Anda di halaman 1dari 6

Apa Itu Ilmu Tasawuf?

2
 Definisi secara Bahasa Ilmu Tasawuf dan Makna
Para ulama tasawuf berbeda pendapat tentang asal usul penggunaan kata tasawuf. Dari
berbagai sumber rujukan buku-buku tasawuf, paling tidak ada lima pendapat tentang asal kata
dari tasawuf. Pertama, kata tasawuf dinisbahkan kepada perkataan ahlshuffah, yaitu nama
yang diberikan kepada sebagian fakir miskin di kalangan orang Islam pada masa awal
Islam. Mereka adalah diantara orang-orang yang tidak punya rumah, maka menempati gubuk
yang telah dibangun Rasulullah di luar masjid di Madinah2.
Abul “Alaa “Afify, Fi al Tashawwuf al Islam wa Tarikhikhi, (Iskandariyah: Lajnah al Ta’lif wa al-Tarjamah wa
al Nasyr), tt., hlm. 66)

Ahl al-Shuffah adalah sebuah komunitas yang memiliki ciri


yang menyibukkan diri dengan kegiatan ibadah. Mereka meninggalkan
kehidupan dunia dan memilih pola hidup zuhud. Mereka tinggal
di masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana
(sofa), mereka miskin tetapi berhati mulia. Para sahabat nabi hasil
produk shuffah ini antara lain Abu Darda’, Abu Dzar al Ghifari dan
Abu Hurairah3.
Kedua, ada pendapat yang mengatakan tasawuf berasal dari
kata shuf, yang berarti bulu domba. Berasal dari kata shuf karena
orang-orang ahli ibadah dan zahid pada masa dahulu menggunakan
pakaian sederhana terbuat dari bulu domba. Dalam sejarah tasawuf
banyak kita dapati cerita bahwa ketika seseorang ingin memasuki
jalan kedekatan pada Allah mereka meninggalkan pakaian mewah
yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun
sederhana. Tradisi pakaian sederhana dan compang camping ini
dengan tujuan agar para ahli ibadah tidak timbul rasa riya’, ujub atau
sombong4.
Ketiga, tasawuf berasal dari kata shofi, yang berari orang suci
atau orang-orang yang mensucikan dirinya dari hal-hal yang bersifat
keduniaan5. Mereka memiliki ciri-ciri khusus dalam aktifitas dan
ibadah mereka atas dasar kesucian hati dan untuk pembersihan jiwa
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Mereka adalah orang
yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.
Pendapat yang keempat mengatakan bahwa tasawuf berasal
dari kata shaf, yaitu menggambarkan orang-orang yang selalu berada
di barisan depan dalam beribadah kepada Allah dan dalam
melaksanakan kebajikan6.

3 Muhammad Sholikhin, Tradisi Sufi dari Nabi, (Cakrawala: Yogyakarta),


2009, hlm. 19
4 Ibid., hlm. 21

5 Alwan Khoiri,et al, Akhlak/Tasawuf, (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN

Sunan Kalijaga), 2005, hlm. 29


6 Yasir Nasution, Cakrawala Tasawuf (Jakarta: Putra Grafika, 2007, hlm. 3

Selanjutnya tasawuf dari aspek terminologis (istilah) juga


didefinisikan secara beragam, dan dari berbagai sudut pandang. Hal
ini dikarenakan bebeda cara memandang aktifitas para kaum sufi.
Ma’ruf al Karkhi mendefinisikan tasawuf adalah “mengambil hakikat
dan meninggalkan yang ada di tangan mahkluk”8. Abu Bakar Al Kattani
mengatakan tasawuf adalah” budi pekerti. Barangsiapa yang
memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal
bagimu atas dirimu dalam tasawuf”9. Selanjutnya Muhammad Amin
Kurdi mendefinisikan tasawuf adalah “suatu yang dengannya
diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya
dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji,
cara melaksanakan suluk dan perjalanan menuju keridhaan Allah dan
meninggalkan larangannya”10.

8 AS-Suhrawardi, Awarif al_Ma,rif (Kamisy Ihya’ ‘Ulum al-Din, Singapura:


Mar’i), tt, hlm. 313
9 Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, (Semarang: Maktabah Usaha Keluarga),

tt., hlm. 376


10 Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub fi Mu’amalah ‘Alam al-Ghuyub,

(Surabaya: Bungkul Indah), tt., hlm. 406

 Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawuf


Istilah tasawuf dimasa Nabi SAW tidak ada, demikian pula dimasa para sahabat Nabi SAW
dan tabi’in belum ada istilah itu.62 Dalam masalah ini belum ada seorang pun pengkaji masalah
tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam
dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini.63
Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi
Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. Tasawuf terjadi pada
setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Iluminasi Yunani,
Majusi Persia, dan Nashrani Awal. Lalu pemikiran itu menyelinap ke dalam pemikiran Islam
melalui zindik Majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam realitas umat Islam dan
berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya,64 disusun kitab-kitab
referensinya, dan telah diletakkan dasar-dasar dan kaidah-kaidahnya pada
abad ke-empat dan kelima Hijriyah.65
Tasawuf sebagai sebuah ilmu pengetahuan baru muncul setelah
masa sahabat dan tabi’in. Nabi SAW dan para sahabat pada hakikatnya
sudah sufi. Mereka mempraktekkan selalu terhadap hal-hal yang tidak
pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. 66
Pada masa Rasulullah SAW Islam tidak mengenal aliran tasawuf,
demikian juga pada masa sahabat dan tabi’in. Kemudian datang setelah
masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf
(pakaian dari buku domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat
julukan sebagai nama bagi mereka yaitu sufi dengan nama tarekatnya
tasawuf. Ilmu Tasawuf datang belakangan sebagaimana ilmu yang lain.
Di masa awalnya, embrio tasawuf ada dalam bentuk perilaku
tertentu.67 Ketika kekuasaan Islam makin meluas dan terjadi perubahan
sejarah yang fenomenal pasca Nabi dan sahabat, ketika itu pula kehidupan
ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi
ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah
timbul gerakan tasawuf sekitar abad ke-2 Hijriyah. Gerakan yang bertujuan
untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Menurut pengarang Kasyf Al-
Dzunnu>n, orang yang pertama kali diberi julukan Al-Sufi adalah Abu>
Hasyi>m Al-Su>fi (Wafat. 150 H).6
Dalam sejarahnya, bahwa dakwah Nabi di Makkah tidaklah
semulus yang diharapkan. Kemudian Nabi melakukan tahannus di guwa
Hiro sebelum turunnya wahyu pertama. Kegiatan ini dalam rangka
menenangkan jiwa, menyucikan diri. Dalam proses ini Rasulullah
melakukan riyadhah dengan bekal makanan secukupnya, pakaian sederhana
yang jauh dari kemewahan dunia. Dengan demikian setelah menjalani
proses-proses tersebut jiwa Rasulullah SAW telah mencapai tingkatan
spiritual tertentu sehingga benar-benar siap menerima wahyu melalui
Malaikat Jibril.69 Dengan memperhatikan praktek-praktek Nabi SAW di
atas menunjukkan Islam merupakan agama yang memiliki akar tradisi
spiritual yang tinggi.
Pada prinsipnya perkembangan tasawuf itu ada tiga tahapan,
pertama periode pembentukan dengan menonjolkan gerakan-gerakan zuhud
sebagai fenomena sosial. Periode ini berlangsung selama abad pertama dan
kedua hijriyah yang dipelopori oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in.
Pada masa ini fenomena yang terjadi adalah semangat untuk beribadah
dengan prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Nabi SAW, untuk
kemudian mereka mencoba menjalani hidup zuhud. Tokoh-tokoh sufi pada
periode ini adalah Hasan Bashri (110 H.) dengan konsep khouf dan Rabi’ah
Al-Adawiyah (185 H.) dengan konsep cinta (Al-Hubb).70
Kedua, memasuki abad ketiga dan ke-empat hijriyah tasawuf
kembali menjalani babak baru. Pada abad ini tema-tema yang diangkat
para sufi lebih mendalam. Berawal dari perbincangan seputar akhlak dan
budi pekerti, mereka mulai ramai membahas tentang hakikat Tuhan, esensi
manusia serta hubungan antar keduanya. Dalam hal ini kemudian muncul
tema-tema seperti ma’rifat, fana’, dzauk, dan lain sebagainya.71 Para tokoh
pada masa ini diantaranya Imam Al-Qusyairi, Suhrawardi Al-Baghdadi,
Al-Hallaj, dan Imam Ghazali.
Ketiga, abad ke-enam dan ketujuh tasawuf kembali menemukan
suatu bentuk pengalaman baru. Persentuhan tasawuf dengan filsafat
berhasil mencetak tasawuf menjadi lebih filosofis yang kemudian dikenal
dengan istilah teosofi. Dari sinilah kemudian muncul dua varian tasawuf,
Sunni dengan coraknya amali dan Falsafi dengan corak iluminatifnya.
Adapun tokoh-tokoh teosofi abad ini adalah Surahwardi Al-Maqtu>l (549
H.), Ibnu ’Arabi (638 H.), dan Ibnu Faridh (632 H.)72
Jika dilacak secara cermat maka praktek-praktek zuhud yang
berkembang di dua abad pertama tersebut adalah hal yang lumrah dan dapat
ditemukan pembenarnya.73 Dalam pandanga Islam, zuhud bukanlah
upaya untuk memusuhi dunia materi dan harta. Zuhud dalam Islam tidak
seperti istilah kependetaan dalam Yahudi dan Nasrani. Zuhud bukanlah
’uzlah yang dalam artian menjauh dari hiruk pikuk bumi dan berada dalam
kesendirian serta tidak menghiraukan kehidupan sosial.74
Pertumbuhannya tasawuf terus berkembang seiring dengan
meluasnya wilayah Islam yang sebelumnya mungkin sudah mempunyai
pemikiran-pemikiran mistik, seperti pengaruh filsafat Yunani, Persi, India,
atau pun yang lainnya. Dalam perkembangannya, ajaran kaum sufi dapat
dibedakan dalam beberapa periode, yaitu :75
Pertama, perkembangan tasawuf pada abad pertama dan kedua
Hijriyah. Masa ini menyangkut perkembangan tasawuf pada dekade
sahabat yang dipelopori oleh Abu Bakar Shiddiq (wafat 13 H.), ’Umar bin
Khaththa>b (wafat. 23 H.), ’Usma>n Bin ’Affa>n (wafat. 35 H.), ’Ali bin Abi>
Tha>lib (wafat. 40 H.), Salman Al-Farisi, Abu> Dzar Al-Ghifari, Ammar Bin
Yasir, Huzaidah Bin al-Yaman, dan Miqdad Bin Aswad. Dalam dekade ini
juga termasuk pada masa tabi’in; tokoh-tokohnya adalah Hasan Bashri (22
– 110 H), Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185 H), Sufyan Ats-Tsauri (97 – 161
H.), Daud Ath-Thaiy (wafat 165 H.), dan Syaqiq al-Balkhi (wafat 194
H.).76
Kedua, perkembangan tasawuf pada abad ketiga dan ke-empat
Hijriyah. Tokoh-tokoh yang terkenal pada abad ketiga adalah Abu
Sulaiman ad-Darani (wafat 215 H.), Ahmad Bin Al-Hawary Ad-Damasyqi
Ketiga, perkembangan tasawuf abad kelima dan ke-enam Hijriyah
ditandai dengan sosok Imam Ghazali (450 H / 1058 M – 505 H / 1111 M)
dan Syaikh ’Abdul Qa>dir al-Jailaniy (470 H - 561 H) yang
mengkompromikan para ulama Fiqih dengan ajaran tasawuf yang
berpaham syi’ah.77 Pada abad ke-enam Hijriyah sufi yang terkenal adalah
Suhrawardi al-Maqtul (wafat 587 H), dan Al-Ghaznawi (wafat 545 H).
Ke-empat, perkembangan tasawuf pada abad ketujuh, dan
kedelapan Hijriyah. Pada abad ketujuh yang berpengaruh adaalah Unzar
Ibnul Faridh (576 – 632 H), Ibnu Sab’in (613 – 667 H), dan Jalaluddin Ar-
Rumi (604 – 672 H). Pada abad kedelapan Hijriyah yang muncul adalah
pengarang kitab Tasawuf, yaitu Al-Kisany (wafat 739 H),78 dan Abdul
Kari>m Al-Ji>ly dengan karyanya Al-Insa>n al-Ka>mil.
Kelima, perkembangan tasawuf pada abad kesembilan dan
kesepuluh Hijriyah serta masa berikutnya. Pada abad kesembilan dan
kesepuluh Hijriyah nasibnya kurang menguntungkan karena dianggap
sudah kehilangan kepercayaan masyarakat (penyimpangan ajaran Islam).
Namun ajaran tasawuf tidak hilang begitu saja. Ini terbukti masih adanya
ahli tasawuf yang memunculkan ajarannya dengan mengarang kitab dan
mendirikan tarekat yang berisikan ajaran-ajaran tasawuf, antara lain :
1. Abdul Wahha>b Asy-Sya’ra>ni (898 – 973 H). Karyanya berjudul Al-
Latha>-iful Mina>n (Ketulusan Hati).
2. Abul ’Abba>s Ahmad Bin Muhammad Bin Mukhta>r At-Tija>niy (1150-
1230 H). Ia mendirikan tarekat Tija>niyah.
3. Sidi Muhammad Bin ’Ali As-Sanu>siy (lahir 1206 H). beliau adalah
pendiri tarekat Sanusiyah.
4. Syeikh Muhammad Amin al-Kurdiy (wafat 1322 H) seorang penulis
kitab Tanwi>rul Qulu>b fi Mu’a>malah ’Alla>mil Ghuyu>b dan termasuk
pengikut tarekat Naqsabandiyah.79

HUKUM ATAU KEDUDUKAN ILMU TASAWUF


Mengenai kedudukan tasawuf dalam islam terdapat beberapa pendapat yang mengatakan,
bahawa hal itu tidak termasuk bagian integral dari ajaran islam dengan mengmukakan
argumentasi :
1. Tidak terdapat satupun kata tasawuf dan sufi dalam Qur‟an dan Hadits
2. Banyak istikah tasawuf yang sering digunakan sufi yang tidak ditemukan oleh al qur;an dan
hadis.
3. Timbulnya istilah tasawuf dan sufi beserta dengan ajarannya baru dikenal pada abad hijriyah.
4. Ajaran tasauf yang di amalkan oleh orang islam mirip dengan ajaran mistik yang telah
diamalkan oleh umat terdahulu.
Ajaran tasauf dalam islam,memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun iman
dan islam yang sifatnya wajib,tetapi ajaran tasauf bersifat sunnah.maka ulama tasauf sering
menamakan ajaranya dengan istilah fadaiul aamal. Memang ajaran tasauf harus diakui bahwa
tidak ada satupun ayat atau hadis yang memuat kata tasauf dan sufi, karena istilah ini baru timbul
ketika ulama tasauf berusaha membukukan ajran itu. Uapaya ulama tasauf memperkenalkan
ajranya lewat metode peribadatan dan istilah-istilah yang telah diperoleh dari pengalaman
batinya, yang memang metode dan istlah itu tidak didapatkan ayatnya di dalam al qur,an dan
hadis. Tetapi sebenarnya ciptaan ulama tasawuf tentang hal tersebut, di dasarkan pada al qur,an
dan hadits dengan perkataan udhkuru atau fadhuru. Ulama tasawuf yang sering juga disebut
ulama Al- Muhaqiqin membuat tatacara peribadatan unrtuk mencapai tujuan tasawuf
berdasarkan konsepsi dan motivasi beberapa ayat Al-Qur‟an dan Hadits, yang artinya :
sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.Kemudian
kami kembalikan ketmpat yang serendah-rendahnya (neraka ).
Dalam ayat pertama diterangkan bahwa manusia diciptakan sebaik-baiknya. Bahwa
manusia diciptakan sebaik-baik kejadian, namun karna perbuatan manusia itu sendiri, maka
Allah mengembalikannyakepada tempat yang hina.
Ajaran tasawuf termasuk ke dalam ajaran islam yang tercakup dalam sendi ihsan, yang berfungsi
memperkuat sendi Aqidah ( Keimanan ) dan sendi Shari‟ah. Maka sering kita jumpai pembagian
tasawuf menjdai tiga macam, yaitu :
1. Tasawuf Aqidah : yaitu lingkup pembicaraan tasawuf yang menekankan maslah-masalah
metafisis ( hal-hal yang ghaib ), yg unsure unsurnya adalah keimanan kepada tuhan, seperti
adanya malaikat, Syurga dan neraka dan sebagainya.
2. Tasawuf Ibadah : yaitu tasawuf yang menekankan pembicaraan dalam masalah rahasia Ibadah
( Asraru Al Ibadah ) . disamping itu Hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga
tingkatan, yaitu
a) Tingkatan orang-orang biasa (Al-Awam ) sebagai tingkatan pertama.
b) Tingkatan orang-orang yang istimewa (Al-Khawas ) sebagai tiingkatan kedua.
c) Tingkatan orang-orang yang Teristimewa atau yang luar biasa sebagai ( Khawas Al Khawas )
tingkatan yang ketiga.
Kalau tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka
tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para Wali ( Al Aulia ), sedangkan tingkatan ketiga
dimaksudkan sebagai para nabi ( Al Anbiya‟)
3. Tasawuf Akhlaki : yaitu tasawuf yang menenkankan pembahasan pada budi pekerti yang akan
mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan dunia akhirat, sehingga di dalamnya dibahas
beberapa masalah akhlak, antara lain :
a) Bertaubat ( At-Taubah), yaitu keinsafan seseorang dari perbuatan yang buruk, sehingga ia
menyesali perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik.
b) Bersyukur ( As-Shukru), yaitu berterimakasih kepada Allah dengan menggunakan segala
nikmatnya kepada hal-hal yang dipertintahkannya.
c) Bersabar (Ash-Sabru), yaitu tahan terhadap kesulitan dan musibah yang menimpanya.
d) Bertawakal (At-Tawakkul), yaitu memasrahkan sesuatu kepada Allah SWT.
e) Bersikap iklas (Al-Ikhlas), yaitu membersihan perbuatan dari riya (sifat yang menunjuk-
nunjukan kepada orang lain), demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan.