Anda di halaman 1dari 26

PEDOMAN PENGAWASAN MANAJEMEN RESIKO

FASILITAS LINGKUNGAN DI RUMAH SAKIT KHUSUS


BEDAH DIPONEGORO DUA SATU

i
PERATURAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH DIPONEGORO DUA SATU KLATEN
NOMOR : /PER/DIR/DDS/IX/2019
TENTANG
PEDOMAN PENGAWASAN MANAJEMEN RESIKO FASILITAS
LINGKUNGAN DI RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH DIPONEGORO
DUA SATU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH DIPONEGORO DUA SATU
KLATEN

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka mengurangi dan mengendalikan bahaya


dan resiko
b. Bahwa untuk mencegah kecelakaan dan cedera
c. Bahwa untuk memelihara kondisi yang aman
d. Bahwa untuk maksud tersebut dalam butir a, b dan c diatas
perlu diberlakukan dengan surat keputusan Direktur Rumah
Sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan
Kerja;
2. Undang- undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
3. Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66
Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Rumah Sakit;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
432/MENKES/SK/IV/2007 Tentang Manajemen Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit;
MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH


DIPONEGORO DUA SATU KLATEN TENTANG PEDOMAN
PENGAWASAN MANAJEMEN RESIKO FASILITAS
LINGKUNGAN DI RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH
DIPONEGORO DUA SATU KLATEN.

ii
Pasal 1
Peraturan direktur tentang Pedoman Pengawasan Manajemen Risiko Fasilitas di
Rumah Sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu untuk dapat dilaksanakan dan
digunakan sebagai acuan pelaksanaan kegiatan.
Pasal 2
Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya Surat Keputusan ini dibebankan
pada Anggaran Biaya Rumah Sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu.
Pasal 3
Surat Keputusan ini berlaku terhitung mulai tanggal ditetapkan keputusan ini.
Apabila dikemudian hari ternyata terdapat ternyata terdapat kekeliruan dalam
penetapannya, akan dilakukan perbaikan kembali sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Klaten
Pada tanggal 11 September 2019
Rumah Sakit Khusus Bedah
Diponegoro Dua Satu Klaten
Direktur

dr. Rachmawati Dewi Sp.OG.


NIP. 2019 09 447

Tembusan kepadaYth:
1. Para KepalaBidang
2. Para Kepala Unit
3. Ketua Tim K3

ii
DAFTAR ISI

Halaman
PERATURAN DIREKTUR ................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
BAB I DEFINISI
A. Pengertian Manajemen Resiko Fasilitas dan Lingkungan ....... 4
BAB II RUANG LINGKUP ..................................................................... 5
BAB III TATA LAKSANA ..................................................................... 6
A. Posedur Penanganan Kebakaran ............................................. 6
BAB IV DOKUMENTASI .................................................................. 8
BAB V PENUTUP ................................................................................ 9

iii
LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR
RSKB DIPONEGORO DUA SATU
KLATEN
NOMOR: /PER/DIR/DDS/IX/2019
TENTANG PENGAWASAN MANAJEMEN
RESIKO FASILITAS LINGKUNGAN
RUMAH SAKIT

BAB I
DEFINISI

A. Pengertian Pngawasan Manajemen Resiko Fasilitas dan Lingkungan


Pengawasan manajemen resiko fasilitas lingkungan rumah sakit merupakan
upaya untuk mengurangi dan menegendalikan bahaya dan risiko, mencegah kecelakaan
dan cidera serta memelihara kondisi yang aman. Pengawasan manajemen risiko
fasilitas lingkungan rumah sakit meliputi :
a. Keamanan dan keselamatan
b. Bahan Berbahaya
c. Managemen Emergency
d. Pengamanan kebakaran
e. Peralatan Medis
f. Sistem Utilitas
1. Keselamatan dan Keamanan
a. Keselamatan
Sejauh mana bangunan, wilayah dan peralatan rumah sakit tidak menimbulkan
bahaya atau resiko bagi pasien, staff, atau pengunjung
b. Keamanan
Perlindungan dari kerugian kerusakan gangguan, atau akses atau penggunaan
oleh pihak yang tidak berwenang.
2. Bahan Berbahaya
Penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan radioaktif dan lainnya
dikendalikan dan limbah berbahaya ditangani secara aman.

4
3. Managemen Emergency
Respon terhadap epidemic, bencana dan keadaan darurat direncanakan dan
dijalankan secara efektif
4. Pengamanan Kebakaran
Property dan para penghuni rumah sakit dilindungi dari bahaya kebakaran dan asap
5. Peralatan Medis
Peralatan dipilih, dipelihara dan digunakan dengan cara sedemikian rupa agar
mengurangi risiko
6. Sistem Utilitas
Listrik, air dan system utilitas lainya dipelihara sehingga risiko kegagalan dalam
kegiatan kerja dapat diminimalkan.

5
BAB II
RUANG LINGKUP

Individu atau organisasi yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan terhadap


managemen resiko fasilitas lingkungan rumah sakit agar melakukan koordinasi dengan
seluruh unit di rumah sakit. Pengawasan managemen resiko fasilitas lingkungan rumah
sakit meliputi :
1. Keamanan dan keselamatan
2. Bahan berbahaya
3. Managemen emergency
4. Pengamanan kebakaran
5. Peralatan medis
6. System utilitas

6
BAB III
TATA LAKSANA

A. Identifikasi Area Risiko


Dalam upaya pengawasan manajemen risiko fasilitas lingkungan di rumah
sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu Klaten dilakukan identifikasi terhadap
risiko terjadinya ancaman keselamatan dan keamanan baik terhadap staf, pasien
maupun pengunjung.
1. Identifikasi Area Berisiko
Jenis Risiko Keselamatan Area Risiko
dan Keamanan Rumah
Sakit
1 Kedaruratan Bencana Ruang rawat inap,
a. Internal
UGD, Rawat jalan,
1. Ledakan
tabung gas Hemodialisa, OK,
2. Keracunan
Radiologi, poliklinik
gas
3. Keracunan IPAL, Dapur, farmasi
makanan
pergudangan, seluruh
4. Kebakaran
5. Gempa bumi perkantoran, kantin
6. Ledakan bom

b. Eksternal
1. Gempa bumi
2. Ledakan
3. Kecelakaan
lalu lintas
4. Keracunan
makanan
5. Kebakaran
6. Wabah
penyakit
7. Banjir
2 Penculikan bayi Ruang rawat inap,
ruang poliklinik,
UGD
3 Pencurian Poliklinik, UGD,
Rawat Inap,
Pergudangan, Kantin

7
4 Kekerasan fisk Poliklinik, UGD,
Rawat Inap
5 Cidera Fisik Semua Tempat
6 Terpapar Radiasi Radiologi
7 Pasien hilang/minggat Ruang rawat inap
8 Tertusuk jarum/benda Poliklinik, UGD,
tajam Ruang rawat inap,
laboratorium, OK,
petugas Kebersihan

2. koordinasi dan Kewenangan


koordinasi dan kewenangan dilakukan oleh kepala bidang, kepala unit
mengkoordinir inspeksi dan pemeliharaan seluruh kemajuan dan pengelolaan
risiko pada aktivitas dan fungsi fasilitas rumah sakit. Kepemimpinan tim ini
memastikan bahwa dilakukan monitoring dan evaluasi dan memastikan sumber
sumber untuk peningkatan fungsi fasilitas yang mendukung keselamatan bagi
masyarakat rumah sakit, pasien keluarga pasien, pengunjung serta karyawan.

B. Pengawasan Terhadap Manajemen Resiko Fasilitas


1. Keselamatan dan Keamanan
a. Tujuan
1) Meminimalkan risiko dan bahaya yang dapat terjadi dalam lingkungan
fisik rumah sakit
2) Mengelola aktifitas staf untuk mengurangi cidera pekerjaan dan
lingkungan
b. Ruang Lingkup
1) Pencegahan terjadinya pencurian dan pemaksaan mengambil barang milik
masyarakat rumah sakit
Rumah sakit mengupayakan sebuah sistem pengamanan sehingga
masyarakat rumah sakit terhindar dari kecurian maupun pengambilan
secara paksa miliknya. Seluruhnya tamu rumah sakit diidentifikasi,
pengunjung dibatasi jumlahnya dan keluarga pasien yang menunggu/
menginap di rumah sakit diidentifikasi, gedung difasilitasi dengan

8
pemasangan trail sesuai kebutuhan keselamatan keamanan, pasien dan
keluarga diinfokan untuk tidak membawa barang berharga dan uang yang
berlebihan, pemasangan kamera untuk mengindentifikasi kejadian yang
mengancam keselamatan dan keamanan.
2) Pencegahan kekerasan oleh petugas maupun pasien lain dan pengunjung
rumah sakit
Pasien, keluarganya, dan karyawan dilindungi oleh rumah sakit dari
bahaya akan kekerasan fisik maupun mental baik oleh pengunjung
maupun karyawan rumah sakit sendiri. Disediakan sebuah sistem bila
petugas, pasien/ maupun keluarga mengindetifikasi kemungkinan
terjadinya kekerasan mental maupun fisik.
3) Pencegahan bahaya yang diakibatkan oleh adanya bangunan baru ataupun
renovasi gedung
Rumah sakit menyiapkan fasilitas yang mengupayakan keselamatan
dan keamanan pasien/ keluarga dan masyarakat rumah sakit lain dari
cedera, jatuh, pencurian, ancaman nyawa dengan melengkapi fasilitas
nurse call untuk semua pasien, trali jendela untuk keamanan dari
pencurian sesuai kebutuhan, handrail untuk pemegangan saat pasien
berjalan maupun duduk di ruangan perawatan termasuk kamar mandi dan
disekitar bangunan RS, pengamanan tempat tidur untuk mencegah pasien
jatuh, penandaan lantai licin dan lantai beda level untuk mencegah pasien
jatuh, pintu kamar mandi pasien yang terbuka ke luar untuk dapat segera
membantu pasien yang terkunci tanpa mencenderai saat pintu dibuka
paksa, dan fasilitas lain yang dibutuhkan.
4) Pencegahan bahaya cedera, keselamatan nyawa, maupun pencurian yang
disebabkan oleh keterbatasan fisik bangunan rumah sakit.
Rumah sakit menyiapkan fasilitas yang mengupayakan keselamatan
dan keamanan pasien/ keluarga dan masyarakat rumah sakit lain dari
cedera, jatuh, pencurian, ancaman nyawa dengan melengkapi fasilitas
nurse call untuk semua pasien, trali jendela untuk keamanan dari
pencurian sesuai kebutuhan, handrail untuk pemegangan saat pasien
berjalan maupun duduk di ruangan perawatan termasuk kamar mandi dan
disekitar bangunan RS, pengamanan tempat tidur untuk mencegah pasien

9
jatuh, penandaan lantai licin dan lantai beda level untuk mencegah pasien
jatuh, pintu kamar mandi pasien yang terbuka ke luar untuk dapat segera
membantu pasien yang terkunci tanpa mencenderai saat pintu dibuka
paksa, dan fasilitas lain yang dibutuhkan.
5) Keselamatan dan keamanan lingkungan rumah sakit dan hospital ground,
termasuk parkir.
a. Area outdoor rumah sakit selalu menampilkan situasi yang aman dari
segi fisik lingkungannya seperti semua saluran pembuangan tertutup dan
tidak bau.
b.Pembatasan jalan maupun trotoar tersedia aman tanpa lubang maupun
pecahan beton.
c. Pagar taman tidak ada sesuatu yang tajam.
d.Selang atau kabel yang melintang/ terpasang dengan pembungkus
sehingga tidak mengancam keselamatan
e. Penempatan tabung gas ditempatkan pada area yang aman dari api,
dengan penempatan yang diatur sedemikian rupa untuk mencegah
jatuhnya tabung, serta akses masuk dibatasi.
f. Keamanan dinding, lantai, plafon dan atap bangunan, tidak adanya
lubang, perembesan air maupun kerusakan fisik bangunan lain, yang
dapat berisiko menyebabkan gangguan keselamatan.
g.Tempat bermain anak ditata rapi, dengan cat yang aman, tidak ada
bagian yang berkarat, berlubang maupun tajam yang dapat
menyebabkan keselamatan fisik anak terganggu
h.Pengaturan parkir dan lalu lintas diatur untuk menjaga alur lalu lintas
berjalan dengan aman tanpa mengganggu pejalan kaki yang ada di
sekitarnya.
i. Akses keluar masuk rumah sakit diatur, untuk mencegah gangguan
keselamatan pada masyarakat dan fasilitas rumah sakit. Akses masuk ke
dalam rumah sakit ada di parkiran, UGD
j. Pengaturan waktu berkunjung waktu berkunjung ke pasien diatur 2 kali
dalam sehari yaitu jam 10.00-12.00 dan jam 16.00-18.00
k.Identitas pegawai, seragam pegawai dan tamu.

10
Untuk mencegah terjadinya masalah keamanan pada
masyarakat rumah sakit maka semua petugas dan karyawan di Rumah
Sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu menggunakan label Identitas
dan pakaian seragam sesuai ketentuan rumah sakit pada setiap periode
tugasnya baik pagi, siang, maupun malam. Untuk tamu rumah sakit
seperti Medical Representative dan tamu rumah sakit diberikan identitas
tamu yang dikelola oleh petugas security.
6) Pencegahan cedera karena jarum atau benda tajam.
Jarum/ benda tajam ditempatkan pada container khusus sehingga
tidak mencederai staf maupun pasien dan pengunjung. Apabila seseorang
terkena jarum, maka yang bersangkutan akan ditangani sesuai prosedur
yang berlaku. (SOP penanganan tertusuk jarum/ benda tajam).
7) Pencegahan paparan radiasi pada petugas radiologi.
Petugas radiologi merupakan salah satu staf yang akan terkena
dampak paparan radiasi, oleh karena itu apron yang digunakan dilakukan
perawatan dan uji secara berkala untuk memastikan apron masih tetap
aman digunakan. Perawatan terhadap apron dilakukan setiap hari setelah
digunakan oleh petugas radiologi, sedangkan uji terhadap efektifitas apron
dilakukan oleh petugas setiap 1 tahun sekali. Setiap petugas di ruangan
radiologi menggunakan badge radiasi yang di uji setiap 1 tahun sekali
oleh petugas untuk memastikan keefektifan badge tersebut.
8) Mencegah terjadinya pasien minggat/ hilang dari rumah sakit.
Semua pasien diidentifikasi dengan menggunakan gelang pasien
pada tangannya, petugas security melakukan pengawasan apabila ada
seseorang dengan menggunakan gelang tersebut berada di luar ruangan
perawatan tanpa didampingi oleh petugas rumah sakit.Bila petugas
security menemukan individu seperti itu, maka petugas melakukan
identifikasi pada pasien tersebut dan melakukan kontak dengan ruangan
perawatan untuk koordinasi.
c. Koordinasi dan Wewenang.
Kabid dan Kanit bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan
pelaksanaan program keselamatan dan keamanan rumah sakit dengan
menyesuaikannya dengan peraturan dan UU yang berlaku, termasuk

11
mengkoordinasikan aktivitas yang dilakukan oleh tiap-tiap instalasi, bagian/
unit kerja lainnya dan staf serta Karyawan Harian Lepas (KHL) maupun
rekanan yang berkaitan dengan keselamatan lingkungan rumah sakit. Kabid
dan Kanit memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan segera dalam
situasi yang mengancam hidup, kesehatan dan keamanan proferti rumah sakit.
1). Program Review dan Evaluasi.
Kabid dan Kanit program ini bertanggung jawab :
a) Menyusun Program inspeksi, setiap bulan melakukan inspeksi
keseluruh gedung dan lingkungan rumah sakit berkaitan dengan
pelaksanaan program keselamatan dan keamanan di rumah sakit.
b) Program inspeksi ini menjadi satu dengan program inspeksi
Penatalaksanaan Fasilitas dan Keselamatan rumah sakit.
c) Menyusun perencanaan dari hasil inspeksi dan melakukan updating
pada perencanaan setiap kali dilakukan inspeksi
d) Menyusun laporan hasil inspeksi, menyusun perencanaan dan
pencapaian dari perencanaan yang dibuat secara rutin setiap 3 bulan
sekali kepada K3RS.
e) Managemen Keselamatan dan keamanan Rumah sakit ini di evaluasi
setiap 2 tahun sekali oleh koordinator program dan berkoordinasi
dengan Tim K3RS.
2. Bahan Berbahaya dan Beracun
a. Tujuan.
Mengelola material yang diketahui memiliki potensi membahayakan bagi
manusia maupun lingkungan.Penatalaksanaan ini dilakukan untuk
meminimalkan risiko bahaya maupun cedera. Proses yang dilaksanakan
meliputi edukasi, informasi prosedur untuk penggunaan yang aman,
penyimpanan dan pembuangan serta pengelolaan bila terpapar dengan
jatuhan bahan berbahaya ini. Dan proses ini dibuat juga untuk mengevaluasi
risiko yang dapat mengancam hidup maupun kesehatan pasien, pengunjung
dan staf rumah sakit.
b. Ruang Lingkup.
Bahan berbahaya ini difokuskan pada risiko yang disebabkan oleh
bermacam-macam bahan berbahaya yang ada yang terpapar bagi

12
lingkungan rumah sakit, pada pasien, pengunjung dan karyawan rumah sakit,
juga agar dapat dilaksanakan sesuai peraturan dan kebijakan yang ada, ruang
lingkupnya yaitu :
1) Menentukan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)yang dipergunakan dan
limbah yang dihasilkan di rumah sakit.
2) Data bahan berbahayadan beracun yang ada diidentifikasi dalam
Material Safety Data Sheets (MSDS) atau dokumen sejenis yang
disediakan oleh supplier atau pabrik.
3) Respon efektif yang cepat dibutuhkan untuk setiap kejadian tumpahan,
kebocoranatau paparan bila terjadi.
4) Proses yang digunakan untuk memilih, transportasi, penyimpanan,
penggunaan dan pembuang B3 juga proses untuk memilah,
memisahkan,transportasi, penyimpanan, membungkus dan membuang
limbahberbahaya yang ditulis lengkap pada SOP.
5) Proses monitoring khusus dilakukan untuk mengelola gas, asap, maupun
radiasi berbahaya yang tidak dapat dideteksi oleh manusia.
a) Identifikasi Bahan Berbahaya.Dalam upaya mengelola bahan berbahaya
di Rumah Sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu Klaten dilakukan
identifikasi terhadap bahan berbahaya yang digunakan oleh rumah sakit
yaitu:
3. Management Emergency
a. Tujuan.
Memastikan kesiapan rumah sakit dan merespon secara efektif kejadian
bencana yang ada baikbencana internal maupun external.
b. Ruang Lingkup
1) Menentukan jenis bencana, kemungkinan terjadinya, konsekuensi bahaya/
ancaman/ kejadian.
2) Menentukan peran rumah sakit dalam keadaan bencana tersebut.
3) Menentukan strategi komunikasi saat bencana terjadi.
4) Mengelola sumber daya baik yang dimiliki rumah sakit maupun
mengaktifkanantuan external (sumber daya alternative).
5) Pengelolaan kegiatan klinik dan penyiapan ruangan perawatan korban.
6) Mengidentifikasi peran dan tanggung jawab staf selama kejadian.

13
7) ]Mengalihkan penugasan staf yang tidak sesuai dengan kompetensinya
saat kejadian.
a). Jenis dan kemungkinan terjadi bencana dan konsekuensinya

No Jenis Bencana kemungkinan konsekuensi

1 Internal
Ledakan tabung gas Bisa terjadi, tapi Terjadinya kebakaran dan
belum pernah korban luka bakar sehingga
ada perlu disiapkan ruangan
perawatan luka bakar dengan
jumlah yang memadai
Keracunan gas Bisa terjadi, tapi Sesak nafas sehingga
belum pernah dibutuhkan penanganan
ada tambahan O2 dan
Kemungkinan perawatan
intensif
Keracunanan Bisa terjadi, tapi Terjadinya gangguan pada
makanan belum pernah pencernaan dan kekurangan
ada cairan sehingga dibutuhkan
terapi cairan
Kebakaran Bisa terjadi, tapi Dibutuhkan ruangan
belum pernah perawatan luka bakar,
ada persiapan tindakan operasi
untuk kemungkinan kasus
cedera
Gempa bumi Pernah ada Disiapkan area yang lebih
luas untuk penanganan
korban dalam jumlah banyak.
Persiapan kamar operasi
untuk antisipasi korban
cedera
Ledakan Bom Sangat jarang Luka bakar

Eksternal
2
Gempa bumi Pernah ada Disiapkan area yang lebih
luas untuk penanganan
korban dalam jumlah banyak.
Persiapan kamar operasi
untuk antisipasi korban
cedera

14
Ledakan jarang Terjadinya kebakaran dan
korban luka bakar sehingga
perlu disiapkan ruangan
perawatan luka bakar dengan
jumlah yang memadai
Kecelakaan lalu sering Ruangan perawatan
lintas/musibah emergency dan kamar operasi
masal disiapkan
Keracunan Belum pernah Terjadinya gangguan pada
makanan ada pencernaan dan kekurangan
cairan sehingga dibutuhkan
terapi cairan
Wabah penyakit Belum Pernah Disiapkan ruangan perawat
ada khusus sesuai jenis wabah,
juga disiapkan ruangan isolasi
untuk penyakit menular
Banjir Pernah ada Area perawatan dan kamar
operasi disiapkan
Ambulance tersedia sejumlah 2 buah, untuk membantu pelaksanaan
transportasi evakuasi pasien dari area kejadian baik internal maupun external
rumah sakit ke unit yang dituju.Ambulance dan fasilitas didalamnya dilakukan
perawatan dan control terhadap fungsi ambulance .
c. Koordinasi dan Kewenangan
Mengacu pada pedoman Disaster Plan Rumah Sakit Khusus Bedah
Diponegoro Dua Satu Klaten. Program review dan evaluasi :
1) Tim Disaster Plan melakukan pengujian/ simulasi terhadap disaster plan
setiap tahun baik untuk penanganan bencana internal maupun external.
2) Ketika rumah sakit menghadapi bencana yang sebenarnya dan dilakukan
debriefing, maka hal ini merupakan salah satu bentuk dari pengujian
tahunan yang dilakukan
4. Pengamanan Kebakaran
a. Tujuan.
Pencegahan terjadinya kebakaran di rumah sakit dan memastikan
penghuni rumah sakit selamat dan aman dari resiko adanya cedera maupun
kemungkinan kehilangan nyawa saat terjadinya kebakaran

15
b. Ruang Lingkup
1) Pencegahan risiko kebakaran
a) Bahan yang mudah terbakar seperti tabunggas ditempatkan pada area
yang aman dari api/ panas, dengan penempatan yang diatur
sedemikian rupa dan teridentifikasi baik untuk mencegah jatuhnya
tabung, serta akses masuk dibatasi (pintu masuk terkunci).
b) Pasien/ keluarga pasien dilarang untuk merokok di ruang perawatan
untuk mencegah terjadinya kebakaran yang disebabkan adanya api
dan adanya gas yang ada di ruang perawatan (gas O2)
c) Larangan merokok di areal rumah sakit. Kebijakan larangan merokok
di seluruh area rumah sakit kepada staf, pasien/ keluarganya dan
pengunjung, dan di tiap akses masuk ke rumah sakit dipasang poster
larangan merokok sebagai informasi pada staf, pasien dan
pengunjung rumah sakit.
2) Pengaturan konstruksi bangunan untuk mencegah kebakaran
Bahan bangunan yang digunakan pada proyek pembangunan di
rumah sakit menggunakan bahan yang dominan tidak menyebabkan
kebakaran seperti penggunaan bahan dinding dari kayu tidak dianjurkan.
3) Akses keluar saat terjadi kebakaran
a) Seluruh pintu keluar dari dalam unit pelayanan diberi tanda ‘EXIT’,
dimana pintu darurat tersedia di semua unit pelayanan dan
perkantoran untuk keadaan darurat.
b) Semua area di sekitar pintu keluar merupakan area bebas yang
tidak dihalangi oleh tumpukan barang maupun terhalang meubel dan
fasilitas lain.
c) Tanda-tanda menuju area berkumpul terpasang pada area strategis
yang menuju kearah area berkumpul dan dapat dilihat dari semua area
keluar dari tiap unit pelayanan maupun perkantoran
d) Area berkumpul di Area titik kumpul yaitu di parkiran, didepan UGD
dan parkiran depan wapo
4) Sistem peringatan dini/ deteksi dini
Sistem deteksi dini dilakukan dengan pemasangan fire alarm pada
bangunan. Gedung yang memiliki fire alarm tetapi tidak ada petugas jaga,

16
seperti aula, akan dilakukan patroli kebakaran oleh petugas keamanan
rumah sakit setiap harinya dengan berkeliling rumah sakit untuk
mengidentifikasi risiko kebakaran.
5) Mekanisme pemadaman api
a) APAR di pasang di seluruh gedung perawatan di tiap jarak 20-25
meter, atau ditempatkan sesuai kebutuhan dan dipasang berjarak
minimal 15 cm dari atas lantai sehingga memudahkan untuk
dijangkau
b) Prosedur pemadaman api sesuai prosedur code red.
c. Koordinasi dan Kewenangan
1) Tim Code Red rumah sakit bertanggung jawab untuk mengkoordinir saat
terjadinya kebakaran.
2) Melaporkan kegiatan inspeksi pencegahan terhadap risiko kebakaran dan
kesiapan alat/ fasilitas untuk menangani kebakaran kepada K3RS setiap 6
bulan.
3) Tim K3RS membuat dokumentasi dan laporan pengujian/ simulasi
penanganan kebakaran setiap tahun.
d. Program Review dan Evaluasi
1) K3RS membuat program inspeksi ketersediaan dan kesiapan alat deteksi
dini dan fasilitas pemadaman api, yang dilakukan setiap bulan yang
dibuktikan dengan dokumentasi hasil inspeksi.
2) Disusunnya program untuk memastikan penghuni rumah sakit aman
saat terjadinya kebakaran, program disusun dari hasil inspeksi termasuk
program pemeliharaan alat penanganan kebakaran.
3) Dilakukan pengujian/ simulasi prosedur penanganan kebakaran setahun
sekaliyang diikuti oleh seluruh staf rumah sakit, termasuk pengujian
pada prosedur evakuasi pasien.
4) Semua staf rumah sakit mendapatkan pelatihan pencegahan dan
penanganan kebakaran, dan direview setiap tahun.
5) Semua staf mampu mendemonstrasikan cara penanggulangan kebakaran.

17
5. Peralatan Medis dan Non Medis
a. Tujuan
Untuk memastikan peralatan yang dipergunakan oleh pasien dalam
keadaan aman, selalu tersedia dan siap pakai, akurat, dan dapat dijangkau.
b. Ruang Lingkup
1) Inventarisir semua peralatan medis yang ada di:
a) Ruang perawatan pasien rawat inap dan rawat jalan
b) Kamar operasi
c) Laboratorium
d) Radiologi
e) Ruang Hemodialisa
f) MRI
g) HCU
h) UGD
i) Poliklinik
j) CSSD
k) Ruang Isolasi
2) Penatalaksanaan Peralatan Medis
Penatalaksanaan peralatan medis di rumah sakit berkaitan dengan
kebijakan dan prosedur mulai dari pengadaan, inspeksi, dan
pemeliharaan.
a) Inventarisasi alat Medis (mengacu pada daftar inventaris alat medis)
b) Rumah sakit melakukan inspeksi setiap bulan untuk mengetahui
perkembangan kondisi peralatan tersebut. Hasil inspeksi berupa data
yang akan digunakan untuk perencanaan perbaikan dan juga
perencanaan kebutuhan rumah sakit
c) Melakukan inspeksi dan pengujian untuk setiap alat baru
selanjutnya disesuaikan dengan aturan pabrik atau perencanaan
rumah sakit, yang dilengkapi dengan data hasil inspeksi dan
pengujian serta dibuatkan rekomendasinya.
d) Dilakukan pemeliharaan terhadap peralatan tersebut sebagai
tindakan pencegahan terhadap peralatan tersebut dari kerusakan
ataupun masalah kecil yang berdampak pada ketidakamanan alat

18
saat digunakan pada pasien. Jadwal pemeliharaan selalu ditepati
oleh petugas. Semua bukti pemeliharaan alat tercatat dan di
buatkan rekomendasi untuk peralatan tersebut selalu aman dan siap
pakai. Untuk alat yang rusak namun tidak mungkin diperbaiki,
rumah sakit menarik alattersebut dari penggunaannya untuk
selanjutnya dilakukan suatu proses sesuai ketentuan yang berlaku
untuk pemusnahan maupun pengeluaran alat tersebut dari rumah
sakit.
e) Produk/ peralatan yang ditarik dari peredaran
Rumah sakit mengeluarkan surat blangko untuk informasi bila ada
alat yang ditarik oleh pabrik/ pemasok ke seluruh unit pelayanan
pasien dan informasi pemberhentian pemakaian pada alat tersebut.
Alat - alat yang sudah ditarik akan dilaporkan oleh UPSRS ke
Pabrik/ pemasok untuk dilakukan tindakan selanjutnya.
c. Koordinasi dan Wewenang
1) Proses administrasi dan pengawasan dari pengelolaan peralatan medis
dibawah tanggung jawab UPSRS
2) Elektromedis membuat perancanaan kegiatan inspeksi, pemeliharaan.
3) Kegiatan inspeksi dan pemeliharaan peralatan medis dibuktikan dengan
dokumentasi, dan dilaporkan hasil dan rekomendasinya kepada Direktur
4) Hasil inspeksi dan pemeliharaan menjadi bahan untuk penyusunan
pengadaan peralatan medis rumah sakit
d. Review dan Evaluasi
1) Elektromedis menyusun rencana inspeksi yang selanjutnya membuat
dokumentasi hasil inspeksi dan menyusun laporan dengan
rekomendasinya
2) Anggota Elektromedis melakukan inspeksi regular setiap bulan dan
melakukan pengelolaan resiko untuk setiap alat yang ada
3) Dari hasil inspeksi, Elektromedis menyusun rencana pemeliharaan alat.
4) Membuat laporan hasil inspeksi dan pemeliharaan setiap 6 bulan
yang juga digunakan sebagai bahan penyusunan kebutuhan peralatan
medis rumah sakit.

19
5) Staf pengguna peralatan medis mendapatkan pelatihan untuk
mengoperasikan alat tersebut
6. Sistem utilitas
a. Tujuan.
Tujuan berikut ini untuk memastikan keselamatan fisik pasien, pengunjung,
dan staf, dan mencegah kehilangan kepemilikan, gangguan kesehatan
maupun Keselamatan mereka :
1) Secara efektif mengelola risiko pada sistim utilitas dengan menggunakan
kemampuan terbaik rumah sakit.
2) Mengoptimalkan sumber-sumber dengan pengelolaan sistem utilitas
secara efisien dan pengelolaan lifecycle dari alat-alat tersebut.
3) Meningkatkan kemampuan staf dengan pendidikan pelatihan mengenai
system utilitas yang efektif.
4) Meningkatkan keselamatan pasien dengan menyiapkan lingkungan
rumah sakit yang aman.
b. Ruang Lingkup
1) Distribusi listrik dan emergency power ( Genzet)
2) Distribusi Air Bersih
3) Gas medis
a). Inventarisasi sistem utilitas
No System utilitas Jenis Lokasi Area Suplay
1 Listrik PLN Seluruh area Seluruh area
rumah sakit rumah sakit
Genzet 1 (100 Depan Ranap Ranap Nggolo
KVA) Nggollo Suwitan lt. 1,2,3,
Suwitan wisma, MRI,
Minimarket,
Laboratorium
Genzet 2 (140 Depan Ruang Poli lama, OK,
KVA) Kemoterapi HCU, HD, Rama
& Sinta, Jamus,
Pandawa,
Loundry, CSSD,

20
UGD
2 Distribusi Air PDAM Seluruh area Seluruh area
Bersih rumah sakit rumah sakit
Sumur Bor Belakang Seluruh area
UGD dan rumah sakit
MRI

3 Gas Medis Tabung gas Gudang Seluruh unit


cylinder Medis, pelayanan
seluruh
ruangan
Rawat Inap,
UGD, Kamar
bedah.

c. Penatalaksanaan Sistem Utilitas


1) Air bersih tersedia setiap waktu (24 jam), yang dipastikan
ketersediaanya yang tersedia di rumah sakit. Kualitas air dipantau
setiap 6 bulan sekali disertai hasil yang didokumentasi untuk
memastikan keamanan air yang digunakan oleh rumah sakit.
2) Air yang ditreatment di instalasi hemodialisa dilakukan
pemantauan secara periodik untuk memastikan kualitas air yang
digunakan untuk dialysis ginjal oleh provider/ pemasok alat.
3) Listrik tersedia setiap waktu, yang dipastikan ketersediaannya baik
melalui sumber listrik negara maupun sumber listrik alternative yang
disediakan rumah sakit (genset). Seluruh genset yang ada di pastikan
kesiapannya dengan melakukan uji sekali dalam setahun.
4) Bila terjadi kegagalan pada sisitem utilitas, maka staf
bersangkutan di unit pelayanan segera melaporkan via telephone ke
pihak ketiga yang terkait untukdilakukan perbaikan maupun tindakan
lain dalam rangka meningkatkan proses pelayanan.

21
5) Penempatan tabung gas ditempatkan pada area yang aman dari
api, dengan penempatan yang diatur sedemikian rupa dan
teridentifikasi baik untuk mencegahj atuhnya tabung dan kebocoran,
serta akses masuk dibatasi.
6) Jalur listrik dalam keadaan aman dibungkus sehingga meminimalkan
kemungkinan terkoyak.
d. Identifikasi risiko – kedaruratan.
Risiko yang mungkin terjadi bila adanya kegagalan pada sistim utilitas
yang ada, sehingga perlu dilakukan uji terhadap backup dari setiap sistim
yang ada, utamanya di area berisiko
No Jenis kegagalan sistem Area paling
Alternatif Tindakan
utilitas beresiko
1 Listrik kamar operasi Kalau gagal di OK :
dan ruang suplai dari Genzet
perawatan secara otomatis (10
intensif detik)
2 Air mati / terkontaminasi Seluruh area Hubungi PDAM
dari salah satu sumber pelayanan dan untuk pengiriman Air.
Dapur
3 Gas Medis Kamar Operasi, Manual dipindahkan
Ruang intensive ke central back up
e. Koordinasi dan Wewenang
1) Ka UPSRS sebagai koordinator bertanggung jawab sesuai dengan
uraian tugasnya pada sistem utilitas rumah sakit
2) Koordinator menginformasikan ke unit pelayanan bila terjadinya
kegagalan pada suatu sistim utilitas serta melakukan upaya alternative
segera untukberlangsungnya proses pelayanan
3) Koordinator melakukan koordinasi dengan produsen/ pemasok untuk
proses pemeliharaan dan preventif pada system utilitas rumah sakit.
4) Koordinator melakukan koodinasi dengan Kanit untuk proses inspeksi
dan pemeliharaan,serta membuat dokumentasi

22
f. Evaluasi dan Monitoring
1) Koordinator dan tim melakukan inspeksi setiap bulan terhadap sisitem
utilitas yang ada.
2) Hasil kegiatan inspeksi dibuktikan dengan dokumentasi, yang menjadi
bahan untuk membuat program pemeliharaan maupun pengembangan
sisitem utilitas rumah sakit
3) Kegiatan proses pemeliharaan didokumentasi yang digunakan untuk
menyusunlaporan perkembangan sistem utilitas rumah sakit setiap 6 bulan
4) Pengujian terhadap sistem utilitas, seperti back up listrik (genzet) dan air
(sumur BOR) setiap tahun. Pengujian terhadap sumur BOR untuk
memantau kualitas air, proses pengujian didokumetasikan untuk
memastikan perkembangan system tsb.
5) Pemantauan kualitas air di water treatment ruang hemodialisa
didokumentasi sesuai jadwal dan dilakukan setiap sebulan sekali untuk
pengecekan bakteriologi. Untuk pengecekan kimia dilakukan minimal
setahun sekali.

23
BAB IV
DOKUMENTASI
Dokumentasi mengenai pengawasan manajemen resiko fasilitas lingkungan rumah sakit

24
BAB V
PENUTUP
Demikian Panduan Pengawasan Manajemen Risiko Fasilitas Lingkungan Rumah
Sakit Khusus Bedah Diponegoro Dua Satu Klaten dibuat sebagai acuan dalam
melaksanakan program Manajemen Risiko Fasilitas di Rumah Sakit Khusus Bedah
Diponegoro Dua Satu Klaten

25