Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks dan kronis. Karena
sangatkompleks dan kronis, maka cara penanggulangan kemiskinanpun
membutuhkan analisisyang tepat, melibatkan semua komponen permasalahan dan
diperlukanstrategi penanganan yang tepat, berkelanjutan dan tidak dihasilkan sera
ngkaian strategi dankebijakan penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran.
Untuk itu setiap orang harus mengetahui lebih jelas mengapa mereka harus
menjauhi kemiskinan?.
Mengenai halhal tersebut, dijelaskan oleh Yusuf Qardhawi, seorang ulama
kontemporer,menulis: Menurut pandangan Islam, tidak dapat dibenarkan
seseorang yanghidup di tengah masyarakat Islam,sekalipun Ahl Al-Dzimma
(warga negara non-Muslim),menderita lapar, tidak berpakaian, menggelandang
(tidak bertempat tinggal) danmembujang dan"Islam" menyatakan perang
terhadap"kemiskinan" dan berusaha kerasuntuk membendungnya serta mengawasi
kemungkinan yang dapat menimbulkannya.
"Karena hal itu dilakukan dalam rangka menyelamatkan aqidah, akhlak
danlaku perbuatan, memelihara kehidupan rumah tangga dan melindungi kestabila
n serta ketenteraman masyarakat, di samping mewujudkan jiwa persaudaraan
antara sesamaanggota masyarakat. Berdasarkan pendapat di atas penyusun dapat
menyimpulkan bahwa"Islam" mengharuskan supaya setiap individu mencapai
taraf hidup yang layak di dalammasyarakat dan menghindari kemiskinan.
Berangkat dari fenomena di atas maka penyusun tertarik mengambil
judul“Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan“. Agar setiap orang tidak
terjerumus kedalam lobang kemiskinan.

[Type text] Page 1


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kemiskinan Menurut Pandangan Islam


Menurut bahasa, miskin berasal dari bahasa Arab yang sebenarnya
menyatakankefakiran yang sangat. Allah Swt. menggunakan istilah itu dalam
firman-Nya:
   

“…atau orang miskin yang sangat fakir” (QS al-Balad [90]: 16).
Adapun kata fakir yang berasal dari bahasa Arab: al-faqru, berarti
membutuhkan(al-ihtiyaaj). Allah Swt. berfirman:
   
   
 
“…lalu dia berdoa, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku sangat membutuhkan
suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS al-Qashash
[28]:24).
Pandangan Islam, yang melihat fakta kefakiran/kemiskinan sebagai
perkara yangsama, bahkan, pada zaman kapan pun, kemiskinan itu sama saja
hakikatnya.Islammemandang bahwa masalah kemiskinan adalah masalah tidak
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer secara menyeluruh. Syariat Islam telah
menentukan kebutuhan primer itu (yang menyangkut eksistensi manusia) berupa
tiga hal, yaitu sandang, pangan dan papan. Allah Swt.berfirman:
    
  
  

 

[Type text] Page 2


“Kewajiban ayah adalah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu
dengan cara yang makruf” (QS.al-Baqarah [2]:233).
Rasulullah saw. bersabda:
“Ingatlah, bahwa hak mereka atas kalian adalah agar kalian berbuat baik
kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan” (HR Ibnu
Majah).
Dari ayat dan hadis di atas dapat di pahami bahwa tiga perkara (yaitu
sandang, pangan,dan papan) tergolong pada kebutuhan pokok (primer), yang
berkait erat dengankelangsungan eksistensi dan kehormatan manusia. Apabila
kebutuhan pokok (primer) initidak terpenuhi, maka dapat berakibat pada
kehancuran atau kemunduran (eksistensi)umat manusia. Karena itu, Islam
menganggap kemiskinan itu sebagai ancaman yang
biasa dihembuskan oleh setan, sebagaimana firman Allah Swt.
 

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan” (QS al
- Baqarah [2]:268).
Dengan demikian, siapapun dan dimanapun berada, jika seseorang tidak
dapat memenuhikebutuhan pokok (primer) nya, yaitu sandang, pangan dan papan,
dapat digolongkan padakelompok orang-orang yang fakir ataupun miskin. Oleh
karenaitu,setiapprogrampemulihan ekonomi yang ditujukan mengentaskan fakir m
iskin, harus ditujukan pada mereka yang tergolong pada kelompok tadi. Baik
orang tersebut memiliki pekerjaan,tetapi tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan
pokoknya dengan cara yang makruf, yaknifakir, maupun yang tidak memiliki
pekerjaan karena PHK atau sebab lainnya, yakni miskin.
Jika tolok ukur kemiskinan Islam dibandingkan dengan tolok ukur lain,
maka akandidapati perbedaan yang sangat mencolok. Tolok ukur kemiskinan
dalam Islam memilikinilai yang jauh lebih tinggi dari tolok ukur lain. Sebab, tolok
ukur kemisknan dalamIslam mencakup tiga aspek pemenuhan kebutuhan pokok
bagiindividumanusia,yaitu pangan, sandang dan pangan.Adapun tolok ukur lain u
mumnyahanya menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan pangan semata.

[Type text] Page 3


B. Akar Kemiskinan
Islam memandang bahwa kemiskinan sepenuhnya adalah masalah
struktural karenaAllah telah menjamin rizki setiap makhluk yang telah, sedang
dan akan diciptakannya (QS 30 Ar-Rum:40; QS 11:6). Disaat yang sama Islam
telah menutup peluang bagikemiskinan kultural dengan memberi kewajiban
mencari nafkah bagi setiap individu (QS67Al-mulk:15). Setiap makhluk memiliki
rizki masing-masing (QS 29al- anbiya :60) danmereka tidak akan kelaparan (QS
20 Thaha: 118-119).Dalam perspektif Islam, kemiskinan timbul karena berbagai
sebab struktural.
a. Kemiskinan timbul karena kejahatan manusia terhadap alam (QS Ar-Rum
30:41)sehingga manusia itu sendiri yang kemudian merasakan dampak-
nya (QS 42:30).
b. Kemiskinan timbul karena ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok
kaya (QS 3:180,QS 70:18) sehingga si miskin tidak mampu keluar dari
lingkaran kemiskinan.
c. Kemiskinan timbul karena sebagian manusia bersikap dzalim, eksploitatif
danmenindas sebagian manusia yang lain, seperti memakan harta orang
lain dengan jalanyang batil(QS 9:34), memakan harta anak yatim (QS 4:2,
6, 10) dan memakan hartariba (QS 2:275).
d. Kemiskinan timbul karena konsentrasi kekuatan politik, birokrasi, dan
ekonomi disatu tangan. Hal ini tergambar dalam kisah Fir’aun, Haman,
dan Qarun yang bersekutu dalam menindas rakyat Mesir di masa hidup
Nabi Musa (QS 28:1-88).
e. Kemiskinan timbul karena gejolak eksternal seperti bencana alam atau
peperangansehingga negeri yang semula kaya berubah menjadi miskin.
Bencana alam yang memiskinkan kaum Saba (QS 34: 14-15) atau
peperanganyang menciptakan para pengungsi miskin yang terusir dari
negeri-nya (QS 59:8-9). Dengan memahami akar masalah, akan lebih
mudah bagi kita untuk memahamifenomena kemiskinan, pengangguran

[Type text] Page 4


dan ketimpangan yang semakin meraja disekeliling kita. Bukankah akar
kemiskinan di negeri ini adalah perilaku eksploitatif akibat penerapan
bunga sehingga kita setiap tahun harus menghabiskan sebagian
besar anggaran negara untuk membayar bunga?. Bukankah akar
kemiskinan di negeri iniadalah birokrasi yang korup dan pemusatan
kekuasaan ditangan kekuatan politik dan pemilik modal sehingga tidak
jelaslagimana kepentingan publik dan manakepentingan pribadi? Bukanka
h akar kemiskinan di negeri ini adalah buah dari kejahatan kitaterhadap
lingkungan yang kita rusak sedemikian masif dan ekstensif.

C. Strategi Pengentasan
1. Islam memiliki berbagai prinsip terakit kebijakan publik yang dapat
dijadikan panduan bagi program pengentasan kemiskinan dan sekaligus
penciptaan lapangankerja.
2. Islam mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat luas
bagimasyarakat (pro-poor growth).Islam mencapai pro-poor growth
melalui dua jalur utama: pelarangan ribadan mendorong kegiatan sektor
riil. Pelarangan riba secara efektif akanmengendalikan inflasi sehingga
dayabelimasyarakatterjagadanstabilitas perekonomian tercipta. Bersama
an dengan itu, Islam mengarahkan modal padakegiatanekonomiprodukti
melalui kerja sama ekonomi dan bisnis seperti mudharabah, muzara’ah
dan musaqat. Dengan demikian, tercipta keselarasanantara sektor riil
dan moneter sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berlangsungsecara
berkesinambungan.
3. Islam mendorong penciptaan anggaran negara yang memihak pada
kepentinganrakyat banyak (pro-poor budgeting). Dalam sejarah Islam,
terdapat tiga prinsiputama dalam mencapai pro-poor budgeting yaitu:
disiplin fiskal yang ketat, tatakelola pemerintahan yang baik dan
penggunaan anggaran negara sepenuhnyauntuk kepentingan
publik.Tidak pernah terjadi defisit anggaran dalam pemerintahan Islam
walautekanan pengeluaran sangat tinggi, kecuali skala pada masa

[Type text] Page 5


pemerintahan Nabi Muhammad SAW karena perang. Bahkan pada
masa Khalifah Umar dan Usmanterjadi surplus anggaran yang besar.
Kemudian lebih banyak didorong adalahefisiensi dan penghematan
anggaran melalui good governance. Di dalam Islam,anggaran negara
adalah harta publik sehingga anggaran menjadi sangat
responsif terhadap kepentingan orang miskin.
4. Islam mendorong pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat
luas bagimasyarakat (pro-poor infrastructure). Islam mendorong
pembangunan infrastruktur yang memiliki dampak eksternalitas positif
dalam rangka meningkatkan kapasitas dan
efisiensi perekonomian. Nabi Muhammad SAW membagikan tanah di
Madinah kepada masyarakat untuk membangun perumahan, mendirikan
pemandian umum disudut kota, membangun pasar, memperluas
jaringan jalan dan memperhatikan jasa pos. Khalifah Umar bin Khattab
membangun kota Kufah dan Basrah denganmemberi perhatian khusus
pada jalan raya dan pembangunan masjid di pusatkota. Beliau juga
memerintahkan Gubernur Mesir, Amr bin Ash, untuk mempergunakan
sepertiga penerimaan Mesir untuk pembangunan jembatan,kanal dan
jaringan air bersih.
5. Islam mendorong penyediaan pelayanan publik dasar yang berpihak
padamasyarakat luas (pro-poor public services). Terdapat tiga bidang
pelayanan publik yang mendapat perhatian Islam secara serius: birokras
i, pendidikan dan kesehatan. Di dalam Islam, birokrasi adalah amanah
untuk melayani publik, bukanuntuk kepentingan diri sendiri atau
golongan. Khalifah Usman tidak mengambilgaji dari kantor-nya.
Khalifah Ali membersihkan birokrasi dengan memecat pejabat-
pejabat pubik yang korup. Selain itu, Islam juga mendorong pembangun
an pendidikan dan kesehatan sebagai sumber produktivitas untuk pertu
mbuhan ekonomi jangka panjang.
6. Islam mendorong kebijakan pemerataan dan distribusi pendapatan yang
memihak rakyat miskin.Terdapat tiga instrument utama dalam Islam

[Type text] Page 6


terkait distribusi pendapatanyaitu aturan kepemilikan tanah, penerapan
zakat, serta menganjurkan qardulhasan, infak, dan wakaf. Demikianlah
Islam mendorong pengentasan kemiskinanmelalui pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakat, pengembangan sektor riil dan pemerataan
hasil pembangunan.
7. Islam memiliki berbagai prinsip terakit individu yang dapat dijadikan
panduan bagi program pengentasan kemiskinan dan sekaligus
penciptaan lapangan kerja.Dalam rangka mengantarkan dan
memberikan jaminan terhadap pemeluk
pemeluknya untuk menuju kepada taraf hidup yang mulia terhormat,
I s l a m menyumbangkan berbagai cara dan jalan, yaitu:
a. Bekerja.Setiap orang yang hidup dalam masyarakat
I s l a m diharuskan bekerjadan diperintahkan berkelana di
permukaan bumi ini, serta diperintahkan makandari rezki Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Mulk
Ayat15:
   
  
 
   
  
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka
berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebagian dari
rezki-Nya."Bekerja merupakan senjata utama untuk memerangi
k e m i s k i n a n , modal pokok dalam mencapai kekayaan dan
faktor dominan dalam menciptakankemakmuran dunia. Tugas
memakmurkan dunia ini, Allah telah memilih manusiauntuk
mengelolanya, sebagaimana difirmankan oleh Allah, bahwa hal
ini pernahdiajarkan Nabi Shaleh kepada kaumnya, sebagaimana
dalam Al-Qur'an Surat Hud Ayat 51:

[Type text] Page 7


  
   
  
   
 
"Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada
bagimuTuhan, melainkan Dia. Dia telah menciptakan kamu dari
tanah (bumi) danmenjadikan kamu sebagai pemakmurnya.
b. Mencukupi Keluarga Yang Lemah. Dalam syariat i s l a m
setiap individu harus memerangi k e m i s k i n a n dengan
mempergunakan senjatanya, yaitu bekerja dan berusaha. Namun
di balik itu Ada orang-orang lemah yang tidak mampu
bekerja, para janda yang ditinggal mati suami-suaminya dalam
keadaan tidak berharta, anak-anak yang masih kecildan orang-
orang yang sudah lanjut usia, orang-orang cacat abadi, sakit dan
lumpuh, orang-orang yang ditimpa bencana alam sehingga
kehilangan pekerjaannya. Apakah mereka akan dibiarkan begitu
saja karena bencana hidupyang telah melanda dan menimpa
mereka, sehingga mereka terlantar dalamkehidupan yang tidak
menentu? Tentunya tidak demikian, I s l a m berusaha untuk
mengentasmereka darilembah k e m i s k i n a n dan kemelaratan
sertamenghindarkanmerekadari perbuatan yang rendah lagi hina,
yaitu mengemis dan meminta-minta.
Dalam konsep I s l a m untuk menanggulangi hal ini
adalah adanya jaminan antar anggota satu rumpun keluarga.
I s l a m telah menjadikan antar anggota keluargasaling
menjamin dan mencukupi, sebagian meringankan
penderitaan anggotayang lain, yang kuat membantu yang
lemah, yang kaya mencukupi yang m i s k i n , yang mampu
memperkuat yang tidak mampu, karena itu hubunganyang

[Type text] Page 8


mengikat mereka sungguh sangat kuat; faktor kasih sayang,
cinta mencintaidan saling membantu adalah merupakan ikatan
yang kokoh, karena merekamerupakan satu keluarga dan
serumpun kerabat. Demikianlah, sebenarnyahakekat hubungan
keluarga yang alami dan hal ini telah didukung oleh kebenaran
syariat I s l a m , sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-
Anfal Ayat 75:
 
   
    
   
"Dan angoota keluarga, sebagaimana lebih berhak
terhadap anggota keluarga yang lain,menurut Kitab Allah."
Allah juga berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 36:
   
   

 
 
 
  
 
 
  
     
    
"Dan hendaklahkamu berbakti kepada Allah, dan jangan
kamu sekutukan Dia dengan sesuatu,dan hendaklah
kamu berbuat baik dengan sungguh-sungguh kepada ibu

[Type text] Page 9


bapak,keluarga yang dekat, anak-anak yatim, orang-
orang miskin, tetangga dekat,tetangga jauh, sahabat
sejalan, ibnu sabil, apa-apa yang dimiliki oleh
tangankanan kamu (hamba), sesungguhnya Allah itu
tidak suka kepada orang yangsombong dengan
perbuatannya, sombong dengan perkataannya."
Dalam Surat Ar-Rum Ayat 26, Allah juga berfirman:

   


   
 
"Maka berilahkepada keluarga yang dekat, dan orang
miskindan ibnu sabil akan haknya,yang demikian itu
baik bagi orang-orang yang mengharap keridlaan Allah".

D. Fakta Kemiskinan
Dalamlaporan berjudul Indonesia, The Imperative for Reform yang dil
uncurkan, Bank Duniadiperkirakan bahwa dengan garis kemiskinan yang
dipakai adalah pendapatan 2 dolar perhari maka pada tahun 2002, 55,1 persen
penduduk Indonesia adalah penduduk miskin.Walaupun jumlahnya
diperkirakan terus menurun, tapi angka kemiskinannya masihsangat tinggi.
Jumlah kemiskinan diperkirakan turun dari 65,1 persen pada tahun
1999menjadi 57,9 persen (tahun 2000), 56,7 persen (tahun 2001), 55,1 persen
(2002),53,4 persen (2003), 51,5 persen (2004), dan 49,5 persen (2005). Angka
kemiskinan 49,5 persen tahun 2005 ini kira-kira sama dengan level sebelum
krisis, yakni tahun 1996 yangsebesar 50,1 persen.
Terjadinya krisis moneter yang berkembang menjadi krisis ekonomi
sejak pertengahan tahun 1997 menyebabkan terpuruknya pendapatan perkapit
a masyarakatIndonesia, yaitu dari ± US $1,400. pada awal tahun 1997 menjadi
sekitar US $400. padaakhir tahun 1998. Sehubungan dengan menurunnya nilai
rupiah terhadap dolar Amerika,kondisi tersebut menyebabkan menurunnya

[Type text] Page 10


daya beli masyarakat, berkurangnya lapangan pekerjaan serta bertambahnya
jumlahpengangguran,yangmengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat
tajam menjadi 79,4 juta jiwa atau 39,1 % dari jumlah penduduk Indonesia
pada tahun 1998 (BPS). Jumlah pengangguran pun mencapaiangka 40 juta
jiwa dengan 7 juta penduduk benar-benar tidak punya pekerjaan.Yang
ditetapkan syariat Islam sebagai kebutuhan pokok sebenarnya
bukanhanya pangan, sandang dan papan. Ada hal lain yang juga termasuk keb
utuhan pokok, yaitukesehatan, pendidikan, dan keamanan. Namun,
pemenuhan kebutuhan tersebut tidak dibebankan kepada individu masyarakat,
tetapi langsung menjadi tanggung jawabnegara. Dalam membahas
kemiskinan, ketiga hal ini tidak dimasukkan dalam perhitungan karena
memang bukan tanggung jawab individu.

E. Pandangan Islam Terhadap Fakta Kemiskinan Yang Terjadi


Cerita tentang masyarakat miskin selalu menciut dan mencuat di media
massa yangada di negara kita, layaknya pasang surut sebuah gelombang di
lautan. Beritanya klisenamun selalu aktual. Salah satunya dibulan ini berita
tentang kemiskinan telah “dimenangkan” oleh seorang ibu dari Makassar. Ibu
tersebut tengah hamil tujuh bulan yang mempunyai seorang anak, berusia lima
tahun, tamat riwayatnya karena kelaparan. Tentu saja masalah yang paling
mendasar adalah ekonomi.
Dapat kita lihat saat ini dari harga kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-
hari, sepertiminyak goreng, minyak tanah, kedelai, terigu, telor dan lain-
lainnya melangkah naik dengan santai. Kenaikan harga-harga kebutuhan
pokok tersebut membuat masyarakatsulit untuk menjangkaunya dari hari ke
hari. Pemerintah dan semua lapisan masyarakat tentu tidak menghendaki
kemiskinandalam hidupnya. Oleh karena itu pemerintah pun telah berusaha
meminimalisir angkakemiskinan dan masyarakat pun tengah bersusah payah
keluar dari bayang-bayangkemiskinan.
Lantas, apa yang salah dengan negara kita yang rakyatnya terus
miskin?Harus kita akui bahwa kemiskinan muncul bukan lantaran persoalan

[Type text] Page 11


ekonomi saja, tapikarena persoalan semua bidang: struktural (birokrasi),
politik, sosial dan kultural, dan bahkan pemahaman agama.Kita pun tahu
dampak dari adanya kemiskinan ini, seperti kriminalitas, kekerasandalam
rumah tangga, perampokan, patologi dan lain sebagainya, dimana semua
itusemakin hari semakin meningkat saja intensitasnya di sekitar kita. Tak
mudah sepertimembalikkan telapak tangan untuk mengatasi kemiskinan.
Diperlukan semua segi,diantaranya ekonomi, kesehatan, pendidikan,
kebudayaan, teknologi dan tentu saja,ketenagakerjaan.
Selain itu ada segi lain yang tak boleh kita lupakan juga
dalammengatasi masalah ini, yaitu agama. Islam memberikan pesan-pesannya
melalui dua pedoman, yaitu Alquran dan Hadits. Melalui keduanya kita dapat
mengetahui bagaimanaagama (Islam) memandang kemiskinan.Alquran
menggambarkan kemiskinan dengan 10 kosakata yang berbeda, yaitu al-
maskanat (kemiskinan), al-faqr (kefakiran), al-’ailat (mengalami
kekurangan), al-ba’sa (kesulitan hidup), al-imlaq (kekurangan harta), al-sail
(peminta), al-mahrum (tidak berdaya), al-qani (kekurangan dan diam), al-
mu’tarr (yang perlu dibantu) dan al-dha’if (lemah). Kesepuluh kosakata di
atas menyandarkan pada satu arti atau makna yaitu kemiskinan dan
penanggulangannya. Islam menyadari bahwa dalam kehidupanmasyarakat
akan selalu ada orang kaya dan orang miskin (QS An-Nisa/4: 135). Sungguh,
hal itu memang sejalan dengan sunatullah (hukum alam) sendiri. Hukum kaya
dan miskin sesungguhnya adalah hukum universal yang berlaku bagi semua
manusia,apa pun keyakinannya. Karena itu tak ubahnya seperti kondisi sakit,
sehat, marah, sabarpunsama dengan masalah spirit, semangat hidup, disiplin,
etos kerja, rendah dan mentalitas.
Kemiskinan, menurut Islam, disebabkan oleh beberapa faktor, di
antaranya karena keterbatasan untuk berusaha (Q.S. Al-Baqarah/2: 273),
penindasan (QS Al-Hasyr/59: 8), cobaan Tuhan (QS Al-An’am/6: 42), dan
pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan (QS Al-Baqarah/2: 61). Namun,
di negara kita sesungguhnya faktor-faktor di atas sudahmulai dibenahi,
walaupun ada yang secara sungguh-sungguh maupun setengah-setengah.Mulai

[Type text] Page 12


dari program pemerintah dan masyarakat sendiri sama-sama
berjuangmemerangi kemiskinan. Tapi, harus disadari bahwa perjuangan
melawan kemiskinan dinegara kita, apa pun caranya, sesungguhnya sama
dengan perjuangan seumur hidup.Masih panjang sekali perjalanan untuk
mencapai hasilnya. Mengapa demikian?. Karenakenyataan di lapangan
berbeda dengan hasil data survey penelitian. Di atas kertas angkakemiskinan
di negeri ini berhasil diturunkan, namun dalam perkembangan lebih
lanjut juga memperlihatkan peningkatan.
Kembali pada persoalan hukum alam di atas tentang keniscayaan
adanya orangkaya dan orang miskin, maka sudah sepatutnya orang kaya
(termasuk pemerintah)membantu orang miskin. Menurut Islam, dengan
adanya bantuan orang kaya tersebut,agar orang miskin tidak terjerumus ke
dalam perbuatan yang dapat merendahkanmartabatnya sendiri (QS Al-
Baqarah/2: 256). Islam sesungguhnya telah menyadari bahwa terkadang
kefakiran (dan kemiskinan) akan menjadikan manusia pada kekufuran.

[Type text] Page 13


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan merupakan salah satu masalah kemanusiaan yang
dihadapi umatmanusia sepanjang kehidupan khususnya dewasa ini, hal ini
merupakan salah satutantangan yang menuntut agama untuk berperan
secara aktif dalam menanggulanginya,sesuai dengan fungsi dan perannya
dalam menjawab persoalan umat manusia.
Diantara peran dan fungsi agama dalam menghadapi masalah kema
nusiaan dapat dilihat darisejarah kelahiran agama itu sendiri yang tidak
lain adalah karena adanya masalahkemanusiaan yang hendak diluruskan
"Tuhan Sang Pencipta" lewat ajaran (kitab suci)yang dibawa para Nabi
atau Rasul ditengah umatnya. Kemiskinan juga merupakan
ketidakmampuan,manusiamemenuhikebutuhanhidup, baik karena tidak me
miliki harta dan mata pencaharian sekaligus,maupun karena hartadan mata
pencaharian yang tidak mencukupi. Islam mengajarkan
merencanakankeuangan sejak zaman nabi Yusuf dahulu kala. Memang,
kemampuan manusia terbatasdan kebenaran mentakwil mimpi hanya
anugrah Allah dan sulit untuk didapatkan.
B. Saran
Kita sebagai umat islam yang baik sebaiknya bekerja keras demi
mencapai kemakmuran hidup di dunia. Tidak hanya menyerahkan
kehidupan kita terhadap nasibdan takdir. Allah tidak akan merubah nasib
hambaNya. Kecuali hambanya
tersebut berusaha merubahnya. Tetapi dalam bekerja keras kita juga dianju

[Type text] Page 14


rkan untuk berbagiterhadap sesama yang membutuhkan. Karena pada
hakikatnya harta dan kekayaan adalahmilik Allah semata. Kita hanya
sebagai titipan saja.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qardhawy, Yusuf. 1996. Konsep Islam dalam Mengentaskan kemiskinan.
Surabaya: BinaIslam
Tasmara,Toto Drs.H. 1995. Etos Kerja Pribadi Muslim. Yogyakarta: PT.Dana
Bhakti Wakaf.

[Type text] Page 15