Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana menyatakan bahwa bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh
faktor alam dan non alam seperti faktor manusia yang dapat mengakibatkan kerusakan
lingkungan, korban jiwa manusia, kerugian harta benda dan dampak psikologis sehingga perlu
dilakukan penyusunan kajian risiko bencana.
Pengkajian risiko bencana merupakan sebuah pendekatan untuk memperlihatkan potensi
dampak negatif yang mungkin timbul akibat suatu potensi bencana yang ada. Potensi dampak
negatif tersebut dihitung juga dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan dan kapasitas
kawasan tersebut. Potensi dampak negatif ini menggambarkan potensi jumlah jiwa, kerugian
harta benda, dan kerusakan lingkungan yang terpapar oleh potensi bencana. Penyusunan kajian
risiko bencana menjadi landasan untuk memilih strategi yang dinilai mampu mengurangi risiko
bencana. Kajian risiko bencana harus mampu menjadi dasar yang memadai bagi daerah untuk
menyusun kebijakan penanggulangan bencana.
Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu kabupaten terluas dengan luas wilayah
sebesar 696,360km2 atau sekitar 2,09% dari luas Provinsi Jawa Timur, namun memiliki
permasalahan kebencanaan yang kompleks. Berdasarkan hasil perhitungan terhadap indeks
rawan bencana untuk kabupaten/kota di Indonesia, Kabupaten Mojokerto ditetapkan sebagai
daerah yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap bencana di Provinsi Jawa Timur (IRBI,
2013). Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Mojokerto sepanjang periode lima tahun terakhir
telah terjadi 227 bencana yang didominasi oleh bencana longsor, banjir, kekeringan dan angin
puting beliung.
Menurut RTRW Kabupaten Mojokerto 2012, Kabupaten Mojokerto merupakan daerah
yang rawan terhadap bencana tanah longsor (rawan gerakan tanah), banjir dan kekeringan.
Kompleksnya permasalahan kebencanaan di Kabupaten Mojokerto dipadukan dengan kondisi
fisik, ekonomi, sosial dan lingkungan yang rentan serta kondisi kapasitas yang kurang baik,
maka ancaman yang ada dapat menjadi bencana. Menilik situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten
Mojokerto di bawah koordinasi Badan Perencanaan Daerah (BAPPEDA) salah satunya
diwujudkan dengan menyusun kajian risiko bencana sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan PP Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

1.2 TUJUAN DAN SASARAN


1.2.1 Tujuan
Tujuan dari disusunnya kajian risiko bencana di Kabupaten Mojokerto antara lain sebagai
brikut:
1. Melakukan identifikasi, klasifikasi, dan evaluasi risiko bencana kekeringan, longsor,
banjir dan angin putting beliung/ cuaca ekstrim
2. Menetapkan potensi dan lokasi rawan bencana kekeringan, longsor, banjir dan angin
putting beliung/ cuaca ekstrim di Kabupaten Mojokerto
3. Menghitung potensi luasan atau cakupan wilayah bencana kekeringan, longsor, banjir dan
angin putting beliung/ cuaca ekstrim
4. Menetapkan strategi penanganan pertama terhadap bencana di Kabupaten Mojokerto

1.2.2 Sasaran
Sasaran dari disusunnya kajian risiko bencana di Kabupaten Mojokerto adalah
tersusunnya peta risiko bencana kekeringan, longsor, banjir dan angin putting beliung/ cuaca
ekstrim di Kabupaten Mojokerto dan strategi dalam penanganan bencana di Kabupaten
Mojokerto

1.3 RUANG LINGKUP MATERI


Ruang lingkup materi dari penyusunan kajian risiko bencana melingkupi kegiatan sebagai
berikut:
1. Pengumpulan data dan informasi baik primer maupun sekunder melalui studi literatur,
kajian teoritis dan data sekunder dari instansi terkait dengan tanggap bencana.
2. Melakukan kajian karakteristik pada kawasan meliputi:
a. Kondisi fisik dasar
b. Aspek sosial
3. Mengidentifikasi potensi kawasan rawan bencana sesuai dengan Perka BNPB No. 2
Tahun 2012
4. Pengolahan data dan analisa data yang meliputi penentuan metode, pelingkupan dan
penyiapan peta dasar.
5. Penyusunan materi teknis dalam hal ini melakukan penyusunan kajian risiko bencana
meliputi :
a. Identifikasi potensi bencana kekeringan, longsor, banjir dan angin putting beliung/
cuaca ekstrim
b. Analisis risiko bencana kekeringan, longsor, banjir dan angin putting beliung/ cuaca
ekstrim
c. Penyusunan Peta risiko bencana kekeringan, longsor, banjir dan angin putting
beliung/ cuaca ekstrim
d. Strategi dalam penanganan bencana kekeringan, longsor, banjir dan angin putting
beliung/ cuaca ekstrim

1.4 PENGERTIAN BENCANA


1.4.1 Pengertian Bencana Banjir
Banjir adalah peristiwa terjadinya genangan di dataran banjir akibat luapan air sungai
yang disebabkan debit aliran melebihi kapasitasnya, sehingga sungai tidak mampu menampung
dan mengalirkannya (Waryono, 2002:2). Menurut Pedoman Pengendalian Kawasan Rawan
Banjir (KRB), banjir adalah aliran air di permukaan tanah (surface water) yang relatif tinggi dan
tidak dapat ditampung oleh saluran drainase atau sungai, sehingga melimpah ke kanan dan kiri
serta menimbulkan genangan/aliran dalam jumlah melebihi normal dan mengakibatkan kerugian
pada manusia dan lingkungan. Banjir terdapat dua peristiwa yaitu peristiwa banjir/genangan
yang terjadi pada daerah yang biasanya tidak terjadi banjir dan peristiwa banjir terjadi karena
limpasan air banjir dari sungai karena debit banjir tidak mampu dialirkan oleh alur sungai atau
debit banjir lebih besar dari kapasitas pengaliran sungai yang ada (Kodoati et al, 2002:74).
Menurut Eko, T.P dalam Arifin dan Kasim (2012), banjir terdiri dari beberapa jenis antara lain:
a. Banjir genangan, merupakan banjir yang terjadi hanya dalam waktu 6 jam setelah
hujan lebat mulai turun. Umumnya terjadi akibat meluapnya air hujan yang sangat
deras, khususnya bila tanah bantaran sungai tidak mampu menahan banyak air.
b. Banjir luapan sungai, terjadi setelah proses yang cukup lama, meskipun proses
tersebut lolos dari pengamatan sehingga datangnya banjir terasa mendadak dan
mengejutkan, karena hal tersebut maka banjir ini juga disebut sebagai banjir
kiriman. Selain itu banjir luapan sungai kebanyakan bersifat musiman atau tahunan
dan berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa henti.
Penyebab banjir dipengaruhi berbagai faktor lingkungan alamiah (fisik) seperti curah
hujan, kondisi topografi, serta lingkungan sosial yang erat kaitannya dengan perubahan tata guna
lahan. Fenomena banjir yang terjadi di wilayah perkotaan, pada dasarnya disebabkan oleh dua
hal (Waryono, 2002:2):
a. Kondisi fisik dan peristiwa alam, meliputi intensitas curah hujan yang terjadi pada
bulan-bulan tertentu yang mencapai lebih dari 100 mm dalam 10 menit. Topografi
wilayah yang merupakan dataran rendah dengan lereng relatif landai.
b. Akibat dari aktivitas manusia, meliputi perubahan penggunaan lahan dari kawasan
tak terbangun (kawasan lindung) menjadi kawasan terbangun (kawasan budidaya).
Penyempitan bantaran sungai sebagai akibat dari pertambahan jumlah penduduk,
serta penduduk yang kurang memahami pentingnya peran dan fungsi sungai.
Sepanjang tahun 2017 Kabupaten Mojokerto mengalami 32 kejadian banjir yang yang
menyebabkan sejumlah rumah dan lahan pertanian terendam.

1.4.2 Pengertian Bencana Longsor


Menurut Undang-undang No 24 Tahun 2007, tanah longsor merupakan salah satu jenis
gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng
akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng. Penyebab terjadinya longsor
adalah lereng yang gundul serta kondisi tanah dan bebatuan yang rapuh. Hujan deras adalah
pemicu utama terjadinya tanah longsor. Tetapi tanah longsor dapat juga disebabkan oleh gempa
atau aktifitas gunung api serta manusia seperti penambangan tanah, pasir dan batu yang tidak
terkendali. Dampak tanah longsor adalah tanah dan material lainya yang berada di lereng dapat
runtuh dan mengubur manusia, binatang, rumah, kebun, jalan dan semua yang berada di jalur
longsornya tanah. Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Mojokerto, Kawasan rawan longsor
pada Kabupaten Mojokerto terdapaat di Kecamatan Gondang, Kecamatan Jatirejo, Kecamatan
Ngoro, Kecamatan Pacet, Kecamatan Dawarblandong, Kecamatan Kemlagi dan Kecamatan
Trawas. Sepanjang tahun 2017 Kabupaten Mojokerto mengalami 12 kejadian tanah longsor yang
terjadi di Kecamatan Pacet, Kecamatan Dawarblandong, Kecamatan Jatirejo, Kecamatan Ngoro
dan Kecamatan Trawas yang menyebabkan sejumlah rumah rusak dan Sebagian badan jalan
tertutup oleh material longsoran dan batang pohon sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda 2
maupun roda 4

1.4.3 Pengertian Bencana Kekeringan


Menurut Undang-undang No 24 Tahun 2007, kekeringan adalah ketersediaan air yang
jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, serta kegiatan ekonomi dan
lingkungan. Kekeringan yang terjadi di Kabupaten Mojokerto berupa kekeringan pertanian dan
kekeringan meteorologis. Kekeringan pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan
pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan
(UUPB 24/2007). Sedangkan, kekeringan meteorologis adalah kekeringan yang dapat diukur dari
besaran curah hujan yang terjadi berada dibawah kondisi normal pada suatu musim (BNPB,
2014). Faktor penyebab kekeringan diantaranya yaitu (Rahayu, 2011):
1. Adanya penyimpangan iklim, menyebabkan produksi uap air dan awan di sebagian
Indonesia bervariasi dari kondisi sangat tinggi ke rendah atau sebaliknya. Hal tersebut
menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi normal. Jumlah uap air dan awan yang
rendah akan berpengaruh terhadap curah hujan, apabila curah hujan dan intensitas hujan
rendah akan menyebabkan kekeringan.
2. Adanya gangguan keseimbangan hidrologis, kekeringan juga dipengaruhi oleh adanya
gangguan hidrologis seperti: 1) terjadinya degradasi DAS terutama bagian hulu mengalami
alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi non vegetasi yang menyebabkan terganggunya
sistem peresapan air tanah; 2) kerusakan hidrologis daerah tangkapan air bagian hulu
menyebabkan waduk dan saluran irigasi terisi sedimen, sehingga kapasitas tampung air
menurun tajam; 3) rendahnya cadangan air waduk yang disimpan pada musim penghujan
akibat pendangkalan menyebabkan cadangan air musim kemarau sangat rendah sehingga
memicu terjadinya kekeringan.
3. Kekeringan agronomis, terjadi sebagai akibat kebiasaan petani memaksakan menanam padi
pada musim kemarau dengan ketersediaan air yang tidak mencukupi.
Bencana kekeringan di Kabupaten Mojokerto terjadi akibat adanya perubahan iklim
ditandai dengan rendahnya intensitas hujan yang mengakibatkan kesulitan mendapatkan air
bersih.
1.4.4 Pengertian Bencana Angin Putting Beliung/ Cuaca Ekstrim
Angin berkecepatan tinggi terjadi karena adanya perbedaan tekanan yang sangat besar
antara 2 lokasi yang berdekatan.Angin tersebut disebut pula angin ribut yang karena
kecepatannya dapat menimbulkan daya rusak terhadap berbagai media yang dilaluinya. Dalam
skala Beaufort, yang disebut angin ribut ialah angin mulai skala 6 yaitu angin berkecepatan 10,8-
13,8 m/detik. Terjadinya angin ribut dipengaruhi pembentukan awan Cumulunimbus dari
konveksi maupun orografi massa udara yang tidak stabil atau dari adveksi massa udara relatif
dingin dengan massa udara yang relative panas dalam frontal massa udara (Nirkaryanto, 1979).
Keadaan tersebut menyebabkan posisi konvergensi dan divergensi mempunyai perbedaan
tekanan udara yang sangat besar pada posisi yang berdekatan sehingga memicu terjadinya angin
ribut.
Menurut Peraturan Kepala BMKG Nomor KEP.009 Tahun 2010 angin puting beliung
adalah angin kencang yang berputar yang keluar dari awan Cumulonimbus dengan kecepatan
lebih dari 34,8 (tiga puluh empat koma delapan) knots atau 64,4 (enam puluh empat koma
empat) kilometer (km)/jam dan terjadi dalam waktu singkat. Angin ini dapat menghancurkan apa
saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar.
Angin puting beliung biasa terjadi pada musim pancaroba di kala siang ataupun sore hari.
Fase terjadinya puting beliung memiliki kaitan yang erat dengan fase tumbuh awan
cumulonimbus. Adapun fase terjadinya puting beliung yaitu
1. Fase tumbuh
Di dalam awan terjadi arus udara yang naik ke atas dengan tekanan yang cukup kuat.
Pada saat ini proses terjadinya hujan belum turun karena titik-titik air serta kristal es
masih tertahan oleh arus udara yang bergerak naik menuju puncak awan.
2. Fase dewasa atau masak
Dalam fase ini, titik-titik air yang tidak lagi tertahan oleh udara akan naik menuju puncak
awan. Hujan kemudian akan turun dan menimbulkan gaya gesek antara arus udara yang
naik dan yang turun. Pada fase ini, temperatur massa udara yang turun memiliki suhu
yang lebih dingin dibandingkan dengan udara disekelilingnya. Pada arus udara yang naik
ataupun turun dapat timbul arus geser yang memutar lalu membentuk pusaran. Arus
udara yang berputar semakin lama semakin cepat akan membentuk angin puting beliung.
Angin puting beliung, dapat disertai dengan hujan yang deras dan membentuk pancaran
air.
3. Fase punah
Dalam masa punah, tidak ada massa udara yang naik namun massa udara akan meluas di
seluruh awan. Pada akhirnya proses terjadinya awan mengalami kondensasi akan berhenti
dan udara turun melemah sehingga pertumbuhan awan akan berakhir.

1.5 LANDASAN HUKUM


1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4723);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah terakhir kalinya dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828);
4. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan
Bencana;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan
Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah
6. Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan
Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mojokerto
7. RTRW Kabupaten Mojokerto