Anda di halaman 1dari 8

LAMPIRAN

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
NOMOR: 445/Kpts-Dir/1/2019/09.1
TENTANG
IDENTIFIKASI PASIEN DENGAN BENAR
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

PANDUAN IDENTIFIKASI PASIEN DENGAN BENAR


DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

BAB I
DEFINISI

A. Pengertian
Identifikasi adalah pengumpulan data dan pencatatan segala keterangan tentang
bukti-bukti dari seseorang sehingga kita dapat menetapkan dan mempersamakan
keterangan tersebut dengan individu seseorang. Pasien adalah seorang individu yang
mencari atau menerima perawatan medis. Identifikasi pasien adalah suatu sistem
identifikasi kepada pasien untuk membedakan antara pasien satu dengan yang lain
sehingga memperlancar atau mempermudah dalam pemberian pelayanan kepada
pasien.
Ketepatan identifikasi pasien menjadi hal yang penting dan sangat erat
hubungannya dengan keselamatan pasien. Kesalahan karena keliru pasien dapat
terjadi dalam semua aspek diagnosis dan pengobatan. Perlu proses kolaboratif untuk
memperbaiki proses identifikasi untuk mengurangi kesalahan identifikasi pasien. Tidak
semua pasien rumah sakit dapat mengungkapkan identitas secara lengkap dan benar.
Beberapa keadaan seperti pasien dalam keadaan terbius, mengalami disorientasi, tidak
sadar sepenuhnya, bertukar tempat tidur atau kamar atau lokasi dalam rumah sakit
atau kondisi lain dapat menyebabkan kesalahan dalam identifikasi pasien.
Proses identifikasi pasien perlu dilakukan dari sejak awal pasien masuk rumah
sakit yang kemudian identitas tersebut akan selalu ada dan dikonfirmasi dalam segala
proses asuhan di rumah sakit. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi
pasien yang nantinya bisa berakibat fatal jika pasien menerima prosedur medis yang
tidak sesuai dengan kondisi pasien seperti salah pemberian obat, salah pengambilan
darah bahkan salah tindakan medis.

B. Tujuan
Tujuan dari panduan ini adalah sebagai acuan kepada petugas rumah sakit
tentang prosedur identifikasi pasien dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam
memberikan pelayanan kepada pasien.

C. Sasaran
Sasaran panduan ini adalah seluruh petugas Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Kepulauan Meranti yang akan memberikan asuhan atau pelayanan kepada
pasien, meliputi dokter, perawat, bidan, apoteker, staf gizi, staf laboratorium, staf
radiologi, staf fisioterapi dan sebagainya.
BAB II
RUANG LINGKUP

Kesalahan identifikasi pasien di suatu rumah sakit merupakan hal yang dapat
terjadi yang dapat menimbulkan kesalahan medis pada pasien. Diperlukan suatu
panduan yang mengatur proses identifikasi pasien sehingga menghindarkan dari
kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi. Proses identifikasi harus selalu dilakukan
dalam setiap asuhan pelayanan pasien mulai dari aspek penegakan diagnostik hingga
prosedur terapeutik serta proses-proses pelayanan pasien lainnya.
Identifikasi pasien harus dilakukan dengan benar. Di RSUD Kabupaten
Kepulauan Meranti identifikasi pasien dilakukan antara lain:
1. Sebelum pemberian obat
2. Sebelum pemberian darah atau produk darah
3. Sebelum tindakan
4. Sebelum pengambilan darah & spesimen lainnya
5. Sebelum pemberian diet
6. Sebelum menerima cairan intravena
7. Sebelum prosedur radiologi diagnostik
8. Pada pasien koma
BAB III
TATA LAKSANA

A. Proses Identifikasi Pasien di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti


Proses identifikasi pasien harus selalu dilakukan dalam setiap pelayanan yang
diberikan pada pasien di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti baik pasien rawat jalan
maupun rawat inap.
Pasien atau keluarga pasien yang mendaftar harus mengisi data sesuai dengan
data asli pasien. Data nama dan tanggal lahir pasien harus sesuai dengan data yang
terdapat di e-KTP, bila tidak ada gunakan kartu identitas lainnya (seperti SIM, paspor,
buku nikah, kartu pelajar dan sebagainya) bila tidak ada semuanya minta pasien atau
keluarga pasien untuk menulis pada formulir identitas yang disediakan Bagian
Pendaftaran RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti dengan huruf kapital pada kotak
huruf yang disediakan, nama tidak boleh disingkat, tidak boleh salah tulis walau satu
huruf.
Kebijakan yang diberlakukan di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti terkait
identifikasi pasien yaitu dengan pemasangan gelang identifikasi pasien pada setiap
pasien rawat inap dan pada pasien rawat jalan yang akan dilakukan tindakan
pemeriksaan radiologi diagnostik BNO/IVP.
Ada beberapa gelang identifikasi yang dipakai di RSUD Kabupaten Kepulauan
Meranti yaitu :
a. Gelang identitas pasien berdasarkan jenis kelamin :
- Gelang warna merah jambu untuk pasien perempuan.
- Gelang warna biru muda untuk pasien laki – laki.
Pada gelang identitas ini wajib tercantum nama, tanggal lahir dan nomor
rekam medis pasien. Proses pencetakan gelang pasien ini dilakukan di
Bagian Admission RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti.
b. Gelang warna merah untuk pasien yang mempunyai riwayat alergi. Pada
gelang ini dituliskan obat atau bahan yang menyebabkan alergi pada pasien.
c. Gelang warna kuning untuk pasien yang beresiko jatuh.
d. Gelang warna ungu untuk pasien yang menolak dilakukan tindakan
resusitasi atau DNR (Do Not Resuscitate).
Identifikasi pasien tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.
Identifikasi pasien juga dilakukan pada pasien koma atau tidak sadar, pasien dengan
gangguan jiwa, dan pasien yang tanpa identitas..
Staf rumah sakit yang akan melakukan asuhan kepada pasien harus melakukan
identifikasi secara verbal yaitu menanyakan atau mengkonfirmasi nama pasien dan
tanggal lahir pasien dan secara visual dengan melihat gelang pasien serta dicocokkan
dengan 2 data identitas yang disebut pasien yaitu nama dan tanggal lahir tersebut.
Pasien harus diidentifikasi secara benar sebelum dilakukan tindakan, prosedur
diagnostik, dan terapeutik. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, produk
darah, pengambilan spesimen dan pemberian diet. Pasien diidentifikasi sebelum
menerima cairan intravena, pengambilan darah atau pengambilan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis, prosedur radiologi diagnostik, dan identifikasi terhadap pasien
koma.

B. Identifikasi Pasien Khusus


1. Prosedur identifikasi neonatus
Bayi baru lahir juga dipasang gelang identitas yang ukurannya lebih kecil
menyesuaikan dengan ukuran pergelangan tangan bayi. Bayi akan didaftarkan oleh
keluarganya dan mendapat status rekam medisnya. Pada gelang identitas bayi
tercantum nama ibu bayi yang melahirkannya dan diberi awalan “By.” yang merupakan
singkatan dari kata bayi, tercantum juga tanggal lahir dan nomor rekam mediknya.
Proses identifikasi bayi juga dengan pengecapan kedua telapak kaki (pada bayi yang
memiliki cacat bawaan tidak mempunyai kaki dapat dilakukan pengecapan kedua
telapak tangannya) pada formulir yang telah disediakan. Data-data penunjang lainnya
juga ditulis pada formulir tesebut antara lain tanggal dan jam kelahiran, panjang badan,
berat badan lahir, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar perut dan sebagainya. Hal ini
untuk menguatkan identitas bayi agar resiko bayi tertukar dapat dihindari. Gelang
identifikasi warna merah jambu untuk bayi perempuan dan warna biru muda untuk bayi
laki-laki.
2. Identifikasi pasien koma, tidak sadar dan ganguuan jiwa,
Proses identifikasi pasien pada pasien koma, tidak sadar dan pasien gangguan
jiwa oleh pemberi asuhan harus melibatkan keluarga yang menunggu pasien tersebut.
Petugas yang akan memberi asuhan wajib menanyakan identitas kepada keluarga
pasien (minimal nama dan tanggal lahir pasien) kemudian secara visual mencocokkan
dengan gelang identitas yang terpasang pada pasien. Jika tidak ada keluarga pasien
lakukan proses tersebut dengan mencocokkan data dengan status rekam medis pasien.

3. Prosedur identifikasi pasien dengan alergi


Pasien harus dipastikan memilik riwayat alergi atau tidak sebelum di rawat inap.
Gelang identifikasi alergi berwarna merah dikenakan di salah satu pergelangan tangan
dan harus dicatumkan nama alergi dengan jelas. Data alergi harus terdokumentasi di
rekam medis pasien. Satu gelang alergi dapat memuat maksimal 3 ( tiga ) identifikasi
alergi pasien, jika lebih dari tiga alergi dapat ditambahkan gelang identifikasi alergi baru
sesuai dengan kelipatan tiga. Jika ditemukan alergi baru, gelang identifikasi alergi baru
harus dikenakan.

4. Prosedur identifikasi pasien dengan resiko jatuh


Pasien dengan resiko jatuh adalah pasien dengan agitasi, agresi, delirium yang
belum membaik, geriatri dan pasien lain dengan kebutuhan kekang. Gelang identifikasi
pasien dengan resiko jatuh berwarna kuning yang dikenakan di salah satu pergelangan
tangan dengan mencantumkan nama pasien, jenis kelamin, nomor rekam medis, dan
tanggal lahir. Pasien agitasi, agresi dan kebutuhan kekang yang beresiko
membahayakan dirinya dan merusak gelang yang dikenakan dipergelangan tangan
dapat dikenakan di pergelangan kaki dan apabila pasien sudah membaik dan tenang,
gelang tidak perlu dipindahkan.

C. Hal-hal lain terkait identifikasi pasien


Hal-hal lain terkait dentifikasi pasien antara lain :
1. Apabila dalam suatu kondisi ada dua atau beberapa pasien dengan nama yang
sama harus diberi tanda “HATI HATI PASIEN DENGAN NAMA SAMA” pada
rekam medik dan semua formulir permintaan penunjang
2. Identitas pasien (nama, nomor rekam medik dan tanggal lahir atau minimal 2 dari
data tersebut) harus ditulis pada lembar resep, lembar permintaan pemeriksaan
penunjang (laboratorium dan radiologi), pada makanan/diet pasien, pada wadah
darah atau spesimen lainnya pada pemeriksaan laboratorium.
3. Proses tatalaksana identifikasi oleh staf pemberi pelayanan pasien akan
dijelaskan lebih rinci pada Standar Prosedur Operasional yang telah ditetapkan
RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti.
4. Pengecualian pada pasien dengan kondisi yang tidak memungkinkan dipasang
gelang identitas, maka indentifikasi pasien dilakukan dengan cara lain contohnya
memasangkan papan nama (name tag), atau cara lain sesuai kondisi pasien.
5. Untuk pasien tanpa identitas digunakan identitas sementara berupa nama Tn.X
untuk pasien laki-laki, Ny./Nn.X untuk perempuan untuk selanjutnya pada pasien
tanpa identitas X1, X2 dst. Untuk tanggal lahir ditulis sesuai tanggal masuk
rumah sakit. Untuk nomor rekam medik disesuaikan dengan urutan nomor rekam
medik yang telah digunakan. Indentitas sementara tersebut digunakan hingga
didapatkan identitas definitif pasien secara akurat.
6. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh petugas saat pemasangan gelang
identifikasi antara lain menjelaskan manfaat gelang pasien, menjelaskan bahaya
untuk pasien yang menolak, melepas, menutupi gelang dan meminta keterlibatan
pasien dalam proses identifikasi ini dengan meminta pasien agar mengingatkan
petugas agar melakukan identifikasi pasien terkait asuhan yang akan diberikan.

BAB IV
PENUTUP

Ketepatan identifikasi pasien adalah hal penting yang perlu diperhatikan agar
tercapai tujuan keselamatan pasien di rumah sakit. Setiap petugas medis harus selalu
memperhatikan aspek indentifikasi pasien dalam melakukan rencana maupun tindakan
atau asuhan terhadap pasien. Hal ini diharapkan dapat mencegah terjadinya kesalahan
atau hal yang bersifat fatal pada pasien. Kerjasama berbagai bidang pelayanan sangat
diperlukan agar tercapai aspek keselamatan pasien melalui proses identifikasi yang
benar.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah


Kabupaten Kepulauan Meranti

dr. R.H. Riasari


Pembina
NIP. 19800402 200501 2 009