Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional
yang ditujukan pada masyarakat dengan penekanan kelompok risiko tinggi
dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan rehabilitasi dengan menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien
sebagi mitra dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan
keperawatan (CHN, 1977). Keperawatan komunitas ditujukan untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan
melalui intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai
masalah keperawatan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Efendi,
2009).
Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolisme yang merupakan suatu
kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan
kadar glukosa darah di atas nilai normal. Penyakit ini disebabkan gangguan
metabolisme glukosa akibat kekurangan insulin baik secara absolut maupun
relatif. (Kemenkes, 2013). Data World Health Organization (WHO) telah
mencatat Indonesia dengan populasi 230 juta jiwa, menduduki kedudukan
keempat di dunia dalam hal jumlah penderita diabetes terbesar setelah Cina,
India, dan Amerika Serikat. Bahkan Kementerian Kesehatan menyebut
prevalensi diabetes mencapai 14,7 persen di perkotaan dan 7,2 persen di
pedesaan. Dengan asumsi penduduk berumur di atas 20 tahun pada 2010
mencapai 148 juta jiwa, diperkirakan ada 21,8 juta warga kota dan 10,7 juta

1
warga desa menderita diabetes (http://health.liputan6.com. Diakses 25 April
2015).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013,
prevalensi diabetes dan hipertiroid di Indonesia berdasarkan wawancara yang
terdiagnosis dokter sebesar 1,5 persen dan 0,4 persen. DM terdiagnosis dokter
atau gejala sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter
tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi
Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang
terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%),
Sulawesi Utara (3,6%), dan Nusa Tenggara Timur 3,3 persen. Prevalensi
Diabetes Mellitus berdasarkan diagnosis dokter dan gejala meningkat sesuai
dengan bertambahnya umur, namun mulai umur ≥ 65 tahun cenderung
menurun. (Kemenkes, 2013).
Melihat latar belakang diatas, maka penulis tertarik menyusun sebuah
makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Komunitas pada kelompok
Diabetes Mellitus.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengkajian komunitas pada kelompok Diabetes Melitus.
2. Apa saja diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kelompok
Diabetes Melitus.
3. Bagaimana intervensi keperawatan pada kelompok Diabetes Melitus.
4. Bagaimana implementasi dan evaluasi keperawatan pada kelompok
Diabetes Melitus.
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengkajian komunitas pada kelompok Diabetes Mellitus.
2. Mengetahui diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kelompok
Diabetes Mellitus.

2
3. Mengetahui intervensi keperawatan pada kelompok Diabetes Mellitus.
4. Mengetahui implementasi dan evaluasi keperawatan pada kelompok
Diabetes Mellitus.

3
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS
A. Pengkajian
Pengkajian menggunakan pendekatan community as partner meliputi : data
inti dan data sub sistem.
1. Data Inti Komunitas Meliputi ;
a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Lokasi : propinsi,kabupaten/kotamadya,kecamatan,kelurahan,RW,RT,
Luas wilayah
b. Data demografi
Jumlah penderita DM di wilayah tersebut Berdasarkan distribusi jenis
kelamin, kelompok penderita DM (Anak-anak, Remaja, Dewasa,
Lansia dan Ibu hamil), Berdasarkan agama, suku bangsa, Jumlah
penderita DM gangren dan Status perkawinan
2. Data Sub Sistem
a. Data Lingkungan Fisik
1) Sumber air dan air minum
- Penyediaan Air bersih (PAM, Sumur, Sungai), Pengolahan air
minum (Masak/Tidak dimasak)
2) Saluran pembuangan air/sampah
- Kebiasaan membuang sampah (Diangkut petugas/Dibuang
sembarangan)
- Pembuangan air limbah
Got/parit/Sungai
- Keadaan pembuangan air limbah
Baik/lancar, Kotor

4
3) Jamban
- Kepemilikan jamban (Memiliki jamban/Tidak memiliki jamban)
- Macam jamban yang dimiliki
Septitank/Disungai
- Keadaan jamban
Bersih/Kotor
4) Keadaan rumah
- Tipe rumah
Tipe A/permanen, Tipe B/semipermanen, Tipe C/tidak
permanen
- Status rumah
Milik rumah sendiri/Kontrak
- Lantai rumah
Tanah, Papan, Tegel/keramik
- Ventilasi
Ada atau Tidak ada
- Penerangan rumah oleh matahari
Baik/Cukup
5) Halaman rumah
- Kepemilikan pekarangan
Memiliki atau Tidak memiliki
- Pemanfaatan pekarangan
Ya atau Tidak
b. Fasilitas Umum dan Kesehatan
1) Fasilitas umum
- Sarana Kegiatan Kelompok
Karang taruna, Pengajian, Ceramah agama atau PKK

5
- Tempat perkumpulan umum
Balai desa, Masjid/Mushola
2) Fasilitas Kesehatan
- Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Puskesmas, Rumah Sakit, Para Dokter Swasta, Praktek
Kesehatan Lain
- Kebiasaan check up kesehatan
Rutin tiap bulan atau Jarang
c. Ekonomi
1) Karekteristik Pekerjaan
PNS/ABRI,Pegawai swasta, Wiraswasta , Buruh tani/pabrik dan
lain-lain
2) Penghasilan Rata-Rata Perbulan
< dari UMR, UMR , > dari UMR
3) Pengeluaran Rata-Rata Perbulan
4) Kepemilikan usaha
Toko, Warung makanan, UKM, Tidak punya
d. Keamanan dan Transportasi
1) Keamanan
- Diet makan
Kebiasaan makan makanan manis , Kebiasaan makan makanan
berlemak
- Kepatuhan terhadap diet
Patuh, Kadang-kadang, Tidak patuh
- Kebiasaan berolah raga
Sering, Kadang-kadang, Tidak pernah
- Kebiasaan sehari-hari

6
 Memakai alas kaki (Setiap saat/Saat di luar rumah)
 Jarang memakai
- Kebiasaan mencuci kaki sebelum tidur
Sering, Kadang-kadang, Tidak pernah
2) Transportasi
- Fasilitas transportasi : Jalan Raya, Angkutan Umum, Ambulans
- Alat transportasi yang dimiliki
Sepeda, Motor, Mobil dan Lain-lain/ becak
- Penggunaan Sarana Transportasi Oleh Masyarakat
Angkutan umum , Kendaraan pribadi
e. Politik dan pemerintahan
1) Struktur organisasi
Terdapat kepala desa dan perangkatnya, Ada organisasi karang
taruna
2) Kelompok layanan kepada masyarakat (pkk, karang taruna, panti,
posyandu)
3) Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan
4) Kebijakan pemerintah khusus untuk penyakit DM
5) Peran serta partai dalam pelayanan kesehatan
f. Sistem Komunikasi
1) Fasilitas komunikasi yang ada
Radio , TV , Telepon/handphone, Majalah/koran
2) Fasilitas komunikasi yang menunjang untuk kelompok DM
- Poster tentang diet DM
- Pamflet tentang penanganan DM
- Leaflet tentang penanganan DM
3) Kegiatan yang menunjang kegiatan DM

7
- Penyuluhan oleh kader dari masyarakat dan oleh petugas
kesehatan dari Puskesmas
g. Pendidikan
1) Distribusi pendudukan berdasarkan tingkat pendidikan formal
SD, SLTP, SLTA, Perguruan tinggi
h. Rekreasi
Tempat wisata yang biasanya dikunjungi

8
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Ketidakpatuhan terhadap diit berhubungan dengan Pengetahuan yang
kurang ditandai dengan :
Ds : dari hasil wawancara didapatkan data bahwa Tingkat pendidikan
50% warga yang tidak patuh menjalankan diet
Do :
- penyuluhan kader dari masyarakat dan petugas kesehatan dari
puskesmas jarang ada
- kebiasaan masyarakat makan makanan yang manis sebanyak >50%
2. Ketidakpatuhan masyarakat/penderita DM melaksanakan check up
kesehatan berhubungan dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang
kurang ditandai dengan:
Ds: dari hasil wawancara didapatkan data yaitu ketidak patuhan
masyarakat untuk melaksanakan check up kesehatan sebanyak >50 %
Do:
- Tingkat pendidikan Rendah
- Rata- rata Penghasilan < UMR
3. Resiko peningkatan penderita ganggren berhubungan dengan Kurangnya
pengetahuan penderita DM tentang pencegahan terjadinya luka ganggren
di tandai dengan:
Ds: hasil wawancara didapatkan data bahwa jumlah penderita DM >50 %
Do:
- Jumlah penderita DM dengan ganggren sebanyak 30%
- Tingkat pendidikan rendah
- Sebanyak 70%) penderita DM tidak check up secara rutin
- Kebiasaan sehari hari penderita DM paling banyak ditemui jarang
memakai alas kaki saat keluar rumah

9
PRIORITAS MASALAH
Perubahan Penyelesaian Skor
Pentingnya
Diagnosa positif untuk untuk
penyelesaian
keperawatan penyelesaian di peningkatan
masalah
komunitas kualitas hidup
1 : rendah 0 : tidak ada 0 : tidak ada
2 : sedang 1 : rendah 1 : rendah
3 : tinggi 2 : sedang 2 : sedang
3 : tinggi 3 : tinggi

C. INTERVENSI
1. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap diit berhubungan dengan
Pengetahuan yang kurang.
a. Bina hubungan saling percaya dengan masyarakat
b. Lakukan pendidikan kesehatan tentang diit untuk penderita DM
c. Berikan penyuluhan tentang pentingnya kepatuhan pengobatan
terhadap diit bagi penderita DM
2. Ketidakpatuhan masyarakat/penderita DM melaksanakan check up
kesehatan berhubungan dengan tingkat pendidikan dan penghasilan yang
kurang
a. Berikan penyuluhan tentang pentingnya check up gula darah bagi
penderita DM
b. Lakukan Check up gula darah gratis pada penderita DM
c. Berikan penyuluhan tentang faktor resiko tentang ketidakpatuhan
penderita DM tentang check up gula darah

10
3. Resiko peningkatan penderita ganggren pada masyarakat berhubungan
dengan Kurangnya pengetahuan penderita DM tentang pencegahan
terjadinya luka ganggren .
a. Berikan health education pada penderita DM tentang cara pencegahan
terjadinya luka gangren, dan penyebab terjadinya luka ganggren
b. Ajarkan kepada penderita DM maupun keluarganya tentang perawatan
luka ganggren
D. Implementasi
1. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap diit berhubungan dengan
Pengetahuan yang kurang
a. Membina hubungan saling percaya dengan masyarakat
b. Melakukan pendidikan kesehatan tentang diit untuk penderita DM
c. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya kepatuhan pengobatan
terhadap diit bagi penderita DM
2. Ketidakpatuhan masyarakat/penderita DM melaksanakan check up
kesehatan berhubungan dengan faktor penghasilan.
a. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya check up gula darah bagi
penderita DM
b. Melakukan Check up gula darah gratis pada penderita DM
c. Memberikan penyuluhan tentang faktor resiko tentang ketidakpatuhan
penderita DM tentang check up gula darah
3. Resiko peningkatan penderita ganggren pada masyarakat berhubungan
dengan Kurangnya pengetahuan penderita DM tentang pencegahan
terjadinya luka ganggren
a. Memberikan health education pada penderita DM tentang cara
pencegahan terjadinya luka gangren, dan penyebab terjadinya luka
ganggren

11
b. Mengajarkan kepada penderita DM maupun keluarganya tentang
perawatan luka ganggren
E. Evaluasi
Setelah implementasi dilaksanakan, langkah selanjutnya melakukan evaluasi
sesuai dengan tujuan khusus yang telah dirumuskan yaitu :
1. Masyarakat mengetahui tentang diit untuk penderita DM
2. Masyarakat mengetahui tentang pentingnya kepatuahan pengobatan
3. Masyarakat penderita DM mengetahui cara pencegahan terjadinya luka
ganggren
4. Masyarakat penderita DM mengerti cara perawatan luka ganggren
5. Masyarakat penderita DM mengetahui penyebab terjadinya luka ganggren
6. Masyarakat penderita DM mengetahui tentang pentingnya check up gula
darah
7. Masyarakat penderita DM mengetahui tentang resiko ketidakpetuhan
untuk melaksanakan check up gula darah

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari makalah yang saya buat, dapat ditarik kesimpulan bahwa
penyakit Diabetes Militus (DM) ini sangat brrbahaya dan menakutkan.
Banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit
Diabetes Militus. Seperti contohnya, Obesitas (berat badan berlebih),faktor
genetis, pola hidup yang tidak sehat (jarang berolah raga), kurang tidur, dan
masih banyak yang lainnya.
B. Saran
Bagi penderita diabetes melitus atau kencing manis sebaiknya menjaga
pola makan dan diet agar kadar gula dalam darah bisa terkontrol dengan baik.
Selain menjaga pola makan dan diet penderita DM juga bisa menggunakan
kombinasi obat anti diabetes seperti metformin dengan glibenclamid untuk
mengetahui efek penurunannya terhadap kadar gula darah.

13
DAFTAR PUSTAKA

Arjatmo Tjokronegoro. (2002). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2.


Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Carpenito, Lynda Juall. (1997). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih
bahasa YasminAsih. Jakarta : EGC

Doenges, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan


dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa.
(1999). Jakarta : EGC.

Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut
jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

R, Fallen. Catatan Kuliah Keperawatan Komunitas. (2010). Yogyakarta: Nuha


Medika

http://lizanurviana.blog.com/2010/11/28/askep-komunitas-pada-diabetes-
melitus/diakses pada tanggal 06 oktober 2019

14