Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1


1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian .............................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 4
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian...................................................................... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................. 6


2.1 Kajian Literatur ............................................................................................. 6
2.1.1 Transparansi ............................................................................................ 6
2.1.2 Partisipasi ................................................................................................ 7
2.1.3 Akuntabilitas ........................................................................................... 7
2.1.4 Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ..................................................... 7
2.2 Penelitian Terdahulu .................................................................................... 10

BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 13


3.1 Pendekatan Penelitian.................................................................................. 13
3.2 Populasi dan Sampel ................................................................................ 13
3.2 Jenis dan Sumber Data ............................................................................. 13
a. Data Primer ................................................................................................ 14
b. Data Sekunder ............................................................................................ 14
3.3 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 14
3.4 Teknik Analisis Data ................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA

i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian
Pendidikan adalah suatu sarana untuk meningkatkan mutu sumber daya
manusia suatu bangsa. Pendidikan suatu bangsa dapat dikatakan maju dilihat dari
kesesuaian antara tujuan dan keterlaksanaan pendidikan. Pendidikan adalah salah satu
kunci dalam meningkatkan taraf hidup sebuah masyarakat. Dalam Undang-Undang
No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa setiap warga
negara berusia 7-15 tahun 2009 wajib mendapatkan pendidikan dasar.
Tujuan pendidikan secara umum adalah individu yang berkarakter atau
bermoral, yaitu individu yang memiliki kebebasan, kesempurnaan, kemauan baik,
kebenaran dan kesamaan. Sedangkan tujuan pendidikan nasional menurut Tap.MPR
No. 11/MPR/1993 adalah meningkatkan kualitas manusia indonesia yaitu manusia
yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian
mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional,
bertanggung jawab dan produktif, serta sehat jasmani dan rohani.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Bab VIII Pasal 34 Ayat (2) berbunyi: “Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin
terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa
memungut biaya”. Maka konsekuensi dari amanat undangundang tersebut yaitu
pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan dan untuk melaksanakan program
tersebut maka pemerintah membuat kebijakan di bidang pendidikan yaitu berkaitan
dengan pengelolaan dana pendidikan di sekolah. Ketentuan mengenai dana atau
pembiayaan pendidikan diatur dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 48/2008
tentang Pendanaan Pendidikan yang salah satu isinya dijelaskan bahwa “ada tiga jenis
biaya pendidikan yaitu biaya investasi, biaya personal, dan biaya operasi”.
Program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) memberikan bantuan dana
untuk kegiatan operasional sekolah dalam jumlah yang cukup besar, khususnya untuk
sekolah-sekolah di daerah perdesaan dan sekolah-sekolah yang sebagian besar
siswanya berasal dari kalangan menengah kebawah, telah mengubah struktur

1
2

pendanaan sekolah secara signifikan. Sebagai upaya untuk melaksanakan kewajiban


menyelenggarakan pendidikan dasar tanpa biaya, pemerintah menciptakan program
Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pada awalnya BOS ini adalah bentuk kompensasi
kenaikan bahan bakar minyak pada tahun 2005 dengan tujuan awal adalah untuk
mempercepat pencapaian program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun. Manfaat dana BOS
yang paling utama adalah untuk memperluas dan memeratakan akses berbagai
kelompok masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas, meringankan beban biaya
siswa yang tidak mampu untuk mengikuti pendidikan, bahkan dapat membebaskan
biaya pendidikan (pendidikan gratis).
Dalam kegiatan pengelolaan keuangan di sekolah, sebelum melaksanakannya
terlebih dahulu melakukan perencanaan yaitu dikenal dengan nama Rencana Kegiatan
dan Anggaran Sekolah (RKAS). RKAS disusun pada waktu awal tahun pelajaran,
dalam penyusunan RKAS berdasarkan hasil kesepakatan antara kepala sekolah, dewan
guru, dan komite sekolah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sagala (2008) yang
menjelaskan bahwa dalam perencanaan harus melibatkan banyak orang dan program-
program yang dihasilkan harus berpusat pada peserta didik serta menyesuaikan diri
dengan kebutuhan yang ada dan dapat dipertanggungjawabkan serta dalam pembuatan
keputusan melibatkan sumber daya sekolah sehingga tercapai tujuan bersama.
Tim manajemen Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang tediri dari kepala
sekolah, bendahara, dan komite sekolah seharusnya menjadi pilar terwujudnya
akuntabilitas BOS. Tim ini mesti lebih transparan dalam perencanaan dan penggunaan
dana BOS. Namun sering terjadi kesenjangan informasi antara tim manajemen BOS
dan para pemangku kepentingan sekolah seperti wali murid, guru, dan siswa sendiri.
Guru yang merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran disekolah, ternyata
tidak semuanya mengetahui tentang penggunaan BOS. Jarangnya wali murid
berpartisipasi karena kurangnya informasi dari pihak sekolah juga menjadi
permasalahan, terlebih lagi peranan siswa sebagai konsumen lansung pelayanan
program sekolah. Pada kenyataannya, tidak banyak yang bisa dilakukan siswa untuk
ikut menentukan penggunaan dana dan pengawasannya. Asumsi publik yang
menganggap siswa adalah anak-anak yang tidak perlu tahu urusan sekolah perlu diubah
3

karena mereka merupakan pihak paling penting dalam program sekolah. Istilah
transparansi haruslah jelas dan tanpa adanya sedikitpun suatu rekayasa yang dikerjakan
oleh sekolah. Sekolah harus memberikan informasi yang benar adanya dan dapat
dipercaya kepada publik. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan secara timbal
balik antara sekolah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
Akuntabilitas juga menjadi suatu parameter yang tidak dapat dipisahkan dari
kuat atau lemahnya partisipasi masyrakat yang dalam hal ini komite sekolah dan wali
murid. Akuntabilitas merupakan landasan bagi proses penyelenggaraan Rencana
Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang harus mempertanggung jawabkan
tindakan dan pekerjaanya kepada masyarakat (wali murid). Akuntabilitas dalam
program Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) menyangkut hak
masyarakat (wali murid) untuk memperoleh pertanggung jawaban penyelenggaraan
program Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) di SDN 133 Pekanbaru.
Sekolah Dasar Negeri (SDN) 133 Pekanbaru terletak di Kecamatan Tenayan
Raya Pekanbaru. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan peneliti di sekolah tersebut
terdapat kurangnya pengetahuan tentang cara pembuatan laporan keuangan yang sesuai
dengan PSAK. Pada saat ini SDN 133 Pekanbaru masih menggunakan cara yang
konvensional untuk mengolah data, yakni pengelolaan dana BOS pada akhir periode
tertentu petugas masih merekapitulasi keuangan ke dalam pembukuan, sehingga
dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk pencarian data dan pembuatan laporan
keuangan yang selama ini hanya dibuat menggunakan pencatatan secara konvensional.
Anggraini (2013) dalam pengujiannya tentang Transparansi, Partisipasi, dan
Akuntabilitas Pengelolaan Anggaran Dana BOS Dalam Program RKAS di SDN
Pacarkeling VIII Surabaya mengatakan bahwa transparansi dapat mendorong
peningkatan akuntabilitas publik. Sedangkan partisipasi publik tidak dapat terlaksana
tanpa adanya transparansi. Selain itu, akuntabilitas akan sulit terlaksana tanpa
pemantauan dan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena
itu, transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas saling berkaitan dalam menciptakan
Good Governance. Sedangkan Penelitian yang dilakukan Agustina (2016) tentang
4

Siklus Akuntansi, Transparansi, Dan Akuntabilitas Atas Penggunaan Dan


Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bos Di Sdit X Di Depok, Jawa Barat
menghasilkan kesimpulan siklus akuntansi atas penggunaan dan pertanggungjawaban
keuangan dana BOS tahun anggaran 2015 di SDIT X Depok semua transaksi dana BOS
sudah dilengkapi dengan bukti pendukung, pencatatan transaksi dana BOS dicatat
dalam Buku besar, Keterlibatan tim Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru dan
komite Sekolah dalam pengelolaan dana BOS dan evaluasi dan perbandingan
penyajian laporan akhir dari penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan dana BOS
dari periode-periode sebelumnya tidak memiliki kinerja sebagaimana diharapkan,
keterlibatan Tim Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru dan komite Sekolah dalam
pertanggungjawaban secara formal dan material atas penggunaan dana BOS yang
diterima.
Penelitian ini mengukur tentang transparansi, partisipasi dan akuntabilitas
pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah yang menjadi penting untuk diteliti
melihat jumlah anak yang putus sekolah semakin meningkat karena faktor biaya.
Penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Anggraini
(2013) tentang pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah dalam Pprogram
RKAS. Penelitian ini dipilih karena sudah banyak kasus-kasus tentang
penyelewenngan dan ketidakefektifan pengelolaan dana BOS yang terjadi. Untuk itu,
peneliti memilih Sekolah Dasar Negeri 133 pekanbaru untuk menganalisis pengelolaan
dan penyaluran dana BOS di sekolah tersebut sudah dilakukan secara efektif dan
transparan atau tidak.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Transparansi, Partisipasi, dan Akuntabilitas
Pengelolaan Anggaran Dana BOS Dalam Program RKAS di Sekolah Dasar
Negeri 133 Pekanbaru”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka peneliti
dapat menentukan rumusan masalah sebagai berikut:
5

1. Bagaimana Transparansi Pengelolaan Anggaran Dana BOS Dalam Program


RKAS di Sekolah Dasar Negeri 133 Pekanbaru?
2. Bagaimana Partisipasi Pengelolaan Anggaran Dana BOS Dalam Program
RKAS di Sekolah Dasar Negeri 133 Pekanbaru?
3. Bagaimana Akuntabilitas Pengelolaan Anggaran Dana BOS Dalam
Program RKAS di Sekolah Dasar Negeri 133 Pekanbaru?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah yang diajukan, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui mengetahui bagaimana transparansi, partisipasi, dan
akuntabilitas pengelolaan anggaran dana bos dalam program RKAS di Sekolah Dasar
Negeri 133 Pekanbaru?
2. Manfaat
Hasil dalam penelitian ini akan memberikan manfaat :
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan,
terutama dalam bidang pendidikan.
2. Bagi Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan koleksi bacaan sehingga dapat
dijadikan referensi atau acuan dalam meningkatkan dan menambah wawasan
pengetahuan pentinganya menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan
standar akuntansi yang berlaku.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Literatur
2.1.1 Transparansi
Transparansi berasal dari kata transparent yang memiliki arti jelas, nyata dan
bersifat terbuka. Istilah transparansi dapat diartikan sebagai kejelasan atau keterbukaan
informasi. Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi
setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan,
yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-
hasil yang dicapai (Loina, 2003). Prinsip transparansi pengelolaan pendidikan menurut
PP No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan merupakan prinsip yang
dilakukan dengan memenuhi asas kepatutan dan tata kelola yang baik oleh pemerintah,
pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan
pendidikan. Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi
setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan,
yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaanya, serta hasil-
hasil yang dicapai.
Transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap
orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni
informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil
yang dicapai. Transparansi yakni adanya kebijakan terbuka bagi pengawasan.
Sedangkan yang dimaksud dengan informasi adalah informasi mengenai setiap aspek
kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau oleh publik. Keterbukaan informasi
diharapkan akan menghasilkan persaingan politik yang sehat, toleran, dan kebijakan
dibuat berdasarkan pada preferensi publik (Loina, 2003). Loina (2003) telah
mengemukakan bahwa prinsip transparansi paling tidak dapat diukur melalui sejumlah
indikator seperti:
a. Penyediaan informasi yang jelas tentang prosedur-prosedur, biaya-biaya dan
tanggung jawab.
b. Kemudahan akses informasi

6
7

c. Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar


atau permintaan untuk membayar uang suap.
d. Meningkatkan arus informasi melalui kerja sama dengan media massa dan
lembaga non pemerintahan.

2.1.2 Partisipasi
Partisipasi menurut Resbin L. Sihite dalam Anggarini (2013) adalah berbagai
aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu program atau
kegiatan tertentu, sehingga bemakna dalam pencapaian tujuan. Wujud dari partisipasi
yang diberikan dapat berupa pemikiran, tindakan, sumbangan dana atau barang yang
berguna bagi prgram ataupun pencapaian tujuan.
2.1.3 Akuntabilitas
Menurut Mardiasmo (2002) akuntabilitas adalah kewajiban pemegang amanah
(agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan
mengungkapkan segala aktivitas serta kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya
kepada pihak pemberi amanah (prinscipal) yang memiliki hak atau kewenangan untuk
menerima pertanggungjawaban tersebut. Menurut Mahsun (2006) pengertian sempit
akuntabilitas dapat dipahami dalam bentuk pertanggungjawaban yang mengacu pada
kepada siapa organisasi (atau pekerja invidu) bertanggungjawab dan untuk apa
organisasi (pekerja individu) bertanggungjawab. Sedangkan dalam pengertian luas
akuntabilitas dapat dipahami sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk
menberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan
segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi
amanah (participal) yang memliliki hak dan kewenangan untuk meminta
pertanggungjawaban tersebut.

2.1.4 Bantuan Operasional Sekolah (BOS)


2.1.4.1 Pengertian BOS
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan
(PERMENDIKBUD) Nomor 26 Tahun 2014, BOS adalah program pemerintah yang
pada dasarnya untuk penyediaan pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi satuan
8

pendidikan dasar sebagai program wajib belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa
bantuan operasional sekolah merupakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah
kepada suatu lembaga pendidikan atau sekolah untuk membantu kelancaran
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan disusun dalam rencana kerja beserta aturan-
aturan pelaksanaannya. Dengan adanya dana BOS diharapkan dapat mensukseskan
pendidikan di Indonesia. Besarnya dana BOS yang diterima oleh sekolah dasar pada
tahun anggaran 2014 adalah Rp 580.000,-/ peserta didik/ tahun. Mulai Januari 2015
sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 161 Tahun 2014 Tentang
Petunjuk Teknis Penggunaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Dana BOS Tahun
Anggaran 2015 ditingkatkan menjadi Rp 800.000,-/ peserta didik/ tahun.
2.1.4.2 Tujuan BOS
Secara umum program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat
terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu.
Secara khusus program BOS bertujuan untuk:
a. Membebaskan pungutan bagi seluruh peserta didik SD/SDLB negeri dan
SMP/SMPLB/SD-SMP SATAP/SMPT negeri terhadap biaya operasi sekolah.
b. Membebaskan pungutan seluruh peserta didik miskin dari seluruh pungutan dalam
bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta.
c. Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi peserta didik di sekolah swasta.
(Permendikbud, 2014).
2.1.4.3 Waktu Penyaluran BOS
Alokasi dana BOS tiap sekolah untuk penyaluran dana BOS tiap triwulan didasarkan
pada data pokok pendidikan (Dapodik) dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Triwulan 1 (Januari-Maret) didasarkan pada Dapodik tanggal 30 Nopember 2014;
2. Triwulan 2 (April-Juni) didasarkan pada Dapodik tanggal 15 Februari 2015;
3. Triwulan 3 (Juli-September) didasarkan pada Dapodik tanggal 15 Mei 2015;
4. Triwulan 4 (Oktober-Desember) didasarkan pada Dapodik tanggal 21 September
2015 (Agustina, 2016).
9

2.1.4.4 Pengelolaan Dana BOS Dalam Program RKAS


Menurut Anggaraini (2013) Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian
pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan
serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam bidang pendidikan, dalam
pengelolaan anggaran yang strategis, memerlukan kajian secara cermat tentang visi,
misi, tujuan jangka panjang dan jangka pendek sekolah. Secara umum, proses
pengelolaan anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) meliputi perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, pelaporan, dan pertanggungjawaban. Pengelolaan
merupakan inti dalam pelaksanaan proses penganggaran dana BOS. Pengelolaan dalam
penganggaran dana BOS bertujuan untuk mengarahkan agar kegiatan yang
dilaksanakan tidak menyimpang dari arah yang ditentukan. Yang perlu diperhatikan
dalam pengelolaan anggaran dana BOS antara lain menganalisis program kegiatan dan
prioritasnya, menganalisis dana yag ada dan mungkin bisa diadakan dari berbagai
sumber pendapatan dan dari berbagai kegiatan.
Sedangkan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) merupakan
rencana perolehan pembiayaan pendidikan dari berbagai sumber pendapatan serta
susunan program kerja tahunan yang terdiri dari sejumlah kegiatan rutin serta beberapa
kegiatan lainnya disertai rincian rencana pembiayaannya dalam satu tahun anggaran.
Dalam semua rencana pada program Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah
(RKAS) harus mencakup seluruh komponen yang ada 8 (delapan) standar nasional
pendidikan, yaitu :
1. Standar isi
2. Standar Proses
3. Standar Kompetensi
4. Standar Pendidimdan kependidikan
5. Standar sarana dan parasarana
6. Standar Pengelolaan
7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian Pendidik
10

Dengan demikian, Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) berisi


tentang ragam sumber pendapatan dalam satu tahun anggaran yang dalam penyusunan
Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), kepala sekolah membentuk tim
manajemen keuangan khusus untuk mengelola Dana Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) baik dana BOS Nasional (BOSNAS) maupun BOS Daerah (BOSDA) yang juga
merupakan sumber pendapatan pada program Rencana Kegiatan dan Anggaran
Sekolah (RKAS). Setelah tim manajemen keuangan khusus untuk Dana BOS beserta
kepala sekolah menyelesaikan tugas untuk membentuk Rencana Kegiatan dan
Anggaran Sekolah (RKAS), barulah pelibatan guru dan pengurus komite sekolah akan
diperoleh rencana yang mantap, dan secara moral semua dewan guru, kepala sekolah,
tim manajemen khusus keuangan Dana BOS, serta pengurus komite sekolah merasa
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana tersebut.
2.2 Penelitian Terdahulu

No. Nama Peneliti Judul Penelitian Kesimpulan

1. Anggraini Transparansi, Transparansi pengelolaan anggaran dana


(2013) Partisipasi, dan BOS dalam program RKAS di SDN
Akuntabilitas Pacarkeling VIII sangat transparan.
Pengelolaan Sedangkan partisipasi pengelolaan
Anggaran Dana anggaran dana BOS dalam program RKAS,
BOS Dalam banyak pihak yang berpartisipasi. Dalam
Program RKAS di akuntabilitas pengelolaan anggaran dana
SDN Pacarkeling BOS dalam program RKAS dapat dilihat
VIII Surabaya dengan laporan pertanggungjawaban
penggunaan dana BOS berupa lampiran
formulir
2. Amiini (2016) Analisis Perencanaan Rkas Sma Negeri Jumapolo
Pengelolaan Dana Tahun 2013 Dan 2014 Disusun Oleh Tim
Bantuan Anggaran Sekolah, Untuk Merencanakan
Operasional Sekolah Anggaran Kerja Sekolah Selama Satu
(Bos) Di Sma Tahun. Pelaksanaan Dana Bos Sma Tahun
Negeri Jumapolo 2013 Dan 2014 Diawali Penyaluran Dana
Bos Sma. Dana Bos Sma Tahun 2013 Dan
2014 Diterima Secara Dua Tahap.
Pengawasan Dan Evaluasi Pengelolaan
Dana Bos Sma Tahun 2013 Dan 2014
11

Dilaksanakan Oleh Pihak Internal Dan


Ekternal. Sma Negeri Jumapolo
Melaporkan Pengelolaan Dana Bos Sma
Kepada Dinas Pendidikan Kabupaten,
Provinsi Dan Pusat.
3. Agustina Siklus Akuntansi, Siklus akuntansi atas penggunaan dan
(2016) Transparansi, Dan pertanggungjawaban keuangan dana BOS
Akuntabilitas tahun anggaran 2015 di SDIT X Depok
Atas Penggunaan semua transaksi dana BOS sudah
Dan dilengkapi dengan bukti pendukung,
Pertanggungjawaban pencatatan transaksi dana BOS dicatat
Keuangan Dana Bos dalam Buku besar, Keterlibatan tim
Di Sdit X Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru
Di Depok, Jawa dan komite Sekolah dalam pengelolaan
Barat dana BOS dan evaluasi dan perbandingan
penyajian laporan akhir dari penggunaan
dan pertanggungjawaban keuangan dana
BOS dari periode-periode sebelumnya tidak
memiliki kinerja sebagaimana diharapkan,
Keterlibatan Tim Manajemen BOS
Sekolah, Dewan Guru dan komite Sekolah
dalam pertanggungjawaban secara formal
dan material atas penggunaan dana BOS
yang diterima.
4. Sumarni Analisis 1. Penggunaan dana BOS terdiri dari 2
(2015) Pengelolaan Dana komponen yaitu komponen yang bisa
Bantuan dibiayai dari dana BOS dan yang tidak bisa
Operasional Sekolah dibiayai dari dana BOS.
(Bos) Di Smpn 6 2. Pembukuan dana BOS yang dilakukan
Satap Rambah Samo oleh pengurus dana BOS belum
dilaksanakan dengan cukup baik karena
tidak dibukukan dalam buku kas umum
sekolah.
3. Untuk pelaporan pertanggungjawaban
dana BOS, pengurus dana BOS telah
melaksanakannya sesuai dengan peraturan.
4. Program pelaksanaan dana BOS masih
ada yang belum pelaksanaannya dengan
peraturan yang berlaku.
5. Ekowati Transparansi Dan 1. Transparansi pengelolaan anggaran Dana
(2016) Akuntabilitas Dalam BOS di SMP N 03 Tangerang
Selatan sudah transparan.
12

Pengelolaan Dana 2. Akuntabilitas pengelolaan anggaran


Bos (Studi Kasus Di Dana BOS di SMP N 03 Tangerang
Smp Negeri 03 Kota Selatan dapat dilihat dalam bentuk laporan
Tangerang Selatan) pertanggungjawaban
penggunaan dana BOS berupa lampiran
formulir. Sedangkan monitoring terhadap
hasil evaluasi anggaran dilakukan oleh
pihak yayasan dan manajemen yang
dilakukan setiap bulan dan penggunaan
dana BOS disampaikan setiap triwulan
untuk dana BOS Pusat dan BOS
Kabupaten/Kota, serta dana BOS Provinsi
dilaporkan per semester.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian merupakan sebuah rancangan bagaimana suatu
penelitian akan dilakukan. Rancangan tersebut digunakan untuk mendapatkan jawaban
terhadap pertanyaan penelitian yang di rumuskan. Pendekatan penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan analisis kuantitatif deskriptif. Penelitian
kuantitatif yaitu penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka. Metode
deskriptif adalah metode yang mampu menjelaskan rumusan masalah yang berkenaan
dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya satu variabel atau
lebih (variabel mandiri adalah variabel yang berdiri sendiri, bukan variabel
independen, karena kalau variabel independen selalu dipasangkan dengan variabel
dependen), sehingga dari penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel
itu pada sampel lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lain
(Sugiyono, 2013).
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013). Populasi dalam
penelitian ini berjumlah 29 orang dan kesemuanya adalah guru dan kepala SDN 133
Pekanbaru yang akan diberi pertanyaan mengenai persepsi mereka tentang variabel
transparansi, partisipasi dan akuntabilitas. Teknik sampling yang digunakan adalah
sampling jenuh atau biasa disebut dengan istilah sensus. Sampling jenuh merupakan
teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel
(Sugiyono, 2013).
3.2 Jenis dan Sumber Data
1. Jenis data
Jenis data yang dipakai peneliti dalam penelitian ini adalah data subyek. Data
subyek adalah jenis data penelitian yang berupa opini, sikap, pengalaman, atau

13
14

karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian
(Indriantoro, 2002).
2. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini merupakan data yang diperoleh langsung dari
hasil observasi, wawancara dan pengisian angket yang dilakukan terhadap pemberi
informasi yaitu pihak Sekolah Dasar Negeri 133 Pekanbaru yang dijadikan sebagai
informan.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang tidak langsung diberikan kepada peneliti,
misalnya peneliti mendapatkan data melalui orang lain atau mencari melalui dokumen.
Data sekunder dari penelitian ini diperoleh dari buku, internet, dan data pendukung lain
seperti arsip dan dokumen tertulis lainnya.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan:
1. Observasi
Obsevasi yaitu sumber yang diperoleh dengan melakukan pengamatan
langsung ke lokasi pelaksanaan penelitian dan pencatatan sesuai dengan
lingkup judul yang diambil dan mengadakan pengamatan langsung terhadap
obyek penelitian untuk lebih memahami kondisi SDN 133 Pekanbaru serta
untuk mengetahui maintenance tenaga kerja yang dilakukan oleh SDN 133
Pekanbaru.
2. Wawancara (Interview)
Wawancara yaitu teknik pengumpulan informasi dengan mengadakan
wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dan berwenang untuk
memberikan keterangan dan informasi-informasi yang diperlukan. Wawancara
dilakukan pada Kepala, Wakil Kepala Sekolah dan Bendahara SDN 133
Pekanbaru.
3. Dokumentasi
15

Untuk mendukung landasan teoritis sebagai referensi pendukung penelitian ini,


melalui bacaan seperti literature, hasil penelitian, buku-buku karangan ilmiah
dan dokumen-dokumen lain yang sesuai dengan kajian penelitian, terutama
dokumen-dokumen yang dimiliki oleh SDN 133 Pekanbaru.
4. Kuesioner/angket
Untuk mendapatkan data yang diperlukan peneliti menggunakan metode
survey melalui penyebaran kuesioner, metode survey merupakan metode
pengumpulan data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber asli
(Indriantoro, 2008). Penyebaran kuesioner dilakukan secara personal oleh
peneliti. Seluruh kuesioner dibagikan kepada para responden di SDN 133
Pekanbaru. Responden akan menerima kuesioner dari peneliti yang berisi
pernyataan untuk mendapatkan informasi tentang transparansi, partisipasi dan
akuntabilitas pengelolaan anggaran dana bos dalam program RKAS.
Jawaban dari kuesioner diukur dengan Skala Likert dimana setiap responden
akan memberikan checklist (√) pada kolom yang ditentukan. Untuk analisis
kuantitatif, maka setiap jawaban akan diberi skor dengan rincian sebagai
berikut:
1) Sangat Setuju diberi skor 5
2) Setuju diberi skor 4
3) Ragu – Ragu diberi skor 3
4) Tidak Setuju diberi skor 2
5) Sangat Tidak Setuju diberi skor 1
3.4 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini untuk menganalisis data, peneliti menggunakan teknik
sebagai berikut:
1. Memahami Pernyataan Standar akuntansi Keuangan (PSAK) No. 45 beserta
literatur yang berkaitan.
2. Mengumpulkan data laporan keuangan dan data terkait dari SDN 133
Pekanbaru.
16

3. Memahami konsep pelaporan keuangan yang diterapkan oleh SDN 133


Pekanbaru.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan terhadap
rumusan masalah serta memberikan saran kepada SDN 133 Pekanbaru.