Anda di halaman 1dari 17

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Kehadiran Islam Mendamaikan Bumi Nusantara

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
Kelompok 5

 Bhita Prajaya
 Cindy Aulia
 Ade Krisna
 Khariska Anggraini
 Lisnawati
Kelas : IX - 4

SMP NEGERI 2 PULO BANDRING


TA. 2019/2020
ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada masa kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia terdapat beraneka ragam suku
bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, dan sosial budaya. Suku bangsa Indonesia
yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, jika dilihat dari sudut antropologi budaya,
belum banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa dan budaya dari luar, seperti dari
India, Persia, Arab, dan Eropa. Struktur sosial, ekonomi, dan budayanya agak statis
dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di
pesisir, lebih-lebih di kota pelabuhan, menunjukkan ciri-ciri fisik dan sosial budaya yang lebih
berkembang akibat percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar.
Dalam masa kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia, terdapat negara-negara yang
bercorak Indonesia-Hindu. Di Sumatra terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu; di Jawa,
Majapahit; di Sunda, Pajajaran; dan di Kalimantan, Daha dan Kutai. Agama Islam yang datang
ke Indonesia mendapat perhatian khusus dari kebanyakan rakyat yang telah memeluk agama
Hindu. Agama Islam dipandang lebih baik oleh rakyat yang semula menganut agama Hindu,
karena Islam tidak mengenal kasta, dan Islam tidak mengenal perbedaan golongan dalam
masyarakat. Daya penarik Islam bagi pedagangpedagang yang hidup di bawah kekuasaan raja-
raja Indonesia-Hindu agaknya ditemukan pada pemikiran orang kecil. Islam memberikan sesuatu
persamaan bagi pribadinya sebagai anggota masyarakat muslim. Sedangkan menurut alam
pikiran agama Hindu, ia hanyalah makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada kasta-kasta
lain. Di dalam Islam, ia merasa dirinya sama atau bahkan lebih tinggi dari pada orang-orang
yang bukan muslim, meskipun dalam struktur masyarakat menempati kedudukan bawahan.
Proses islamisasi di Indonesia terjadi dan dipermudah karena adanya dukungan dua
pihak: orang-orang muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan masyarakat
Indonesia sendiri yang menerimanya. Dalam masa-masa kegoncangan politik, ekonomi, dan
sosial budaya, Islam sebagai agama dengan mudah dapat memasuki & mengisi masyarakat yang
sedang mencari pegangan hidup, lebih-lebih cara-cara yg ditempuh oleh orang-orang muslim
dalam menyebarkan agama Islam, yaitu menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang telah
ada.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui kedatangan Islam ke
Nusantara.

ii
BAB II
PEMBAHASAN

1. Alur Perjalanan Dakwah di Nusantara


Sejak zaman pra sejarah , penduduk nusantara di kenal sebagai pelayar pelayar yang
tangguh. wilayah nusantara yang menjadi lintasan penting perdagangan adalah wilayah nusantara
bagian barat yakni malaka dan skitarnya . malaka menjadi pisat utama lalu lintas perdagangan
dan pelayaran sekaligus berdakwah menyebarkan agama islam . agama islam telah ada di
indonesia sejak abad ke 1 hijriah . keberadaan pemeluk agama pada abad ke 13 di tandai dengan
kerajaan samudra pasai di aceh sebagai kerjaan islam yang pertama.

Islam masuk nusantara melalui dua jalur yaitu :


 Jalur utara dengan rute arab (mekah dan madinah), damaskus, bagdad, Gujarat (pantai
barat india), srilanka, dan nusantara.
 Jalur selatan dengan rute arab (mekah dan madinah), yaman, Gujarat, srilanka, dan
nusantara.

Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang menjadi bukti masuknya Islam ke
Nusantara :
 Perkampungan islam yang terdapat di selat malaka pada abad ke 7 M dan ke 8 M.
 Batu bersurat pada sebuah makam seorang wanita muslimah di Leran, Gresik, Jatim atas
nama Fatimah Binti Maimun. Berangka tahun 475 M (1082 M).
 Catatan kisah perjalanan marcopollo (musafir Venesia) yang singgah di perlak aceh utara
pada tahun 1292 M.
 Batu nisan makam sultan malik as saleh, raja samudra pasai yang berangka tahun 1345
M.

Makam sultan Malik as-saleh, raja


Samudra pasai
Peta Persebaran Islam di Nusantara

ii
Proses masuknya islam di Indonesia berjalan secara bertahap dan melalui banyak jalan.
Menurut para ahli sejarah, teori-teori tentang kedatangan islam ke Indonesia adalah sebagai
berikut.
a. Teori Mekah
Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung
dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M.
Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah
seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada
tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN)
di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa
Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan
rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab.
Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai
ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan
Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh
masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak
kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang
cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya
yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan
rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia
dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia
mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar
perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh
A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan
islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat
lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.

b.Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari
Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat,
berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah
sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari
Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah
bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke7 Masehi), namun yang

ii
menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung,
melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk
Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh
seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu
berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal
membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam
pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab
yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar
“sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan
argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah
831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik
Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan
yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut
diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah
belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut
masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.
c. Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari
daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat,
sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan
analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan
Indonesia.
Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari
suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang
dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa
Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak
kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-
Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena
ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan
stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori
Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan
Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab
Syafei, sama seperti kebanyak muslim di Iran.

ii
d. Teori China
Menurut teori Cina, proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di tanah Jawa) berasal dari
para pedagang Cina. Mereka telah berhubungan dagang dengan penduduk Indonesia jauh sebelum Islam
dikenal di Indonesia, yakni sejak masa Hindu-Buddha. Ajaran Islam sendiri telah sampai di Cina pada
abad ke-7 M. Pada masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Quanzhou, Kanton, Zhang-zhao,
dan pesisir Cina selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam. Sebagai pembuktian teori Cina ini,
bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina.
Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam). Bukti lainnya
adalah adanya masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Cina atau Tiongkok di berbagai tempat di Pulau
Jawa. Pelabuhan penting seperti di Gresik, misalnya, menurut catatancatatan Cina, diduduki pertama kali
oleh para pelaut dan pedagang Cina.
Semua teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada
kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut. Semua teori di atas semakin
memperkaya khazanah keilmuan tentang sejarah Islam di Nusantara. Agama Islam berkembang di
Indonesia disebarkan oleh berbagai golongan, yakni para pedagang, mubaligh, su•, dan para wali. Para
wali menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa. Di antara sekian banyak wali, yang
terkenal adalah Wali Sanga (Wali Sembilan).
Agama Islam berkembang di Indonesia disebarkan oleh berbagai golongan, yakni para
pedagang, mubaligh,sufi, dan para wali. Para wali menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya
tanah Jawa. Diantara sekian banyak wali, yang terkenal adalah Wali Sanga (Wali Sembilan).
 Sunan Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi)
Berasal dari Persia dan berkedudukan di Gresik
 Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Berkedudukan di Ampel, Surabaya
 Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim)
Putra dari Sunan Ampel. Ia tinggal di Bonang, dekat Tuban
 Sunan Giri (Prabu Satmata/Sultan Abdul Fakih)
Semula bernama Raden Paku, berkedudukan di Bukit Giri, dekat Gresik
 Sunan Drajat (Syarifuddin)
Putra dari Sunan Ampel, berkedudukan di Drajat, dekat Sedayu, Surabaya
 Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah/Syeikh Nurullah)
Berasal dari Pasai, sebelah utara Aceh. Berkedudukan di Gunuung Jati, Cirebon
 Sunan Kudus (Ja’far Sodiq)
Putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngandung di Jipang Panolan,
berkedudukan di Kudus

ii
 Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)
Putra Tumenggung Wilatikta, bupati Tuban yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak
 Sunan Muria (Raden Umar Said)
Putra dari Sunan Kalijaga yang berkedudukan di Gunung Muria, Kudus

Wali Songo

Menara Kudus, didirikan oleh Sunan Kudus


Simbol multikulturalisme Islam-Jawa

2. Cara-Cara Dakwah di Nusantara


Para da’I dan mubaligh menyebarkan islam di nusantara dengan cara sebagai berikut.
 Perdagangan
Proses penyebaran islam melalui jalur perdagangan dilakukan oleh pedagang muslim
pada abad ke 7 sampai abad ke 16 M. para pedagang tersebut berasal dari Arab, Persia,
dan India. Para pedagang muslim menggunakan kesempatan untuk berdakwah
menyebarkan agama islam. Mereka memiliki akhlak ynag mulia, santun, dapat dipercaya
dan jujur. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi penduduk untuk masuk agama islam
dengan suka rela.

ii
Penyebaran Islam di Nusantara melalui
perdagangan

 Perkawinan
Sebagian pedagang islam menikah dengan wanita pribumi, terutama putri bangsawan
atau putri raja. Sehingga banyak keluarga bangsawan atau raja masuk islam.

Perkawinan Sunan Ampel dengan Nyai Ageng


Manila, putri bupati Tuban

 Hubungan sosial
Para mubaligh pandai dalam menjalin hubungan sosial dengan masyarakat. Mereka yang
telah tinggal menetap di nusantara aktif membaur dengan masyarakat melalui kegiatan-
kegiatan sosial. Sikap mereka santun, memiliki kebersihan jasmani dan rohani, memiliki
kepandaian yang tinggi, serta dermawan. Dengan demikian ajaran islam semakin mudah
di terima oleh penduduk nusantara.
 Pendidikan
Para mubaligh mendirikan lembaga pendidikan islam di beberapa wilayah nusantara.
Lembaga ini berdiri sejak pertama kali islam masuk di Indonesia. Nama lembaga ini
berbeda di setiap wilayah. Disanalah berlangsung pembinaan, pendidikan dan kaderisasi
bagi calon kyai dan ulama.

 Kesenian Santri Jawa

ii
Sebelum islam datang, kesenian dan kebudayaan hindu-buddha telah mengakar kuat di
tengah-tengah masyarakat. Kesenian tersebut tidak dihilangkan, justru dijadikan sebagai
sarana dakwah. Mereka tidak pernah meminta upah ketika menggelar pertunjukan,
penonton/pengunjung gratis menyaksikan pertunjukan tersebut. Mereka hanya di minta
agar mengikutinya mengucapkan dua kalimat syahadat, hal itu berarti para penonton
telah masuk islam.

Wayang Kulit, sarana dakwah Islam di Nusantara

3. Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara


 Kerajaan Samudera Pasai
Tempat : terletak di pesisir timur laut Aceh kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara
sekarang
Tahun berdiri : mulai awal atau pertengahan abad ke 13 M
Raja yang memerintah : Sultan Malik Al Saleh yang meninggal pada tahun 696 H (1297
M)
Akhir pemerintahan : pada tahun 1521 M kerajaan ini di serang oleh Portugis.
Selanjutnya kerajaan Samudera Pasai mulai mundur dan berada di bawah kekuasaan
kerajaan aceh. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1524 M.
 Kerajaan Aceh
Tempat : terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama kab. Aceh Besar
Tahun berdiri : abad ke 17
Raja yang memerintah : Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)
Sultan Alaudin Riayat Syah
Iskandar Muda
Iskandar Tsani (1636-1641 M)
Syafiatu’ddin
Raja yang terkenal/masa kejayaan : Iskandar Muda

ii
Akhir pemerintahan : sejak Sultan Iskandar Muda wafat, Aceh terus mengalami
kemunduran

 Kerajaan Demak
Tempat : kabupaten Demak, Jawa Tengah
Tahun berdiri : 1478 M
Raja yang memerintah : Raden Patah
Pati Unus
Sultan Trenggono
Raja yang terkenal/masa kejayaan : Raden Patah
Akhir pemerintahan : berakhir pada tahun 1568 M.

Masjid Raya Baiturrahman, Masjid peninggalan


kerajaan Aceh

Masjid Agung Demak

 Kerajaan Pajang
Tempat : di daerah Kartasura sekarang
Tahun berdiri : 1568 M
Raja yang memerintah : Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya)
Arya Pangiri
Pangeran Benowo
Sutawijaya

Raja yang terkenal/masa kejayaan :

ii
Akhir pemerintahan : sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan ke mataram (1586
M)

 Kerajaan Mataram Islam


Tempat : di kota gede, sebelah tenggara kota Yogyakarta
Tahun berdiri : 1586 M
Raja yang memerintah : Sutawijaya
Sultan Agung Hanyakrakusuma
Raja yang terkenal/masa kejayaan : Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645 M)

Masjid Agung, Kotagede Yogyakarta

 Kerajaan Banjar
Tempat : di sekitar Kuin Utara (sekarang Banjarmasin)
Tahun berdiri : 1526 M
Raja yang memerintah : Sultan Suriansyah (Raden Samudera)
Sultan Muhammad Seman (1862-1905 M)
Akhir pemerintahan : runtuh pada saat berakhirnya perang banjar pada tahun 1905 M

 Kerajaan Gowa-Tallo
Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama
Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa:
Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili.
Kemudian semua komunitas bergabung dan sepakat membentuk Kerajaan Gowa.
Kerajaan Gowa adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di
daerah Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-16 terdapat banyak
kerajaan bercorak Hindu, tetapi yang terkenal adalah Gowa, Tallao, Bone, Wajo,
Soppeng, dan Luwu. Pada tahun 1605 Sultan Alaudin (1591 – 1639 M) dari Gowa masuk
Islam berkat adanya dakwah dari Datuk Ri Bandang dan Sulaeman dari Minangkabau.
Maka sejak saat itu kerajaan Gowa resmi menjadi kerajaan Islam.

ii
Tempat : Sulawesi Selatan
Masuk islam: 1605 M
Raja yang memerintah :
Sultan Malikussaid
Sultan Hasanuddin
Raja yang terkenal/masa kejayaan : Sultan Hasanuddin
Akhir pemerintahan : sejak kekalahan dengan Belanda terutama setelah hancurnya
benteng somba opu, maka sejak itu pula keagungan gowa yang sudah berlangsung
berabad-abad lamanya akhirnya mengalami kemunduran

 Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13, ibu kotanya terletak di Sampalu (Pulau
Ternate). Selain Kerajaan Ternate di Maluku, juga telah berdiri kerajaan-kerajaan lain,
yaitu Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan-kerajaan itu, Kerajaan Ternate
yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak menghasilkan rempah-rempah sehingga
Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Jawa, Melayu, Cina, dan Arab.
Selain didatangi para pedagang, Ternate juga memiliki kapal-kapal dagang yang sering
berlayar ke daerah-daerah lain.
Tempat : Sampalu, Pulau Ternate
Tahun berdiri : abad ke 13
Raja yang memerintah : Sultan Marhum
Zainal Abidin
Sultan Sirullah
Sultan Khairun
Sultan Baabullah
Raja yang terkenal/masa kejayaan : Sultan Baabullah
Akhir pemerintahan : terjadi pemberontakan dan konflik internal di kerajaan Ternate,
sehingga kerajaan ternate mulai melemah dan akhirnya runtuh

 Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore adalah kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku
Utara. Kerajaan Tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate
dan Tidore, raja Tidorepertama adalah Syahadati alias Muhammad Naqal yang naik tahta
sekitar tahun 1081 M. Baru pada raja yang ke-9, yaitu Cirililiati yang kembali ingin memeluk

ii
agama Islam, berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab. Setelah masuk Islam bersama para
pembesar kerajaan lainnya, ia mendapat gelar Sultan Jamaluddin. Putra sulungnya juga
masuk Islam karena dakwah Syekh Mansur. Agama Islam masuk pertama kali di Tidore
sekitar tahun 1471 M. (menurut catatan Portugis).Setelah Ternate berhasil meluaskan
wilayahnya dan membentuk persekutuan yang disebut Uli Lima, Kerajaan Tidore juga
berhasil memperluas pengaruhnya ke Halmahera, Pulau Raja Ampat, Seram Timur, dan
Papua yang dipersatukan dalam persekutuan Uli Siwa. Demikian juga Kerajaan Bacan dan
Jailolo juga tenggelam dalam pengaruh Kerajaan Tidore.
Kerajaan Tidore merupakan penghasil cengkih yang besar dan sangat laku di pasaran
Eropa sehingga banyak bangsa Eropa yang datang ke Tidore untuk mencari cengkih,
misalnya bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Tempat : Kota Tidore, Maluku Utara
Tahun berdiri : 1471 M
Raja yang memerintah : Syahadati/Muhammad Naqal
Sultan Jamaluddin
Sultan Nuku
Zainal Abidin
Raja yang terkenal/masa kejayaan : Sultan Nuku (1789-1805 M)
Akhir pemerintahan : pelayaran dan perdagangan maju pesat sehingga tidak terikat oleh
bangsa lain

Benteng peninggalan kerajaan Ternate-Tidore saat


melawan Portugis

4. Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia


Manfaat yang dapat ambil dari sejarah perkembangan islam di Indonesia:

ii
1. Kehadiran pedagang Islam dari luar Indonesia yang telah berdakwah menyiarkan ajaran
Islam di bumi nusantara memberikan nuansa baru bagi perkembangan suatu kepercayaan
yang sudah ada di nusantara ini. Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkembang dan
tatanan kehidupan menjadi baik pula.
2. Hasil karya para ulama berupa karangan buku sangat berharga untuk dijadikan sumber
pengetahuan.
3. Meneladani kesuksesan mereka dalam berkarya dan membuat masyarakat Islam gemar
membaca dan mempelajari Al Quran.
4. Memperkaya dalam bentuk (arsitektur) bangunan, seperti masjid sebagai tempat ibadah.
5. Mengajarkan tentang Islam harus dengan keramahan dan bijaksana serta membiasakan
masyarakat Islam bersikap konsisten.
6. Memanfaatkan peninggalan sejarah, baik berupa, makam, masjid, dan peninggalan lainnya
untuk dijadikan tempat ziarah (pembelajaran) demi mengingat perjuangan mereka.
7. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh Islam untuk mempraktekkan tingkah laku yang
penuh keteladanan sebagai ulama pendahulu di nusantara ini dalam mempertahankan harga
diri serta tanah air dari penjajahan.
8. Mengajarkan sikap tetap bersatu, rukun, dan bersama-sama mempertahankan negara
Indonesia dari ancaman luar maupun dalam negeri.
9. Menyadari bahwa perjalanan sejarah perlu dijadikan sebagai pemikiran dan peneladanan
orang-orang yang beriman terutama keteladanan dan perjuangan para ulama untuk
dipraktekkan oleh generasi mendatang dalam menentukan masa depan umat dan masyarakat.

BAB III
PENUTUP

ii
A) Kesimpulan
1. Islam masuk di Nusantara melalui jalur perdagangan berlangsung dengan cara-cara
damai
2. Agama Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. Namun, agama Islam muli
menyebar sekitar abad ke-13 M.
3. Menurut ara sejarawan, teori-teori tentang kedatangan Islam ke Indonesia dapat dibagi
menjadi: teori Mekah, teori Gujarat, teori Persia, dan teori Cina.
4. Kerajaan Samudra Pasai di Aceh merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara.
5. Proses penyebaran dan perkembangan agama dan kebudayaan Islam dilakukan melalui :
perdagangan, perkawinan, pendidikan, hubungan sosial dan kesenian.
6. Kerjaan Islam di Sumatera yaitu Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh.
7. Kerajaan Islam pertama di Jawa adalah kerajaan Demak. Kerajaan Demak diteruskan
Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram Islam.
8. Kerajaan Banjar merupakan kerajaan Islam di Kalimantan.
9. Kerajaan Islam di Sulawesi yaitu Kerajaan Gowa-Tallo, dan di Maluku Utara terdapat
Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore.

B) Saran
Semangat, perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita, para penyebar/ pendakwah
Islam, khususnya di tanah Nusantara sangat patut kita contoh. Mereka tak pernah lelah dalam
menyebarkan agama Allah, yaitu agama Islam. Semangat mereka merupakan suri tauladan yang
sangat patut kita contoh dalam belajar dan menegakkan ajaran Allah.
Semoga kita sebagai generasi penerus mereka dapat meneladani semangat serta ketekunan
mereka dalam belajar, baik belajar mengenai ajaran Allah maupun Ilmu pengetahuan.
Semoga kita juga dapat mengamalkan ajaran Allah seperti mereka, melalui menegakkan
ajaran Allah, khususnya Shalat lima waktu, mengerjakan shalat berjamaah di masjid dan selalu
mengajak teman kita untuk lebih dekat lagi kepada Allah SWT.
Semoga Amal Kebaikan Mereka diterima oleh Allah dan ditempatkan di tempat yang
terbaik di sisi-Nya.

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karuniaNya,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah tentang “Kehadiran Islam
Mendamaikan Bumi Nusantara” dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan
juga kami berterima kasih kepada Guru Bidang Studi Agama Islam yang telah memberikan tugas
ini kepada kami.
Kami sangat berharap Makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam Makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan Makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga Makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
Makalah ini di waktu yang akan datang.

Penulis,
Kelompok 5

ii
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar .......................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 2
1. Alur Perjalanan Dakwah di Nusantara ................................................. 2
2. Cara-Cara Dakwah di Nusantara ......................................................... 6
3. Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara ................................................. 8
4. Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia ............................. 13

BAB III PENUTUP ............................................................................................... 14


A. Kesimpulan ......................................................................................... 14
B. Saran ................................................................................................... 14

ii

Anda mungkin juga menyukai