Anda di halaman 1dari 10

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Pneumokoniosis
B. Diagnosis Pneumokoniosis
C. Jenis-jenis, Penyebab dan Gejala Pneumokoniosis
D. Faktor Resiko Lain yang Menyebabkan Pneumokoniosis
E. Upaya Pengendalian Pneumokoniosis
F. Upaya Pengobatan Pneumokoniosis

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap makhluk hidup memerlukan energi. Setiap makanan manusia


menghasilkan energi. Energi itu berasal dari makanan. Agar sari-sari makanan itu
dapat diubah menjadi enegrdi, maka makanan harus dioksidasi. Oksidasi ini
berlangsung di dalam sel. Hasil oksidasi adalah energi, dan sisa oksidasi berupa
karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O).

Dari persamaan ini, jelas bahwa karbondioksida dan uap air dilepas ke udara
bersama hembusan napas, sedang energi sebagian berupa panas untuk memelihara
suhu badan dan sebagian berupa energi yang berguna untuk melakukan kegiatan
tubuh.

Pernapasan adalah suaatu proses ganda yaitu terjadinya pertukaran gas di


dalam jaringan (pernasan dalam), yang terjadi di dalam paru-paru disebut pernapasan
luar. Pada pernapasan melalui paru-paru atau respirasi eksternal, oksigen dihisap
melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernapas, olsigen masuk melalui batang
tenggorokan atau trakea da pipa bronkhial ke alveoli, dan erat hubungannya dengan
darah didalam kapiler pulmonaris.

Saluran pernapasan pada manusia berhubungan dengan udara yang


dihirup.Udara yang dihirup tentu berasal dari lingkungan sekitar manusia berada.
Udara juga membawa partikelpartikel kecil (debu) yang mungkin memiliki potensi
berbahaya.

Dalam hal ini pekerja dengan lingkungan pekerjaan yang berdebu,baik debu
yang berbahaya dan tidak berbahaya. Debu Industri yang terdapat di udara dibagi 2,
yaitu partikel debu yang hanya sementara berada di udara (deposit particulate matter)
dan debu yang tetap berterbangan bersama udara dan tidak mudah mengendap
(Suspended particulate matter).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan penyakit pneumokoniosis ?

2
2. Bagaimana diagnosa dari penyakit pneumokoniosis ?
3. Apa saja jenis-jenis, penyebab dan gejala dari penyakit pneumokonoisis ?
4. Apa saja faktor resiko lain yang dapat menyebabkan penyakit pneumokoniosis ?
5. Bagaimana upaya pengendalian penyakit pneumokoniosis ?
6. Bagaimana upaya pengobatan penyakit pneumokoniosis ?

C. Tujuan

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit pneumokoniosis.


2. Mengetahui bagaimana diagnosa dari penyakit pneumokoniosis.
3. Mengetahui apa saja jenis-jenis, penyebab dan gejala dari penyakit pneumokonoisis.
4. Mengetahui apa saja faktor resiko lain yang dapat menyebabkan penyakit
pneumokoniosis.
5. Mengetahui bagaimana upaya pengendalian penyakit pneumokoniosis.
6. Mengetahui bagaimana upaya pengobatan penyakit pneumokoniosis.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Pneumokoniosis

Istilah pneumokoniosis berasal dari bahasa yunani yaitu “pneumo” berarti paru
dan “konis” berarti debu. Terminologi pneumokoniosis pertama kali digunakan untuk
menggambarkan penyakit paru yang berhubungan dengan inhalasi debu mineral.
Pneumokoniosis digunakan untuk menyatakan berbagai keadaan berikut:

1. Kelainan yang terjadi akibat pajanan debu anorganik seperti silika (silikosis), asbes
(asbestosis) dan timah (stannosis)
2. Kelainan yang terjadi akibat pekerjaan seperti pneumokoniosis batubara
3. Kelainan yang ditimbulkan oleh debu organik seperti kapas (bisinosis)

Istilah pneumokoniosis seringkali hanya dihubungkan dengan inhalasi debu


anorganik. Definisi pneumokoniosis adalah deposisi debu di dalam paru dan terjadinya
reaksi jaringan paru akibat deposisi debu tersebut.

International Labour Organization (ILO) mendefinisikan pneumokoniosis sebagai


suatu kelainan yang terjadi akibat penumpukan debu dalam paru yang menyebabkan
reaksi jaringan terhadap debu tersebut. Reaksi utama akibat pajanan debu di paru adalah
fibrosis (Susanto, 2011). Fibrosis adalah pembentukan struktur seperti skar yang halus
yang menyebabkan jaringan mengeras dan mengurangi aliran cairan melalui jaringan-
jaringan.

Istilah pneumokoniosis ini dibatasi pada kelainan reaksi non-neoplasma akibat debu
tanpa memasukkan asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan pneumonitis
hipersensitif walaupun kelainan tersebut dapat terjadi akibat pajanan debu dalam jangka
lama. Pneumoconiosis adalah penyakit paru-paru kronis yang disebabkan karena
menghirup berbagai partikel debu, khususnya ditempat kerja industri, untuk jangka waktu
yang lama. Oleh karena itu juga dikatakan penyakit paru kerja, yang merupakan bagian
tertentu dari penyakit terkait kerja, yang terkait terutama untuk yang terkena zat
berbahaya.

4
B. Diagnosis Pneumokoniosis

Diagnosis pneumokoniosis tidak dapat ditegakkan hanya dengan gejala klinis.


Ada tiga kriteria mayor yang dapat membantu untuk diagnosis pneumokoniosis.

1. Pajanan yang signifikan dengan debu mineral yang dicurigai dapat menyebabkan
pneumokoniosis dan disertai dengan periode laten yang mendukung. Oleh karena itu,
diperlukan anamnesis yang teliti mengenai kadar debu di lingkungan kerja, lama
pajanan dan penggunaan alat pelindung diri serta kadang diperlukan pemeriksaan
kadar debu di lingkungan kerja. Gejala seringkali timbul sebelum kelainan radiologis
seperti batuk produktif yang menetap dan atau sesak napas saat aktivitas yang
mungkin timbul 10-20 tahun setelah pajanan.
2. Gambaran spesifik penyakit terutama pada kelainan radiologi dapat membantu
menentukan jenis pneumokoniosis. Gejala dan tanda gangguan respirasi serta
abnormalitas faal paru sering ditemukan pada pneumokoniosis tetapi tidak spesifik
untuk mendiagnosis pneumokoniosis.
3. Tidak dapat dibuktikan ada penyakit lain yang menyerupai pneumokoniosis.
Pneumokoniosis kemungkinan mirip dengan penyakit interstisial paru difus seperti
sarkoidosis, idiophatic pulmonary fibrosis (IPF) atau interstitial lung disease (ILD)
yang berhubungan dengan penyakit kolagen vascular. Beberapa pemeriksaan
penunjang diperlukan untuk membantu dalam diagnosis pneumokoniosis yaitu
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan faal paru dan analisis debu penyebab. (Susanto,
2011)

C. Jenis-jenis, Penyebab dan Gejala Pneumokoniosis


1. Jenis-jenis Pneumokoniosis dan Penyebabnya

Penamaan pneumokoniosis tergantung pada debu penyebabnya, pajanan asbes


menyebabkan asbestosis, debu silika berhubungan dengan silikosis, debu batubara
menyebabkan pneumokoniosis batubara dan lain-lain.

Adapun beberapa jenis umum dari pneumokoniasis adalah:

a. Coal Workers Pneumoconiasis (Pneumokoniosis Pekerja Batubara)

Juga dikenal sebagai penyakit paru-paru hitam, hal ini disebabkan


karena sedang terkena partikel karbon dari batubara, lampu hitam, atau grafit

5
untuk jangka waktu lama, dan biasanya terjadi antara penambang batu bara
dan orang-orang yang menangani batubara. Hal ini mirip dengan efek
merokok untuk jangka panjang silikosis waktu dan juga, disebabkan oleh
menghirup debu silika.. Ketika debu batu bara yang dihirup untuk jangka
waktu yang lama, itu menumpuk di paru-paru, dimana tubuh tidak mampu
menghapus. Hal ini menyebabkan radang paru-paru, yang kemudian
mengakibatkan fibrosis bersama dengan lesi nodular terbentuk di paru-paru,
dan akhirnya, pusat-pusat lesi ini bahkan dapat menjadi nekrotik karena
iskemia,menyebabkan rongga ukuran besar di paru-paru.

Meskipun awalnya, ini jenis pneumokoniosis mungkin terjadi di


dalamnya bentuk ringan, disebut sebagai anthracosis, yang biasanya tanpa
gejala, dan terjadi antara orang-orang yang mendiami daerah perkotaan karena
polusi udara, namun bentuk yang lebih serius pneumokoniosis pekerja
batubara, seperti 'pneumokoniosis serta pekerja batubara rumit' sederhana
pneumokoniosis pekerja batubara terjadi ketika seseorang terkena sejumlah
besar karbon atau debu batu bara.

Karena tingkat penurunan debu di tambang batubara bawah tanah serta


peningkatan pertambangan opencast telah mengakibatkan penurunan
pneumokoniosis pekerja batubara.

b. Asbestosis

Hal ini disebabkan karena inhalasi mineral berserat yang terbuat dari
asbes. Paparan dimulai dengan baggers, yang menangani asbes dengan
mengumpulkan mereka dan kemasan mereka, untuk pekerja yang membuat
produk dari mereka seperti bahan isolasi, semen, dan ubin, dan orang-orang
bekerja di industri perkapalan, dan pekerja konstruksi.. Biasanya diperlukan
waktu sekitar 20 tahun, atau lebih, untuk gejala pneumokoniosis asbes untuk
mewujudkan itu sendiri. Dan gambar di bawah in adalah contoh absestosis.

c. Silicosis

Pneumokoniosis jenis ini terjadi pada orang yang menangani silika,


umumnya kuarsa, yang ditemukan dalam batu pasir, pasir, granit, batu tulis,
beberapa jenis tanah liat, dan sebagainya.. Orang-orang yang memiliki jumlah

6
yang paling terkena silika adalah mereka yang membuat produk gelas dan
keramik, pekerja tambang, pekerja pengecoran, pabrik silika, pembangun
terowongan, penambang, dan sandblasters. Silikosis mengakibatkan fibrosis
dalam paru-paru, yang semakin meningkat, dan merusak fungsi paru-paru..
Hal ini diperburuk pada orang yang merokok. Di bawah ini adalah contoh
gambar orang yang terkena silikosis.

d. Pneumokoniosis Jinak

Adalah suatu penyakit yang terjadi akibat adanya sejumlah debu di


dalam paru-paru yang sifatnya jinak. Debu yang terhirup adalah debu di udara
yang pada proses inhalasi tertahan di paru-paru. Jumlah debu yang tertimbun
tergantung kepada lamanya pemaparan, konsentrasi debu di dalam udara yang
terhirup, volume udara yang terhirup setiap menitnya dan sifat pernafasannya.
Pernafasan yang dalam dan lambat, cenderungakan mengendapkan lebih
banyak debu daripada pernafasan yang cepat dan dangkal. Debu di dalam
paru-paru menyebabkan suatu reaksi jaringan, yang jenisnya dan lokasinya
bervariasi tergantung jenis debunya.

2. Gejala Pneumokoniosis

Gejala sering kali timbul sebelum kelainan radiologis seperti : batuk produktif
yang menetap dan sesak nafas saat beraktifitas (Susanto, 2011).

D. Faktor Resiko Lain yang Menyebabkan Pneumokoniosis


1. Allergen (serbuk, debu, kulit, dan jamur)
2. Stress emosional
3. Aktivitas fisik yang berlebihan
4. Polusi udara
5. Infeksi saluran nafas
6. Kegagalan program pengobatan yang dianjurkan

E. Upaya Pengendalian Pneumokoniosis


Pneumokoniosis dapat dicegah dengan menghindari debu pada lingkungan kerja.
Pekerja harus menjalani pemeriksaan foto dada tiap 4-5 tahun sehingga penyakit ini dapat
ditemukan pada stadium awal. Jika ditemukan penyakit, maka pekerja tersebut harus

7
dipindahkan ke daerah dimana kadar debunya rendah, untuk menghindari
terjadinya fibrosis masif progresif.

Regulasi dalam pekerjaan dan kontrol pajanan debu telah dilakukan sejak lama
terutama di negara industri dan terus dilakukan dengan perbaikan-perbaikan. Pada bentuk
pneumokoniosis subakut dengan manfaat yang didapat untuk efek jangka panjangnya
terutama jika bahan penyebab masih ada di paru. Menjaga kesehatan dapat dilakukan
seperti

a. Berhenti merokok
b. Pengobatan adekuat dilakukan bila dicurigai terdapat penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK)
c. Gunakan APD seperti Masker
d. Pencegahan infeksi dengan vaksinasi dapat dipertimbangkan

F. Upaya Pengobatan Pneumokoniosis

Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, selain untuk mengobati
komplikasinya (gagal jantung kanan atau tuberkulosis paru). Jika terjadi gangguan
pernapasan, maka diberikan bronkodilator dan ekspektoran.

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pneumokoniosis adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh inhalasi debu


anorganik yang bersifat kronik khususnya di tempat kerja untuk jangka waktu yang lama
sehingga disebut penyakit paru kerja karena di dapatkan ketika bekerja di tempat berdebu.

Terpapar debu anorganik yang terus menerus menyebabkan akumulasi debu-debu


organik pada paru-paru yang menyebabkan terbentuknya jaringan fibrosis pada paru-paru
dan menyebabkan kekakuan sehingga penurunan peregangan paru. Pneumokoniosis di
tandai dengan sesak nafas, batuk kronis, sianosis dan nadi yang cepat sebagai
konsekuensi terhadap kekurangan O2.

B. Saran

Sebaiknya setiap orang dapat berhati-hati dalam bekerja dan melakukan perlindungan
diri terhadap keselamatan kerja sehingga dapat mencegah timbulnya penyakit paru kerja
ini(pneumokoniosis), seperti menggunakan masker saat bekerja dan perlindungan diri
lain sehingga terhindar dari partikel-partikel yang dapat mengganggu kesehatan. Dan
pihak pemilik industri hendaknya memberikan standar keamaan bagi para pekerjanya
untuk meminimalisir kasus penyakit paru kerja ini.

9
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuni,S.2013. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38588/4/
Chapter%20II.pdf, diakses pada minggu, 06 September 2015.

Wulandari, Ika. 2013. Karya Tulisku. 01/karya-tulisku_31.html, diakses pada


minggu, 06 September 2015.

Fatikhah, Viena. 2013. Pneumokoniosis. pneumokoniosis.html, diakses pada minggu,


06 September 2015.

Widyastuti, Desy. 2013. Askep Pneumokoniasis. co.id/2013/06/askep-


pneumokoniasis.html, diakses pada minggu, 06 September 2015.

10

Anda mungkin juga menyukai