Anda di halaman 1dari 23

HAK dan KEWAJIBAN PASIEN

(UU no. 44 Tahun 2009 : UU tentang Rumah Sakit pasal 31 dan 32)

HAK
Setiap pasien mempunyai hak:

1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah
Sakit;
2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
4. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional;
5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian
fisik dan materi;
6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang
berlaku di Rumah Sakit;
8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang
mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit;
9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya;
10. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan
tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
11. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga
kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu
tidak mengganggu pasien lainnya;
14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah
Sakit;
15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya;
16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya;
17. Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan
pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan
18. Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan
melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

KEWAJIBAN
1. Setiap pasien mempunyai kewajiban terhadap Rumah Sakit atas pelayanan yang
diterimanya.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pasien diatur dengan Peraturan Menteri.
(UU no. 29 Tahun 2004 : UU tentang Praktik Kedokteran pasal 50 dan 51)

HAK
Pasien, dalam menerima pelayanan para praktik kedokteran, mempunyai hak:

1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana


dimaksud dalam pasal 45 ayat (3), yaitu :
o Diagnosis dan tata cara tindakan medis;
o Tujuan tindakan medis yang dilakukan;
o Alternatif tindakan lain dan resikonya;
o Risiko dan komplikasi yang mukin terjadi; dan
o Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
4. Menolak tindakan medis; dan
5. Mendapat isi rekam medis.

KEWAJIBAN
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban :

1. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;


2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
3. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan;
4. Memberikan imbalan atas pelayanan yang diterima.

Pengertian, Tujuan, Indikator, dan Kegiatan Pokok Desa Siaga

Desa siaga merupakan strategi baru pembangunan kesehatan. Desa siaga lahir sebagai
respon pemerintah terhadap masalah kesehatan di Indonesia yang tak kunjung selesai.
Tingginya angka kematian ibu dan bayi, munculnya kembali berbagai penyakit lama seperti
tuberkulosis paru, merebaknya berbagai penyakit baru yang bersifat pandemik seperti SARS,
HIV/AIDS dan flu burung serta belum hilangnya penyakit endemis seperti diare dan demam
berdarah merupakan masalah utama kesehatan di Indonesia. Bencana alam yang sering
menimpa bangsa Indonesia seperti gunung meletus, tsunami, gempa bumi, banjir, tanah
longsor dan kecelakaan massal menambah kompleksitas masalah kesehatan di Indonesia.

Desa siaga merupakan salah satu bentuk reorientasi pelayanan kesehatan dari
sebelumnya bersifat sentralistik dan top down menjadi lebih partisipatif dan bottom up.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
564/MENKES/SK/VI II/2006, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa
siaga, desa siaga merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa siaga
adalah suatu konsep peran serta dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa,
disertai dengan pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat untuk memelihara
kesehatannya secara mandiri.

Desa yang dimaksud di sini dapat berarti kelurahan atau nagari atau istilah-istilah lain
bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asalusul dan adat-
istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (Depkes, 2007).

Konsep desa siaga adalah membangun suatu sistem di suatu desa yang bertanggung
jawab memelihara kesehatan masyarakat itu sendiri, di bawah bimbingan dan interaksi
dengan seorang bidan dan 2 orang kader desa. Di samping itu, juga dilibatkan berbagai
pengurus desa untuk mendorong peran serta masyarakat dalam program kesehatan seperti
imunisasi dan posyandu (Depkes 2009).

Secara umum, tujuan pengembangan desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa
yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Selanjutnya,
secara khusus, tujuan pengembangan desa siaga (Depkes, 2006), adalah :

1. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya


kesehatan.
2. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa.
3. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan
sehat.
4. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.

Suatu desa dikatakan menjadi desa siaga apabila memenuhi kriteria berikut (Depkes,
2006) :

1. Memiliki 1 orang tenaga bidan yang menetap di desa tersebut dan sekurang-
kurangnya 2 orang kader desa.
2. Memiliki minimal 1 bangunan pos kesehatan desa (poskesdes) beserta peralatan dan
perlengkapannya. Poskesdes tersebut dikembangkan oleh masyarakat yang dikenal
dengan istilah upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang
melaksanakan kegiatan-kegiatan minimal :

 Pengamatan epidemiologis penyakit menular dan yang berpotensi menjadi kejadian


luar biasa serta faktor-faktor risikonya.
 Penanggulangan penyakit menular dan yang berpotensi menjadi KLB serta
kekurangan gizi.
 Kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.
 Pelayanan kesehatan dasar, sesuai dengan kompetensinya.
 Kegiatan pengembangan seperti promosi kesehatan, kadarzi, PHBS, penyehatan
lingkungan dan lain-lain.

Prinsip pengembangan desa siaga (Depkes, 2008), yaitu :

1. Desa siaga adalah titik temu antara pelayanan kesehatan dan program kesehatan yang
diselenggarakan oleh pemerintah dengan upaya masyarakat yang terorganisir.
2. Desa siaga mengandung makna “kesiapan” dan “kesiagaan” Kesiagaan masyarakat
dapat didorong dengan memberi informasi yang akurat dan cepat tentang situasi dan
masalah-masalah yang mereka hadapi.
3. Prinsip respons segera. Begitu masyarakat mengetahui adanya suatu masalah, mereka
melalui desa siaga, akan melakukan langkah-langkah yang perlu dan apabila langkah
tersebut tidak cukup, sistem kesehatan akan memberikan bantuan (termasuk pustu,
puskesmas, Dinkes, dan RSUD).
4. Desa siaga adalah “wadah” bagi masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan untuk
menyelenggarakan berbagai program kesehatan.

Secara organisasi, koordinasi dan kontrol proses pengembangan desa siaga dilakukan
oleh sebuah organisasi desa siaga. Organisasi desa siaga ini berada di tingkat desa/kelurahan
dengan penanggung jawab umum kepala desa atau lurah. Sedangkan pengelola kegiatan
harian desa siaga, bertugas melaksanakan kegiatan lapangan seperti pemetaan balita untuk
penimbangan dan imunisasi, pemetaan ibu hamil, membantu tugas administrasi di poskesdes
dan lain-lain.

Kegiatan pokok desa siaga

1. Surveilans dan pemetaan : Setiap ada masalah kesehatan di rumah tangga akan dicatat
dalam kartu sehat keluarga. Selanjutnya, semua informasi tersebut akan direkapitulasi
dalam sebuah peta desa (spasial) dan peta tersebut dipaparkan di poskesdes.
2. Perencanaan partisipatif: Perencanaan partisipatif di laksanakan melal ui survei
mawas diri (SMD) dan musyawarah masyarakat desa (MMD). Melalui SMD, desa
siaga menentukan prioritas masalah. Selanjutnya, melalui MMD, desa siaga
menentukan target dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target
tersebut. Selanjutnya melakukan penyusunan anggaran.
3. Mobilisasi sumber daya masyarakat : Melalui forum desa siaga, masyarakat dihimbau
memberikan kontribusi dana sesuai dengan kemampuannya. Dana yang terkumpul
bisa dipergunakan sebagai tambahan biaya operasional poskesdes. Desa siaga juga
bisa mengembangkan kegiatan peningkatan pendapatan, misalnya dengan koperasi
desa. Mobilisasi sumber daya masyarakat sangat penting agar desa siaga
berkelanjutan (sustainable).
4. Kegiatan khusus: Desa siaga dapat mengembangkan kegiatan khusus yang efektif
mengatasi masalah kesehatan yang diprioritaskan. Dasar penentuan kegiatan tersebut
adalah pedoman standar yang sudah ada untuk program tertentu, seperti malaria, TBC
dan lain-lain. Dalam mengembangkan kegiatan khusus ini, pengurus desa siaga
dibantu oleh fasilitator dan pihak puskesmas.
5. Monitoring kinerja : Monitoring menggunakan peta rumah tangga sebagai bagian dari
surveilans rutin. Setiap rumah tangga akan diberi Kartu Kesehatan Keluarga untuk
diisi sesuai dengan keadaan dalam keluarga tersebut. Kemudian pengurus desa siaga
atau kader secara berkala mengumpulkan data dari Kartu Kesehatan Keluarga untuk
dimasukkan dalam peta desa.
6. Manajemen keuangan: Desa siaga akan mendapat dana hibah (block grant) setiap
tahun dari DHS-2 guna mendukung kegiatannya. Besarnya sesuai dengan proposal
yang diajukan dan proposal tersebut sebelumnya sudah direview oleh Dewan
Kesehatan Desa, kepala desa, fasilitator dan Puskesmas. Untuk menjaga transparansi
dan akuntabilitas, penggunaan dana tersebut harus dicatat dan dilaporkan sesuai
dengan pedoman yang ada.
Tahapan pengembangan desa siaga
Pengembangan desa siaga merupakan aktivitas yang berkelanjutan dan bersifat siklus. Setiap
tahapan meliputi banyak aktivitas.

1. Pada tahap 1 dilakukan sosialisasi dan survei mawas diri (SMD), dengan kegiatan
antara lain : Sosialisasi, Pengenalan kondisi desa, Membentuk kelompok masyarakat
yang melaksanakan SMD, pertemuan pengurus, kader dan warga desa untuk
merumuskan masalah kesehatan yang dihadapi dan menentukan masalah prioritas
yang akan diatasi.
2. Pada tahap 2 dilakukan pembuatan rencana kegiatan. Aktivitasnya, terdiri dari
penentuan prioritas masalah dan perumusan alternatif pemecahan masalah. Aktivitas
tersebut, dilakukan pada saat musyawarah masyarakat 2 (MMD-2). Selanjutnya,
penyusunan rencana kegiatan, dilakukan pada saat musyawarah masyarakat 3 (MMD-
3). Sedangkan kegiatan antara lain memutuskan prioritas masalah, menentukan
tujuan, menyusun rencana kegiatan dan rencana biaya, pemilihan pengurus desa siaga,
presentasi rencana kegiatan kepada masyarakat, serta koreksi dan persetujuan
masyarakat.
3. Tahap 3, merupakan tahap pelaksanaan dan monitoring, dengan kegiatan berupa
pelaksanaan dan monitoring rencana kegiatan.
4. Tahap 4, yaitu : kegiatan evaluasi atau penilaian, dengan kegiatan berupa pertanggung
jawaban.

POSKESDES

Pengertian

Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat


(UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan
kesehatan dasar bagi masyarakat desa.Poskesdes dapat dikatakan sebagai sarana kesehatan
yang merupakan pertemuan antara upaya-upaya masyarakat dan dukungan
pemerintah.Pelayanannya meliputi upaya-upaya promotif, preventif, dan kuratif yang
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan (terutama bidan) dengan melibatkan kader atau tenaga
sukarela Iainnya.
Pembentukan POSKESDES didahulukan pada Desa yang tidak memiliki Rumah
Sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu (PUSTU), dan bukan ibu Kota Kecamatan atau Ibu
Kota Kabupaten. POSKESDES di harapkan sebagai pusat pengembangan dan kordinator
berbagai UKBM yang dibutuhkan masyarakat Desa, misalnya POS Pelayanan Terpadu atau
POSYANDU dan warung obat desa (WOD).

Tujuan Poskesdes
1. Meningkatkan sistem surveilans, monitoring & informasi kesehatan
2. Meningkatkan pembiayaan kesehatan.
3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
4. Terwujudnya masyarakat sehat yang siaga terhadap permasalahan kesehatan di wilayah
desanya
5. Terselenggaranya promosi kesehatan dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan
6. Terselenggaranya pengamatan, pencatatan dan pelaporan dalam rangka meningkatkan
kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap resiko dan bahaya yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi
menimbulkan kejadian luar biasa atau KLB serta factor- factor resikonya
7. Tersedianya upaya pemerdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk menolong dirinya di bidang kesehatan
8. Terselenggaranya pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh masyarakat dan tenaga
professional kesehatan
9. Terkoordinasinya penyelenggaraan UKBM lainnya yang ada di desa Pembangunan
Poskesdes di maksudkan untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat
yang tinggal jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan, Poskesdes dibangun dalam rangka
menyelenggarakan pelayanan Kesehatan dasar ,menyeluruh dan terpadu dan sebagai ujung
tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa/Kecamatan .

Fungsi Poskesdes

1. Sebagai wahana peran aktif masyarakat di bidang kesehatan


2. Sebagai wahana kewaspadaan dini terhadap berbagai resiko dan masalah kesehatan
3. Sebagai wahana pelayanan kesehatan dasar, guna lebih mendekatkan kepada masyarakat
serta meningkatkan jangkauan dan cakupan pelayanan kesehatan
4. Sebagai wahana pembentukan jaringan berbagai UKBM yang ada di desa

Manfaat poskesdes

1. Bagi masyarakat
a. Permasalahan di desa dapat terdeteksi dini, sehingga bisa ditangani cepat dan diselesaikan,
sesuai kondisi potensi dan kemampuan yang ada
b. Memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang dekat
2. Bagi kader
a. Mendapat informasi awal di bidang kesehatan
b. Mendapat kebanggaan, dirinya lebih berkarya bagi masyarakat
3. Bagi puskesmas
a. Memperluan jangkauan pelayanan puskesmas dengan mengoptimalkan sumber data secara
efektif dan efisien
b. Mengoptimalkan fungsi puskesmas sebagai penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama
4. Bagi sektor lain
a. Dapat memadukan kegiatan sektornya di bidang kesehatan
b. Kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan lebih afektif dan efisien

Kegiatan Poskesdes

Kegiatan utama pelayanan kesehatan bagi masyarakat desa, adalah :


1. Pengamatan epidemiologis sederhana terhadap penyakit, terutama penyakit menular dan
penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB), dan faktor resikonya
(termasuk status gizi) serta kesehatan ibu hamil yang beresiko.
2. Penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi
menimbulkan KLB, serta faktor-faktor resikonya (termasuk kurang gizi).
3. Kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.
4. Pelayanan medis dasar, sesuai dengan kompetensi. Pelayanan tersebut di laksananakan baik
di dalam poskesdes maupun di luar poskesdes (dalam gedung maupun luar gedung).
kegiatan pengembangan meliputi promosi kesehatan untuk :
1. Peningkatan keluarga sadargizi,
2. Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat(PHBS),
3. Penyehatan Lingkungan. Poskesdes juga merupakan pusat pengembangan atau revitalisasi
berbagai UKBM lain yang di butuhkan oleh masyarakat desa, antara lain Warung Obat Desa,
Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga. Dengan demikian Poskesdes juga berperan
sebagai koordinator dari berbagai UKBM yang ada di wilayah desa.
a. Waktu Penyelenggaraan Peyananan Poskesdes di laksanakan secara rutin setiap hari.
b. Tempat Penyelenggaraan Poskesdes perlu memiliki tempat pelayanan. dalam pelaksanaan
kesehatan di dalam Poskesdes, diperlukan ruangan yang dapat berfungsi sebagai :
 Ruang pendaftaran.
 Ruang tunggu.
 Ruang pemeriksaan.
 Ruang tindakan (Persalinan).
 Ruang rawat inap persalinan.
 Ruang petugas.
 Ruang konsultasi (gizi, sanitasi, dll).
 Ruang obat.
 Kamar mandi dan toilet

Sumber Daya Poskesdes

diselenggarakan oleh tenaga kesehatan (minimal seorang bidan), dengan dibantu oleh
sekurang-kurangnya 2 (dua) orang kader.

Pembangunan sarana fisik Poskesdes dapat dilaksanakan melalui berbagai cara, yaitu
dengan urutan alternatif sebagai berikut:
1. Mengembangkan Pondok Bersalin Desa (Polindes) yang telah ada menjadi Poskesdes,
2. Memanfaatkan bangunan yang sudah ada, yaitu misalnya Balai RW, Balai Desa, Balai
Pertemuan Desa, dan lain-lain.
3. Membangun baru, yaitu dengan pendanaan dari Pemerintah (Pusat atau Daerah), donatur,
dunia usaha, atau swadaya masyarakat.

INFORMED CONSENT

informed Consent (IC) adalah suatu proses penyampaian informasi secara relevan dan
eksplisit kepada pasien/subyek penelitian untuk memperoleh persetujuan medis sebelum
dilakukan suatu tindakan medis/pengobatan/partisipasi dalam penelitian.

Informed Consent terdiri dari beberapa jenis, berikut menurut kepentingan penggunaannya:

Informed Consent dalam prosedural medis

 Adalah suatu persetujuan pasien terhadap tindakan medis yang akan dilakukan kepada
diri pasien, tertuang dalam suatu dokumen vital yang ditandatangani
 Informed Consent ini juga disebut sebagai ‘persetujuan tindakan kedokteran’
 Sebagian besar keterangan Informed Consent dalam artikel ini adalah mengenai hal
ini
Informed Consent dalam praktik klinis

 Adalah suatu persetujuan pasien terhadap penggunaan informasi personal pasien


untuk suatu kepentingan tertentu

Informed Consent dalam penelitian ilmiah, seperti uji coba klinis, atau clinical trial

 Adalah suatu persetujuan seorang subyek penelitian, untuk berpartisipasi dalam suatu
uji coba klinis, yang akan dilakukan kepada diri subyek tersebut
 Persetujuan ini tertuang dalam suatu dokumen vital yang mesti ditandatangani

Informed Consent yang diwakilkan

 Dalam hal ini, Informed Consent tidak selalu dapat diperoleh langsung dari seorang
pasien/subyek
 Karenanya, Informed Consent biasanya diperoleh dari keluarga pasien/subyek
tersebut, atau wali yang memiliki otoritas/legalitas untuk memberikan persetujuan
tersebut

Informed Consent Anak

 Berdasarkan Undang-Undang nomor 35 tahun 2014, yang dimaksud dengan Anak


adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun
 Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, pasal 330, seseorang yang berumur
21 tahun, atau lebih, atau telah menikah dianggap sebagai orang dewasa sehingga
dapat memberikan persetujuan
 Anak yang masih kecil dapat mengerti proses prosedur medis yang simpel beserta
potensial konsekuensinya, seperti misalnya perawatan luka
 Namun, untuk suatu tindak medis yang lebih kompleks, seperti kemoterapi, pungsi
lumbal, anak kecil ini belum dapat mengkonseptualkan prosedur medis ini
o Karenanya, anak kecil dianggap tidak dapat memberikan suatu Informed
Consent untuk hal medis yang lebih kompleks
o Maka, orangtua, atau wali yang berlegalitas, memiliki otoritas untuk
memberikan persetujuan ini
 Dalam melakukan uji coba penelitian kepada anak-anak, umumnya diminta
persetujuan bukan hanya dari orangtua, tapi juga dari subyek penelitian, yaitu anak
tersebut.
o Seorang anak tetap memiliki hak untuk menentukan dan memutuskan apa
yang hendak dilakukan terhadap dirinya
o Hal ini tertuang dalam suatu keputusan, yang disebut sebagai Informed Assent
o Di negara Amerika Serikat, terdapat rekomendasi suatu peraturan usia anak
menurut perkembangan kognitifnya, dalam kompetensi anak tersebut
memutuskan apakah mau turut serta berpartisipasi sebagai subyek dalam suatu
penelitian, yang disebut sebagai Rule of Sevens

Rule of Sevens, membagi kehidupan anak menjadi tiga bagian, yaitu:

 Lahir – usia 7 tahun: perkembangan kognitif yang kurang matang pada anak kisaran
usia ini, untuk dapat mengambil keputusan secara otonom
 Usia 7 – 14 tahun: kisaran usia ini, anak dianggap dapat untuk membedakan mana
yang benar, atau tidak
 Usia 14 – 21 tahun: pada kisaran usia ini, anak secara legal, memiliki tanggungjawab
sosial akan sikap perilakunya di masyarakat, dan keluarga

Namun, sekali lagi, batasan usia anak tidaklah menjadi pedoman yang pasti. Pada akhirnya,
dokterlah yang dapat memutuskan kompetensi seorang anak untuk memutuskan hal-hal yang
lebih kompleks

Informed Consent Penderita Gangguan Mental

 Merupakan suatu tantangan dalam memperoleh Informed Consent dari seorang pasien
psikiatrik untuk menilai kompetensi pasien tersebut
 Penting untuk diingat bahwa seseorang dengan gangguan mental, tidak selalu
inkompeten untuk menyetujui pengobatan
 Adanya laporan ilmiah yang menunjukkan bahwa kebanyakan pasien yang dirawat
dengan penyakit mental, memiliki kapasitas/kompetensi yang sama untuk membuat
keputusan mengenai pengobatan, sebagaimana para pasien dengan kondisi medis
lainnya
 Seorang pasien dengan gangguan mental yang berat, mungkin tidak kompeten pada
beberapa aspek, namun kompeten pada aspek lainnya, seperti kemampuan untuk
memutuskan suatu pengobatan bagi dirinya, contohnya:
o Seorang pasien skizofrenia dan paranoid delusi, yang mengalami serangan
jantung, dapat memutuskan perihal tindakan/pengobatan medis bagi dirinya
o Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290 tahun
2008, penilaian terhadap kompetensi pasien dalam hal persetujuan tindakan
medis, dapat dilakukan oleh dokter, sebelum tindakan tersebut dilakukan
o Dalam hal pasien tidak kompeten, maka keluarga terdekat dapat mewakili
memberikan persetujuan

Pasien yang koma atau disedasi

Informed Consent Pasien dengan kesadaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk
memutuskan sesuatu hal, misalnya dalam keadaan koma, atau pasien yang disedasi

 Persetujuan dapat diminta dari keluarga, atau pengasuh, atau seseorang yang
bertanggungjawab terhadap seorang pasien yang tidak sadarkan diri
 Dalam hal kegawatdaruratan untuk tindak medis yang mesti diambil dalam upaya
menyelamatkan pasien tersebut

Prasyarat pasien dewasa memberikan consent:

 Pasien haruslah kompeten untuk memberikan consent


 Pasien menyadari keadaan dirinya, dan mampu berpikir secara jernih

Memperoleh suatu consent, tidak hanya suatu kewajiban bernilai etik, tapi juga perlu secara
hukum. Karena itu, telah diakui secara luas bahwa Informed Consent merupakan suatu
elemen yang diperlukan untuk melakukan suatu praktik klinis yang baik
Etika dan Hukum

Konsep Informed Consent adalah sebagai berikut:

Aspek Etika:

 Berdasar pada prinsip etika, yaitu otonomi pasien, dan hak asasi dasar manusia
 Pasien memiliki kebebasan mutlak, untuk:
o Memutuskan apa yang terjadi pada dirinya
o Mengumpulkan informasi sebelum menjalani suatu prosedur tindak medis
 Tidak seorangpun berhak untuk memaksa seorang pasien untuk menjalani suatu
tindak medis tertentu
 Bahkan seorang dokter, hanya sebagai fasilitator dalam hal keputusan medis pasien
 Lebih jauh, penelitian-penelitian ilmiah menunjukkan bahwa para dokter tidak selalu
benar dalam menebak keinginan pasien
 Maka, konsekuensinya para dokter seharusnya tidak berasumsi mengenai apa yang
diinginkan pasien
 Akan tetapi, menanyakan setiap pasien terlebih dahulu mengenai sikap mereka
terhadap terapi untuk perpanjang hidup, seperti resusitasi kardiopulmonal, dalam hal
untuk memenuhi kewajiban etika ini, adalah tidak realistik
 Kebanyakan pasien memiliki keinginan besar untuk hidup dan berharap dokter
melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan diri mereka, atau memperpanjang
hidup
 Meski demikian, dokter semestinya berkonsentrasi pada pasien lanjut usia yang
mengindikasikan bahwa mereka memiliki kualitas hidup yang buruk, atau tidak ada
keinginan untuk hidup lebih lama, atau pasien yang menderita sakit sangat berat
 Sehingga hal tersebut di atas menjadikan para dokter berasumsi bahwa pasien yang
tidak masuk kategori ini, akan memilih resusitasi kardiopulmonal

Aspek Hukum:

 Secara umum, menyentuh, atau melakukan suatu intervensi secara fisik kepada
seseorang, tanpa ada “persetujuan” daripadanya, dianggap sebagai penganiayaan
 Karenanya, memperoleh “consent” adalah suatu keharusan dalam suatu tindakan
medis/penelitian, selain daripada pemeriksaan fisik rutin pada pasien yang datang
untuk berobat ke dokter
 Dalam hal pemeriksaan fisik dan investigasi medis yang rutin dan umum dilakukan,
tidak diperlukan consent tertulis, karena pasien yang datang ke tempat praktik dokter
untuk berobat, adalah suatu consent dari pasien tersebut secara implisit
o Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, tindakan medis
rutin seperti penjahitan luka kecil, dapat menjadi masalah bagi seorang dokter
IGD
 Tanpa consent tertulis yang menjelaskan perihal perlunya rujukan ke dokter bedah
plastik, pasien/keluarganya dikemudian hari dapat menuntut
 Karena luka sembuh dengan jaringan parut, sehingga secara estetika kulit bekas luka
tersebut tampak buruk
 Demikian halnya kepada seseorang yang mengalami kegawatdaruratan/tidak sadarkan
diri, misalnya karena kecelakaan
o Dalam situasi ini, tindakan medis dapat segera dilakukan dokter, untuk
menyelamatkan nyawa pasien tersebut, tanpa harus meminta consent tertulis
Proses Informed Consent

Konseling

Konseling pasien adalah penting dalam memperoleh persetujuan pasien untuk tindakan
medis/penelitian

 Konseling pasien ini merupakan suatu diskusi antara dokter dan pasien, untuk
menyampaikan informasi medis berkenaan dengan suatu prosedur medis/penelitian
yang akan dijalani oleh pasien tersebut, termasuk perihal potensial risiko, atau
komplikasinya
 Informed Consent mesti didahului dengan menyingkapkan informasi yang adekuat
 Dokter/peneliti juga penting untuk menilai kompetensi dan pengertian pasien/subyek
dalam menerima informasi yang diberikan
 Persetujuan pasien/subyek dapat menjadi tantangan dalam praktiknya di lapangan,
dimana informasi yang adekuat tidak diungkapkan
 Infomasi yang adekuat berguna, agar pasien dapat mengambil suatu keputusan yang
benar, dan berdasar atas pengetahuan yang diinformasikan kepadanya
 Oleh sebab itu, informasi yang relevan, adekuat, dan akurat mesti diberikan secara
jujur, tertuang dalam suatu kertas formulir, tertulis kata-kata yang non-ilmiah, dan
tidak dalan istilah kedokteran, dengan bahasa yang dapat dimengerti pasien/subyek

Seorang individu dikatakan memberikan suatu Informed Consent yang valid, apabila
tercantum tiga komponen berikut ini:

Disclosure

 Kondisi/gangguan/penyakit yang diderita pasien


 Perlunya dilakukan tes yang lebih lanjut
 Penyebab kondisi pasien, dan komplikasi yang mungkin terjadi
 Konsekuensi apabila tidak diobati
 Opsi pengobatan yang tersedia
 Potensial risiko dan manfaat terhadap opsi pengobatan
 Lama dan perkiraan biaya pengobatan
 Hasil, atau outcome yang diharapkan
 Perlunya follow-up
 Tingkat disclosure ini, hendaknya berupa kasus spesifik

Capacity

 Juga disebut sebagai kompetensi


 Menunjuk pada kemampuan subyek untuk mengerti informasi yang diberikan dan
membentuk suatu keputusan yang beralasan, berdasar pada potensial konsekuensi atas
keputusan tersebut
 Pasien mesti diberikan kesempatan untuk bertanya dan mengklarifikasi seluruh
keraguannya
 Tidak boleh ada sedikitpun paksaan
Voluntariness

 Consent mestilah sukarela


 Pasien juga seharusnya memiliki kebebasan untuk membatalkan consent yang telah
disetujuinya, yang disebut sebagai Informed Refusal
 Consent yang diberikan atas dasar rasa takut akan cedera, atau intimidasi,
miskonsepsi, atau salah memberikan fakta, dapat dianggap invalid

Dokumentasi Informed Consent

Dokumentasi Informed Consent haruslah mengikuti aturan, dibuat dalam bentuk dan isi yang
terstandar.

Dokumentasi harus mencantumkan tanggal, dan ditandatangani oleh:

 Dalam tindakan medis:


o Pasien
o Dokter
o Pengasuh
o Seorang saksi yang independen
 Dalam penelitian ilmiah:
o Principal Investigator
o Subyek penelitian
o Pengasuh
o Seorang saksi yang independen
 Seperti layaknya rekam medis, maka dokumentasi ini biasanya disimpan sedikitnya
tiga tahun

Apabila setelah informasi diberikan, pasien menolak untuk menjalankan suatu tindakan
medis/pengobatan, maka hendaknya dokter juga mesti memperoleh dokumentasi tersebut,
dan meminta tanda tangan pasien pada suatu formulir penolakan pasien, yang menyatakan
segala risiko telah dijelaskan

Tanggung Jawab Moral Profesi Medis/Peneliti

 Meski Informed Consent telah diperoleh, namun tidak menjadikan seorang dokter
menghindari tanggunjawabnya secara hukum
 Informed Consent tidak berarti bahwa tanggungjawab untuk keputusan akhir berada
pada pihak pasien
 Dalam praktik klinis, dokter diminta untuk memandu pasien kepada suatu keputusan,
dan memberikan rekomendasi
 Lebih jauh, pasien tidak selalu menanyakan hal-hal yang detail untuk membuat suatu
keputusan
 Hal ini dapat terjadi pada situasi tertentu, dimana keputusan berhubungan dengan
hidup, atau mati, atau ketika hanya ada satu alternatif medis, contohnya:
o Resipien yang berpotensial menerima implan cardioverter-defibrillator
o Umumnya resipien ini beranggapan mudah untuk menyetujui pengobatan ini,
berdasarkan informasi yang mengatakan bahwa alat tersebut adalah
pengobatan yang terbaik, yang tersedia untuk mencegah kematian, yang
disebabkan oleh kardia aritmia.
Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Menurut Para Ahli
Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu sendiri selama 1 jam setelah lahir
langsung dikeringkan bagian tubuhnya kecuali bagian tangan biarkan saja basah dengan sisa
cairan ketuban yang menempel. Konon, Bau air ketuban yang menempel pada tangan bayi
akan menuntunnya untuk menemukan putting karena bau air ketuban mirip dengan
kolostrum pada Air Susu Ibu (ASI). Proses melakukan IMD adalah dengan meletakan bayi
pada dada ibu segera setelah lahir dan membiarkannya merayap sendiri mencari putting untuk
menyusu, proses ini dinamakan the breast crawl.

Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Menurut Para Ahli

1. Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menurut Depkes (2008), IMD dilakukan
dengan membiarkan bayi menempel di dada atau perut ibu segera setelah lahir dan
membiarkannya merayap mencari putting, kemudian bayi menyusu sampai puas.

2. Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menurut Roesli (2008), IMD adalah
ketika pada jam pertama bayi lahir dan berhasil menemukan p4yudar4 ibunya. Inilah awal
hubungan menyusui antara bayi dan ibunya, yang akhirnya berkelanjutan dalam kehidupan
ibu dan bayi.

3. Pengertian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) menurut Wulandari D (2010), IMD harus
dilakukan langsung saat lahir, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau
mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan hanya dikeringkan, kecuali tangannya.
Proses yang memakan waktu hingga 1 jam ini, harus berlangsung skin to skin contact antara
bayi dan ibu.

Proses melahirkan tidaklah sederhana, seorang istri mempertaruhkan nyawa untuk


melahirkan si buah hati ke dunia. Maka suami harus mendukungnya dengan sepenuh hati.
Sebenarnya, ada juga suami yang takut melihat darah, tetapi ketakutan ini dapat disiasati,
misalnya suami berdiri dibelakang istri. Dalam proses IMD, dibutuhkan kesiapam mental ibu.
Ibu tidak boleh merasa risih ketika bayi diletakkan di atas tubuhnya. Beberapa tindakan yang
dapat dilakukan suami antara lain memberikan perhatian kepada istri, misalnya dengan
mengelus-elus rambut disertai mengungkapkan kalimat yang menenangkan hati (Prasetyono,
2012).

Meskipun melahirkan secara caesar, Ibu dapat melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
pada bayinya walaupun kemungkinan berhasilnya sekitar 50% dari pada persalinan normal,
dengan catatan bayi dalam kondisi yang stabil.

Menurut Ananda (2009) Tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan IMD, mau itu
melahirkan secara caesar atau bayi yang lahir dengan berat bayi lahir rendah (BBLR) tetap
dapat melakukan IMD, dengan catatan yang sama yaitu bayi dalam kondisi stabil.
Manfaat IMD dipercaya dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh bayi terhadap
penyakit-penyakit yang berisiko kematian tinggi, misalnya kanker syaraf, leukimia, dan
beberapa penyakit lainnya. Selain itu, IMD juga dapat menekan Angka Kematian Bayi
(AKB) baru lahir hingga mencapai 22 % (Cie, 2008).

Manfaat dalam melakukan Inisiasi Menyusu Dini banyak sekali, diantaranya adalah:

1. Mencegah perdarahan pada ibu pasca bersalin, karena hisapan bayi pada puting akan
merangsang hormon oksitosin sehingga otot rahim akan berkontraksi
2. Termoregulasi, suhu tubuh ibu akan naik untuk menghangatkan bayi sehingga
mencegah bayi mengalami hipothermia.
3. Pembentukan koloni bakteri baik pertama, pada saat IMD bayi akan menjilati kulit
ibunya, sehingga terjadi pemindahan bakteri dari kulit ibunya ke sakuran cerna bayi
4. BONDING , terbentuk ikatan yang kuat antara ibu, bayi dan ayah yang mendampingi
proses IMD
5. Membantu keberhasilan proses menyusui, karena pada saat IMD bayi akan belajar
menghisap dan melekat pada payudara. Pada satu jam pertama, insting bayi yang
terbentuk akan terlatih dan diingat oleh bayi.
6. Bayi mendapatkan KOLOSTRUM yang banyak mengandung protein anti infektif
sehingga melindungi bayi dari infeksi.

Pertolongan Pertama Diare yang Tepat


Diare adalah gangguan di mana tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair setidaknya
3 kali dalam 24 jam. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan diare, misalnya karena
keracunan makanan, mengonsumsi makanan tertentu, salah minum obat, stres, minum
alkohol, infeksi bakteri dan penyebab lainnya.

Bila penderita masih dapat minum, maka cairan tubuh yang hilang dapat tergantikan. Tetapi
bila penderita tidak mau minum dan sering muntah, maka cairan tubuhnya akan cepat hilang
dan terjadilah gejala dehidrasi.

Gejala Diare

Gejala-gejalanya tergantung pada penyebabnya. Sangat umum untuk merasakan satu atau
beberapa hal berikut ini:

 Mual
 Sakit perut
 Kram
 Kembung
 Dehidrasi
 Demam
 Tinja berdarah
 Dorongan yang sering untuk mengeluarkan isi perut Anda
 Volume tinja besar
Cara Mencegah Diare

Meskipun diare dapat terjadi karena berbagai alasan, ada tindakan yang dapat diambil untuk
mencegahnya:

 Anda dapat menghindari diare akibat keracunan makanan dengan mencuci alat memasak
dan sering menyajikan makanan di tempat yang sama.
 Sajikan makanan segera setelah menyiapkannya.
 Dinginkan sisa makanan dengan segera.
 Selalu mencairkan makanan beku di kulkas.

Pertolongan Pertama Diare

Berikut ini cara memberikan pertolongan pertama pada diare yang tepat:

1. Penuhi kebutuhan cairan tubuh

Pertolongan pertama pada muntaber atau diare untuk orang dewasa, bisa penuhi cairan tubuh
dengan minuman seperti jus buah, teh hangat campur madu, soda, sports drink, dan kaldu
jernih. Hindari susu, minuman yang mengandung susu, alkohol, jus apel, dan kafein saat
terkena diare dan 3-5 hari setelah Anda sembuh dari diare. Pastikan Anda mengonsumsi lebih
banyak cairan, setelah lebih banyak kehilangan cairan tubuh saat terkena diare.

2. Minum oralit

Pertolongan pertama muntaber atau diare dengan memberikan oralit juga bisa membantu
meredakan penyakit diare. Anda bisa melarutkan satu sachet oralit dengan 200 ml air hangat.
Perlu diingat bahwa cairan ini hanya bisa digunakan selama 24 jam saja, jika sudah lebih dari
24 jam, Anda harus membuat cairan oralit yang baru. Anda juga bisa membuat cairan oralit
sendiri. Caranya dengan melarutkan satu sendok gula dan seperempat sendok garam dengan
200 ml air hangat. Untuk dehidrasi ringan, bisa minum oralit 50 ml per 1 kg berat badan.
Sementara untuk dehidrasi sedang, berikan oralit 100 ml per 1 kg berat badan.

3. Istirahat

Saat terkena diare, pertolongan pertama pada diare dewasa adalah dengan menghindari
kegiatan-kegiatan berat. Istirahatlah total di rumah dan hentikan kesibukan Anda selama
beberapa saat hingga sembuh.

4. Konsumsi makanan yang tepat

Berikan makanan yang mudah dicerna seperti pisang kepada anak-anak atau bayi. Sementara
untuk dewasa, konsumsi makanan yang rendah serat dan semisolid agar bisa segera
menyembuhkan penyakit diare Anda. Satu lagi yang penting, hindari makanan pedas,
berminyak, dan berlemak.

5. Saatnya menghubungi dokter

Anda harus segera menghubungi dokter, jika mengalami hal-hal berikut ini:
 Pertama, ketika sudah mengalami dehidrasi parah
 Kedua, saat sudah muntah berulang kali atau sakit perut yang tak kunjung sembuh.
 Ketiga, jika ada darah dalam feses atau feses berwarna hitam.
 Keempat, jika mengalami demam.
 Kelima, jika diare yang dialami seorang anak tidak berkurang setelah 24 jam atau ketika
diare yang dialami orang dewasa tidak sembuh setelah 2-3 hari.

Imunisasi
Imunisasi adalah program pencegahan penyakit menular yang diterapkan dengan
memberikan vaksin sehingga orang tersbut imun atau resisten terhadap penyakit
tersebut. Program imunisasi dimulai sejak usia bayi hinggan masuk usia sekolah.
Melalui program ini, anak akan diberikan vaksin yang berisi jenis bakteri atau virus
tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan guna merangsang sistem imun
dan membentuk antibodi di dalam tubuh mereka. Antibodi yang terbentuk setelah
imunisasi bermanfaat untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus
tersebut di masa yang akan datang.

Metode pemberian vaksin dalam imunisasi beragam, ada yang dengan cara
disuntikkan, dimasukkan (ditetesi) ke dalam mulut, atau bahkan disemprotkan ke
dalam mulut atau hidung. Sejumlah vaksin ada yang hanya diberikan sekali seumur
hidup dan ada juga yang perlu diberikan secara berkala agar kekebalan tubuh
terbentuk dengan sempurna.
Bayi baru lahir memang telah memiliki antibodi dari ibunya yang diterima saat masih
di dalam kandungan, namun kekebalan ini hanya dapat bertahan hingga beberapa
minggu atau bulan saja. Setelah itu, bayi akan menjadi rentan terhadap berbagai
jenis penyakit dan perlu mulai memproduksi antibodi sendiri. Dengan imunisasi,
sistem kekebalan tubuh anak akan siap untuk menghadapi serangan penyakit
tertentu di masa depan, seperti cacar, campak, polio, tetanus, dan gondongan,
sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Imunisasi juga bisa membantu
mencegah epidemi penyakit menular serta menekan pengeluaran karena biaya
pencegahan lebih murah daripada biaya pengobatan.

Efek Samping Imunisasi


Umumnya efek samping imunisasi tergolong ringan, misalnya:

 Nyeri atau bekas berwarna kemerahan di bagian yang disuntik


 Demam
 Mual
 Pusing
 Hilang nafsu makan

Untuk efek samping yang tergolong parah (misalnya kejang dan reaksi alergi),
jarang sekali terjadi.
Pertimbangkanlah kembali jika Anda berencana untuk tidak menyertakan anak ke
dalam program imunisasi karena risiko efek samping vaksinasi itu sendiri lebih kecil
dibandingkan manfaatnya sepanjang hidup.

Jenis-jenis Vaksin Imunisasi di Indonesia


Berikut ini adalah jenis-jenis vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI) dalam program imunisasi, di antaranya:

 Hepatitis B
 Polio
 BCG
 DTP
 Campak
 Hib
 PCV
 Rotavirus
 Influenza
 MMR
 Tifoid
 Hepatitis A
 Varisela
 HPV

Di Indonesia, vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP dan campak merupakan imunisasi
wajib. Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang direkomendasikan.

Hepatitis B
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan
oleh virus melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa
dilakukan pertama kali pada anak setelah kelahirannya. Selanjutnya vaksin ini bisa
kembali diberikan pada saat anak berusia satu bulan dan pemberian ketiga di
kisaran usia 3-6 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah
pada anak. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit
menjadi kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.

Polio
Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak
napas, dan terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu
rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua,
empat, serta enam bulan. Vaksin ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia satu
setengah tahun, dan yang terakhir di usia lima tahun.
Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu
makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah
reaksi alergi berupa gatal, kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah
bernapas atau menelan.
BCG
Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau yang lebih
dikenal sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat ditularkan
melalui hubungan dekat dengan orang yang terinfeksi TB, seperti hidup di rumah
yang sama.
Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru
dilahirkan hingga berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum
adalah munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang
sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.

DTP
Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah
penyakit difteri, tetanus, dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk
rejan.
Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas,
radang paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus
merupakan penyakit kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang
terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat
mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat menyebabkan
radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.
Pemberian vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia:

 Dua bulan
 Tiga bulan
 Empat bulan
 Satu setengah tahun
 Lima tahun

Vaksin DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau
dewasa. Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12
tahun. Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam,
dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang.

Campak
Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit
tenggorokan, radang mata, dan ruam. Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada
saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun, dan enam tahun.
MMR
Selain vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang
merupakan vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin
campak, gondong, dan campak Jerman.
Gondong merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan
kelenjar parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri
sendi, dan sakit kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat
menyebabkan nyeri sendi, pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala
dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.
Pemberian vaksin MMR dilakukan dua kali, yaitu saat anak berusia satu tahun tiga
bulan dan saat anak berusia 15-18 bulan dengan minimal jarak 6 bulan dengan
pemberian vaksin campak. Pemberian kedua diberikan saat anak berusia 6 tahun.
Sebagai patokan, imunisasi campak diberikan dua kali atau MMR dua kali..
Efek samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping
yang jarang terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah,
nyeri pada tangan atau kaki, dan leher kaku.
Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme
akibat pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini
tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.

Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh
bakteri haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat
disebabkan virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang
paru-paru), septic arthritis (radang sendi), dan pericarditis (radang kantong jantung).
Pemberian vaksin Hib harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak berusia dua
bulan, empat bulan, enam bulan, dan 18 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi
setelah vaksin Hib adalah reaksi alergi berupa kemerahan dan gatal.

Pneumokokus
Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah
penyakit pneumonia, meningitis, dan septikemia yang disebabkan oleh
bakteri Streptococcus pneumoniae.
Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua,
empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan saat
anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna
kemerahan pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.

Rotavirus
Vaksin rotavirus merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare. Pemberian vaksin
ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur 10 minggu dan 6
minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Efek samping vaksin rotavirus yang paling
umum diare ringan. Efek pada bayi dapat menyebabkannya menjadi lebih rewel.
Varisela
Vaksin varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacar air yang
disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini diberikan pada anak berusia satu
tahun ke atas. Vaksin diberikan dua kali jika anak berusia di atas 13 tahun dengan
jarak waktu 4-8 minggu.
Efek samping pemberian vaksin varisela yang tergolong umum adalah kemerahan
dan nyeri pada bagian yang disuntik. Dan efek samping yang tergolong lebih jarang
adalah ruam kulit.

HPV
Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker
serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya disebabkan
oleh virus human papillomavirus. Vaksin HPV dapat diberikan sejak anak berumur
10 hingga 26 tahun. Efek samping pemberian vaksin HPV yang tergolong umum
adalah:

 Sakit kepala
 Nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang disuntik
 Demam
 Nyeri tangan dan kaki
 Mual

Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah urtikaria atau biduran.
Hepatitis A
Vaksin hepatitis A diperuntukkan mencegah penyakit hepatitis A yang disebabkan
oleh virus. Vaksin ini harus diberikan dua kali mulai usia 2 tahun. Suntikan pertama
dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 12 bulan.
Efek samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah,
sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit
kepala, dan hidung tersumbat.

Tifus
Vaksin tifus diberikan untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh
bakteri salmonella typhi. Gejala penyakit ini meliputi demam, diare, dan sakit
kepala.Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa memburuk, dan
menyebabkan berbagai komplikasi, seperti infeksi usus dan perforasi (robek) usus.
Pemberian vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dengan
frekuensi pengulangan tiap tiga tahun sekali. Efek samping pemberian vaksin tifus
yang mungkin saja terjadi adalah:

 Nyeri, bengkak, dan merah pada bagian yang disuntik


 Demam
 Sakit kepala
 Tidak enak badan
 Sakit perut
 Diare

Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah virus-virus influenza. Vaksinasi pada
anak-anak bisa dilakukan sejak mereka berusia enam bulan dengan frekuensi
pengulangan satu kali tiap tahun. Efek samping vaksin influenza di antaranya adalah
demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Sedangkan efek
samping yang jarang terjadi adalah bersin-bersin, sesak napas, sakit pada telinga,
dan gatal-gatal.
Untuk memahami tabel jadwal imunisasi perlu membaca keterangan tabel

1. Vaksin hepatitis B (HB). Vaksin HB pertama (monovalent) paling baik diberikan dalam
waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1 minimal 30
menit sebelumnya. Jadwal pemberian vaksin HB monovalen adalah usia 0,1, dan 6
bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobin hepatitis B
(HBIg) pada ekstrimitas yang berbeda. Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw,
maka jadwal pemberian pada usia 2,3, dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi
dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2,4, dan 6 bulan.

2. Vaksin polio. Apabila lahir di rumah segera berikan OPV-0. Apabila lahir di sarana
kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2,
polio-3, dan polio booster diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu
dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3.

3. Vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2
bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberculin
terlebih dahulu.

4. Vaksin DTP. Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat
diberikan vaksin DTPw atau DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain. Apabila diberikan
vaksin DTPa maka interval mengikuti rekomendasi vaksin tersebut yaitu usia 2,4, dan 6
bulan. Untuk usia lebih dari 7 bulan diberikan vaksin Td atau Tdap. Untuk DTP 6 dapat
diberikan Td/Tdap pada usia 10-12 tahun dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

5. Vaksin pneumokokus (PCV). Apabila diberikan pada usia 7-12 bulan, PCV diberikan 2
kali dengan interval 2 bulan; dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya
perlu booster pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir.
Pada anak usia di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

6. Vaksin rotavirus. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan
usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia ≥ 15 minggu), dosis ke-2
diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 24
minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14
minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia ≥ 15 minggu), dosis kedua dan ketiga
diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu.

7. Vaksin influenza. Vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap
tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari 9
tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6-36 bulan, dosis
0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 mL.

8. Vaksin campak. Vaksin campak kedua (18 bulan) tidak perlu diberikan apabila sudah
mendapatkan MMR.
9. Vaksin MMR/MR. Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka
vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada
usia 12 bulan belum mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin
MMR/MR.

10. Vaksin varisela. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia
sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia lebih dari 13 tahun, perlu 2
dosis dengan interval minimal 4 minggu.

11. Vaksin human papilloma virus (HPV). Vaksin HPV diberikan mulai usia 10 tahun.
Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV
tetravalent dengan jadwal 0,2,6 bulan. Apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun,
pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3
dosis.

12. Vaksin Japanese encephalitis (JE). Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan pada
daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk
perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya.

13. Vaksin dengue. Diberikan pada usia 9-16 tahun dengan jadwal 0,6, dan 12 bulan.