Anda di halaman 1dari 6

DIAGNOSIS

Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan suara serak, hidung berair, peradangan faring, dan frekuensi napas yang sedikit
meningkat. Kondisi pasien bervariasi sesuai dengan derajat stres pernapasan yang diderita.
Pemeriksaan langsung area laring pada pasien croup tidak terlalu diperlukan. Akan
tetapi, bila diduga terdapat epiglotitis (serangan akut, gawat napas/respiratory distress,
disfagia, drooling), maka pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.
Sistem paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan croup beratnya adalah Skor
Westley. Hal ini terutama digunakan untuk tujuan penelitian, jarang digunakan dalam praktek
klinis. Ini adalah jumlah poin yang dipaparkan untuk lima faktor: tingkat kesadaran, cyanosis,
stridor, masuknya udara, dan retraksi. Hal-hal yang diberikan untuk setiap faktor terdaftar
dalam tabel ke kanan, dan skor akhir berkisar dari 0 sampai 17 .
 Skor total ≤ 2 menunjukkan batuk ringan. Batuk menggonggong karakteristik dan suara
serak yang mungkin ada, tetapi tidak ada stridor saat istirahat.
 Total skor 3-5 diklasifikasikan sebagai croup moderat. Hal ini menyajikan dengan
mendengar stridor mudah, tetapi dengan beberapa tanda-tanda lain.
 Hal ini juga menyajikan dengan stridor jelas, tetapi juga fitur ditandai dinding dada
indrawing.
 Sebuah nilai total ≥ 12 menunjukkan yang akan adanya kegagalan pernapasan . Batuk
menggonggong dan stridor mungkin tidak lagi menonjol pada tahap ini.
85% dari anak-anak yang datang ke bagian darurat memiliki penyakit ringan, batuk
parah sangat jarang (<1%).
Skor Westley: Klasifikasi keparahan batuk

Jumlah poin yang ditugaskan untuk fitur ini


Ciri
0 1 2 3 4 5

Retraksi
Dinding Tidak ada Ringan Moderat Parah
dada

Dengan
Stridor Tidak ada Diam
agitasi

Dengan
Sianosis Tidak ada Diam
agitasi

Tingkat
Normal Bingung
kesadaran

Udara Menurun
Normal Penurunan
masuk tajam

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak perlu
dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan hanya dengan anamnesis, gejala klinis,
dan pemeriksaan fisik.
Bila ditemukan peningkatan leukosit >20.000/mm3 yang didominasi PMN,
kemungkinan telah terjadi superinfeksi, misalnya epiglotitis.
Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna untuk menegakkan diagnosis croup
sindrom ini yaitu bisa dengan pemeriksaan radiologis dan CT-Scan.
Gambaran radiologi berupa penyempitan dari subglotis (seperti menara / steeple sign)
pada foto anterior-posterior (AP), densitas jaringan lunak yang ireguler pada trakea foto lateral,
serta peumonia bilateral.
Tanda menara terlihat pada radiografi anteroposterior jaringan lunak leher.
Konvektivitas lateral normal trakea subglottic hilang, dan penyempitan lumen subglottic
menghasilkan konfigurasi V terbalik di daerah ini. Titik dari V terbalik pada tingkat margin
inferior pita suara yang benar. Penyempitan dari lumen subglottic mengubah tampilan
radiografi dari kolom udara trakea, yang menyerupai atap bernada tajam atau menara gereja.
Gambaran normal foto anterior-posterior

Gambaran normal foto lateral

Gambaran Sindrom Croup foto anterior-posterior


Gambaran Sindrom Croup foto lateral

Dalam tanda menara (steeple sign), area kritis penyempitan saluran napas adalah 1 cm
proksimal trakea, di elasticus konus ke tingkat pita suara yang benar. Mukosa pada tingkat ini
memiliki lampiran longgar. Tanda menara dihasilkan oleh adanya edema pada trakea, yang
menghasilkan elevasi mukosa trakea dan hilangnya memikul normal (Convexities lateral) dari
kolom udara
Pada pemeriksaan radiologis leher posisi poserior-anterior ditemukan gambaran udara
steeple sign (seperti menara) yang menunjukkan adanya penyempitan kolumna subglotis. Akan
tetapi, gambaran radiologis seperti ini hanya dijumpai pada 50% kasus saja.
Melalui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan berbagai diagnosis
bandingnya. Gambaran foto jaringan lunak (intensitas rendah) saluran napas atas dapat
dijumpai sebagai berikut:
1. Pada trakeitis bakterial, tampak gambaran membran trakea yang compang-camping.
2. Pada epiglotitis, tampak gambaran epiglotitis yang menebal.
3. Pada abses retrofaringeal, tampak gambaran posterior faring yang menonjol.
Pada pemeriksaan CT scan dapat lebih jelas menggambarkan penyebab obstruksi pada
pasien dengan keadaan klinis yang lebih berat, seperti adanya stridor sejak usia di bawah 6
bulan atau stridor pada saat aktivitas. Selain itu, pemeriksaan ini juga dilakukan bila pada
gambaran radiologis dicurigai adanya massa .
Daftar pustaka
1. Dominic A dan Henry A Kilham Fitzgerald, 2003, Croup: Assesment and Evidence-
Based Management. Medical Journal The Australia. MJA 2003; 179 (7) : 372-377
2. Croup (Laringotrakeobronkitis akut), Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama.
Badan Penerbit IDAI: 2008. p 320-328
DIAGNOSIS BANDING

Croup adalah sindrom klinis yang ditegakkan berdasarkan gejala klasik yang timbul.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan suara serak, batuk menggonggong, stridor inspirasi, kadang
disertai hidung berair, peradangan faring, dan frekuensi napas yang sedikit meningkat. Kondisi
pasien bervariasi sesuai dengan derajat distres pernapasan yang diderita.

Pemeriksaan langsung area laring pada pasien croup tidak terlalu diperlukan. Akan
tetapi, bila diduga terdapat epiglotitis (serangan akut, gawat napas/respiratory distress,
disfagia, drooling), maka pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.

Croup mempunyai beberapa diagnosis banding yang harus dapat dibedakan mengingat
perbedaan tata laksananya. Diagnosis banding Croup dapat dilihat pada tabel 1.
Daftar pustaka

Abdul Latief, Bambang Tridjaja, dkk. 2012. Kegawatan Pada Bayi Dan Anak.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Hal 87-89