potensial aksi ini sampai di efektor, terjadi lagi respons yang besarnya sebanding
dengan kuat rangsang. Bila efektornya berupa otot polos, akan terjadi sumasi respons
sehingga dapat mencetuskan potensial aksi di otot polos. Akan tetapi, di efektor yang
berupa otot rangka, respons bertahap tersebut selalu cukup besar untuk mencetuskan
potensial aksi yang mampu menghasilkan kontraksi otot. Perlu ditekankan bahwa
hubungan antara neuron aferen dan eferen biasanya terdapat di system saraf pusat,
dan kegiatan di lengkung reflex ini dapat dimodifikasi oleh berbagai masukan dari
neuron lain yang juga bersinaps pada neuron eferen tersebut. Lengkung reflex. Paling
sederhana adalah lengkung reflex yang mempunyai satu sinaps anatara neuron aferen
dan eferen. Lengkung reflex semacam itu dinamakan monosinaptik, dan reflex yang
terjadi disebut reflex monosinaptik. Lengkung reflex yang mempunyai lebih dari satu
interneuron antara neuron afern dan eferen dinamakan polisanptik, dan jumlah
sinapsnya antara 2 sampai beberapa ratus. Pada kedua jenis lengkung reflex, terutama
pada lengkung reflex polisinaptik. Kegiatan refleksnya dapat dimodifikasi oleh adanya
fasilitas spasial dan temporal, oklusi, efek penggiatan bawah ambang (subliminal
fringe), dan oleh berbagai efek lain.
Bila suatu otot rangka dengan persarafan yang utuh direnggangkan, akan timbul
kontraksi. Respons ini disebut reflex renggang. Rangsangannya adalah regangan pada
otot, dan responnya berupa kontraksi otot yang direnggangkan. Reseptornya adalah
kumparan otot (muscle spindle). Impuls yang timbul akibat peregangan kumparan otot
yang dihantarkan ke SSP melalui sera-serat sensorik cepat yang langsung bersinaps
dengan neuron motorik otot yang teregang itu. Neurotransmitter di sinaps yang berada
di SSP ini adalah glutamate. Reflex-refleks regang merupakan contoh reflex
monosimpatik yang paling dikenal dan paling banyak diteliti.

Jika suatu otot keseluruhan diregangkan secara pasif, serat-serat intrafusal di


dalam gelendong-gelendong otot juga teregang, terjadi peningkatan pembentukan
potensial aksi di serat saraf aferen yang ujung-ujung sensoriknya berakhir di serat-serat
gelendong yang teregang tersebut. Neuron aferen secara langsung bersinaps dengan
neuron motorik alfa yang mempersarafi serat-serat ekstrafusal otot yang sama,
sehingga terjadi kontraksi otot itu. Refleks regang (stretch reflex) ini berfungsi sebagai
mekanisme umpan balik negative untuk menahan setiap perubahan pasif panjang otot,
sehingga panjang optimal dapat dipertahankan.
Contoh klasik reflex regang adalah reflex tendon patella atau knee-jerk reflex. Otot- otot
ekstenson lutut adalah kuadriseps femoris, yang membentuk anterior paha dan melekat
ke tibia (tulang kering) tepat di bawah lutut melalui tendon patella. Pengetukan tendon
ini dengan sebuah palu karet akan secara pasif meregangkan otot-otot kuadriseps dan
mengaktifkan reseptor-reseptor gelendongnya.
Reflex regang yang terjadi menimbulkan kontraksi otot ekstensor ini, sehingga
lutut mengalami ekstensi dan mengangkat tungkai bawah dengan cara yang khas.
Pemeriksaan ini dilakukan secara rutin sebagai penilain pendahuluan fungsi system
saraf. Reflex patella yang normal mengindikasikan dokter bahwa sejumlah komponen
saraf dan otot-gelendong otot, masukan aferen, neuron motorik, keluaran eferen taut
neuromuskulus, dan otot itu sendiri-berfungsi normal. Reflex ini juga mengindikasikan
adanya keseimbangan antara masukan eksitorik dan inhibitorik ke neuron motorik dari
pusat-pusat yang lebih tinggi di otak.
Tujuan utama reflex regang adalah menahan kecenderungan peregangan pasif
otot-otot ekstensor yang ditimbulkan oleh gaya gravitasi ketika seseorang berdiri tegak.
Setiap kali sendi lutut cenderung melengkung akibat gravitasi, otot-otot kuadriseps
teregang. Kontraksi yang terjadi pada otot ekstensor ini akibat reflex regang dengan
cepat meluruskan lutut, menahan tungkai tetap terkstensi, sehingga orang yang
bersangkutan tetap berdiri tegak.
Stretch dinamis dan statis Stretch Reflex. Itu refleks regangan dapat dibagi
menjadi dua komponen: refleks peregangan dinamis dan reflex regangan statis.
Dinamis adalah menimbulkan refleks regangan oleh menimbulkan sinyal dinamis
ditularkan dari indra utama akhiran dari spindle otot, yang disebabkan oleh peregangan
cepat atau unstretch. Artinya, ketika tiba-tiba otot diregangkan atau teregang, sinyal
kuat ditularkan ke sumsum tulang belakang; ini seketika kuat menyebabkan refleks
kontraksi (atau penurunan kontraksi) dari otot yang sama dari sinyal yang berasal. Jadi,
fungsi refleks untuk menentang perubahan mendadak pada otot panjang. Refleks
regangan yang dinamis berakhir dalam fraksi detik setelah otot telah menggeliat (atau
awalnya) untuk panjang baru, tetapi kemudian yang lebih lemah statis refleks regangan
terus untuk waktu yang lama setelahnya. Refleks ini diperoleh oleh statis terus-menerus
sinyal reseptor ditularkan oleh kedua primer dan endings.The sekunder pentingnya
peregangan statis refleks adalah bahwa hal itu menyebabkan tingkat kontraksi otot
tetap cukup konstan, kecuali jika sistem saraf seseorang secara spesifik kehendak
sebaliknya. Yang sangat penting fungsi dari refleks regangan adalah kemampuannya
untuk mencegah osilasi atau sentakan pada pergerakan mesin tubuh. Ini adalah fungsi
meredam dam memperlancar seperti yang dijelaskan dalam paragraf berikut. Sinyal
dari sumsum tulang belakang sering ditularkan ke otot dalam bentuk unsmooth,
meningkatkan intensitas untuk beberapa milidetik, kemudian menurun intensitas,
kemudian mengubah tingkat intensitas lain, dan begitu seterusnya. Refleks cahaya
pada pupil adalah refleks yang mengontrol diameter pupil, sebagai tanggapan terhadap
intensitas (pencahayaan) cahaya yang jatuh pada retina mata. Intensitas cahaya yang
lebih besar menyebabkan pupil menjadi lebih kecil (kurangnya cahaya yang masuk),
sedangkan intensitas cahaya yang lebih rendah menyebabkan pupil menjadi lebih
besar ( banyak cahaya yang masuk). Jadi, refleks cahaya pupil mengatur intensitas
cahaya yang memasuki mata. Refleks kornea, juga dikenal sebagai refleks berkedip,
adalah tanpa sadar kelopak mata berkedip dari yang diperoleh oleh stimulasi (seperti
menyentuh atau benda asing) dari kornea, atau cahaya terang, meskipun bisa akibat
dari rangsangan perifer. Harus membangkitkan rangsangan baik secara langsung dan
respons konsensual (tanggapan dari mata sebaliknya). Refleks mengkonsumsi pesat
sebesar 0,1 detik.
Tujuan evolusioner refleks ini adalah untuk melindungi mata dari benda asing
dan lampu terang (yang terakhir ini dikenal sebagai refleks optic. Pemeriksaan refleks
kornea merupakan bagian dari beberapa neurologis ujian, khususnya ketika
mengevaluasi koma. Kerusakan pada cabang oftalmik (V1) dari saraf kranial ke-5 hasil
di absen refleks kornea ketika mata terkena dirangsang. Stimulasi dari satu kornea
biasanya memiliki respons konsensual, dengan menutup kedua kelopak mata normal.
Refleks biseps tes refleks yang mempelajari fungsi dari refleks C5 busur dan
untuk mengurangi refleks C6 derajat busur. Tes ini dilakukan dengan menggunakan
sebuah tendon palu untuk dengan cepat menekan tendon biceps brachii saat melewati
kubiti fosa. Secara spesifik, tes mengaktifkan reseptor di dalam peregangan otot bisep
brachii yang berkomunikasi terutama dengan C5 dan sebagian saraf tulang belakang
dengan saraf tulang belakang C6 untuk merangsang kontraksi refleks dari otot biseps
dan menyentakkan lengan bawah.
A. Alat Yang Dibutuhkan
• Palu perkusi
• Lampu Senter
• Kapas
• Jarum

B. Cara Kerja
a. Refleks kulit perut
Orang coba berbaring telentang dengan kedua lengan terletak lurus di samping badan.
Goreslah kulit daerah abdomen dari lateral kea rah umbilicus. Respon yang terjadi
berupa kontraksi otot dinding perut.
b. Refleks kornea
Sediakanlah kapas yang digulung menjadi bentuk silinder halus. Orang coba
menggerakkan bola mata ke lateral yaitu dengan melihat ke salah satu sisi tanpa
menggerakkan kepala. Sentuhlah dengan hati-hati sisi kontralateral kornea dengan
kapas. Respon berupa kedipan mata secara cepat.
c. Refleks cahaya
Cahaya senter dijatuhkan pada pupil salah satu mata orang coba. Respons berupa
konstriksi pupil holoateral dan kontralateral. Ulangi percobaan pada mata lain.
d. Refleks Periost Radialis
Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit
dipronasikan. Ketuklah periosteum pada ujung distal os radii. Respons berupa fleksi
lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.
e. Refleks Periost Ulnaris
Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan antara
pronasi dan supinasi. Ketuklah pada periost prosessus stiloideus. Respons berupa
pronasi tangan.
f. Stretch Reflex (Muscle Spindle Reflex=Myotatic Reflex)
1) Knee Pess Reflex (KPR)
Orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan
tergantung bebas atau orang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada
sendi lutut. Ketuklah tendo patella dengan Hammer sehingga terjadi ekstensi tungkai
disertai kontraksi otot kuadrisips.

2) Achilles Pess Reflex (ACR)


Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan. Ketuklah pada tendo
Achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastronemius.
3) Refleks biseps
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku. Ketuklah pada tendo otot
biseps yang akan menyebabkan fleksi lengan pada siku dan tampak kontraksi otot
biseps.
4) Refleks triseps
Lengan bawah difleksikan pada sendi siku dan sedikit dipronasikan. Ketuklah pada
tendo otot triseps 5 cm di atas siku akan menyebabkan ekstensi lengan dan kontraksi
otot triseps.
5) Withdrawl Reflex
Lengan orang coba diletakkan di atas meja dalam keadaa ekstensi. Tunggulah pada
saat orang coba tidak melihat saudara, tusuklah dengan hati-hati dan cepat kulit lengan
dengan jarum suntik steril, sehalus mungkin agar tidak melukai orang coba. Respons
berupa fleksi lengan tersebut menjauhi stimulus.
Perlu diperhatikan:
1. Relaksasi sempurna: orang harus relaks dengan posisi seenaknya. Bagian (anggota
gerak) yang akan diperiksa harus terletak sepasif mungkin (lemas) tanpa ada usaha
orang coba untuk mempertahankan posisinya.
2. Harus ada ketegangan optimal dari otot yang akan diperiksa. Ini dapat dicapai bila
posisi dan letak anggota gerak orang coba diatur dengan baik.
3. Pemeriksa mengetukkan Hammer dengan gerakan fleksi pada sendi tangan dengan
kekuatan yang sama, yang dapat menimbulkan regangan yang cukup.
Refleks adalah jawaban motoric atas rangsangan sensorik yang diberikan pada kulit
atau respon apapun yang terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar. Dalam
pemeriksaan refleks, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
- Relaksasi sempurna. Orasng coba harus relaks dengan posisi seenaknya. Bagian
(anggota gerak) yang akan diperiksa harus terletak sepasif mungkin (lemas) tanpa ada
usaha orang coba untuk mempertahankan posisinya.
- Harus ada ketegangan optimal dari otot yang akan diperiksa. Ini dapat dicapai bila
posisi dan letak anggota gerak orang coba diatur dengan baik.
- Pemeriksaan mengetukkan Hammer dengan gerakan fleksi pada sendi tangan
dengan kekuatan yang sama, yang dapat menimbulkan regangan yang cukup.
Adapun arti penting refleks yaitu :
- Pemeriksaan refleks : bagian pemeriksaan fisis secara umum
- Pemeriksaan khususnya : pasien dengan lesi, UMN, LMN, atau orang yang ototnya
sering lemas.
- Pemeriksaan neurologis : pemeriksaan motorik (motorik kasar dan motorik halus),
pemeriksaan sensorik (raba, suhu, dll), pemeriksaan koordinasi tubuh, dan
pemeriksaan nervus (fungsi nervus I – XII).

2.2 Jenis - jenis Reflek


Pada manusia, ada dua jenis refleks yaitu refleks fisiologis dan patologis. Refleks
fisiologis normal jika terdapat pada manusia, sebaliknya refleks patologis normal jika
tidak terdapat pada manusia.
a. Refleks fisiologis
Pada percobaan refleks kulit perut, orang coba berbaring terlentang dengan kedua
lengan terletak lurus samping badan. Kulit di daerah abdomen dari lateral ke arah
umbilikus digores dan respon yang terjadi berupa kontraksi otot dinding perut. Namun
pada orang lanjut usia dan sering hamil, tidak terjadi lagi kontraksi otot dinding perut
karena tonus otot perutnya sudah kendor. Pada refleks kornea atau refleks mengedip,
orang coba menggerakkan bola mata ke lateral yaitu dengan melihat salah satu sisi
tanpa menggerakkan kepala. Kemudian sisi kontralateral kornea orang coba disentuh
dengan kapas yang telah digulung membentuk silinder halus. Respon berupa kedipan
mata secara cepat.
Pada percobaan tentang refleks cahaya akan dilihat bagaimana respon pupil mata
ketika cahaya senter dijatuhkan pada pupil. Ternyata repon yang terjadi berupa
kontriksi pupil homolateral dan kontralateral. Jalannya impuls cahaya sampai terjadi
kontriksi pupil adalah berasal dari pupil kemudian stimulus diterima oleh N. Opticus, lalu
masuk ke mesencephalon, dan kemudian melanjutkan ke N . Oculomotoris dan sampai
ke spingter pupil.
· Refleks cahaya ini juga disebut refleks pupil.
· Pada percobaan refleks periost radialis, lengan bawah orang coba difleksikan pada
sendi tangan dan sedikit dipronasikan kemudian dilakukan pengetukan periosteum
pada ujung distal os radii. Jalannya impuls pada refleks periost radialis yaitu dari
processus styloideus radialis masuk ke n. radialis kemudian melanjutkan ke N. cranialis
6 sampai Thoracalis 1 lalu masuk ke n. ulnaris lalu akan menggerakkan m. fleksor
ulnaris. Respon yang terjadi berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.
· Respon dari refleks periost ulnaris berupa pronasi tangan. Jalannya impuls saraf
berasal dari processus styloideus radialis masuk ke n. radialis kemudian melanjutkan ke
N. cranialis 5-6 lalu masuk ke n. radialis lalu akan menggerakkan m. brachioradialis.
Bila suatu otot rangka dengan persarafan yang utuh diregangkan akan timbul kontraksi.
Respon ini disebut refleks regang. Rangsangannya adalah regangan pada otot, dan
responnya berupa kontraksi otot yang diregangkan. Reseptornya adalah kumparan otot
(muscel spindle). Yang termasuk muscle spindle reflex (stretcj reflex) yaitu Knee Pess
Reflex (KPR), Achilles Pess Reflex (APR), Refleks Biseps, Refleks Triceps, dan
Withdrawl refleks.
· Pada Knee Pess Reflex (KPR), tendo patella diketuk dengan palu dan respon yang
terjadi berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps. Pada Achilles Pess
Refleks (APR), tungkai difleksikan pada sendi lutu dan kaki didorsofleksikan. Respon
yang terjadi ketika tendo Achilles diketuk berupa fleksi dari kaki dan kontraksi otot
gastroknemius. Ketika dilakukan ketukan pada tendo otot biseps terjadi respon berupa
fleksi lengan pada siku dan supinasi. Sedangkan jika tendo otot triseps diketuk, maka
respon yang terjadi berupa ekstensi lengan dan supinasi.
· Untuk mengetahui fungsi nervus, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, misalnya
untuk memeriksa nervus IX (nervus glossopharingeus) dapat dilihat pada saat spatula
dimasukkan ke dalam mulut, maka akan timbul refleks muntah, sedangkan nervus XII
dapat dilakukan pemeriksaan pada lidah, dan beberapa nervus dapat diperiksa dengan
malihat gerakan bola mata. Nervus penggerak mata antara nervus IV, abduscens, dan
oculomotoris. Nervus XI (nervus accesoris) dapat diuji dengan menekan pundak orang
coba, jika ada pertahanan, artinya normal.
· Respon motorik kasar melibatkan seluruh koordinasi sistem saraf. Respon ini dapat
dilihat saat orang diminta menunjuk anggota secara bergantian. Orang normal akan
menunjuk dengan tepat, sebaliknya orang yang koordinasi sistem sarafnya tidak normal
maka dia tidak akan menunjuk dengan tepat.
· Pemeriksaan Neurologi
1. Fungsi Cerebral
Keadaan umum, tingkat kesadaran yang umumnya dikembangkan dengan Glasgow
Coma Scala (GCS) :
• Refleks membuka mata (E)
4 : Membuka secara spontan
3 : Membuka dengan rangsangan suara
2 : Membuka dengan rangsangan nyeri
1 : Tidak ada respon

• Refleks verbal (V)


5 : Orientasi baik
4 : Kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan.
3 : Kata-kata baik tapi kalimat tidak baik
2 : Kata-kata tidak dapat dimengerti, hanya mengerang
1 : Tidak keluar suara
• Refleks motorik (M)
6 : Melakukan perintah dengan benar
5 : Mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukaan perintah dengan benar
4 : Dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi
3 : Hanya dapat melakukan fleksi
2 : Hanya dapat melakukan ekstensi
1 : Tidak ada gerakan
Cara penulisannya berurutan E-V-M sesuai nilai yang didapatkan. Penderita yang sadar
= Compos mentis pasti GCS-nya 15 (4-5-6), sedang penderita koma dalam, GCS-nya 3
(1-1-1) Bila salah satu reaksi tidak bisa dinilai, misal kedua mata bengkak sedang V dan
M normal, penulisannya X – 5 – 6. Bila ada trakheastomi sedang E dan M normal,
penulisannya 4 – X – 6. Atau bila tetra parese sedang E an V normal, penulisannya 4 –
5 – X.
· GCS tidak bisa dipakai untuk menilai tingkat kesadaran pada anak berumur kurang
dari 5 tahun.
Derajat kesadaran :
Ø Sadar : Dapat berorientasi dan berkomunikasi
Ø Somnolens : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara motorik / verbal
kemudian terlenan lagi. Gelisah atau tenang.
Ø Stupor : gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri,
pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi
terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal dengan menggunakan kepala.
Ø Semi koma : tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang
menghindar (contoh mnghindri tusukan)
Ø Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus
Kualitas kesadaran :
Ø Compos mentis : bereaksi secara adekuat
Ø Abstensia drowsy/kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak begitu waspada. Perhatian
terhadap sekeliling berkurang. Cenderung mengantuk.
Bingung/confused:disorientasi terhadap tempat, orang dan waktu
Ø Delerium : mental dan motorik kacau, ada halusinasi dn bergerak sesuai dengan
kekacauan fikirannya.
Ø Apatis : tidak tidur, acuh tak acuh, tidak bicara dan pandangan hampa
· Gangguan fungsi cerebral meliputi : Gangguan komunikasi, gangguan intelektual,
gangguan perilaku dan gangguan emosi
Pengkajian status mental / kesadaran meliputi :
GCS, orientasi (orang, tempat dan waktu), memori, interpretasi dan komunikasi.
2. Fungsi nervus cranialis
Cara pemeriksaan nervus cranialis :
a. N.I : Olfaktorius (daya penciuman) :
Pasiem memejamkan mata, disuruh membedakaan bau yang dirasakaan (kopi,
tembakau, alkohol,dll)
b. N.II : Optikus (Tajam penglihatan): dengan snelen card, funduscope, dan periksa
lapang pandang
c. N.III : Okulomorius (gerakam kelopak mata ke atas, kontriksi pupil, gerakan otot
mata): Tes putaran bola mata, menggerkan konjungtiva, palpebra, refleks pupil dan
inspeksi kelopak mata.
d. N.IV : Trochlearis (gerakan mata ke bawah dan ke dalam):
sama seperti N.III
e. N.V : Trigeminal (gerakan mengunyah, sensasi wajah, lidah dan gigi, refleks kornea
dan refleks kedip):
menggerakan rahang ke semua sisi, psien memejamkan mata, sentuh dengan kapas
pada dahi dan pipi. Reaksi nyeri dilakukan dengan benda tumpul. Reaksi suhu
dilakukan dengan air panas dan dingin, menyentuh permukaan kornea dengan kapas
f. N.VI : Abducend (deviasi mata ke lateral) :
sama sperti N.III
g. N.VII : Facialis (gerakan otot wajah, sensasi rasa 2/3 anterior lidah):
senyum, bersiul, mengerutkan dahi, mengangkat alis mata, menutup kelopak mataa
dengan tahanan. Menjulurkan lidah untuk membedakan gula dengan garam
h. N.VIII : Vestibulocochlearis (pendengaran dan keseimbangan ) :
test Webber dan Rinne
i. N.IX : Glosofaringeus (sensasi rsa 1/3 posterio lidah ):
membedakan rasaa mani dan asam ( gula dan garam)
j. N.X : Vagus (refleks muntah dan menelan) :
menyentuh pharing posterior, pasien menelan ludah/air, disuruh mengucap “ah…!”
k. N.XI: Accesorius (gerakan otot trapezius dan sternocleidomastoideus)
palpasi dan catat kekuatan otot trapezius, suruh pasien mengangkat bahu dan lakukan
tahanan sambil pasien melawan tahanan tersebut. Palpasi dan catat kekuatan otot
sternocleidomastoideus, suruh pasien meutar kepala dan lakukan tahanan dan suruh
pasien melawan tahan.
l. N.XII : Hipoglosus (gerakan lidah):
pasien suruh menjulurkan lidah dan menggrakan dari sisi ke sisi. Suruh pasien
menekan pipi bagian dalam lalu tekan dari luar, dan perintahkan pasien melawan
tekanan tadi.
3. Fungsi motorik
a. Otot
Ukuran : atropi / hipertropi
Tonus : kekejangan, kekakuan, kelemahan
Kekuatan : fleksi, ekstensi, melawan gerakan, gerakan sendi.
Derajat kekuatan motorik :
5 : Kekuatan penuh untuk dapat melakukan aktifitas
4 : Ada gerakan tapi tidak penuh
3 : Ada kekuatan bergerak untuk melawan gravitas bumi
2 : Ada kemampuan bergerak tapi tidak dapat melawan gravitasi bumi.
1 : Hanya ada kontraksi
0 : tidak ada kontraksi sama sekali
b. Gait (keseimbangan) : dengan Romberg’s test
4. Fungsi sensorik
Test : Nyeri, Suhu,
Raba halus, Gerak,
Getar, Sikap,
Tekan, Refered pain.
5. Refleks
a. Refleks superficial
• Refleks dinding perut :
Cara : goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal
dari lateral ke medial
Respon : kontraksi dinding perut
• Refleks cremaster
Cara : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah
Respon : elevasi testes ipsilateral
• Refleks gluteal
Cara : goresan atau tusukan pada daerah gluteal
Respon : gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral
Refleks tendon / periosteum
• Refleks Biceps (BPR):
Cara : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.biceps brachii,
posisi lengan setengah diketuk pada sendi siku.
Respon : fleksi lengan pada sendi siku
• Refleks Triceps (TPR)
Cara : ketukan pada tendon otot triceps, posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit
pronasi
Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku

• Refleks Periosto radialis


Cara : ketukan pada periosteum ujung distal os radial, posisi lengan setengah fleksi dan
sedikit pronasi
Respon : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi krena kontraksi
m.brachiradialis
• Refleks Periostoulnaris
Cara : ketukan pada periosteum prosesus styloid ilna, posisi lengan setengah fleksi dan
antara pronasi supinasi.
Respon : pronasi tangan akibat kontraksi m.pronator quadrates
• Refleks Patela (KPR)
Cara : ketukan pada tendon patella
Respon : plantar fleksi kaki karena kontraksi m.quadrisep femoris
• Refleks Achilles (APR)
Cara : ketukan pada tendon Achilles
Respon : plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius
• Refleks Klonus lutut
Cara : pegang dan dorong os patella ke arah distal
Respon : kontraksi reflektorik m.quadrisep femoris selama stimulus berlangsung
• Refleks Klonus kaki
Cara : dorsofleksikan kki secara maksimal, posisi tungkai fleksi di sendi lutut.
Respon : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsung
b. Refleks patologis
· Hoffmann Tromer
Tangan pasein ditumpu oleh tangan pemeriksa. Kemudian ujung jari tangan pemeriksa
yang lain disentilkan ke ujung jari tengah tangan penderita. Reflek positif jika terjadi
fleksi jari yang lain dan adduksi ibu jari
· Rasping
Gores palmar penderita dengan telunjuk jari pemeriksa diantara ibujari dan telunjuk
penderita. Maka timbul genggaman dari jari penderita, menjepit jari pemeriksa. Jika
reflek ini ada maka penderita dapat membebaskan jari pemeriksa. Normal masih
terdapat pada anak kecil. Jika positif pada dewasa maka kemungkinan terdapat lesi di
area premotorik cortex
· Reflek palmomental
Garukan pada telapak tangan pasien menyebabkan kontraksi muskulus mentali
ipsilateral. Reflek patologis ini timbul akibat kerusakan lesi UMN di atas inti saraf VII
kontralateral
· Reflek snouting
Ketukan hammer pada tendo insertio m. Orbicularis oris maka akan menimbulkan reflek
menyusu. Menggaruk bibir dengan tongue spatel akan timbul reflek menyusu. Normal
pada bayi, jika positif pada dewasa akan menandakan lesi UMN bilateral
· Mayer reflek
Fleksikan jari manis di sendi metacarpophalangeal, secara halus normal akan timbul
adduksi dan aposisi dari ibu jari. Absennya respon ini menandakan lesi di tractus
pyramidalis
· Reflek babinski
Lakukan goresan pada telapak kaki dari arah tumit ke arah jari melalui sisi lateral.
Orang normal akan memberikan resopn fleksi jari-jari dan penarikan tungkai. Pada lesi
UMN maka akan timbul respon jempol kaki akan dorsofleksi, sedangkan jari-jari lain
akan menyebar atau membuka. Normal pada bayi masih ada.
· Reflek oppenheim
Lakukan goresan pada sepanjang tepi depan tulang tibia dari atas ke bawah, dengan
kedua jari telunjuk dan tengah. Jika positif maka akan timbul reflek seperti babinski
· Reflek gordon
Lakukan goresan/memencet otot gastrocnemius, jika positif maka akan timbul reflek
seperti babinski

· Reflek schaefer
Lakukan pemencetan pada tendo achiles. Jika positif maka akan timbul refflek seperti
Babinski
· Reflek caddock
Lakukan goresan sepanjang tepi lateral punggung kaki di luar telapak kaki, dari tumit ke
depan. Jika positif maka akan timbul reflek seperti babinski.
· Reflek rossolimo
Pukulkan hammer reflek pada dorsal kaki pada tulang cuboid. Reflek akan terjadi fleksi
jari-jari kaki.
· Reflek mendel-bacctrerew
Pukulan telapak kaki bagian depan akan memberikan respon fleksi jari-jari kaki.
Selain pemeriksaan tersebut di atas juga ada beberapa pemeriksaan lain seperti :
Pemeriksaan fungsi luhur:
1. Apraxia : hilangnya kemampuan untuk melakukan gerakan volunter atas perintah
2. Alexia : ketidakmampuan mengenal bahasa tertulis
3. Agraphia : ketidakmampuan untuk menulis kata-kata
4. Fingeragnosia: kesukaran dalam mengenal, menyebut, memilih dan membedakan
jari-jari, baik punya sendiri maupun orang lain terutama jari tengah.
5. Disorientasi kiri-kanan: ketidakmampuan mengenal sisi tubuh baik tubuh sendiri
maupun orang lain.
6. Acalculia : kesukaran dalam melakukan penghitungan aritmatika sederhana.

Refleks Primitif
Moro
Refleks berjalan

Refleks menghisap/menyusu
Tonic neck reflex

Palmar grasp reflex


Refleks Babinski

Refleks Galant
Refleks Berenang

Refleks Babkin

PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL

Bila ada peradangan selaput otak atau di rongga sub arachnoid terdapat benda asing
seperti darah, maka dapat merangsang selaput otak.
1. Kaku kuduk dengan cara :
a. Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang berbaring Kemudian kepala
ditekukkan (fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada.
b. Selama penekukan ini diperhatikan adanya tahanan.
c. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak mencapai dada.
d. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat. Pada kaku kuduk yang berat, kepala tidak dapat
ditekuk, malah sering kepala terkedik ke belakang.
e. Pada keadaan yang ringan, kaku kuduk dinilai dari tahanan yang dialami waktu menekukkan
kepala.
2. Tanda laseque
Pemeriksaan dilakukan sebagai berikut :
a. Pasien berbaring lurus,
b. lakukan ekstensi pada kedua tungkai.
c. Kemudian salah satu tungkai diangkat lurus, di fleksikan pada sendi panggul.
d. Tungkai yang satu lagi harus berada dalam keadaan ekstensi / lurus.
e. Normal : Jika kita dapat mencapai sudut 70 derajat sebelum timbul rasa sakit atau tahanan.
f. Laseq (+) = bila timbul rasa sakit atau tahanan sebelum kita mencapai 70
3. Tanda Kerniq
Pemeriksaan dilakukan sebagai berikut :
a. Pasien berbaring lurus di tempat tidur
b. Pasien difleksikan pahanya pada sendi panggul sampai membuat sudut 90o,
c. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut.
d. Biasanya dapat dilakukan ekstensi sampai sudut 135 o, antara tungkai bawah dan tungkai atas.
e. Tanda kerniq (+) = Bila terdapat tahanan dan rasa nyeri sebelum tercapai sudut 135̊

4. Tanda Brudzinsky I
Pemeriksaan dilakukan sebagai berikut :
a. Pasien berbaring di tempat tidur.
b. Dengan tangan yang ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang berbaring, kita tekukkan
kepala sejauh mungkin sampai dagu mencapai dada.
c. Tangan yang satunya lagi sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya
badan.
d. Brudzinsky I (+) ditemukan fleksi pada kedua tungkai.
5. Tanda Brudzinsky II
Pemeriksaan dilakukan seagai berikut :
a. Pasien berbaring di tempat tidur.
b. Satu tungkai di fleksikan pada sendi panggul, sedang tungkai yang satu lagi berada dalam
keadaan lurus.
c. Brudzinsky I (+) ditemukan tungkai yang satu ikut pula fleksi, tapi perhatikan apakah ada
kelumpuhan pada tungkai.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Refleks kulit perut berupa kontraksi otot dinding perut.
2. Refleks cahaya berupa kontriksi pupil homolateral dan kontralateral.
3. Refleks periost radialis berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.
4. Refleks periost ulnaris berupa pronasi tangan.
5. Knee pess reflex, respon berupa ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps.
6. Achilles pess refleks, respon berupa plantar rfleksi dari kaki dan kontraksi otot
gastroknemius.
7. Refleks biseps berupa fleksi lengan pada siku dan kntraksi otot biseps.
8. Refleks trisep berupa ekstensi lengan dan kontraksi otot triseps.

3.2 Saran
1. Sebaiknya perlengakapan lab diperbanyak sehingga praktikan dapat melakukan
praktikum ini sendiri dengan bimbingan asisten.
2. Melibatkan langsung mahasiswa dalam proses praktikum agar mahasiswa dapat
lebih paham.

DAFTAR PUSTAKA

· Sherwood,Lauralee.2001.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem.EGC


· Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC
· Guyton & Hall.2006.Text Book of Medical Phisiology.Elsevisier Saunders
· http://en.wikipedia.org/wiki/Reflexa