Anda di halaman 1dari 12

PEMILIHAN REAKTOR PADA PRARANCANGAN PABRIK

BIOAVTUR DARI CPO KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN


PROSES UOP DENGAN KAPASITAS 80.000 TON/TAHUN

Disusun oleh :

Firlan Maulana (144)

Noverianto S (nim)

UNIVERSITAS JAYABAYA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

JAKARTA
A. Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disertai dengan kemajuan sektor


industri menuntut semua negara mengembangkan sektor industrialisasi. Penggunaan
biofuel sebagai bahan bakar penerbangan (bioavtur) masa depan berpotensi
memiliki keberlanjutan yang baik (sustainable). Keberlanjutan produksi biofuel
akan berakibat pada keberlanjutan usaha reduksi emisi CO2 sepanjang siklusnya
(carbon neutral cycle). Biofuel diharapkan memberikan pengurangan dan antisipasi
siklus emisi CO2 hingga 80% jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil (IATA,
2011).

Pertimbangan utama produksi biofuel khususnya biavtur adalah ketersediaan bahan


baku, biaya, dan keberlangsungannya (sustainablility). Total produksi CPO
Indonesia pada tahun 2012 mencapai sekitar 22,5 juta ton per tahun dan akan terus
bertambah seiring dengan perluasan lahan, pengembangan metode penanaman, dan
kemajuan aplikasi teknologi pupuk. Kandungan Free Fatty Acid (FFA) dan
triglyceride dalam CPO sangat cocok diolah menjadi bioavtur sehingga Indonesia
berpotensi memproduksi bioavtur sendiri dari bahan baku produk pertanian khas
Indonesia yaitu CPO.

Dari aspek pertimbangan pasar, bioavtur termasuk dalam komoditas baru dengan
kompetisi pasar yang relatif masih sedikit. Sebagai target proyeksi pemasaran, pasar
bioavtur di Indonesia sangat terbuka lebar dikarenakan belum didirikannya pabrik
bioavtur. Selain itu, bioavtur merupakan gagasan pemerintah dan masyarakat
internasional terkait dengan penggunaan renewable energy. Perlindungan dan
kebijakan pemerintah akan memberikan kontribusi penting dalam pengendalian
pasar.
The International Air Transport Association (IATA), suatu organisasi yang mewakili
230 maskapai terbaik di dunia menyatakan bahwa pada tahun 2017 ditargetkan 10%
(200 juta barel per tahun) persediaan avtur berasal dari sumber daya terbarukan
(www.jatenergy.com). Beberapa maskapai ternama telah bekerja sama untuk
pencapaian tujuan tersebut. Sebagai contoh, British Airways, SAS, Gulf Air, Cathay
Pacific, Air New Zealand, Virgin Atlantic dan beberapa maskapai lain telah berkerja
sama dalam satu grup bernama Sustainable Airline Fuel Users Group untuk
peninjauan peluang bioavtur (www.safug.org) .

B. Proses Reaksi Bioavtur dari CPO Kelapa Sawit

Minyak terbarukan (minyak nabati/hewani) dapat diproses menjadi bahan bakar


dengan sifat mirip bahan bakar fosil (petroleum). Proses tersebut meliputi
hydrotreatment untuk deoksigenasi minyak dan hydrocracking agar sifat
hidrokarbon tersebut memenuhi kisaran spesifikasi avtur. Dasar dari proses
hydrotreatment dari minyak terbarukan adalah proses hidrogenasi UOP.

Hidrogenasi menghasilkan produk utama biodiesel. Proses lanjutan diperlukan agar


produk utama tidak hanya menjadi biodiesel melainkan menjadi bioavtur yaitu
proses hydrocracking dengan tujuan memutus rantai biodiesel menjadi hidrokarbon
rantai pendek. Proses UOP untuk produksi biodiesel diuraikan pada Persamaan (a)
(Stratton, 2010)

CnH2n+1COOH + 3H2 -> Cn+1H2n+4 + 2H2O (a)

Persamaan a dapat ditulis menjadi Persamaan a.1 dilengkapi dengan perbandingan


massa masing-masing reaktan:

0,51 kg minyak + 0,011 kg hidrogen -> 0,45 kg biodiesel + 0,064 air (b)
Gambar 1 (a) Reaksi hydrotreating (b) Reaksi hydrocracking
Gambar 2 Proses Keseluruhan Pada Pembuatan Avtur

Proses sintesis bioavtur dimulai dengan proses deoksigenasi yang diikuti dengan
proses cracking menggunakan katalis untuk cracking minyak sawit. Beberapa katalis
yang dapat digunakan untuk cracking minyak sawit adalah NiMo dan H-ZSM5.
Nasikin et al. (2009) menyatakan bahwa katalis yang biasa digunakan untuk
cracking minyak sawit pada reaktor batch adalah katalis NiMo, sedangkan katalis
H-ZSM5 digunakan pada proses catalytic cracking minyak sawit pada reaktor fixed
batch (Twaiq et al. 1999; 2004). Katalis NiMo yang digunakan pada penelitian ini
merupakan katalis hasil penelitian Pertamina Research and Development yang telah
dipreparasi untuk proses sintesis bioavtur.
Deoksigenasi merupakan proses mengurangi jumlah oksigen yang terkandung
dalam RPO. Proses ini membutuhkan hidrogen. Reaksi dimulai dengan terjadinya
hidrogenasi trigliserida yang mengandung asam lemak tak jenuh menghasilkan
trigliserida yang semua asam lemaknya jenuh. Hidrogenasi berikutnya akan
memecah ester (gliserida) tersebut menjadi asam lemak dan hidrokarbon propana.
Reaksi deokasigenasi diakhiri dengan reaksi dekarboksilasi asam lemak menjadi
hidrokarbon yang berkesesuaian (hidrokarbon rantai panjang) dan karbon dioksida
(Boyas et al. 2012).

Cracking merupakan reaksi pemecahan senyawa hidrokarbon yang memiliki


molekul besar menjadi molekul-molekul yang lebih kecil pada suhu tinggi (melebihi
350-400oC) dengan atau tanpa bantuan katalis. Proses cracking terdiri dari tiga
macam, yaitu: thermal cracking atau pirolisis, catalytic cracking, dan hydrocracking.
Thermal cracking terjadi pada suhu lebih dari 1000 K. Catalytic cracking terjadi
pada suhu 200-600oC dan tekanan 1 atm di berbagai reaktor (tubular, plug flow,
mixed bed, dan fluidized bed) dengan bantuan katalis yang langsung kontak dengan
reaktan.

Hydrocracking merupakan proses mengubah umpan berupa minyak berat


menjadi produk-produk minyak yang lebih ringan dengan kehadiran hidrogen dan
bantuan katalis, menggunakan tekanan tinggi dan suhu tinggi (Savitri 2013).
Deoksigenasi dan cracking terjadi pada reaktor yang sama secara hampir bersamaan.
Kondisi proses sintesis bioavtur yang dilakukan mengacu kepada riset dari berbagai
referensi Pada umumnya, cracking akan lebih cepat pada kondisi suhu yang lebih
tinggi. Namun suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan laju cracking tidak
terkendali sehingga menghasilkan hidrokarbon dengan rantai yang terlalu pendek.
Gambar 3 Proses Deoksigenasi Fatty Acid dengan Bantuan Katalis

Gambar 4 Proses hydrocracking yang menghasilkan bioavtur, proses ini telah dipatenkan oleh
Applied Research Assosiates. Inc
C. Pemilihan Reaktor

Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi berlangsung,
baik itu reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika. Dengan terjadinya reaksi
inilah suatu bahan berubah ke bentuk bahan lainnya, perubahannya ada yang terjadi
secara spontan alias terjadi dengan sendirinya atau bisa juga butuh
bantuan energi seperti panas (contoh energi yang paling umum). Perubahan yang
dimaksud adalah perubahan kimia, jadi terjadi perubahan bahan
bukan fase misalnya dari air menjadi uap yang merupakan reaksi fisika.

Pembuatan bioavtur menggunakan prinsip UOP pada umumnya konversi minyak


sawit CPO menjadi bioavtur melalui tahap proses hidrolisis trigliserida, hidrogenasi
ikatan tidak jenuh rantai karbon, dekarboksilasi dan catalytic cracking, sehingga
dihasilkan fraksi gas cair bioalkane yang karakteristiknya menyerupai avtur.

Pada proses ini reaktor yang digunakan adalah reaktor single bed multi-tube yang
terdiri dari 2 unit, unit pertama digunakan reaksi hydrotreating yaitu mereaksikan
CPO dan gas hydrogen dengan katalis UOP 1 menjadi alkana rantai lurus (biodiesel).
Produk reaktor pertama akan mengalami tahap reaksi lanjutan (hydrocracking) di
dalam reaktor kedua dengan katalis UOP 2. Produk samping berupa hidrokarbon
rantai pendek berfase gas dan air tergenerasi pada hasil keluaran reaktor kedua
dipisahkan menggunakan gas liquid separator. Gas digunakan untuk produksi listrik
melalui turbin gas. Air dialirkan ke Unit Pengolahan Limbah (UPL). Produk utama
keluar gas liquid separator kemudian dimurnikan menggunakan menara fraksinasi
sehingga didapatkan produk murni berupa biavtur, biodiesel, nafta, AGO, residu.

Reaktor single bed ini merupakan salah satu jenis reaktor fixed bed dimana katalis
yang digunakan dalam reaktor berupa katalis padat yang diam dan zat pereaksi
berfase gas dimana dengan reaktor single bed sebagai penyangga katalisator dipakai
butir butir alumunia (bersifat inert terhadap zat pereaksi) dan pada dasar reaktor
disusun dari butir yang bsar makin keatas makin kecil, tetapi pada bagian atas
katalisator disusun dari butir kecil makin keatas makin besar.

Reaktor UOP juga menggunakan reaktor multi-tube dimana pada reaktor ini
katalisator diisi lebih dari satu tumpuk katalisator, fixed bed dengan katalisator lebih
dari satu tumpuk banyak dipakai dalam proses adiabatik. Jika reaksi yang terjadi
sangat eksotermis pada konversi yang masih kecil suhu gas sudah naik sampai lebih
tinggi dari suhu maksimum yang diperbolehkan untuk katalisator, maka gas harus di
dinginkan terlebih dahulu kedalam alat penukar panas diluar reaktor untuk di
dinginkan dan selanjutnya dialirkan kembali ke reaktor melalui tumpukan katalisator
kedua.

Jika konversi gas yang keluar dari tumpukan kedua belum mencapai yang
direncanakan, tetapi suhu gas sudah lebih tinggi dari yang diperbolehkan maka
dilakukan pendinginan lagi dengan mengalirkan gas ke alat penukar panas kedua
kemudian di kembalikan ke reaktor yang masuk melalui tumpukan katalisator ketiga
dan seterusnya sampai diperoleh konversi yang diinginkan. Jika reaksi bersifat
endotermis maka penukar panas diluar reactor dapat digunakan untuk pemanas gas
reaksi.
Kelebihan Reaktor Fixed Bed

 Dapat digunakan untuk mereaksikan dua macam gas sekaligus


 Kapasitas produksi cukup tinggi
 Pemakaian tidak terbatas pada kondisi reaksi tertentu (eksoterm atau
endoterm) sehingga pemakaian lebih fleksibel
 Aliran fluida mendekati plug flow sehingga dapat diperoleh hasil konversi
yang tinggi
 Pressure drop rendah
 Oleh karena adanya hold-up yang tinggi, maka menghasilkan
pencampuran radial yang lebih baik dan tidak ditemukan pembentukan
saluran (channeling)
 Pemasokan katalis per unit volum reaktor besar
 Hold up liquid tinggi
 Katalis benar-benar dibasahi
 Kontrol temperature lebih baik
 Transfer massa gas-liquid lebih tinggi daripada reaktor trickle bed karena
interaksi gas-liquid lebih besar

Kekurangan Reaktor Fixed Bed

 Resistansi difusi intra partikel sangat besar.


 Nilai transfer massa dan transfer panas rendah.
 Pemindahan katalis sangat sulit dan memerlukan shut down alat.
 Konversi lebih rendah.
 Ada kemungkinan terjadi reaksi samping homogen pada liquid.
.
Tabel 1 Analisa Engineering Terhadap Pemilihan Single Reactor Pada Pembuatan Bioavtur

Gambar 3 Perbandingan Pemilihan Single Reactor dengan Reactor Yang Lain Pada Pembuatan
Bioavtur

Tabel 2 Perbandingan Pemilihan Single Reactor dengan Reactor Yang Lain Pada Pembuatan
Bioavtur
Tabel 3 Spesifikasi Reaktor