Anda di halaman 1dari 28

PANDUAN

MEDICATION-SAFETY

JL.PABRIK TENUN NO. 51A-53 MEDAN 20118


KELURAHAN SEI PUTIH TENGAH, KECAMATAN
MEDAN PETISAH
SUMATERA UTARA – INDONESIA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmatNya Buku Pedoman KFT ini telah selesai dibuat..

Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya


kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam membantu
menyelesaikan penyusunan panduan ini.

Kami menyadari banyak terdapat kekurangan dalam buku panduan ini.


Kekurangan ini secara berkesinambungan akan terus diperbaiki sesuai dengan
tuntutan dalam pengembangan dan kebutuhan rumah sakit.

Medan, 07 Januari 2019


Direktur,

dr. Sujan Ali Fing,SpM

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I DEFENISI ................................................................................................ 1
BAB II RUANG LINGKUP ............................................................................... 4
BAB III TATALAKSANA ................................................................................. 12
BAB IV DOKUMENTASI ................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 24
LAMPIRAN ......................................................................................................... 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Definisi
Medication error didefinisikan sebagai setiap kejadian yang dapat
menyebabkan penggunaan obat tidak layak atau membahayakan pasien
ketika obat berada dalam kontrol petugas kesehatan, pasien atau
konsumen.
B. Latar Belakang
Konsep manajemen pelayanan farmasi saat ini bergerak ke arah
manajemen obat yang aman (medication safety). Hal ini diakibatkan
penggunaan obat adalah salah satu faktor penting dalam terapi tetapi
malah menimbulkan kematian.
Penelitian mengenai kejadian medication error telah banyak
dilakukan dan terbukti bahwa medication error dapat terjadi di berbagai
tahap dalam proses penggunaan obat mulai dari peresepan, dispensing
oleh farmasi, pemberian kepada pasien dan penggunaan obat oleh pasien
itu sendiri. Angka kejadian prescribing error bervariasi dari 1,5% sampai
15%. Potensi prescribing error yang berbahaya bagi pasien berkisar
antara 0,4% - 19,6%. Angka kejadian dispensing error juga bervariasi
yaitu 2,1% - 15,2%. Kesalahan dalam pemberian obat kepada pasien oleh
perawat (administration error) yang diteliti di 36 fasilitas kesehatan di
AS menemukan terjadinya kesalahan sebesar 19% dalam penyiapan dan
pemberian obat. Kesalahan yang paling banyak terjadi adalah wrong
time, ommission dan wrong dose, dan 7% dari kesalahan tersebut
potensial bermakna secara klinis.
Proses pelayanan obat mulai dari tahap seleksi sampai pemantauan
efek dari obat pada pasien yang menggunakannya harus dilakukan sesuai
standar untuk mengurangi risiko dan kejadian medication error. Untuk
itu, perlu dibuat panduan agar setiap profesi dapat melaksanakan

1
tugasnya sesuai kompetensinya sehingga mengurangi risiko terjadinya
medication error.

C. Pedoman Akreditasi
Rumah sakit mempunyai proses untuk mengidentifikasi dan
melaporkan kesalahan obat dan KNC (near miss). Proses termasuk
mendefinisikan suatu kesalahan obat dan KNC, menggunakan format
pelaporan yang distandarisasi dan mengedukasi staf tentang proses dan
pentingnya pelaporan. Definisi dan proses dikembangkan melalui proses
kerjasama yang mengikutsertakan semua yang terlibat di berbagai
langkah dalam manajemen obat. Proses pelaporan adalah bagian dari
program mutu dan program keselamatan pasien rumah sakit. Laporan-
laporan diarahkan kepada seorang petugas atau lebih yang akuntabel
untuk mengambil tindakan. Program ini memusatkan pada pencegahan
kesalahan obat melalui pemahaman jenis kesalahan yang terjadi di rumah
sakit dan mengapa terjadi KNC. Perbaikan dalam proses pengobatan dan
pelatihan staf digunakan untuk mencegah kesalahan di kemudian hari.
Unit farmasi mengambil bagian dalam pelatihan staf yang demikian.
Elemen penilaiannya adalah :
1. Kesalahan obat dan KNC ditetapkan melalui proses kerjasama
2. Kesalahan obat dan KNC dilaporkan tepat waktu menggunakan
prosedur baku
3. Mereka yang bertanggung jawab mengambil tindakan untuk pelaporan
diidentifikasi Rumah sakit menggunakan informasi pelaporan
kesalahan obat dan KNC untuk memperbaiki proses penggunaan obat

D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan medication safety dalam setiap tahap pelayanan obat.
2. Tujuan Khusus
a. Adanya panduan untuk menjamin keselamatan pasien dalam
setiap tahap manajemen dan penggunaan obat

2
b. Adanya panduan untuk melaporkan medication error
c. Adanya panduan untuk mengurangi risiko terjadinya medication
error

3
BAB II
RUANG LINGKUP

A. Kategori Medication Error


Akibat dari medication error dapat dikelompokkan menjadi sembilan
kategori berdasarkan dampak klinisnya. Kategori tersebut dapat dilihat
pada tabel.
Tabel 1. Kategori Dampak Medication Error
Kategori Keterangan
Kategori A Kondisi lingkungan atau kejadian yang berkapasitas
menyebabkan kesalahan
Kategori B Terjadi suatu kesalahan tetapi tidak mencapai pasien
Kategori C Terjadi suatu kesalahan yang mencapai pasien tetapi
tidak menyebabkan bahaya pada pasien
Kategori D Terjadi kesalahan yang mencapai pasien dan
membutuhkan pengawasan untuk mengkonfirmasi
apakah kesalahan tersebut berakibat tidak berbahaya
pada pasien dan apakah memerlukan intervensi untuk
menghilangkan bahaya
Kategori E Terjadi kesalahan yang dapat berkontribusi atau
mengakibatkan bahaya sementara pada pasien dan
membutuhkan intervensi
Kategori F Terjadi suatu kesalahan yang dapat berkontribusi atau
mengakibatkan bahaya pada pasien dan menyebabkan
pasien dirawat inap atau memperpanjang rawat inap
Kategori G Terjadi suatu kesalahan yang dapat berkontribusi atau
mengakibatkan bahaya permanen pada pasien
Kategori H Terjadi suatu kesalahan yang membutuhkan intervensi
untuk mempertahankan hidup pasien
Kategori I Terjadi suatu kesalahan yang dapat berkontribusi atau
mengakibatkan kematian pasien

4
B. Jenis-jenis Medication Error
Secara umum, medication error terdiri dari prescribing error,
dispensing error dan administration error. Tipe-tipe medication error
dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Tipe Medication Error secara umum (ASHP, NCCMERP)


Tipe Keterangan
Prescribing error Kesalahan pemilihan obat (berdasarkan indikasi,
(kesalahan kontraindikasi, alergi yang telah diketahui, terapi obat
peresepan) yang sedang berlangsung dan faktor lainnya), dosis,
bentuk sediaan obat, kuantitas, rute, konsentrasi,
kecepatan pemberian atau instruksi untuk
penggunaan obat, penulisan resep yang tidak jelas,
dan lain-lain yang menyebabkan terjadinya kesalahan
pemberian obat kepada pasien.
Omission error Kegagalan memberikan dosis obat kepada pasien
sampai pada jadwal berikutnya
Wrong time error Memberikan obat di luar waktu dari interval waktu
yang telah ditentukan
Unauthorized Memberikan obat yang tidak diinstruksikan oleh
drug error dokter
Wrong patient Memberikan obat kepada pasien yang salah
Improper dose Memberikan dosis obat lebih besar atau lebih kecil
error daripada dosis yang diinstruksikan oleh dokter atau
memberikan dosis duplikasi.
Wrong dosage- Memberikan obat kepada pasien dengan bentuk
form error sediaan obat yang berbeda dengan yang
diinstruksikan oleh dokter.
Wrong drug- Mempersiapkan obat dengan cara yang salah sebelum
preparation diberikan ke pasien
error

5
Wrong Prosedur atau teknik yang tidak layak atau tidak
administration- benar saat memberikan obat
technique error
Deteriorated Memberikan obat yang telah kadarluarsa atau yang
drug error telah mengalami penurunan integritas fisik atau kimia
Monitoring error Kegagalan untuk memantau kelayakan dan deteksi
problem dari regimen yang diresepkan atau kegagalan
untuk menggunakan data klinis atau laboratorium
untuk asesmen respon pasien terhadap terapi obat
yang diresepkan.
Compliance Sikap pasien yang tidak layak berkaitan dengan
error ketaatan penggunaan obat yang diresepkan

1. Prescribing Error (Kesalahan Resep)


Berdasarkan konsensus di United Kingdom, suatu prescribing
error (kesalahan peresepan) yang bermakna secara klinis terjadi bila
akibat dari keputusan peresepan atau pada proses penulisan resep
terjadi suatu hal yang signifikan dan tidak dimaksudkan berupa
a) Pengurangan kemungkinan pengobatan berjalan sesuai waktu dan
efektif
b) Meningkatkan resiko bahaya bila dibandingkan dengan praktik
umum yang diterima.
Jenis-jenis prescribing error adalah pemilihan obat yang tidak
benar (berdasarkan indikasi, kontraindikasi, alergi yang telah
diketahui, terapi obat yang telah berjalan dan faktor lainnya), dosis,
bentuk sediaan obat, kuantitas, rute, konsentrasi, kecepatan pemberian
atau kesalahan instruksi dari dokter, peresepan yang sulit dibaca yang
membawa kepada kesalahan yang mencapai tahap obat diterima
pasien. Beberapa situasi yang termasuk dalam prescribing error dapat
dilihat pada tabel 3.

6
Tabel 3. Situasi-situasi yang Diperhitungkan Sebagai Prescribing
Error
1. Kesalahan dalam membuat keputusan
Ketidaklayakan peresepan berkaitan dengan kondisi pasien
Peresepan obat untuk pasien dengan kondisi klinik yang
menyertai di mana obat tersebut kontraindikasi
Peresepan obat untuk pasien dengan alergi yang signifikan
secara klinis dan telah terdokumentasi
Tidak memperhitungkan interaksi obat yang berpotensial
signifikan
Peresepan obat dengan dosis yang menurut BNF atau
rekomendasi data sheet, tidak layak untuk pasien dengan
gangguan fungsi ginjal
Peresepan obat dengan dosis lebih rendah daripada yang
direkomendasi untuk kondisi klinis pasien
Peresepan obat dengan indeks terapeutik sempit, dengan dosis
diprediksi dapat mencapai kadar serum secara signifikan di atas
rentang terapeutik yang diinginkan
Menulis resep untuk obat dengan indeks terapeutik sempit,
dengan dosis diprediksi untuk mencapai kadar serum secara
signifikan di bawah rentang terapeutik yang diinginkan
Tidak mengubah dosis mengikuti hasil pemeriksaan kadar serum
steady state yang secara signifikan di luar rentang terapeutik
Meneruskan obat dalam keadaan terjadi adverse drug reaction
secara klinis signifikan
Peresepan 2 obat untuk indikasi yang sama ketika hanya 1 obat
yang diperlukan
Meresepkan obat yang tidak ada indikasinya pada pasien
Masalah farmasetika
Meresepkan obat untuk diberikan secara infus intravena dalam
pelarut yang inkompatibel dengan obat yang diresepkan
Meresepkan obat untuk diinfuskan melalui intravena perifer,

7
dalam konsentrasi lebih besar dari yang direkomendasikan untuk
pemberian perifer
2. Kesalahan dalam penulisan peresepan
Gagal untuk mengkomunikasikan informasi yang penting
Meresepkan obat, dosis atau rute bukan yang sebenarnya
dimaksudkan
Menulis dengan tidak jelas / tidak terbaca
Menulis nama obat menggunakan singkatan atau nomenklatur
yang tidak terstandarisasi
Menulis instruksi obat yang ambigu
Meresepkan suatu tablet di mana tersedia lebih dari satu
kekuatan obat tersebut
Tidak menuliskan rute pemberian untuk obat yang dapat
diberikan dengan lebih dari satu rute
Meresepkan obat untuk diberikan melalui infus intravena
intermitten, tanpa menspesifikasi durasi penginfusan
Tidak mencantumkan tanda tangan penulis resep
Kesalahan transkripsi
Saat datang ke rumah sakit, secara tidak sengaja tidak
meresepkan obat yang digunakan pasien sebelum ke rumah sakit
Meneruskan kesalahan peresepan dari dokter praktek umum
ketika menulis obat pasien saat datang ke rumah sakit
Menyalin instruksi obat dengan tidak benar ketika menulis ulang
di daftar obat pasien.
Menulis mg ketika mcg yang dimaksudkan
Menulis resep untuk dibawa pulang yang tanpa disengaja
berbeda dengan obat yang diresepkan di daftar obat pasien rawat
inap

2. Dispensing Error
Jenis - jenis kesalahan dalam dispensing obat secara spesifik
bergantung pada metode dispensing yang digunakan rumah sakit

8
tersebut. Masing-masing metode distribusi obat floor stock, semi floor
stock, unit dose, menggunakan mesin otomatis, metode distribusi
injeksi yang telah disiapkan oleh farmasi, dsb mempunyai
konsekuensi masing-masing dari sisi jenis kesalahan dispensing yang
dapat terjadi. Secara umum, kesalahan dalam dispensing obat
meliputi:
a. Kesalahan seleksi obat :
- Salah obat
- Salah dosis : salah kekuatan/konsentrasi obat, salah aturan pakai
- Salah bentuk sediaan
- Salah jumlah
- Salah kekuatan/konsentrasi
b. Salah teknik persiapan :
- Meracik
- Mempersiapkan iv admixture
- Rekonstitusi
- Terkontaminasi partikel, bakteri, dll saat persiapan obat injeksi
c. Salah memberikan obat yang rusak dan kadaluarsa.
d. Lain- lain :
- Keterlambatan dispensing
- Salah etiket/label : salah nama pasien, kamar, register, aturan
pakai, dll
- Kesalahan saat proses transportasi
- Kesalahan penyerahan

3. Administration Error
Administration error adalah kesalahan saat memberikan obat
kepada pasien yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Jenis-jenis
kesalahan pada tahap pemberian obat dapat dilihat pada tabel.
Tabel 4. Jenis-jenis Administration Error
Tipe Deskripsi
Ommission Gagal memberikan dosis obat kepada pasien

9
error sampai jadwal berikutnya
Wrong pasien Memberikan obat pada pasien yang salah
Wrong time Pemberian obat diluar dari interval waktu yang
error telah ditentukan

Anauthorized Pemberian obat kepada pasien tanpa instruksi


error resmi dari dokter
Improper dose Memberikan obat kepada pasien dengan dosis
error lebih besar atau kecil daripada yang diinstruksikan
dokter penulis resep, bisa karena salah
kekuatan/konsentrasi obat atau aturan pakai yang
salah
Wrong dosage Pemberian obat kepada pasien dengan bentuk
form error sediaan tidak sesuai dengan instruksi penulis resep
Wrong drug Penyiapan obat dengan cara yang salah sebelum
preparation obat diberikan
error
Wrong Prosedur yang tidak layak atau teknik yang tidak
administration- benar dalam memberikan obat ke pasien termasuk:
technique - salah kecepatan infus
errorg - salah kecepatan injeksi
- salah metode pemberian obat NGT, dll
- salah rute
Deteriorated Memberikan obat yang telah kadaluarsa atau
drug error secara kimia atau fisika integritasnya telah
berkurang

4. Compliance Error
Compliance error adalah kesalahan penggunaan obat berkaitan
dengan ketaatan pasien.

5. Monitoring Error

10
Kegagalan untuk memantau kelayakan dan deteksi problem dari
regimen yang diresepkan atau kegagalan untuk menggunakan data
klinis, data interaksi atau laboratorium untuk asesmen respon pasien
terhadap terapi obat yang diresepkan.

11
BAB III
TATA LAKSANA

A. IKP Medication Error


Bila terjadi IKP medication error maka pelaporannya mengikuti alur
pelaporan IKP yang telah ditetapkan oleh rumah sakit dan kemudian
melakukan investigasi untuk menentukan proses yang mengalami
kegagalan dengan menggunakan form yang terlampir

B. Prinsip Medication Safety


1. Peran Apoteker Dalam Mewujudkan Keselamatan Pasien
Penggunaan obat rasional merupakan hal utama dari pelayanan
kefarmasian. Dalam mewujudkan pengobatan rasional, keselamatan
pasien menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Dari data-data yang
termuat dalam bab terdahulu disebutkan, sejumlah pasien mengalami
cedera atau mengalami insiden pada saat memperoleh layanan
kesehatan khususnya terkait penggunaan obat yang dikenal dengan
medication error. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan
lainnya, kejadian medication error dapat dicegah jika melibatkan
pelayanan farmasi klinik dari apoteker yang sudah terlatih. Saat ini di
negara-negara maju, sudah ada apoteker dengan spesialisasi khusus
menangani medication safety. Peran Apoteker Keselamatan Pengobatan
(Medication Safety Pharmacist) meliputi :
1.1 Mengelola laporan medication error
1.1.1. Membuat kajian terhadap laporan insiden yang masuk
1.1.2. Mencari akar permasalahan dari error yang terjadi
1.2 Mengidentifikasi pelaksanaan praktek profesi terbaik untuk
menjamin medication safety
1.2.1. Menganalisis pelaksanaan praktek yang menyebabkan
medication error
1.2.2. Mengambil langkah proaktif untuk pencegahan

12
1.2.3. Memfasilitasi perubahan proses dan sistem untuk
menurunkan insiden yang sering terjadi atau berulangnya
insiden sejenis
1.3 Mendidik staf dan klinisi terkait lainnya untuk menggalakkan
praktek pengobatan yang aman
1.3.1. Mengembangkan program pendidikan untuk meningkatkan
medication safety dan kepatuhan terhadap aturan/SOP yang
ada
1.4Berpartisipasi dalam Komite/tim yang berhubungan dengan
medication safety
1.4.1. Komite Keselamatan Pasien RS
1.4.2. Komite terkait lainnya
1.5Terlibat di dalam pengembangan dan pengkajian kebijakan
penggunaan obat
1.6 Memonitor kepatuhan terhadap standar pelaksanaan Keselamatan
Pasien yang ada

Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi


dua aspek yaitu aspek manajemen dan aspek klinik. Aspek manajemen
meliputi pemilihan perbekalan farmasi, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian
(misalnya memanfaatkan IT). Sedangkan, aspek klinik meliputi
skrining permintaan obat (resep atau bebas), penyiapan obat dan obat
khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat, konseling,
monitoring dan evaluasi. Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan
terutama pada pasien yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi.
Keterlibatan apoteker dalam tim pelayanan kesehatan perlu didukung
mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik terbukti
memiliki konstribusi besar dalam menurunkan insiden/kesalahan.
Apoteker harus berperan di semua tahapan proses yang meliputi :
a. Pemilihan

13
Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat
diturunkan dengan pengendalian jumlah item obat dan penggunaan
obat-obat sesuai formularium.
b. Pengadaan
Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efektif dan
sesuai peraturan yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari
distributor resmi. Melakukan evaluasi terhadap distributor mengenai
transportasi yang aman, ketepatan waktu, dan ketersediaan obat.
c. Penyimpanan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk
menurunkan kesalahan pengambilan obat dan menjamin mutu obat:
- Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-
alike,sound-alike medication names) secara terpisah.
- Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang
dapat menimbulkan cedera jika terjadi kesalahan pengambilan,
simpan di tempat khusus. Misalnya:
 menyimpan cairan elektrolit pekat seperti KCl inj, heparin,
warfarin, insulin, narkotik opiat, neuromuscular blocking
agents, thrombolitik, dan agonis adrenergik.
 kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan
obat lain secara alfabetis, tetapi tempatkan secara terpisah
- Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.
 Menyimpan obat menurut abjad dan bentuk sediaan
 Disesuaikan dengan suhu, kelembaban, dan pengaruh cahaya
- Obat narkotika, psikotropika, prekursor disimpan dalam lemari
khusus terkunci
- Melakukan pemeriksaan berkala untuk penyimpanan obat yang
benar dan kadaluarsa
d. Skrining Resep
Apoteker dapat berperan nyata dalam pencegahan terjadinya
medication error melalui kolaborasi dengan dokter dan pasien.

14
- Identifikasi pasien minimal dengan dua identitas, misalnya nama
dan nomor rekam medik/ nomor resep,
- Apoteker tidak boleh membuat asumsi pada saat melakukan
interpretasi resep dokter. Untuk mengklarifikasi ketidaktepatan
atau ketidakjelasan resep, singkatan, hubungi dokter penulis
resep.
- Dapatkan informasi mengenai pasien sebagai petunjuk penting
dalam pengambilan keputusan pemberian obat, seperti:
 Data demografi (umur, berat badan, jenis kelamin) dan data
klinis (alergi, diagnosis dan hamil/menyusui). Contohnya,
Apoteker perlu mengetahui tinggi dan berat badan pasien
yang menerima obat-obat dengan indeks terapi sempit untuk
keperluan perhitungan dosis.
 Hasil pemeriksaan pasien (fungsi organ, hasil laboratorium,
tanda-tanda vital dan parameter lainnya). Contohnya,
Apoteker harus mengetahui data laboratorium yang penting,
terutama untuk obat-obat yang memerlukan penyesuaian
dosis dosis (seperti pada penurunan fungsi ginjal).
- Apoteker harus membuat riwayat/catatan pengobatan pasien.
- Strategi lain untuk mencegah kesalahan obat dapat dilakukan
dengan penggunaan otomatisasi (automatic stop order), sistem
komputerisasi (e-prescribing) dan pencatatan pengobatan pasien
seperti sudah disebutkan diatas.
- Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan
emergensi dan itupun harus dilakukan konfirmasi ulang untuk
memastikan obat yang diminta benar, dengan mengaja nama obat
serta memastikan dosisnya. Informasi obat yang penting harus
diberikan kepada petugas yang meminta/menerima obat tersebut.
Petugas yang menerima permintaan harus menulis dengan jelas
instruksi lisan setelah mendapat konfirmasi.

15
e. Dispensing
- Penyiapan yang aman
 Menjamin proses peracikan yang aman
 Menyediakan lingkungan yang mendukung penyiapan yang
aman
 Menyediakan informasi obat mengenai cara penyiapan yang
aman
 Edukasi kepada petugas mengenai penyiapan yang aman
 Peracikan obat dilakukan dengan tepat sesuai dengan SOP.
- Pemberian etiket yang tepat. Etiket harus dibaca minimum tiga
kali yaitu pada saat pengambilan obat dari rak, pada saat
mengambil obat dari wadah, pada saat mengembalikan obat ke
rak.
- Dispensing yang aman
 Menjamin obat yang didistribusi dari farmasi adalah obat
yang benar dengan menyediakan serangkaian proses
pemeriksaan dan dilakukan pemeriksaan ulang oleh orang
berbeda.
 Pemeriksaan meliputi kelengkapan permintaan, ketepatan
etiket, aturan pakai, pemeriksaan kesesuaian resep terhadap
obat, kesesuaian resep terhadap isi etiket. Mengedukasi
petugas agar dapat memberikan informasi obat kepada
petugas bangsal

f. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)


Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai
hal-hal yang penting tentang obat dan pengobatannya. Hal-hal
yang harus diinformasikan dan didiskusikan pada pasien adalah :
- Pemahaman yang jelas mengenai indikasi penggunaan dan
bagaimana menggunakan obat dengan benar, harapan setelah
menggunakan obat, lama pengobatan, kapan harus kembali ke
dokter

16
- Peringatan yang berkaitan dengan proses pengobatan
- Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang potensial, interaksi obat
dengan obat lain dan makanan harus dijelaskan kepada pasien
- Reaksi obat yang tidak diinginkan (Adverse Drug Reaction –
ADR) yang mengakibatkan cedera pasien, pasien harus mendapat
edukasi mengenai bagaimana cara mengatasi kemungkinan
terjadinya ADR tersebut
- Penyimpanan dan penanganan obat di rumah termasuk mengenali
obat yang sudah rusak atau kadaluarsa.
- Ketika melakukan konseling kepada pasien, apoteker mempunyai
kesempatan untuk menemukan potensi kesalahan yang mungkin
terlewatkan pada proses sebelumnya.

g. Penggunaan Obat
Apoteker harus berperan dalam proses penggunaan obat oleh
pasien rawat inap di rumah sakit dan sarana pelayanaan kesehatan
lainnya, bekerja sama dengan petugas kesehatan lain. Hal yang perlu
diperhatikan adalah
- Tepat pasien
- Tepat indikasi
- Tepat waktu pemberian
- Tepat obat
- Tepat dosis
- Tepat label obat (aturan pakai)
- Tepat rute pemberian

h. Monitoring dan Evaluasi


Apoteker harus melakukan monitoring dan evaluasi untuk
mengetahui efek terapi, mewaspadai efek samping obat, memastikan
kepatuhan pasien. Hasil monitoring dan evaluasi didokumentasikan
dan ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan dan mencegah
pengulangan kesalahan. Seluruh personal yang ada di tempat

17
pelayanan kefarmasian harus terlibat didalam program keselamatan
pasien khususnya medication safety dan harus secara terus menerus
mengidentifikasi masalah dan mengimplementasikan strategi untuk
meningkatkan keselamatan pasien.
Apoteker juga dapat berpartisipasi dalam proses-proses:
- Peresepan yang aman
 Membuat aturan penulisan resep yang lengkap dan jelas
 Melakukan penilaian kualitas peresepan berdasarkan
indikator peresepan
 Menyebarkan informasi mengenai masalah keamanan dan
efektivitas suatu obat
 Melakukan pembahasan kasus medication error berkaitan
dengan prescription error
- Pemberian obat yang aman
 Persiapan obat di bangsal :
a) Memberi masukan untuk proses persiapan yang akurat
dan dengan teknik yang tepat di bangsal
b) Memberi masukan untuk proses persiapan yang aseptis
di bangsal
c) Mengedukasi petugas untuk penyiapan obat di bangsal
d) Menyediakan informasi obat yang mudah diakses
mengenai persiapan obat
 Pemberian obat :
a) Mengedukasi kepada petugas mengenai pemberian obat
dengan prinsip 6 B, proses verifikasi dan double cek
b) Mengedukasi untuk pemberian obat dengan cara yang
benar
c) Menjamin pemberian obat high alert medicine dengan
aman misalnya dengan membuat standar konsentrasi dan
pelarutan, protokol pemberian, SPO double check
d) Menjamin pelaksanaan medication reconciliation untuk
obat pulang dengan aman

18
2. Faktor Kontribusi Medication Error
Faktor-faktor lain yang berkonstribusi pada medication error antara
lain
a. Komunikasi (mis-komunikasi, kegagalan dalam berkomunikasi)
Kegagalan dalam berkomunikasi merupakan sumber utama
terjadinya kesalahan. Institusi pelayanan kesehatan harus
menghilangkan hambatan komunikasi antar petugas kesehatan dan
membuat SOP bagaimana resep/permintaan obat dan informasi
obat lainnya dikomunikasikan. Komunikasi baik antar apoteker
maupun dengan petugas kesehatan lainnya perlu dilakukan dengan
jelas untuk menghindari penafsiran ganda atau ketidaklengkapan
informasi. Perlu dibuat daftar singkatan dan penulisan dosis yang
berisiko menimbulkan kesalahan untuk diwaspadai.
b. Kondisi lingkungan
Untuk menghindari kesalahan yang berkaitan dengan kondisi
lingkungan, area dispensing harus didesain dengan tepat dan sesuai
dengan alur kerja, untuk menurunkan kelelahan dengan
pencahayaan yang cukup dan temperatur yang nyaman. Selain itu,
area kerja harus bersih dan teratur untuk mencegah terjadinya
kesalahan. Obat untuk setiap pasien perlu disiapkan dalam nampan
terpisah.
c. Gangguan/interupsi pada saat bekerja
Gangguan/interupsi harus seminimum mungkin dengan
mengurangi interupsi baik langsung maupun melalui telepon.
d. Beban kerja
Rasio antara beban kerja dan SDM yang cukup penting untuk
mengurangi stres dan beban kerja berlebihan sehingga dapat
menurunkan kesalahan.
e. Meskipun edukasi staf merupakan cara yang tidak cukup kuat
dalam menurunkan insiden/kesalahan, tetapi mereka dapat

19
memainkan peran penting ketika dilibatkan dalam sistem
menurunkan insiden/kesalahan.

3. 7 Langkah Keselamatan Pasien dalan Medication Safety


Apoteker di rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya
dapat menerapkan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Pada
Pelayanan Kefarmasian yang mengacu pada buku Panduan Nasional
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety) (diterbitkan oleh
Depkes tahun 2006) :
a. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
- Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil
- Adanya kebijakan Instalasi Farmasi RS/Sarana Pelayanan
Kesehatan lainnya tentang Keselamatan Pasien yang meliputi
kejadian yang tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera
(KNC), Kejadian Sentinel dan langkah-langkah yang harus
dilakukan oleh apoteker dan tenaga farmasi, pasien dan keluarga
jika terjadi insiden.
- Buat, sosialisasikan penerapan SPO sebagai tindak lanjut setiap
kebijakan
- Buat buku catatan tentang KTD, KNC dan Kejadian Sentinel
kemudian laporkan ke atasan langsung
b. Pimpin dan Dukung Staf Anda
- Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang
keselamatan pasien di tempat pelayanan (instalasi farmasi/apotek)
- Adanya suatu tim di Instalasi Farmasi/Apotek yang bertanggung
jawab terhadap keselamatan pasien (sesuai dengan kondisi)
- Tunjuk staf Instalasi Farmasi/Apotek yang bisa menjadi
penggerak dan mampu mensosialisasikan program (leader)
- Adakan pelatihan untuk staf dan pastikan pelatihan ini diikuti oleh
seluruh staf dan tempatkan staf sesuai kompetensi
- Staf farmasi harus mendapat edukasi tentang kebijakan dan SPO
yang berkaitan dengan proses dispensing yang akurat, mengenai

20
nama dan bentuk obat-obat yang membingungkan, obat-obat
formularium/non formularium, obat-obat yang ditanggung
asuransi/non-asuransi, obat-obat baru dan obat-obat yang
memerlukan perhatian khusus. Disamping itu, petugas farmasi
harus mewaspadai dan mencegah medication error yang dapat
terjadi.
- Tumbuhkan budaya tidak menyalahkan (no blaming culture) agar
staf berani melaporkan setiap insiden yang terjadi.
c. Integrasikan Aktivitas Pengelolaan Risiko
- Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko serta lakukan
identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah
- Buat kajian setiap adanya laporan KTD, KNC dan Kejadian
Sentinel
- Buat solusi dari insiden tersebut supaya tidak berulang dengan
mengevaluasi SOP yang sudah ada atau mengembangkan SOP
bila diperlukan
d. Kembangkan Sistem Pelaporan
- Pastikan semua staf Instalasi Farmasi/Apotek dengan mudah dapat
melaporkan insiden kepada atasan langsung tanpa rasa takut
- Beri penghargaan pada staf yang melaporkan
e. Libatkan dan Komunikasi Dengan Pasien
- Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien
- Pastikan setiap penyerahan obat diikuti dengan pemberian
Informasi yang jelas dan tepat
- Dorong pasien untuk berani bertanya dan mendiskusikan dengan
apoteker tentang obat yang diterima
- Lakukan komunikasi kepada pasien dan keluarga bila ada insiden
serta berikan solusi tentang insiden yang dilaporkan
f. Belajar dan Berbagi Pengalaman Tentang Keselamatan Pasien
- Dorong staf untuk melakukan analisis penyebab masalah
- Lakukan kajian insiden dan sampaikan kepada staf lainnya untuk
menghindari berulangnya insiden

21
g. Cegah KTD, KNC dan Kejadian Sentinel dengan cara :
- Gunakan informasi dengan benar dan jelas yang diperoleh dari
sistem pelaporan, asesmen risiko, kajian insiden dan audit serta
analisis untuk menentukan solusi
- Buat solusi yang mencakup penjabaran ulang sistem (re-design
system), penyesuaian SOP yang menjamin keselamatan pasien
- Sosialisasikan solusi kepada seluruh staf Instalasi Farmasi/Apotek

22
BAB IV
DOKUMENTASI

A. Kebijakan Rumah Sakit Tentang Medication Safety


1. Medication Error/kesalahan obat adalah setiap kejadian yang
sebenarnya dapat dicegah yang dapat menyebabkan atau membawa
kepada penggunaan obat yang tidak layak atau membahayakan pasien,
ketika obat berada dalam kontrol petugas kesehatan, pasien atau
konsumen.
2. Setiap kesalahan obat yang ditemukan wajib dilaporkan oleh petugas
yang menemukan atau terlibat langsung dengan kejadian tersebut atau
kepala unit/kepala ruang.
3. Laporan dibuat secara tertulis dengan menggunakan alur dan format
Laporan Insiden Keselamatan Pasien yang sudah ditetapkan oleh
Panitia Keselamatan Pasien.
4. Kerangka waktu pelaporan, risk grading, tindak lanjut dan pencegahan
medication error mengikuti aturan pelaporan insiden keselamatan
pasien yang ditetapkan oleh Panitia Keselamatan Pasien.
5. Tipe kesalahan obat (medication error) yang harus dilaporkan adalah
Kejadian Nyaris Cedera (KNC), Kejadian Tidak Cedera (KTC),
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) / Adverse Event dan Sentinel Event.
6. Indeks medication error untuk kategorisasi error (berdasarkan
dampak) no error, error no harm, error harm.
7. Tipe kesalahan obat (medication error) berdasarkan alur proses
pengobatan adalah unauthorized drug, improper dose/quantity, wrong
dose preparation method, wrong dosage form, wrong patient, omission
error, extra dose, prescribing error, extra dose, prescribing error,
wrong administration technique, wrong time.

B. SPO Pelaporan Medication Error


SPO pelaporan medication error mengikuti pelaporan IKP yang berlaku di
Rumah Sakit Khusus Mata Prima Vision.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. American Society of Hospital Pharmacists ASHP Guidelines on Preventing


Medication Errors in Hospitals. Am J Hosp Pharm. 1993; 50:305–14.
2. Aspden, P., Wolcott, J., Bootman, J.L, Cronenwett, L.R.,” Preventing
Medication Errors: Quality Chasm Series”, The National Academies Press,
Washington, DC, 2007
3. B Dean, M Schachter, C Vincent, N Barber, “Prescribing errors in hospital
inpatients: their incidence and clinical significance”, Qual Saf Health Care
2002;11:340–344
4. National Coordinating Council for Medication Error Reporting and Prevention
(NCC MERP), “NCC MERP Taxonomy of Medication Errors” 1998
5. National Coordinating Council for Medication Error Reporting and Prevention
(NCC MERP), “NCC MERP Index for Categorizing Medication Errors”,
2001
6. Tanggung jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien, Direktorat Bina
Farmasi Komunitas dan Klinik, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan
Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, 2008

24
LAMPIRAN

1. Formulir Monitoring Efek Samping Obat Nasional


2. Formulir Insiden Keselamatan Pasien Internal
3. SPO Bila Resep Tak Terbaca/Tak Jelas
4. SPO Menghubungi Petugas Bila Tulisan Resep Tak Jelas/Timbul Pertanyaan
5. SPO Independen Double Check Penyiapan Obat oleh Petugas
6. SPO Pencatatan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
7. SPO Penanganan Insiden Keselamatan Pasien
8. SPO Pelaporan Kejadian Nyaris Cedera (KNC)
9. SPO Pelaporan Efek Samping Obat
10. SPO Verifikasi 6 Benar Pemberian Obat
11. SPO Pemberian Obat Kepada Pasien Rawat Inap
12. SPO Penelaahan Ketepatan Pemberian
13. SPO Asuhan Kefarmasian

25