Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Kepemimpinan


Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin. Istilah pemimpin digunakan dalam konteks
hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain
dengan berbagai cara. Dalam bahasa Indonesia "pemimpin" sering disebut penghulu, pemuka,
pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja,
tuatua, dan sebagainya. Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya
seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu
mampumemimpin.
Kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi dan
membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan
organisasi ( House et.al,.1999 ; 184 ).
Menurut Kartono (2006:10), kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan
semangat, dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk
mengubah sikap, sehingga mereka menjadi conform dengan keinginan pemimpin. Kepemimpinan
merupakan proses mempengaruhi dalam menentukan organisasi, memotivasi perilaku pengikut
untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budaya.
Dengan kemampuan seorang pemimpin untuk dapat mempengaruhi suatu kelompok kearah
tercapainya tujuan. Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen dan
merupakan inti dari manajemen. Seperti yang dikatakan oleh Dimock dan Koening “ Leadership is
the key of management/administration “.
Sedangkan definisi kepemimpinan menurut Dubrin (2005 : 3) adalah sebagai berikut :
“Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi banyak orang melalui komunikasi untuk mencapai
tujuan, cara mempengaruhi orang, dengan petunjuk atau perintah, tindakan yang menyebabkan
orang lain bertindak dan merespons dan menimbulkan perubahan positif, kekuatan dinamis penting
yang memotivasi dan mengkoordinasikan organisasi dalam rangka mencapai tujuan, kemampuan
untuk menciptakan rasa percaya diri dan dukungan diantara bawahan agar tujuan organisasional
dapat tercapai ”.

2.2 Kepemimpinan Manajerial


Manajer : “orang yang melaksanakan masalah bisnis secara ekonomis dengan efisien “.
(james Macgregor burns mendeskripsikan pernini sebagai transaksional, yaitu melaksanakan bisnis
yang ada di bawah kerangka kerja umum yang ada.
Pemimpin : “ orang yang berjalan terlebih dulu untuk memandu atau menunjukan jalan.
Orang utama dalam suatu organisasi yang berkembang. Orang yang memiliki pengikut. “ (Burns
menyebut peran ini sebagai peran yang mengubah karena mungkin melibatkan pegerakan arah
yang berbeda atau mengubah budaya atau metode operasi.)
Sebenarnya, peran manajer dan pamimpin adalah penting. Intinya adalah organisasi yang
sukses yang dijalankan oleh seseorang yang merupakan kombinasi manajer dan pemimpin. Ketika
seseorang memiliki sejumlah karakter manajer dan pemimpin. Masalahnya adalah bukan dalam
memutuskan akan menjadi yang mana, tetapi lebih dalam mencapai keseimbangan yagng tepat
antara karakteristik manajerial dan kepemimpinan, sesuatu yang harus dimiliki oleh masing-
masing eksekutif.
Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan
kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi. Piramida jumlah karyawan pada
organisasi dengan struktur tradisional, berdasarkan tingkatannya.Pada organisasi berstruktur
tradisional, manajer sering dikelompokan menjadi manajer puncak, manajer tingkat menengah, dan
manajer lini pertama (biasanya digambarkan dengan bentuk piramida, di mana jumlah karyawan
lebih besar di bagian bawah daripada di puncak).
Secara sederhana, proses pengelolaan organisasi mencakup empat tahap, yaitu
“perencanaan (planning), mengorganisasikan (organizing), pengarahan (actuating), dan
pengawasan (controling) biasanya disingkat dengan POAC” (Zamroni, 2000: 3). Apabila
salah satu unsur tersebut tidak berjalan dengan baik, maka akan menimbulkan
ketimpangan-ketimpangan dalam semua aktivitasnya sehingga akan mempengaruhi
pencapaian tujuan organisasi. Untuk melaksanakan fungsi manajemen tersebut maka
diperlukan seorang pemimpin.
Seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai wewenang untuk memerintah
orang lain, yang di dalam pekerjaannya untuk mencapai tujuan organisasi memerlukan
bantuan orang lain. Sebagai seorang pemimpin ia mempunyai peranan yang aktif dan
senantiasa ikut campur tangan dalam segala masalah yang berkenaan dengan kebutuhan
anggota organisasinya. Pimpinan ikut membantu kebutuhan-kebutuhan dan kegiatan yang
dilakukan organisasi. Salah satu tantangan yang cukup berat yang sering harus dihadapi
oleh pimpinan adalah bagaimana ia dapat menggerakkan para bawahannya agar senantiasa
mau dan bersedia mengerahkan kemampuan yang terbaik untuk kepentingan
organisasinya.
Menurut Kartini Kartono (2001: 135) “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk
memberikan pengarahan yang konstruktif kepada orang lain untuk melakukan suatu usaha
kooperatif mencapai tujuan yang telah direncanakan.” Feithzal Rivai (2004: 78)
mengemukakan “Kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh consensus dan
keterikatan pada sasaran bersama, melampuai syarat- sayrat organisasi, yang dicapai
dengan pengalaman sumbangan dan kepuasan di kelompok kerja. Dalam suatu sistem
kerja sama yang kompleks, seorang pemimpin pada umumya tidak akan mengerjakan
sendiri tindakan-tindakan yang bersifat operasional. Ia akan menggerakkan orang-orang
yang dipimpinnya untuk melaksanakan keputusannya sesuai kebijakan yang telah
ditetapkan. Berpijak pada struktur organisasi perusahaan. Pimpinan pada hakekatnya
adalah orang yang menetapkan keputusan untuk dilaksanakan oleh orang yang dipimpin
(bawahan).
Sedangkan mengenai pentingnya kualitas kepemimpinan, Sondang P. Siagian
(1997: 37-38) mengatakan bahwa: “Kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin
dalam suatu organisasi sangat menentukan berhasil tidaknya organisasi itu mencapai
tujuan yang telah ditentukan”. Karena sangat pentingnya kualitas kepemimpinan dalam
rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan, maka seorang pemimpin dituntut untuk
memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik. Sifat-sifat tersebut menurut Sondang P.
Siagian (1997: 39-41) adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kondisi fisik yang sehat sesuai dengan tugasnya. Tugas kepemimpinan
tertentu menuntut sifat kesehatan tertentu pula.
b. Berpengetauan luas, tidak selalu diidentifikasikan dengan pendidikan tinggi.
c. Mempunyai keyakinan bahwa organisasi akan berhasil mencapai tujuan yang telah
ditentukan melalui dan berkat kepemimpinannya.
d. Mengetahui dengan jelas sifat-sifat hakiki dan kompleksitas daripada tujuan yang
hendak dicapai.
e. Memiliki daya kerja (stamina), dan antusiasme yang besar.
f. Gemar dan cepat mengambil keputusan.
g. Obyektif dalam arti dapat menguasai emosional dan lebih banyak menggunakan
rasio.
h. Adil dalam memperlakukan bawahan.
i. Menguasai prinsip-prinsip human relation.
j. Menguasai teknik-teknik berkomunikasi.
k. Dapat dan mampu bertindak sebagai guru, penasehat dan kepala terhadap
bawahannya tergantung atas dan masalah yang dihadapi.
l. Mempunyai gambaran yang menyeluruh tentang semua aspek kegiatan organisasi.
Pimpinan organisasi harus banyak memperhatikan hal-hal yang menyangkut tugas
dan fungsinya.
Tugas pokok pimpinan adalah mengantarkan, membimbing, mengetahui,
mempelopori, memberi petunjuk, mendidik dan sebagainya yang secara singkat dapat
dikatakan mempengaruhi mereka yang dipimpin sedemikian rupa, sehingga karyawan mau
mengikuti kehendak pimpinan untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, sehingga
memperoleh hasil atau mencapai tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan “Gaya
kepemimpinan adalah perilaku yang ditunjukkan seseorang pada saat ia mencoba
mempengaruhi perilaku orang lain” (Miftah Thoha, 1998: 50).
Berkaitan dengan gaya kepemimpinan terdapat kecenderungan untuk
mengidentifikasi dua ekstrim gaya kepemimpinan: autokratik (direktif) dan demokratik
(suportif). Kepemimpinan autokratik pada biasanya dikaitkan dengan penggunaan otoritas
atas dasar posisi. Sedangkan kepemimpinan demokratik dikaitkan dengan personalitas dan
keikutsertaan pengikut atau bawahan dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan. Jadi dengan demikian gaya kepemimpinan, digunakan agar proses
kepemimpinan dapat berhasil dengan baik.

2.3 Kepemimpinan Dalam Manajemen


Manajemen adalah bagian integral dari kepemimpinan. Sesungguhnya, dapatlah dikatakan
bahwa manajemen tidak bisa dipisahkan dari kepemimpinan, dan sebaliknya. Dalam kaitan ini,
berbicara tentang manajemen berarti berbicara tentang kepemimpinan, karena pada saat pemimpin
melaksanakan upaya memimpin, ia memanejemeni. Dalam upaya memperjelas mekanisme
keterhubungan dimaksud, ada tujuh hal penting seputar hubungan manajemen dan kepemimpinan,
yaitu antara lain: (1) Tempat manajemen dalam kepemimpinan; (2) Pemimpin dan manajemen; (3)
Manajer dan manajemen; (4) Administrator dan manajemen dalam kepemimpinan; (5) Bawahan
dan manajemen; (6) Manajemen dalam organisasi; dan (7) Manajemen dan upaya memimpin

2.4 Hubungan Pemimpin Dan Manajemen


Hubungan pemimpin dan manajemen dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, Dari
perspektif posisi tugas, seorang pemimpin puncak (top leader) dapat disebut sebagai manajer
puncak, atau manajer eksekutif (executive manager). Penyebutan seperti ini menjelaskan tentang
peran pemimpin sebagai seorang manajer puncak, yang tidak berarti bahwa pemimpin ada pada
posisi manajerial. Kedua, Dari perspektif hubungan pelaksanaan kepemimpinan, telah dikatakan
bahwa pemimpin tatkala melaksanakan upaya memimpin sesungguhnya ia sedang melaksanakan
tindakan memanejemeni. Dalam perspektif kepemimpinan ini tatkala pemimpin memanajemeni, ia
sedang melaksanakan “seni bekerja sama, seni pemenuhan kebutuhan, seni merangkum, seni
mempengaruhi, seni memerintah, seni membuat peta keinginan masa depan organisasi, dan seni
menggunakan sumber-sumber” yang dibuktikan dengan melaksanakan upaya memimpin
(actuating). Upaya memimpin ini adalah bukti adanya kepemimpinan yang sedang telaksana.

2.5 Pengaruh Komitmen Organisasi, Kinerja Manajerial Dan Kinerja


Fungsi kepemimpinan dalam organisasi mempengaruhi serta menggerakkan
bawahannya sangat diperlukan atau dibutuhkan seorang pemimpin dalam hal ini manajer
yang tidak hanya hafal di luar kepala teori-teori kepemimpinan saja akan tetapi juga
seorang pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan tentu saja harus
ditambah pengalaman-pengalaman pemimpin itu sendiri serta seorang pemimpin yang
mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi bawahannya untuk berdisiplin dalam setiap
menjalankan pekerjaan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara effektif dan
effisien.
Pegawai mempunyai komitmen tinggi cenderung lebih bertahan dan rendah
absensinya daripada yang komitmennya rendah. Semakin tinggi komitmen organisasional
pada pegawai, maka pegawai tersebut akan semakin loyal dengan pekerjaannya dan
pegawai berusaha untuk meningkatkan kemampuannya, sehingga kinerjanya dapat dicapai
dengan baik.
Kinerja pegawai adalah kulminasi dari proses perolehan atau kompetensi yang
dicapai karena didukung oleh komitmen organisasional, adanya fungsi kepemimpinan,
serta adanya motivasi kerja yang baik dari para pegawai. Faktor- faktor tersebut diduga
tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi lebih merupakan proses panjang yang berdimensi
waktu yang interaktif, saling melengkapi dan memperkuat. Faktor-faktor tersebut adalah
komitmen organisasional merupakan loyalitas pegawai terhadap organisasi, adanya
kepemimpinan manajerial yang dapat membangkitkan semangat kerja pegawainya, dapat
mengambil keputusan dengan adil dan bijaksana, serta adanya motivasi kerja yang
merupakan pendorong untuk mencapai prestasi kerja.

2.6 Kepemimpinan Manjerial Dinas Kesehatan


Untuk mencapai visi dan misi suatu organisasi, maka pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen
mutlak harus dilakukan. Diawali dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan yang
terakhir adalah pengawasan. Jika fungsi-fungsi manajemen dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,
maka akan dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan, sasaran, misi dan bahkan visi suatu
organisasi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sebagai salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) yang berada di bawah Pemerintah Kabupaten/Kota wajib melaksanakan fungsi-fungsi
manajemen untuk dapat mencapai visi misi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Wajib bagi seluruh
pimpinan, baik eselon II hingga eselon IV, melaksanakan fungsi-fungsi manajemen ini untuk
mengoptimalkan pembangunan kesehatan.
Manajemen kesehatan adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan
kesehatan masyarakat, sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah
sistem yang berlangsung (Notoatmodjo, 2007). Manajemen merupakan suatu pola
mengelola dan menggerakan suatu lembaga/ instansi agar dicapai suatu sistem pengelolaan
yang efisien untuk mencapai suatu tujuan lembaga (Suyadi, 2011). Manajemen pelayanan
kesehatan berarti penerapan prinsip-prinsip manajemen dalam pelayanan kesehatan untuk
sistem dan pelaksanaan pelayanan kesehatan dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan
prosedur, teratur, menempatkan orang-orang yang terbaik pada bidangbidang
pekerjaannya, efisien, dan yang lebih penting lagi adalah dapat menyenangkan konsumen
atau membuat konsumen puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan.
Pelayanan kesehatan merupakan fungsi yang paling mudah nampak dari semua sistem
kesehatan, baik kepada pengguna maupun terhadap masyarakat umum. Peningkatan akses,
kemampuan dan kualitas pelayanan tergantung pada ketersediaan berbagai input dana, staf,
peralatan, obat-obatan, mutu dari terorganisasinya suatu sistem dan manajemen yang
berlaku, dan juga besarnya insentif yang diberikan kepada para pelaku teknis (Suyadi,
2011). Dalam manajemen mutu pelayanan kesehatan memberikan pemahaman tentang
mutu, produk, pelanggan, mengapa mutu perlu menjadi pusat perhatian dalam pelayanan
kesehatan, dan gambaran umum penerapan konsep dan prinsip perbaikan mutu dalam
pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.
Upaya pengembangan mutu pelayanan kesehatan pada organisasi penyedia pelayanan
kesehatan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan identifikasi apa produk
yang dihasilkan oleh organisasi penyedia pelayanan kesehatan, siapa konsumen dari
produk tersebut, dan apa persyaratan yang diajukan oleh konsumen terhadap produk yang
dihasilkan. Manajemen pelayanan di Dinas Kesehatan menggunakan dan mengembangkan
manajemen strategis, manajemen strategis merupakan suatu pengembangan dari
perencanaan dan strategi yang dikembangkan oleh militer untuk memenangkan suatu
pertempuran di medan perang. Konsep-konsep ini dipakai oleh perusahaan-perusahaan
swasta untuk memenangkan persaingan bisnis. Selanjutnya konsep manajemen strategis
dipergunakan oleh lembaga-lembaga pemerintah. Model perencanaan strategis
menekankan pentingnya pembahasan mengenai visi dan analisis faktor-faktor eksternal
dan internal yang dapat mempengaruhi keberhasilan program. Faktor-faktor internal
tersebut dapat menunjukkan kekuatan dan kelemahan yang ada pada program, sedangkan
analisis faktor eksternal dapat menggambarkan hambatan dan dorongan dari luar program.
Faktor-faktor eksternal dan internal yang ada harus dipelajari dan dianalisis untuk proses
perencanaan kegiatan di masa mendatang (Trisnantoro, 2003).
Untuk membangun suatu sistem manajemen strategis dalam meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan sehingga pelayanan yang diberikan dapat berjalan dengan sangat
efisien dan memiliki mutu yang dapat diandalkan. Manajemen strategis merupakan suatu
filosofi, cara berfikir dan cara mengelola organisasi. Pemahaman mengenai makna
manajemen strategis tidak hanya terbatas pada aspek pelaksanaan rencana, tetapi lebih
jauh lagi ke aspek visi, misi, dan tujuan kelembagaan (Suyadi, 2011). Model manajemen
strategis berkembang seiring dengan semakin meningkatnya kompetensi usaha non profit
dan tuntutan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen, serta adanya tuntutan agar
pemerintah bekerja secara benar.

Anda mungkin juga menyukai