Anda di halaman 1dari 18

BAB III

MODEL KESEIMBANGAN PENDAPATAN DALAM


PEREKONOMIAN

Sebelum membahas lebih jauh mengenai beberapa model keseimbangan


pendapatan baik dalam perekonomian dua sektor, tiga dan empat sektor akan dibahas
terlebih dahulu mengenai konsumsi, tabungan, investasi dan eksport – import.

A. FUNGSI KONSUMSI
Adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara variabel pendapatan
nasional ( Y ) dengan variabel konsumsi ( C ). Fungsi konsumsi menurut JM Keynes
dirumuskan sebagai
C = Co + cY
Karakteristik Fungsi Konsumsi Keynes adalah :
1. Besarnya pengeluaran konsumsi ( C ) dipengaruhi secara positif dan searah oleh
besarnya pendapatan
2. Merupakan fungsi konsumsi jangka pendek, ditunjukkan adanya konsumsi
otonom ( Co ) yaitu
 Pengeluaran konsumsi pada saat pendapatan sama dengan nol ( 0 )
 Pengeluaran konsumsi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan
3. c = Marginal Propensity to Consume ( MPC ) yaitu besarnya kecenderungan
perubahan konsumsi ketika pendapatan berubah (  C / Y ). 0 < c < 1, atau
MPC positif tapi kurang dari 1. (Ini berdasarkan Fundamental Psychological
Law). Dimana c merupakan slope kurva konsumsi.
4. Y adalah pendapatan yang siap dibelanjakan atau disebut disposible income
yaitu Y d = Y – tax + subsidi
5. Average Propensity to Consume atau kecenderungan rata – rata untuk
berkonsumsi .
APC = C/Y = Co + cY = c + Co / cY
Y
 Besarnya APC tidak konstan, tetapi membesar dengan semakin besarnya C
 Dalam jangka pendek APC > MPC

13
 APC ( pada satu tingkat pendapatan ) adalah slope garis yang dibuat dari
titik origin ke suatu titik pada kurva konsumsi ( pada tingkat pendapatan
tertentu
6. Fungsi konsumsi jangka panjang Keynes mempunyai sifat – sifat sebagai berikut:
 Fungsinya C = kY
 MPC = APC
 MPC jangka panjang > MPC jangka pendek
 Tidak ada autonomous consumption, karena dalam jangka panjang apabila
tidak ada pendapatan maka tidak bisa berkonsumsi.
Hubungan Konsumsi Jangka Panjang dan jangka Pendek
Dalam jangka panjang , pola konsumsi menurut Keynes akan membentuk
suatu pola tertentu dengan berbagai model. Model – model tersebut dikembangkan
oleh pengikut – pengikut Keynes. Terdapat tiga model hubungan konsumsi jangka
panjang dan jangka pendek yang perlu dibahas di sini, ayitu :
1. Permanent Income Hypothesis, menurut Milton Friedman, pendapatan permanen
terdiri dari pendapatan periode lalu ditambah dengan windfall income yang
diyakini menjadi bagian dari pendapatan permanen. Keyakinan itu diwujudkan
dalam koefisien adaptasi yang dinotasikan dengan g. Dalam jangka pendek g
terletak antara 0 dan satu. Semakin mendekati 0 artinya konsumen semakin
pesimis bahwa windfall income akan menjadi pendapatan permanen, sementara
semakin mendekati 1 artinya konsumen semakin optimis. Dalam jangka panjang
besarnya g adalah 1, artinya seluruh windfall akan menjadi pendapatan permanen.
C = k ( 1 – g ) Yt-1 + kg Yt
2. Relative Income Hypothesis, menurut Duessenbery jika pendapatan berubah maka
pola konsumsi juga akan berubah mengikuti jalur perubahan yang ratchet, karena
pola – pola perubahan konsumsi tersebut melalui tahap - tahap penyesuaian.
Dalam jangka pendek karena konsumen belum bisa menyesuaikan pola konsumsi
dengan pendapatan yang baru, maka konsumen tetap mendasarkan pola
konsumsinya pada pendapatan yang lama, baru dalam jangka panjang pola
konsumsi akan mengikuti pada pendapatan yang baru. Sulitnya penyesuaian
terhadap pendapatan yang baru adalah karena psychological shock pada kasus
pendapatan turun. Secara grafis, model konsumsi Relative income ini bisa
digambarkan sebagai berikut :

14
CL

CS3
F
E
CS2
D
G
CS1
C
Co3

B
Co2
A

Co1

0 Y1 Y2 Y3

Gambar 3.1 Relative Income Hypotesis


Keterangan :
Cl adalah konsumsi jangka panjang, sementara Cs1, Cs2 dan Cs3 adalah konsumsi
jangka pendek. Pendapatan mula – mula adalah sebesar Y1 dengan konsumsi di titik
A, ketika terjadi kenaikan pendapatan pada Y2, konsumsi tidak langsung berubah ke
titk C, namun melalui penyesuaian di titik B. Demikian juga ketika pendapatan naik
ke Y3. Dalam jangka panjang, konsumsi akan mengikuti pola konsumsi Cl. Sehingga
apabila digambarkan, perubahan konsumsi akan menjadi A – B – C – D – E.
Demikian juga ketika terjadi penurunan pendapatan, maka pola konsumsi tidak akan
langsung berubah sesuai pola konsumsi jangka panjang namun mengalami
penyesuaian seperti pada saat pendapatan naik.

3. Life Cycle Hypothesis, menurut Ando Modigliani apabila pola konsumsi


sepenuhnya mengikuti naik turunnya pendapatan banyak konsumen yang tidak
kuat karena adanya cultural lag dan psychological shock. Untuk itu banyak
konsumen mengatasinya dengan cara merencanakan pengeluaran seumur
hidupnya agar tetap sama dan merata, tidak mengikuti naik turunnya pendapatan.
Asumsi yang digunakan dalam teori ini adalah :
 Umur manusia bisa diperkirakan, misalnya selama D tahun

15
 Umur produktif manusia juga bisa diperkirakan misalnya selama R tahun
 Besarnya pendapatan per periode umur juga bisa diperkirakan misalnya Y
rupiah
 Selain pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan juga terdapat kekayaan lain
misalnya warisan, hadiah atau hibah.
Dari keempat asumsi tersebut maka kita bisa membuat rumus sebagai berikut :

C = W + RY = W + R Y
D D D

B. FUNGSI TABUNGAN
Tabungan merupakan fungsi pendapatan S = s Y. Besar kecilnya tabungan
dipengaruhi secara positif oleh besar kecilnya pendapatan nasional. Di mana
tabungan adalah sisa pendapatan setelah digunakan untuk konsumsi atau dapat
ditulis sebagai S = Y – C . Hal ini mengandung arti bahwa besarnya tabungan
baru diketahui setelah besarnya konsumsi diketahui.

C. PEREKONOMIAN 2 SEKTOR
Dalam arus lingkar pendapatan dan pengeluaran pada bab kedua, sudah
disinggung mengenai beberapa model keseimbangan pendapatan nasional. Pada
perekonomian negara yang masih tertutup dan sederhana, komponen perekonomian
terdiri atas dua sektor yaitu rumah tangga konsumen dan rumah tangga produsen
dengan variabel – variabel yang digunakan konsumsi ( C ) dan tabungan ( S ).
Hubungan antar variabel dalam perekonomian dua sektor ini adalah sebagai berikut :
C = f ( Yd )  konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan
1. 0 <  C < 1
Y
2. C = a + bYd
3. Yd =C+S
4. Yd = ( a + bYd ) + S
S = Yd - ( a + bYd )
S = -a + (1 – b ) Yd
Di mana Yd = Pendapatan yang bisa langsung dibelanjakan
C = Konsumsi

16
S = Saving, tabungan
. a = konsumsi autonomos/ Co
. b = MPC/ c
Selain mpc kita juga mengenal adanya mps ( marginal propensity saving),
yaitu seberapa besar perubahan tabungan dengan adanya perubahan pendapatan.
Dari hubungan tabungan dan konsumsi, maka kita akan menemukan Mpc+ Mps = 1.
Pada titik pendapatan tertentu terdapat kondisi di mana semua pendapatan
dihabiskan untuk konsumsi. Hal ini disebut dengan pendapatan break event point.
Juga kondisi ketika pendapatan tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsinya,
sehingga terjadi pendapatan yang sifatnya negatif atau terjadi hutang.
Secara grafis, hubungan pendapatan, tabungan dan konsumsi bisa
digambarkan sebagai berikut :

C,S Y=C
E
C = a + bY
S = -a + bY
a

450

0
Ye Y
-a

Gambar 3.24
Contoh
 Pada tingkat pendapatan sebesar 100 mrp pertahun, besar konsumsi 95 mrp
 Pada tingkat pendapatan nasional 120 mrp per tahun, besar konsumsi 110 mrp.
 Pada tingkat pendapatan Rp 90 milyar, berapakah konsumsi dan tabungannya
Dicari
a. Fungsi konsumsi dan tabungan
b. Titik Break even point
c. Pada tingkat pendapatan Rp 90 milyar berapa konsumsi dan tabungannya
Jawab
a. APC100 = C100 / Y100 = 95 / 100 = 0,95

17
APC120 = C120 / Y 120 = 110/120 = 0,9166
MPC =  C /  Y = ( 110 – 95 ) / ( 120 – 100 )
= 15 / 20 = 0,75
Maka dengan menggunakan rumus di atas bisa dicari
C = ( APCn – MPC ) Y + MPC. Y
= ( 0,95 - 0,75 ) . 100 + 0,75 Y
= 0,20 x 100 + 0,75 Y
= 20 + 0,75 Y

b. Tingkat Break even


Y = C  Y - C = 0
Y - ( 20 + 0,75 Y ) = 0
Y - 0,75 Y - 20 = 0
0,25 Y = 20
Y = 80 mrp
Artinya pada tingkat pendapatan sebesar Rp 80 milyar, seluruh pendapatan
digunakan untuk berkonsumsi. Sebelum tingkat pendapatan sebesar Rp 80 milyar,
kekurangan konsumsi akan ditutup dengan tabungan negatif ( hutang ).

c. Fungsi Saving S = Y - C
C = a + cY maka
S = Y - ( a + cY )
= Y - a - cY = ( 1- c ) Y - a
Dari soal di atas, fungsi savingnya adalah
S = ( 1 - c ) Y - a
S = ( 1 - 0,75 ) Y - 20
= ( 0,25 ) Y - 20

d. Pada tingkat pendapatan Rp 90 milyar, maka konsumsinya


C = 20 + 0,75 ( 90 )
= 87,5 milyar rupiah
S = 0,25 ( 90 ) – 20
= 2,5 milyar rupiah

18
D. PEREKONOMIAN DUA SEKTOR DENGAN MEMASUKKAN UNSUR
PAJAK DAN SUBSIDI
Pajak dan subsidi akan mempengaruhi pengeluaran konsumsi dan tabungan
melalui pendapatan yang bisa dibelanjakan. Seperti di bahas dalam bab sebelumnya
bahwa pendapatan disposible adalah pendapatan setelah dikurangi dengan pajak ( T )
dan ditambah dengan subsidi ( F ) yang diterima masyarakat.
Yd = Y - T + F / Yd = Y – Tx + Tr
T = f ( Y ) artinya besar kecilnya pajak ditentukan oleh pendapatan nasional.
T = To + tY
To = Autonomous tax , besar kecilnya pajak tidak dipengaruhi oleh pendapatan
tY = Marginal Propensity to tax atau koefisien pajak, yaitu besarnya perubahan
pajak apabila terjadi perubahan pendapatan.
Dalam sistem pajak built in fleksible, besar kecilnya pajak tergantung juga pada besar
kecilnya pendapatan nasional. Sistem pajak ini disebut automatic stabilizer yaitu
penstabil otomatis, yaitu besarnya perubahan pajak apabila terjadi perubahan dalam
pendapatan. Hal yang sama juga berlaku pada subsidi yang menggunakan sistem ini.
Dalam pengenaan pajak, pendapatan dibagi dalam beberapa tingkat kelompok
pendapatan dengan 3 sistem pajak sebagai berikut :
a. Progresif, yaitu semakin tinggi pendapatan atau harga semakin tinggi persentase
pajak yang dikenakan.
b. Regresif, yaitu semakin tinggi pendapatan atau harga semakin rendah persentase
pajak yang dikenakan.
c. Proporsional, Persentase pajak yang dikenakan sama untuk setiap tingkatan
pendapatan ataupun harga.
Dari ketiga sistem pajak tersebut, yang paling sering digunakan adalah pajak
proporsional. Tujuan dikenakan pajak dengan sistem proporsional adalah
1. Meratanya pembagian pendapatan untuk menghilangkan distorsi/ ketimpangan
pembagian pendapatan
2. Stabilisasi perekonomian
Dalam perekonomian yang sudah memasukkan pajak ini, fungsi konsumsinya
dituliskan sebagai berikut :
C = Co +c(Y–T+F)
= Co + c (Y – (To + tY ) + ( Fo – fY)
= Co + c ( Y – To – tY + Fo – fY )

19
= Co + cY – cTo – ctY + cFo – cf Y
C = ( Co – cTo + cFo ) + ( c – ct – cf ) Y
Dari fungsi konsumsi tersebut bisa diturunkan dalam fungsi saving sebagai berikut :
S = - ( Co – cTo + cFo ) + ( 1 – ( c – ct – cf )Y
Perubahan jumlah konsumsi & saving krn perubahan Tx
C +  C = a + c ( Y + Tr - ( Tx +  Tx )
C + C = a + c ( Y + Tr - Tx ) - c Tx
C + C = C - c Tx
C = - cTx

Contoh :
Jika diketahui C = 1.000 + 0,8 Yd
T = 100 + 0,2 Y
F = 50 – 0,1 Y
Carilah fungsi konsumsi dan savingnya
C = Co + c Yd = Co +c(Y -T+F)
= 1.000 + 0,8 ( Y – ( 100 + 0,2 Y ) + ( 50 – 0,1 Y )
= 1.000 + 0,8 ( Y – 100 – 0,2 Y + 50 – 0,1 Y )
= 1.000 + 0,8 ( 0,7 Y - 50 )
= 1.000 + 0,56 Y - 40
= 960 + 0,56 Y
Jadi C = 960 + 0,56 Y
S = -960 + 0,44 Y

E. EKONOMI 2 SEKTOR YANG SUDAH MEMASUKKAN INVESTASI


Dalam perekonomian dua sektor Y = C + S, adalah pendapatan dilihat dari
segi penggunaannya, apabila dilihat dari segi asalnya maka Y = C + I. Di sini sudah
dimasukkan variabel investasi . Dalam ekonomi makro, investasi adalah pengeluaran
sektor bisnis. Investasi mempunyai hubungan negatif dengan tingkat bunga. Semakin
tinggi tingkat bunga semakin kecil investasinya.
Ekonomi periode ke-0 ( pendapatannya ) digunakan pada periode ke-1.
Periode ke 1 digunakan untuk periode ke2 dan seterusnya maka akan diperoleh :
Co + Io = Yo
Yo = C1 + S1

20
C1 + I1 = Y1
Y1 = C2 + S2 dan seterusnya
Y nasional equilibrium adalah tingkat pendapatan nasional di mana tidak ada
kekuatan ekonomi yang mempunyai tendensi untuk mengubahnya. Yo = Y1 = Y2
dan seterusnya. Karena konsumsi tergantung Y maka Ceq saat Co = Y1 = Y2 dst
Demikian juga untuk saving. Maka kita bisa menyimpulkan bahwa S1 = I1
Pada perekonomian dua sektor yang sudah memasukkan variabel investasi ini
terdapat 2 cara untuk menghitung pendapatan nasional equilibrium yaitu :
Cara I
Y = C + I
C = a + cY
Y = a + cY + I
Y – cY =a + I
(1–c) Y =a + I
Y =(a+I) 1
1- c
=a + I
1- c
Cara II
S = I
Y - C = I
Y - ( a + cY ) = I
Y - a - cY = I
Y - cY = a + I
(1–c) Y = a + I
Y = 1 . (a+I)
1–c
Contoh :
Diketahui Fungsi konsumsi C = 0,75 Y + 20 mrp
Investasi/ th I = 40 mrp
a. Hitung besar pendapatan nasional equilibrium
b. Hitung besar konsumsi equilibrium
c. Besar saving equilibrium

21
Jawab

a. Y = 1 . ( 20 + 40 )
( 1 – 0,75 )
= 4 x 60 = 240 mrp
b. Ceq = a + cY
= 20 + 0,75 ( 240 )
= 200 mrp
c. S eq = -20 + 0,25 ( 240 )
= 40 mrp
Dari hasil penghitungan maka terlihat S = I
Apabila terjadi kondisi di mana investasi tidak sama dengan saving besarnya
Ketidakseimbangan perekonomian ( DISEQUILIBRIUM ). Pendapatan nasional
akan terus berubah.

F. PEREKONOMIAN 3 SEKTOR dan PERAN PEMERINTAH

Perekonomian 3 sektor ini masih tergolong perekonomian yang tertutup


karena belum ada sektor Luar Negeri-nya. Dalam perekonomian 3 sektor sudah
mulai memasukkan sektor pemerintah. Peran pemerintah dalam perekonomian mulai
dianggap penting setelah Keynes memasukkannya dalam analisis tahun 1936.
Menurut Keynes Pemerintah dapat mempengaruhi tingkat pendapatan keseimbangan
melalui 2 cara yaitu pembelanjaan pemerintah akan barang & jasa (G) dan
pemungutan pajak T (Tx) & transfer ( Tr ). Dengan masuknya peranan pemerintah,
maka perekonomian makro khususnya permintaan agregat tidak hanya dipengaruhi
oleh sektor moneter namun juga dipengaruhi sektor fiskal. Pengeluaran pemerintah
mempunyai karakteristik :
a. Fungsi pengeluaran adalah Go yang berarti merupakan variabel exogeneous yang
besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh variabel apapun dalam perekonomian tetapi
ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah, namun dipengaruhi oleh ada tidaknya
sumber dana pemerintah atau disebut derajat eksogenitas.
b. G adalah pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk pembelian barang dan
jasa oleh pemerintah, baik berupa pengeluaran rutin maupun pengeluaran
pembangunan.

22
Sumber dana G adalah :
Dalam suatu negara terdapat beberapa sumber pendapatan yaitu :
1. Pajak yang merupakan sumber pendapatan terbesar. Pajak adalah uang atau daya
beli masyarakat yang diserahkan kepada pemerintah dengan tidak memperoleh
imbalan secara langsung.
2. Peminjaman dari Bank Sentral
3. Penjualan obligasi melalui Open Market Operastion ( OMO ) atau operasi pasar
terbuka
4. Usaha Negara yang sah ( BUMN )
5. Pinjaman / hutang dari luar negeri.
Pendapatan – pendapatan tersebut akan dialokasikan ke dalam :
1. Pengeluaran konsumsi kongkrit/ Government Expenditure yaitu melalui :
 Belanja rutin meliputi pengeluaran biaya administrasi pemerintah seperti gaji
pegawai, perjalanan dinas dan lain – lain
 Belanja pembangunan yang digunakan untuk melakukan pembangunan
fasilitas – fasilitas umum.
2. Pengeluaran transfer payment, misalnya untuk subsidi – subsidi, beasiswa dan lain
sebagainya.

Tx dan Tr mempengaruhi hubungan antara pendapatan out put & pendapatan


disposible oleh swasta (Yd)
Yd = Y + Tr - Tx
Karena Yd = C + S
Maka C + S = Y + Tr – Tx
Pada perekonomian 3 sektor berarti sudah mulai dibicarakan adanya
kebijakan Fiskal . 3 Fungsi Kebijakan Fiskal
1. Fungsi Alokasi Public Goods
2. Fungsi Distribusi Pembagian pendapatan nasional
3. Fungsi stabilisasi ( memelihara kesempatan kerja yang tinggi, tingkat harga stabil
& tingkat perekonomian tumbuh pesat ).
Dengan memasukkan fungsi Investasi dan Government pada perekonomian 3
sektor rumusan matematisnya menjadi sebagai berikut :
Y = C+I+G
Y = Yd – Tr + Tx

23
Yd = Y + Tr – Tx
Yd = C+S
Maka akan diperoleh
C + I + G = C + S - Tr + Tx
I + G = S – Tr + Tx
I + G + Tr = S + Tx
Kalau dalam perekonomian 2 sektor I = S , maka dalam perekonomian 3 sektor ini
I tidak harus sama dengan S , asalkan I + G + Tr = S + Tx
Dengan menggunakan persamaan dasar tersebut di atas bisa diperoleh
Y = C + G + I C = a + c Yd
= a + c Yd + I + G
= a + c ( Y + Tr - Tx ) + I + G
Y - cY = a + cTr - cTx + I + G
(1–c )Y = a + cTr - cTx + I + G
Y = a + cTr - cTx + I + G
1–c
Contoh
Fungsi Konsumsi : C = 0,85 Yd + 135 mrp
Investasi : I = 87,5 mrp
Pajak : Tx = 70 mrp
GE : G = 65 mrp
Transfer payment : Tr = 75 mrp
Dicari pendapatan nasional , konsumsi dan saving equilibrium
a. Y = 1 ( a - cTx + cTr + G + I )
1-c
Y = 1 ( 135 – (0,85 x 70) + (0,85x75 ) + 65 + 87,5)
(1- 0,85)
Y = 6,67 ( 135 - 59,5 + 63,75 + 65 + 87,5 )
= 6,6667 ( 291,75 )
= 1945,0097
b. C = 0,85 Yd + a
= 0,85 ( 1945 + 75 - 70 ) + 135
= 0,85 ( 1950 ) + 135
= 1657,5 + 135
= 1792,5 mrp

24
c. S = Yd - C
= ( 1945 + 75 - 70 ) - 1792,5
= 1950 - 1792,5
= 157,5 mrp
Untuk mencocokkannya
S + Tx = I + G + Tr
157,5 + 70 = 87,5 + 65 + 75
227,5 = 227,5
Jadi dalam contoh kasus ini terbukti bahwa I tidak harus sama dengan S
namun S + Tx = I + G + Tr
Dalam suatu kondisi bisa jadi pengeluaran pemerintah jauh lebih besar
dibandingkan dengan pendapatan pemerintah, maka yang terjadi adalah defisit
perekonomian. Pada jaman orde baru, kondisi perekonomian yang defisit merupakan
hal yang tabu sehingga untuk menciptakan kondisi perekonomian yang berimbang,
pemerintah menutupnya dengan hutang luar negeri. Sejak masa Reformasi dengan
pemerintahan Abdurrahman Wahid, pemerintah mulai berani menyatakan kondisi
yang sesungguhnya yaitu perekonomian defisit.

G. PEREKONOMIAN 4 SEKTOR

Dalam perekonomian empat sektor dimasukkan adanya sektor luar negeri


dengan ekspor dan impornya sehingga disebut dengan Open Ekonomi atau ekonomi
yang terbuka karena aktifitas ekonomi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh
aktifitas ekonomi masyarakat dalam negeri tapi juga hubungannya dengan negara
lain. Perdagangan luar negeri terjadi karena masing masing negara ingin
meningkatkan efisiensi kegiatan ekonomi dan pendapatan nasionalnya
3 faktor utama penyebab terjadinya perdagangan internasional adalah :
1. Absolute Advantage yaitu keunggulan mutlak yaitu suatu negara dengan sumber
daya yang dimilikinya merupakan satu – satunya atau sebagian kecil produsen
suatu barang tertentu. Sehingga negara lain terpaksa harus membeli barang
kebutuhan yang dimaksud pada negara tersebut. Dengan adanya berbagai macam
kemajuan dan inovasi dalam tehnologi baru , maka saat ini hampir tidak ada
negara yang mempunyai keunggulan absolut tersebut karena sebagian besar
mampu dipatahkan dengan competitive advantage. Hanya satu negara yang punya

25
keunggulan yang tidak mungkin akan bisa disaingi oleh negara manapun di dunia
yaitu Arab Saudi dengan Ka’bahnya. Seluruh masyarakat Islam di dunia ketika
membutuhkan untuk berhaji pasti akan menuju ke negara tersebut walaupun harus
dibayar dengan harga yang sangat mahal.
2. Comparative Advantage, keunggulan komparative yang terjadi karena adanya
kemampuan suatu negara untuk memproduksi barang dengan biaya yang paling
murah sehingga negara – negara lain memilih bertransaksi dengan negara tersebut
untuk memperoleh suatu barang. Keunggulan komparatif lebih mengacu pada
harga yang mampu diberikan kepada konsumen.
3. Competitive Advantage, keunggulan kompetitive yang terjadi karena adanya
inovasi tehnologi – tehnologi baru yang selalu muncul. Setiap negara apabila
berusaha maka pasti akan mampu menciptakan competitive advantage. Jadi
keunggulan kompetitif lebih mengacu pada produk unggulan yang mampu
diciptakan dengan kualitas yang lebih tinggi.
Perubahan penting adalah bahwa pembelanjaan yang dilakukan bukan lagi
merupakan pembelanjaan atas barang – barang dalam negeri, namun sudah terjadi
pembelanjaan luar negeri. Demikian juga untuk produksi atau penjualan, yang
dilakukan sudah mencakup dalam dan luar negeri. Secara matematis dengan adanya
ekspor dan impor maka fungsi Y menjadi
Y = C + I + G + ( X - M )
X - M adalah nett ekspor.
a. Ekspor ( X )
Yang dimaksud dengan ekspor adalah penjualan barang dan jasa ke luar negeri.
Ekspor merupakan variabel eksogen yang besar kecilnya ditentukan oleh order
pembelian masyarakat luar negeri. Secara matematis X = Xo. Terdapat
beberapa sebab meningkatnya ekspor suatu negara antara lain
 Meningkatnya kemakmuran masyarakat dunia
 Tingkat inflasi dalam negeri lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi negara
pengimpor sehingga barang dalam negeri menjadi lebih murah dibandingkan
barang produksi negara tersebut
 Kurs devisa efektif menguntungkan eksportir. Pemerintah suatu negara
terkadang menerapkan devaluasi yaitu penurunan nilai mata uang dalam

26
negeri terhadap mata uang asing yang dimaksudkan untuk menggairahkan
ekspor. Pernyataan tersebut bisa diilustrasikan sebagai berikut :
Rupiah menurun terhadap dollar Harga barang Indonesia di luar
negeri menjadi lebih murah Permintaan barang Indonesia di luar
negeri meningkat X naik, I turun Produktifitas dalam
negeri meningkat Permintaan faktor – faktor produksi dalam
negeri meningkat pengangguran turun pendapatan
naik
Jadi diharapkan dengan adanya devaluasi bisa memberikan efek yang besar
bagi peningkatan produktifitas dalam negeri dan pengurangan pengangguran
 Adanya peningkatan efisiensi produksi dalam negeri dalam arti luas
 Kegagalan produk dari negara penghasil barang yang sama ( pesaing )
 Adanya kebijakan fiskal dan moneter yang serasi dengan peningkatan ekspor

b. Import ( M )
Yang disebut dengan import adalah pembelian produk baik barang maupun jasa
dari luar negeri. Impor merupakan variabel yang endogin sehingga besar
kecilnya dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional suatu negara.
Impor dan pendapatan nasional mempunyai hubungan yang positif artinya
semakin tinggi pendapatan nasional semakin besar impor yang dilakukan oleh
masyarakat negara tersebut. Dalam import dikenal adanya Marginal propensity to
import ( MPI ). Secara matematis M = f Y = Mo + mY . Terdapat beberapa
faktor yang menyebabkan kenaikan impor suatu negara yaitu :
 Adanya peningkatan kemakmuran masyarakat dalam negeri, ini berkaitan
dengan import yang merupakan fungsi Y.
 Tingkat inflasi dalam negeri lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi negara
pengekspor, sehingga harga barang – barang import lebih murah
dibandingkan barang dalam negeri
 Kurs devisa efektif menguntungkan bagi importir. Apabila suatu negara
mengalami Apresiasi atau naiknya mata uang dalam negeri terhadap mata
uang asing, maka impor diprediksikan akan naik dengan cepat, karena harga –
harga barang luar negeri apabila dikurs dengan mata uang dalam negeri
menjadi lebih murah. Kondisi ini pernah dialami oleh Amerika ketika
berhadapan dengan Jepang. Dengan adanya peningkatan nilai tukar dollar

27
terhadap Jepang, maka harga barang - barang Jepang menjadi lebih murah,
sehingga Amerika merasa kewalahan dan menerapkan bea masuk relatif tinggi
terhadap barang – barang produksi Jepang.
 Kebijakan pemerintah yang merangsang import, misal pembebasan bea
masuk dan sebagainya.
Dalam kasus perdagangan Internasional kerap sekali terjadi perselisihan antar
negara, yang kemudian diselesaikan melalui WTO ( World Trade Organization ).
Indonesia pernah berhadapan dengan Jepang untuk masalah perdagangan
Internasional pada tahun 1996 yaitu untuk kasus mobil Timor, mobil yang sebagian
besar onderdilnya buatan Korea tersebut diakui sebagai produk dalam negeri,
sehingga mendapatkan pembebasan bea masuk yang besar, hal ini menyebabkan
Jepang sebagai importir mobil terbesar di Indonesia merasa dirugikan dan
melaporkannya pada WTO. Kasus perselisihan yang paling sering terjadi dalam
perdagangan Internasional adalah Dumping yaitu salah satu bentuk diskriminasi
harga secara internasional. Terdapat 2 macam dumping yang umum terjadi yaitu
Pertama Dumping Predatory penentuan harga luar negeri lebih rendah dibandingkan
harga dalam negeri dimaksudkan untuk mendongkrak eksport dan merebut pangsa
pasar yang selama ini dikuasai negara lain. Kelemahan dumping jenis ini adalah
konsumen dalam negeri dipaksa untuk memberikan subsidi kepada konsumen luar
negeri. Kedua Dumping Sporadis, yaitu perbedaan harga dalam dan luar negeri hanya
dilakukan ketika terjadi over supply suatu barang. Dumping ini dimaksudkan untuk
mengatasi kelebihan produksi barang dan menjaga stabilitas harga dalam negeri.

Bila perekonomian mencapai tingkat keseimbangan maka pendapatan nasional


sama dengan pengeluaran agregatif, secara matematis bisa digambarkan sebagai
berikut :
Y = C + S + T ( Tx - Tr )
Y = C + I + G + (X - M )
C + S + T = C + I + G + ( X - M )
S + T = I + G + ( X - M )
S + T + M = I + G + X

Misal pemerintah menggunakan balance budget


maka G = T

28
S + M = I + X atau S - I = X - M
Bila kondisi surplus
X > M maka I < S
Bila kondisi defisit
X < M maka I > S
Perekonomian empat sektor merupakan perekonomian yang lengkap dan
terbuka, di mana masing – masing variabel ekonomi sudah tercakup di dalamnya baik
yang bersifat endogen ( nilainya ditentukan dalam model ) maupun variabel eksogen.
Kedelapan variabel ekonomi makro ( C, S, I, G, T, F, X dan M ) secara fiskal bisa
dikelompokkan menjadi 2 yaitu variabel – variabel injection dan variabel – variabel
leakage.
 Variabel injection adalah variabel yang multipliernya bersifat positif karena arah
perubahannya searah dengan arah perubahan pendapatan nasional. Sehingga
apabila ditambah akan menyebabkan kenaikan pendapatan nasional . Variabel
injection terdiri dari C, I, G dan X.
 Variabel leakage adalah variabel yang multipliernya bersifat negatif karena arah
perubahannya berlawanan arah dengan pendapatan nasional. Sehingga apabila
ditambah justru akan mempunyai efek mengurangi pendapatan nasional. Variabel
– variabelnya adalah C, S, T dan M.
 Sehingga keseimbangan yang terjadi seperti diungkap sebelumnya adalah
Injection = Leakage
C+I+G+X = C + S + T + M ( bila konsumsi dihilangkan )
I + G+X =S+T+M
Keterangan :
- Konsumsi dapat dianggap sebagai variabel injeksi dan leakage.
- Subsidi ( F ) disatukan dengan pajak sebagai nett tax
- Cara membaca I + G + X adalah : Investasi ditambah dengan pengeluaran
pemerintah ditambah tabungan
- Cara membaca S + T + M adalah tabungan yang dipengaruhi oleh adanya pajak
dan subsidi ditambah import, sehingga untuk menyelesaikannya harus dicari
terlebih dulu konsumsinya baru selanjutnya bisa ditemukan tabungannya.

29
H. ANGKA PENGGANDA
Setelah mempelajari keempat model perekonomian mulai dari yang tertutup
sederhana, 2 sektor, memasukkan unsur pemerintah, 3 sektor dan model terbuka
lengkap , 4 sektor. Terdapat hubungan yang saling berkaitan antar masing – masing
variabel perekonomian. Dengan pendapatan nasional ( Y ) sebagai intinya.
Permasalahan yang cukup penting untuk dipelajari adalah bagaimana perubahan
variabel – variabel ekonomi makro baik yang bersifat injection maupun leakage,
terutama sekali pada variabel endogen ( variabel yang nilainya ditentukan dalam
model ).
Untuk mengetahui seberapa besar perubahan variabel ekonomi makro karena
perubahan Y ( Y ) kita mengenal adanya angka pengganda atau multiplier yang
disarikan dari model – model matematis yang ada pada masing – masing model
perekonomian.
 Ak pengganda konsumsi kc =  Y / C
= 1 .
1-c + ct
 Ak pengganda Investasi kI =  Y/  I
= 1 .
1- c + ct
 Angka pengganda pengeluaran pemerintah kG =  Y /  G
= 1 .
1 –c + ct
 Angka pengganda pajak kTx = Y / Tx
= -c .
1 - c + ct
 Angka pengganda subsidi kTr = Y / Tr
= c .
1 - c + ct

30