Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

A. STATISTIKA
1. Pengertian Stastistika
Statistika adalah cabang ilmu matematika yang mempelajari bagaimana cara
mengumpulkan dan menyusun data, mengelolah dan menganalisa data, serta menyajikan
data dalam bentuk kurva atau diagram, menarik kesimpulan, dan mengambil keputusan
yang didasarkan pada hasil pengelohan data. Statistika dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
a. Statistik deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistika yang melakukan kegiatan dari mengumpulkan,
menyusun, menganalisa, mengelola, serta menyajikan data dalam bentuk kurva.
b. Statistika inferensi
Statistika inferensi adalah penarikan kesimpulan dalam statistika. Hasil dari data yang
sudah diolah dan dianalisa yang disebut statistik.
Dalam suatu penelitian, seluruh objek yang akan diteliti disebut populasi,
sedangkan sebagian dari populasi yang benar-benar diamati disebut sampel atau contoh.
Misalkan, kita akan meneliti apakah dampak dari curah hujan yang tinggi bagi petani di
desa Margahayu. Karena di desa Margahayu ada 10 Rt, maka akan diambil secara acak 5
petani untuk diteliti. Dalam hal ini, petani desa Margahayu disebut populasi, sedangkan
yang terpilih dari masing-masing Rt disebut sampel.
Datum adalah setiap informasi atau keterangan yang diperoleh dari suatu
penelitian. Kumpulan dari datum disebut data. Menurut jenisnya, data dibedakan menjadi 2
macam, yaitu:
a. Data kualitatif
Data kualitatif adalah data yang menunjukan sifat/keadaan objek atau berupa tidak
berupa angka. Contoh: data tentang nilai sikap yang dinyatakan dengan “baik”,
“cukup”, atau “kurang”.

3
b. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang menunjukan jumlah ukuran objek atau berupa angka.
Contoh: data tentang tinggi badan, berat badan, nialai siswa.Menurut cara
memperolehnya, data kuantitatif dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1) Data ukuran (data kontinu)
Data ukuran adalah data yang diperoleh dengan cara mengukur. Contoh: data tentang
luas petak sawah.
2) Data cacahan (data deskrit)
Data cacahan adalah data yang diperoleh dengan cara mencacah, menimbang, atau
menghitung bayak objek. Contoh: data tentang banyaknya penumpang kereta api x
setiap harinya.
2. Penyajian Data
Data yang sudah dikumpulkan dapat disajikan dalam bentuk tunggal, data
kelompok atau data yang dikelompokan dengan tabel dan data yang disajikan dalam
bentuk macam-macam diagram tergantung tujuan dibuatnya data tersebut.
a. Data Tunggal
Data tunggal adalah data yang disusun sendiri menurut besarnya. Contoh: data dari
bilangan antara 1 sampai 40 yang berkelipatan 5 adalah: 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35.
b. Data Kelompok
Data kelompok yang disajikan dalam bentuk tabel disebut tabel distribusi frekuensi.
Contoh :
Nilai Titik tengah () Frekuensi ()
21 - 30 25,5 10
31 - 40 35,5 9
41 - 50 45,5 2
51 -60 55,5 7
61 – 70 65,5 19
71 – 80 75,5 19
81 – 90 85,5 19
91 – 100 95,5 15

4
 Kelas
Data yang terdiri atas 100 nilai amatan pada tabel di atas dikelompokan
menjadi delapan kelas, yaitu kelas pertama 21 – 30, kelas kedua 31 – 40, kelas
ketiga 41 – 50, kelas keempat 51 – 60, kelas kelima 61 – 70, kelas keenam 71 –
80, kelas ketujuh 80 – 91, kelas kedelapan 91 – 100.
 Batas kelas
Batas kelas ditentukan sebagai nilai-nilai ujung yang terdapat pada sebuah
kelas. Nilai ujung bawah suatu kelas disebut batas bawah kelas, dan nilai ujung
atas suatu kelas disebut batas atas kelas. Misalnya kelas pertama 21 – 30, batas
bawahnya 21 dan batas atasnya 30.
 Tepi kelas
Tepi kelas ada 2, yaitu tepi bawah kelas dan tepi atas kelas.
Tepi bawah = batas bawah -0,5
Tepi atas = batas atas +0,5
Misalnya kelas pertama 21 – 30, panjang kelasnya adalah 10.
 Titik tengah kelas
Titik tengah kelas adalah suatu nilai yang dapat dianggap mewakili kelas itu.
Titik tengah = (batas bawah + batas atas)
1) Penyajian Data dalam Diagram
a) Diagram Batang
Penyajian data statistik dengan menggunakan gambar berbentuk balok atau
batang disebut diagram batang. Batang-batang itu dapat dilikiskan secara tegak
(diagram batang tegak) atau mendatar (diagram batang mendatar), tetapi antara
satu dengan batang yang lainnya diberi jarak sehingga letak tiap batang tampak
terpisah. Contoh:

5
Diagram Batang Nilai Ulangan Siswa Kelas XI
16

14

12

10

0
60-69 70-79 80-89 90-99

Gambar 1. Diagram Batang Nilai Ulangan Siswa Kelas XI

b) Diagram Garis
Data yang disajikan dengan grafik yang berbentuk garis lurus disebut
diagram garis atau grafik garis. Biasanya digunakan untuk menggambarkan
kejadian yang berkesinambungan atau serba terus.
Contoh :

900
hasil panen padi tahun 2002-2007

800
700
600
500
400
300
200
100
0
2002 2003 2004 2005 2006 2007
tahun

Gambar 2. Diagram Garis Nilai Ulangan Siswa Kelas XI

6
c) Diagram Lingkaran
Penyajian data statistik dengan menggunakan gambar yang berbentuk
daerah lingkaran disebut diagram lingkaran. Diagram tersebut dapat dibuat
dengan membagi lingkaran menurut data yang ada dan dengan menggunakan
busur derajat dan membagi keliling lingkaran.
Contoh:

Tabel 1. Data hasil penjualan berbagai barang di sebuah toko selama tahun 2007.
Jenis Barang Banyak barang
Setrika Listrik 39
Kipas angin 18
Pompa tangan 12
Kompor gas 42
Lemari Es 21
Televisi 18
Jumlah 150

, 43.2
, 93.8
, 50.4

, 42.3

, 100.8
, 28.8

Gambar 3. Diagram Lingkaran


Hasil Penjualan Berbagai Barang Di Sebuah Toko Selama Tahun 2007

7
d) Histogram dan Ogif
Histogram adalah penyajian daftar distribusi frekuensi yang terdiri dari
segiempat-segiempat yang asalnya pada sumbu mendatar. Polygon frekuensi
komulatif adalah grafik yang menunjukan frekuensi komulatif. Jika polygon
frekuensi kumulatif dimuluskan diperoleh kurva frekuensi kumulatif yang disebut
ogif. Untuk frekuensi kumulatif kurang dari, grafiknya desebut ogif positif.
Sedangkan untuk frekuensi kumulatif lebih dari, disebut ogif negative.
3. Ukuran Pemusatan Data
Ukuran pemusatan data adalah ukuran untuk memberikan gambaran wakil data dari
sampel yang diambil yang selanjutnya akan mewakili populasinya. Secara umum yang
termasuk ukuran pemusatan data adalah: Mean (rata-rata hitung), Modus, dan Median.
a. Ukuran pemustan data untuk tunggal
1) Rataan Hitung (Mean)
Rataan dari suatu data adalah perbandingan jumlah semua nilai data dengan banyak
data.

2) Modus
Modus adalah nilai data yang paling sering munculatau nilai data yang mempunyai
frekuensi terbesar.
Contoh : Data 2,3,2,1,6,5,7,4,3,2,8
Maka modusnya adalah 2
3) Median
Median adalah suatu nilai yang membagi data menjadi dua bagian yang sama
banyaknya setelah data tersebut diurutkan dari yang terkecil hingga yang terbesar.
Median untuk jumlah data (n) ganjil

Median untuk jumlah data (n) genap

8
Keterangan:
Me = Median
n = jumlah data
x = nilai data
b. Ukuran pemustan data untuk kelompok
1) Mean
Menentukan nilai rata-rata dari suatu data kelompok sama dengan mencari nilai rata-
rata data tunggal. Idenya adalah menjumlahkan semua data kemudian membagi
dengan banyaknyanya data. Hanya saja, karena penyajian data kelompok diberikan
dalam bentuk berbeda, maka rumus mencari nilai mean untuk data kelompok sedikit
berbeda dengan cara mencari nilai mean pada data tunggal.

Keterangan:
x = rataan hitung dari data kelompok
fi = frekuensi kelas ke-i
xi = nilai tengah kelas ke-i
2) Median
Median adalah nilai yang membagi data terurut menjadi dua bagian yang sama.
½
𝑀𝑒 = L+ n - fk . P
fm
Keterangan :
Me = Median
L =Tepi bawah kelas median
n =Banyak data
fk =Frekuensi komulatif sebelum kelas median
fm =Frekuensi kelas median
p =Panjang kelas interval

9
3) Modus
Modus adalah nilai data yang paling sering muncul atau frekuensinya paling besar.

𝑀𝑜 = L + d1 . P

d1 +d2
Keterangan :
Mo = Modus
L = Tepi bawah kelas modus
d1 = Selisih frekuensi kelsa modus dengan frekuensi kelas sebelumnya
d2 = Selisih frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya
p = Panjang kelas interval

4. Ukuran Letak Data


a. Kuartil
Kelompok data yang sudah diurutkan (membesar atau mengecil) dibagi empat
bagian yang sama besar. Ada 3 jenis yaitu kuartil pertama (Q1) atau kuartil bawah,
kuartil kedua (Q2) atau kuartil tengah, dan kuartil ketiga (Q3) atau kuartil atas
Untuk data tidak berkelompok.

in  1
Q i  nilai ke - , i  1,2,3
4

Untuk data berkelompok

 in 
 -F
Qi  L 0  c 4  , i  1,2,3
 f 
 
 

Keterangan:
L0 = batas bawah kelas kuartil
F = jumlah frekuensi semua kelas sebelum kelas kuartil Qi
f = frekuensi kelas kuartil Qi

10
Tabel 2. Contoh Kuartil
Interval Kelas Nilai Tengah (X) Frekuensi
9-21 15 3
22-34 28 4
35-47 41 4
48-60 54 8
61-73 67 12
74-86 80 23
87-99 93 6
Σf = 60

Keterangan:
 Q1 membagi data menjadi 25 %
 Q2 membagi data menjadi 50 %
 Q3 membagi data menjadi 75 %
Sehingga :
 Q1 terletak pada 48-60
 Q2 terletak pada 61-73
 Q3 terletak pada 74-86
Untuk Q1, maka :

 1.60 
 - 11 
Q1  47,5  13 4   54
 8 
 
 
Untuk Q2, maka :
 2.60 
 - 19 
Q 2  60,5  13 4   72,42
 12 
 
Untuk Q3, maka :  

 3.60 
 - 31 
Q3  73,5  13 4   81,41
 23 
 
 

11
b. Desil
Kelompok data yang sudah diurutkan (membesar atau mengecil) dibagi sepuluh
bagian yang sama besar.
Untuk data tidak berkelompok
in  1
D i  nilai ke - , i  1,2,3,...,9
10
Untuk data berkelompok
 in 
 -F
Di  L 0  c 10  , i  1,2,3,...,9
 f 
 
 

Keterangan:
L0 = batas bawah kelas desil Di
F = jumlah frekuensi semua kelas sebelum kelas desil Di
f = frekuensi kelas desil Di

Tabel 3. Contoh Desil

Interval Kelas Nilai Tengah Frekuensi


(X)
9-21 15 3
22-34 28 4
35-47 41 4
48-60 54 8
61-73 67 12
74-86 80 23
87-99 93 6

Σf = 60

Keterangan :
 D3 membagi data 30%
 D7 membagi data 70%

12
Sehingga :
 D3 berada pada 48-60
 3.60 
 - 11 
D3  47,5  13 10   58,875
 8 
 
 
 D7 berada pada 74-86
 7.60 
 - 31 
D7  73,5  13 10   79,72
 23 
 
 

c. Persentil
Untuk data tidak berkelompok

in  1
Pi  nilai ke - , i  1,2,3,...,99
100
Untuk data berkelompok

 in 
 -F
Pi  L 0  c 100  , i  1,2,3,...,99
 f 
 
 

B. PELUANG
1. Pengertian Peluang
Peluang atau kebolehjadian atau dikenal juga sebagai probabilitas adalah cara untuk
mengungkapkan pengetahuan atau kepercayaan bahwa suatu kejadian akan berlaku atau
telah terjadi. Probabilitas juga dapat diartikan sebagai angka yang menunjukkan
kemungkinan terjadinya suatu kejadian. Suatu percobaan yang dilakukan dengan tidak
memperhatikan hasil yang akan diperoleh disebut tindakan acak dan kejadian yang
muncul akibat tindakan acak disebut kejadian acak. Misalnya kita melempar satu keeping
mata uang yang mempunyai dua sisi, yaitu sisi yang berangka dan sisi yang bergambar.
Hasil dari percobaan itu hanya ada dua, yaitu mungkin muncul angka atau muncl gambar.
Jadi peluang kejadian itu adalah angka dan gambar. Dari contoh diatas hasil yang

13
dimaksud adalah angka(banyaknya 1) dan banyaknya hasil yang mungkin ada dua, yaitu
angka atau gambar.
𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑 1
Jadi, nilai kemungkinan muncul angka = =2
𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛

2. Kaidah Pencacahan
a. Aturan Perkalian
Contoh :
Ada tiga tempat yang menjadi tujuan study tour (Pandaan, Singosari, dan Malang)
Dari Pandaan ke Malang terddapat banyak kemungkinan jalan yang dapat dilalui. Dari
pandaan ke singosari ada tiga jalan, sedang dari singosari ke Malang terdapat dua
jalan. Berapa kemungkinan jalan yang dapat dilalui?
Jawab:
P S M
1A 1B
2A 2B
3A 3B
b. Notasi Faktorial
n! = 1 x 2 x 3 x 4 .... x (n-2) x (n-1) x n atau
n! = n x (n-1) x (n-2) x .... x 4 x 3 x 2 x 1
Lambaxng n! (dibaca n faktorial)
Contoh:
3! = 3 x 2 x 1= 6
c. Permutasi
Cara menyusun secara urut (urutan diperhatikan)dari sebagian atau seluruh anggota
himpunan yang disediakan.
Contoh:
Tentukan banyaknya susunan 2 huruf yang dapat terjadi dari 4 huruf (a,b,c,d) yang
tersedia.

14
Jawab:
n=4, r=2
nPr = 4P2= n!= 4!= 12
(n-r)!2!
d. Kombinasi
Rumus
nCr =n!

r!(n!-r!)
Contoh :
Dari 5 siswa kelas 3 misalnya akan dipilh 2 orang untuk mengikuti lomba menyanyi.
Berapabanyak cara untuk memilihnya?

5C2= 5! = 10 cara
2!3!

3. Titik dan Ruang Sampel Suatu Kejadian


Ruang sampel dari suatu kejadian ditulis dengan symbol S. Ruang sampel adalah
himpunan yang anggotanya merupakan hasil yang mungkin dari suatu percobaan. Titik
sampel adalah anggota dari ruang sampel.
Contoh :
a. Dalam pelemparan sekepinguang logam, hasilnya mungkin muncul angka atau
mungkin muncul gambar. Dari pelemparan itu kita peroleh :
Ruang sampelnya adalah S = { A , G }
Titik sampelnya adalah A Dan G
b. Dalam pelemparan sebuah dadu bernomor 1 sampai dengan 6, maka kita peroleh :
Ruang sampel nya adalah S = {1,2,3,4,5,6}
Titik sampelnya adalah 1,2,3,4,5, dan 6

15
4. Menyusun Ruang Sampel
Contoh 1 :
Dalam pelemparan dua keeping uang logam.
a. Dengan diagram pohon
b. Dengan tabel
5. Peluang Suatu Kejadian
Rumus :P(A) = n(A)
N(S)
Keterangan:
P(A)= Nilai peluang kejadian A
n(A)= Banyaknya kejadian A
n(S)=Banyaknya anggota sampel kejadian
Contoh:
Sebuah dadu dilempar satu kali.
a.Hitunglah peluang munculnya mata dadu genap!
b.Hitunglah Peluang munculnya mata dadu komposit!
Jawab:
a. Banyaknya mata dadu genap 2,4,6, maka n(genap)= 3
Banyaknya hasil yang muncul dari mata dadu adalah 1,2,3,4,5,6, maka n(S)=6. Jadi,
P(Genap)=n(genap) = 3 / 6 = 1 / 2
n(S)
b. Banyaknya mata dadu komposit adalah 4 dan 6 ,maka n(komposit)= 6
Jadi, P(komposit)=n(Komposit) =2 / 6 = 1 / 3
n(S)
6. Frekuensi Harapan
F(A) = n x P(A)
Dimana F(A) = Frekuensi Harapan suatu kejadian
n =Banyaknya Percobaan
Contoh:
Pada pelemparan 3 mata uang logam sebanyak 240 kali . Tentukan F(A)
Jika

16
a.muncul dua gambar
b.Paling sedikit dua gambar
jawab
a.n(s)= 23= 8
n(A)=3
P(A)=3/8
F(A)=240 .3 =90 kali
b. n(S) = 8
n(A) = 4
P(A) =4/8 = ½
F(A) = 240 . ½ = 120 kali
7. Peluang Komplemen Suatu Kejadian
Kolmplemen dari kejadian A adalah himpunan semua anggota ruang sampel yang bukan
anggota dari kejadian A.
A1= S-A
n (A1)= n (S)- n (A)
n (A1) = n (S) - n(A)

n (S) n (S) n(S)


P(A1) = 1 – P(A)
8. Peluang Kejadian Majemuk
Suatu kejadian baru dapat dibentuk dari dua atau lebih kejadian yang lain dengan
menggunakan operasi antar himpunan. Operasi antar himpunan yang dimaksud adalah
operasi gabungan dan operasi irisan.
Misalnya pada percobaan melempar mata uang logam sebanyak dua kali.
A= kejadian muncukl angka
= {AA,AG,GA}
B= kejadian mncul gambar
= {AG,GA,GG}
Dari kejadian A dan B dapat dibentuk kejadian-kejadian baru sebagai berikut.
(i) Gabungan kejadian A dan B

17
Ditulis A ∪ B = {AA,AG,GA,GG}
Dibaca kejadian munculnya angka atau gaambar
(ii) irisan kejadian A dan B
Ditulis A ∩ B = {AG, GA}
Dibaca kejadian munculnya angka dan gambar.
a. Peluang Gabungan Dua Kejadian
peluang gabungan dua kejadian (kejadian A dan B) dalam ruang sampel S dapat
ditentukan menggunakan sifat-sifat gabungan dua himpunan .
P(A ∪ B) =P(A) + P(B) – P(A ∩ B)
b. Peluang Dua Kejadian yang Saling Bebas
Kejadian A dan B disebut dua kejadian yang saling bebas jika kejadian A tidak
tepengaruh oleh kejadian B atau sebaliknya B tidak terpengaruh oleh kejadian A.
Misalnya sebuah mata uang logam dan sebuah dadu dilempar bersama satu kali.
M= kejadian muncul mata ganjil pada dadu
N= kejadian muncul gambar pada mata uang
Kejadian munculnya gambar pada mata uang tidak terpengaruh oleh kejadian
munculnya mata ganjil pada pada dadu. Begitu juga kejadian munculnya gambar pada
uang. Oleh karena itu, kejadian M dan N saling bebas.
Rumus
P (M ∩ N) = P(M) . P(N)

18