Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PENGELOLAAN RISIKO BISNIS

”PENGELOLAAN RISIKO USAHA, PIHAK


YANG BERTANGGUNGJAWAB DALAM
PENGELOLAAN RISIKO”
Dosen Pengampu: Hanifah Sri Nuryani,M.M

Di susun oleh:

1. Kristiana (17.01.031.060)
2. Kartika (17.01.031.059)
3. Hamriadi (17.01.031.043)
4. Haiqal Idham .K ( )
5. Lalu Juanda (17.01.031.062)

PROGRAM STUDY MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA

Tahun 2019

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memberi pengetahuan tentang alam semesta,
pusat dari segala ritme kosmos, segala hal akan kembali kepada-Nya. Kepada baginda
Muhammad SAW, shalawat akan senantiasa kami lantunkan sebagai bentuk kecintaan kami
kepadamu. Sehingga kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas
mata kuliah Pengelolaan Risiko Bisnis.

Makalah ini disusun agar pembaca maupun penulis dapat memperluas ilmu pengetahuan
mengenai Pengelolaan Risiko Bisnis, yang kami sajikan berdasarkan referensi dari buku-buku
maupun internet yang kami kumpulkan kemudian kami ambil poin-poin pentingnya.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca maupun penulis
terkhususkan para mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa.Kami sadar bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu untuk kepada dosen
pengampu, kami mengharapkan masukannya agar dikemudian hari kami dapat menyelesaikan
makalah dengan lebih baik dan juga kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Sumbawa,19 Februari 2019

Kelompok 4

2
DAFTAR ISI

KATA PENGENTAR……………………………………………………………………..2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….3
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….4
A. Latar Belakang…………………………………………………………………….4
B. Rumusan Masalah…………………………………………………………………4
C. Tujuan……………………………………………………………………………....4
D. Manfaat …………………………………………………………………………….4
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………...5
1.1 Pengertian Risiko Bisnis………………………………………………………………5
1.2 Contoh Usaha Dengan Risiko Kecil…………………………………………………..5
1.3 Langkah Dasar Membuat Pengelolaan Risiko Usaha……………………………….6
1.4 Strategi Pengelolaan Risiko Dalam Kegiatan Bisnis………………………………...7
1.5 Cara Mengkalkulasi Besaran Risiko…………………………………………………7
1.6 Strategi Pengelolaan Risiko…………………………………………………………...8
1.7 Tips Praktis Mengelola Risiko Untuk Pemula……………………………………….9
1.8 Pihak Yang Bertanggung Jawab Dalam Pengelolaan Resiko……………………...10
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………….12
2.1 Kesimpulan…………………………………………………………………….12
2.2 Saran…………………………………………………………………………...12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………...13

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Memulai suatu bisnis membutuhkan keberanian, tekad, dan manajemen serta strategi
bisnis yang baik. Namun jika Anda telah melakukan semua itu, bukan berarti jaminan bahwa
Anda akan terhindar dari resiko usaha. Dalam perkembangan dan perjalanan usaha, Anda pasti
menghadapi kendala dan kesulitan, baik yang kecil maupun kendala yang besar. Kendala
tersebut biasa kita kenal sebagai resiko usaha. Selain mendapatkan keuntungan dalam berbisnis,
telah sukses sekalipun, bukan tidak mungkin menghadapi kendala yang bernama resiko usaha.
Resiko usaha memang tidak bisa dipisahkan serta menjadi kesatuan dari bagian dari suatu bisnis
atau usaha. Ketika memiliki suatu usaha, kerap kali resiko yang muncul tidak hanya disebabkan
oleh faktor individu atau karyawan, namun bisa juga terjadi karena faktor manajemen, strategi,
dan sistem perusahaan yang kurang baik.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan pengelolaan risiko bisnis?


2. Bagaimana strategi pengelolaan risiko dalam kegiatan bisnis?
3. Siapakah pihak yang bertanggungjawab dalam pengelolaan risiko bisnis?

C. Tujuan
1. Mengetahui terkait tentang pengelolaan risiko bisnis
2. Mengetahui strategi pengelolaan risiko bisnis dalam kegiatan bisnis
3. Mengetahui pihak yang bertanggungjawab dalam pengelolaan risiko bisnis

D. Manfaat
1. Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang pengelolaan risiko bisnis
2. Mengenal lebih jelas tentang strategi dan siapa saja yang bertanggungjawab dalam
pengelolaan risiko bisnis

4
BAB II

PEMBAHASAN

1.1 Pengertian resiko bisnis

Resiko usaha adalah suatu bahaya, atau akibat yang kemungkinan dapat terjadi pada
keadaan sebuah usaha yang sedang berlangsung maupun situasi usaha yang akan datang. Sifat
dari resiko usaha itu sendiri adalah tidak pasti dan sebagian besar menimbulkan kerugian. Resiko
usaha merupakan situasi yang tidak dikehendaki oleh para pelaku bisnis, namun resiko usaha
sendiri selalu tidak bisa dihindarkan. Resiko usaha biasanya muncul karena faktor pelaku bisnis
itu sendiri dan dapat muncul karena kegiatan dan keputusan yang diambil dalam kegiatan
rutinitas sehari-hari. Resiko dapat bersifat pasti maupun tidak pasti, tergantung dari usaha yang
dijalankan dan bagaimana cara menjalankan usaha tersebut.

1.2 Contoh Usaha dengan Resiko Kecil

Usaha dengan resiko kecil adalah sebuah usaha yang di bentuk dengan membutuhkan
modal yang kecil. Dengan dikeluarkannya modal yang kecil, otomatis memiliki resiko kerugian
yang sangat kecil pula. Lain halnya dengan usaha yang memerlukan modal yang besar, tentu
resiko yang dimiliki juga besar. Bidang jasa dan usaha rumahan atau yang biasa kita kenal
dengan sebutan home industry dapat digolongkan dalam usaha dengan resiko kecil.

Contoh-contoh usaha dengan resiko kecil antara lain: jasa kurir, bimbingan belajar, jasa
cuci pakaian atau jasa pengetikan. Anda tidak membutuhkan modal yang sangat besar untuk
membuka usaha yang bergerak di bidang jasa, serta sangat kecil kemungkinan untuk merugi,
karena modal yang Anda keluarkan pun tidak terlalu besar. Sebagai sebuah contoh konkret usaha
wartel adalah contoh usaha dengan resiko kecil, modal utama yang diperlukan adalah sebuah
telepon dan jaringannya. coba bayangkan berapa penghasilan yang masuk dalam satu bulan.
Sudah dapat ditebak bahwa penghasilan yang diperoleh tidak terlalu banyak, dikarenkan sudah
banyaknya masyarakat yang memiliki telepon genggam. Semakin besar modal yang Anda
keluarkan, semakin besar resiko yang Anda ambil, maka semakin besar pula keuntungan yang
akan Anda peroleh. Semakin kecil modal yang Anda keluarkan, semakin kecil resiko yang Anda
ambil, maka semakin kecil pula keuntungan yang akan Anda peroleh.

Dapatkan Ilmu Bisnis Secara Gratis via Kuliah Online Terbaru UCEO

Ketika kita hendak memulai usaha bisnis darimana kita terlebih dahulu memulainya? DR (HC).
Ir.Ciputra pernah berkata “lebih baik kita bertengkar selama masa perencanaan daripada
bertengkar selama masa pelaksanaan” dengan kata lain tuntaskan sebanyak mungkin pertanyaan

5
dan permasalahan usaha bisnis sebelum usaha tersebut dilakukan. Langkah pertama yang harus
Anda lakukan adalah "Berburu Peluang Usaha" dan UCEO telah mempersiapkan pembelajaran
ini secara gratis untuk siapapun Anda dan dimanapun Anda berada

1.3 Langkah Dasar Membuat Pengelolaan Risiko Usaha

Pengelolaan risiko usaha yang baik akan membantu pengusaha untuk meminimalisasi
dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. Setiap pengusaha sejatinya adalah seorang
pengambil risiko. Sayangnya, masih banyak yang belum menyadari bahwa risiko tersebut
sebenarnya dapat dikelola. Pengelolaan risiko usaha yang baik akan membantu pengusaha untuk
meminimalisasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.

Memang, skema pengelolaan risiko bisa jadi sangat kompleks, terutama bagi orang yang
baru terjun ke dunia bisnis. Tapi hal tersebut bukan sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan jika
para pengusaha mengerti langkah-langkah dasar pengelolaan risiko. Chandra Liestiawan,
Business Coach PT Formula Bisnis Indonesia, memaparkan ada empat langkah dasar yang dapat
dilakukan oleh pelaku UMKM untuk membuat pengelolaan risiko perusahaan.

1. Identifikasi risiko

Agar bisa menyusun pengelolaan risiko, pelaku usaha perlu mengenali terlebih dulu risiko apa
saja yang dapat timbul pada kegiatan usaha, yakni risiko internal sepertu kelancaran arus kas,
kelancaran pasokan bahan baku, dll, serta risiko eksternal seperti bencana alam, perubahan
peraturan, perubahan persaingan, dsb.

2. Penilaian tiap risiko

Setelah semua risiko dapat diidentifikasi dan didaftar, pelaku usaha sebaiknya memberikan
penilaian seberapa besar dampak dari tiap risiko tersebut pada kelangsungan usaha. Misalnya
kelancaran arus kas memiliki nilai risiko paling tinggi, sedangkan pasokan bahan baku memiliki
nilai risiko sedang.

Selain itu, lakukan penilaian juga pada terhadap kemampyan perusahaan dalam menghadapi
risiko-risiko tersebut. Jangan lupa, beri perhatian lebih terhadap risiko kritikal, yakni risiko yang
jika terjadi akanberdampak paling signifikan bahkan bisa melumpuhkan usaha.

3. Rencana penanggulangan

Langkah selanjutnya adalah dengan membuat rencana penanggulangan untuk setiap risiko,
terutamauntuk risiko kritikal. Rencana tersebut meliputi hal apa saja yang perlu dipersiapkan dan
dilakukansupaya terhindar dari risiko, atau jika risiko terjadi.

Misalnya, dengan mengasuransikan aset perusahaan, mengasuransikan kesehatan karyawan,


menerapkan standard keamanan untuk mencegah kecelakaan kerja, dan menghindari transaksi
dengan pihak yang memiliki risiko gagal bayar.
6
4. Monitor dan evaluasi secara berkala

Jika semua rencana penanggulangan selesai disusun, jangan lupa untuk selalu melakukan
monitoring pada pelaksanaan rencana-rencana yang telah disusun tersebut.

Berikan evaluasi, rencana mana yang bekerja dengan baik, rencana mana yang perlu disesuaikan,
danrencana mana yang perlu diganti. Pasalnya, situasi dan kondisi di dalam perusahaan maupun
di luar perusahaan akan terus berubah. Risiko harus diperlakukan sebagai sesuatu yang hidup dan
dapat berubah, sehingga diperlukan penyesuaian yang berkelanjutan.

“Minat pasar bisa berubah, skala bisnis bisa berkembang, pesaing-pesaing baru bisa muncul,
bahkan pemikiran dan perasaan karyawan pun bisa berubah. Hal tersebut tentunya bisa
menimbulkan risiko-risiko baru, yang juga membutuhkan rencana penanganan yang baru,”
katanya.

1.4 Strategi Pengelolaan Risiko dalam Kegiatan Bisnis

Dalam kehidupan sehari -hari, kita tidak akan terlepas dari adanya risiko. Intensitas risiko
yang harus dihadapi ini pun akan semakin meningkat ketika kita melakukan kegiatan bisnis. Ada
banyak potensi risiko yang harus dihadapi dalam bisnis. Meski kita tidak akan terlepas dari
adanya risiko, tapi bukan berarti bahwa kita harus menghindari kegiatan bisnis tersebut dan sama
sekali melepaskan risiko yang ada. Sebab, Anda bisa melakukan pengelolaan risiko untuk
meminimalisir kemungkinan terjadinya risiko tersebut.

1.5 Cara Mengkalkulasi Besaran Risiko

Jika Anda sudah mempunyai usaha, maka Anda bisa dengan mudah melakukan kalkulasi atau
perhitungan tentang seberapa besar risiko yang mungkin terjadi. Cara yang bisa Anda gunakan
untuk mengkalkulasi besaran risiko, yakni :

1. Temukan seberapa sering suatu risiko terjadi (FREKUENSI terjadinya risiko atau
probability -risiko)
2. Tentukan dampak yang ditimbulkan dari risiko yang terjadi (DAMPAK)
3. Hitung kemungkinan prediksi kerugian, dengan menggunakan formula : FREKUENSI X
DAMPAK

Sebagai contoh, perhatikan data berikut :

Anda mempunyai risiko terjadinya pencurian barang dagangan. Lalu, Anda melakukan
identifikasi. Potensi terjadinya risiko pencurian barang tersebut adalah 5 kali dalam 1 bulan.
Untuk setiap kejadian pencurian barang tersebut, maka rata -rata Anda merugi Rp 200.000.

7
Dari informasi ini, Anda bisa menghitung prediksi besarnya kerugian yang dihadapi dari risiko
pencurian barang dagangan tersebut selama satu bulan. Perhitungannya, yakni :

= 5 x Rp 200.000 = Rp 1.000.000

Artinya, dalam satu bulan, ada kerugian risiko pencurian barang dagangan yang berpotensi
menyebabkan Anda mengalami kerugian senilai Rp 1.000.000.

1.6 Strategi Pengelolaan Risiko

Dari setiap tipe risiko yang harus dihadapi di daftar prioritas Anda, Anda bisa mengatasinya
dengan strategi pengelolaan risiko. Setidaknya, ada empat pilihan strategi pengelolaan risiko
yang bisa dilakukan, yakni : dikontrol, ditransfer ke pihak lain, dibiayai sendiri, dan dihindari.

1. dikontrol (Risk Control)

Risiko yang dikontrol ini artinya Anda melakukan upaya -upaya agar probabilitas terjadinya
risiko yang telah diidentifikasi menjadi berkurang. Mengontrol risiko ini juga dimaksudkan
untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengontrol risiko ini dapat meliputi : membuat dan
mengimplementasikan standard operating procedure (SOP) yang baik, melakukan pengontrolan
dengan serius terhadap kualitas produk dan proses, melengkapi area produksi dengan berbagai
alat keselamatan kerja yang diperlukan, serta mengintroduksi budaya sadar risiko pada seluruh
karyawan.

2. ditransfer ke pihak lain (Risk Transfer)

Strategi pengelolaan risiko dengan cara ditransfer ke pihak lain ini dilakukan dengan upaya -
upaya yang secara sadar dengan jalan memindahkan risiko yang dihadapi terhadap pihak lain.
Untuk melakukan hal ini, dapat dilakukan dengan memindahkan risiko terjadinya kebakaran toko
pada perusahaan asuransi.

Cara lain semisal untuk memindahkan risiko terkait meningkatkan beban biaya tetap pegawai,
hal ini bisa dilakukan dengan kontrak outsourcing. Selain itu, untuk memindahkan risiko
tingginya modal kerja kepada konsumen, ini bisa diatasi dengan jalan meminta pembayaran di
awal, atau dengan memindahkan risiko tingginya biaya persediaan ke tangan supplier.

3. dibiayai sendiri (Risk Retention)

Dibiayai sendiri atau risk retention ini adalah strategi pengelolaan risiko yang dilakukan dengan
upaya -upaya mendanai dampak yang mungkin ditimbulkan oleh risiko. Maksudnya, konteks

8
mendanai risiko ini dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan menyiapkan dana cadangan
(allowance) khusus guna mendanai risiko, atau tanpa membuat dana cadangan.

Dengan membuat dana cadangan, hal ini dapat menimbulkan risiko baru, yakni terganggunya
kegiatan bisnis yang sudah direncanakan sebelumnya. Sebagai contoh, terdapat risiko kebakaran
dari toko yang kita tempati.

Apabila kebijakan pengelolaan risiko adalah dibiayai tanpa ada dana cadangan, maka bisa jadi
dana yang seharusnya digunakan untuk ekspansi usaha akan terpakai untuk membiayai perbaikan
toko tersebut. Karenanya, ekspansi pun bisa gagal dilakukan.

4. dihindari (Risk Avoidance)

Pengelolaan risiko dengan dihindari, yakni suatu tindakan yang dilakukan secara sadar untuk
menghindari risiko yang dihadapi. Sebagai contoh, apabila selama satu minggu ke depan ada
prediksi hujan akan turun dengan lebat, maka apabila Anda memiliki bisnis restoran, Anda akan
disarankan untuk menghindari penjualan berbagai macam minuman dingin atau aneka es.

Hal ini dilakukan lantaran kemungkinan dari penjualan produk -produk minuman dingin atau es
ini akan menurun atau tidak akan laku. Tapi, perlu pula diingat, bahwa sebagai wirausaha,
apabila Anda terlalu sering melakukan penghindaran terhadap risiko, ini bisa berdampak
terhadap lambatnya perkembangan usaha Anda.

Kenapa demikian? sebab, bisa saja terdapat banyak kesempatan atau peluang yang terlewatkan
ketika Anda memilih usaha penghindaran risiko ini. Karenanya, menejemen pengelolaan risiko
ini tetap harus dipilih dengan sebijak mungkin beserta berbagai pertimbangannya.

Pada tahapan pengelolaan risiko, Anda bisa memilih untuk menggunakan salah satu metode
pengelolaan risiko yang disebutkan di atas. Bisa juga Anda mengkombinasikan dari beberapa
metode yang ada.

1.7 Tips Praktis Mengelola Risiko untuk Pemula

Bagi Anda para wirausahawan pemula, Anda bisa menggunakan beberapa tips dan trik
praktis untuk mengelola risiko -risiko yang mungkin terjadi. Berikut adalah beberapa tips praktis
mengelola risiko untuk pemula dalam bisnis. Pahami bahwa risiko yang dihadapi bukan
penghambat bagi Anda untuk maju. Risiko justru mesti diambil sebagai bentuk konsekuensi
karena Anda menginginkan suatu hal yang lebih baik atau suatu keberhasilan tertentu. Semakin
tinggi hasil yang diinginkan, maka semakin besar pula risiko yang harus dihadapi dan dikelola.

Jangan panik. Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah dengan mengidentifikasi risiko apa
yang berpotensi untuk muncul. mulailah dari lingkungan yang ada di sekitar Anda untuk

9
melakukan identifikasi risiko. Bisa juga identifikasi risiko dilakukan dengan melihat hubungan
dengan para pemasok, pelanggan, atau pun pesaing.

Dari risiko yang sudah teridentifikasi, maka Anda bisa menentukan seberapa sering risiko
tersebut mungkin muncul. Tentukan seberapa besar potensi dampak yang mungkin terjadi dari
risiko yang telah diidentifikasi tadi. Siapkan langkah -langkah mitigation risk, hanya untuk risiko
yang dominan atau pada prioritas saja. Ini dilakukan karena banyak hal yang mesti dilakukan
dalam bisnis. Jika terlalu fokus pada risiko -risiko yang bukan prioritas, maka waktu Anda justru
akan habis dan membuat Anda jadi ragu -ragu atau takut dalam melanjutkan bisnis.

Untuk melakukan mitigation risk, pastikan Anda mampu menghitung dengan benar biaya
yang harus dikeluarkan untuk mengelola risiko. Pastikan pula manfaat yang diperoleh dari
pengelolaan risiko tersebut bisa lebih besar dari biaya yang dikeluarkan.

1.8 Pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan resiko

Penerapan manajemen risiko adalah tanggung jawab semua pihak, tak terkecuali Dewan
Komisaris dan Direksi. Karena itu Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab terhadap
efektivitas penerapan manajemen risiko. Apa saja peran Dewan Komisaris dan Direksi terkait
manajemen risiko?

Pada prinsipnya Dewan Komisaris dan Direksi harus memahami risiko-risiko yang
dihadapi oleh perseroan, memberikan arahan yang jelas, melakukan pengawasan dan mitigasi
secara aktif. Dewan Komisaris harus juga mengembangkan budaya manajemen risiko,
memastikan struktur organisasi yang memadai, menetapkan tugas dan tanggung jawab yang jelas
pada masing-masing unit. Paling terakhir adalah Dewan Komisaris dan Direksi harus
memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung
penerapan manajemen risiko secara efektif.

Tanggung jawab dan kewenangan dari Dewan Komisaris adala menyetujui kebijakan
manajemen risiko, termasuk diantaranya strategi dan kerangka manajemen risiko yang
ditetapkan sesuai dengan tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) dan toleransi risiko
(risk tolerance). Selain itu Dewan Komisaris dapat dan wajib mengevaluasi pertanggungjawaban
Direksi dan memberikan arahan perbaikan atas pelaksanaan kebijakan manajemen risiko secara
berkala. Evaluasi dilakukan dalam rangka memastikan bahwa Direksi mengelola aktivitas dan
risiko-risiko secara efektif.

Sedangkan bagi Direksi, kewenangan dan tanggung jawabnya meliputi menyusun


kebijakan, strategi dan kerangka manajemen risiko termasuk limit risiko secara keseluruhan dan
per jenis risiko dengan memperhatikan tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko yang
ditetapkan, serta menghitung dampak risiko terhadap kecukupan permodalan.

10
Direksi juga perlu menetapkan struktur organisasi termasuk wewenang dan tanggung
jawab yang jelas pada setiap jenjang jabatan yang terkait dengan penerapan manajemen risiko.
Direksi harus membangun budaya manajemen risiko pada seluruh jenjang perusahaan, antara
lain meliputi komunikasi yang memadai kepada seluruh jenjang organisasi tentang pentingnya
pengendalian intern yang efektif. Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Direksi harus
memastikan bahwa fungsi manajemen risiko telah diterapkan secara independen.

Terkait dengan penerapan manajemen risiko secara menyeluruh, Direksi harus


memastikan kecukupan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia dan memastikan bahwa
sumber daya manusia dimaksud memahami tugas dan tanggung jawabnya. Pejabat dan staff yang
ditempatkan pada masing-masing satuan kerja tersebut memiliki pemahaman mengenai risiko
yang melekat pada setiap produk dan aktivitas perusahaan, paham mengenai faktor-faktor risiko
yang relevan dan kondisi pasar yang mempengaruhi produk dan aktivitas perusahaan, serta
mampu mengestimasi dampak dari perubahan faktor-faktor tersebut terhadap kelangsungan
usaha perusahaan.

Direksi pun harus memastikan agar seluruh sumber daya manusia memahami strategi, tingkat
risiko yang akan diambil dan toleransi risiko, dan kerangka manajemen risiko yang telah
ditetapkan Direksi dan disetujui oleh Dewan Komisaris serta mengimplementasikannya secara
konsisten dalam aktivitas yang dilakukan.

11
BAB III
PENUTUP

2.1 Kesimpulan

Resiko usaha adalah suatu bahaya, atau akibat yang kemungkinan dapat terjadi pada
keadaan sebuah usaha yang sedang berlangsung maupun situasi usaha yang akan datang. Sifat
dari resiko usaha itu sendiri adalah tidak pasti dan sebagian besar menimbulkan kerugian. Resiko
usaha merupakan situasi yang tidak dikehendaki oleh para pelaku bisnis, namun resiko usaha
sendiri selalu tidak bisa dihindarkan.

Pengelolaan risiko usaha yang baik akan membantu pengusaha untuk meminimalisasi
dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. Setiap pengusaha sejatinya adalah seorang
pengambil risiko. Sayangnya, masih banyak yang belum menyadari bahwa risiko tersebut
sebenarnya dapat dikelola. Pengelolaan risiko usaha yang baik akan membantu pengusaha untuk
meminimalisasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.

2.2 Saran

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca maupun penulis. Kami
sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu
kepada para pembaca, kami mengharapkan masukannya agar di kemudian hari kami dapat
menyelesaikan makalah dengan lebih baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

https://m.bisnis.com/entrepreneur/read/20150713/88/452846/4-langkah-dasar-membuat-
pengelolaan-risiko-usaha

https://portal-ilmu.com/strategi-pengelolaan-risiko-dalam-kegiatan-bisnis/

https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2016/02/03/peran-dewan-komisaris-dan-direksi-dalam-
manajemen-risiko/

13