Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menjadi sebuah hal yang menarik adalah ketika muncul pertanyaan
seberapa pentingkah sejarah Perjanjian Lama (PL) dalam ruang lingkup
kehidupan orang Kristen? Mungkin akan muncul berbagai macam pendapat,
ada yang mengatakan penting ada juga yang menganggap sudah berlalu.
Jika kita pelajari dengan baik Yesus Kristus menggunakan PL dalam
mengajar di pelayanan-Nya. Para murid Yesus juga menggunakan PL dalam
memberitakan injil atau dalam pelayanannya. Hal itu membuat PL menjadi
hal yang sangat penting dalam membangun dan membentuk konsep dalam
pelaksanaan pelayanan dalam kehidupan orang Kristen. Pemahaman tersebut
tentunya dilandasi oleh bagaimana sejarah kehidupan orang Kristen dalam
PL.
Berdasarkan hal tersebut dapat kita katakan bahwa sejarah PL memiliki
peranan penting untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelayanan Agama
Kristen pada masa dulu (pada kehidupan bangsa Israel).

1.2. Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan diktat ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui bagaimana sejarah PL, khususnya pada masa sejarah
bangsa Israel.
2. Dapat mengerti maksud dan rencana Allah yang turut campur tangan
dalam sejarah manusia.
3. Mengetahui kejadian-kejadian dalam Alkitab untuk melihat bagaimana
Allah berkarya, menyatakan Diri-Nya dan bagaimana Ia bertindak dan
berhubungan dengan manusia.

1
1.3. Definisi Theologia
1. Apakah itu Theologia? Theologia dibagi dalam dua definisi :
a. Definisi Umum artinya Theologia adalah pengetahuan tentang Allah
yang diterangkan secara sistematis.
b. Definisi Khusus artinya Theologia berdasarkan Alkitab
2. Theologia terdiri dari tiga kata :
a. Theos : Tuhan, Allah, God
b. Logos : Firman, Perkataan, Hikmat, Wahyu.
c. Logi : Ilmu/Science
3. Theos : Wibawa Allah, Otoritas, Anugerah
4. Istilah Theologia, etimologi kata dari bahasa Yunani :
THEOS : Allah/Tuhan
LOGOS : Perkataan, Percakapan, Ekspresi Rasional, Uraian, Atau
Buah Pikiran.
5. Istilah Theologia : uraian rasional tentang Allah.
6. Istilah Sistematika Bahasa Yunani : Sunistano
7. Sistem atau Systema : menggambarkan tentang anggota-anggota dari satu
persekutuan. Artinya: berdiri bersama atau mengorganisasikan.
Kesimpulan adalah mengumpulkan/mengorganisasikan menjadi kesatuan
yang utuh.
8. Dogmatika : Bahasa Yunani, Dogma artinya: Perintah, Ketetapan,
Keputusan, Resolusi, Doktrin, Opini dan Asaz.
9. Kata Kerjanya : Dogmatizo artinya : Menetapkan, atau Menitahkan (Kis.
16:4). Dogma dalam bentuk jamak menujuk “Keputusan-Keputusan”.
10. Dogma : Asaz, Ajaran : sifatnya permanen, sudah diakui diUndang-
undang Gereja.
11. Prakteknya : Ajaran tentang Allah yang menjadi ciri kelompok Gereja
tertentu.
12. Doktrin : Asaz, Ajaran : Sifatnya temporer karena dapat berkembang,
sifatnya tafsiran. Isinya : Ajaran Alkitab tentang salah satu pokok iman.

2
1.4. Dogma Tentang Manusia
a. Asal Usul Manusia (Antropos) + on : perlu pertolongan
1. Adamah : Tanah liat
2. Jari-jari Tuhan
3. Nefes/Nafas Tuhan
Manusia : Gambar/Rupa Allah
1. Wajah Allah/Teladan
2. Sifat-sifat Allah
3. Hadirat Allah
b. Tujuan Manusia diciptakan :
1. Menyembah Allah dan memuji Tuhan
2. Menguasai bumi
3. Menaklukkan bumi ( binatang-binatang buas dan tanah)
c. Akhir Hidup Manusia
1. Firdaus : Pintu Sorga
2. Hadesh : Pintu Neraka
3. Yerusalem Baru

1.5. Dogma Tentang Dosa


a. Asal usul dosa
1. Sorga (ada pemberontakan)
2. Taman Eden (waktu melanggar perintah Tuhan)
3. Bisikan iblis (tawaran)
b. Bentuk dosa
1. Dosa yang membawa maut (tidak dapat diampuni)
Dosa yang tidak mengampuni
Dosa menghujat Allah
Murtad : mengkhianati Tuhan, menolak Tuhan, putus kontrak
dengan Tuhan

3
2. Dosa yang tidak membawa maut (perbuatan/daging)

c. Jenis dosa
1. Dosa warisan ( Ef. 2:3) Kematian rohani
2. Dosa perbuatan sehari-hari
3. Dosa perencanaan
Harus ada pelepasan
Ada roh yang mengikat
d. Akibat dosa
1. Maut/siksaan
2. Kematian
3. Penghukuman
Dalam PL dosa dimengerti sebagai ‘ketidaktaatan’ = PESYA :
pemberontakan, KHATA : pelanggaran, AWON : perbuatan yang tidak
senonoh.
Dalam PB dosa diartikan sebagai ‘ketidaktaatan’ (Rom. 5:19), artinya :
melanggar hak dan hukum Taurat Allah (I Yoh. 3:4) dan melawan Allah
sendiri.
Menurut Paulus dosa: ‘musuh’ dan ‘pembenci’ Allah (Kol. 1:21; Rm.
1:30).
Istilah Paulus : ‘PARAKOE’ = Ketidakpatuhan (Rm. 5:19), dan
‘EPITHUMIA’ : keinginan yang tidak benar (Rm. 7:7).
Pengertian Paulus, dosa adalah sesuatu yang dilakukan manusia dengan
tanggung jawab sendiri dan juga suatu keadaan yang didalamnya manusia
sudah berada sejak semula.

4
BAB II
SEJARAH PERJANJIAN LAMA

2.1. Sejarah Singkat Perjanjian Lama


Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa sebagian besar Kitab-
kitab dalam PL berisi cerita sejarah, khususnya tentang sejarah bangsa Israel.
Cerita-cerita tersebut bukanlah cerita yang sekedar kita dengar lalu kita
lupakan, karena ada makna teologis yang dapat ditarik kalau kita mempelajari
dengan teliti dan dengan tujuan yang benar.
Mempelajari sejarah PL harus dimulai dengan kerinduan untuk mengerti
maksud dan rencana Allah berintervensi (turut campur tangan) dalam sejarah
manusia. Hal inilah juga yang mendorong para ahli Alkitab untuk meneliti
dan menyusun urutan kejadian-kejadian dalam Alkitab untuk melihat kembali
bagaimana Allah berkarya, menyatakan Diri-Nya dan bagaimana Ia bertindak
dan berhubungan dengan manusia.
Tindakan Allah dalam sejarah ciptaan-Nya ini membuktikan akan
penyertaan dan pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya. Apa yang Allah
kerjakan dan tunjukkan di masa lampau dalam sejarah Perjanjian Lama,
memberikan dampak dan pengharapan bagi kita yang hidup pada masa kini.
Untuk lebih jelasnya di bawah ini adalah hal-hal penting yang perlu diketahui
dalam mempelajari sejarah PL ini.
Hal-hal penting yang perlu diketahui dalam mempelajari sejarah PL:
1. Sejarah PL adalah Sejarah KEHIDUPAN MANUSIA YANG NYATA
Sejarah PL bukanlah cerita-cerita usang belaka dari suatu bangsa yang
hanya rekaan manusia. Sejarah PL adalah kisah dari sebuah bangsa yang
betul-betul ada di dunia, yang telah dipilih Allah untuk menjadi saluran
kasih-Nya. Setiap kejadian yang ada dalam sejarah PL merupakan sebuah
mata rantai sejarah Keselamatan Allah yang panjang yang saling
menyambung, karena kisah yang ada dalam PL tersebut satu dengan yang
lain memiliki hubungan/kaitan yang sangat erat, baik hubungan sebagai

5
kelanjutan cerita, tapi juga hubungan akan penggenapan atas nubuat yang
telah diberikan sebelumnya.
2. Sejarah PL adalah PEKERJAAN ALLAH
Alkitab PL bukan saja meliputi cerita kronologis bangsa Israel dari
permulaan pemilihan sampai jaman Yesus Kristus, tapi adalah sejarah
pekerjaan Allah yang terus menerus dinyatakan di dalam kehidupan orang-
orang Israel agar mereka mengerti tujuan pekerjaan dan rencana karya
Allah untuk keselamatan mereka serta menjadikan mereka rekan kerja
Allah.
3. Sejarah PL adalah SEJARAH KESELAMATAN
Dari peristiwa-peristiwa yang disusun secara kronologis maka terlihatlah
suatu benang merah berita inti dalam seluruh sejarah umat manusia, yaitu
Sejarah Keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Manusia
yang telah jatuh dalam dosa dan terputus hubungan dengan Allah
diberikan pengharapan baru dan pada setiap generasi, sejarah mencatat,
Allah selalu mengulangi panggilan-Nya agar manusia berbalik dan
menerima keselamatan yang datangnya dari Allah. Dari tiga hal di atas
jelaslah bahwa untuk mempelajari sejarah PL kita harus melihat
keseluruhan beritanya dalam konteks yang tepat. Sejarah PL bukan berisi
perintah-perintah yang harus kita ikuti atau cerita yang bisa kita ambil dan
mengerti secara terpisah- pisah, karena masing-masing peristiwa memiliki
latar belakang historis yang menuju ke satu berita utama, yaitu berita
Keselamatan. Oleh karena itu mempelajari sejarah PL akan menolong kita
secara langsung untuk mempelajari konteks dalam menafsirkan berita PL
secara benar.

2.2. Kronologis Sejarah PL


Sebelum memberikan garis besar sejarah seluruh PL, perlu terlebih
dahulu kita mengerti bagaimana para ahli Alkitab dan sejarah menentukan
waktu terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut secara kronologis. Penentuan
waktu kronologis sejarah PL (dari masa penciptaan, Adam dan seterusnya)

6
tidak begitu mudah untuk dipastikan, karena Alkitab sendiri tidak ditulis
untuk maksud memberikan catatan kronologis yang urut dan lengkap. Tujuan
Alkitab mencatat peristiwa-peristiwa penting adalah untuk memberikan
gambaran sehubungan dengan bagaimana Allah bertindak terhadap manusia
pada tempat dan waktu saat itu.
Salah satu cara menentukan waktu kejadian penciptaan Adam adalah
dengan teori Ussher (sekalipun sekarang teori ini tidak populer), yaitu dengan
cara menjumlahkan kebelakang genealogi-genealogi (silsilah) dan data-data
kronologis lain yang terdapat dalam PL (dengan asumsi bahwa silsilah-
silsilah PL semua lengkap dan berurutan). Dengan cara ini ditentukan bahwa
waktu penciptaan Adam adalah tahun 4004 SM (Sebelum Masehi). Banyak
orang masih memakai pedoman pentarikhan waktu Ussher ini sebagai
pedoman pengurutan kronologisnya saja, sedangkan penentuan tahunnya
tidak diikuti.

Berikut ini adalah garis besar pembagian sejarah PL secara kronologis:


2.2.1. Jaman Adam sampai Abraham (kira-kira 5000-4000 SM)
Jaman ini oleh beberapa sarjana ditempatkan dalam ruang waktu antara
5000-4000 SM, walaupun ada banyak pandangan yang berbeda-beda
tentang penetapan waktu ini.
Dalam jaman ini dicatat dua peristiwa besar:
1. Air bah (Kej. 6:13; 9:17): 3000 SM, tahun ini ditentukan dengan
memperhatikan kesamaan antara Air Bah di dalam Alkitab dengan
sebuah kisah air bah yang berasal dari Babel.
2. Menara Babel (Kej. 11:1-9): 3000-2000 SM, karena kejadiannya
ini tidak lama sesudah air bah (dimana semua manusia masih
tinggal di satu daerah).
2.2.2. Jaman Patriakh-Patriakh (kira-kira 2000-1400 SM)
Kisah pengembaraan Abraham dalam Kejadian Psl. 12-50 dapat
diyakinkan dari berbagai keterangan yang cocok sekali dengan
lingkungan kebudayaan periode tahun 2000-1600 SM, dimana cara

7
hidup orang-orang jaman itu adalah mengembara (nomandik). Tanah
Palestina saat itu masih jarang penduduknya sehingga pengembaraan
masih dapat dilakukan dengan bebas di daerah-daerah yang subur,
bahkan dari daerah Mesopotamia (tempat asal Abraham) ke Palestina.
2.2.3. Jaman Keluaran/Eksodus dari Mesir (kira-kira 2000-1400 SM)
Ada dua periode besar pada jaman ini yang berjalan kira-kira 430 tahun
(Kel. 12:40-41), yaitu:
1. Masa Abraham dipanggil Tuhan sampai Yakub masuk ke Mesir
(Kej. 12:4; 2:15; 25:26; 47:9).
2. Masa bangsa Israel di Mesir sampai keluar dari Mesir. Tahun 1290
SM diperkirakan sebagai tahun keluarnya (Eksodus) bangsa Israel
dari Mesir. Saat itu diperkirakan umur Musa adalah 80 tahun.
2.2.4. Jaman Hakim-Hakim (kira-kira 1400-1050 SM)
Jaman ini adalah masa sesudah kematian Yosua. Dalam periode ini ada
13 hakim yang ditunjuk Tuhan untuk memimpin bangsa Israel hidup di
Tanah Perjanjian. (Daftar Hakim-hakim lihat di bahan Referensi). Masa
Hakim-hakim ini dianggap sebagai masa gelap bangsa Israel,
diungkapkan sebagai masa dimana "setiap orang berbuat apa yang
benar menurut pandangannya sendiri." (Hak. 17:6). Pada masa ini
sepertinya Tuhan tidak bekerja, baik melalui mujizat maupun tanda-
tanda lain yang menyertai. Kehidupan bangsa Israel sangat mundur
bukan hanya secara rohani tapi juga dalam hal keamanan dan
kesejahteraan jasmani. Mereka sering dikalahkan, dirampok dan
diperlakukan sangat buruk oleh bangsa-bangsa lain yang lebih kuat.
Kunci dari masalah ini adalah karena dosa-dosa yang diperbuat oleh
bangsa Israel, sehingga Tuhan meninggalkan mereka.
2.2.5. Jaman Kerajaan Bersatu (kira-kira 1050 - 931 SM)
Dalam rangkaian sejarah bangsa Israel, periode jaman ini dapat
dikatakan sebagai jaman yang paling gemilang dan makmur. Israel
menjadi bangsa yang memiliki derajat tinggi diantara bangsa- bangsa di
sekitarnya. Hal ini ditandai dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai

8
dalam berbagai bidang (ilmu pengetahuan, kesusasteraan,
pembangunan dll). Tapi pada pihak yang lain sistem pemerintahan
"Teokrasi", yaitu kepemimpinan langsung oleh Tuhan, mulai
ditinggalkan oleh bangsa Israel. Tuhan mengijinkan mereka memiliki
raja sendiri untuk memerintah karena kedegilan hati bangsa ini. Tetapi
Tuhan memberikan peringatan yang jelas (I Sam. 8) bahwa mereka
akan menyesal dikemudian hari. (Daftar Raja-raja Israel dapat dilihat di
bahan Referensi).
2.2.6. Jaman Kerajaan Terpecah (kira-kira 930-586 SM)
Kejayaan kerajaan Israel berakhir setelah pemerintahan raja Salomo,
karena kemudian kerajaan ini mulai pecah dan runtuh sedikit demi
sedikit dan akhirnya hancur karena kejahatan mereka di mata Tuhan
dan penyembahan-penyembahan mereka kepada patung-patung berhala.
Karena janji dan kesetiaan Tuhan pada bangsa ini maka tak henti-
hentinya Tuhan berbicara dengan mengirimkan utusan-utusan-Nya.
Pada jaman ini beberapa nabi dibangkitkan Tuhan untuk
menyampaikan Firman-Nya kepada raja dan rakyat dari kedua kerajaan
yang pecah ini. (Daftar nabi-nabi dapat dilihat di bahan Referensi).
2.2.7. Jaman pembuangan di Babel dan kembali ke tanah Israel (kira-kira 587
B.C)
Periode pertama jaman ini adalah masa yang sulit bagi bangsa Israel.
Mereka berkali-kali jatuh ke tangan bangsa lain, dijajah dan ditindas,
bahkan mereka sempat dibuang ke tanah asing untuk menjadi bangsa
tawanan. Hal ini Tuhan ijinkan terjadi karena Tuhan sedang
menghukum bangsa Israel atas dosa dan kejahatan mereka dengan
harapan supaya mereka mengoreksi diri lalu berbalik kepada Tuhan.
Pada saat yang sama Tuhan juga mengirimkan nabi-nabi-Nya untuk
berbicara tentang janji kesetiaan Tuhan bahwa Tuhan tidak akan
meninggalkan mereka asal mereka mau berbalik dan mentaati perintah
Tuhan. (Daftar nabi-nabi dapat dilihat di bahan Referensi).

9
Di tanah pembuangan inilah bangsa Yahudi dan Yudaisme dilahirkan.
Orang-orang yang Tuhan pakai, seperti Ezra dan Nehemia, berhasil
memimpin bangsa ini untuk kembali menegakkan "monotheisme" dan
menghargai Firman Tuhan yang diajarkan oleh nenek moyang dari
generasi-generasi sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Hukum
Taurat sebagai pusat pengajaran mereka.
Periode kedua dari jaman ini adalah kembalinya bangsa Yahudi ke
tanah Palestina yaitu setelah tahun 539 SM, ketika Raja Koresy dari
Persia menaklukkan Babel dan bangsa Israel pulang ke tempat asal dan
membangun bangsa dan tempat ibadah mereka kembali.
Rombongan pertama dipimpin oleh seorang yang bernama
Sesbazar (Ezra 1:11; 5:14) 538 SM dimana fondasi Bait Suci
diletakkan.
Rombongan kedua dipimpin oleh Hagai dan Zakharia 520 SM
berjumlah 42.360 orang (Ezra 2:64). Bait Suci selesai dibangun.
Tahun 458 SM ada pengutusan dilakukan oleh Ezra beserta
serombongan besar orang Yahudi (Ezra 7:1-7) dan tahun 445 SM
Nehemia datang ke Yerusalem menyelesaikan pembangunannya.
Pada akhir sejarah PL, kita ketahui bahwa orang-orang Yahudi yang
pulang ke tanah air mereka memiliki komitmen untuk menjunjung
tinggi Hukum Taurat dan tempat ibadah Bait Suci karena mereka
memiliki keyakinan yang teguh bahwa merekalah umat pilihan Allah.
Sampai pada permulaan sejarah Perjanjian Baru kita masih melihat
bahwa bangsa dan agama Yahudi berkembang terus dengan subur.

2.3. Tinjauan Sejarah Masa Perjanjian Lama


Kronologi
Sepatah kata tentang kronologi perlu untuk suatu tinjauan sejarah masa
PL. Para pembaca barangkali bertanya-tanya bagaimana tanggal-tanggal
dapat ditetapkan untuk semua peristiwa dan tokoh dari sejarah dahulu kala
bilamana catatan-catatan, paling banter, hanya mengetengahkan sebuah

10
ungkapan seperti "Dalam tahun ketiga pemerintahan raja X." Ada banyak
sumber dari Israel dan Timur Dekat Kuno yang memberikan kronologi yang
relatif (tahun ketiga seorang raja A adalah tahun pertama raja B), dan dari
data tersebut maka suatu kerangka yang berkenaan dengan berbagai orang
dan peristiwa dapat disusun. Untuk menetapkan suatu kronologi yang pasti
(raja mulai pemerintahannya pada tahun 465 SM), suatu waktu yang pasti
harus ditentukan yang dapat dikaitkan dengan jaringan kronologi yang relatif
itu.
Untuk Timur Dekat Kuno, waktu yang pasti ini disediakan oleh daftar
Eponim dari Asyur. Daftar Eponim setiap tahunnya mencatat pejabat tertentu
yang mendapatkan penghargaan dengan menamai tahun itu menurut nama
pejabat tersebut. Dalam daftar tersebut namanya dicatat bersama- sama
dengan satu atau dua peristiwa yang paling penting dari tahun"nya", biasanya
aksi militer. Secara kebetulan, dalam tahun Ishdi-Sagale, gubernur Guzana,
daftarnya melaporkan terjadinya gerhana matahari. Para ahli astronomi dapat
menghitung kapan gerhana matahari terjadi, oleh karena itu tahun Ishdi-
Sagale dapat ditentukan dengan pasti sebagai tahun 763 SM. Ini merupakan
tautan utama untuk kronologi yang pasti dari Timur Dekat Kuno, dan hal itu
tidak ditentang. Sebagai akibatnya, dapat dipastikan bahwa daftar Eponim
meliputi tahun 893-666 SM.
Karena setiap raja Asyur selama masa ini (sudah dapat diketahui
termasuk diantara orang-orang yang dihormati, maka tanggal-tanggal
kerajaan Asyur dapat ditetapkan untuk masa yang lebih dari dua abad itu. Ini
adalah zaman Kerajaan Neo-Asyur, jadi semua peristiwa dari kebanyakan
bangsa Timur Dekat Kuno disinkronisasikan dengan Asyur pada waktu itu.
Dengan demikian Asyur sudah menjadi dasar untuk kronologi Timur Dekat
Kuno.
Akan tetapi, kita tidak boleh menganggap bahwa dengan demikian semua
persoalan kronologis terpecahkan. Seringkali data yang bertentangan dengan
skema kronologi relatif yang memperkenalkan ketidakpastian untuk
penentuan tanggal yang pasti. Dalam kesempatan lain berbagai peristiwa atau

11
tokoh tidak berhubungan dalam materi naskah dengan jaringan kronologi
relatif: misalnya kelalaian kitab Keluaran untuk menyebutkan nama firaun
yang memerintah waktu itu. Persoalan-persoalan lain lagi terjadi manakala
sumber-sumber kuno tidak mencatat secara memadai kerumitan dari suatu
keadaan: misalnya berbagai kesenjangan dalam kronologi, pemerintahan oleh
seorang wali dinasti atau penguasa yang memerintah dalam waktu yang
bersamaan dengan dinasti atau penguasa lain dalam negara yang sama.
Yang terakhir, beberapa sumber menyediakan informasi mengenai jangka
waktu yang lebih panjang. Misalnya, dalam catatan Tiglat-Pileser I dari
Asyur dinyatakan bahwa bait suci yang dibangun oleh Shamshi-Adad I sudah
mau runtuh dalam waktu lebih dari 641 tahun; dalam doa Salomo yang
tercatat di I Raja-raja 6:1 dinyatakan bahwa 480 tahun sudah berlalu antara
peristiwa Keluaran dan Penahbisan bait Allah oleh Salomo. Fakta-fakta ini
dapat menimbulkan berbagai masalah jika tidak bertautan dengan informasi
yang disediakan oleh jaringan kronologi relatif.
Akibatnya ialah bahwa masih ada banyak ketidakpastian tentang
kronologi yang tepat. Dalam hal raja-raja Israel dan Yehuda, ketidakpastian
itu biasanya hanya sekitar satu atau paling banyak dua tahun, walaupun
kadang-kadang sebanyak dua belas tahun membedakan teori yang satu dari
yang lain. Semakin jauh seseorang kembali ke dalam sejarah, semakin
banyaklah ketidakpastian yang terjadi. Peristiwa paling awal dari PL yang
dapat disinkronkan dengan seseorang yang dikenal dari catatan Timur Dekat
Kuno adalah serangan yang dilakukan oleh Sisak (Sheshonk I), raja Mesir
terhadap Yerusalem pada tahun kelima masa pemerintahan Rehabeam (925
SM, I Raja-raja 14:25-26). Dengan demikian, maka masa hakim-hakim dan
oleh karena itu masa para bapa leluhur, tetap terselubung dalam misteri
kronologis dan karenanya dijadikan sasaran dari banyak penetapan yang
spekulatif.
Beberapa orang percaya bahwa Alkitab menyediakan kunci untuk
menguak misteri-misteri kronologis. Teks yang kami kutip dalam I Raja-raja
6:1 tampaknya menentukan tanggal terjadinya peristiwa Keluaran pada tahun

12
1446 SM, sedangkan Keluaran 12:40 menunjukkan bahwa Israel tinggal di
Mesir selama 430 tahun. Berdasarkan data ini, Yakub dan keluarganya pindah
ke Mesir pada tahun 1876 SM, dan dengan demikian usia yang diberikan
untuk para patriarkh akan menghasilkan suatu tabel kronologis yang mundur
sampai Abraham. Akan tetapi, ahli-ahli yang lain tidak dapat menerima
sistem ini, karena mereka berpendapat bahwa hal itu bertentangan dengan
informasi arkheologis yang sudah tersedia selama satu abad yang terakhir.
Jadi, angka-angka dalam I Raja-raja dan Keluaran kadang-kadang dianggap
sebagai perkiraan atau diartikan dalam cara-cara yang tidak harfiah, dan
kronologi masih tetap menimbulkan pertentangan.

2.4. Sejarah Perjanjian Lama dan Bangsa Israel


Pada bagian ini, kita akan melihat mengenai tradisi-tradisi sejarah dalam
PL. Apakah maksud tradisi-tradisi ini, bagaimanakah apabila kita
membandingkannya dengan rekonsturuksi ilmiah para ahli terhadap sejarah
Israel kuno, dan apa yang terjadi apabila sang ahli modern itu merasa perlu
“memperbaiki” laporan yang disajikan dalam PL? Inilah pertanyaan-
pertanyaan yang utama di sini.
Telah banyak diketahui bahwa PL mengandung banyak kitab yang
mengisahkan sejarah bangsa Israel kuno. Memang PL kadang-kadang dikritik
karena terlalu banyak berisi sejarah. Dari keenam belas kitab PL yang
pertama dalam urutannya dalam kitab-kitab (Kejadian sampai Nehemia-
urutan dalam Alkitab Ibrani berbeda) hanya Imamat, Ulangan dan Rut tidak
begitu banyak memberi sumbangan bagi sejarah bangsa Ibrani dan masa
Abraham (sekitar 1750) sampai akhir abad ke-5 SM. Dalam kitab PL lainnya,
khususnya kitab nabi-nabi kadang-kadang ada acuan pada peristiwa-peristiwa
sejarah. Misalnya, latar belakang Yesaya 7 adalah usaha raja-raja Damsyik
dan Samaria pada tahun 733 SM untuk memaksa Raja Ahaz dari Yehuda
mengadakan persekutuan dengan mereka melawan Asyur.
Mengingat kenyataan bahwa antara sepertiga sampai setengah bagian PL
berkaitan langsung dengan sejarah Israel tidaklah mengherankan bahwa

13
banyak silabus universitas dan sekolah tinggi memuat mata-mata kuliah yang
membahas tradisi-tradisi sejarah PL dalam satu atau lain cara. Mata-mata
kuliah demikian bermanfaat dalam memberikan kerangka sejarah guna
mempelajari sejarah dan teologi PL.
Tradisi sejarah PL ini biasanya dipelajari dengan pertolongan buku-buku
teks modern yang diberi judul Sejarah Israel. Tetapi buku-buku teks demikian
bukanlah pengisahan cerita Alkitab dalam kata-kata para sarjana modern.
Mereka menyajikan fakta-fakta sejarah PL dalam suatu cara, sehingga
sebagian pokoknya berbeda sama sekali dengan laporan Alkitab. Dan tidak
diragukan lagi bahwa hal ini menciptakan banyak kesulitan bagi para
mahasiswa.
Bahkan dalam sebuah buku yang relatif konservatif seperti A History of
Israel karangan John Bright, seorang pemula akan menemukan
penyimpangan seperti berikut, dari apa yang tampaknya merupakan
sajian Alkitab: Sanherib dikabarkan dua kali memerangi Hizkiah, pada
tahun 701 SM dan pada tahun 689 SM, sementara apabila kita membaca
langsung II Raj. 18:13-19:37 hanya disebutkan satu peperangan. Malah
Bright berkeras bahwa II Raj. 18:13-19:37 “meneropong” dua
peperangan yang terpisah. Ketika membahas periode sejarah PL yang
belakangan, Bright menegaskan bahwa Nehemia aktif di Yehuda pada
bagian kedua dari abad ke-5 SM, beberapa tahun lebih awal dari Ezra,
sementara pandangan Alkitab jelas bahwa Ezra datang lebih dulu
(bandingkan Ez. 7:7 dengan Neh. 2:1).
Sebuah pendekatan yang lebih radikal dapat ditemukan dalam buku
Martin Nort, The History of Israel, khususnya dalam pembahasan tentang
periode awal. Noth tidak mulai dari mana PL mulai dengan sejarah Ibrani
– dengan Abraham (Kej. 1-11 membahas umat manusia sebelum ada
orang-orang dan bangsa-bangsa yang terpisah, bandingkan Kej. 10-10).
Noth mulai dengan pemukiman bangsa Israel di Kanaan pada periode
setelah 1200 SM, ia mempunyai alasan yang kuat untuk itu. Ia menulis
sejarah Israel dan ia percaya bahwa nama “Israel” pertama-tama

14
dilahirkan oleh suatu konfederasi suku-suku Kanaan pada abad ke-12
SM. Tetapi Noth juga percaya bahwa kerangka dasar kisah bangsa Ibrani
sebelum pemukimanitu tidak historis. Ia tidak menyangkal bahwa
sebagian orang Ibrani melarikan diri dari Mesir, atau bahwa sebagian dari
mereka tinggal beberapa waktu di padang gurun di selatan Yehuda.
Tetapi ia percaya bahwa kerangka dasarnya: Para leluhur-Penindasan di
Mesir-Keluaran- Pengembaraan di padang gurun-Penaklukan, sebagai
kisah yang terjadi terhadap bangsa Ibrani secara keseluruhan, adalah
suatu kerangka yang artifisial (tidak historis), yang membeku pada suatu
proses pembentukan konfederasi suku di Kanaan.
Pandangan Noth mengenai asal usul tradisi-tradisi PL yang paling awal,
yang ditemukan dalam Kejadian 12-50 dan Keluaran 1-19, dan
rekonstruksi histori yang didasarkan pada tradisi-tradisi ini, adalah sangat
berbeda dengan laporan-laporan PL sehingga bagian dari historis-nya
kemungkinan besar akan melahirkan reaksi kuat bahkan dari para
mahasiswa yang sama sekali tidak menentang pembahasan PL yang hati-
hati dan kritis. Kemungkinan besar mereka akan bertanya apakah
memang mungkin, berdasarkan bukti satu-satunya yang kita miliki (teks
PL), merekonstruksi dengan penuh kepastian sebuah laporan sejarah
yang sangat berbeda dengan bukti tersebut. Reaksi negatif dari pihak-
pihak lain agaknya didasarkan pada satu atau lebih pertimbangan berikut
ini: Pertama, kita barangkali merasa ingin membela PL bukan karena
alasan doktriner tertentu apapun, melainkan karena kesetiaan kepada
sebuah lembaga yang tua hingga kita tidak ingin melihatnya diperkosa.
Mungkin kita memiliki kisah-kisah dari PL ketika kita masih kecil, dan
kita tidak mau dengan mudah berpisah dengan apa yang pernah
memberikan kepada kita kesenangan dan pesona. Kalau ini alasan utama
kita untuk bereaksi negatif terhadap keilmuan historis, maka saya harap
saya dapat menunjukkan bahwa kita dapat menerima hasil-hasil
penelitian sejarah, dan bahwa hasil-hasil itu akan membawa kita pada
penghargaan yang lebih baik terhadap kisah-kisah PL sebagaimana

15
adanya. Kedua, keberatan kita barangkali mempunyai dasar-dasar moral
atau teologis. Apabila kita berdebat bahwa kenyataan-kenyataan berbeda
dengan apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab (misalnya: apabila
kita berdebat bahwa Nehemia muncul sebelum Ezra, sementara PL
mengatakan yang sebaliknya) tidaklah kita menuduh bahwa para penulis
Alkitab tidak kompeten atau jujur, dan ini tidak adil karena mereka tidak
mampu membela diri? Keberatan-keberatan teologis mengambil nada
yang bahkan lebih serius. Apabila Alkitab dianggap sebagai karya Allah,
maka Allah sendirilah pengarang yang dituduh tidak kompeten atau tidak
jujur. Apabila kita mengakui bahwa Alkitab mengandung kesalahan-
kesalahan dalam pembeberan sejarahnya, bagaimana kita dapat yakin
akan ketepatannya, ketika ia melukiskan pekerjaan dan perkataan-
perkataan Allah.

2.5. Kisah Sejarah Sebagai Sejarah


Istilah sejarah sekurang-kurangnya memiliki tiga pengertian yang umum
dipakai dalam bahasa Inggris, yaitu: Pertama, ia bisa berarti “rangkaian
fakta”, yaitu peristiwa-peristiwa, kejadian-kejadian dalam sejarah. Kedua, ia
bisa berarti catatan atau laporan tentang rangkaian fakta. Ketiga, ia bisa
berarti suatu studi tentang fakta atau, lebih tepat studi mengenai catatan-
catatan berisi fakta. Dalam pembahasan dibawah ini, kita akan membahas
ketiganya, namun terutama akan mengarah pada kategori kedua (catatan
tentang rangkaian fakta), dan kita akan menyoroti bagaimana menurut
pengertian ini kitab-kitab sejarah cocok untuk dimasukkan ke dalam
pembahasan umum tentang “sejarah”.
Sejarawan menawarkan bermacam-macam definisi tentang sejarah
seperti telah mereka perlihatkan dalam tugas keprofesiannya. Memang,
banyak yang tidak memberikan definisi, atau memberikan definisi yang
kurang akurat atau tidak jelas. Berikut adalah empat definisi representatif
yang menetapkan arti kedua dari sejarah:

16
1. Sejarah ialah ilmu yang tugas utamanya menyelidiki kemudian mencatat
aktivitas-aktivitas manusia pada masa lalu berdasarkan perkembangan dan
hubungan sebab akibat, sebagaimana mereka adanya pada waktu dan
tempat tertentu, kaitannya dengan kemasyarakatan dan arti pentingnya
bagi masyarakat.
2. Sejarah ialah cerita tentang pengalaman orang-orang hidup dalam
masyarakat beradab.
3. Sejarah ialah jenis ilmu pengetahuan dimana satu peradaban memberikan
laporan tentang keadaan sendiri di masa lalu.
4. Sejarah adalah pekerjaan memberikan laporan mengenai peristiwa-
peristiwa penting tertentu dimasa lalu, peristiwa mana terjadi secara
khusus dan saling berkaitan satu dengan yang lain serta mempengaruhi
kehidupan manusia.

2.6. Sejarah Sebagai Rangkaian Fakta


Definisi pertama dari sejarah berarti peristiwa-peristiwa, kejadian-
kejadian sejarah. Ini adalah sesuatu yang pernah dilakukan dan dialami
manusia, yaitu proses sejarah atau realitas yang telah lewat. Kita pasti ingat
beberapa hal mengenai peristiwa-peristiwa sejarah seperti itu: Pertama,
kejadian-kejadian itu selalu di luar jangkauan, kecuali tepat pada saat
kejadian itu berlangsung. Kita mengetahui kejadian-kejadian itu melalui
catatan-catatan ataupun laporan tentangnya. Kedua, bukti mengenai peristiwa
seperti itu selalu terbatas, bukan tidak terbatas. Tidak adanya bukti bukan
berarti peristiwa tersebut tidak pernah terjadi, maksudnya bahwa tidak ada
catatan atau bukti yang siap digunakan. Ketiga, jika bukti seperti itu ada maka
harus ditafsirkan agar dapat dipahami.
Mengenai tulisan sejarah sebagai suatu catatan atau cerminan dari
peristiwa-peristiwa, bukan peristiwa-peristwa itu sendiri dapat diilustrasikan
dengan gambar sebuah apel. Betapapun realistisnya gambar yang
menunjukkan apel tersebut, namun ia bukanlah apel dan tidak dapat dimakan.
Sebaliknya, ia mewakili sebuah apel. Demikian juga dengan peristiwa-

17
peristiwa sejarah dan penulisan sejarah. Apa yang kita pelajari adalah catatan-
catatan tentang peristiwa-peristiwa. Saat membicarakan pengertian sejarah
seperti ini kita harus ingat tidak sembarang catatan tentang masa lalu disebut
“sejarah.” Kumpulan buku pengecek berisi catatan-catatan tentang masa lalu,
namun tidak ditulis dengan maksud membuat peristiwa-peristiwa masa lalu
yang penting artinya bagi masyarakat.

2.7. Otoritas Perjanjian Lama


Pola otoritas dan prinsip-prinsip penafsiran yang diperbincangkan dapat
diterapkan dengan mudah pada tulisan-tulisan Perjanjian Baru (PB) lainnya,
seperti surat Ibrani, Yakobus, dan Kitab Wahyu. Kitab-kitab itu banyak
memakai kiasan dan kutipan PL dan masing-masing dengan caranya sendiri.
Yakobus, misalnya amat bergantung pada tulisan-tulisan hikmat Israel,
khususnya pada teknik pengajaran dan pemikiran Kristus, sumber hikmat itu.
Pengarang Surat Ibrani mempergunakan ayat-ayat dan macam-macam bukti
dari PL untuk memperlihatkan keunggulan Kristus yang nyata dan perjanjian-
Nya yang baru. Yohanes dalam Kitab Wahyu, yakin bahwa Kristus adalah
Alfa dan Omega. Ia melukiskan puncak sejarah alam semesta dengan kata-
kata yang diambil dari gambaran PL tentang karya Allah dalam anugerah dan
penghakiman. Dengan demikian, kitab itu menyatakan bahwa puncak sejarah
itu adalah apa yang diberitakan dan dirindukan oleh nabi, yakni kemenangan
Kerajaan Allah.
Dengan mengikuti teladan Yesus dalam mematuhi otoritas Kitab Suci,
para penulis PB menemukan bahwa di dalam Kitab suci tidak terdapat huruf
yang mematikan tetapi kesaksian yang diilhami Allah mengenai karya
keselamatan-Nya yang hanya membawa kehidupan. Mereka membaca Kitab
Suci bukan sebagai kumpulan beku dari hukum-hukum yang memperbudak
hidup mereka, tetapi sebagai adegan awal dalam drama penyelamatan yang
pemeran utamanya adalah Yesus Kristus. Pembaca modern juga amat
membutuhkan pengetahuan tentang awal adegan-adegan awal itu, karena
didalamnya terlihat karya Allah dan berbagai respons yang ditimbulkan oleh

18
karya-Nya itu berupa penyerahan diri ataupun pemberontakan. Apa yang
penting dan mengandung otoritas bagi Tuhan Yesus dan jemaat Kristen mula-
mula, tidak kurang pentingnya pada masa kini (I Kor. 10:11).
Dalam penelitian kita, seperti halnya dalam peribadatan, kita juga
memerlukan seluruh penyataan Allah, yaitu Alkitab. PL bukan miliki bangsa
Yahudi saja, tetapi miliki semua orang. Kitab tersebut menceritakan
bagaimana Allah bekerja. Di dalamnya tampak ringkasan tuntutan-Nya,
persiapan-Nya akan kedatangan Kristus, hubungannya dengan umat manusia
dari abad kea bad. Singkatnya, PL adalah dasar yang tidak dapat diabaikan
dan di atasnya di bangun PB. Untuk memahami PL sebagai Kitab Suci orang
Kristen, kita harus melihatnya dari sudut pandang Yesus dan rasul-rasul-Nya.
Merekalah yang diilhami secara khusus oleh Roh Allah untuk memahami arti
serta tujuan firman dan karya-Nya.
Meskipun demikian, kita juga harus mencoba melihat nats-nats PL
menurut maksudnya semula. Kita harus bertanya, “Apakah yang dikatakan
oleh penulis PL kepada orang-orang sezamannya?” Kita harus duduk dengan
para pendengar di pasar, gerbang kota, Rumah Allah, atau rumah-rumah
ibadat dan berusaha memahami kata-kata para penulis itu sebagaimana para
pendengarnya mengertinya. Kita harus melihat Allah melalui sudut pandang
mereka dan memperhatikan rencana-Nya dalam hidup mereka.
Dengan kata lain, kita harus peka terhadap konteks asli dari Perjanjian
Lama. Mengapa hal itu harus ditulis dan kapan? Masalah apa yang
menimbulkan tulisan tersebut? Pertanyaan apa yang semula hendak dijawab?
Hal baru apa yang dikatakannya kepada orang mengenai kehendak dan cara-
cara Allah atau tentang tanggung jawab mereka? Hanya jika kita memahami
maksud suatu bacaan dalam zaman penulisnya, barulah kita dapat menangkap
arti sepenuhnya dari bacaan tersebut bagi iman dan kehidupan Kristen.
Konteks PL tidak menjelaskan segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang
arti suatu bacaan. Namun kalau tidak mulai dari situ, akan mudah sekali bagi
kita untuk memutarbalikkan Kitab Suci demi kepentingan kita sendiri.
Maksud masing-masing pengarangnya haruslah dipahami untuk menangkap

19
arti yang ditempatkan dalam PL oleh Pengarangnya yang utama, yaitu Roh
Allah yang berfirman melalui seluruh Kitab Suci serta membuatnya
berotoritas bagi umat-Nya.

20
BAB III
PENGANTAR PERJANJIAN LAMA

3.1. KEJADIAN
1. Latar Belakang
Bereshith : Pada Mulanya, Asal Mula, Sumber, Penciptaan, Awal Dari
Sesuatu, Permulaan Sejarah Manusia, Kitab Permulaan Dari Semua
Kitab, Asal Mula Umat Ibrani, Perjanjian Allah Dengan Manusia, Nuh
Dan Abraham.
2. Penulis : Musa
3. Tema : Permulaan Penciptaan
4. Tahun Penulisan : 1445-1405
5. Tujuan : Bagaimana Tuhan Mengadakan Perjanjian (Covenant)
Anak Perjanjian Dan Tanah Perjanjian
Manusia Adalah Serupa Dengan Gambar Tuhan

3.2. KELUARAN
1. Exodus : Keluar Atau Keberangkatan
2. Bahasa Ibrani : We Eleh Syemot : Dan Inilah Nama
3. Pembebasan Bangsa Israel
4. Perhambaan Di Mesir
5. Penyelesaian Dan Pentahbisan Kemah Suci
6. Tema : Pelepas
a. YHWH
b. 10 Tulah
c. Paskah (10 Hukum)
7. Tema : Penebusan
8. Penulis : Musa
9. Tahun Penulisan : 1445-1405
10. Tujuan : Mendokumentasikan kisah-kisah bagaimana umat Israel
diperbudak di Mesir

21
11. Tujuan Teologis: Penyataan Allah sebagai YHWH.
12. Tujuan Dedaktis (pendidikan) : Memelihara hubungan perjanjian,
memelihara Israel sebagai umat, Israel menjadi Kerajaan Imam bagi
Tuhan.
13. Geografis :
a. Israel Di Mesir (Psl. 1-12)
1. Persiapan untuk pembebasan, Psl. 1-4
2. Sembilan tulah pertama, Psl. 5-10
3. Tulah terakhir dan keluaran, Psl. 11-12 : tiap-tiap anak sulung di
Mesir harus di bunuh. Pada saat itulah orang Israel merayakan
Paskah. Keesokan harinya, orang Israel diizinkan berangkat keluar
dari Mesir, Psl. 12:29-51.
b. Israel Di Padang Gurun (Psl. 13-18)
1. Penyeberangan Laut Teberau, Psl.13-15:21
2. Pemeliharaan Tuhan dari Laut Teberau ke Rafidim, Psl.15:22-17:6
3. Nasihat dari Yitro, Psl. 18
c. Israel Di Sinai (Psl. 19-40)
1. Perjanjian Tuhan dengan Israel, Psl. 19:1-25
2. Kesepuluh Firman, Psl.20:1-21
3. Kitab Perjanjian, Psl.20:22, 23:33 : tentang ibadah, peraturan-
peraturan sipil tentang budak, jaminan nyawa dan harta sesama
manusia, kewajiban sosial, keagamaan, keadilan dan hak-hak
manusia, peraturan tentang Hari Raya.
4. Pengesahan Perjanjian, Psl. 24
5. Kemah Suci dan Imamat, Psl. 25-40 : untuk menjadi tempat dimana
Tuhan hadir/diam. Imam yang menyucikan diri, boleh masuk
dengan persembahan korban.
Agama orang Israel berpusat pada Tuhan, untuk Tuhan berdiam (Bdg. I Kor
3:16).
Allah harus di sembah menurut kehendak-Nya (Bdg. Mrk 7:6-13).

22
Allah memilih dan menetapkan orang-orang tertentu untuk menjadi perantara,
supaya manusia dapat memperoleh pengampunan dosa. Imam besar Harun dan
keturunannya.
14. Ciri Utama Keluaran :
1. Sejarah kelahiran Israel
2. Hukum moral dan tuntunan kebenaran Allah
3. Kuasa penebusan Allah sebagai Adi Kodrati pembebasan umat Tuhan
4. Allah : Yang Mulia, Murah Hati, Kudus, Mahakuasa, Tuhan Atas
Sejarah Dan Raja-Raja, Penebusan Yang Mengikat Perjanjian, Adil
Dan Benar, Penyembahan Yang Benar Dan Allah Berdiam Kepada
Manusia, Ibadah Yang Sejati Dan Benar Setelah Di Tebus.

3.3. IMAMAT
1. Judul : Imamat: dari terjemahan bahasa Yunani dan Latin, bukan Ibrani
2. Bahasa Inggris : Leviticus : yang berhubungan dengan Lewi dan kitab
orang Lewi
3. Bahasa Ibrani : Wayyigra : dan Tuhan memanggil, artinya Tuhan
memanggil Musa
4. Thema : Kekudusan
5. Tahun penulisan : 1400 SM
6. Latar Belakang : Bagaimana Israel keluar dari Mesir, menerima
hukuman Allah dan membangun Kemah Suci, keberangkatan Israel dari
gunung Sinai, Peraturan dan Tugas-tugas Ke imaman, kehidupan kudus,
Israel sebagai komunitas perjanjian, upacara korban binatang,
pembasuhan, pengurapan, pengudusan sebelum ibadah dan
menyelenggarakan korban perdamaian dan korban bakaran.
7. Tujuan penulisan : penyembahan yang kudus, kehidupan yang kudus,
menikmati hadirat Tuhan.
8. Hukum dan peraturan : mengubah mantan budak untuk menjadi
Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus. Keluaran diakhiri dengan

23
kebaktian dan Pentahbisan Kemah Suci. Imamat diawali dengan Kemah
Pertemuan untuk penyembahan dan pelayanan.
9. Susunan :
1. Peraturan-peraturan tentang persembahan korban, Psl.1-7
korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan/pendamaian,
korban penghapus dosa dan korban penebus salah.
2. Pelantikan Imamat, Psl. 8-10
Tugas pelayanan suku Lewi, Musa dan Harun dari suku Lewi. Suku
Lewi terdiri atas dua golongan : Para Imam dan orang-orang Lewi.
Tugas Imam : Menyelenggarakan upacara, mempersembahkan
korban, pelayanan rohani Kemah Suci.
Tugas Orang Lewi : mengurus alat-alat Kemah suci.
Harun Imam besar pertama, Musa mentahbiskan Harun dan anak-
anaknya menjadi Imam, dan pelayan Tuhan.
3. Undang-undang, Psl.11-22
a. Peraturan-peraturan haram dan halal, Psl.11-15
b. Hari raya pendamaian, Psl.16
c. Peraturan-peraturan penyembelihan korban, Psl. 17
d. Peraturan-peraturan hidup moral, Psl.18-20
e. Peraturan-peraturan Imamat, Psl.21-22
4. Hari-hari Raya, Psl. 23
Hari Sabat hari ke 7 orang Israel tidak boleh bekerja
Hari Raya Paskah
Hari Raya Roti Tidak Beragi (Maret-April)
Hari Raya Hasil Pertama (April)
Hari Raya Pentakosta (Juni) tujuh minggu setelah hari raya hasil
pertama dan 50 hari sesudah Paskah. Inti : untuk persembahan hasil
panen kepada Tuhan.
Hari Raya Peniupan Serunai (September-Oktober) hari raya 1
diantara 3 hari raya diadakan pada bulan ke 7.

24
Hari Raya Pondok Daun, (September) akhir masa panen, Israel
tinggal di perkemahan.
5. Peraturan lain-lain, Psl. 24-27
Hukuman mati, peraturan tahun Sabat, Tahun Yobel (tiap 50 tahun).
10. Ajaran :
a. Allah yang maha kuasa, Allah yang maha hadir, Allah yang maha
Kudus
b. Ibadah
c. Persembahan korban
d. Undang-undang umum

3.4. BILANGAN
1. Bahasa Yunani : Arithmoi
2. Bahasa Ibrani : Bam Midbar : Di Padang Gurun
3. Bahasa Inggris : Number
4. Peristiwa Penting : Di Padang Gurun
5. Penulis : Musa
6. Tujuan : Ketidaksetiaan Israel menjadi peringatan kepada umat Tuhan.
7. Susunan :
a. Persiapan untuk berangkat dari Sinai, Psl.1;1- 10;10
1. Pencacahan/sensus yang pertama, Psl. 1-4
2. Bermacam-macam peraturan, Psl. 5-9:14
3. Pimpinan Tuhan, Psl. 9:15-10;10
b. Dari Sinai ke Kadesy-Barnea, Psl. 10:10- 14:45
1. Mulai berjalan , Psl. 10:11-35
2. Mulai bersungut-sungut, Psl. 11
3. Miryam dan Harun memberontak, Psl. 12
4. Kegagalan di Kadesy-Barnea, Psl. 13-14
c. Pengembaraan di Padang Gurun, Psl. 15-21
1. Janji tentang Kanaan diperbaharui, Psl. 15
2. Pemberontakan Korah, Psl.16

25
3. Para Imam dan orang Lewi, Psl. 17-19
4. Dosa Musa, Psl. 20:1-13
5. Sampai ke Moab, Psl. 21
d. Kejadian-kejadian di Dataran Moab, Psl. 22-36
1. Balak dan Bileam , Psl. 22-25
2. Pencacahan/sensus yang kedua, Psl. 26
3. Bermacam-macam peraturan, Psl. 27-30
4. Pembagian tanah, Psl. 31-36
8. Ajaran :
a. ALLAH, mengatur umat-Nya supaya tidak terjadi kacau balau, Tuhan
menetapkan tempat perkemahan tiap suku di sebelah utara, timur,
selatan dan barat Kemah Suci di tengah-tengahnya.
b. Allah Suci
c. Allah memimpin umat-Nya
d. Allah bersifat adil
e. Allah maha setia
f. Dosa, ada dua macam dosa : mencobai Tuhan (Bil. 14:2,36) dan tidak
percaya kepada Tuhan (Bil. 14:1-35).
g. Pengujian, Tuhan membiarkan umat-Nya menghadapi krisis.
h. Mesias, menunjukan kepada Kristus yang akan datang, sebagai Imam
Besar, Harun melambangkan Kristus.
i. Kehidupan Kristen, mereka telah ditebus dari perbudakan dosa (Mesir).

3.5. ULANGAN
1. Judul : salinan hukum
2. Bahasa Inggris : Deuteronomy
3. Bahasa Ibrani : Debharim : inilah perkataan-perkataan
4. Tujuan :
a. Mencapai tujuan utama yaitu tanah Kanaan
b. Pimpinan baru (Yosua)

26
c. Musa mengingatkan mereka kembali akan perbuatan tangan Tuhan
selama perjalanan keluar dari Mesir.
5. Susunan :
a. Khotbah yang pertama : apa yang telah diperbuat oleh Tuhan
(Psl.1:1-4:43)
1. Perbuatan-perbuatan Tuhan dalam sejarah Israel selama 40 tahun,
Psl.1:1-3:29
2. Panggilan kepada ketaatan, Psl. 4:1-40
3. Kota-kota perlindungan, Psl. 4:41-43
b. Khotbah ke 2 : hukum Allah (Psl. 9, 4:44-26:19)
1. Latar belakang historis, Psl. 4:44-49
2. Undang-undang Dasar, Psl. 5-11
3. Ketentuan-ketentuan perjanjian, Psl. 12-26
c. Khotbah Ke 3 : pembaharuan perjanjian dengan Tuhan (Psl. 27-30)
d. Kejadian-kejadian akhir (Psl. 31-34)
1. Amanat Musa kepada Yosua dan orang-orang Lewi
2. Nyanyian Musa, Psl. 32
3. Musa memberkati seluruh bangsa Israel, Psl. 33
4. Musa meninggal, Psl. 34
6. Ajaran:
1. Allah sebagai YHWH membuat perjanjian dengan umat-Nya, Tuhan
yang Maha Besar dan Maha Kuasa
2. Umat Allah, umat ‘Kesayangan Tuhan’ (Psl. 7:6, 14:2) dipilih karena
janji-Nya kepada nenek moyang (Psl. 7:6-8), umat yang ‘Kudus’ (Psl.
7:6) arti : dikhususkan/diasingkan bagi Tuhan
3. Penyembahan : penyembahan yang berkenan kepada Tuhan.

27
BAB IV
TENTANG ALLAH

4.1. Definisi Allah


Siapakah Allah? Beberapa teolog memberikan definisi sesuai pemahaman
mereka masing-masing yang bersumber dari Alkitab, antara lain:
(a) A.H. Strong, “Allah adalah Roh yang tak terbatas dan sempurna; di
dalam Dia segala sesuatu bersumber, terpelihara, dan berakhir.”
(b) Herman Hoeksema, “Allah adalah Pribadi yang esa, tak terbagi, mutlak,
rohani semata-mata, memiliki kesempurnaan yang tak terbatas,
sepenuhnya imanen dalam seluruh dunia, namun pada hakikatnya
transenden terhadap segala yang ada.
(c) J.0. Buswell, “Allah adalah roh, tidak terbatas, kekal, tidak berubah
dalam diri-Nya, kebijaksanaan-Nya, kuasa-Nya, kekudusan-Nya,
keadilan-Nya, kemurahan-Nya, dan kebenaran-Nya.”
(d) Louis Berkhof, “Allah itu esa, sempurna, tidak berubah, dan tak terbatas
dalam pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya, kebaikan dan kasih-Nya,
kasih karunia dan kemurahan-Nya, kebenaran dan kekudusan-Nya.”

4.2. Penyataan Allah


Alkitab menyatakan bagaimana manusia dapat mengenal Allah. Dari
dirinya sendiri manusia yang berdosa mustahil mengenal Allah secara benar.
Di dalam diri manusia ada kerinduan akan Allah yang sejati, namun karena
keberdosaannya, manusia tidak dapat memahami segala sesuatu tentang Allah
(Pengkh. 3:11). Satu-satunya jalan agar manusia mengenal Allah adalah
menerima penyataan diri Allah sendiri (revelation) tentang Diri-Nya.
Istilah “penyataan” berasal dari istilah Yunani αποκαλυyι (apokalupsi,
Ingris: revelation) yang berarti “membuka selubung sehingga hal yang
tersembunyi menjadi terbuka dan terlihat dengan jelas.” Jadi manusia hanya
dapat mengenal Allah sejauh Allah menyatakan diri-Nya dan sejauh manusia
mau menerima dan percaya kepada penyataan Allah sendiri.

28
Allah menyatakan Diri-Nya melalui pelbagai sarana dengan berulang kali dan
dalam pelbagai cara (Ibr. 1:1). Ada dua penyataan Allah: penyataan umum
(general revelation) dan penyataan khusus (specific revelation).
4.2.1. Penyataan Umum
Secara umum Allah menyatakan Diri-Nya melalui tiga sarana:
(a) Alam semesta (Ayub 12:7-9; Maz. 8:2-4; 19:1-7; Yes. 40:12-14) –
Dengan mengamati alam ciptaan-Nya, manusia dapat mengenal
kemahakuasa-an-Nya, kemuliaan-Nya, kedashyatan-Nya, dan
kebaikan-Nya. Penyataan ini tidak dapat menuntun manusia kepada
keselamatan. Penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Allah
kepada manusia agar kembali kepada-Nya, namun telah dikaburkan
oleh keberadaan dosa di dalam dunia (Rm. 1:18-23). Namun
penyimpangan terjadi, ketika manusia kemudian mempercayai
mitos-mitos.
(b) Sejarah umat manusia (Maz. 75:7-8; Roma 13:1) - dimana nasib
para raja dan kerajaan-kerajaan berada di tangan Allah. Terutama
sekali Allah menyatakan diri-Nya melalui sejarah bangsa Israel.
Melalui sejarah, manusia dapat mengenal kuasa, pemeliharaan,
keadilan, dan kasih Allah. Namun penyimpangan terjadi, ketika
manusia kemudian mempercayai penyembahan berhala.
(c) Hati nurani (Pengkh. 3:11) - di dalam hati nurani terdapat
kesadaran tentang benar dan salah, yang membedakan antara yang
baik dan yang benar serta mendorong kita melakukan yang benar.
Namun ternyata hati nurani manusia telah tercemar, baik oleh
budaya, pendidikan, lingkungan, maupun pemahaman keagamaan
yang keliru, maka hanya dengan hati nurani pun manusia tidak
dapat mengenal Allah secara benar, sehingga kemudian
menyimpang dan menimbulkan politeisme.

29
4.2.2. Penyataan Khusus
Allah menyatakan Diri-Nya secara khusus melalui hal-hal berikut ini:
(a) Alkitab (Yoh. 6:68) - dimana Allah menyatakan diri dan
kehendak-Nya. Alkitab menuntun manusia kepada keselamatan (II
Tim. 3:15). Ada mukjizat, nubuat, dan pengalaman pribadi
tokoh-tokoh iman dalam Alkitab yang menyatakan pribadi dan
karya Allah kepada manusia.
(b) Yesus Kristus (Yoh. 1:18; Ibr. 1:2-3; Kol. 1:15; 2:9) - dimana
melalui pribadi dan karya-Nya manusia dapat memahami
keberadaan, sifat, dan kehendak Allah. Yesus Kristus adalah pusat
penyataan Allah dan sejarah umat manusia.

4.3. Keberadaan Allah


Kepercayaan akan adanya Allah didukung oleh beberapa alasan. Namun
dalam mempelajari pelbagai alasan tersebut, perlu dipahami bahwa:
(a) Alasan-alasan tersebut bukan merupakan bukti-bukti terpisah akan
adanya Allah; lebih tepat dikatakan bahwa itu merupakan dukungan dan
penafsiran akan keyakinan adanya Allah yang sudah ada di dalam diri
kita.
(b) Karena Allah adalah Roh, kita tidak boleh menuntut bukti-bukti yang
sama sebagaimana kita membuktikan benda-benda fisik, tetapi hanya
bukti-bukti yang cocok untuk objek yang akan dibuktikan.
(c) Bukti-bukti itu harus merupakan hasil pengumpulan data, karena satu
alasan saja untuk membuktikan adanya Allah tidak cukup, tetapi
beberapa alasan nampaknya cukup memadai untuk mengikat suara hati
dan mendorong kepercayaan.
4.3.1. Argumentasi Kosmologis (Ibr. 3:4)
-“Segala sesuatu yang dimulai haruslah mempunyai sebab yang
memadai. Alam semesta sudah dimulai; oleh karena itu alam semesta
haruslah memiliki suatu sebab yang memadai untuk menerangkan
keberadaannya.” Alasan ini menunjuk akan adanya Sebab Pertama

30
(Causa Prima) yang berada di luar alam semesta dan berakal-budi
tinggi.
4.3.2. Argumentasi Teleologis (Maz. 8:4 dst., 19:2 dst., 94:9)
- “Tatanan yang teratur dan berdaya-guna di dalam suatu sistem
menyiratkan adanya akal budi tinggi dan maksud di dalam sebab
pengatur. Alam semesta menunjukkan adanya tatanan yang teratur dan
berdaya-guna; oleh karena itu, alam semesta ini memiliki sebab yang
berakal-budi tinggi dan bebas.” Alasan ini membuktikan bahwa
Penyebab Pertama itu berakal-budi tinggi, bebas, berada di luar alam
semesta, serta akbar dalam arti kata yang seluas-luasnya.
4.3.3. Argumentasi Anthropologis
-“Ada fitur moral dan filosofis dalam diri manusia yang jika ditarik
mundur akan berakhir pada awalnya di dalam Allah. Suatu kuasa yang
tak diketahui, tidak akan pernah menghasilkan seorang manusia dengan
intelek, perasaan, kehendak, kesadaran, dan kepercayaan kepada
seorang Pencipta.” Alasan ini membuktikan bahwa adanya manusia
yang memiliki bukan hanya fisik, tetapi juga moral, menunjukkan
adanya Pencipta, yaitu Allah.
4.3.4. Argumentasi Ontologis
-“Alasan ini memperlihatkan bahwa kita memiliki gagasan tentang
Allah.
Gagasan ini sangat jauh lebih besar dari pada manusia itu sendiri.
Karena itu, gagasan tersebut tidak mungkin berasal dari dalam manusia
sendiri, tetapi hanya dapat berasal dari Allah sendiri.”
Alasan ini membuktikan bahwa Penyebab Pertama tersebut tidak
terbatas dan sempurna, bukan karena sifat-sifat ini jelas sekali dimiliki
olehnya, tetapi karena keadaan mental manusia tidak mengijinkan
manusia berpikir lain.
4.3.5. Argumentasi Moral (Maz. 32:3; Pengkh. 12:14; Roma 1:19-32; 2:14-
16) -“Setiap orang memiliki kesadaran serta kewajiban tentang apa
yang benar dan apa salah, dan bersamaan dengan itu merasakan

31
tanggung jawab yang tidak dapat dibantah untuk melakukan hal yang
benar. Selain itu ia mempunyai perasaan bersalah dan menghakimi diri
sendiri bila ia melakukan yang jahat.”

4.4. Teori-Teori Antiteistik


Dosa telah begitu menggelapkan pandangan pemikiran manusia dan merusak
hati mereka sehingga mereka menolak bukti-bukti yang telah ada. Ada enam
golongan besar dari mereka yang tidak mau mengakui penyataan Allah
tentang Diri-Nya.
4.4.1. Ateisme – ajaran yang tidak mengakui adanya Allah
Dalam ateisme ada tiga pandangan :
(1) Ateisme praktis
Mengakui bahwa Allah ada entah di mana, tetapi mereka hidup dan
bertindak seakan-akan tidak ada Allah yang kepadanya mereka
harus bertanggung jawab.
(2) Ateisme dogmatis
Mengakui secara terang-terangan bahwa mereka tidak mengakui
adanya Allah ð Komunisme.
(3) Ateisme murni
Menganut prinsip yang tidak sesuai dengan kepercayaan akan
Allah atau yang mendefinisikan Allah dengan menggunakan
istilah-istilah yang melanggar pemakaian bahasa pada umumnya.
Misalnya, Allah disebut sebagai “prinsip aktif yang bekerja dalam
alam” atau “kesadaran sosial,” atau “yang tidak dapat dikenal,”
atau “personifikasi kenyataan,” atau “energi” ð Naturalisme.
4.4.2. Agnostisisme
Ajaran yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar tidak mungkin
diperoleh dan bahwa semua pengetahuan yang ada bersifat relatif
sehingga dengan demikian tidak pasti ð Empirisme, positivisme,
pragmatisme.

32
4.4.3. Pantheisme
Ajaran yang menyatakan bahwa segala hal yang terbatas merupakan
sekadar aspek, modifikasi, atau bagian dari satu pribadi yang kekal dan
yang ada dengan sendirinya. Allah itu segalanya dan segalanya itu
Allah.
(1) Pantheisme materialistis
- Zat merupakan penyebab pikiran dan segala sesuatu yang hidup.
(2) Hilozoisme
-Setiap partikel zat memiliki suatu prinsip hidup di samping
sifat-sifat fisiknya; Panpsikisme - akal dan zat itu berbeda, tetapi
terpadu secara erat sekali dan tidak terpisahkan ð Stoa.
(3) Netralisme
-Realitas terakhir bukanlah akal dan bukan pula zat, tetapi suatu
bahan netral. Akal dan zat hanya merupakan wujud atau aspek dari
bahan netral itu.
(4) Idealisme
-Realitas terakhir adalah akal dan bahwa dunia ini merupakan hasil
akal, baik hasil akal individual maupun hasil akal yang tak terbatas.
(5) Mistisisme Filosofis
-Realitas terakhir merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak dapat
dijelaskan; diri manusia bukanlah sekedar mirip realitas terakhir
itu, tetapi identik dengannya; dan persekutuan dengan yang absolut
ini terjadi melalui usaha moral dan bukan melalui gagasan abstrak
yang teoritis.
4.4.4. Politeisme
-Ajaran yang menyatakan bahwa terdapat banyak Allah. Paham ini
terwujud dalam penyembahan berhala-penyembahan berhala (Roma
1:22-23). Pemujaan berhala berarti pemujaan setan (I Kor. 10:20).
4.4.5. Dualisme

33
-Ajaran yang menyatakan bahwa realitas terakhir terdiri atas dua
substansi atau dua prinsip yang berbeda dan tak bisa diuraikan lagi. Ini
bisa berbentuk: gagasan dan obyek, pikiran dan zat, baik dan jahat,
yang baik (Tuhan) dan yang jahat (Iblis).
4.4.6. Deisme
-Ajaran yang menyatakan bahwa Allah hanya hadir dengan kuasa-Nya
ketika menciptakan alam semesta. Allah telah membekali ciptaan-Nya
dengan hukum-hukum yang tidak mungkin berubah atas mana Allah
melakukan pengawasan ala kadarnya. Ia telah memberikan makhluk
ciptaan-Nya kemampuan tertentu, menempatkan mereka di bawah
hukum-hukum-Nya yang tak mungkin berubah, lalu membiarkan
mereka berusaha untuk menentukan nasibnya sendiri.

4.5. Nama-Nama Allah


Alkitab menuliskan bahwa Allah menyatakan Diri-Nya kepada manusia
melalui beberapa nama.
(1) El = Allah, yaitu istilah umum bagi yang ilahi, dan dipakai untuk meliput
semua anggota golongan yang ilahi. Istilah Elohim yang jamak biasanya
dipakai oleh para penulis di PL dengan memakai kata kerja dan kata sifat
tunggal untuk menunjuk satu gagasan tunggal.
Nama-nama dengan istilah “El-” misalnya:
EI-Elyon = Allah Yang Mahatinggi (Maz. 78:35)
EI-Olam = Allah yang kekal (Kej. 21:33)
EI-Shaddai = Allah Yang Mahakuasa (Kej. 17:1)
(2) YHWH = TUHAN, yaitu nama pribadi yang paling baik dari Allah
Israel. Istilah ini dikaitkan dengan kata kerja Ibrani “ada”.
Yang berarti “dia yang ada dengan sendirinya,” atau “dia yang
menjadikan ada.” (Kel. 6:2, dst.).
Nama-nama dengan istilah “YHWH” atau “Yehovah” misalnya:
Ÿ Yehovah Jireh - TUHAN yang menyediakan (Kej. 22:8,14)
Ÿ Yehovah Nissi - TUHAN-lah panji-panjiku (Kel. 17:15)

34
Ÿ Yehovah Raah - TUHAN-lah gembalaku (Maz. 23: 1)
Ÿ Yehovah Rapha -TUHAN yang menyembuhkan (Kel. 15:26)
Ÿ Yehovah Roi - TUHAN adalah gembalaku (Maz. 23: 1)
Ÿ Yehovah Shalom - TUHAN adalah keselamatanku (Hakim 6:24)
Ÿ Yehovah Shamma - TUHAN hadir di situ (Yeh. 48:35)
Ÿ Yehovah Tsidkenu - TUHAN keadilan kita (Yer. 23:6)
Ÿ Yehovah Zebaoth - TUHAN semesta alam (1 Sam. 1:3)
(3) Adonai, berarti “Tuhanku”.
Orang Yahudi menggunakan kata ini saat menyebut YHWH. Istilah ini
mengungkapkan ketergantungan dan kepatuhan, yaitu sikap seorang
hamba terhadap tuannya, atau seorang isteri terhadap suaminya. Istilah
ini berkenaan dengan kehadiran Allah bersama bala tentara sorga (Maz.
89:7-9; Yak. 5:4)
(4) Dalam PB, digunakan istilah Theos
Allah - sebagai padanan kata El : Kurios
Tuhan - sebagai padanan kata Adonai

4.6. Sifat-Sifat Allah


Alkitab juga menyatakan sifat-sifat Allah kepada kita; semuanya sempurna.
Sifat yang satu berkaitan dengan sifat lainnya. Oleh para teolog, sifat-sifat
Allah ini dikelompokkan menjadi 2 dua bagian besar: absoult dan relatif,
intransitif dan transitif, moral dan non-moral, imanensi dan transendensi.
(1) Sifat-sifat yang menyatakan Imanensi Allah, yaitu sifat yang dapat
dikomunikasikan dalam batas tertentu, antara lain:
Ÿ Maha Bijaksana (Yes. 31:2)
Ÿ Maha Baik dan Rahmani (Maz. 145:9)
Ÿ Maha Kudus (Amsal 9: 10)
Ÿ Maha Benar (Yer. 10:10)
Ÿ Maha Adil (Maz. 21:12)
Ÿ Maha Murah (Roma 11:22)
Ÿ Maha Kasih (Yoh. 3:16)

35
Ÿ Maha Setia (I Kor. 10:13)
(2) Sifat-sifat yang menyatakan Transendensi Allah, yaitu sifat yang tidak
dapat dikomunikasikan, yang tidak mempunyai kesamaan dalam diri
manusia, antara lain:
Ÿ tidak diciptakan
Ÿ tidak berubah - immutable (Maz. 102:28)
Ÿ mahakuasa - omnipotent (Ayub 5:17; Why 19:6)
Ÿ mahatahu - omniscient (Roma 11:33)
Ÿ mahahadir - omnipresent (I Raja 8:27)
Ÿ kekal - eternal (I Tim. 1:17)

4.7. Ketritunggalan Allah


Istilah “Tritunggal” (Ing.: Trinity = Three in Unity) berarti “Tiga dalam
Satu”. Sekalipun tidak secara eksplisit dituliskan dalam Alkitab, tetapi dari
bagian-bagian Alkitab kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah Tritunggal,
artinya: Allah yang Esa dalam tiga Oknum (fungsi) yang berbeda (Ul. 6:4).
4.7.1. Salah Pengertian tentang Tritunggal
Dalam Sejarah Gereja, pernah muncul pengajaran yang salah dalam
memahami doktrin Tritunggal ini.
(a) Tri-teisme
Di era gereja purba, orang-orang seperti John Ascunages dan John
Philoponus mengajarkan bahwa ada tiga Allah di mana ketiganya
hanya berelasi dalam hubungan yang saling lepas, seperti halnya
ketiga murid Yesus: Simon Petrus, Yohanes, dan Yakobus.
(b) Sabellianisme (Modalisme)
Pengajaran ini disampaikan oleh Sabellius (± 200 AD), yang
bertolak-belakang dengan Tri-teisme. Ia mengajarkan tentang
Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi ketiganya dipandang sebagai
cara berada atau tiga wujud dari satu Allah, bukan sebagai Pribadi.

36
(c) Arianisme
Arius mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang tidak
diciptakan; karena Kristus berasal dari Bapa, berarti Kristus
diciptakan oleh Bapa. Arius menyangkal keilahian Yesus Kristus.
Ia menyatakan bahwa ada suatu ketika dimana Kristus tidak ada.
Arius dan pengajarannya dihukum pada Konsili di Nicea tahun
325.
4.7.2. Pengertian tentang Tritunggal Yang Benar
Berikut ini merupakan sebagian ayat yang merupakan dasar doktrin
Tritunggal ini:
(a) Kata Ibrani untuk “Allah” adalah “Elohim” yaitu memiliki
akhiran“-im” yang menunjukkan kejamakan (Kej. 1:1).
(b) Kata ganti “Kita” dalam proses penciptaan menunjukkan
kejamakan (Kej. 1:26).
(c) Formula penyampaian berkat Allah dalam Perjanjian Lama (Bil.
6:24-26).
(d) Penyataan Allah secara menyeluruh dalam pembaptisan Yesus
Kristus:
Allah Bapa yang berfirman,
Yesus Kristus adalah Oknum Kedua yang menjadi manusia,
dan
Allah Roh Kudus yang turun dalam bentuk merpati (Mat.
3:16-17).
(e) Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus menyatakan ketritunggalan
Allah (Mat. 28:19-20).
(f) Formula berkat rasuli “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan
kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu
sekalian” (2 Kor. 13:13).
(g) Ayat-ayat lain - 1 Pet. 1:21; 1 Yoh. 5:7, d1l.

37
Secara singkat, konsep Allah Tritunggal dapat dipahami melalui
bagan SEGITIGA, di mana Bapa, Anak, dan Roh Kudus di titik-titik
sudutnya.
Sisi-sisinya diberi label “bukan”, kemudian di bagian tengahnya diberi
label “Allah”, dan dari ketiga sudut ditarik garis ke label tengah
tersebut dan garis penghubung itu bisa diberi label “adalah”

4.8. Ketetapan Allah


4.8.1. Hakekat Ketetapan Allah
Ketetapan Allah (the decrees of God) telah ditetapkan dalam kekekalan
di masa lampau dan mengacu pada kedaulatan Allah untuk mengontrol
setiap hal dan semua peristiwa.
Ketetapan Allah ini dinyatakan dalam Efesus 1: 11, bahwa Ia “… di
dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”. Jadi
ketetapan Allah adalah maksud-Nya yang kekal menurut keputusan
kehendak-Nya, dimana bagi kemuliaan-Nya Ia telah menetapkan segala
sesuatu yang terjadi”. Allah mempunyai kekuasaan dan kontrol mutlak.
Namun harus dinyatakan juga bahwa manusia bertanggung-jawab untuk
tindakannya yang berdosa. Allah tidak pernah menciptakan dosa atau
kedaulatan-Nya menggantikan tanggung jawab manusia
4.8.2. Sifat-sifat Ketetapan Allah
Berikut ini adalah sifat-sifat ketetapan Allah:
(1) Ketetapan Allah adalah suatu rencana tunggal yang mengarahkan
segala sesuatu.

38
(2) Ketetapan Allah meliputi segala sesuatu yang dibentuk dalam
kekekalan masa lalu, tetapi dinyatakan saat ini (Efe. 1:4).
(3) Ketetapan Allah merupakan suatu rencana yang bijak karena Allah
yang bijaksana merencanakan apa yang terbaik (Roma 11:33-36).
(4) Ketetapan Allah sesuai dengan kedaulatan kehendak-Nya. Ia
melakukan apa yang Ia ingin lakukan.
(5) Ketetapan Allah memiliki dua aspek:
(a) Kehendak-Nya yang mengarahkan:
Ia menciptakan (Yes. 45:18),
Ia mengontrol alam semesta (Dan. 4:35),
Ia menetapkan raja dan pemerintahan (Dan. 2:21),
Ia memilih orang-orang untuk diselamatkan (Efe. 1:4).
(b) Kehendak-Nya yang mengijinkan:
Ia mengijinkan adanya perbuatan dosa (misalnya saat orang
Israel meminta seorang raja - I Sam. 8:5-9, 19-22), tetapi
sebenarnya Ia telah menetapkan adanya raja-raja dari silsilah
Abraham (Kej. 17:6; 35:11), yang berpuncak pada Mesias.
Orang-orang berdosa, tetapi rencana Allah tetap tergenapi.
(6) Tujuan ketetapan Allah adalah kemuliaan-Nya.
(7) Meskipun segala sesuatu diarahkan oleh ketetapan Allah, manusia
tetap bertanggung jawab atas perbuatan dosanya.
(8) Beberapa aspek ketetapan Allah dikerjakan oleh manusia. Ini
menunjukkan bahwa ketetapan Allah bukan “takdir” dimana
manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab di dalamnya.
4.8.3. Wujud Ketetapan Allah
Ketetapan Allah nampak dalam hal-hal berikut:
(1) Dalam alam materi
Penciptaan, penetapan bangsa dan batas-batas, umur hidup
manusia, cara mati manusia.
(2) Dalam alam sosial
Menetapkan jodoh dan keluarga, pemerintahan.

39
(3) Dalam alam rohani
a. Urutan ketetapan Allah
Pemilihan, kejatuhan manusia, penerapan anugerah hidup kekal.
b. Dosa dan ketetapan Allah
Allah mengijinkan manusia melakukan kejahatan, namun Ia
bukanlah pencipta kejahatan atau menghendaki orang berbuat
dosa; Allah bisa langsung mencegah perbuatan dosa; Allah bisa
mengarahkan perbuatan dosa manusia untuk menggenapi
rencana-Nya; Allah menentukan batas-batas perbuatan jahat dan
mengontrolnya.
c. Keselamatan dan ketetapan Allah
Allah menetapkan orang percaya untuk diselamatkan; Ia
memilih orang Yahudi dan non-Yahudi untuk disatukan dalam
satu Tubuh, yaitu Kristus; Allah memilih orang percaya untuk
menerima berkat-berkat pribadi.

40
BAB V
KESIMPULAN

Seperti yang terlihat dalam pembahasan sejarah perjanjian lama di atas,


masalah arti sejarah dan bagaimana para ahli mempunyai berbagai kesimpulan
tentang hal itu. Di balik sejarah terdapat fakta-fakta, yaitu peristiwa yang benar-
benar terjadi. Tentu mustahil untuk mencatat semua setiap peristiwa. Namun,
mencatat peristiwa-peristiwa yang dianggap utama atau yang paling penting saja,
segera menempatkan si pencatat serta pendapatnya tentang apa sejarah utama dan
penting di antara fakta-fakta tersebut.
Ada anggapan bahwa tulisan-tulisan sejarah yang hanya memuat
peristiwa-peristiwa utama seperti itu tidak dapat di sebut sejarah, melainkan
catatan atau jurnal saja. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa peristiwa
tersebut bukanlah sejarah yang ditulis oleh sejarawan modern, melainkan sejarah
yang di karang dari sudut pandang sendiri.
Walaupun demikian, pandangan tadi tidak meremehkan nilai historis
Alkitab. Setiap sejarawan harus memilih fakta-fakta yang diceritakannya dan pasti
menulis dengan tujuan tertentu. Seorang sejarawan mempunyai tujuan dalam
pemilihan bahannyan dan ia harus memilih sesuai dengan tujuannya tersebut.
Pada umumnya kini diakui bahwa Perjanjian Lama berisi lebih banyak
bahan historis. Penemuan-penemuan arkeologis berkali-kali telah memperlihatkan
ketepatan historisnya. Meskipun demikian, unsur historis dalam sejaraah yang
pertama dan juga seluruh sejarah Perajanjian Lama di nomorduakan oleh berita
teologisnya.

41
DAFTAR PUSTAKA

(Diktat) Pembimbing & Pengetahuan Perjanjian Lama, (Palangka Raya :


STAKN.2013).
Jhon Rogerson, Studi Perjanjian Lama bagi Pemula, (Jakarta : Gunung Mulia
2011).
David M. Howard, Kitab-kitab Sejarah dalam Perjanjian Lama, (Malang :
Gandum Mas 2009).
F.W. Bush, D. A. Hubbard & W.S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama: Taurat &
Sejarah, (Jakarta : Gunung Mulia 2012).

42