Anda di halaman 1dari 12

“TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TERAPI TERTAWA) PADA LANSIA DI PANTI

WERDHA KARITAS CIBEBER”


Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Stase Gerontik

Disusun Oleh:
NAMA NPM NAMA NPM
FEBRIYANTI 4118158 YURLISAH M. MASIRETE 4118155
RUSFIN 4118150 WAWAN GUNAWAN 4118135
NENG FITRI HANDAYANI 4118172 HARMITA CHANDRA 4118139
MARWATI 4118108 AMINARSIH HUSMIN 4118140
SITI MARIAM 4118115 RESA MARDIANA 4118172
FAUZIAH ILMA 4118117 KOMANG RUDI ADNYANA 4118141
KASMAN JAYA 4118125 ALFIANI 4118164
RISKA ARIYANTI 4118112 HASWANTO 4118118
AHMAD SUMARLIN 4118147 EMA NENGSYI 4118133
SULMAWATI 4118162 SADAHISMAN 4118132
HARJUNA 4118151 IRMA 4118156
DWI PITRIANINGSIH 4118152 WISA ERWINDA KUSUMA W 4118110

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RAJAWALI
BANDUNG
2019
A. Pendahuluan
1. Relevansi Pemilihan Tema
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan
pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat
(2), (3), (4) UU No. 13 tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan
bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia
lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).
Seseorang dikatakan lanjut usia lansia apabila usianya 65 tahun
ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap
lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan
kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan.
Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang
untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres
fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya
kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara
individual (Efendi, 2009).
Hipotesis fisiologis menyatakan bahwa tertawa melepaskan
hormon endorfin kedalam sifkulasi sehingga tumbuh menjadi
nyaman dan rileks. Hormon endorfin disebut juga sebagai morfin
tubuh yang menimbulkan efek sensasi nyaman dan sehat (Potter,
2005).
Saat tertawa, tidak hanya hormon erdorfin saja yang keluar tetapi
banyak hormon positif lainnya yang muncul. Keluarnya hormon
positif ini akan menyebabkan lancarnya peredaran darah dalam
tubuh sehingga fungsi kerja organ berjalan dengan normal. Simon
(1990) menunjukan bahwa humor dapat mempengaruhi presepsi
individu lansia tentang kesehatan dan moral, berkaitan dengan
proses penuaan yang lancar.
Peneliti dari Loma Linda University California, mengungkapkan
bahwa tertawa dapat dijadikan terapi untuk sejumlah penyakit,
diantaranya serangan jantung juga diabetes. Penelitian tersebut
terhadap 20 klien yang mengidap penyakit diabetes, hipertensi&
kolesterol& asam urat dan insomnia. Kemudian di bagi menjadi dua
kelompok& masing- masing kelompok diberikan standar pengobatan
diabetes yang sama. Pada kelompok pertama secara rutin diberi
stimulasi berupa terapi umur. Klien diminta menonton program komedi
kapan film yang dianggapnya lucu selama 30 menit setiap hari. Sementara
kelompok kedua terapi tertawa ini tidak diberikan semua klien kemudian
dipantau dan diawasi perkembangannya selama 12 bulan. Setelah selama
satu tahun menjalani terapi peneliti menemukan bahwa peneliti
menemukan bahwa klien pada kelompok pertama menunjukan
peningkatan kolesterol baik HDL sebesar 26%. Sementara pada kelompok
kedua, peningkatan kolesterol baik hanya naik sekitar 3%.

2. Landasan Teori
a. Definisi
Tertawa berasal dari kata dasar “tawa”. Tawa adalah ungkapan rasa
gembira, senang, geli dan lain sebagainya dengan mengeluarkan suara,
baik itu suara keras, sedang ataupun ringan, melalui alat ucapan lisan
atau mulut. Tertawa adalah ekspresi jiwa atau emosional yang
diperlihatkan melalui raut wajah dan bunyi-bunyian tertentu. Oleh karena
itu, tertawa secara fisiologis dapat dibagi menjadi dua, yaitu set gerakan
dan produk suara (Muhammad, 2011).
Terapi tertawa adalah suatu terapi untuk mencapai kegembiraan
didalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa,
atau senyuman yang menghiasi wajah, perasaan hati yang lepas dan
bergembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancer sehingga
dapat mencegah penyakit dan memelihara kesehatan (Andol, 2009;
Mathofani, 2012).
Terapi tertawa atau humor adalah cara alami untuk menghadapi
sakit mental atau perasaan tertekan. Meskipun cara ini tidak dijamin
berhasil untuk semua kasus, dan keberhasilannya tergantung pada
seberapa lama gangguan itu telah dialami dan seberapa besar, akan
tetapi setidak-tidaknya tersenyum akan membuat penderita lebih riang
dan secara sementara terbebas dari masalah.
Terapi tertawa merupakan metode terapi dengan menggunakan
humor atau tawa dalam rangka membantu individu menyelesaikan
masalah mereka, baik dalam bentuk gangguan fisik maupun gangguan
mental. Ini disebabkan tawa secara alami menghasilkan pereda stress
dan rasa sakit (terapi tawa,2010; khana,2012).
Pemberian stimulasi humor dalam pelaksanaan terapi untuk
membantu beberapa orang yang mengalami kesulitan memulai tertawa
tanpa adanya alasan yang jelas. Stimulasi humor yang dimaksud dapat
diberikan dalam bentuk berbagai media, seperti VCD, notes, badut,
dan komik. Apabila stimulasi humor tersebut diberikan sebagai satu-
satunya stimulasi untuk menghasilkan tawa dalam settting terapi, maka
terapi yang diberikan akan disebut sebagai terapi humor, namun jika
dikombinasikan dengan hal-hal lain dalam rangka menciptakan tawa
alami (misalnya dengan yoga atau meditasi) akan disebut sebagai
terapi tawa (Kataria, 2004). Jadi dalam pelaksanaannya, terapi tawa
melibatkan proses humor, tawa, yoga tawa, relaksasi dan meditasi.

b. Jenis Terapi Tertawa


Terapi tawa atau yoga tawa mempunyai dua jenis kegiatan (Kataria,
2004) :
1) Latihan yoga tawa dimana sekelompok orang melakukan kegiatan
sebagai olahraga berdasarkan yoga, disusul dengan sikap bermain-
main yang membantu para peserta untuk tertawa secara spontan
2) Jenis kegiatan kedua disebut meditasi tawa, dimana anda tidak harus
berusaha untuk tertawa, meditasi tawa tidak dapat dilakukan diluar
ruangan karena membutuhkan keheningan dan konsentrasi, biasanya
meditasi tawa hanya bisa dilakukan di dalam ruangan, sambil duduk
di lantai dan berbaring terlentang dengan tutup mata

c. Kontra Indikasi
Terapi tertawa yang sangat ringan dan tidak membatasi usia,
walau begitu, terapi ini dilarang untuk dilakukan oleh mereka yang
mempunyai beberapa jenis penyakit dan problem. Pelarangan
melakukan tawa ini dikarenakan dan dikhawatirkan berakibat buruk pada
penyakitnya.
Mereka yang dilarang untuk melakukan terapi tertawa ini adalah
(Simanungkalit dan Pasaribu, 2007: 2004) :
1) Penderita penyakit wasir
Berbahaya karena otot di sekitar pinggung dan perut mendapat
tekanan lebih besar sehingga di khawatirkan memperparah penyakit
wasir.
2) Penderita penyakit hernia
Hal ini dapat memperparah penyakit hernia karena
membutuhkan kerja keras otot dan kemungkinan isi perut akan
menonjol di sekitar saluran selangkangan.
3) Penderita penyakit jantung
Memacu denyut jantung bekerja lebih cepat sehingga
dikhawatirkan berakitbat fatal.

d. Manfaat
Menurut Ayu (2011) ada beberapa manfaat terapi tawa untuk lansia :
1) Anti stres, tawa adalah penangkal stres yang paling baik, murah dan
dilakukan. Tawa adalah salah satu cara terbaik untuk mengendurkan
otot-otot tubuh.
2) Memperlebar pembuluh darah dan mengirim lebih banyak darah
hingga ke ujung-ujung dan ke semua otot seluruh tubuh.
3) Memperkuat sistem kekebalan tubuh, sistem kekebalan tubuh
memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga kesehatan
tubuh dan menjauhkan diri dari infeksi, alergi dan kanker.
4) Tawa mencegah darah tinggi, dalam hal ini tertawa bisa membantu
mengontrol tekanan darah dengan mengurangi pelepasan hormon-
hormon yang berhubungan dengan stres dan dengan memberikan
relaksasi.
5) Tawa jadi obat ampuh stres, stres dan tekanan kehidupan modern
berdampak buruk terhadap fikiran dan tubuh manusia. Tertawa bisa
membuat seseorang tenang dan terhibur sehingga ia bisa
melepaskan dirinya dari depresi.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Lansia dapat mengekspresikan perasaannya.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan terapi kepada lansia, diharapkan lansia mampu :
a. Mendapatkan kerelaksasian dan kenyamanan karena pelepasan
hormon endorfin
b. Mencapai kegembiraan didalam hati yang dikeluarkan dalam bentuk
suara tawa
c. Meningkatkan interaksi sosial antar lansia
d. Menurunkan stresor lansia

C. Waktu dan Tempat


Hari/ tanggal : Kamis, 25 Juli 2019
Jam : 08.00 WIB
Tempat : Aula Panti Werdha Karitas

D. Metode
1. Stimulasi audiovisual
2. Demonstrasi

E. Alat dan Bahan


1. Laptop
2. Sound system
3. Video terapi tertawa

F. Setting Tempat

Keterangan gambar:
= Leader
= Co Leader
= Fasilitator
= Observer
= Lansia

Pembagian Tugas
1. Leader :
Tugas:
o Membuka acara
o Memimpin kegiatan
o Memotivasi peserta
o Menjelaskan tujuan terapi tertawa
o Menjelaskan langkah-langkah terapi tertawa
o Melaksanakan dan mengontrol jalannya terapi tertawa
o Menutup acara

2. Co-leader :
Tugas :
o Mendampingi dan membantu leader menjalankan tugasnya
o Mengambil alih tugas leader jika leader pasif

3. Fasilitator :
Tugas:
o Mempertahankan keikutsertaan klien
o Memfasilitasi dan memotivasi klien untuk ikut tertawa

4. Observer :
Tugas :
o Mencatat anggota yang pasif dan aktif respon verbal dan non verbal
kejadian penting selama terapi tertawa
o Mengidentifikasi isue penting selama terapi tertawa
o Memberikan umpan balik selama proses kegiatan dari mulai persiapan
sampai selesai
G. Klien
1. Kriteria klien
a. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal
b. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespons sesuai dengan
stimulus
2. Proses seleksi
a. Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.
b. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.
c. Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK, meliputi:
menjelaskan tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan
aturan main dalam kelompok

H. Susunan Pelaksanaan
1. Susunan perawat pelaksana TAK sebagai berikut:
a. Leader : Rusfin
b. Co. Leader : Aminarsih Husmin
c. Observer : Wisa Erwinda Kusuma Wardani
d. Fasilitator :

2. Klien peserta TAK yaitu lansia di Panti Werdha Karitas

I. Antisipasi Masalah
1. Penanganan lansia yang tidak aktif saat aktivitas kelompok
a. Memanggil nama lansia
b. Memberikan kesempatan kepada lansia tersebut untuk menjawab
sapaan perawat atau teman lansia yang lain

2. Bila lansia meninggalkan permainan permainan tanpa pamit


a. Panggil nama lansia
b. Tanya alasan lansia meninggalkan TAK
c. Berikan penjelasan tentang tujuan tentang permainan dan berikan
penjelasan pada lansia bahwa lansia dapat melaksanakan keperluannya
setelah itu lansia boleh kembali lagi
J. Pelaksanaan
1. Persiapan alat
a. Laptop (digunakan untuk memainkan video humor)
b. Speaker (digunakan untuk memperkeras suara video yang dimainkan)
c. Kursi (sebagai tempat duduk)

2. Langkah-langkah kegiatan
a. Tahap orientasi (15 menit)
1) Terapis mengucapkan salam terapeutik
2) Menanyakan perasaan klien hari ini
3) Terapis memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan
dilaksanakannya terapi
4) Terapis membuat kontrak waktu lama bermain dengan klien
5) Terapis menjelaskan aturan terapi
b. Tahap kerja (30 menit)
1) Diawali dengan meneriakkan yel-yel
2) melakukan gerakan pemanasan :
a) Lakukan pernafasan dalam dengan tarik napas melalui hidung dan
dihembuskan melalui sebanyak 3 kali
b) Kemudian menganggukan kepala ke bawah hingga dagu hampir
menyentuh dada, lalu mendongakkan kepala ke atas ke belakang
sebanyak 1x8, dilanjutkan dengan menoleh ke kanan dan ke kiri
sebanyak 8 kali, kemudian miringkan kepala ke kiri dan kanan
sebanyak 8 kali
c) Gerakan engsel bahu ke depan dan ke belakang sebanyak 1x8
d) Putar pinggang ke arah kanan kemudian ditahan beberapa saat,
kemudian memutar ke arah kiri dan ditahan beberapa saat, lalu
kembali ke posisi semula (dilakukan sebanyak 8 kali)
3) Gerakan inti :
a) Diawali dengan mengatakan haha...hohoho... sambil bertepuk
tangan kemudian mengayunkan tangan dari bawah ke atas sambil
teriak dan tertawa sebanyak 4 kali
b) Tawa bersemangat : peserta diarahkan untuk mengangkat tangan
kemudian tutor memberi aba-aba untuk memulai tawa, 1, 2, 3…..
semua orang tertawa serempak sebanyak 3 kali. Melakukan tawa
ini harus bersemangat. Jika tawa bersemangat akan berakhir maka
sang tutor mengeluarkan kata, ho ho ho……ha ha ha….. beberapa
kali sambil bertepuk tangan.
c) Tawa singa : julurkan lidah sepenuhnya dengan mata terbuka lebar
dan tangan seperti cakar singa dan tertawa dari perut. Setiap
selesai melakukan satu tahap dianjurkan menarik napas secara
pelan dan dalam.
d) Tawa memaafkan : peserta klub memegang cuping telinga masing-
masing sekaligus menyilang lengan dan berlutut diikuti dengan
tawa a..e... a...e.... Muatan dari tawa ini adalah saling memaafkan
jika ada perselisihan. Setelah selesai tarik napas dalam dan pelan.
e) Tawa ini merupakan sesi terakhir dari tahapan terapi. Semua
peserta terapi saling berpegangan tangan sambil berdekatan
sekaligus bersama-sama tertawa dengan saling bertatapan dengan
perasaan lega. Peserta juga bisa saling bersalaman atau
berpelukan sehingga terjalin rasa keakraban yang mendalam.
4) Langkah terakhir yaitu dengan meneriakkan kembali yel-yel.

c. Tahap hasil (15 menit )


1) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti terapi
2) Observer membuat kesimpulan mengenai TAK yang sudah dilakukan
3) Observer mendiskusikan rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan
klien untuk meningkatkan komunikasi yang efektif dan bersahabat
antar satu dan yang lainnya
4) Observer mengucapkan salam penutup

K. Evaluasi
1. Proses
a. Peserta TAK hadir dan duduk pada kursi sesuai setting
b. Pelaksanaan TAK berjalan sesuai tempat dan waktu yang telah
ditentukan
c. Peserta mengikuti kegiatan hingga selesai
d. Peralatan lengkap dan tersedia
e. Ada evaluasi dan kontrak lebih lanjut pada lansia
f. Leader, co leader, fasilitator dan observer menjalankan masing-masing
tugasnya
2. Hasil
a. TAK dilakukan 50 menit
b. Semua peserta hampir 100% dapat tertawa lepas
c. Sebanyak 100% lansia mengikuti TAK dengan kooperatif dan mengikuti
TAK sampai selesai
d. Klien berjabat tangan setelah TAK selesai
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna, Akemat, 2005. Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok.
Jakarta: EGC.
Maryam, dkk, 2008. Mengenal usia lanjut dan perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika
Potter, P.A., & A.G. Perry., 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
proses dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Simon, J.M., 2005 “Humor and Its Relationship To Perceived Health, Life
Satisfaction, and Morale in Older Adults”. Issues Ment Health Nurs. 11:17.