Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENGETAHUAN DASAR KEBENCANAAN


BANJIR BANDANG DI SENTANI 2019

DISUSUN OLEH :

1. DIKI FEBRIANSYAH (1510921061)


2. DEVIRA ANANDA PUTRI (1810921019)
3. MELISYA RAHMANILA (1810921048)
4. ALMER HAFIZ YOGYANTORO (1810923044)

FAKULTAS TEKNIK – JURUSAN TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang “Banjir Bandang Sentani 2019”.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Banjir Bandang Sentani 2019 kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang.

Padang, Maret 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................................ 2
BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................................... 3
A. Definisi Bencana Alam ...................................................................................... 3
B. Definisi Bencana Banjir ..................................................................................... 4
C. Penyebab Terjadinya Banjir ............................................................................... 4
D. Dampak Negatif Dari Banjir .............................................................................. 4
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................................. 5
A. Faktor Penyebab Banjir di Sentani..................................................................... 5
B. Kronologi Terjadinya Banjir di Sentani ............................................................. 5
C. Dampak yang di Timbulkan dari Banjir............................................................. 6
D. Kondisi Sentani Pasca Terjadinya Banjir ........................................................... 7
E. Tahapan Selanjutnya Setelah Banjir di Sentani ................................................. 7
BAB IV PENUTUP .................................................................................................... 11
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 11
B. Saran ................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sudah sering kita
dengar dan merupakan bencana alam yang sudah tidak asing bagi masyarakat.
Pada umumnya banjir di wilayah perkotaan merupakan banjir lokal yaitu
banjir yang terjadi saat hujan lebat. Salah satu penyebab banjir di kota ini
adalah perubahan penggunaan lahan yang membawa dampak terhadap
infiltrasi tanah.
Jayapura terletak di antara 1390-1400 bujur timur dan 20 LU dan 30
LS. Jayapura terdiri dari beberapa distrik, salah satunya distrik sentani yang
memiliki luas wilayah 129,2 M2. Sumber air di wilayah Kabupaten Jayapura
terdiri dari sungai, danau, dan air tanah, sungai besar yang melintas, dan
sungai-sungai kecil. Kabupaten Jayapura memiliki pertumbuhan penduduk
yang cukup besar dan mengalami peningkatan yang cukup besar tiap
tahunnya, sehingga dapat memakan banyak korban jika terjadinya bencana
yang besar.
Sentani, Sebagai daerah yang berada di Lereng perbukitan yang terjal,
Sentani tidak terlepas dari ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat
menyerang. Berdasarkan BNPB, banjir bandang pernah terjadi di Sentani,
tepatnya pada tahun 2003 dan 2007. Dengan begitu, tidak menutup
kemungkinan dapat terjadi banjir pada tahun 2019.

B. Rumusan Masalah
1. Faktor apakah yang menyebabkan terjadinya banjir di Sentani?
2. Bagaimana kronologis terjadinya banjir di daerah Sentani, Papua?
3. Apakah dampak yang ditimbulkan dari bencana tersebut?
4. Bagaimana keadaan Papua pasca terjadinya banjir?
5. Bagaimana tahapan selanjutnya setelah bencana banjir di Sentani?

1
C. Tujuan
1. Mengetahui faktor yang menyebabkan banjir di Sentani
2. Mengetahui kronologi terjadinya banjir di Sentani, Papua.
3. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari banjir.
4. Mengetahui kondisi Papua pasca terjadinya banjir
5. Mengetahui tahapan selanjutnya setelah bencana banjir di Sentani

2
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Definisi Bencana Alam

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami


(suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan
aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya
manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang
keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian.
Bencana alam juga dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan
oleh gejala alam. Sebenarnya gejala alam merupakan gejala yang sangat
alamiah dan biasa terjadi pada bumi. Namun, hanya ketika gejala alam
tersebut melanda manusia (nyawa) dan segala produk budidayanya
(kepemilikan, harta dan benda), kita baru dapat menyebutnya sebagai
bencana.
Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk
mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini
berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya
bertemu dengan ketidakberdayaan. Besarnya potensi kerugian juga tergantung
pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam
bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi
mengakhiri peradaban umat manusia.
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya
tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga
tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada
di sana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep
ketahanan bencana merupakan evaluasi kemampuan sistem dan infrastruktur-
infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan
serius yang hadir.

3
B. Definisi Bencana Banjir

Banjir adalah kondisi air yang menenggelamkan atau mengenangi


suatu area atau tempat yang luas. Banjir juga dapat mengacu terendamnya
daratan yang semula tidak terendam air menjadi terendam akibat volume air
yang bertambah seperti sungai atau danau yang meluap, hujan yang terlalu
lama, tidak adanya saluran pembuangan sampah yang membuat air tertahan,
tidak adanya pohon penyerap air dan lain sebagainya.
Banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dengan tidak
diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga merendam
wilayah-wilayah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang yang ada di sana.
Banjir bisa juga terjadi karena jebolnya sistem aliran air yang ada sehingga
daerah yang rendah terkena dampak kiriman banjir.

C. Penyebab Terjadinya Banjir

Penyebab terjadinya banjir di antaranya yaitu :Pendangkalan sungai.


1. Pembuangan sampah yang sembarangan, baik ke aliran sungai.
2. Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat.
3. Pembuatan tanggul yang kurang baik.
4. Curah hujan tinggi.
5. Banjir kiriman.

D. Dampak Negatif Dari Banjir

Banjir dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berupa:


1. Rusaknya areal pemukiman penduduk.
2. Sulitnya mendapatkan air bersih.
3. Rusaknya sarana dan prasarana penduduk.
4. Menghambat proses belajar mengajar.
5. Timbulnya penyakit-penyakit.
6. Menghambat transportasi darat.

4
BAB III
PEMBAHASAN

A. Faktor Penyebab Banjir di Sentani


Letak geografis, kondisi topografi, iklim, faktor demografi, dan
kondisi sosial masyarakat menyebabkan kemungkinan terjadinya banjir di
Sentani, Papua cukup besar. Banjir dapat terjadi kapan saja dan intensitasnya
tidak dapat diperkirakan. Peristiwa banjir sebetulnya tidak akan menjadi
masalah jika banjir tidak menimbulkan gangguan atau kerugian yang berarti
bagi kepentingan manusia.
Penyebab terjadinya banjir di Sentani, Papua disebabkan oleh hujan
yang sangat deras. Hujan tersebut mengalami fluktuasi curah hujan yang terus
menerus meningkat. Karena itu, palung sungai yang terdapat di kawasan
tersebut tidak mampu menampung air hujan dengan volume yang sangat
besar. Sehingga, palung sungai longsor dan menyebabkan banjir bandang di
beberapa kelurahan di Sentani, Papua.
B. Kronologi Terjadinya Banjir di Sentani
Pada Sabtu, 16 Maret 2019 pukul 17:00 WIT, hujan deras mengguyur
kawasan Sentani, Jayapura. Hujan tersebut turun sangat deras. Kemudian pada
pukul 18.00 WIT, hujan mengalami fluktuatif dengan curah hujan menjadi
deras mencapai 50.5 mm/jam. Setelah itu, Pukul 22.00 s.d. 00.00 WIT, palung
sungai yang ada di sekitar Sentani tidak mampu menampung, terjadi
longsoran-longsoran yang kemudian membendung alur-alur sungai di hulu.
Lalu, banjir bandang membawa material kayu-kayu gelondongan,
batu-batu sedimen banyak yang dialurkan ke bagian hilirnya. Sehingga
menerjang 9 kelurahan di Kecamatan Sentani. Curah hujan yang terjadi di
Sentani sangat ekstrem. Selama 8 jam hujan terus menerus terjadi tanpa henti
hingga mencapai 235.1 mm/jam.

5
Kemudian pada Minggu, 17 Maret 2019 Pukul 08.00 -17.00 WIT.
Setelah diterjang banjir sejak tanggal 16 Maret 2019, sejumlah petugas
melakukan evakuasi. Hasilnya, petugas gabungan menemukan 14 jenazah.
Sampai dengan sore tercatat korban meninggal 58 orang, Menurut Sutopo
Purwo Nugroho, selaku Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan
Masyarakat di BNPB Kemungkinan korban masih akan terus bertambah
dikarenakan proses evakuasi masih berlanjut, dan belum semua daerah yang
terdampak bencana dijangkau oleh tim SAR gabungan.

C. Dampak yang di Timbulkan dari Banjir


Banjir yang terjadi di Sentani menyebabkan jebolnya bendung alamiah
dari sedimentasi longsoran sepanjang dinding sungai dan batu berukuran besar
di hulu lembah sungai. Terlihat juga perubahan morfologi terjal Pegunungan
Cyclops menjadi wilayah pendataran tanah endapan (aluvial). Longsoran pada
dinding sungai terbawa arus oleh air sehingga material kayu-kayu
gelondongan, batu-batu sedimen tergenang pada air banjir.
Banjir bandang di Sentani tidak luput dari korban jiwa. Sekitar 112
orang tewas dan 94 orang masih hilang. Lebih dari empat ribu warga Sentani
harus mengungsi ke posko terdekat. Bencana ini menyebabkan 350 rumah
rusak terseret arus air, 3 jembatan, 8 drainase, 4 jalan, 2 gereja, 1 masjid, 8
sekolah, 104 ruko, dan 1 pasar semuanya mengalami rusak berat, dan 15.670
warga mengungsi. Peristiwa banjir ini membuat sebanyak 11.725 keluarga
terdampak.
Dilaporkan pula sebuah pesawat twin otter yang sedang parkir di
Lapangan Terbang Adventis Doyo dan sebuah helikopter rusak karena adanya
banjir ini. Sejumlah lokasi juga terdampak pemadaman listrik sebagai akibat
dari banjir ini. Pada tanggal 19 Maret, PLN melaporkan dari 104 gardu listrik
tercatat padam, 69 telah berhasil dipulihkan. Dilaporkan juga bahwa beberapa

6
menara transmisi tegangan tinggi mengalami kerusakan. Operasional Bandar
Udara Sentani, pascabanjir tetap normal dan beroperasi dengan baik.

D. Kondisi Sentani Pasca Terjadinya Banjir


Pasca-bencana banjir bandang di Kabupaten Jayapura pada Sabtu 16
Maret 2019 malam, sebanyak 25 kampung terendam karena luapan air Danau
Sentani. Dari hasil pengecekan atau survei lokasi pemukiman oleh Tim Dit
Polairud Polda Papua yang berada di Danau Sentani, terdapat 25 Kampung
yang terendam banjir, ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. AM
Kamal.
Ke-25 kampung tersebut adalah: Doyo Lama(Pinggiran Danau),
Sosiri, Yakonde, Dondai, Kwadeware, Babrongko, Simporo, Kameyaka,
Abar, Atamali , Putali, Sereh, Ifar Besar, Yoboi, Hobong, Yahim, Yobe, Ifale,
Nendali, Asei Besar, Ayapo, Puay, Asei Kecil, Nolokla, Yokiwa Setelah
banjir bandang menerjang 9 Kelurahan di Kabupaten Jayapura dan sejumlah
wilayah di Kota Jayapura pada Sabtu 16 Maret 2019.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) turut
membantu proses evakuasi warga ke tempat yang lebih aman, serta
melakukan mobilisasi alat untuk evakuasi korban yang tertimbun material dan
pembersihan jalan sepanjang 2 Km yang tertutup lumpur agar dapat dilalui
kembali.

E. Tahapan Selanjutnya Setelah Banjir di Sentani


Adapun beberapa tahapan yang dilakukan Pasca Banjir di Sentani
yaitu:

1. Tanggap Darurat
Masa tanggap darurat bencana banjir bandang yang menerjang
beberapa daerah di Papua, telah ditetapkan selama 14 hari, yang berlaku
pada 16-29 Maret 2019, terdapat 2.317 personel dari 28 instansi yang
turut membantu proses evakuasi dan penanganan dan akan terus

7
membantu dalam pencarian orang hilang dan akan mengecek dan
meningkatkan pencarian korban.
Sementara itu, BNPB telah menyerahkan bantuan biaya
operasional sebesar Rp 1,5 miliar. Rinciannya, sebanyak Rp 1 miliar
diberikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kabupaten Jayapura. Lalu, sebesar Rp 250 juta diberikan untuk BPBD
Kota Jayapura, dan sisanya sebesar Rp 250 juta untuk BPBD Provinsi
Papua Berdasarkan data BNPB.
Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan akan memenuhi antara
lain air bersih, MCK, selimut, dan matras. Logistik, makan, dan bantuan-
bantuan lainnya akan terus ditambah dari bantuan berbagai pihak. Unsur
relawan, TNI, dan Polri akan disiagakan di setiap titik pengungsian.

2. Pemulihan
Terkait dengan bencana banjir bandang Sentani yang
terjadi di Kabupaten Jayapura, Papua, Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengambil beberapa langkah
strategis untuk penanganan bencana banjir tersebut. Langkah
strategis penanganan bencana banjir bandang Sentani disusun ke
dalam dua skema yaitu jangka pendek dan jangka Panjang, akan
dilakukan pembentukan Satuan Petugas (Satgas) Penanganan
Bencana Sentani dan segera berangkat ke lapangan dalam waktu
dekat, serta pembentukan posko informasi bencana Sentani.
KLHK akan meningkatkan alokasi rehabilitasi hutan dan
lahan di Papua dari semula 1.000 hektar menjadi 2.500 hektare,
serta peningkatan pembangunan sarana Konservasi Tanah dan Air
(KTA), yakni dam penahan erosi (gully plug), serta dam pengendali
dan Saluran Pembuangan Air (SPA).program rehabilitasi dan
pembangunan sarana konservasi tanah dan air. Kita akan
menggunakan pendekatan multiyears agar implementasinya dapat
berjalan baik dan terukur.

8
Kepala BBPJN 18 Jayapura Osman Marbun mengatakan
bahwa Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional (BBPJN) 18 Jayapura, Ditjen Bina Marga membersihkan ruas
Jalan Nasional Jayapura-Sentani-Kemiri sepanjang 2 Km yang tertutupi
lumpur dan pohon tumbang dengan mengerahkan 3 unit excavator 2 unit
loader.
Proses pembersihan Jalan Nasional dilakukan untuk
memudahkan mobilitas kendaraan-kendaraan emergency untuk keluar
masuk dari wilayah yang terdampak bencana, serta memperlancar
aktivitas masyarakat setempat.

3. Mitigasi
Bencana banjir bandang bukanlah hal yang bisa dihindari.
Tetapi, dampak yang ditimbulkannya bisa diperkecil jika dilakukan
mitigasi. Banjir bandang yang terjadi di Sentani mempunyai
kerugian yang besar karena tidak adanya mitigasi. Sebelumnya,
bencana banjir sudah terjadi di Sentani. Terulangnya bencana ini
memperlihatkan para pihak yang sangat tidak peduli untuk menjaga
dan memelihara lingkungan.
Setelah terjadinya banjir bandang di Sentani, Direktur
Wahana Lingkungan Hidup Papua(Walhi Papua), Aiesh Rumbekwan
menekankan pemerintah untuk segera menentukan langkah mitigasi
dan adaptasi untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian banjir
bandan di Sentani terulang lagi. Pemerintah ditekankan untuk
mengutamakan isu lingkungan hidup dalam berbagai perencanaan
pembangunan dan mengembangkan kebijakan dan praktik
pemanfaatan dan penggunaan lahan untuk pemukiman, perkebunan,
pembalakan kayu, dan usaha ekonomi masyarakat secara lestari dan
berkeadilan. Selain itu, pemerintah juga ditekankan untuk mengkaji
ulang terhadap perencanaan pembangunan dan Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) di Kabupaten Jayapura.

9
Walhi Papua juga mengimbau kepada seluruh lapisan
masyarakat agar ikut melestarikan dan melindungi lingkungan.
Dengan demikian, lingkungan dapat terhindar dari dampak bencana
banjir bandang dan bencana-bencana lainnya.

4. Kesiapsiagaan
Untuk mengatasi bencana banjir bandang agar tidak kembali
terjadi di masa depan, KLHK memberikan empat rekomendasi untuk
segera diselesaikan. Pertama adalah mengembalikan kawasan hutan
sesuai dengan fungsinya. Kedua, melakukan review tata ruang
berdasarkan pertimbangan pengurangan risiko bencana dan
mengembangkan skema adaptasi di titik banjir. Ketiga, internalisasi
program rehabilitasi lahan di hulu dan tengah DAS terutama
kawasan hutan ke dalam indikasi program pada tata ruang.
Keempat, internalisasi program konservasi tanah dan air berupa
Saluran Pembuangan Air (SPA) di lahan pertanian dan permukiman
untuk meningkatkan pengaturan
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengatakan di waktu
mendatang akan menerapkan sistem pembangunan berbasis mitigasi
bencana. Artinya, semua pembangunan yang dilakukan nanti harus
melihat risiko dan dampak bencana yang terjadi. Oleh sebab itu,
menurutnya, dalam proses pembangunan harus ada data dari tim geologis
yang telah menganalisis, meneliti, serta mendata sebelum pembangunan
dilakukan.

10
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan keseluruhan,


khususnya pada wilayah Sentani, Papua maka kesimpulan yang dapat
ditarik adalah sebagai berikut:
1. Wilayah Sentani ini terjadi banjir disebabkan oleh intensitas hujan
yang sangat tinggi ditambah dengan kurangnya kesiapsiagaan
pemerintah dan masyarakat.
2. Karena kurangnya kesiapsiagaan, dampak banjir cukup besar dan
menimbulkan kerugian yang cukup besar dan juga korban jiwa.
3. Cara mengatasi terulangnya banjir di Sentani adalah
a. Mengembalikan kawasan hutan sesuai dengan fungsinya.
b. Meninjau kembali tata ruang dengan mempertimbangkan risiko
bencana.
c. Meninjau kembali daerah resapan air dan saluran pembuangan
air.
d. Mengimbau masyarakat untuk menjaga dan melestarikan
lingkungannya.
B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mencoba


memberikan masukan yang mungkin dapat berguna bagi penanganan
banjir wilayah Sentani, Papua. Sebaiknya masyarakat lebih waspada dan
siap siaga terhadap bencana yang akan datang. Kemudian, perlunya
adanya penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan kapasitas
masyarakat tentang pengetahuan bencana banjir. Dan yang terutama,
menyediakan tempat penampungan air dan pengaliran air yang lancar.

11
DAFTAR PUSTAKA

Maryono A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.

Rukmana R. 1995. Teknik Pengelolaan Lahan Berbukit dan Kritis. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.

Hestiyanto, Yusman. 2005. Geograpi 1 SMA Kelas. Jakarta : Yudistira.

Hidayat. 2007. Ilmu Alam Fenomena Alam Sekitar. Bandung : PT Sarana Panca
Karya Nusa.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190318134229-4-61308/banjir-bandang-
sentani-tewaskan-77-orang-ini-penyebabnya

http://manado.tribunnews.com/2019/03/17/video-dampak-banjir-bandang-di-sentani-
jayapura-9-rumah-terbawa-arus-dan-hancur

https://regional.kompas.com/read/2019/03/17/20173831/4273-orang-mengungsi-
akibat-banjir-di-sentani-jayapura

https://news.okezone.com/read/2019/03/19/340/2031905/banjir-bandang-sentani-
disebut-sebagai-konsekuensi-tak-dapat-dihindari

https://tirto.id/walhi-papua-banjir-bandang-di-sentani-tak-hanya-karena-faktor-alam-
djLP

https://tirto.id/74-korban-banjir-bandang-sentani-masih-hilang-dkpP

https://news.okezone.com/read/2019/03/17/525/2031110/jk-pastikan-penanganan-
bencana-banjir-bandang-di-sentani-sudah-dilakukan

12