Anda di halaman 1dari 40

1

PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN

Croup Derajat Sedang + Gizi Baik

Oleh :

William Abraham S (1702612221)


Rose Widanti Sugiyanto (1702612137)
Komang Agus Widhy Utama Putra (1902611048)
Kadek Adi Satrya Palguna (1902611046)
Putu Rarassani (1902611041)
Ni Putu Windi Sukma Putri (1902611044)
Nurul Fatin (1902611047)
Komang Saputra Yadnya (1902611043)
Ketut Anita Herdianti (1902611042)
Julianita Kriselda Yuwono (1902611040)
Thunissha Manoharan (1902611045)

Pembimbing :

dr. Ni Nyoman Metriani Nesa.,MSc.,Sp.A


2

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI DEPT/KSM ILMU KESEHATAN ANAK
FK UNUD-RSUP SANGLAH
DENPASAR 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas pengalaman belajar lapangan
dengan judul “Bronkiolitis Derajat Sedang + Gizi Baik” ini dapat diselesaikan.
Laporan ini disusun dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya Ilmu
Kesehatan Anak

Semua tahapan laporan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya berkat


dukungan berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:

1. dr. Ni Nyoman Metriani Nesa.,MSc.,Sp.A selaku pembimbing dan penguji


pada laporan kami
2. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan laporan ini yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat
penulis harapkan dalam rangka penyempurnaannya. Akhirnya penulis
mengharapkan semoga laporan pengalaman belajar lapangan ini dapat bermanfaat
di bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran.

Denpasar, 24 September 2019

Penulis
3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laringotrakeobronkitis atau Sindrom croup, adalah sindrom klinis yang
ditandai dengan suara serak, batuk menggonggong, stridor inspirasi, dengan atau
tanpa adanya stres pernapasan. Penyakit ini sering terjadi pada anak. Istilah lain
untuk croup ini adalah laringitis akut yang menunjukkan lokasi inflamasi, yang
jika meluas sampai trakea disebut laringotrakeitis, dan jika sampai ke bronkus
digunakan istilah laringotrakeobronkitis.1,2
Croup sering disebabkan oleh virus. Beberapa virus dapat menyebabkan
croup tetapi dalam kebanyakan kasus penyebabnya adalah virus parainfluenza
(tipe 1, 2, 3) yaitu sekitar 80% kasus. 4,5 Sindrom croup biasanya terjadi pada anak
berusia 6 bulan−6 tahun, dengan puncaknya pada usia 1−2 tahun. Akan tetapi,
croup dapat juga terjadi pada anak berusia 3 bulan dan di atas 15 tahun. Penyakit
ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, dengan rasio
3:2. Angka kejadiannya meningkat pada musim dingin dan musim gugur, tetapi
penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang tahun.1-3 Croup menyumbang lebih dari
15% penyakit saluran pernapasan yang terlihat dalam praktik pediatrik. Di
Amerika Serikat, rata-rata insiden penyakit croup yaitu 5 kasus per 100 anak
selama tahun kedua kehidupannya. Seorang anak dapat mengalami croup lebih
dari satu kali selama masa kanak-kanak. Kekambuhan sering terjadi pada usia 3−6
tahun dan berkurang sejalan dengan pematangan struktur anatomi saluran
pernapasan atas.1,3 croup masih bisa didiagnosis pada awal usia remaja walaupun
jarang terjadi setelah usia 6 tahun dan sangat jarang terjadi pada dewasa.4
Sifat penyakit ini adalah dapat sembuh sendiri tetapi terkadang dapat
menjadi berat bahkan fatal. Penyakit ini dapat menimbulkan obstruksi saluran
pernapasan yang bersifat ringan hingga berat. Di Amerika tercatat kurang dari 5%
anak-anak penderita croup memerlukan rawat inap dan kurang dari 2% dari anak-
anak tersebut membutuhkan perawatan dengan intubasi. Kematian karena
penyakit ini terjadi pada sekitar 0,5% anak yang harus dirawat dengan intubasi.
Oleh karena itu, pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat sangat dibutuhkan.1,2,
4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sindrom Croup


Croup merupakan self-limited disease yang umumnya menyerang saluran
pernafasan anak-anak. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak dengan
manifestasi klinis yang timbul adalah batuk menggonggong, suara serak, dan akan
mengeluarkan suara keras, yang dikenal sebagai stridor terutama saat inspirasi;
dan beberapa variasi dari gejala distress pernafasan.2,3
Croup adalah kondisi masa kanak-kanak yang mempengaruhi tenggorokan
(trakea), saluran udara ke paru-paru (bronkus) dan kotak suara (laring). Istilah lain
untuk croup adalah laringitis akut yang menunjukkan lokasi inflamasi, yang jika
meluas sampai trakea disebut laringotrakeitis, dan jika sampai
ke bronkus digunakan istilah laringotrakeobronkitis. Sindroma croup atau
laringotrakeobronkitis akut disebabkan oleh virus yang menyerang saluran
pernafasan bagian atas. Penyakit ini dapat menyebabkan obstruksi saluran nafas, o
bstruksi ini dapat ringan sampai berat.1,3
Istilah croup syndrome mengacu pada sekelompok penyakit yang
bervariasi berdasarkan keterlibatan anatomis dan agen etiologinya. Penyakit ini
termasuk laringotrakeitis, croup spasmodic, trakeitis bakteri,
laringotrakeobronkitis, dan laringotrakeobronkopneumonitis. Meskipun istilah
"laringotrakeitis" dan "laringotrakeobronkitis" sering digunakan secara bergantian
dalam literatur, keduanya mewakili dua keadaan penyakit yang berbeda. Bentuk
yang paling umum dari sindrom croup virus adalah laringotrakeitis akut, yang
melibatkan penyumbatan saluran pernapasan atas di area laring, jaringan
infraglotis, dan trakea, yang mana disebabkan oleh agen infeksi. Penyebab non-
infeksi dari sindrom ini adalah aspirasi benda asing, trauma (misalnya, karena
intubasi), dan reaksi alergi. Infeksi virus akut adalah penyebab paling umum dari
croup, tetapi bakteri dan atipikal agen juga telah diidentifikasi.4
5

2.2 Etiologi Sindrom Croup

Diantara penyebab croup, yang tersering adalah virus. Diatara virus-virus tersebut
adalah Human Parainfluenza virus Respiratory Syntitial virus (RSV),
metapneumovirus, virus influenza A dan B, Adenovirus, dan Corona virus. Sekitar
75% disebabkan oleh parainfluenza virus tipe I. Meskipun jarang, pernah juga
ditemukan Mycoplasma pneumonia pernah juga ditemukan sebagai penyebab

1,2,3
croup. mungkin terpapar virus lewat udara yang sudah terkontaminasi dari
batuk atau tetesan dan kemudian dihirup olehnya. Partikel virus di tetesan ini
mungkin juga bertahan pada mainan dan permukaan lainnya.
Selain itu, jika anak Anda menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan
kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulutnya, infeksi dapat terjadi. Croup
juga dapat disebabkan oleh alergi, menghirup sesuatu yang mengganggu saluran
napas Anda, dan asam lambung tinggi.
Dalam
perjalanan penyakit Croup, infeksi virus dimulai dari nasofaring
dan kemudian menyebar ke epitelium trakhea dan laring. Inflamasi, hiperemis dan

2,7
edema disebabkan oleh invasi virus ke dalam mukosa laring. Gejala awal yang
muncul pada croup biasanya didahului dengan coryza, demam yang tidak begitu
tinggi selama 12-17 jam, hidung berair, nyeri menelan, dan batuk ringan dapat

o 1,2,3,4
disertai malaise. Pada kasus tertentu, demam dapat mencapai 40 C.

Jika dilihat dari penyebabnya, ada dua jenis croup, yaitu viral croup dan
spasmodic croup.5
1. Viral croup
Ada beberapa macam virus yang bisa menyebabkan croup, antara lain
adenovirus, respiratory syncytial virus (RSV), atau virus campak. Namun
umumnya croup disebabkan oleh virus parainfluenza. Anak-anak bisa terpapar
croup melalui udara yang dihirup, bila terdapat percikan ludah akibat batuk atau
bersin orang yang terinfeksi. Viral croup juga dapat menulari anak melalui benda
yang terkontaminasi percikan ludah, misalnya dari sentuhan pada benda yang
terkontaminasi air liur. Virus yang berada di tangan tadi akan masuk ke tubuh, jika
anak menyentuh mulut atau hidungnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
6

2. Spasmodic croup
Jenis croup ini terjadi mendadak, umumnya di tengah malam. Anak mungkin
terbangun karena sesak napas, namun tidak disertai demam. Spasmodic croup
disebabkan oleh alergi atau asam lambung yang naik ke kerongkongan dan
saluran pernapasan. Meski jarang terjadi, croup juga dapat disebabkan oleh infeksi
bakteri atau menghirup zat kimia yang mengiritasi saluran pernapasan. Croup
biasanya dianggap disebabkan oleh infeksi virus.2,6 Sebagian orang juga
menggunakan istilah ini untuk laringotrakeitis berat, croup spasmodik, difteri
laring, trakeitis bakteri, laringotrakeobronkitis, dan
laringotrakeobronkopneumonitis. Dua kondisi yang pertama melibatkan virus dan
mempunyai gejala yang lebih ringan; empat yang terakhir disebabkan bakteri dan
biasanya lebih berat.7

2.3 Epidemiologi Sindrom Croup


Sindrom croup terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai 6 tahun dengan
puncaknya pada usia 1-2 tahun. Akan tetapi sindrom croup dapat juga terjadi pada
anak berusia 3 bulan dan di atas 15 tahun. Penyakit ini lebih sering terjadi pada
anak laki-laki daripada anak perempuan dengan rasio 3:2. Angka kejadian
meningkat di musim dingin dan musim gugur, tetapi penyakit ini tetap dapat
terjadi sepanjang tahun. Pasien croup merupakan 15% dari seluruh pasien dengan
infeksi respiratori yang berkunjung ke dokter. Kekambuhan sering terjadi pada
usia 3-6 tahun dan berkurang sejalan dengan pematangan struktur anatomi saluran
respiratori atas. Hampir 15% pasien memiliki riwayat keluarga dengan penyakit
yang sama.14

2.4 Patofisiologi Sindrom Croup


Seperti infeksi respiratori pada umumnya, infeksi virus pada laringotrakeitis,
laringotrakeobronkitis, dan laringotrakeobronkopneumonia dimulai dari
nasofaring dan menyebar ke epitelium trakea dan laring. Peradangan difus,
eritema, dan edema yang terjadi pada dinding trakea menyebabkan terganggunya
mobilitas pita suara serta area subglotis mengalami iritasi. Hal ini menyebabkan
suara pasien menjadi serak. Aliran udara yang melewati saluran respiratori atas
7

mengalami turbulensi sehingga menimbulkan stridor, diikuti dengan retraksi


dinding dada (selama inspirasi). Pergerakan dinding dada dan abdomen yang tidak
teratur menyebabkan pasien kelelahan serta mengalami hipoksia dan hiperkapnea.
Pada keadaan ini dapat terjadi gagal napas atau bahkan henti napas.1
Pengembangan virus croup dari infiltrasi histiosit, limfosit, sel plasma dan
sel darah putih neutrofil terutama oleh Human Parainfluenza Viruses (HPIV).
HPIV berfusi dengan sel darah putih melalui glikoprotein hemagglutinin-
neuraminidase dan fusion protein. Setelah fusi, nukleokapsid HPIV dikeluarkan
ke sitoplasma sel resipien. Transkripsi virus terjadi melalui RNA polimerase
RNA-dependen RNA spesifik. Viral mRNA diterjemahkan menjadi protein virus,
yang mengarah ke replikasi genom dan menjadi RNA chain positif dan RNA
chain negatif. RNA chain negatif dienkapsulasi oleh nukleoprotein dan kemudian
digunakan untuk transkripsi dan replikasi lebih lanjut. Infeksi HPIV biasanya
dimulai pada epitel di saluran pernapasan atas, menyebar ke sinus paranasal,
laring dan bronkus. Infiltrasi dari HPIV menyebabkan peradangan oleh produksi
sitokin yang meningkat, terlokalisasi dalam trakea. Selain itu, pelepasan respons
HPIV Immunoglobulin E (IgE) telah ditemukan untuk menghambat histamin,
berkontribusi terhadap peradangan yang menyebabkan croup. Dari empat serotipe
yang berbeda, HPIV-1 dan HPIV-2 adalah serotipe yang menyebabkan croup. 1,2,3
Dalam perjalanan penyakit croup, infeksi virus dimulai dari nasofaring dan
kemudian menyebar ke epitelium trakhea dan laring. Inflamasi, hiperemis dan
edema disebabkan oleh invasi virus ke dalam mukosa laring. Gejala awal yang
muncul pada croup biasanya didahului dengan coryza, demam yang tidak begitu
tinggi selama 12-17 jam, hidung berair, nyeri menelan, dan batuk ringan dapat
disertai malaise. Pada kasus tertentu, demam dapat mencapai 40C. 2

2.5 Faktor Resiko


Faktor risiko penyakit Croup adalah jenjang usia antara 6 bulan hingga 6 tahun,
status gizi, pemberian ASI, tidak diimunisasi, berat badan lahir rendah dan
kawasan padat penduduk.
1. Usia antara 6 bulan hingga 6 tahun
Croup dapat ditemukan pada 50% anak berusia di bawah 6 tahun. Dari
penelitian didapatkan 23% kasus infeksi saluran pernafasan pada anak
8

berusia di atas 6 bulan. Ini karena anak kecil memiliki jalan napas yang
lebih kecil. Saluran pernafasan menjadi lebih luas seiring pertumbuhan
anak-anak. Ini mengurangi kemungkinan Croup pada anak-anak yang
lebih tua dan orang dewasa. 4

2. Status gizi
Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh adanya keseimbangan
antara jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan
(required) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan
fisik, perkembangan, aktivitas atau produktivitas, pemeliharaan kesehatan
dan lain-lain. Gizi merupakan salah satu parameter yang dapat
memberikan gambaran masa tubuh yang sangat sensitif terhadap
perubahan yang mendadak, misalnya oleh karena terserang penyakit
infeksi, menurunnya makanan yang dikonsumsi atau karena menurunnya
nafsu makan. Gizi yang baik mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap status imunitas dan pemeliharaan kesehatan tubuh anak, status
gizi kurang akan menurunkan kekebalan dan memudahkan anak untuk
terserang penyakit infeksi khususnya infeksi pernafasan bawah termasuk
croup.5

3. Pemberian ASI
ASI yang diberikan secara eksklusif kepada bayi hingga usia 6 bulan
mengandung kolostrum yang merupakan zat kekebalan alami yang
berfungsi melindungi dari infeksi karena dapat mencegah invasi saluran
pernapasan oleh bakteri atau virus. Sejajar dengan kekebalan tubuh yang
didapatkan dari ASI, penyakit infeksi saluran pernafasan pada anak dapat
dicegah termasuk Croup.6

4. Tidak diimunisasi
Imunisasi yang banyak berhubungan dengan kejadian ISPA adalah
imunisasi DPT dan Campak. Pemberian imunisasi bertujuan untuk
memberi kekebalan kepada balita terhadap penyakit-penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Imunisasi merupakan salah satu cara
pencegahan penyakit infeksi yang baik.6
9

5. Berat badan lahir rendah


Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian croup adalah berat badan
lahir. Resiko kesakitan hingga resiko kematian pada berat badan lahir
rendah (BBLR) yang cukup tinggi karena adanya gangguan pertumbuhan
dan imaturitas organ. Penyebab utama kematian pada BBLR adalah
afiksia, sindroma gangguan pernapasan, infeksi dan komplikasi
hipotermia. Pada bayi BBLR, pembentukan zat anti kekebalan kurang
sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi termasuk croup
saat lahir maupun pada usia dibawah 6 tahun.7

6. Kawasan padat penduduk dan lingkungan sekitar


Kepadatan penduduk merupakan jumlah penduduk yang menetap di suatu
wilayah per satuan luas wilayah. Semakin padat suatu wilayah, maka
potensi penyebaran penyakit semakin besar. Kepadatan penduduk juga
mempengaruhi sirkulasi udara dalam lingkungan yang berpotensi terhadap
kontaminasi dari luar yang dapat meningkatkan risiko dan intensitas
infeksi yang dapat memudahkan transmisi penyakit. Kepadatan merupakan
pre-requisite untuk proses penularan penyakit. Semakin padat, maka
pepindahan penyakit semakin cepat dan mudah khususnya penyakit
melalui udara dan anak-anak lebih mudah untuk diserang infeksi
pernafasan.8

2.6 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis dari croup biasanya didahului adanya infeksi saluran
pernapasan atas dengan demam yang tidak begitu tinggi selama 12−72 jam,
hidung berair, nyeri menelan, batuk ringan, yang diikuti oleh batuk
menggonggong. Kondisi ini akan berkembang menjadi batuk nyaring, suara
menjadi parau dan kasar. Gejala sistemik yang menyertai seperti demam, malaise.
Bila keadaan berat dapat terjadi sesak napas, stridor inspiratorik yang berat,
retraksi, anak tampak gelisah, dan akan bertambah berat pada malam hari. Gejala
puncak terjadi pada 24 jam pertama hingga 48 jam. Biasanya perbaikan akan
tampak dalam waktu satu minggu. Anak akan sering menangis, rewel, dan akan
merasa nyaman jika duduk di tempat tidur atau digendong.1.
10

2.7 Diagnosis
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan suara serak, hidung berair, peradangan faring, dan
frekuensi napas yang sedikit meningkat. Kondisi pasien bervariasi sesuai dengan
derajat stres pernapasan yang diderita.
Pemeriksaan langsung area laring pada pasien croup tidak terlalu
diperlukan. Akan tetapi, bila diduga terdapat epiglotitis (serangan akut, gawat
napas/respiratory distress, disfagia, drooling), maka pemeriksaan tersebut sangat
diperlukan.
Sistem paling sering digunakan untuk mengklasifikasikan croup beratnya
adalah Skor Westley. Hal ini terutama digunakan untuk tujuan penelitian, jarang
digunakan dalam praktek klinis. Ini adalah jumlah poin yang dipaparkan untuk
lima faktor: tingkat kesadaran, cyanosis, stridor, masuknya udara, dan retraksi.
Hal-hal yang diberikan untuk setiap faktor terdaftar dalam tabel ke kanan, dan
skor akhir berkisar dari 0 sampai 17 .
 Skor total ≤ 2 menunjukkan batuk ringan. Batuk menggonggong
karakteristik dan suara serak yang mungkin ada, tetapi tidak ada stridor
saat istirahat.
 Total skor 3-5 diklasifikasikan sebagai croup moderat. Hal ini menyajikan
dengan mendengar stridor mudah, tetapi dengan beberapa tanda-tanda lain.
 Hal ini juga menyajikan dengan stridor jelas, tetapi juga fitur ditandai
dinding dada indrawing.
 Sebuah nilai total ≥ 12 menunjukkan yang akan adanya kegagalan
pernapasan . Batuk menggonggong dan stridor mungkin tidak lagi
menonjol pada tahap ini.
85% dari anak-anak yang datang ke bagian darurat memiliki penyakit
ringan, batuk parah sangat jarang (<1%).
11

Skor Westley: Klasifikasi keparahan batuk


Jumlah poin yang ditugaskan untuk fitur ini
Ciri
0 1 2 3 4 5
Retraksi
Dinding Tidak ada Ringan Moderat Parah
dada
Dengan
Stridor Tidak ada Diam
agitasi
Dengan
Sianosis Tidak ada Diam
agitasi
Tingkat
Normal Bingung
kesadaran
Udara Menurun
Normal Penurunan
masuk tajam

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan radiologis tidak
perlu dilakukan karena diagnosis biasanya dapat ditegakkan hanya dengan
anamnesis, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik. Bila ditemukan peningkatan
leukosit >20.000/mm3 yang didominasi PMN, kemungkinan telah terjadi
superinfeksi, misalnya epiglotitis. Pemeriksaan penunjang lain yang cukup
berguna untuk menegakkan diagnosis croup sindrom ini yaitu bisa dengan
pemeriksaan radiologis dan CT-Scan.
Gambaran radiologi berupa penyempitan dari subglotis (seperti menara /
steeple sign) pada foto anterior-posterior (AP), densitas jaringan lunak yang
ireguler pada trakea foto lateral, serta peumonia bilateral. Tanda menara terlihat
pada radiografi anteroposterior jaringan lunak leher. Konvektivitas lateral normal
trakea subglottic hilang, dan penyempitan lumen subglottic menghasilkan
konfigurasi V terbalik di daerah ini. Titik dari V terbalik pada tingkat margin
inferior pita suara yang benar. Penyempitan dari lumen subglottic mengubah
tampilan radiografi dari kolom udara trakea, yang menyerupai atap bernada tajam
atau menara gereja.
12

Gambaran normal foto anterior-posterior

Gambaran normal foto lateral

Gambaran Sindrom Croup foto anterior-posterior


13

Gambaran Sindrom Croup foto lateral

Dalam tanda menara (steeple sign), area kritis penyempitan saluran napas
adalah 1 cm proksimal trakea, di elasticus konus ke tingkat pita suara yang benar.
Mukosa pada tingkat ini memiliki lampiran longgar. Tanda menara dihasilkan oleh
adanya edema pada trakea, yang menghasilkan elevasi mukosa trakea dan
hilangnya memikul normal (Convexities lateral) dari kolom udara Pada
pemeriksaan radiologis leher posisi poserior-anterior ditemukan gambaran udara
steeple sign (seperti menara) yang menunjukkan adanya penyempitan kolumna
subglotis. Akan tetapi, gambaran radiologis seperti ini hanya dijumpai pada 50%
kasus saja.
Melalui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan berbagai
diagnosis bandingnya. Gambaran foto jaringan lunak (intensitas rendah) saluran
napas atas dapat dijumpai sebagai berikut:
1. Pada trakeitis bakterial, tampak gambaran membran trakea yang compang-
camping.
2. Pada epiglotitis, tampak gambaran epiglotitis yang menebal.
3. Pada abses retrofaringeal, tampak gambaran posterior faring yang
menonjol.
Pada pemeriksaan CT scan dapat lebih jelas menggambarkan penyebab
obstruksi pada pasien dengan keadaan klinis yang lebih berat, seperti adanya
stridor sejak usia di bawah 6 bulan atau stridor pada saat aktivitas. Selain itu,
pemeriksaan ini juga dilakukan bila pada gambaran radiologis dicurigai adanya
massa.
14

2.8 Diagnosis Banding


Croup adalah sindrom klinis yang ditegakkan berdasarkan gejala klasik yang
timbul. Pada pemeriksaan fisik ditemukan suara serak, batuk menggonggong,
stridor inspirasi, kadang disertai hidung berair, peradangan faring, dan frekuensi
napas yang sedikit meningkat. Kondisi pasien bervariasi sesuai dengan derajat
distres pernapasan yang diderita. Pemeriksaan langsung area laring pada pasien
croup tidak terlalu diperlukan. Akan tetapi, bila diduga terdapat epiglotitis
(serangan akut, gawat napas/respiratory distress, disfagia, drooling), maka
pemeriksaan tersebut sangat diperlukan.
15

Croup mempunyai beberapa diagnosis banding yang harus dapat dibedakan


mengingat perbedaan tata laksananya. Diagnosis banding Croup dapat dilihat pada
tabel 1.
2.9 Tatalaksana
Prinsip dasar dalam tatalaksana croup adalah mengatasi obsruksi jalan
nafas.1,4,5 Dengan demikian, kebutuhan oksigen tetap terpenuhi. Beberapa tindakan
yang dapat dilakukan dalam tatalaksana croup ini adalah: pemberian oksigen,
epinefrin, kortikosteroid, dan tindakan intubasi. Tatalaksna lainnya adalah
pemberian antipiretik dan antibiotika (jika ada tandatanda infeksi bakteri). 2,4,11,12
Dalam tatalaksana croup, apakah penderita perlu dirawat di rumah sakit atau
tidak, sangat bergantung kepada usia dan kondisi klinis penderita. Sebagian besar
pasien croup tidak perlu dirawat di rumah sakit, melainkan cukup dirawat di
rumah. Namun, pada sejumlah kondisi klinis tertentu penderita perlu dirawat di
rumah sakit.3,6 Dari segi usia, penderita croup yang perlu dirawat di rumah sakit
adalah: anak yang berusia dibawah 6 bulan. Beberapa kondisi klinis yang
memerlukan perawatan di rumah sakit adalah: gelisah, sianosis, gangguan
kesadaran, demam tinggi dan anak tampak toksik. Jika pada penderita croup
terdengar stridor progresif, stridor terdengar ketika sedang beristirahat, terdapat
gejala gawat nafas, hipoksemia juga membutuhkan perawatan di rumah sakit. 1,9,12
Oksigen dan epinefrin secara nebulisasi diberikan kepada penderta croup sedang
dan berat. Oksigen diberikan pada anak dengan hipoksia (saturasi oksigen pada
udara ruangan < 2 jam) dan segera sesudah efek tersebut hilang, maka gejala akan
muncul kembali (rebound phenomenon).4,6,12 Efek dari pemberian nebulisasi
epineprin adalah menurunkan permeabilitas vaskuler epitel bronkhus dan trakhea,
memperbaiki edema mukosa laring, dan meningkatkan laju udara pernafasan.
Pada penelitian dengan metode double blind, efek terapi nebulisasi epinefrin ini
timbul dalam waktu 30 menit dan bertahan selama 2 jam. 1,4,6,7,12 Dalam tatalaksana
croup, recemik epinefrin merupakan pilihan utama, efek terapinya lebih besar, dan
mempunyai sedikit efek terhadap kardiovaskuler seperti takikardi dan hipertensi.
Namun demikian, epinefrin standard yang tersedia di lebih banyak rumah sakit
dapat bekerja sebaik epinefrin resemik. Pada kelainan jantung tertentu, misalnya
16

Tetralogi Fallot dan pasien dengan takikardi, nebulisasi epinefrin masih dapat
diberikan. 2,3,6,12
Epinefrin diberikan dengan dosis 0,05 ml/kgBB dar 2,25% epinefrin
resemik (maksimal. 0,5 mL) dalam 3-5 mL NaCl fisiologis. Epinefrin ini
diberikan melalui alat nebulisasi setiap 2 jam. Efek yang ditimbulkan kurang sama
efektifnya dengan nebulisasi 0,5 mL/kgBB epinefrin 1/10.000 tanpa pengenceran
dengan NaCl fisiologis (maks 5 mL).2,6,8 Setelah pemberian nebulisasi epinefrin
perlu diobservasi. Dibutukan waktu selama 6 jam sesudah nebulisasi. Pada anak,
dengan gagal pernafasan dapat diberikan ulang epinefrin. Continous epinefrin
digunakan pada anak yang mendapat perawatan di di ruang rawat intensif anak
(Pediatric Intensive Care Unit).4,6,11
Antibiotika hanya diberikan pada keadaan tertentu saja. Umumnya antibiotika
tidak diperlukan dalam tetalaksana croup. Namun, ada kondisi tertentu yang
membutuhkan antibiotika, yaitu pada laringotrakheobronkhitis yang seringkali
disertai dengan superinfeksi bakteri. Pasien diberikan terapi antibiotik empiris
sambil menunggu hasil kultur. Antibiotik empiris dapat diberikan sefalosporin
generasi ke-3. Untuk epiglottitis diberikan antibiotik golongan sefalosporin
generasi ke-3 (seftriaxon atau sefotaksim) selama 7-10 hari. Kloramfenikol
selama 5 hari sama efektifnya dengan pemberian seftriakson. Untuk trakeitis
bakteri: diberikan antibiotik spektrum luas selama 10-14 hari.4,6 Seperti halnya
penggunaan antibiotika, maka penggunaan antipiretik pada croup juga bergantung
pada keadaan klinis penderita. Untuk antipiretik, yang digunakan adalah
paracetamol. Namun, penggunaan paracetamol dalam tatalaksana croup pada anak
hanya jika didapatkan demam atau nyeri tenggorok.2,4,9 Pemberian kortikosteroid
pada kasus Croup bertujuan untuk mengurangi edema pada mukosa laring melalui
mekanisme antiradang. Uji klinis menunjukkan adanya perbaikan pada pasien
laringotrakheitis ringan-sedang yang diobati dengan steroid oral atau parenteral
dibandingkan dengan placebo.3,11 Selain deksametason, dapat juga digunakan
prednison atau prednisolon dengan dosis 1-2 mg/kgbb.7,10 Deksametason diberikan
dengan dosis 0,6 mg/kgbb per oral/intamuskuler sebanyak satu kali, dan dapat
diulang dalam 6-24 jam. Efek klinis akan tampak 2-3 jam setelah pengobatan. 1,2,4,6
Keuntungan pemakaian kortikosteroid adalah: mengurangi rerata tindakan
17

intubasi, mengurangi rerata lama rawat inap, menurunkan hari perawatan dan
derajat penyakit.3,8,13 Pada sindrom Croup berat yang tidak responsif terhadap
terapi lain, maka Intubasi endotrakheal merupakan salah satu alternatif.
Tatalaksana lainnya berupa trakheostomi. Ini dimaksudkan untuk mengatsi
obstruksi jalan nafas sesegera mungkin dan sekaligus menjamin suplai
oksigen.10,13 Intubasi endotrakheal dilakukan bila terdapat hipercarbia dan
ancaman gagal nafas.4,13 Selain itu, intubasi juga diperlukan bila terdapat
peningkatan sridor, peningkatan frekuensi nafas, peningkatan frekuensi nadi,
retraksi dinding dada, sianosis, letargi, atau penurunan kesadaran. Intubasi
endotrakheal yang dilakukan ini hanya bersifat sementara. Jika edema laring
hilang/teratasi maka intubasi dihentikan.2,6,9,12,13

2.10 Komplikasi
Komplikasi dalam croup jarang terjadi. Pada sebagian besar kasus, kurang dari
5% anak-anak yang didiagnosis dengan croup memerlukan rawat inap dan kurang
dari 2% dari mereka yang dirawat di rumah sakit diintubasi. Kematian terjadi pada
sekitar 0,5% dari pasien yang diintubasi1.
Infeksi bakteri sekunder dapat menyebabkan pneumonia atau trakeitis
bakteri. Trakeitis bakteri adalah infeksi yang mengancam jiwa yang dapat timbul
setelah timbulnya infeksi pernapasan virus akut. Dalam kasus ini, anak biasanya
memiliki penyakit ringan hingga sedang selama 2-7 hari, tetapi kemudian
mengalami gejala yang parah. Pasien-pasien ini biasanya tidak merespon dengan
baik terhadap epinefrin rasemik nebulasi. Kasus-kasus yang dicurigai sebagai
trakeitis bakteri memerlukan rawat inap dengan observasi yang ketat, antibiotik
spektrum luas, dan kadang-kadang intubasi endotrakeal. Patogen bakteri utama
adalah Staphylococcus aureus termasuk strain resisten metisilin (MRSA),
Streptococcus pyogenes, Moraxella catarrhalis, Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae1,2.
Edema paru, pneumotoraks, pneumomediastinum, limfadenitis, dan otitis
media juga telah dilaporkan pada pasien yang didiagnosis dengan croup.
Kemampuan yang buruk untuk mempertahankan asupan oral yang memadai,
ditambah peningkatan kehilangan cairan yang tidak masuk akal, dapat
18

menyebabkan dehidrasi; dengan demikian, pasien mungkin memerlukan hidrasi


cairan intravena untuk menstabilkan status cairan mereka 1,2.

BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Kondisi Saat di Rumah Sakit
3.1.1 Identitas
Nama : IPABM
Umur : 2 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jalan Imam Bonjol Gang Segina No 7B Denpasar
MRS : 12 September 2019
Tanggal Pemeriksaan : 15 September 2019
Nomor Rekam Medis : 17048434
3.1.2 Anamnesis (Heteroanamnesis-Ibu Pasien)
Keluhan Utama
Sesak napas
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Triage Anak RSUP Sanglah Denpasar diantar oleh orang
tuanya pada tanggal 12 September 2019 pukul 06.30 WITA dikeluhkan sesak
sejak sehari sebelum masuk rumah sakit. Dikatakan sesak menetap dan timbul
dengan suara serak saat menarik napas yang muncul saat pasien menangis dan
tidur, adanya suara grok-grok atau ngik ngik disangkal. Sebelumnya, pasien
dikatakan batuk dan demam. Batuk seperti menggonggong sejak 3 hari
sebelumnya dan memberat saat sehari sebelum masuk rumah sakit, batuk tidak
disertai dengan dahak. Sedangkan demam dialami sejak sehari sebelumnya
dengan suhu tertinggi 38,60C. Pasien sempat dibawa ke dokter spesialis anak
karena keluhan batuk dan demam tersebut pada 11 September 2019 pukul 19.00
WITA diberikan antibiotik sirup (Amoxicillin syrup) dan obat batuk sirup
(Fluanza) namun keluhan tidak membaik, kemudian pasien dibawa ke IGD RSUP
19

Sanglah pada pukul 24.00 WITA diberikan obat Allerin expectorant, paracetamol
syrup dan Apidys syrup serta pasien diperbolehkan pulang. Setelah pulang
keluhan sedikit membaik dan beberapa jam kemudian pasien mengalami sesak
napas lalu pasien dibawa kembali ke Triage Anak RSUP Sanglah Denpasar pada
12 September 2019.
Sejak sakit, pasien dikatakan nafsu makannya menurun, tidak mau makan
makan padat hanya air dan susu dan pasien mengalami penurunan berat badan 1
kg. Buang air kecil dikatakan normal seperti hari biasa berwarna putih kekuningan
dengan volume ¼ gelas aqua dengan frekuensi 6 kali sehari. Buang air besar
dikatakan normal seperti biasa dengan warna kuning kecokelatan, konsistensi
lembek, dengan frekuensi 1 kali sehari. Sejak sakit, pasien dikatakan lebih rewel
dari biasanya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien dikatakan tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
dan baru pertama kali dirawat di rumah sakit.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat asma, alergi, penyakit jantung, tuberculosis, penyakit ginjal,
diabetes, disangkal ada pada keluarga.
Riwayat Pengobatan
Fluanza, Amoxicillin (11 September 2019 pukul 19.00 WITA)
Allerin expectorant, Paracetamol syrup, Apialys syrup (11 September 2019
pukul 24.00 WITA)
Riwayat Sosial, Pribadi, dan Lingkungan
Pasien merupakan anak pertama (tunggal), dan tinggal pada daerah
pemukiman yang tidak padat, dengan ventilasi rumah yang cukup, dan sinar
matahari yang bebas masuk. Pasien tinggal dengan 8 orang di rumah dan 2 orang
paman pasien dikatakan perokok aktif.
Riwayat Persalinan
Pasien lahir secara sectio caesaria dengan ditolong oleh dokter
kandungan. Persalinan dikatakan mundur satu minggu dari taksiran dengan
riwayat ibu mengalami cephalopelvic disproportion Saat lahir, pasien dikatakan
20

segera menangis dengan berat badan lahir 3000 gram dengan panjang badan 49
cm. Lingkar kepala dikatakan lupa.

Riwayat Imunisasi
 BCG : 1 kali

 Hepatitis B : 4 kali

 DPT : 4 kali

 Polio : 4 kali

 Campak : 1 kali
Riwayat Nutrisi:
 ASI : tidak memperoleh ASI

 Susu formula : 0 bulan-sekarang frekuensi on demand

 Bubur susu : 6 bulan frekuensi 3 kali/hari

 Nasi tim : 10 bulan frekuensi 3 kali/hari

 Makanan dewasa : 12 bulan – sekarang frekuensi 3 kali/hari


Riwayat Tumbuh Kembang
 Menegakkan kepala : 3 bulan

 Membalikkan badan : 4 bulan

 Duduk : 5 bulan
 Merangkak : 6 bulan

 Berdiri : 10 bulan

 Berjalan : 12 bulan
21

 Bicara : 13 bulan

3.1.3 Pemeriksaan Fisik


Status Present:

KeadaanUmum : Baik
Kesadaran : E4V5M6 (15/15)

Laju Nadi : 110 kali/menit, reguler, isi cukup


Laju Napas : 28 kali/menit,reguler
Suhu Aksila : 36,4°C
Saturasi Oksigen : 95%

Status Antropometri:
BB : 10 kg
TB : 80 cm
BBI : 10 kg
Lingkar Kepala : 48 cm
LILA : 14,5 cm
BB/U : Z score -2 - 0 SD
TB/U : Z score -3 - (-2) SD
BB/TB : Z score 0 - (-1) SD
Status Gizi (Waterlow) : 95,0 % (Gizi baik)
Kebutuhan Nutrisi
Kebutuhan Energi : 90 kkal/kgBB/hari ~ 900 kkal/hari
Kebutuhan Protein : 1 gram/kgBB/hari ~ 10 gram/hari
Kebutuhan Cairan : 1000 ml/hari
Status General
Kepala : normosefali, UUB tertutup
Mata : konjungtiva pucat (-), hiperemi (-), sekret (-), ikterus (-),
refleks pupil +/+ isokor, edema palpebra (-)
THT
Telinga : secret (-)
22

Hidung : napas cuping hidung (-),


Tenggorokan : Tonsil : T1/T1, hiperemis (-)
Faring : hiperemis (-)
Mulut : bibir sianosis (-), lidah sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar (-), kaku kuduk (-)
Thoraks : Simetris, retrasksi (-)
Cor
Inspeksi : precordial bulging (-), iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak teraba, kuat angkat (-), thrill (-)
Auskultasi : S1 S2 normal regular, murmur (-)
Pulmo
Inspeksi : gerakan dinding dada simetris statis dan dinamis,
Palpasi : gerakan dinding dada teraba simetris, nyeri tekan (-)
Perkusi : suara sonor +/+
Auskultasi : suara napas vesikuler +/+, rhonki -/- basah halus,
wheezing -/-, stridor inspirasi +
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : hepar tidak teraba, lien tidak teraba, massa (-), turgor kulit
kembali cepat
Perkusi : timpani (+), shifting dullness (-).
Extremitas : akral hangat (+), sianosis (-), edema (-), CRT ≤ 2 detik
Genitalia Eksterna : laki-laki
Kulit : kutis marmorata (-)
 Centor Score :
- Demam :1
- Tidak batuk :0
- Adenopati servikal anterior lunak :0
- Pembengkakakn tonsil atau eksudat :0
- Usia <15 tahun :1
23

Skor total : 2 (lakukan rapid test untuk


menyingkirkan infeksi Streptococcus)
 Westley Score :
- kesadaran normal :0
- stridor saat istirahat :2
- retraksi ringan :1
- air entry normal :0
- Sianosis tidak ada :0
Skor total : 3 (Croup derajat sedang)
 Foto Thorax AP (12/09/19)
- Cor : besar dan bentuk kesan normal, CTR 42%
- Pulmo : tidak tampak infiltrat, corakan bronkovaskuler normal
- Sinus pleura kanan kiri tajam
- Diaphragma kanan kiri normal
- Trakea ditengah, airway patent, steeple sign (+)
- Tulang-tulang : tidak tampak kelainan

3.1.5 Diagnosis Kerja


Sindrom Croup derajat sedang + gizi baik
3.1.6 Penatalaksanaan
- Kebutuhan cairan 1000 ml/hari : mampu minum 300 ml/hari, IVFD D5 ½ NS
30 ml/jam
- Oksigenasi 1-2 lpm sesuai klinis
- Nebulisasi epinefrin 0,5 ml/kg/dosis (larutan 1:1000) ~ 2,5 ml diencerkan dalam
3 ml NaCl 0,9% tiap 4-6 jam
- Metilprednisolon oral 0,5 mg/kg/hari ~ 5mg/hari~1,7 mg tiap 8 jam (per oral)
24

- Paracetamol 10mg/kg/kali ~ 100 mg ~ cth I tiap 4-6 jam bila suhu ≥ 380C
3.1.7 Prognosis
Ad vitam : dubius ad bonam.
Ad fungsionam : dubius ad bonam.
Ad sanationam : dubius ad bonam.

BAB IV
KUNJUNGAN RUMAH
4.1 Kondisi Saat Kunjungan Rumah
4.1.1 Identitas
Nama : IPABM
Umur : 1 tahun 10 bulan 25 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jalan Imam Bonjol Gang Segina Denpasar
Tanggal Kunjungan : 18 September 2019

4.1.2 Anamnesis (Heteroanamnesis – Ibu Pasien)


Riwayat Penyakit Saat ini
Pada saat kunjungan, kondisi pasien baik. Keluhan batuk dan pilek masih
dirasakan, namun keluhan sesak sudah tidak ada. Pasien dikatakan beraktivitas
dan bermain dengan aktif. Minum dikatakan baik. Keluhan lain seperti demam
tidak ada.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Sangah dengan diagnosis
croup derajat sedang dengan keluhan sesak nafas. Sesak dikatakan menetap dan
timbul dengan suara serak saat menarik napas yang muncul saat pasien menangis
dan tidur. Suara grok-grok atau ngik ngik disangkal. Sebelum mengalami keluhan
25

sesak pasien dikatakan batuk dan demam. Riwayat pilek, infeksi telinga, asma,
tuberkulosis, alergi, dan penyakit sistemik lainnya disangkal oleh ibu pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama seperti
pasien. Riwayat asma, alergi, penyakit jantung, tuberculosis, penyakit ginjal,
diabetes, disangkal ada pada keluarga.
Riwayat Pribadi / Sosial / Lingkungan
Pasien merupakan anak pertama (tunggal). Keluarga pasien termasuk
dalam kategori keluarga menengah ke bawah. Ayah pasien bekerja sebagai
supplier yang bertugas mengirim barang dan pulang pada sore hari. Ibu pasien
merupakan seorang ibu rumah tangga. Pasien dikatakan lebih sering tidur pada
malam hari bersama ayah. Pasien diasuh oleh ayah dan ibu kandung pasien di
rumah, terkadang oleh kakek dan nenek dari ibu yang tinggal serumah. Pasien
tidak pernah meminum ASI dari lahir dikarenakan ASI tidak keluar. Pasien hanya
meminum susu formula yang dibeli sendiri dan dikatakan pasien sempat salah
diberikan susu formula yang bukan untuk usianya. Saat ini, pasien dikatakan tidak
mau makan, hanya minum susu formula dan sempat makan satu kali dengan ikan.
Sebelum sakit pasien dikatakan sehari-harinya mengonsumsi makanan padat
berupa nasi, lauk, dan sayur – sayuran yang dimasak oleh neneknya di rumah.
Makanan yang dikonsumsi sehari-hari biasanya dimasak sendiri oleh nenek pasien
dikarenakan ibu pasien tidak bisa memasak, dan kadang membeli makanan seperti
bakso jika ada dagang yang lewat dan pasien minta untuk dibelikan. Pasien sering
membeli makanan ringan di warung sekitar tempat tinggal pasien jika pasien
bermain bersama dengan tetangga. Pasien dikatakan tidak pernah minum obat
cacing padahal pasien sering tidak memakai alas kaki ketika bermain.
Tempat tinggal pasien terletak di sebuah gang kecil di daerah Imam
Bonjol, Denpasar yang tidak dapat dimasuki oleh mobil dan pada daerah
permukiman yang tidak padat. Pasien tinggal serumah dengan 8 orang yang terdiri
dari ayah, ibu, pasien, kakek dan nenek dari ibu, dua orang paman, dan bibi.
Riwayat croup pada tetangga dikatakan tidak diketahui. Rumah pasien dengan
tetangga dipisahkan tembok pemisah. Rumah pasien tampak kurang rapi dan
barang tidak tertata dengan baik. Rumah pasien terdiri dari 4 kamar tidur, 1 kamar
26

mandi, dan 1 dapur. Pasien tidur bersama ayah dan ibu dalam satu kamar.
Meskipun pasien terkadang pasien diasuh oleh kakek dan nenek, namun pasien
tetap tidur bersama kedua orangtuanya Sumber air rumah dikatakan adalah sumur
bor dengan aliran air dari sungai yang terdapat di dekat rumah pasien. Keluarga
pasien mengatakan akan mengganti sumber air menjadi PDAM dikarenakan air
sumur bornya sudah mulai kotor. Sumber air minum dari air minum dalam
kemasan yang dibeli dari warung dekat rumah dan penerangan dari listrik PLN.
Ibu pasien mengaku membersihkan rumah dan mencuci baju menggunakan mesin
cuci setiap hari. Kebersihan kamar mandi cukup terjaga dan tidak berbau. Ibu
pasien juga mengaku rajin membersihkan dapur. Ventilasi terlihat cukup baik dan
matahari bebas masuk. Terdapat beberapa anggota keluarga yang merupakan
seorang perokok aktif yaitu adik laki-laki ibu dan kakak ipar ibu pasien. Setiap
hari mereka dikatakan merokok  1 bungkus. Adik laki-laki dan kakak ipar sudah
sering ditegur ibu pasien untuk tidak merokok dekat dengan pasien.
Riwayat Persalinan
Pasien lahir secara sectio caesaria dengan ditolong oleh dokter kandungan.
Persalinan dikatakan mundur satu minggu dari taksiran dengan riwayat ibu
mengalami cephalopelvic disproportion. Saat lahir, pasien dikatakan segera
menangis dengan berat badan lahir 3000 gram dengan panjang badan 49 cm.
Lingkar kepala dikatakan lupa.
Riwayat Imunisasi
 BCG : 1 kali

 Hepatitis B : 4 kali

 DPT : 4 kali

 Polio : 4 kali

 Campak : 1 kali

Riwayat Nutrisi
 ASI : tidak memperoleh ASI

 Susu formula : sejak usia 0 bulan-sekarang frekuensi on demand


27

 Bubur susu : sejak usia 6 bulan frekuensi 3 kali/hari

 Nasi tim : sejak usia 9 bulan frekuensi 3 kali/hari

 Makanan dewasa : sejak usia 12 bulan – sekarang frekuensi 3 kali/hari

Food Recall 24 Jam


 Susu formula 5 x 100cc
 Air mineral 600 cc.
Riwayat Tumbuh Kembang
 Menegakkan kepala : 3 bulan

 Membalikkan badan : 4 bulan

 Duduk : 5 bulan
 Merangkak : 6 bulan

 Berdiri : 10 bulan

 Berjalan : 12 bulan

 Bicara : 13 bulan
Ibu pasien selalu menstimulasi pasien dengan cara mengajak berbicara dan
bermain dengan pasien. Perkembangan pasien dikatakan agak ada sedikit
keterlambatan berbicara. Pasien saat ini hanya bisa mengucapkan kata papa dan
mama.

4.1.3 Pemeriksaan Fisik (usia: 1 tahun 11 bulan)


Status Present:
Kesan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Nadi : 124 x/menit, regular, isi cukup
Respirasi : 38 x/menit
Suhu Aksila : 36,7°C
TD :-
Status Antropometri:
28

Berat badan lahir : 3000 gram


Panjang badan lahir : 49 cm
Berat badan sekarang : 10 kg
Tinggi badan : 80 cm
Lingkar kepala : - cm
Lingkar lengan atas : 14,5 cm
Berat badan/umur : z-score -2 s/d 0
Tinggi badan/umur : z-score -3 s/d -2
Berat badan/tinggi badan : z-score - 1 s/d 0
Berat Badan Ideal : 10,5 kg
Waterlow : 95% (Gizi Baik)
TB/U% (Palettier 1993) = 91% (Mild Stunting)
Status General:
- Kepala : normocephali.

- Mata : anemia -/-, ikterus -/-, Refleks Pupil +/+ isokor,


- THT : nafas cuping hidung (-), epistaksis (-)

Tonsil : T1/T1, hiperemis (-)

Faring : hiperemis (-)

Mulut : lidah kotor (-), sianosis (-), bibir kering (-)

Leher : pembesaran kelenjar (-), kaku kuduk (-)

- Thoraks

Cor
Inspeksi : precordial bulging (-), iktus kordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba, kuat angkat (-), thrill (-)
Auskultasi : S1 S2 normal regular, murmur (-)
Pulmo
Inspeksi : gerakan dinding dada simetris statis dan dinamis,
retraksi (-)
29

Palpasi : gerakan dinding dada teraba simetris, nyeri tekan


(-)
Perkusi : suara sonor +/+
Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler +/+, rhonki -/-,
wheezing -/-
- Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus (+)
Palpasi : hepar tidak teraba, lien tidak teraba, turgor kulit
kembali cepat
Perkusi : timpani (+), shifting dullness (-).
- Extremitas : akral hangat (+), cyanosis (-), edema (-), CRT < 2
detik.

- Genitalia Eksterna :laki-laki

- Kulit : kutis marmorata (-).

4.1.4 Daftar Masalah (Problem List)

Daftar Masalah (Problem List)

Croup yang terjadi pada pasien ini kemungkinan disebabkan oleh adanya
faktor kelainan gizi diderita oleh pasien. Kelainan gizi yang dimaksud adalah
tinggi badan pasien tidak sesuai dengan tinggi badan pada anak seusianya yang
menunjukan bahwa pasien memilki masalah gizi yang kronis, hal ini mungkin
berperan dalam menyebabkan daya tahan tubuh pasien buruk sehingga pasien
rentan terhadap penyakit infeksi. Selain itu juga pasien tidak mendapatkan ASI
ekslusif dari ibu karena ASI tidak keluar, hal tersebut mungkin juga menjadi
faktor yang berperan dalam terjadinya infeksi croup yang dialami pasien oleh
30

karena pasien tidak memiliki kekebalan pasif yang didapatkan dari ibunya
melalui ASI.

Selain faktor kelainan gizi pasien juga mengalami paparan asap rokok dari
anggota keluarga yaitu adik laki-laki dari ibu pasien dan kakak iparnya yang
sering merokok dalam rumah, asap rokok dari lingkungan dalam rumah pasien
terhirup secara pasif oleh pasien yang akan mengganggu sistem pernapasan pasien
sehingga bisa memperburuk penyakit pasien. Kepadatan penghuni rumah dimana
dalam satu rumah tinggal 3 anggota keluarga, hal ini akan menyebabkan
mudahnya penularan penyakit pernapasan atau infeksi yang bisa menyebabkan
terjadinya kasus tersebut.

Analisis Kasus

Kebutuhan Dasar Anak

a. Kebutuhan fisik-biomedis (ASUH)

Kebutuhan pangan/gizi

Pasien tidak mendapatkan ASI dan menggunakan susu formula


sebagai penganti ASI tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena ASI ibu
tidak kunjung keluar. Pasien juga mendapat makanan pendamping ASI
pada usia 6 bulan. Berat badan pasien sesuai dengan umur dan jenis
kelamin namun tinggi badan pasien tidak sesuai dengan umurnya. Berat
badan sekarang yaitu 10 kg, dengan tnggi badan 80 cm, didapatkan dari
hasil perhitungan z-score berat badan/umur : -2 s/d 0, tinggi badan/umur
-3 s/d -2, berat badan/tinggi badan - 1 s/d 0, berat badan ideal : 10,5 kg,
waterlow : 95% (Gizi Baik), TB/U% (Palettier 1993) = 91% (Mild
Stunting).

Sandang

Keperluan sandang cukup diperhatikan oleh keluarga. Mereka


membeli pakaian baru saat ada uang lebih. Dari pengamatan, kebersihan
dari pakaian penderita dan keluarganya cukup diperhatikan, karena ibu
mencuci pakaian anak dan anggota keluarga lainnya setiap 2 hari.
31

Papan

Penderita tinggal Jl. imam bonjol gang segina No.7B, Denpasar. Di


sekitar rumah terdapat halaman kecil berisi kendaraan penghuni rumah,
tanaman- tanaman hias. Pasien sehari-hari tidur bersama di kamar rumah
berukuran +/- 3x4 meter dengan dinding semen yang dilapisi cat, lantai
dari keramik dengan ventilasi dan pencahayaan matahari yang baik.
Rumah tersebut terdiri 3 tempat tidur, 1 kamar mandi, dan 1 dapur dan
ruang tamu. Sumber air adalah air PAM, sumber air minum dari air minum
isi ulang yang dibeli dari distributor air minum langganan pasien, dan
sumber penerangan dari listrik PLN. Kamar mandi dan dapur terkesan
bersih.

Perawatan kesehatan dasar


Perawatan kesehatan dasar cukup diperhatikan. Namun anak tidak
mendapat ASI diberikan susu formula untuk mengantikan ASI yang tidak
ada. Anak sejauh ini mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. Orangtua
biasanya membawa pasien berobat ke puskesmas dekat rumah jika pasien
sakit.

Keluarga
Pasien tinggal bersama ibu, ayah dan keluarga di rumah dengan
kebersihan rumah yang cukup namun kebersihan lingkungan sekitar yang
tidak terlalu bersih. Pasien tidur di kamar berukuran 3x4m dengan kondisi
kamar yang cukup rapi dengan lantai yang rutin dibersihkan.

Lingkungan rumah
Di depan rumah pasien terdapat halaman kecil tempat memarkir
motor dan menjemur pakaian yang langsung berbatasan dengan jalan kecil
di depan rumahnya. Di sekitar rumah pasien juga tidak ditemukan adanya
selokan yang tergenang yang agak kotor airnya. Secara umum kondisi
lingkungan sekitar rumah pasien tampak kurang bersih. Hal ini dibuktikan
dengan adanya halaman kecil yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan liar.

-Waktu bersama keluarga


32

Pasien tinggal bersama ibu, ayah dan keluarga. Ayah pasien bekerja
sebagai kariawan dikantor pengiriman barang, sedangkan ibu pasien tidak
bekerja. Orang tua masih punya banyak waktu untuk menemani pasien. Saat
ayah pasien bekerja, ibu pasien biasanya hanya tinggal di rumah dan
mengasuh anaknya.

b. Kebutuhan emosi/kasih sayang (”ASIH”)

 Hubungan emosi dengan orang tua

Orang tua tampak menyayangi pasien dan sangat memperhatikan anaknya


yang masih kecil.

 Hubungan kasih sayang dengan orang tua

Hubungan orang tua dan pasien tampak baik. Kedua orang tua pasien
selalu menyempatkan diri untuk memberikan perhatian kepada anaknya.

c. Kebutuhan akan stimulasi mental (”ASAH”)

Ibu dan ayah membantu anak dalam proses perkembangan anak. Sejak
kecil orang tua memberikan stimulasi kepada anak di rumah yang masih
kecil. Anak kadang-kadang dibelikan mainan dan juga diajak untuk belajar
berbicara dan bermain. Ibu pasien juga mengajak anaknya berbicara untuk
menstimulasi anak agar dapat berbicara.

4.2.2 Analisis Bio-Psiko-Sosial


Biologis
Secara fisik pasien tampak sehat, namun status gizi pasien tergolong baik. Status
gizi menurut Waterlow 95%. Pada saat kunjungan didapatkan hasil dalam kriteria
gizi baik namun memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur pasien.
Pasien tidak mendapat ASI eksklusif dan asupan minum tercukupi oleh susu
formula dan makanan tambahan lainnya.
-Psikologis
Pasien mendapat cukup perhatian dari kedua orang tuanya terutama masalah
kesehatannya. Orang tua terutama ibunya tetap menjaga dan memperhatikan
33

kesehatan pasien, serta segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat jika
anak mengalami sakit
Sosial
Penyakit yang diderita pasien mempengaruhi aktivitas pasien pada saat sakit.
Pasien saat ini dikatakan kembali aktif seperti sebelum sakit. Pasien dikatakan
anak yang aktif dan sering bermain sendiri ataupun bersama anak-anak
seumurannya di depan rumah.
Lingkungan Rumah
Dalam satu rumah pasien tinggal bersama ibu, ayah dan keluarga. Pasien tidur
bersama ayah dan ibu di kamar utama. Sumber air rumah dikatakan adalah air
PAM, sumber air minum dari air minum isi ulang, dan penerangan dari listrik
PLN. Kebersihan rumah tampak baik karena ibu membersihkan rumah hampir
setiap hari. Toilet dan dapur cukup bersih dan tidak berbau. Barang-barang rumah
tangga terlihat cukup tertata dengan rapi. Ventilasi dan pencahayaan matahari
terlihat baik. Lingkungan sekitar rumah pasien terlihat kurang bersih karena
terdapat halaman kecil yang diisi oleh kendaraan penghuni rumah, tumbuhan liar.

4.2.3 Faktor risiko


Beberapa penyebab dan faktor risiko terjadinya sindrom croup adalah usia
pasien yang berada diantara 6 bulan – 6 tahun, tidak mendapatkan ASI eksklusif,
serra faktor lingkungan yang menyebabkan pasien menjadi rentan terkena infeksi
pada saluran pernafasan.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
34

5.1 Simpulan
Adapun simpulan dari laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Pasien dalam kondisi baik setelah keluar dari rumah sakit dimana keluhan
sesak sudah tidak ada. Saat ini pasien mampu beraktivitas dan bermain
dentan aktif seperti saat sebelum pasien masuk Rumah Sakit.
2. Lingkungan sekitar rumah pasien terlihat kurang bersih karena halaman
rumah dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan liar dan terdapat tempat untuk
menjemur pakaian yang langsung berbatasan dengan jalan kecil di depan
rumahnya.
3. Salah satu penyebab dan faktor risiko terjadinya sindrom croup adalah usia
antara 6 bulan hingga 6 tahun, tidak mendapatkan ASI eksklusif, serta
selain itu kepadatan penduduk menyebabkan mudahnya penularan penyakit
pernapasan atau infeksi.
4. Telah diberikan edukasi kepada orang tua mengenai penyakitnya, bahwa
salah satu faktor risiko terjadinya sindrom croup adalah faktor lingkungan.
Pentingnya untuk menjaga agar lingkungan bersih dan selalu menjauhkan
anak dari penderita penyakit saluran pernapasan.

5.2 Saran
ASUH
1. Meningkatkan kebersihan dan sanitasi rumah.
ASIH
1. Meningkatkan kekompakan dalam memberikan kasih sayang kepada anak.
2. Meningkatkan kewaspadaan dalam pertumbuhan dan perkembangan pasien.
ASAH
1. Membelikan anak mainan dan juga diajak untuk belajar berbicara dan
bermain untuk membantu perkembangan anak.
2. Mengajari anak sedini mungkin untuk membiasakan diri hidup sehat.

DAFTAR PUSTAKA
35

1. Watts KD, Goodman DM. Wheezing in infants: Bronchiolitis. In: Behrman


RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors. Nelson textbook of pediatrics. 19th
ed. WB Saunders.2011: 1456-9.
2. American Academy of Pediatric. Diagnosis and Management of
Bronchiolitis. Pediatrics. 2006;118 (4).
3. World Health Organization. Pocket book of hospital care for children:
Guidelines for the management of common childhood illnesses. 2nd ed.
2013.
4. Welliver RC. Bronchiolitis and infectious asthma. In: Feigin RD, et al.
Feigin Textbook of Pediatric Infectious Disease. 6th ed. WB
Saunders.2009: 277-85.
5. Said, M. Pengendalian Pneumonia Anak-Balita dalan Rangka Pencapaian
MDG4. Kemenkes RI: Buletin Jendela Epidemiologi. 2010; 3: 2087-1546.

6. MS, Sidhartani M, Wastoro D. Pulmonologi anak. Dalam : Hartantyo I,


Susanto R, Tamam M dkk. Pedoman pelayanan medik anak edisi kedua.
Semarang. Bagian IKA FK UNDIP. 1997: 83 – 85.
7. Mansjoer, Suprohaita, dkk. Bronkiolitis akut. Dalam : Kapita selekta
kedokteran jilid 2. Jakarta. Media Ausculapius FK UI. 2000: 468 – 469.
8. Sidhartani M. Bronkiolitis. Dalam : Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi
pertama. Jakarta. UKK Respirologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2008: 333-347.

9. Zorc JJ, Hall CB. Bronchiolitis: Recent Evidence on Diagnosis And


Management. Paediatrics. 2010; 125: 342-49.
10. Friedman JN, Rieder MJ, Walton JM, Canadian Paediatric Society, Acute
Care Committee, Drug Therapy and Hazardous Substances Committee CP,
Committee AC, Committee DT and HS. Bronchiolitis: Recommendations
for diagnosis, monitoring and management of children one to 24 months of
age. Paediatric Child Health. 2014;19(9):485–98.
11. (UK) NCC for W and CH. Bronchiolitis: Diagnosis and Management of
Bronchiolitis in Children. Bronchiolitis: Diagnosis and Management of
Bronchiolitis in Children. National Institute for Health and Care
Excellence (UK). 2015.
36

12. Dwi, G. 2011. Laringotrakeitis (Croup). Diakses tanggal 15 September


2019. Tersedia di: https://www.scribd.com/doc/74382071/Laringotrakeitis-
Croup.
13. Rahajoe, N.N., et al. 2010. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI, edisi pertama.
14. Malhotra, Amisha and Leonard R. Krilo. 2017. Viral Croup. American
Academy od Pediatric. Diakses tanggal 15 September 2019. Tersedia di:
https://pedsinreview.aappublications.org/content/pedsinreview/22/1/5.full.
pdf.
15. Putri, A. 2017. Case 2 Anak Sindrom Croup. Diakses tanggal 15
September 2019. Tersedia di:
https://www.scribd.com/document/343510196/CASE-2-ANAK-
SINDROM-CROUP-doc.
16. Woods, C.R., et al. 2019. Patient education: Croup in infants and children
(Beyond the Basics).

17. Zoorob R, Sidani M, Murray J. Croup: An Overview. American Family


Physician 2011; 83 (9). p. 1067-1072.
18. Rajapaksa S, Starr M, Croup assesment and management. Austr Fam
Physician. 2010;38(5):280-2.
19. Malhotra dan Krilov 2011.Viral croup. Ped Rev. 2011;22:5-12.
20. Wilkinson MD, Turner F, Harris C, Evidance based guideline for the
management of croup. AFP.2008;37(6):14-9.
21. WebMD. 2017. What is Croup? What causes it?
22. Cherry JD (2008). "Clinical practice. Croup". N. Engl. J. Med. 358 (4):
384–91. doi:10.1056/NEJMcp072022. PMID 18216359.
23. Everard ML (February 2009). "Acute bronchiolitis and croup". Pediatr.
Clin. North Am. 56 (1): 119–33, x–xi. doi:10.1016/j.pcl.2008.10.007.
24. Wald EL. Croup: common syndromes and therapy. Pediatri Ann. 2010 Jan.
39(1):15-21.

25. Bjornson, CL. Johnson, DW. (2013). Croup in Children, CMAJ, 185(15), pp.
1317-1323

26. Kementerian Kesehatan RI, 2011. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi
Anak. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan
37

Anak.http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/11/buku-sk-antropometri-
2010

27. Croup. Family Doctor—American Academy of Family Physicians. website.


Available at: http://familydoctor.org/familydoctor/en/diseases-
conditions/croup.printerview.all.html. Updated March 2017.

28. Ismawanti, proverrawati. 2010. Berat Bayi lahir Rendah dilengkapi dengan
Asuhan pada Berat Bayi Lahir Rendah Pijat Bayi, Yogyakarta: Muha Medika.

29. Yudarmawan, IN. 2012. Pengaruh Faktor-Faktor Sanitasi Rumah Terhadap


Kejadian Penyakit ISPA Pada Anak Balita (Study Dilakukan pada Masyarakat di
Desa Dangin Puri Kangin Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar Tahun
2012). Skripsi. Denpasar: Poltekkes Denpasar.

30. Zoorob, Roger & Sidani, Mohamad & Murray, John. (2011). Croup: An
Overview. American family physician. 83. 1067-73
31. Yangtjik K, Dadiyanto DW. Croup (laringotrakeobronkitis akut). Dalam
Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku ajar
respirologi anak.Edisi pertama. Jakarta: Badan penerbit IDAI;
2010.h.320-29
32. Schomacker, Henrick; Schaap-Nutt, Anne; Collins, Peter L; Schmidt,
Alexander C (2012). "Pathogenesis of acute respiratory illness caused by
human parainfluenza viruses". Current Opinion in Virology. 2 (3): 294–
299.
33. Schaap-Nutt, Anne; Liesman, Rachael; Bartlett, Emmalene J.; Scull,
Margaret A.; Collins, Peter L.; Pickles, Raymond J.; Schmidt, Alexander
C. (2012). "Human parainfluenza virus serotypes differ in their kinetics of
replication and cytokine secretion in human tracheobronchial airway
epithelium". Virology. 433 (2): 320–328.
34. Dominic A dan Henry A Kilham Fitzgerald, 2003, Croup: Assesment and
Evidence-Based Management. Medical Journal The Australia. MJA 2003;
179 (7) : 372-377
35. Croup (Laringotrakeobronkitis akut), Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi
Pertama. Badan Penerbit IDAI: 2008. p 320-328
38

36. Abdul Latief, Bambang Tridjaja, dkk. 2012. Kegawatan Pada Bayi Dan
Anak. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Hal 87-89
37. Zoorob R, Sidani M, Murray J. Croup: An Overview. American Family
Physician 2011; 83 (9). p. 1067-1072.
38. Rajapaksa S, Starr M, Croup assesment and management. Austr Fam
Physician. 2010;38(5):280-2.
39. Hiebert JC, Zhao YD, Willis EB. Bronkhoscopy finding in recurrent
croup: a sytematic review and meta-analisis. Int J Pediatr
Otorhinolaryngol. 2016;90:86-90
40. Kartasasmita CB, Suardi AU, Nataprawira HM, Sudarwati S, Wulandari
DA. Respirologi. Dalam: Garna H, Nataprawira HM, editor. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-4. Bandung:
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokeran Universitas
Padjadjaran- RSUP Dr. Hasan Sadikin; 2012. h. 779-880
41. Yangtjik K, Dadiyanto DW. Croup (Laringotrakeobronkitis).
Dalam:Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar
Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia;
2010. Hlm.320-329.
42. Malhotra dan Krilov 2011.Viral croup. Ped Rev. 2011;22:5-12.
43. Wilkinson MD, Turner F, Harris C, Evidance based guideline for the
management of croup. AFP.2008;37(6):14-9.
44. Sharma BS, Shekhawat DS, Sharma P, Meena C, Mohan H. Acute
respiratory distress in children: Croup and Acute Asthma. Indian J Peaiatr.
2015;82(7):629-36.
45. Mandal A, Kabra SK, Lodha R. Upper Airway Obstruction in Children.
Indian J Pediatr. 2015;82(8):737-44.
46. Ifran EB. Peran pencitraan pada kegawatan anak. Dalam: Trihono PP,
Widiastuti E, Gayatri P, Sekartini R, Indawati W, Idris NS, penyunting.
Kegawatan pada bayi dan anak. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan
Anak FKUI-RSCM 2012. h.163-74.
47. Kaswandani N. Croup. Dalam: Trihono PP, Widiastuti E, Gayatri P,
Sekartini R, Indawati W, Idris NS, penyunting. Kegawatan pada bayi dan
39

anak. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM 2012.


h.86-94.
48. Bjorson C, Russel KF, Vandamer B, Durec T, Klassen TP, Johnson DW.
Nebulized epinefrin for croup in children. Cochrarane Database Syst Rev.
2011;20:1-7
49. Gelbart B, Parsons S, Sarpal A, Ninova P, Butt W. Intensive care
management of children intubated for croup: a retrospective analysis.
Anaesth Intensive Care. 2016;44(2):245-50.
50. Ernest S, Khandhar PB. Laryngotracheobronchitis. [Updated 2019 Mar
22]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing;
2019 Jan-. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519531/
51. Defendi, Germaini L.Croup.2018.Diakses pada 22 September
2019.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/962972-
overview#a6
40

LAMPIRAN

Gambar 2.Gambar
Kondisi 1. Kondisi
Rumah Lingkungan rumah
Pasien
pasien

Gambar 3. Kondisi Rumah Pasien Gambar 4. Proses Kunjungan Lapangan

Gambar 5. Proses Kunjungan Lapangan