Anda di halaman 1dari 31

KEPERAWATAN MUSKULOSKELETAL

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR SERVIKAL


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat II

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3

Maharani (213218)
Farida (213218014)
Egi (21321)
Shinta ( 213218)
Iqbal (213218)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN NON-REGULER


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fraktur atau sering disebut patah tulang adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang dan atau tulang rawan yang penyebabnya dapat dikarenakan penyakit
pengeroposan tulang diantaranya penyakit yang sering disebut osteoporosis, biasanya
dialami pada usia dewasa. Dan dapat juga disebabkan karena kecelakaan yang tidak
terduga (Masjoer A, 2005).

Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang yang ditentukan sesuaijenis dan


luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat
diabsorbsinya (Smelzter and Bare, 2002). Fraktur servikal yaitu suatu kondisi vertebra
servikal dimana vertebra atau lebih mengalami fraktur atau dislokasi, kedua kondisi
ini dapat menyebabkan tekanan pada medula spinalis, dan mengakibatkan disfungsi
neurovaskuler. Terjadinya kecelakaan secara tiba-tiba yang menyebabkan fraktur
sering kali membuat orang panik dan tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan.
Ini disebabkan tidak adanya kesiapan dan kurangnya pengetahuan terhadap fraktur
tersebut. Seringkali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat, karena kurangnya
informasi yang tersedia. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas mengenai
fraktur servikal dan penanganan kegawatdaruratan fraktur servikal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari fraktur servikal?
2. Bagaimana anatomi tulang servikal?
3. Apa saja jenis dari fraktur servikal?
4. Apa saja tanda dan gejala dari fraktur servikal?
5. Bagaimana epidemiologi fraktur servikal?
6. Bagaimana patofisiologi fraktur servikal?
7. Bagaimana penanganan fraktur servikal dalam kegawatdaruratan?
C. Tujuan
Tujuan umum:
Untuk memahami penanganan dalam kegawatdaruratan fraktur servikal

Tujuan khusus:
1. Untuk memahami pengertian dari fraktur servikal
2. Untuk memahami anatomi fraktur servikal
3. Untuk memahami jenis-jenis dari fraktur servikal
4. Untuk memahami tanda dan gejala dari fraktur servikal
5. Untuk memahami epidemiologi dari fraktur servikal
6. Untuk memahami patofisiologi dari fraktur servikal
7. Untuk memahami penanganan dari fraktur servikal dalam kegawatdaruratan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fraktur Servikal


Tulang Belakang (vertebrae) adalah tulang yang memanjang dari leher sampai
ke selangkangan. Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12
buah tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Diskus intervertebrale
merupakan penghubung antara dua korpus vertebrae. Sistem otot ligamentum
membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas
vertebrae. Di dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian syaraf-syaraf,
yang bila terjadi cedera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf
tersebut (Mansjoer, Arif, et al. 2000).
Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal
yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Fraktur servikal yaitu
suatu kondisi vertebra servikal dimana vertebra atau lebih mengalami fraktur atau
dislokasi, kedua kondisi ini dapat menyebabkan tekanan pada medula spinalis, dan
mengakibatkan disfungsi neurovaskuler.

B. Anatomi Servikal
Vertebra dimulai dari cranium sampai pada apex coccigeus, membentuk
skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang cranium, costa
dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla spinalis dan serabut syaraf,
menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh. Vertebra pada
orang dewasa terdiri dari 33 vertebra dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical, 12
thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.
Atlas (C1) adalah vertebra servikalis pertama dari tulang belakang. Atlas bersama
dengan Axis (C2) membentuk sendi yang menghubungkan tengkorak dan tulang
belakang dan khusus untuk memungkinkan berbagai gerakan yang lebih besar. C1 dan
C2 bertanggung jawab atas gerakan mengangguk dan rotasi kepala.
Atlas tidak memiliki tubuh. Terdiri dari anterior dan posterior sebuah lengkungan dan
dua massa lateral. Tampak seperti dua cincin. Dua massa lateral pada kedua sisi
lateral menyediakan sebagian besar massa tulang atlas. Foramina melintang terletak
pada aspek lateral. Axis terdiri dari tonjolan tulang besar dan parsaticularis
memisahkan unggulan dari proses artikularis inferior. Prosesus yang mirip gigi
(ondontoid) atau sarang adalah struktur 2 sampai 3 cm corticocancellous panjang
dengan pinggang menyempit dan ujung menebal. Kortikal berasal dari arah rostral
(kearah kepala) dari tubuh vertebra.

Trauma tulang dapat mengenai jaringan lunak berupa ligament, discus dan
faset, tulang belakang dan medulla spinalis. Adapun beberapa ligamen yang terdapat
pada tulang servikal antara lain adalah :
1. Ligamen'ta fla'va: serangkaian pita dari jaringan elastis kuning melekat dan
memperluas antara bagian ventral lamina dari dua tulang yang berdekatan, dari sumbu
ke sacrum. Namanya Latin untuk "ligamen kuning," dan ini terdiri dari elastis jaringan
ikat membantu mempertahankan postur tubuh ketika seseorang sedang duduk atau
berdiri tegak. Terletak posterior tubuh vertebra, tetapi anterior proses spinosus dari
tulang belakang, yang merupakan tulang Prongs memancing ke bawah dari belakang
setiap tulang belakang, yang flava ligamenta membentuk dua sejajar, bersatu garis
vertikal dalam kanalis vertebralis. Hal ini juga mencakup dari C2, vertebra servikalis
kedua, semua cara untuk S1 dari sacrum, tulang ditumpuk pada dasar tulang belakang
di panggul. Pada ujung atas, setiap flavum ligamentum menempel pada bagian bawah
lamina dari vertebra di atasnya. lamina ini adalah proyeksi horizontal pasangan tulang
yang membentuk dua jembatan mencakup ruang antara pedikel di kedua sisi tubuh
vertebral dan proses spinosus belakangnya. Mereka memperpanjang dari pedikel,
setiap proses yang kurus menonjol ke belakang dari kedua sisi dari tubuh vertebra,
dan sudut terhadap garis tengah tulang belakang, menggabungkan di tengah. Dalam
melakukannya, mereka membentuk melebar "V" yang mengelilingi aspek posterior
kanal tulang belakang.
2. Ligamentum nuchae adalah padat bilaminar septum, segitiga intermuskularis
fibroelastic garis tengah. Meluas dari tonjolan oksipital eksternal ke punggung C7 dan
menempel pada bagian median dari puncak occipital eksternal, tuberkulum posterior
C1 dan aspek medial duri terpecah dua belah leher rahim, ligamen terbentuk terutama
dari lampiran aponeurotic dari otot leher rahim yang berdekatan dan yg terletak di
bawah. Dari dangkal sampai dalam, otot-otot ini adalah trapezius, genjang kecil,
capitus splenius, dan serratus posterior superior. Juga anatomi, dan mungkin penting
secara klinis, ligamen telah ditemukan memiliki lampiran berserat langsung dengan
dura tulang belakang antara tengkuk dan C1.
3. Zygapophyseal adalah sendi sinovial sendi-sendi paling dasar dalam tubuh
manusia. Gabungan sinovial ditandai dengan memiliki kapsul sendi, cairan-cairan
sinovial sendi kapsul untuk melumasi bagian dalam sendi, dan tulang rawan pada
permukaan sendi di tengah atas dan bawah permukaan yang berdekatan dari setiap
tulang belakang untuk memungkinkan tingkat gerakan meluncur.
4. Atlantoaxial ligamentum posterior adalah tipis, membran luas melekat, di atas,
untuk batas bawah lengkung posterior atlas , bawah, ke tepi atas dari lamina dari
sumbu.
5. Atlantoaxial ligamentum anterior adalah membran yang kuat, untuk batas bawah
lengkung anterior dari atlas, bawah, ke depan tubuh sumbu . Hal ini diperkuat di garis
tengah dengan kabel bulat, yang menghubungkan tuberkulum pada lengkung anterior
dari atlas ke tubuh dari sumbu, dan merupakan kelanjutan ke atas dari ligamentum
longitudinal anterior.
6. Ligamentum longitudinal posterior terletak dalam kanalis vertebralis, dan
membentang sepanjang permukaan posterior tulang belakang tubuh, dari tubuh
sumbu, di mana ia terus-menerus dengan tectoria membrana, untuk sakrum.
ligamentum ini lebih sempit di badan vertebra dan lebih luas pada ruang disk
intervertebralis. Hal ini sangat penting dalam memahami kondisi patologis tertentu
tulang belakang seperti lokasi khas untuk herniasi cakram tulang belakang.
7. Ligamentum transversal dari atlas adalah kuat, band tebal, yang lengkungan di
cincin dari atlas , dan mempertahankan proses yg mirip gigi di kontak dengan
lengkung anterior. Ligamentum transversal membagi cincin dari atlas menjadi dua
bagian yang tidak setara: ini, posterior dan lebih besar berfungsi untuk transmisi dari
medula spinalis dan membran dan saraf aksesori.
C. Jenis Fraktur Servikal
Berikut merupakan beberapa jenis fraktur dan dislokasi area servikal, serta
cidera spinal dibawah leher:
1. Fraktur Jefferson
Merupakan fraktur cincin atlas, biasanya tulang patah pada dua lokasi, yaitu
anterior dan yang lain lateral. Hal ini kebanyakan terjadi karena pukulan pada
kepala didaerah verteks. Bila patahan tulang (bagian lateral) tampak bergeser
lebih dari 7mm pada foto proyeksi frontal, kemungkinan ligamen transversumnya
robek. Konfirmasi tentang cidera ligamentum ini dipastikan berdasar adanya
gerakan abnormal antara odontoid, dan atlas pada pemeriksaan radiologis. Gejala
klinis fraktur atlas biasanya hanya berupa nyeri lokal. Jarang defisit neurologis.
Penanganan bagi kasus yang terbukti tidak ada cedera ligamen, adalah
pemasangan traksi skeletal saja. Tindakan operasi ditujukan untuk kasus dengan
ligamen ikut cidera. Tindakan operasinya adalah fraksi diantara oksiput dengan
lamina dan pada saat pasca bedah dipasang jaket halo.

(Gambar foto polos fraktur Jefferson)

(Gambar fraktur Jefferson)

2. Fraktur Prosesus Odontoid


Fraktur prosesus odontoid biasanya merupakan akibat trauma hebat pada kepala di
daerah oksiput. Pada awalnya fraktur ini jarang menimbulkan defisit neurologis.
Fraktur prosesus odontoid C2 diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomis garis
frakturnya :
a. Fraktur tipe I mempunyai garis fraktur pada bagian atas odontoid dekat
perletakan ligamentum alaris, dengan demikian sering kali tampak sebagai
suatu fraktur avulsi.
b. Fraktur tipe II terjadi pada leher odontoid diaman dens menempel pada korpus
C2. Tindakan operasi stabilisasi fraktur tipe II dilakukan dengan mengikat
lamina C1 dan prosesus spinosus C2, atau memasang klem halifax. Prosedur
alternatif lain yang dapat diterapkandengan memasang sekrup melalui sumbu
tulang ke dalam prosesus odontoid melalui pendekatan anterolateral dan
pemantauan fluroskopi.
c. Fraktur tipe III adalah yang paling sering dijumpai, paling tidak stabil dan
kerap mengalami non – union. Fraktur ini akan pulih hanya dengan stabilisasi
melalui pemasangan traksi servikal

(Gambar foto polos Fraktur Prosesus Odontoid)

3. Dislokasi Odontoid
Dens dapat mengalami dislokasi sebagai akibat abnormalitas kongenital, trauma
ligamentum krusiatum, proses inflamasi (reumatoid artritis, infeksi retrofaring)
atau pada kasus sindroma down. Jarak normal antara dens dan cincin anterior atlas
pada anak-anak maksimal 5,4mm dan tidak boleh lebih dari 2,5mm pada dewasa.
Pergeseran yang lebih dari 5mm perlu dicurigai akan adanya robekan ligamentum
alaris, dan bila didiamkan dapat menimbulkan kompresi pada medula atau di atas
foramen magnum. Penanganan yang ideal adalah upaya mengurangi pergeseran
tadi dan melakukan fusi posterior.
(Gambar foto polos Dislokasi Odontoid)

4. Fraktur Hangman

(Gambar foto Fraktur Hangman)

Fraktur hangman yaitu fraktur pada pedikel C2, dan dapat disertai pula translokasi
anterior korpus C2 (diatas C3). Biasanya fraktur ini terjadi akibat cidera
hiperekstensi leher. Dinamakan Hangman karena sesuai dengan kelainan yang
terjadi pada seseorang yang dihukum gantung dengan simpul di depan dagu.
Fraktur ini jarang menampilkan defisit neurologis mengingat fraktur menimbulkan
pemisahan antara korpus C2 dengan elemen posterior.
Fraktur Hangman dibedakan menjadi tiga tipe :
a. Tipe I merupakan fraktur yang stabil, dimana pergeseran atau angulasi disini
hanya minimal saja, seta cukup diterapi dengan pemasangan collar neck.

(Gambar collar neck)


b. Tipe II menunjukkan angulasi dan translasi yang bermakna dan
penanganannya adalah pemasangan jaket Halo.
c. Tipe III adalah fraktur yang menimbulkan dislokasi faset C2 bilateral dan
sangat tidak stabil sehingga untuk kasus ini perlu dioperasi untuk stabilisasi.

5. Fraktur Teardrop
Suatu fragmen kecil yang mengalami avulsi dari badan vertebra anterior bagian
bawah (cidera fleksi dengan kompresi anterior).

(Gambar Fraktur Teardrop)


(Gambar Fraktur Teardrop)

6. Fraktur Badan Vertebra


Yaitu fraktur kompresi pada tubuh

7. Fraktur dan Dislokasi Servikal Bawah


Fraktur dan dislokasi servikal bawah diklasifikasikan berdasarkan kerusakan-
kerusakan yang menjadi para korpus dan diskus intervertebralis, struktur masa
bagian lateral (pedikel dan prosesus transverus) atau faset posterior, lamina, dan
prosesus spinosus.
Pergeseran salah satu vetebra ke anterior atau posterior (jarang) terhadap vertebra
lainnya dikatagorikan menjadi :
a. Ringan : bergeser 1 – 3 mm
b. Sedang : bergeser 3 – 5 mm
c. Berat : bergeser > 5 mm
Pergeseran ini diduga terjadi akibat mekanisme hiperekstensi dan kerap dikaitkan
dengan adanya spondilosis yang diderita sebelumnya. Biasanya subluksasi
posterior dapat disertai dengan fraktur avulsi korpus vertebra.
D. Tanda dan Gejala Fraktur Servikal
1. Rasa sakit / nyeri (ringan/parah)- leher
2. Memar – leher
3. Pembengkakan – leher
4. Kekakuan-leher
5. Mati rasa-kaki dan lengan
6. Kelemahan – kaki dan lengan
7. Kekejangan – leher
8. Kesulitan berjalan
9. Gerak terbatas- leher

Yang harus diperhatikan:

a. Nyerin ketika menggerakkan lengan atau tungkai; nyeri bisa bersifat tajam atau
menyebar ke bawah lengan atau tunmgkai
b. Perasaan baal, semutan,lemah, atau panas pada lengan atau tungkai
c. Kelumpuhan pada lengan atau tungkai
d. Perunaghan bentuk, atau posisi yang tidak normal, dariu kepalan dan leher anak.

Tulang leher dapat patah akibat pukulan yang keras di tengkuk, atau karena
kecelakaan kendaraan bermotor. Pada kecelakaan mobil, yaitu tabrakan yang keras,
korban terlempar ke depan dengan keras. Dan karena dahinya terbentur kaca depan,
maka leher terdongak ke belakang dan patah.
Tanda-tandanya, selain leher yang tertengadah secara berlebihan, juga tangan dan
lengan kehilangan perasaan (tidak bereaksi bila ditusuk). Dan bila korban masih
sadar, ia tidak dapat menggerakkan tangannya itu (Kartono, 2005).

E. Epidemiologi
Kecelakaan merupakan penyebab kematian ke empat, setelah penyakit
jantung, kanker dan stroke, tercatat ± 50 meningkat per 100.000 populasi tiap tahun, 3
% penyebab kematian ini karena trauma langsung medula spinalis, 2% karena
multiple trauma. Insidensi trauma pada laki-laki 5 kali lebih besar dari perempuan.
Ducker dan Perrot melaporkan 40% spinal cord injury disebabkan kecelakaan lalu
lintas, 20% jatuh, 40% luka tembak, sport, kecelakaan kerja. Lokasi fraktur atau
fraktur dislokasi cervical paling sering pada C2 diikuti dengan C5 dan C6 terutama
pada usia dekade 3.

F. Patofisiologi Fraktur Servikal


Penyebab tersering terjadinya cedera tulang belakang cervical adalah
kecelakaan mobil, kecelakaan motor, jatuh, cedera olah raga, dan luka akibat
tembakan atau pisau. Menurut mekanisme terjadinya cidera, cidera servikal di bagi
atas fleksi, fleksi rotasi, ekstensi, kompresi aksial. Cidera cervical atas adalah fraktura
atau dislokasi yang mengenai Basis Occiput-C2. Cidera tulang belakang cervical
bawah termasuk fraktura dan dislokasi ruas tulang belakang C3-C7. Ruas tulang
belakang C5 adalah yang tersering mengalami fraktur.
C1 hanya berupa cincin tulang yang terdiri atas arcus anterior yang tebal dan
arcus posterior yang tipis, serta masa lateralis pada masing-masing sisinya. Tulang ini
berartikulasi dengan kondilus occipitalis membentuk articulatio atlanto-occipitalis,
tempat berlangsungnya gerakan mengangguk. Dibawah, tulang ini beratikulasi dengan
C2, membentuk articulasio atlanto-axialis, tempat berlangsungnya gerakan memutar
kepala. Ketika cidera terjadi fraktur tunggal atau multiple pada cincin C1 dan
dislokasi atlanto-occipitalis sehingga menyebabkan ketidakmampuan menggerakkan
kepala dan kerusakan pada batang otak. Cedera pada C1 dan C2 menyebabkan
ventilasi spontan tidak efektif.
Pada C3-C5 dapat terjadi kerusakan nervus frenikus sehingga dapat terjadi
hilangnya inervasi otot pernafasan aksesori dan otot interkostal yang dapat
menyebabkan komplience paru menurun. Pada C4-C7 dapat terjadi kerusakan tulang
sehingga terjadi penjepitan medula spinalis oleh ligamentum flavum di posterior dan
kompresi osteosif/material diskus dari anterior yang bisa menyebabkan nekrosis dan
menstimulasi pelepasan mediator kimia yang menyebabkan kerusakan myelin dan
akson, sehingga terjadi gangguan sensorik motorik. Lesi pada C5-C7 dapat
mempengaruhi intercostal, parasternal, scalenus, otot2 abdominal. Intak pada
diafragma, otot trapezius, dan sebagian pectoralis mayor.
Cedera pada tulang servikal dapat menimbulkan lesi atau cedera pada medulla
spinalis yang dapat terjadi beberapa menit setelah adanya benturang keras mengenai
medulla spinalis. Saat ini, secara histologis medulla spinalis masih normal. Dalam
waktu 24-48 jam kemudian terjadi nekrosis fokal dan inflamasi. Pada waktu cedera
terjadi disrupsi mekanik akson dan neuron. Ini disebut cedera neural primer.
Disamping itu juga terjadi perubahan fisiologis dan patologis progresif akibat cedera
neural sekunder.
Beberapa saat setelah terjadi kecelakaan atau trauma pada servikal maka akan
terjadi kerusakan secara struktural yang mengakibatkan gangguan pada saraf spinal
dan pembuluh darah disekitarnya yang akan menghambat suplai O2 ke medulla
spinalis atau akan terjadi ischemik pada jaringan tersebut. Karena terjadi ischemik
pada jaringan tersebut, dalam beberapa menit atau jam kemudian akan ada pelepasan
vasoactive agent dan cellular enzym yang menyebabkan konstriksi kapiler pada pusat
substansi abu-abu medula spinalis. Ini merupakan permulaan dari cedera neural
sekunder pada cedera medula spinalis. Selanjutnya adalah peningkatan level Ca pada
intraselular yang mengakibatkan kerusakan pada endotel pembuluh darah yang dalam
beberapa jam kemudian dapat menimbulakan aneurisma dan ruptur pada pembuluh
darah di medula spinal. Peningkatan potasium pada ekstraseluler yang mengakibatkan
terjadinya depolarisasi pada sel (Conduction Block). Hipoxia akan merangsang
pelepasan katekolamin sehingga terjadi perdarahan dan nekrosis pada sel.
Di tingkat selular, adnya kerusakan mitokondria akibat defisit suplai O2 dapat
merangsang pelepasan superoksid (radikal bebas), disertai terjadinya
ketidakseimbangan elektrolit, dan pelepasan mediator inflamasi dapat mengakibatkan
terjadinya kematian sel (apoptosis) dengan manifestasi sel mengkerut dan kromatin
nuclear yang padat.

G. Penanganan Fraktur Servikal dalam Kegawatdaruratan


Pada status emergensi klien dengan riwayat trauma servikal yang jelas dan
diindikasikan cedera spinal tidak stabil, apabila pengkajian anamnesis dapat dilakukan
maka status jalan napas klien optimal dan anamnesis diusahakan terfokus pada
pengkajian primer. Hal ini dilakukan karena pada fase ini klien beresiko tinggi untuk
mengalami kompresi korda yang berdampak pada henti jantung paru.
Implikasi dari situasi ini adalah pengkajian primer dilakukan disertai intervensi
dengan suatu hal prinsip untuk selalu menjaga posisi leher atau servikal dalam posisi
netral , dan kalau perlu klien dipasang ban servikal. Apabila pada kondisi ditempat
kejadian dimana klien masih memakai helm, maka diperlukan teknik melepas helm
dengan tetap menjaga posisi leher dalam posisi netral. Selanjutnya peran perawat
dalam melakukan transportasi dari tempat kejadian ke tempat intervensi lanjutan
trauma servikal di Rumah Sakit harus dilakukan secara hati-hati, peran monitoring
dan kolaborasi untuk secepatnya dilakukan stabilisasi.
Berikut cara teknik melepas helm sampai terpasang ban servikal dengan prinsip
benar-benar menjaga posisi leher pada lateral :

Pengkajian lanjutan di rumah sakit tetap memperhatikan kondisi stabilisasi


pada servikal dan monitoring pada jalannapas. Pada setiap melakukan transportasi
klien, perawat tetap memprioritaskan kesejajaran dari kurvatura tulang belakang
dengan tujuan untuk menghindari resiko injuri pada spinal dengan teknik
pengangkatan cara long rolling dan atau menggunakan long backboa

Gambar teknik long rolling dan pengangkatan dengan menggunakan long


backboard dan klien sudah terpasang ban leher untuk menjaga kesejajaran kontur
tulang belakang untuk menghindari kompresi korda akibat kesalahan mengangkat.
ASKEP FRAKTUR CERVIKAL

I. DATA UMUM
1. Identitas klien
Nama : Ny.MP
TTL : Kendari 16 Mei 1967
Status perkawinan : Menikah
Penidikan terakhir : Sma
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Alamat : Jln. Husni thamrin No. 015
Tanggal Masuk RS : 14 september 2019
Golongan darah :B
Umur : 41 Tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Agama : Islam
Suku : Bugis
Lama Bekerja -
Telp : (0401) 393553
Ruangan : : VIP. asoka

2. Penanggung Jawab / pengantar


Nama : Tn. MA
Pendidkan terakhir : S1 fakultas hukum
Hub. Dengan klien : suami
Alamat : Jl. Husni thamrin no. 015
Umur : 52 Tahun
Pekerjaan : pengacara

II. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


1. Keluhan Utama : klien mengeluh nyeri pada bagian cervical
u masuk RS : klien masuk rumah sakit akibat kecelakaan lalulintas
yang dialami pada tanggal 14 september (tabrakan antara mobil dan motor)
: nyeri bertambah saat leher digerakan
: nyeri berat skala 8
: de bagian leher
: intermiten
: tidak menentu
III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU
1. klien mengatakan tidak pernah mendeita penyakit yang sama
2. klien mengatakan pernah menderita hipertensi
3. klien mengatakan tidak pernah mengalami pembedahan
4. klien mengatakan tidak memiliki kebiasaan/ketergantungan terhadap rokok,
minuman alkkohol, kopi dan obat-obatan

V. RIWAYAT PSIKO – SOSIO – SPIRITUAL


1. Pola koping koping individu klien tidak efektif
2. Harapan klien terhadap penyakitnya : Klien berharap tekanan agar dapat kembali
normal sehingga dapat sembuh kembali seperti semula .
3. Factor stressor : klien stres berat memikirkan penyakit yang dideritanya.
4. Konsep diri : klien merasa sangat terganggu karena penyakit
yang dideritanya.
5. Pengetahuan klien tentang penyakitnya : klien tidak mengetahui tentang penyakitnya
6. Adaptasi : Klien kurang beradaptasi di RS.
7. Hubungan dengan anggota keluarga : cukup baik
8. Hubungan dengan masyarakat ; klien kurang berinteraksi dengan masyarakat .
9. Perhatian terhadap orang lain dan lawan bicara:Cukup baik
10. Aktifitas social: -
11. Bahasa yang sering digunakan :Bhs.Indonesia
12. Keadaan lingkungan :Bersih
13. Kegiatan keagamaan/pola ibadah :Klien tidak pernah mengikuti kegiatan
keagamaan tetapi klien melaksanakan shalat 5 waktu
14. Keyakinan tentang kesehatan :Klien menyerahkan kesembuhan penyakitnya kepada
Allah SWT
VI. KEBUTUHAN DASAR/POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI
1. Makan
MRS : Klien makan 3x sehari,nafsu makan klien meningkat
BB 55kg
h MRS : Nafsu makan klien makan menurun 2x sehari porsi kecil
Diberikan makanan cair
BB 50kg
2. Minum
Sebelum MRS : Klien minum 6-8 gelas sehari
elah MRS : klien minum 3-5 gelas sehari pada keadaan ini klien tidak mengalami
gangguan pola makan

3. Tidur
belum MRS : Klien tidak pernah tidur siang, tidur 4-5 jam sehari
telah MRS :Klien tidur 4-5jam sehari pada keadaan ini klien tidak mengalami gangguan pola
tidur
4. Eliminasi fekal/BAB
Sebelum MRS :BAB klien 1 sehari
Setelah MRS :klien kadang tidak BAB dalam sehari

5. Elminasi Urine/BAK
Sebelum MRS : Klien BAK 5-6x dalam sehari
Setelah MRS : Klien BAK 1-2x sehari dengan volume sedikir

6. Aktifitas dan latihan


Sebelum MRS : Setiap Hari minggu klien rekreasi bersam keluarga
Setelah MRS : Klien tidak pernah melakukan aktifitas

7. Personal Hygiene
ellum MRS : Klien mandi 2x sehari, mencuci rambut 1x sehari, 1 minggu sekali klien memotong
kuku
Setelah MRS :Klien mandi 2x sehari
8. integritas kulit
elum MRS : keadaan
VII. PEMERIKSAAN FISIK
1. tanda-tanda vital
 TD : 120/90 mmHg
 N: 70 x /menit
 RR : 16 x / menit
 Suhu .: 36,5 ºC

2. Kepala
 Inspeksi : rambut lurus hitam dan pendek
Distribusi rambut merata
Tidak ada ketombe
 Palpasi : tidak ada udema
Tidak ada nyeri tekan
3. wajah
 inspeksi : ekspresi wajah klien Nampak tegang
 palpasi :tidak ada udema dan nyeri tekan
4. mata
 inspeksi : simetris kiri dan kanan
konjungtiva Nampak pucat
kelopak mata tidak udema
 palpasi : tidak ada nyeri pada mata
5. hidung
 inspeksi : skimetris kiri dan kanan
tidak ada pengeluaran secret
fungsi penciuman baik
 palpasi : tidak ada nyeri tekan
6. telinga
 inspeksi : simeris kiri dan kanan
tidak ada pengeluaran secret
fungsi pendengaran baik
 palpasi :tidak ada nyeri tekan
7. mulut, gigi tenggorokan
 inspeksi : mukosa bibir kering
keadaan gigi baik dan lengkap
ada gangguan menelan
8. leher
 inspeksi : nampak miring kesamping
 palpasi : ada nyeri tekan pada leher
9. dada dan paru'-paru
 inspeksi : normal chest
pegerakan dan pengembangan dada sama ketika ekspirsi dan inspirasi
 palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa
 auskultasi : inspirasi sama dengan ekspirasi

10. system kardiovaskuler


 inspeksi : kesadaran baik
bentuk dada normal chest
wajah Nampak pucat
tidak ada udema pada tangan, kaki dan sendi
 palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis
tidak ada nyeri tekan
 perkusi :-
 auskultasi : irama jantung tidak teratur

11. system musculoskeletal


 inspeksi : kekuatan otot berkurang
pola aktivitas terganggu
 palpasi :

12. ekstremitas atas


 inspeksi : pergerakan klien terbatas
tidak ada hematom dan udem pada tangan
 palpasi : tidak ada nyeri tekan
13. abdomen
 inspeksi : tidak Nampak pembesaran pada abdomen
 palpasi : tidak teraba pembesaran hati
distensi abdomen tidak ditemukan
 perkusi : tidak ada penimbunan cairan dan masa
 auskultasi : peristaltik usus hilang

14. ekstremitas bawah


 inspeksi : pergerakan klien tebatas
 palpasi : tidak nyeri tekan dan tidak ada udema

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan adanya cedera
Tujuan keperawatan : rasa nyaman terpenuhi setelah diberikan perawatan dan
pengobatan
Kriteria hasil : melaporkan rasa nyerinya berkurang
Intervensi keperawatan :
1. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-5.
Rasional : pasien melaporkan nyeri biasanya diatas tingkat cedera.
2. Bantu pasien dalam identifikasi faktor pencetus.
Rasional : nyeri dipengaruhi oleh; kecemasan, ketegangan, suhu, distensi kandung
kemih dan berbaring lama.
3. Berikan tindakan kenyamanan.
Rasional : memberikan rasa nayaman dengan cara membantu mengontrol nyeri.
4. Dorong pasien menggunakan tehnik relaksasi.
Rasional : memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol.
5. Berikan obat antinyeri sesuai pesanan.
Rasional : untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan kecemasan
dan meningkatkan istirahat.

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot pernapasan


Tujuan perawatan : pola nafas efektif setelah diberikan oksigen
Kriteria hasil : ventilasi adekuat, PaO2 > 80, PaCo2 < 45, rr = 16-20 x/mt, tanda
sianosis
Intervensi keperawatan :
1. Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak.
Rasional : pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan bantuan untuk
mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas.

2. Lakukan penghisapan lendir bila perlu, catat jumlah, jenis dan karakteristik sekret.
Rasional : jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan
sekret, dan mengurangi resiko infeksi pernapasan.

3. Kaji fungsi pernapasan.


Rasional : trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara
partial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan.
4. Auskultasi suara napas.
Rasional : hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang
berakibat pnemonia.
5. Observasi warna kulit.
Rasional : menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan
tindakan segera
6. Kaji distensi perut dan spasme otot.
Rasional : kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma
7. Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari.
Rasional : membantu mengencerkan sekret, meningkatkan mobilisasi sekret sebagai
ekspektoran.
8. Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan.
Rasional : menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus menerus untuk
mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.
9. Pantau analisa gas darah.
Rasional : untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh
: hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat.
10. Berikan oksigen dengan cara yang tepat : metode dipilih sesuai dengan keadaan
isufisiensi pernapasan.
11. Lakukan fisioterapi nafas. Rasional : mencegah sekret tertahan
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dng kelumpuhan
Tujuan perawatan : selama perawatan gangguan mobilisasi bisa diminimalisasi
sampai cedera diatasi dengan pembedahan.
Kriteria hasil : tidak ada kontrakstur, kekuatan otot meningkat, pasien mampu
beraktifitas kembali secara bertahap.
Intervensi keperawatan :
1. Kaji secara teratur fungsi motorik. Rasional : mengevaluasi keadaan secara
umum
2. Instruksikan pasien untuk memanggil bila minta pertolongan. Rasional
memberikan rasa aman
3. Lakukan log rolling. Rasional : membantu ROM secara pasif
4. Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki. Rasional mencegah footdrop
5. Ukur tekanan darah sebelum dan sesudah log rolling. Rasional : mengetahui
adanya hipotensi ortostatik
6. Inspeksi kulit setiap hari. Rasional : gangguan sirkulasi dan hilangnya sensai
resiko tinggi kerusakan integritas kulit.
7. Berikan relaksan otot sesuai pesanan seperti diazepam. Rasional : berguna untuk
membatasi dan mengurangi nyeri yang berhubungan dengan spastisitas.

4. Gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan
rektum.
Tujuan perawatan : pasien tidak menunjukkan adanya gangguan eliminasi
alvi/konstipasi
Kriteria hasil : pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali
Intervensi keperawatan :
1. Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya.Rasional : bising usus
mungkin tidak ada selama syok spinal.
2. Observasi adanya distensi perut.
3. Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT. Rasional :
pendarahan gantrointentinal dan lambung mungkin terjadi akibat trauma dan stress.
4. Berikan diet seimbang TKTP cair : meningkatkan konsistensi feces
5. Berikan obat pencahar sesuai pesanan. Rasional: merangsang kerja usus
5. Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syarat
perkemihan.
Tujuan perawatan : pola eliminasi kembali normal selama perawatan
Kriteria hasil : produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi uirine tidak ada
Intervensi keperawatan:
1. Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam. Rasional : mengetahui
fungsi ginjal
2. Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih.
3. Anjurkan pasien untuk minum 2000 cc/hari. Rasional : membantu
mempertahankan fungsi ginjal.
4. Pasang dower kateter. Rasional membantu proses pengeluaran urine

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

NO Hari / Jam Implementasi Paraf Evaluasi


tanggal
1 Senin 08.00 S : klien
14 Des 1. mengkaji terhadap nyeri
mengatakan sudah
2008 dengan skala 0-5.
2. membantu pasien merasa nyaman
dalam identifikasi faktor
O : klien
pencetus.
3. memberikan tindakan tampak tenang
kenyamanan
A : masalah teratasi
4. mendorong pasien
menggunakan tehnik P : intervensi
relaksasi.
dipertahankan
. 5. memberikan obat
antinyeri sesuai pesanan.

. 1. mempertahankan jalan
nafas; posisi kepala tanpa
gerak.
2 09.00 2. melakukan
penghisapan lendir bila
perlu, catat jumlah, jenis
dan karakteristik sekret.
S : klien
3. mengkaji fungsi
pernapasan. mengatakan pola
4. mengauskultasi suara
napas sudah mulai
napas.
5. mengobservasi warna efektif
kulit.
O : klien nampak
6. mengkaji distensi perut
dan spasme otot. bernapas denga
7. menganjurkan pasien
baiki
untuk minum minimal
2000 cc/hari. A : masalah teratasi
8. Lakukan pengukuran
P : intervensi
kapasitas vital, volume
tidal dan kekuatan dipertahankan
pernapasan.
9. memantau analisa gas
darah.
10. memberikan oksigen
dengan cara yang tepat :
metode dipilih sesuai
11. melakukan fisioterapi
nafas. Rasional :
mencegah sekret tertahan

1. Kaji secara teratur


3 10.30 fungsi motorik.
2. Instruksikan pasien
untuk memanggil bila
minta pertolongan.
3. Lakukan log rolling.
4. Pertahankan sendi 90
derajad terhadap papan
kaki.
5. Ukur tekanan darah
sebelum dan sesudah log
rolling.
6. Inspeksi kulit setiap
S : klien
hari.
7. Berikan relaksan otot mengatakan mampu
sesuai pesanan seperti
beraktivitas kembali
diazepam.
secara bertahap
O : klien tampak
1. Auskultasi bising usus, sudah bisa
catat lokasi dan berativitas kembali
karakteristiknya. A : masalah sudah
4 11.00
2. Observasi adanya teratasi
distensi perut. P : intervensi
3. Catat adanya keluhan dipertahankan
mual dan ingin muntah,
pasang NGT.
4. Berikan diet seimbang
TKTP cair : meningkatkan
konsistensi feces
5. Berikan obat pencahar
sesuai pesanan.

S : klien
5 14.00 1. Kaji pola berkemih, dan mengatakan sudah
catat produksi urine tiap bab dalam sehari
jam. O : klien sudah bisa
2. Palpasi kemungkinan bab dalam sehari
adanya distensi kandung A : masalah tertasi
kemih. P : intervensi
3. Anjurkan pasien untuk dipertahankan
minum 2000 cc/hari
4. Pasang dower kateter.
.

S : klien
mengatakan sudah
lancar dalam bak
O : klien bak 4-5x
dalam sehari
A : masalah tertasi
P : intervensi
dipertahankan
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA. Mansjoer, A (2000) Kapita Selekta Kedokteran jilid I. Jakarta: Media Aesculapius.
Smeltzer, S.C & Bare, B.R (2002). Buku ajar keperawatan