Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA INDUSTRI 4.0

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi yang ditempuh
oleh :
Urnika Mudhifatul Jannah, S.Kom, M.Pd

REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Disusun Oleh :

Septian purwo h.k.s (1957201008)

PROGAM STUDI SISTEM INFORMASI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RADEN RAHMAT MALANG
YAYASAN PERGURUAN TINGGI ISLAM RADEN RAHMAT
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tak terhingga,
sehingga kelompok kami bisa menulis makalah ini tepat pada waktunya. Sholawat serta salam
semoga tercurah kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW semoga kita selalu mendapat
syafa’at darinya.

Dengan menyelesaikan makalah ini, penulis berusaha untuk belajar akan pentingnya
mengetahui sejarah munculnya revolusi industri serta pengaruh Revolusi Industri baik di Eropa
dan penemuan-penemuannya guna untuk menambah wawasan baik bagi penulis maupun bagi
para pembaca. Selain itu dengan menyelesaikan makalah ini kami juga dapat menambah
wawasan tentang sejarah lengkap Revolusi Industri 4.0.

Dengan selesainya makalah ini diharapkan teman-teman mahasiswa bisa lebih


mengetahui Revolusi Industri. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini, oleh sebab itu sumbangan pemikiran yang bersifat koreksi untuk penyempurnaan
sangat di harapkan. Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam
menunjang pelaksanaan perkuliahan yang sedang kita laksanakan bersama.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, 10 Oktober 2019

penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..........................................................................................................................

Daftar Isi ...................................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah ................................................................................................

1.2. Rumusan Masalah .........................................................................................................

1.3. Tujuan Masalah .............................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Revolusi Industri 4.0 ........................................................................................

2.2 Prinsip Rancangan Revolusi Industri 4.0 ...........................................................................

2.3 Era Disrupsi .......................................................................................................................

2.4 Tantangan ...........................................................................................................................

2.5 Analisis SWOT ..................................................................................................................

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan........................................................................................................................

3.2. Saran..................................................................................................................................

Daftar Pustaka..........................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya


perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan
teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya
di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa
Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.

Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, dimana terjadinya peralihan dalam
penggunaan tenaga kerja yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang
kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai
dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi
dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan
dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta api. Adanya peralihan dari
perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan
terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya
menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar.

Revolusi industri telah dirasakan oleh seluruh umat manusia di Dunia termasuk Negara
Indonesia. Indonesia yang dikenal dengan negara agraris, sebelum hadirnya industri, Indonesia
yang dulu mata pencahariannya sangat bergantung dengan alam misalnya pertanian, perkebunan.
Setelah terjadinya revolusi Industri,muncul pergeseran mata pencaharian seperti pembagunan
pabrik, yang memproduksi barang metah menjadi barang siap pakai, sehingga banyak
menyerapkan tenaga kerja. Oleh karena itu, mata pencaharian di Indonesia sudah bervariasi yaitu
tidak hanya bergantug pada bercocok tanam saja.

Adalah Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua
Eksekutif World Economic Forum(WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0.

Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Prof Schawab (2017)
menjelaskan revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental.
Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala,
ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang
mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu,
ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan
teknologi baru diantaranya robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), teknologi
nano, bioteknologi, dan teknologi komputer kuantum, blockchain (seperti bitcoin), teknologi
berbasis internet, dan printer 3D. Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan
sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Menurut Prof Schwab, dunia mengalami
empat revolusi industri. Revolusi industri 1.0 ditandai dengan penemuan mesin uap untuk
mendukung mesin produksi, kereta api dan kapal layar. Berbagai peralatan kerja yang semula
bergantung pada tenaga manusia dan hewan kemudian digantikan dengan tenaga mesin uap.
Dampaknya, produksi dapat dilipatgandakan dan didistribusikan ke berbagai wilayah secara
lebih masif. Namun demikian, revolusi industri ini juga menimbulkan dampak negatif dalam
bentuk pengangguran masal. Ditemukannya enerji listrik dan konsep pembagian tenaga kerja
untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar pada awal abad 19 telah menandai lahirnya
revolusi industri 2.0. Enerji listrik mendorong para imuwan untuk menemukan berbagai
teknologi lainnya seperti lampu, mesin telegraf, dan teknologi ban berjalan. Puncaknya,
diperoleh efesiensi produksi hingga 300 persen.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, akan membahas tentang Revolusi Industri 4.0 yang perumusan masalahnya
dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Bagaimana sejarah muncul Revolusi Industri 4.0?


2. Bagaimana pengaruh Revolusi Industri 4.0 di Indonesia?

3. Apa saja prinsip rancangan Revolusi Industri 4.0?

4. Bagaimana tantangan pada Revolusi Industri 4.0?


1.3 Tujuan Masalah

Dari perumusan masalah diatas, maka dapat diidentifikasi tujuan dari masalah Revolusi Industri
sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui sejarah Revolusi Industri 4.0


2. Untuk pengaruh Revolusi Industri 4.0 di Indonesia.

3. Menjelaskan prinsip rancangan Revolusi Industri 4.0.

4. Menjelaskan tantangan Revolusi Industri 4.0.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Revolusi Industri 4.0


Adalah Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua
Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0.
Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Prof Schawab (2017)
menjelaskan revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara
fundamental. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4
ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru
yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin
ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat
kemajuan teknologi baru diantaranya robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic),
teknologi nano, bioteknologi, dan teknologi komputer kuantum, blockchain (seperti bitcoin),
teknologi berbasis internet, dan printer 3D. Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat
dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Menurut Prof
Schwab, dunia mengalami empat revolusi industri. Revolusi industri 1.0 ditandai dengan
penemuan mesin uap untuk mendukung mesin produksi, kereta api dan kapal layar. Berbagai
peralatan kerja yang semula bergantung pada tenaga manusia dan hewan kemudian
digantikan dengan tenaga mesin uap. Dampaknya, produksi dapat dilipatgandakan dan
didistribusikan ke berbagai wilayah secara lebih masif. Namun demikian, revolusi industri ini
juga menimbulkan dampak negatif dalam bentuk pengangguran masal. Ditemukannya enerji
listrik dan konsep pembagian tenaga kerja untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar
pada awal abad 19 telah menandai lahirnya revolusi industri 2.0. Enerji listrik mendorong
para imuwan untuk menemukan berbagai teknologi lainnya seperti lampu, mesin telegraf,
dan teknologi ban berjalan. Puncaknya, diperoleh efesiensi produksi hingga 300 persen.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada awal abad 20 telah
melahirkan teknologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis.
Mesin industri tidak lagi dikendalikan oleh tenaga manusia tetapi menggunakan
Programmable Logic Controller (PLC) atau sistem otomatisasi berbasis komputer.
Dampaknya, biaya produksi menjadi semakin murah. Teknologi informasi juga semakin
maju diantaranya teknologi kamera yang terintegrasi dengan mobile phone dan semakin
berkembangnya industri kreatif di dunia musik dengan ditemukannya musik digital.

Revolusi industri mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang
berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia. Revolusi industri terkini atau
generasi keempat mendorong sistem otomatisasi di dalam semua proses aktivitas. Teknologi
internet yang semakin masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia
tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan transportasi secara online.
Munculnya bisnis transportasi online seperti Gojek, Uber dan Grab menunjukkan integrasi
aktivitas manusia dengan teknologi informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat.
Berkembangnya teknologi autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media
sosial, bioteknologi dan nanoteknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan
manusia telah berubah secara fundamental.

Gambar 1. Revolusi Industri 4.0 (Sumber: www.kompasiana.com)

2.2 Prinsip Rancangan Revolusi Industri 4.0

Dikutip dari Wikipedia, revolusi industri 4.0 memiliki empat prinsip yang memungkinkan
setiap perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai skenario
industri 4.0, diantaranya adalah:
1. Interoperabilitas (kesesuaian); kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia
untuk terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain melalui media internet
untuk segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).
2. Transparansi Informasi; kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan
dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data
sensor.
3. Bantuan Teknis; pertama kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia
mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat keputusan yang
bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia melakukan
berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman bagi manusia.

4. Keputusan Mandiri; kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan dan


melakukan tugas semandiri mungkin.

2.3 Era Disrupsi

Seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, revolusi industri 4.0 telah
mendorong inovasi-inovasi teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan
fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan tak terduga menjadi
fenomena yang akan sering muncul pada era revolusi indutsri 4.0. Kita menyaksikan pertarungan
antara taksi konvensional versus taksi online atau ojek pangkalan vs ojek online.

Publik tidak pernah menduga sebelumnya bahwa ojek/taksi yang populer dimanfaatkan
masyarakat untuk kepentingan mobilitas manusia berhasil ditingkatkan kemanfaatannya dengan
sistem aplikasi berbasis internet. Dampaknya, publik menjadi lebih mudah untuk mendapatkan
layanan transportasi dan bahkan dengan harga yang sangat terjangkau. Yang lebih tidak terduga,
layanan ojek online tidak sebatas sebagai alat transportasi alternatif tetapi juga merambah hingga
bisnis layanan antar (onlinedelivery order). Dengan kata lain, teknologi online telah membawa
perubahan yang besar terhadap peradaban manusia dan ekonomi.

Menurut Prof Rhenald Kasali (2017), disrupsi tidak hanya bermakna fenomena
perubahan hari ini (today change) tetapi juga mencerminkan makna fenomena perubahan hari
esok (the future change). Prof Clayton M. Christensen, ahli administrasi bisnis dari Harvard
Business School, menjelaskan bahwa era disrupsi telah mengganggu atau merusak pasar-pasar
yang telah ada sebelumnya tetapi juga mendorong pengembangan produk atau layanan yang
tidak terduga pasar sebelunya, menciptakan konsumen yang beragam dan berdampak terhadap
harga yang semakin murah (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Inovasi_disruptif ). Dengan
demikian, era disrupsi akan terus melahirkan perubahan-perubahan yang signifikan untuk
merespon tuntutan dan kebutuhan konsumen di masa yang akan datang.

2.4 Tantangan

Revolusi industri generasi empat tidak hanya menyediakan peluang, tetapi juga tantangan
bagi generasi milineal. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemicu revolusi
indutri juga diikuti dengan implikasi lain seperti pengangguran, kompetisi manusia vs mesin, dan
tuntutan kompetensi yang semakin tinggi.

Menurut Prof Dwikorita Karnawati (2017), revolusi industri 4.0 dalam lima tahun mendatang
akan menghapus 35 persen jenis pekerjaan. Dan bahkan pada 10 tahun yang akan datang jenis
pekerjaan yang akan hilang bertambah menjadi 75 persen. Hal ini disebabkan pekerjaan yang
diperankan oleh manusia setahap demi setahap digantikan dengan teknologi digitalisasi program.
Dampaknya, proses produksi menjadi lebih cepat dikerjakan dan lebih mudah didistribusikan
secara masif dengan keterlibatan manusia yang minim. Di Amerika Serikat, misalnya, dengan
berkembangnya sistem online perbankan telah memudahkan proses transaksi layanan perbankan.
Akibatnya, 48.000 teller bank harus menghadapi pemutusan hubungan kerja karena alasan
efisiensi.

Namun demikian, bidang pekerjaan yang berkaitan dengan keahlian Komputer,


Matematika, Arsitektur dan Teknik akan semakin banyak dibutuhkan. Bidang-bidang keahlian ini
diproyeksikan sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mengandalkan teknologi digital. Situasi
pergeseran tenaga kerja manusia ke arah digitalisasi merupakan bentuk tantangan yang perlu
direspon oleh pendidik. Tantangan ini perlu dijawab dengan peningkatan kompetensi pendidik
maupun anak didik terutama penguasaan teknologi komputer, keterampilan berkomunikasi,
kemampuan bekerjasama secara kolaboratif, dan kemampuan untuk terus belajar dan adaptif
terhadap perubahan lingkungan.

Inovasi dan kemajuan di mana-mana dipimpin oleh kemunculan kuat bidang seperti Kecerdasan
Buatan, Robotika, halaman internet, kendaraan robot, bioteknologi, nanoteknologi, pencetakan
3-D, ilmu material, komputasi quantum, dan penyimpanan energi. Dampak dari teroboan tersebut
begitu pesat. Karena menghadapi berjalannya RI 4.0 tersebut maka dunia pendidikan juga harus
mengantisipasi dan mulai lebih awal dengan pendidikan 4.0 sebuah langkah kecil untuk
memenuhi tujuan tersebut. Pendidikan tidak terbatas pada kelas. Pendidikan 4.0 berkembang
pada premis dasar. Ruang kelas online telah memfasilitasi pembelajaran dengan lebih banyak
cara daripada yang pernah kita bayangkan. Pendidikan sekarang dipandang lebih sebagai proses
seumur hidup daripada ritual yang berorientasi pada kelas atau dalam hal ini hanya sekedar batu
loncatan ke dunia profesional. Peserta didik dan pendidik sekarang akan mencari cara untuk
mendefinisikan kembali cara-cara di mana pembelajaran selalu mempengaruhi kehidupan
mereka. Pendidikan 4.0 tentang bagaimana sekolah menyiapkan untuk memasuki babak baru
dunia pendidikan yang berubah begitu cepat.

Jika mengacu pendapat Martadi Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Era revolusi industri 4.0
juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar
cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep
pendidikan itu sendiri. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya
menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum
ada; b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum
muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya
belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan.
Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah
bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Pasalnya, di era
revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif.

2.5 Analisis SWOT


 Strengths
Pemerintah Indonesia sudah mulai berbenah menanggapi adanya perubahan
industri dengan meluncurkan roadmap ‘Making Indonesia 4.0’ sebagai strategi untuk
memuluskan langkah Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru di Asia pada April
2018 lalu. Roadmap ini memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional
di masa depan, termasuk fokus pada pengembangan sektor prioritas yang akan
menjadi kekuatan Indonesia menuju Industri 4.0.
Pemerintah memilih sektor makanan dan minuman, tekstil, otomotif, kimia,
serta elektronik sebagai fokus dalam program revolusi Industri 4.0. Pemilihan kelima
sektor tersebut bukan tanpa alasan, selain pelaksanaannya yang lebih mudah karena
sudah lebih siap, sektor tersebut juga dapat memberikan dampak yang besar bagi
pertumbuhan industri dan ekonomi Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri
Perindustrian Airlangga Hartanto dalam acara Obsat ke-202 bertajuk “Menuju
Indonesia 4.0” di Paradigma Cafe, Jakarta (Jumat, 11/5/2018). Di samping itu,
Airlangga menegaskan bahwa kelima sektor tersebut juga memiliki kontribusi yang
besar terhadap ekspor, tenaga kerja, dan Produk Domestik Bruto (PDB).

 Weaknesses
Kendati memiliki sumber daya manusia (SDM) yang banyak dan sumber daya
alam yang melimpah, Indonesia memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah.
Karena kualitas rendah, maka produktivitas tenaga kerja Indonesia juga rendah.

Produktivitas tenaga kerja Indonesia berada pada urutan keempat di tingkat


ASEAN dan urutan ke-11 dari 20 anggota negara anggota ASEAN Productivity
Organisation (APO). Sedangkan, untuk daya saing, saat ini Indonesia berada pada
urutan ke-36 dari 137 negara di tingkat ASEAN dan urutan ke-9 dari negara-negara
yang tercatat dalam The Global Competitiveness Report 2017–2018.

 Opportunities
Dengan implementasi industri 4.0, target besar nasional dapat tercapai. Target
itu antara lain membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030,
mengembalikan angka ekspor netto industri sebesar 10 persen, dan meningkatkan
produktivitas tenaga kerja industri hingga dua kali lipat dibandingkan peningkatan
biaya tenaga kerja industri dengan mengadopsi teknologi dan inovasi yang mampu
menciptakan kurang lebih 10 juta lapangan kerja baru di tahun 2030.

 Threats
Revolusi industri 4.0 tidak datang tanpa membawa masalah baru. Salah satu
masalah yang mungkin ditimbulkan oleh revolusi ini yakni terciptanya pengangguran
yang dipengaruhi oleh melebarnya ketimpangan ekonomi.
Digitalisasi dapat menggeser peran konvensional di dalam pasar. Sopir
transportasi konvensional seperti sopir ojek pangkalan, angkot, dan taksi berpeluang
masuk jurang pengangguran akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh
lebih murah dan nyaman di mata masyarakat saat ini. Tidak hanya itu, pedagang di
kios-kios tradisional dapat merugi dan akhirnya bangkrut akibat gelombang e-
commerce melalui kemunculan berbagai toko daring yang menyediakan barang yang
lebih bervariasi, murah, dan mudah diakses.

Tidak hanya digitalisasi, ke depan, penggunaan robot dalam mendukung


otonomisasi di ranah industri manufaktur dan jasa akan semakin tidak terelakkan. Hal
ini didorong keinginan perusahaan untuk memangkas biaya yang ditimbulkan sumber
daya manusia. Tuntutan kenaikan upah yang tidak diiringi dengan produktivitas
menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami oleh perusahaan terkait dengan
sumber daya manusia.

Perkembangan teknologi yang pesat cepat atau lambat akan berpengaruh pada
permintaan tenaga kerja di masa depan. Ke depan, permintaan tenaga kerja bergeser.
Industri akan cenderung memilih tenaga kerja terampil menengah dan tinggi (middle
and highly-skilled labor) ketimbang tenaga kerja kurang terampil (less-skilled labor)
karena perannya dalam mengerjakan pekerjaan repetisi dapat digantikan dengan
otonomisasi robot.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya,
industri akan semakin kompak dan efisien. Namun ada pula risiko yang mungkin muncul,
misalnya berkurangnya Sumber Daya Manusia karena digantikan oleh mesin atau robot.

Dunia saat ini memang tengah mencermati revolusi industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta
peluang ada di situ, tapi di sisi lain terdapat berjuta tantangan yang harus dihadapi. Revolusi
Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of/for Things, kehadirannya begitu cepat.

Banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba muncul dan menjadi inovasi baru,
serta membuka lahan bisnis yang sangat besar. Munculnya transportasi dengan sistem ride-
sharing seperti Go-jek, Uber, dan Grab. Kehadiran revolusi industri 4.0 memang menghadirkan
usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya.

2.6 Saran

Apabila terdapat kekurangan dalam data-data yang penulis susun maka penulis memohon
kepada pembaca agar memberi masukan atau menyempurnakan makalah ini. Adapun penulis
mendapatkan sumber data yang belum tentu sempurna.
DAFTAR PUSTAKA

 id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri
 Karnawati, D. 2017.Revolusi industri, 75% jenis pekerjaan akan hilang. Diambil dari
https://ekbis.sindonews.com/read/1183599/34/r evolusi-industri-75-jenis-pekerjaan-akan-
hilang-1488169341
 Kasali, R. 2017. Meluruskan Pemahaman soal Disruption. Diambil dari
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/05/073000626/meluruskan.pemahaman.soal.
disruption.
 Rakhmat, J. 1997. Hegemoni budaya. Yogyakarta: Yayasan. Bentang Budaya.
 Schwab, K. 2017. The fourth industrial revolution. Crown Business Press.
 Tofler, A. 1970. Future shock . USA: Random House.
 Untung rugi revolusi industri 4.0 versi Presiden Jokowi. 2018. Diambil November
https://www.merdeka.com/uang/untung-rugi-revolusi-industri-40-versi-presiden-
jokowi.html
 www.anneahira.com/penemuan-penemuan-saat-revolusi-industri.htm
 https://rudiirawanto.files.wordpress.com/2011/01/revolusi-industri.pdf