Anda di halaman 1dari 33

INFORMED CONSENT

1. Apakah informed consent itu?

Informed consent atau persetujuan tindakan medis/kedokteran adalah

§ Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008.

Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat, setelah mendapat penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
terhadap pasien.

§ Konsil Kedokteran Indonesia.

Pernyataan sepihak pasien atau yang sah mewakilinya, yang isinya berupa persetujuan atas
rencana tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang diajukan oleh dokter atau dokter gigi,
setelah menerima informasi yang cukup untuk dapat membuat persetujuan atau penolakan.

§ Sofwan Dahlan.

Pernyataan sepihak oleh pasien, atau dalam hal pasien tidak berkompeten oleh orang yang
berhak mewakilinya, yang isinya berupa persetujuan kepada dokter untuk melakukan suatu
tindakan medis sesudah orang tersebut diberi informasi secukupnya mengenai tindakan medis
yang akan dilakukan.

Apabila dicermati pada definisi dari Permenkes, dan KKI, maka dapat disimpulkan bahwa
persetujuan oleh keluarga terdekat atau yang sah mewakilinya adalah merupakan sebuah
pernyataan alternatif (menggunakan kata “atau”), padahal sebenarnya tidak demikian.
Persetujuan oleh keluarga tersebut seharusnya bersifat kondisional, artinya berlaku hanya apabila
ada persyaratan tertentu, yaitu apabila pasien tidak berkompeten ( belum dewasa, atau tidak sehat
akal), sehingga definisi dari Sofwan Dahlan rasanya lebih tepat.

Sedangkan arti “berkompeten” adalah bahwa pasien tersebut mampu untuk melakukan perbuatan
hukum (dalam hal ini membuat pernyataan yang berakibat hukum).

Kriteria seseorang disebut berkompeten adalah :

- Telah dewasa yaitu berumur 21 tahun atau lebih ( menurut hukum perdata), atau belum 21
tahun tetapi sudah pernah menikah, dan

- Sehat akalnya, yaitu tidak terganggu kesadaran fisiknya, mampu berkomunikasi secara
wajar, tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental, dan tidak mengalami
penyakit mental sehingga mampu membuat keputusan secara bebas.
Konsil Kedokteran Indonesia memberi patokan umur kompetensi adalah 18 tahun, yaitu
mengacu pada UU Perlindungan anak, namun Permenkes 290 tahun 2008 mengacu pada
ketentuan hukum perdata.

Informasi yang diberikan harus memiliki kualitas dan kuantitas yang cukup bagi pasien yang
awam di bidang medis, untuk dijadikan landasan/ dasar untuk membuat keputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan berupa persetujuan ataupun penolakan tindakan medis yang diusulkan
dokter.

2. Apa latar belakang perlunya informed consent?

Perlunya informed consent dilatarbelakangi oleh hal-hal dibawah ini ( Sofwan Dahlan, 2000) :

- Tindakan medis merupakan upaya yang penuh dengan ketidak-pastian, dan hasilnyapun
tidak dapat diperhitungkan secara matematis.

- Hampir semua tindakan medis memiliki risiko, yang bisa terjadi dan bisa juga tidak
terjadi.

- Tindakan medis tertentu sering diikuti oleh akibat ikutan yang sifatnya tidak
menyenangkan bagi pasien. Sebagai contoh, operasi pengangkatan rahim pasti akan diikuti oleh
kemandulan.

- Semua risiko tersebut jika benar-benar terjadi akan ditanggung dan dirasakan sendiri oleh
pasien, sehingga sangatlah logis bila pasien sendirilah yang paling utama untuk dimintai
persetujuannya.

- Risiko yang terjadi ataupun akibat ikutannya sangat mungkin sulit atau bahkan tidak
dapat diperbaiki.

- Semakin kuatnya pengaruh pola hidup konsumerisme, walaupun harus diingat bahwa
otonomi pasien dibatasi oleh otonomi profesi.

3. Apakah landasan dari informed consent?

a. Landasan Filosofis

Adanya doktrin “ A man is the master of his own body” yang bersumber pada hak asasi manusia,
yaitu “ the right to self determination”, atau hak untuk menentukan nasibnya sendiri, adalah
landasan filosofis dari informed consent.
Berdasarkan doktrin tersebut tindakan apapun yang sifatnya adalahoffensive touching (termasuk
tindakan medis) harus mendapat persetujuan lebih dahulu dari yang memiliki tubuh. Sehingga
tindakan medis tanpa informed consent secara filosofis dianggap melanggar hak, meskipun
tujuannya baik serta demi kepentingan pasien.

b. Landasan Etika

Landasan etika dari informed consent adalah 4 prinsip dasar moral, yaitu :

o Beneficence

o Non maleficence

o Autonomy

o Justice

Dalam hal ini informed consent adalah perwujudan dari prinsipautonomy

c. Landasan Hukum

Peraturan perundangan yang menjadi landasan hukum bagi pelaksanaan informed consent adalah
:

o UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (pasal 45)

Non- selective ( berlaku untuk semua tindakan medis)

Harus didahului dengan penjelasan yang cukup sebagai landasan bagi pasien untuk mengambil
keputusan

Dapat diberikan secara tertulis atau lisan ( dapat dengan ucapan ataupun anggukan kepala).

Untuk tindakan medis berisiko tinggi harus diberikan secara tertulis.

Dalam keadaan emergensi tidak diperlukan informed consent, tetapi sesudah sadar wajib
diberitahu dan diminta persetujuan.

Ditandatangani oleh yang berhak

Disini yang dimaksud tindakan medis berisiko tinggi adalah tindakan bedah dan tindakan
invasif lainnya.

o UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, pasal 56

o UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit, pasal 32 (k)

o Peraturan Menteri Kesehatan RI No 290/MENKES/PER/III/ 2008


4. Apakah fungsi informed consent?

Pada hakekatnya informed consent berfungsi sebagai :

a. Bagi pasien, merupakan media untuk menentukan sikap atas tindakan medis yang
mengandung risiko atau akibat ikutan.

b. Bagi dokter, merupakan sarana untuk mendapatkan legitimasi (pembenaran, atau


pengesahan) atas tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien, karena tanpa informed
consent maka tindakan medis dapat berubah menjadi perbuatan melawan hukum.
Denganinformed consent maka dokter terbebas dari tanggungjawab atas terjadinya risiko atau
akibat ikutan, karena telah diinformasikan didepan, sedangkan apabila tanpa informed
consent maka risiko dan akibat ikutan menjadi tanggungjawab dokter.

Meskipun demikian, jangan disalah artikan bahwa informed consentdapat melepaskan dokter
dari tanggungjawab hukum atas terjadinya malpraktik, sebab malpraktik adalah masalah lain
yang erat kaitannya dengan mutu tindakan medis yang tidak sesuai dengan standar profesi.

5. Tindakan medis apa saja yang memerlukan informed consent?

Mengacu pada UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dan Peraturan Menteri
Kesehatan No. 290 Tahun 2008, maka semua tindakan medis/kedokteran harus mendapatkan
persetujuan dari pasien, jadi sifatnya adalah non-selective. Hanya disebutkan bahwa tindakan
medis yang berisiko tinggi harus mendapatkan informed consent secara tertulis (written consent).

Pada keadaan emergensi atau penyelamatan jiwa maka tidak diperlukaninformed consent. Dalam
konteks praktik dilapangan informed consenttetap merupakan hal yang penting, namun tidak
boleh menjadi penghalang bagi tindakan penyelamatan jiwa.

Sedangkan pada kasus pasien anak-anak, tindakan medis tetap dapat dilakukan oleh dokter
walaupun tanpa persetujuan orang tua dengan syarat :

a. Tindakan medis yang akan dilakukan harus merupakan tindakan medis terapetik, bukan
eksperimental.

b. Tanpa tindakan medis tersebut, anak akan mati, dan


c. Tindakan medis tersebut memberikan harapan atau peluang pada anak untuk hidup normal,
sehat dan bermanfaat.

6. Siapa yang bertanggungjawab untuk memberikan informasi? Apa isi/materi informasinya,


dan bagaimana cara memberikan informasi tersebut?

Tanggungjawab memberikan informasi :

Harus difahami sungguh-sungguh, bahwa :

a. Tanggungjawab memberikan informasi sebenarnya berada pada dokter yang akan


melakukan tindakan medis, karena hanya dia sendiri yang tahu persis tentang masalah kesehatan
pasien, hal-hal yang berkaitan dengan tindakan medis tersebut, dan tahu jawabannya apabila
pasien bertanya.

b. Tanggungjawab tersebut memang dapat didelegasikan kepada dokter lain, perawat, atau
bidan, hanya saja apabila terjadi kesalahan dalam memberikan informasi oleh yang diberi
delegasi, maka tanggungjawabnya tetap pada dokter yang memberikan delegasi.

Oleh karena itu, hendaknya para dokter hanya mendelegasikan jika sangat terpaksa. Dan itupun
hanya kepada tenaga kesehatan yang tahu betul tentang problem kesehatan pasien, sehingga
dapat memberikan jawaban yang tepat apabila ada pertanyaan dari pasien.

Dibeberapa negara maju, tanggungjawab memberikan informasi ini merupakan tanggungjawab


yang tidak boleh didelegasikan. ( non-delegable-duty)

Materi/isi informasi yang harus disampaikan :

a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis/kedokteran tersebut

b. Tujuan tindakan medis/kedokteran yang akan dilakukan

c. Alternatif tindakan lain, dan risikonya

d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan

e. Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan

f. (perkiraan biaya)

Cara menyampaikan informasi :


Informasi cukup disampaikan secara lisan, supaya bisa terjalin komunikasi dua arah (tanya-
jawab). Bisa ditambah dengan alat bantu, brosur, atau menggunakan media informasi lain.
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kondisi pasien, sehingga mudah dipahami oleh pasien.
Sebelum penjelasan ditutup, buka sesi tanya-jawab, dan pastikan pemahaman pasien dengan
mengajukan beberapa pertanyaan.

Penjelasan yang diberikan tersebut, dicatat dalam berkas rekam medis pasien, dengan
mencantumkan, tanggal,waktu, dan nama yang menerima informasi, disertai tandatangannya.

Dalam hal pasien menolak untuk menerima informasi, maka dokter dapat memberikan informasi
tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai
saksi (Permenkes 290 th 2008).

7. Siapa yang berhak untuk memberikan informed consent, dan bagaimana cara
memberikannya?

Hak untuk memberikan informed consent adalah sebagai berikut :

a. Untuk pasien dewasa dan sehat akal adalah pasien yang bersangkutan.

b. Untuk pasien anak-anak adalah keluarga terdekat atau walinya

c. Untuk pasien tidak sehat akal (walau ia sudah dewasa) adalah keluarga atau wali, atau
kuratornya.

d. Untuk pasien yang sudah menikah adalah pasien yang bersangkutan, kecuali untuk
tindakan medis tertentu harus disertai persetujuan pasangannya, yaitu untuk tindakan yang
mempunyai pengaruh bukan saja terhadap pasien, namun juga terhadap pasangannya sebagai
satu kesatuan yang utuh, dan akibatnya irreversible, Sebagai contoh adalah
operasi tubectomi atau vasectomi, dalam hal operasi tersebut, maka bukan saja si istri atau si
suami saja yang tidak akan mempunyai keturunan, tetapi adalah keduanya sebagai suatu
pasangan. Pengecualian ini tidak berlaku untuk tindakan yang sifatnya terapetik karena penyakit
pasien. Sebagai contoh adalah operasi mengangkat rahim karena kanker rahim, maka pasien
tidak perlu minta persetujuan suaminya untuk memberikan informed consent.

Cara pasien memberikan informed consent :

Informed consent dapat diberikan oleh pasien atau keluarganya jika pasien tidak berkompeten
melalui tiga macam cara, yaitu :

a. Terucap ( oral consent)


b. Tersurat ( written consent)

c. Tersirat ( implied consent)

Semua cara tersebut sah, hanya saja untuk tindakan medis berisiko tinggi, harus diberikan secara
tersurat/tertulis.

Untuk informed consent yang tidak tertulis, dibatasi untuk tindakan-tindakan medis yang :

a. Risikonya kecil

b. Ada saksi ( misalnya perawat, bidan, dll) yang melihat proses pemberian informasi.

c. Dicatat dalam rekam medis pasien dengan mencantumkan tanggal, waktu, dan nama
penerima informasi serta saksi.

8. Apakah materi dari written consent?

Redaksinya pada hakekatnya adalah bebas, sesuai ketentuan institusi kesehatan yang
mengeluarkannya, namun harus mengandung hal-hal sebagai berikut :

a. Pengakuan atau pernyataan oleh pasien atau walinya bahwa :

- Ia telah diberi informasi oleh dokter.....

- Ia telah memahami sepenuhnya informasi tersebut

- Ia, setelah memperoleh informasi dan memahami, kemudian memberikan persetujuan


kepada dokter........untuk melakukan tindakan medis.

b. Tandatangan pasien atau walinya

Tandatangan dokter yang memberi informasi mestinya tidak perlu mengingat informed
consent adalah sebuah pernyataan sepihak dari pasien. Demikian pula tandatangan saksi. Sebagai
contoh adalah kwitansi yang merupakan pernyataan sepihak dari seseorang yang telah menerima
uang, maka cukup yang bersangkutan yang menandatangani.

9. Apakah syarat sahnya informed consent, dan bagaimana pembatalannya?

Syarat sahnya informed consent :

a. Voluntary ( suka rela, tanpa unsur paksaan)

b. Unequivocal ( dengan jelas dan tegas)


c. Conscious ( dengan kesadaran )

d. Naturally ( sesuai kewajaran )

Voluntary maknanya bahwa pernyataan tersebut harus bebas dari tiga F,


yaitu force (paksaan), fear ( rasa takut) dan fraud ( diperdaya). Sedangkan Naturally maknanya
sesuai kewajaran disrtai iktikad baik, serta isinya tidak mengenai hal-hal tang dilarang oleh
hukum. Oleh sebab itu tidak dibenarkan adanya kalimat yang menyatakan bahwa ....”pasien tidak
berhak menuntut atau menggugat jika terjadi sesuatu yang merugikannya”.

Pembatalan informed consent :

Informed consent dapat dibatalkan :

a. Oleh pasien sendiri sepanjang tindakan medis tersebut belum dilakukan, atau secara medis
tidak mungkin lagi untuk dibatalkan.

b. Dalam hal informed consent diberikan oleh wali atau keluarga terdekatnya, maka
sepatutnya pembatalan tersebut adalah oleh anggota keluarga yang bersangkutan, atau oleh
anggota keluarga lainnya yang mempunyai kedudukan hukum lebih berhak untuk bertindak
sebagai wali.

Dalam hukum perdata, suami atau isteri dari pasien lebih berhak dari pada anak atau orang
tuanya.

RANGKUMAN

Materi ini telah membahas tentang informed consent. Dimulai dari pengertianinformed consent,
latar belakang perlunya informed consent, landasan filosofis, landasan etika, dan landasan
hukum. Lebih lanjut dibahas fungsi informed consent, tindakan apa saja yang
memerlukan informed consent, siapa yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi, apa
materi informasinya dan bagaimana cara penyampaian informasi tersebut. Disisi lain dibahas
pula siapa yang berhak untuk memberikan informed consent, dan bagaimana caranya. Apakah
yang harus ada dalam informed consent tertulis, apakah syarat agar informed consent tersebut
sah, dan bagaimana pembatalan sebuah informed consent.

DAFTAR PUSTAKA
1. Guwandi J,( 1996). Dokter, Pasien, dan Hukum, 1akarta : Balai Penerbit FKUI.

2. Guwandi J, ( 2004). Medical Law, Jakarta : Balai Penerbit FKUI

3. Hanafiah J; Amir A, ( 2007 ). Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran, EGC.

4. Helm A, ( 2003 ). Malpraktik Keperawatan, Menghindari masalah hukum, jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

5. Sofwan Dahlan ( 2000). Hukum Kesehatan, Rambu-rambu bagi profesi dokter, Semarang :
Badan Penerbit Universits Diponegoro.

SENARAI

1. Tindakan offensive : bersifat masuk kedalam

2. Tindakan invasive : tindakan yang mempengaruhi keutuhan jaringan

3. Komplikasi : akibat ikutan

4. Tubectomi, dan vasectomie : tindakan sterilisasi untuk tujuan KB

5. Malpraktik : pelaksanaan profesi yang salah

6. Irreversible : menetap, tidak dapat kembali seperti semula

Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent)


October 28, 2013 at 1:44 pm Leave a comment

Persetujuan tindakan medis (Informed Consent) adalah pernyataan persetujuan (consent) atau izin dari pasien yang diberikan
dengan bebas, rasional, tanpa paksaan (voluntary) tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadapnya sesudah
mendapatkan informasi yang cukup tentang tindakan kedokteran yang dimaksud. Persetujuan ini bisa dalam bentuk lisan maupun
tertulis. Pada hakikatnya informed consent adalah suatu proses komunikasi antara dokter dan pasien tentang kesepakatan tindakan
medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasien (ada kegiatan penjelasan rinci oleh dokter), sehingga kesepakatan lisan pun
sesungguhnya sudah cukup. Penandatanganan formulir Informed Consent secara tertulis hanya merupakan pengukuhan atas apa
yang telah disepakati sebelumnya. Formulir ini juga merupakan suatu tanda bukti yang akan disimpan di dalam arsip rekam medis
pasien (Guwandi J, 2004).
Informed Consent berakar dalam nilai-nilai otonomi di dalam masyarakat yang diyakini sebagai hak-hak mereka dalam menentukan
nasibnya sendiri apabila akan dilakukan tindakan medis. Informed Consent sebagai mana bentuknya telah mengalami suatu proses
panjang, sumber dasar dari filsafah moral, sosial-budaya dan politik.
Di Indonesia masalah Informed Consent sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
290/MENKES/PER/III/2008. namun dalam pelaksanaannya belum sebagaimana mestinya, masih ditemui kendala-kendala yang
menyangkut bidang sosial-budaya dan kebiasaan. Selain itu karena menyangkut hak asasi manusia, Informed Consent sebenarnya
telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran, pada Pasal 45 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi.
Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang Informed Consent dalam lampiran SKB IDI No. 319 /P/BA/88 butir 33 berbunyi
”Setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar mengharuskan adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh
pasien, setelah sebelumnya pasien itu memperoleh informasi yang cukup kuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan
serta resiko yang bersangkutan dengannya” (Departemen Kesehatan RI, 1997).
Tindakan dokter dalam pelayanan medis merupakan suatu upaya yang hasilnya belum pasti, akan tetapi akibat yang timbul dari
tindakan itu dapat diketahui berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dokter yang bersangkutan. Karenanya kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam tindakan merupakan tanggung jawab dokter, sedangkan suatu pembebasan terhadap kesalahan
(kelalaian) kurang berhati-hati dianggap bertentangan dengan kesusilaan.
Informed Consent untuk pasien yang telah setuju mendapat pelaksanaan tindakan medik dari dokter terhadap dirinya dengan
menyadari sepenuhnya atas segala resiko tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter. Pernyataan tersebut juga dicantumkan
bahwa dokter telah menjelaskan sifat, tujuan serta kemungkinan (resiko) akibat yang timbul dari tindakan tersebut kepada pasien
atau keluarganya. Dokter yang bersangkutan juga harus menandatangani formulir Persetujuan Tindakan Medik.
Pengertian tentang resiko medik (Malpraktek dan Resiko Medik Dalam Kajian Hukum Pidana (Guwandi J, 1994) sebagai berikut :
1. Bahwa dalam tindakan medik ada kemungkinan (resiko) yang dapat terjadi yang mungkin tidak sesuai harapan pasien. Ketidak
mengertian pasien terhadap resiko yang dihadapinya dapat mengakibatkan diajukannya tuntutan ke pengadilan oleh pasien
tersebut.
2. Bahwa di dalam tindakan medis ada tindakan yang mengandung resiko tinggi.
3. Bahwa resiko tinggi tersebut berkaitan dengan keselamatan jiwa pasien.
Tata Cara Pengisian Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent)
Setiap tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan dari pasien atau keluarga baik secara tertulis
maupun lisan. Untuk tindakan yang beresiko harus mendapatkan persetujuan secara tertulis yang ditandatangani oleh pasien untuk
mendapatkan persetujuannya. Persetujuan diberikan pada pasien setelah mendapatkan informasi yang jelas tentang perlunya
tindakan medis serta resiko yang akan ditimbulkannya.
Menurut SK Dirjen Pelayanan Medik No.HK.00.06.6.5.1866 Kebijakan dan Prosedur tentang Informed Consent adalah sebagai
berikut:
1. Pengaturan persetujuan atau penolakan tindakan medis harus dalam bentuk kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh
pimpinan Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya memberikan informasi dan penjelasan adalah hak
dokter.
3. Formulir Informed Consent dianggap benar jika memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk tindakan medis yang dinyatakan secara spesifik.
b. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa paksaan (voluntary).
c. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan oleh seorang (pasien) yang sehat mental dan yang memang berhak
memberikannya.
d. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan setelah diberikan cukup informasi dan penjelasan yang diberikan.
4. Isi informasi dan penjelasan yang diberikan
Informasi dan penjelasan dianggap cukup jika paling sedikit enam hal pokok dibawah ini disampaikan dalam memberikan informasi
dan penjelasan.
a. Informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang akan dilakukan.
b. Informasi dan penjelasan tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan.
c. Informasi dan penjelasan tentang resiko dan komplikasi yang mungkin akan terjadi.
d. Informasi dan penjelasan tentang alternatif tindakan lain yang tersedia dan serta resikonya dari masing-masing tindakan tersebut.
e. Informasi dan penjelasan tentang prognosis penyakit apabila tindakan tersebut dilakukan.
f. Diagnosis.
5. Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan.
Dokter yang akan melakukan tindakan medis mempunyai tanggung jawab utama memberikan informasi dan penjelasan yang
diperlukan. Apabila berhalangan, informasi dan penjelasan yang diberikan dapat diwakili pada dokter lain dengan sepengetahuan
dokter yang bersangkutan.
6. Cara menyampaikan informasi.
Informasi dan penjelasan disampaikan secara lisan. Informasi secara tertulis hanya dilakukan sebagai pelengkap penjelasan yang
telah disampaikan secara lisan.
7. Pihak yang menyatakan persetujuan.
a. Pasien sendiri, yaitu apabila pasien telah berumur 21 tahun atau sudah menikah.
b. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun, persetujuan (Informed Consent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka,
menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
c. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun atau tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya berhalangan hadir. Persetujuan
(Informed Consent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka, menurut hak sebagai berikut:
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
d. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, persetujuan (Informed Consent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh
mereka menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu kandung
2) Wali yang sah
3) Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle) persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan
menurut urutan hak tersebut :
1) Wali
2) Curator
f. Bagi pasien dewasa yang telah menikah /orang tua, persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut
urutan hak tersebut:
1) Suami/isteri
2) Ayah/ibu kandung
3) Anak-anak kandung
4) Saudara-saudara kandung.
8. Cara menyatakan persetujuan.
Cara pasien menyatakan persetujuan dapat secara tertulis (expressed) maupun lisan. Persetujuan secara tertulis mutlak
diperlakukan pada tindakan medis yang mengandung resiko tinggi, sedangkan persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan
medis yang tidak mengandung resiko tinggi.
9. Semua jenis tindakan medis yang mengandung resiko harus disertai Informed Consent. Jenis tindakan medis memerlukan
Informed Consent disusun oleh komite medik dan kemudian ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit. Bagi rumah sakit yang belum
mempunyai komite medik atau keberadaan komite medik belum lengkap, maka dapat mengacu pada jenis tindakan medis yang
sudah ditetapkan oleh rumah sakit lain yang fungsi dan kelasnya sama.
10. Perluasan tindakan medis yang telah disetujui tidak dibenarkan dilakukan dengan alasan apapun juga, kecuali apabila
perluasan tindakan medis tersebut terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.
11. Pelaksanaan Informed Consent untuk tindakan medis tertentu, misalnya Tubektomi/Vasectomi dan Caesarean Section yang
berkaitan dengan program keluarga berencana, harus merujuk pada ketentuan lain melalui konsultasi dengan perhimpunan profesi
yang terkait.
12. Demi kepentingan pasien, Informed Consent tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat dalam keadaan tidak sadar dan tidak
didampingi oleh keluarga pasien yang berhak memberikan persetujuan/penolakan tindakan medis.
13. Format isian persetujuan tindakan medis (Informed Consent) atau penolakan tindakan medis, digunakan seperti pada contoh
formulir terlampir, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Diketahui dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Perawat bertindak sebagai salah satu saksi.
b. Formulir asli dalam berkas rekam medis pasien.
c. Formulir harus sudah diisi dan ditandatangani 24 jam sebelum tindakan medis dilakukan.
d. Dokter harus ikut membubuhkan tandatangan sebagai bukti bahwa telah diberikan informasi dan penjelasan secukupnya.
e. Sebagai ganti tanda tangan, pasien atau keluarganya yang buta huruf harus membubuhkan cap jempol ibu jari tangan kanan.
(MenKes, 2008)
http://yuniathik.wordpress.com/2013/10/28/persetujuan-tindakan-medis-informed-consent/

Mengenal “Informed Consent”


November 1, 2007wandyTinggalkan komentarGo to comments

“Informed Consent” terdiri dari dua kata yaitu “informed” yang berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan
(informasi), dan “consent” yang berarti persetujuan atau memberi izin. Jadi “informed consent” mengandung
pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian “informed consent”
dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan
mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Menurut D. Veronika Komalawati, SH , “informed consent” dirumuskan sebagai “suatu kesepakatan/persetujuan
pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter
mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko
yang mungkin terjadi.
Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga) unsure sebagai berikut :
Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter
Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan
Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan.
Di Indonesia perkembangan “informed consent” secara yuridis formal, ditandai dengan munculnya pernyataan
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang “informed consent” melalui SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 pada tahun 1988.
Kemudian dipertegas lagi dengan PerMenKes No. 585 tahun 1989 tentang “Persetujuan Tindakan Medik atau
Informed Consent”. Hal ini tidak berarti para dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia tidak mengenal dan
melaksanakan “informed consent” karena jauh sebelum itu telah ada kebiasaan pada pelaksanaan operatif, dokter
selalu meminta persetujuan tertulis dari pihak pasien atau keluarganya sebelum tindakan operasi itu dilakukan.
Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada pihak pelaksana
jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
1. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar, sebagaimana
ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88
butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya
persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya
tindakan medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent);
2. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak mengandung
resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien;
3. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau diperiksa
tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan
terhadap dirinya.
TUJUAN PELAKSANAAN INFORMED CONSENT
Dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan
“informed consent”, bertujuan :
Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala tindakan medis yang dilakukan tanpa
sepengetahuannya, maupun tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan
malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat
canggih yang memerlukan biaya tinggi atau “over utilization” yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan
medisnya;
Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang
tidak wajar, serta akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif, misalnya terhadap “risk of
treatment” yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan
standar profesi medik. Sepanjang hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu, maka tidak dapat dipersalahkan,
kecuali jika melakukan kesalahan besar karena kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan (ignorancy) yang
sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh teman sejawat lainnya.
Perlunya dimintakan informed consent dari pasien karena informed consent mempunyai beberapa fungsi sebagai
berikut :
1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
2. promosi terhadap hak untuk menentukan nasibnya sendiri
3. untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
4. menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
5. mendorong diambil keputusan yang lebih rasional
6. mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
7. sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan kesehatan.
Pada prinsipnya iformed consent deberikan di setiap pengobatan oleh dokter. Akan tetapi, urgensi dari penerapan
prinsip informed consent sangat terasa dalam kasus-kasus sebagai berikut :
1. dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pembedahan/operasi
2. dalam kasus-kasus yang menyangkut dengan pengobatan yang memakai teknologi baru yang sepenuhnya
belum dpahami efek sampingnya.
3. dalam kasus-kasus yang memakai terapi atau obat yang kemungkinan banyak efek samping, seperti terapi
dengan sinar laser, dll.
4. dalam kasus-kasus penolakan pengobatan oleh klien
5. dalam kasus-kasus di mana di samping mengobati, dokter juga melakukan riset dan eksperimen dengan
berobjekan pasien.
ASPEK HUKUM INFORMED CONSENT
Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan pasien) bertindak sebagai
“subyek hukum ” yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan “jasa tindakan medis” sebagai
“obyek hukum” yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi
perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun
oleh dua pihak.
Dalam masalah “informed consent” dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis, disamping terikat oleh KODEKI
(Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan
hukun perdata, hukum pidana maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan.
Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakan adalah “kesalahan
kecil” (culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien, maka
sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara
umum berlaku adagium “barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi”.
Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah “kesalahan berat” (culpa lata). Oleh
karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok
ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana.
Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa
adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar
penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan
dan digugat telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas tubuhnya, sehingga
dokter dan harus menghormatinya;
Aspek Hukum Pidana, “informed consent” mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan, tindakan radiology
invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa
tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran
terhadap Pasal 351 KUHP.
Sebagai salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa “informed consent” benar-benar
dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum antara pihak pasien dengan dokter, atas dasar saling memenuhi
hak dan kewajiban masing-masing pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan. Masih banyak seluk
beluk dari informed consent ini sifatnya relative, misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu inforamsi
sudah atau belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara pasti dan dasar teoritis-
yuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan pengkajian yang lebih mendalam lagi terhadap masalah
hukum yang berkenaan dengan informed consent ini.

http://irwandykapalawi.wordpress.com/2007/11/01/mengenal-informed-consent/
1. Asuhan Keperawata Bronchitis kronik

A. Defenisi
Bronchitis kronik didefenisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu
tahun selama dua tahun berturut-turut. Ekresi yang menumpuk dalam bronkeolus mengganggu
pernapasan yang efektif. Merokok atau pemajanan terhadap polusi adalah penyebab utama bronchiris
kronik. Pasien dengan bronchitis kronik lebih rentan terhadap kekambuhan infeksi saluran pernafasan
bawah. Kisaran infeksi virus, bakteri, dan mikoplasma yang luas dapat menyebabkan episode bronchitis
kronik. Menghirup udara yang dingin dapat mnyebabkan bronkospasme bagi mereka yang rentan
(Smeltzer, 2002).

Bronchitis kronik merupakan inflamasi luar jalan napas dengan penyempitan atau hambatan jalan
napas dan peningkatan produksi sputum mukoid, menyebabkan ketidak cocokan ventilasi-perfusi dan
menyebabkan sianosis (Doenges, 2000).

B. Etiologi

Penyebab bronchitis kronik yang sering ditemukan meliputi:

1. Kebiasaan merokok

Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasi kelenjar mucus bronkus dan metaplasia
skuamus epitel saluran pernapasan juga dapat menyebabkan bronkotriksi akut

2. Infeksi saluran napas

Eksasebasi bronkhitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan
infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah hemophilus influenza dan
streptococcus pneumonie.

3. Pajanan debu dan gas berbahaya

Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai factor penyebab, tetapi gbila ditambah merokok resiko
akan lebih tinggi. Zat-zat kimia dapat juga menyebabkan bronkhitis adalah zat-zat pereduksi O 2, zat-zat
pengoksidasi seperti N2O, hidrokarbon, aldehid,ozon.

4. Predisposisi genetik

Belum diketahui secara jelas apakah factor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada penderita
defesiensi alfa -1- antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana kelainan ini diturunkan secara
autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan
dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru.

5. Factor sosial ekonomi

Kematian pada bronkhitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin
disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih buruk
C. Patofisiologi

Bronchitis kronik terjadi ketika unsur-unsur iritan terhirup selama waktu yang lama. Unsur-unsur
iritan ini menimbulkan inflamasi pada precabangan trakeobronkial, yang menyebabkan peningkatan
produksi mucus dan penyempitan atau penyumbatan jalan napas. Seiring berlanjutnya proses inflamasi
perubahan pada sel-sel yang membentuk dinding traktus respiratorius akan mengakibatkan resistensi
jalan napas yang kecil dan ketidak seimbangan ventilasi-perfusi (V/Q) yang berat sehingga menimbulkan
penurunan oksigenasi daerah arteri.

Bronchitis kronik mengakibatkan hipertropi dan hyperplasia kelenjar mucus, peningkatan jumlah sel-
sel goblet, kerusakan silia, metaplasia skuamosa pada epitel kolumner, dan infiltrasi leukositik serta
limfositik pada dinding bronkus. Hipersekresi sel goblet akan menghalangi kebebasan gerak silia yang
dalam keadaa normal dapat menyapu debu, iritan serta mucus keluar dari jalan napas. Seiring
penumpukan mucus dan debris dalam jalan napas, mekanisme pertahanan akan berubah dan orang
yang mengalami perubahan mekanisme pertahanan pada jalan napas ini lebih muda terkena infeksi
saluran napas.

Efek tambahan lainnya meliputi inflamasi yang menyebar luas, penyempitan jalan napas dan
penumpukan mucus di dalam jalan napas. Dinding bronkus mengalami inflamasi dan penebalan akibat
edema serta penumpukan sel-sel inflamasi. Selanjutnya efek bronkospasme otot polos akan
mempersempit lumen bronkus. Pada awalnya hanya bronkus besar yang terlibat inflamasi ini, tetapi
kemudian semua saluran napas turut terkena. Jalan napas menjadi tersumbat dan terjadi penutupan,
khususnya pada saat ekspirasi. Dengan demikian, udara napas akan terperangkap di bagian distal paru.
Pada keadaan ini akan terjadi hipoventilasi yang menyebabkan ketidakcocokan (V/Q) dan akibatnya
timpul hipoksemia.

Hipoksemia dan hiperkapnia terjadi sekunder karena hipoventilasi. Resistensi vaskuler paru
meningkat ketika vasokonstriksi yang terjadi karena inflamasi dan konpensasi pada daerah-daerah yang
mengalami hipoventilasi membuat arteri pulmonalis menyempit. Peningkatan resistensi vaskuler paru
menimbulkan afterload ventrikel kanan. Dengan terjadinya episode inflamasi berulang, terjadilah
pembentukan parut pada jalan napas dan perubahan struktur yang permanen. Infeksi respiratorius
dapat memicu eksasebasi akut dan dengan demikian dapat terjadi gagal napas.

Pasien Bronchitis kronik akan mengalami penuruna dorongan untuk bernapas. Hipoksia kronis yang
ditimbulkan menyebabkan ginjal menghasilkan eritropoietin, yang akan menstimulasi produksi sel darah
merah dan menimbulkan polisitemia. Meskipun kadar hemoglobin tinggi, namun jumlah hemoglobin
tereduksi (yang tidak teroksigenasi sepenuhnya) yang mengalami kontak dengan oksigen rendah
sehingga terjadi sianosis (Kowalak, 2011).

D. Manifestasi Klinis

Bentuk produktif, kronispada bulan – bulan musim dingin adalahtanda dini bronchitis kronis. Bentuk
mungkin dapt diperburuk oleh cuaca yang dingin, lembab, dan iritan paru.Pasien biasanya mepunyai
riwayat merokok dan saling mengalami infeksi pernapasan (Smeltzer, 2002).
Menurut Kowalak, 2011. Tanda dan gejala bronchitis kronik dapat meliputi:

1. Sputum yang banyak dan berwarna kelabu, putih ataupun kuning yang dihasilkan oleh paru-paru.

2. Batuk produktif untuk mengeluarkan mucus yang diproduksi oleh paru-paru.

3. Dispnea akibat obstruksi jalan napas pada percabangan trakeobronkial bagian bawah.

4. Sianosis yang berhubungan dengan penurunan oksigenasi dan hipoksia seluler: penurunan pasokan
oksigen ke dalam jaringan

5. Penggunaan otot-otot aksesorius pernapasan akibat upaya yang bersifat konpensasi untuk memasok
lebih banyak oksigen ke dalam sel.

6. Takipnea akibat hipoksia.

7. Edema pedis akibat gagal jantung kanan.

8. Distensi vena leher akibat gagal jantung kanan.

9. Penambahan berat badan akibat edema

10. Mengi akibat aliran melewati saluran napas yang sempit

11. Pemanjangan waktu ekspirasi akibat upaya tubuh mempertahankan patensi jalan napas

12. Ronki akibat aliran udara melewati saluran napas yang sempit dan berisi mucus.

13. Hipertensi pulmoner yang disebabkan oleh keterlibatan arteri pulmonalis yang kecil: keadaan ini
terjadi karena inflamasi pada dinding bronchial dan spasme pembuluh darah pulmoner akibat hipoksia.

E. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Doenges, 2000. Pemeriksaan diagnostic untuk penderita Bronchitis Kronik, meliputi:

1. Sinar X dada

Dapat menyatakan hiperinflamasi paru-paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara


retrosternal, peningkatan tanda bronkovaskuler.

2. Tes fungsi paru

Dilakukan untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk
memperkirakan derajat fungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, misalnya Bronkodilator.

3. TLC

Peningkatan pada luasnya bronchitis.

4. FEV1 atau FVC

Rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronchitis.
5. GDA

Memperkirakan progresi proses penyakit kronis, misalnya paling sering PaO 2 menurun dan
PaCO2 normal atau meningkat.

6. Bronkogram

Dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, pembesaran duktus mukosa yang terlihat
pada bronchitis.

7. Sputum

Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen, pemeriksaan sitolitik untuk
mengetahui keganasan atau gangguan alergi.

8. EKG

Deviasi aksis kanan, distritmia atrial bronchitis, peningkatan gelombang P pada leat II, III, AVF.

9. EKG latihan, tes stress

Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilaor,
perencanaan atau evaluasi program latihan.

F. Komplikasi

Menurut Kowalak, 2011. Komplikasi yang mungkin terjadi pada Bronchitis Kronik, meliputi:

1. Infeksi saluran napas yang kambuhan (rekuren)

2. Kor pulmonale (hipertrofi ventrikel kanan disertai gagal jantung kanan) akibat peningkatan tekanan
diastolic akhir ventrikel kanan.

3. Hipertensi pulmoner

4. Gagal jantung yang mengakibatkan peningkatan tekanan vena, pembesaran hati, dan edema dependen.

5. Gagal napas akut

G. Penatalaksanaan Medis

Objektif utama pengobatan adalah untuk menjaga agar bronkiolus terbuka dan berfungsi, untuk
memudahkan pembuangan sekresi bronkial, untuk mencegah infeksi, dan untuk mencegah kecacatan.
Perubahan dalam pola sputum (sifat, warna, jumlah, ketebalan) dan dalam pola batu adalah tanda yang
penting untuk dicatat. Infeksi bakteri kambuhan diobati dengan terapi antibiotik berdasarkan hasil
pemeriksaan kultur dan sensitifitas.

Untuk membantu membuang sekresi bronchial, diresepkan bronkodilator untuk menghilangkan


bronkospasme dan mengurangi opstruksi jalan nafas: sehingga lebih banyak oksigen didistribusikan
keseluruh bagian paru, dan fentilasi alveolar diperbaiki. Drainase postural dan perkusi dada setelah
pengobatan biasanya sangat membantu, terutama jika terdapat bronkiekstasis. Cairan ( yang diberikan
peroral atau parenteral jika bronkospasme berat ) adalah bagian perting dari terapi, karena hidrasi yang
baik membantu untuk mengencerka sekresi sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan dengan
membatukkannya. Terapi kortikosteroid mungkin digunakan ketika pasien tidak menunjukkan
keberhasilan terhadap pengukuran yang lebih koservatif. Pasien harus menghentikan merokok karena
menyebabkan bronkokonstriksi, melumpuhkan silia, yang penting dalam membuang partikel yang
mengiritasi dan menginaktivasi survaktan, yang memainkan peran penting dalam memudahkan
pengenbangan paru-paru. Perokok juga lebih rentang terhadap infeksi bronckial (Smeltzer, 2002).

H. Penanganan

Menurut Kowalak, 2011. Penanganan Bronkitis Kronik meliputi:

1. Tindakan menghindari polutan udara

2. Tindakan menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari asap rokok.

3. Pemberian antibiotic untuk mengatasi infeksi yang kambuhan.

4. Pemberian obat-obat golongan bronkodilator untuk meredakan bronkospesme dan memfasilitasi Klirens
Mukosilier.

5. Terapi hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan secret.

6. Fisioterapi dada untuk memobilisasi secret.

7. Penggunaan alat neboliser ultrasonic atau mekanis untuk mengencerkan dan memobilisasi secret.

8. Pemberian kortikosteroid untuk mengatasi inflamasi.

9. Pemberian obat-obat golongan diuretic untuk mengurangi edema.

10. Pemberian oksegen untuk mengatasi hipoksia.

I. Prognosis

Pasien dengan bronchitis kronik dan didiagnosis asma, penyakit struktur saluran nafas, atau
imunodefisiensi perlu pengawasan secara teratur untuk meminimalkan kerusakan paru dan
perkembangan menjadi penyakit paru kronik yang ireversibel.

I. Konsep Proses Keperawatan

A. Pengkajian

1. Pengkajian data biologis


Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh.

Pengkajian Klien dengan Bronkitis Kronik. meliputi :

a. Aktifitas atau istirahat

Gejala : 1. Keletihan, kelelahan, malaise.

2. Ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena sulit bernapas

3. Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi

4. Dispnea pada saat isrirahat atau respons terhadap aktifitas atau latihan

Tanda : 1. Keletihan

2. Gelisah, insomnia

3. Kelemahan umum/kehilangan massa otot

b. Sirkulasi

Gejala : pembengkakan pada ekstremitas bawah.

Tanda : 1. Peningkatan Tekanan Darah.

2. Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia.

3. Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung.

4. Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada)

5. Warrna kulit/membrane mukosa: normal atau abu-abu/sianosis; kaku tubuh dan sianosis perifer.

6. Pucat dapat menunjukkan anemia

c. Integritas Ego

Gejala : 1. Peningkatan factor resiko.

2. Perubahan pola hidup

Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.

d. Makanan atau cairan

Gejala : 1. Mual/muntah

2. ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan.

3. peningkatan berat badan menunjukkan edema


Tanda : 1. Turgor kulit buruk

2. Edema dependen

3. Berkeringat

4. Palpitasi abdominal dapat menyatakan hepatomegali.

e. Hygiene

Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan

Tanda : kebersihan buruk, bau badan

f. Pernapasan

Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun) selama minimum
tiga bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya dua tahun. Produksi sputum (hijau, putih, atau kuning
dapat banyak sekali.

Tanda : lebih memilih posisi tiga titik (“tripot”) untuk bernapas.

Dada: dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diamaeter AP (bentuk-barrel); gerakan diafragma
minimal.

Bunyi napas: menyebar, lembut, atau krekels lembab kasar

Perkusi: bunyi pekak pada area paru

Warna: pucat dengan sianisis bibir dan dasar kuku; abu-abu keseluruhan; warna merah.

g. Keamanan

jala : 1. Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan

2. Adanya/berulangnya infeksi

h. Seksualitas

Gejala : Penurunan libido

i. Interaksi sosial

Gejala : 1. Hubungan ketergantungan

2. Kurang sistem pendukung

3. Kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/orang terdekat

4. Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik

anda : 1. Ketidakmampuan untuk membuat/mempertahankan suara karena distres pernafasan

2. Keterbatasan mobilitas fisik


3. Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.

j. Penyuluhan atau pembelajaran

Gejala : 1. Penggunaan/penalagunaan obat pernapasan.

2. Kesulitan menghentikan merokok

3. penggunaan alcohol secara teratur.

4. kegagalan untuk membaik

Pertimbangan: DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 5,9 hari

Pemulangan: Bantuan dalam berbelanja, tranportasi, kebutuhan perawatan diri, perawatan rumah/mempertahankan
tugas rumah.

Perubahan pengobatan/program teraupetik.

2. Pemeriksaan Umum

a. Anamnesis

Keluhan utama pada klien dengan bronchitis meliputi batuk kering dan produktif dengan sputum
purulen, demam dengan suhu tubuh dapat mencapai >40 oC, dan sesak napas.

b. Riwayat kesehatan

Batuk persisten produksi sputum seperti warna kopi, dispnea dalam beberapa keadaan, weizing pada
saat ekspirasi, sering mengalami infeksi pada system respirasi.

Riwayat kesehatan dahulu:

Batuk atau produksi sputum selama beberapa hari kurang lebih 3 bulan dalam 1 th.dan paling
sedikitdalam 2 th berturut-turut.adanya riwayat merokok.

Riwayat kesehatan keluarga:

Penelitian terahir didapatkan bahwa anak dari orang tua perokok dapat menderita penyakit pernafasan
lebih sering dan lebih berat serta prefalensi terhadap gangguan pernapasan lebih tinggi.selain itu,klien
yang tidak merokok tetepi tinggal dengan perokok (perokok pasif) mengalami peningkatan kadar karbon
monoksida darah.dari keterangan tersebut untuk penyakit familial dalam hal ini bronchitis mungkin
berkaitan dengan polusi udara rumah,dan bukan penyakit yang diturunkan (Muttaqin,2008).

c. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum dan tanda-tanda vital

Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital klien dengan bronchitis biasanya didapatkan adanya peningkatan
suhu tubuh lebih dari 40 drajat celcius, frekuensi napas meningkat dari frekuensi normal, nadi biasanya
meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernapasan, serta biasanya tidak ada
masalah dengan tekanan darah.

Inspeksi: Klien biasanya mengalami peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, biasanya
menggunakan otot bantu pernapasan. Pada kasus bronchitis kronis, sering didapatkan bentuk dada
barrel/ tong. Gerakan pernapasan masih simetris. Hasil pengkajian lainnya menunjukkan klien juga
mengalami batuk yang produktif dengan sputum purulen berwarna kuning kehijauan sampai hitam
kecoklatan karena bercampur darah.

Palapasi: Taktil fremitus biasanya normal.

Perkusi: Hasil penkajian perkusi menunjukkan adanya bunyi resonan pada seluruh lapang paru.

Auskultasi: Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, maka suara napas
melemah. Jika bronkus paten dan drainasenya baik ditambah adanya konsolidasi di sekitar abses, maka
akan terdengar suara napas bronchial dan ronkhi basah.

A. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat ditemui pada klien Bronchitis Kronik adalah:

1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berbuhunbgan dengan peningkatan produksi secret dan
Bronkospasme.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen.

3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, produksi sputum dan
anoreksia.

B. Intervensi

Intervensi adalah Penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk
menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan.

Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada
tahap perencanaan.

Intrevensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada klien dengan Bronchitis Kronik
,,meliputi :

1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi secret dan
broncospasme.

INTERVENSI RASIONAL

1) Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas memantau adanya perubahan pola napas
kecepatan irama, kedalaman dan
penggunaan otot bantu pernapasan.

2) Kaji posisi yang nyaman untuk klien,


misalnya posisi kepala lebih
tinggi ( semi fowler ).
posisi semi fowler memperlancar sirkulasi
3) Ajar dan anjurkan klien latihan nafas pernapasan dalam tubuh
dalam dan batuk efektif

4) Pertahankan hidrasi adekuat,


adupan cairan 40-50cc/ kg bb/ 24
jam

5) Lakukan fisioterapi dada jika tidak


mengajarkan batuk efektif agar pasien
ada kontrak indikasi.
mandiri
6) Kolaborasi dengan tim medis untuk
memberikan mukolitik
mencegah adanya dehidrasi

fisioterapi dada mempermudah


pengeluaran secret

untuk menurunkan spasme jalan napas dan


produksi mukosa.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan suplai oksigen.

INTERVENSI RASIONAL

1) Pertahankan posisi tidur fowler posisi fowler memperlancar sirkulasi


pernapasan dalam tubuh

untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea


2) Ajarkan klien pernapsan diagframatik dan dan kerja napas
pernapasan bibir.
3) untuk menurunkan kolaps jalan napas,
dispnea dan kerja napas
indikasi langsung keadekuatan volume
cairan,meskipun membrane mukosa mulut
mungkin kering karena napas mulut dan
oksigen tambahan.

untuk membantu melancarkan jalannya


pernapasan.
4) Dorong klien untuk mengeluarkan sputum,
penghisapan lendir jika diindikasikan

5) Awasi tingkat kesadaran / status mental


klien, catat adanya perubahan
Dengan mengetahui tingkat kesadaran atau
status mental klien, sehingga memudahkan
tindakan selanjutnya.
6) Ukur tanda vital setiap 4-5 jam dan awasi
irama. Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan
darah dapat menunjukkan efek hipoksemia
sistemik pada fungsi jantung.

mengetahui adanya bunyi nafas akibat mucus

Dapat memperbaiki/mencegah buruknya


hipoksia.

7) Palpasi fremitus

8) Berikan oksigen sesuai indikasi

3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea, produksi
sputum dan anoreksia.

INTERVENSI RASIONAL

1) Kaji keluhan klien terhadap mual, muntah menentukan penyebab masalah


dan anoreksia.

2) Lakukan perawatan mulut sebelum dan


sesudah makan serta ciptakan lingkungan menghilangkan tanda bahaya, rasa bau dari
yang bersih dan nyaman. lingkungan pasien dan dapat
menurunkan mual.
3) Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi
sering. dapat meningkatkan nutrisi dalam tubuh
meskipun napsu makan berkurang.

4) Timbang berat badan klien setiap minggu. Berguna menentukan kebutuhan kalori dan
evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.

berguna untuk kestabilan dan gizi yang masuk


5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk untuk pasien
menentukan komposisi diet

C. Evaluasi

Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian
tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan
ditetapkan.

Evaluasi yang diharapkan pada pasien Bronchitis Kronik adalah:

1. Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi nafas bersih tidak ada dispnea dan sianosis.

2. Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.

3. Mempertahankan atau meningkatkan berat badan.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika

Manurung, Santa dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta :
Salemba Medika

Doenges, Marilyn.dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Price, Sylvia Anderson. 2005. Petofisiologi: Konsep KLinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Kowalak, Jenifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC

Posted 6th April 2013 by Qaireen Inha

Add a comment
2.
APR

Makalah Informed Consent

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Sebagian besar keluhan ketidakpuasan pasien disebabkan komunikasi yang kurang terjalin baik
antara tim medis dengan pasien dan keluarga pasien.

Apakah para pasien perlu sepenuhnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai apa
yang akan diperbuat dalam rangka pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan mereka? Apakah mereka
harus selalu dimintai persetujuan atas apa yang akan dilakukan oleh tenaga medis kepada mereka?
Bukankan pelibatan dan permintaan persetujuan macam itu malah akan menghambat rencana kerja?
Apalagi, bukankah dengan datang kepada dokter atau rumah sakit mereka telah mempercayakan diri
mereka terhadap dokter dan tim medisnya? Seberapa jauh pasien perlu diberitahu mengenai resiko dan
keuntungan dari langkah-langkah pengobatan dan tindakan-tindakan lain yang harus diambil demi
pemulihan kesehatannya? Bagaimana dengan pasien yang kalau diberitahu toch tidak mengerti apa
yang dimaksud, atau pasien yang sengaja tidak mau tahu tentang keadaan dirinya yang sebenarnya dan
pokoknya dibuat enak badan, masih perlukah mereka diberitahu? Apakah dokter dan tim medis lainnya
wajib memberitahukan kemungkinann resiko yang akan terjadi dan alternatif pengobatan yang bisa
diambil terhadap pasien, atau hal itu hanya dapat diharapkan berdasarkan kebaikan sang dokter?
Itulah beberapa pertanyaan yang kadang muncul dalam praktek pelayanan medis. Pertanyaan-
pertanyaan tersebut erat kaitannya dengan apa yang lazim disebut dengan “informed consent”. Oleh
karena itu perlu kiranya kita mengetahui apa itu “informen consent”.

B. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Etika
Dalam keperawatan, adapun tujuan lainnya yaitu:

1. Untuk mengetahui pengertian informed consent

2. Dasar hukum informed consend

3. Informed consent dalam keperawatan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Informed consent

Informed consent adalah persetujuan individu terhadap pelaksanaan suatu tindakan, seperti
operasi atau prosedur diagnostik invasif, berdasarkan pemberitahuan lengkap tentang risiko, manfaat,
alternatif, dan akibat penolakan. Informed consent merupakan kewajiban hukum bagi penyelengara
pelayanan kesehatan untuk memberikan informasi dalam istilah yang dimengerti oleh klien sehingga
klien dapat membuat pilihan. Persetujuan ini harus diperoleh pada saat klien tidak berada dalam
pengaruh obat seperti narkotika.

Secara harfiah informed consent adalah persetujuan bebas yang didasarkan atas informasi yang
diperlukan untuk membuat persetujuan tersebut. Dilihat dari pihak-pihak yang terlibat , dalam praktek
dan penelitian medis, pengertian “informed consent” memuat dua unsur pokok, yakni:

1. Hak pasien (atau subjek manusiawi yang akan dijadikan kelinci percobaanmedis) untuk dimintai
persetujuannya bebasnya oleh dokter (tenaga medis) dalam melakukan kegiatan medis pada pasien
tersebut, khususnya apabila kegiiatan ini memuat kemungkinan resiko yang akan ditanggung oleh
pasien.
2. Kewajiban dokter (tenaga riset medis) untuk menghormati hak tersebut dan untuk memberikan
informasi seperlunya, sehingga persetujuan bebas dan rasional dapat diberikan kapada pasien.

Dalam pengertian persetujuan bebas terkandung kemungkinan bagi pasien untuk menerima
atau menolak apa yang ditawarkan dengan disertai penjelasan atau pemberian informasi seperlunya
oleh tenaga medis (Sudarminta, J. 2001).

Dilihat dari hal-hal yang perlu ada agar informed consent dapat diberikan oleh pasien maka,
seperti yang dikemukakan oleh Tom L. Beauchamp dan James F. Childress, dalam pengertian informed
consent terkandung empat unsur, dua menyangkut pengertian informasi yang perlu diberikan dan dua
lainnya menyangkut perngertian persetujuan yang perlu diminta. Empat unsur itu adalah: pembeberan
informasi, pemahaman informasi, persetujuan bebas, dan kompetensi untuk membuat perjanjian.
Mengenai unsur pertama, pertanyaan pokok yang biasanya muncul adalah seberapa jauh pembeberan
informasi itu perlu dilakukan. Dengan kata lain, seberapa jauh seorang dokter atau tenaga kesehata
lainnya memberikan informasi yang diperlukan agar persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
subyek riset medis dapat disebut suatu persetujuan informed. Dalam menjawab pertanyaan ini
dikemukakan beberapa standar pembeberan, yakni:

a. Standar praktek profesional (the professional practice standard)

b. Standar pertimbangan akal sehat (the reasonable person standard)

c. Standar subyektif atau orang perorang (the subjective standard)

Munurut Permenkes No.585/Menkes/Per/IX/1989, PTM berarti ”persetujuanyang diberikan


pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut”. Dari pengertian diatas PTM adalah persetujuan
yang diperoleh sebelum melakukan pemeriksaan , pengobatan atau tindakan medik apapun
yang akan dilakukan.

Persetujuan tersebut disebut dengan Informed Consent Informed. Consent hakikatnya adalah
hukum perikatan, ketentuan perdata akan berlaku dan ini sangat berhubungan dengan tanggung
jawab profesional menyangkut perjanjian perawatan dan perjanjian terapeutik. Aspek perdata
Informed Consent bila dikaitkan dengan Hukum Perikatan yang di dalam KUH Perdata BW Pasal 1320
memuat 4 syarat sahnya suatu perjanjjian yaitu:

a. Adanya kesepakatan antar pihak, bebas dari paksaan, kekeliruan dan penipuan.

b. Para pihak cakap untuk membuat perikatan

c. Adanya suatu sebab yang halal, yang dibenarkan, dan tidak dilarang oleh peraturan perundang
undangan serta merupakan sebab yang masuk akal untuk dipenuhi.
B. Sejarah Informed Consent

Konsep informed consent dapat dikatakan merupakan suatu konsep yang relatif masih baru
dalam sejarah etika medis. Secara histori konsep ini muncul sebagai suati prinsip yang secara formal
ditegaskan hanya setelah Perang dunia ke II, yakni sebagai reaksi dan tindakan lanjut dari apa yang
disebut pengadilan Nuremberg, yakni pengadilan terhadap para penjahat perang zaman Nazi. Prinsip
informed consent merupakan reaksi terhadap kisah-kisah yang mengerikann tentang pemakaian
manusia secara paksa sebagai kelinci percobaan medis di kamp-kamp konsentrasi. Sejak pengadilan
Nuremberg, prinsip inforned consent cukup mendapat perhatian besar dalma etika biomedis
(Sudarminta, J. 2001).

Dalam hukum Inggris-Amerika, akjaran tentang informed consent juga berkaitan dengan kasus-
kasus malpraktek yang melibatkan perbuatan tertentu pada tubuh pasien yang kompeten tanpa
persetujuannya dalam kasus tersebut dipandang tidak dapat diterima lepas dari pertimbangan kualitas
pelayanan. Mengingat pentingnya informed consent dalam pelayanan medis, maka dalam salah satu
butir panduan (yakni butir No. 11) dan butir-butir panduan etis untuk Lembaga-lembaga Pelayanan
Medis Katolik di Amerika terdapat pernyataan sebagai berikut.

Pasien adalah pembuat keputusan utama dalam semua pilihan yang berhubungan dengan
kesehatan dan perawatannya, ini berarti ia adalah pembuat keputusan pertama, orang yang diandaikan
memprakarsai keputusan berdasarkan keyakinan hidup dan nilai-nilainya. Sedangkan pembuat
keputusan sekunder lainnya juga mempunyai tanggung jawab. Jika secara hukum pasien tidak mampu
membuat keputusan atau mengambil inisiatif, seorang pelaku yang lain yang menggantikan pasien.
Biasanya keluarga pasien, kecuali kalau sebelumnya pasien telah menunjuk orang lain yang
bertanggung jawab untuk berusaha menentukan apa yang kiranya akan dipilih oleh pasien, atau jika
itu tidak mungkin, berusaha dipilih apa yang paling menguntungkan bagi pasien.

Para pemegang profesi pelayanan kesehatan juga merupakan pembuat keputusan kedua, dengan
tanggung jawab menyediakan pertoongan dan perawatan untuk pasien sejauh itu sesuai dengan
keyakinan hidup dan nilai-nilai mereka. Kebijakan dan praktek rumah sakit harus mengakui serangkai
tanggung jawab ini. Para pemegang profesi pelayanan kesehatan bertanggung jawab untuk
memberikan informasi yang mencukupi dan untuk memberikan dukungan yang memadai kepada si
pasien, sehingga ia mampu memberikan keputusan yang dilandasi pengetahuan mengenai perawatan
yang mestinya dijalani. Perlu disadari bahwa bantuan dalam profesi pengambilan keputusan
merupakan bagian penting dalam perawatan kesehatan. Kebijakan dan dokumen mengenai informed
consent haruslah diupayakan untuk meningkatkan dan melindungi otanomi pasien, bukan pertama-
tama melindungi rumah sakit dan petugas pelayanan medis dari perkara pengaduan hukum.

C. Fungsi informed consent

Menurut Katz & Capran, fungsi informed Consent :


• promosi otonomi individu.

• Proteksi terhadap pasien dan subjek.

• Menghindari kecurangan, penipuan dan paksaan.

• Mendorong adanya penelitian yang cermat.

• Promosi keputusan yang rasional

• Menyertakan publik.

Semua tindakan medik/keperawatan yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.

Persetujuan :

• Persetujuan ; Tertulis maupun lisan.

• Persetujuan diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat.

• Cara penyampaian informasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien.

• Setiap tindakan yang mengandung risiko tinggi harus dengan persetujuan, selain itu dengan lisan.

D. Dasar Hukum dan Informed Consent Keperawatan

1. Dasar hukum informed consent

 UU No. 32 Tahun 1992 tentang Kesehatan

 Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1998 Tentang tenaga Kesehatan

 Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159 b/Menkes/SK/Per/II/1998 Tentang RS

 Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749A/Menkes/Per/IX/1989 tentang Rekam medis/ Medical record

 Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/Per/IX/1989 Tentang Persetujuan Tindakan Medis

 Kep Menkes RI No. 466/Menkes/SK dan standar Pelayanan Medis di RS

 Fatwa pengurus IDI Nomor: 139/PB/A.4/88/Tertanggal 22 Februari 1988 Tentang Informed Consent

 Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1981 Tertanggal 16 juni 1981Tentang Bedah Mayat Klinik
dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan/atau Jaringan Tubuh Manusia
2. Informed Consent Keperawatan

Tidak meratanya penyebaran tenaga dokter di pedesaan mengakibatkan tenaga keperawatan


melakukan intervensi medik bukan intervensi perawatan. Mengingat perawat sebagai tenaga kesehatan
terdepan dalam pelayanan kesehatan di masyarakat, Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes) Nomor HK.02/Menkes/148/2010 Tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik
Perawat. Pasal 8 ayat (3) Permenkes menyebutkan praktik keperawatan meliputi pelaksanaan asuhan
keperawatan, pelaksanaan upaya promotif, preventif, pemulihan, dan pemberdayaan masyarakat dan
pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer. dari pasal tersebut menunjukkan aktivitas perawat
dilaksanakan secara mandiri (independent) berdasar pada ilmu dan asuhan keperawatan, dimana tugas
utama adalah merawat (care) dengan cara memberikan asuhan keperawatan (nurturing) untuk
memuaskan kebutuhan fisiologis dan psikologis pasien. Dengan kata lain, perawat memiliki hubungan
langsung dengan pasien secara mandiri. Hubungan langsung antara perawat dengan pasien utamanya
terjadi di rumah atau puskesmas yang mendapatkan rawat inap atau pasien yang mendapatkan
perawatan di rumah, home care.

Sementara perawat yang melakukan keperawatan mandiri menurut ketentuan Pasal 22 ayat (1)
PP No.32 Tahun 1996 jo. Pasal 12 ayat (1) Permenkes Nomor HK.02.02/Menkes/148/2010 memimiliki
kewajiban diantaranya menghormati hak pasien, memberi informasi, meminta persetujuan terhadap
tindakan yang akan dilakukan dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi
dan kode etik keperawatan. Sehingga kewajiban perawat tersebut menjadi hak bagi pasien. Dengan
begitu, hubungan antara perawat dan pasien merupakan hubungan hukum (perjanjian) yang
menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak. Oleh karena itu, aspek keperdataan
dalam pelayanan keperawatan berpokok pangkal pada hubungan pasien.

Hingga saat ini perjanjian keperawatan atau informed consent keperawatan belum diatur secara
tertulis dan baru mengatur informed consent tindakan kedokteran sebagaimana diatur dalam
Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008. Sehingga tindakan medik yang dilakukan perawat pada
prinsipnya berdasar delegasi secara tertulis dari dokter. Kecuali dalam keadaan darurat, perawat
diizinkan melakukan tindakan medik tanpa delegasi dokter sesuai Pasal 10 ayat (1) Permenkes No. HK.
02.02/Menkes/148/2010, dan aturan Permenkes ini pada dasarnya mirip dengan rumusan yang
dikeluarkan oleh American Nurse Association (ANA) di tahun 1970. Perluasan tugas yang diberikan
pada perawat di Amerika sejak tahun 1970 tentu tidak berarti peranan perawat yang diperluas dapat
ditafsirkan seluas-luasnya. Artinya, tidak semua tindakan medik dan wewenang profesi kedokteran
dapat dilakukan oleh perawat.

Permasalahan ini tentu saja tidak hanya berimplikasi pada upaya preventif dan kuratif, namun
juga pada aspek etika dan hukum. Sebab tindakan medik yang dilakukan oleh perawat dalam kondisi
darurat dalam praktik belum menunjukan batas-batas yang jelas. Dalam konteks ini perlu dirumuskan
secara yuridis terhadap tindakan medik tersebut, sehingga tindakan medik yang dilakukan oleh
perawat akan lebih terlindungi. "Aturan yang memadai mutlak diperlukan dalam menegakkan hak dan
kewajiban. Perawat perlu perlindungan dan kepastian hukum, sebagaimana pasal 28D ayat (1) UUD
NKRI 1945 yang menyebut, setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian
hukum yang adil serta perlakukan yang sama di hadapan hukum.

E. Bentuk Informed Consent

Ada dua bentuk informed consent (Febiyanti Rizky, 2011)

 Implied constructive Consent (Keadaan Biasa)

Tindakan yang biasa dilakukan , telah diketahui, telah dimengerti oleh masyarakat umum, sehingga
tidak perlu lagi di buat tertulis misalnya pengambilan darah untuk laboratorium, suntikan, atau hecting
luka terbuka.

 Implied Emergency Consent (keadaan Gawat Darurat)

Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien) kepada
pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat dibedakan
menjadi tiga bentuk, yaitu :

1. Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko besar,
sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-
IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup
besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien memperoleh
informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah
terjadi informed consent)

2. Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan tidak
mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien

3. Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan disuntik atau
diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda menyetujui tindakan
yang akan dilakukan terhadap dirinya. Tujuan Informed Consent:

a. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan
dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya.

b. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif, karena
prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko (
Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3 ).

F. Perlindungan Pasien
Perlindungan pasien tentang hak memperoleh Informed Consent dan Rekam Medis dapat
dijabarkan seperti dibawah ini: UU N0 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 56

(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan
diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara
lengkap

(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada:

a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara


cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas

b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau

c. gangguan mental berat

http://kumpulanmaterikesehat.blogspot.com/