Anda di halaman 1dari 20

SATUAN ACARA PENYULUHAN

STRESS PENYEBAB DARI PENYAKIT JANTUNG KORONER

Disusun Oleh :
Kelompok 12 – A15 :
1. Alfian Gafar, S.Kep 131913143099
2. Cintya Della Widyanata, S.Kep 131913143007
3. Umi Nafiatul Hasanah, S.Kep 131913143042
4. Lailatur Rokhmah, S.Kep 131913143062
5. Mitha Wulan Nur’aini, S.Kep 131913143085
6. Lili Putri Roesanti, S.Kep 131913143100
7. Rinda Harwidiana Rani, S.Kep 131913143111

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN
STRESS PENYEBAB DARI PENYAKIT JANTUNG KORONER

Pokok Bahasan : Stress Penyebab Dari Penyakit Jantung Koroner


Sasaran : Keluarga Pasien di Ruang PPJT Lt.3
Hari / Tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Tempat : Ruang PPJT Lt.3
Waktu : 30 menit (10.00–10.30 WIB)

I. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 30 menit, diharapkan keluarga pasien di Ruang
PPJT Lt.3 RSUD Dr.Soetomo Surabaya dapat memahami tentang stress penyebab dari penyakit
jantung coroner
II. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penjelasan tentang stress penyebab dari penyakit jantung koroner keluarga
diharapkan mampu :
a. Menjelaskan pengertian dari penyakit jantung koroner
b. Menjelaskan penyebab dari penyakit jantung koroner
c. Faktor resiko penyakit jantung koroner
d. Menjelaskan tanda gejala dari penyakit jantung koroner
e. Menjelaskan penatalaksanaan dari penyakit jantung koroner
f. Menjelaskan hubungan stress penyebab dari penyakit jantung coroner
III. Sasaran
Keluarga pasien Ruang PPJT Lt.3 RSUD Dr. Soetomo

IV. Metode

a. Ceramah
b. Tanya jawab

V. Materi

1) Pengertian penyakit jantung coroner


2) Penyebab dari penyakit jantung coroner
3) Faktor resiko penyakit jantung koroner
4) Tanda gejala dari penyakit jantung coroner
5) Penatalaksanaan dari penyakit jantung coroner
6) Hubungan stress penyebab dari penyakit jantung coroner

VI. Media

a. Leaflet
b. PPT/lembar balik

VII. Pengaturan tempat

Peserta penyuluhan duduk berhadapan dengan tim penyuluhan

Keterangan :

: Slide Powerpoint/ flipchart

: Pemateri

: Moderator

: Notulensi

: Observer dan dokumentasi

: Fasilitator

VIII. Pengorganisasian
a. Pembimbing akademik : Dr. Abu Bakar, S.Kep., Ns., M.Kep
b. Pembimbing klinik : Binafsih, S.ST
c. Penanggung jawab :
d. Moderator :
e. Pemateri :
f. Fasilitator :
g. Notulensi dan KSK :
h. Observer dan dokumentasi :

IX. Pembagian tugas

No. Nama sie Pembagian tugas

1. KSK 1. Menyiapkan perlengkapan absensi


2. Membantu peserta untuk mengisi absensi
2. Moderator 1. Membuka acara, memperkenakan tim penyuuuhan dan
menyampaikan maksud serta tujuan kegiatan penyuluhan
2. Memandu jalannya penyuluhan dan sesi tanya jawab
3. Menjelaskan kontrak waktu dan mekanisme kegiatan
4. Melakukan evaluasi hasil tentang materi yang telah
disampaikan
5. Menutup acara penyuluhan
3. Penyaji 1. Menyampaikan materi penyuluhan
2. Menggali pengetahuan peserta tentang materi yang akan
disampaikan
3. Menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh peserta
4. Notulen 1. Mencatat pertanyaan peserta dan jawaban penyaji sebagai
dokumentasi kegiatan
2. Mencatat proses kegiatan penyuluhan disesuaikan dengan
rencana kegiatan pada SAP
3. Menyusun laporan dan menilai hasil kegiatan penyuluhan
5. Observer 1. Mengawasi dan mengevaluasi selama penyuluhan
berlangsung
2. Mencatat situasi pendukung dan penghambat proses
kegiatan penyuluhan
6. Fasilitator 1. Menjelaskan kontrak waktu 1 hari sebelum penyuluhan
kepada sasaran
2. Menyiapkan alat dan tempat penyuluhan
3. Sebagai operator presentasi (meng-handle flipchart)
4. Membantu dan mengondisikan peserta selama penyuluhan
berlangsung
5. Membantu moderator dalam mengajukan pertanyaan
untuk evaluasi hasil
6. Memfasilitasi peserta untuk aktif bertanya
7. Membagikan leaflet
7. Dokumentator 1. Mendokumentasikan kegiatan

X. Pelaksanaan kegiatan

No Kegiatan Kegiatan Penyuluh Waktu


1. Pembukaan a. Moderator mengucapkan salam
b. Moderator memperkenalkan diri dan tim serta
menjelaskan tujuan penyuluhan 3 menit
c. Moderator menjelaskan kontrak waktu
d. Moderator menjelaskan mekanisme penyuluhan
2. Penyampaian a. Menjelaskan materi penyuluhan
10 menit
materi b. Membantu sasaran untuk memahami materi
3. Diskusi a. Moderator memberikan kesempatan kepada
(Tanya jawab) sasaran untuk bertanya
12 menit
b. Penyaji menjawab pertanyaan yang diberikan
c. Feedback dari Pembimbing Akademik dan Klinik
4. Penutupan a. Feedback materi dari penyaji kepada sasaran
b. Moderator menyimpulkan materi yang telah
5 menit
disampaikan
c. Moderator mengucapkan salam
XI. Evaluasi

1. Kriteria struktur
a. Pembuatan SAP, leaflet, dan flipchart dikerjakan maksimal 3 hari sebelumnya
b. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan sesudah
penyluhan dilaksanakan
2. Kriteria proses
a. Peserta mendengarkan dan memperhatikan pada saat materi diberikan
b. Peserta antusias dan aktif selama penyuluhan berlangsung
c. Pelaksanaan kegiatan sesuai SAP yan telah dibuat
d. Pengorganisasian berjalan sesuia dengan job description
3. Kriteria hasil
a. Peserta yang datang dalam penyuluhan minimal 10 orang
b. Peserta dapat mengikuti acara penyluhan dari awal sampai akhir
c. Acara dimulai tepat waktu
d. Peserta terbukti memahami materi yang telah disampaikan ditandai dengan
kemampuan peserta dalam menjawab pertanyaan yang diberikan secara lisan oleh
penyuluh.

XII. Lampiran

1) Materi
2) Daftar hadir
3) Lembar penilaian
4) Lembar observasi
5) Lembar evaluasi
6) Lembar notulensi
Lampiran 1. Materi

A. MENGENAL PENYAKIT JANTUNG KORONER


1. Definisi
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan
darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Arteri koroner merupakan sistem
pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung untuk menjaga fungsinya.
Apabila arteri koroner menyempit atau tersumbat, aliran darah ke jantung akan berkurang
sehingga menyebabkan kurangnya pasokan oksigen ke otot-otot jantung, yang menyebabkan
penyakit jantung koroner. Ketika penyumbatan di arteri koroner menjadi lebih parah, pasien
akan merasakan angina (nyeri dada) dan angina bisa menyebabkan kondisi infark miokard yang
fatal atau serangan jantung (Majid, 2008).
2. Etiologi
Etiologi penyakit jantung koroner adalah adanya penyempitan, penyumbatan, atau kelainan
pembuluh arteri koroner. Penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah tersebut dapat
menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan nyeri. Dalam kondisi
yang parah, kemampuan jantung memompa darah dapat hilang. Hal ini dapat merusak sistem
pengontrol irama jantung dan berakhir dan berakhir dengan kematian (Hermawati, dkk, 2014).
4. Faktor resiko
Faktor resiko yang tidak dapat dirubah
a. Usia : Seiring dengan bertambahnya usia, fungsi sistem kardiovaskular akan menurun.
b. Jenis kelamin: beberap penelitian menunjukkan bahwa pria yang berusia di bawah 50
tahun memiliki risiko kematian yang lebih besar akibat penyakit jantung koroner, 3
hingga 5 kali lebih tinggi daripada wanita pada usia yang sama. Namun, bagi para wanita
yang berusia di atas 50 tahun atau telah mengalami menopause, perbedaan faktor jenis
kelamin ini tidak terlalu berpengaruh.
c. Keturunan (genetik) : Orang-orang yang orang tua atau saudara kandungnya pernah
mengalami penyakit jantung atau stroke memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi untuk
mengidap penyakit jantung koroner.
Faktor resiko yang dapat dirubah
a. Kadar lipid darah yang tinggi: Hal ini meningkatkan risiko penumpukan kolesterol,
menyebabkan aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah) yang mempersempit
pembuluh darah atau bahkan menyebabkan trombosis (gumpalan darah dalam arteri atau
vena).
b. Hipertensi: Hal ini menyebabkan pengerasan dan penebalan dinding pembuluh darah, dan
penyempitan pembuluh darah akan memperlambat aliran darah.
c. Diabetes Melitus: Peningkatan kadar gula darah akan meningkatkan risiko kerusakan dan
pengerasan pembuluh darah.
d. Merokok: Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan hormon, yang menyebabkan
jantung berdetak lebih cepat dan menyempitkan pembuluh darah. Menghirup karbon
monoksida bisa menurunkan kandungan oksigen pada otot jantung. Karbon monoksida
dan nikotin juga bisa meningkatkan viskositas trombosit dan kemungkinan pembentukan
plak, yang pada akhirnya bisa merusak dinding dalam pembuluh darah dan meningkatkan
risiko pengerasan arteri.
e. Obesitas: Risiko berkembangnya penyakit jantung koroner pada orang yang mengalami
obesitas adalah 2 hingga 3 kali lebih tinggi daripada orang yang memiliki berat badan
normal.
f. Kurangnya aktivitas fisik: Olahraga bisa meningkatkan elastisitas pembuluh darah dan
mengurangi kemungkinan mengerasnya pembuluh darah. Oleh karena itu, kurangnya
olahraga bisa melemahkan fungsi kardiovaskular.
g. Stres: Stres membuat jantung berdetak lebih cepat, membuat otot jantung lebih tegang
dan meningkatkan tekanan darah yang bisa menyebabkan penyakit jantung koroner
(Yahya, 2010).
5. Manifestai klinis
Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina pektoris dimana suatu sindroma klinis
didapatkan nyeri dada yang timbul pada waktu melakukan aktifitas karena adanya iskemik
miorkard. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi >70% penyempitan pembuluh darah
koronaria. Keadaan ini bisa bertambah menjadi lebih berat dan menimbulkan sindroma koroner
akut (SKA) atau yang dikenal sebagai serangan jantung mendadak (Anies, 2005).
Sindrom koroner akut ini biasanya berupa nyeri seperti tertekan benda berat, rasa tercekik,
ditinju, ditikam, diremas, atau rasa seperti terbakar pada dada. Umumnya rasa nyeri dirasakan
dibelakang tulang dada (sternum) disebelah kiri yang menyebar ke seluruh dada. Rasa nyeri
dapat menjalar ke tengkuk, rahang, bahu, punggung dan lengan kiri. Keluhan lain dapat berupa
rasa nyeri atau tidak nyaman di ulu hati yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan. Sebagian
kasus disertai mual dan muntah, disertai sesak nafas, banyak berkeringat, bahkan kesadaran
menurun (Naga, 2012).
6. Pemeriksaan diagnostic
Mendiagnosis PJK dapat dilakukan dengan memperhatikan hasil pemeriksaan
Elektrokardiogram (EKG) dan Angiografi untuk mengetahui adanya penyumbatan pada
pembuluh darah koroner (National Heart, Lung and Bood Institute, 2014).
7. Penatalaksanaan
a. Pengobatan farmakologis
1) Aspirin: Obat ini bisa mengurangi viskositas darah dan memperlambat atau mencegah
penyumbatan arteri koroner.
2) Penyekat beta: Untuk memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah,
untuk mengurangi beban kerja jantung.
3) Vasodilator: Untuk melebarkan pembuluh darah dan membantu meringankan beban
kerja jantung. Tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet sublingual, spray, dan
patch.
4) Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI - Angiotensin-Converting Enzyme
Inhibitors): Obat-obatan ini berfungsi untuk menurunkan tekanan darah. Digunakan
untuk memperlambat perkembangan komplikasi penyakit jantung koroner.
5) Diuretik: Obat-obatan ini bisa mengurangi volume sirkulasi darah dengan
menghilangkan natrium dan air, sehingga bisa mengurangi beban kerja jantung.
6) Penyekat saluran kalsium: Obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah yang bisa
meningkatkan aliran darah di arteri koroner.
7) Bila diperlukan, dokter mungkin akan meresepkan statin (obat penurun kolesterol)
untuk pasien dengan kadar kolesterol darah yang tinggi (Majid, 2008).
b. Revaskularisasi miokard
Ada dua cara revaskularisasi pada PJK stabil yang disebabkan aterosklerotik koroner yaitu
tindakan revaskularisasi pembedahan yaitu CABG (coronary artery bypass surgery) dan
tindakan intervensi perkutan yaitu PCI (percutneous coronary intervention).
8. Pencegahan
1) Gaya hidup yang sehat, yang bisa membantu menjaga kesehatan dan elastisitas pembuluh
darah serta memungkinkan aliran darah yang lancar, merupakan faktor yang penting untuk
menjaga kesehatan seperti:
a) Jangan merokok/berhenti merokok
b) Lakukan olahraga sedang dalam tempo 30 menit setiap hari
c) Tetap tenang dan hindari stres. Libatkan diri dalam kegiatan yang sehat untuk
mengurangi stres.
2) Rutin untuk kontrol kesehatan seperti timbang berat badan, cek kadar kolestrol, tekanan
darah dan gula darah.
3) Terapkan pola makan yang seimbang
a) Rendah garam: Konsumsi garam secara berlebihan akan meningkatkan tekanan darah.
Makanan dengan kandungan garam yang tinggi seperti makanan olahan dan makanan
yang diawetkan serta saus harus dihindari
b) Rendah gula: Hindari makanan dan minuman dengan kadar gula yang tinggi. Kurangi
konsumsi “makanan nol kalori”, yaitu makanan yang memiliki nutrisi sangat sedikit bila
dibandingkan dengan kadar kalorinya. Gula rafinasi merupakan contoh makanan nol
kalori.
c) Rendah lemak: Kurangi konsumsi makanan dengan kandungan lemak yang tinggi.
d) Mengonsumsi lebih banyak sayuran dan makanan kaya serat bisa mencegah sembelit
dan mengurangi penyerapan lemak. Sayuran dan makanan kaya serat juga membantu
mengendalikan kolesterol dan kadar gula darah.
B. DAMPAK STRES PADA TUBUH
Saat berada di tengah tekanan, tuntutan pekerjaan, atau situasi yang kurang
menyenangkan, seseorang rentan mengalami stres. Secara umum, stres merupakan reaksi
tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau satu hal baru.
Kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh situasi atau pikiran, misalnya saat marah, merasa
putus asa, atau gugup. Sebenarnya, stres merupakan respon alami dan terkadang
dibutuhkan tubuh.
Meski normal dan bisa terjadi pada siapa saja, tetapi stres yang berkepanjangan dan
terlalu berat ternyata juga bisa memicu dampak yang tidak baik pada tubuh. kondisi
individu yang mengalami stressgejala-gejalanya dapat dilihat baik secara fisik maupun
secara psikologis. Gejala secara fisik individu yang mengalami stress, antara lain ditandai
oleh (Sukadiyanto, 2010):
1. Gangguan jantung
Bagi individu yang mengalami stress akan mengalami beberapa hal seperti:
a. Detak jantungnya lebih cepat (berdebar-debar) daripada saat tidak mengalami
stress.
b. Ada juga individu yang merasakan dada sebelah kiri terasa nyeri (di daerah sekitar
puting susu).
c. Pernapasan menjadi tersengal- sengal.
Hal tersebut dapat terjadi karena Jika rasa berdebar atau nyerinya hilang tidak
berarti bahwa stress yang dialami individu itu telah hilang. Untuk itu, diperlukan
pencegahan agar stres stidak berlangsung lama, sebab semakin lama stress bersarang
dalam diri individu dapat menjadisalah satu penyebab serangan jantung.
2. Ketegangan pada otot
Pada umumnya, ketegangan terjadi pada kelompok otot di daerah tengkuk, leher,
bahu, dan rahang. Ketegangan otot di sekitar tengkuk akan mengganggu suplai darah ke
otak, akibatnya kepala terasa nyeri atau pusing karena kekurangan suplai darah. Jika
kondisi seperti itu berlangsung lama maka akan membahayakan kesehatan individu.
3. Telapak tangan dan atau kaki terasa dingin
Telapak tangan dan kaki terasa dingin,juga dapat diakibatkan karena suplai
darah ke sel-sel otot lengan dan tungkai berkurang. Oleh karena suplai aliran darah ke
otot otot tangan dan kaki berkurang maka mengakibatkan tangan dan kaki terasa dingin.
4. Kondisi Gangguan pada pencernaan
Stress akan mempengaruhi fungsi dan kerja usus serta lambung. Kondisi tersebut
akan berdampak pada sistem pencernaan, yakni antara lain :
a. Terjadi konstipasi
b. Diare, tubuh jika mengalami stress akan menyebabkan peristaltik usus mengalami
peningkatan.
c. Terasa mual-mual, tubuh jika mengalami stress akan menyebabkan sistem
pencernaan terutama lambung memproduksi asam lambung yag meningkat
sehingga dapat menyebabkan seseorang terasa mual.
Namun tanda tersebut akan bergantung pada respon masing-masing idividu.
5. Susah tidur
Susah tidur dan stress merupakan hubungan yang bersifat timbal balik.
Artinya,susah tidur dapat diakibatkan karena stress dan stress dapat mengakibatkan
susah tidur. Padahal tidur yang berkualitas merupakan proses yang penting guna
mengistirahatkan (merecovery) kondisi fisik maupun psi-kis. Selain itu, pada saat
individu tidur merupakan proses pembangunan sel-sel yang rusak akibat akitifitas
fisik.Untuk itu, seyogyanya setiap individu da-lam sehari semalam (24 jam) waktu
tidurnya harus teratur dan minimalber-langsungselama 7 –8 jam.
6. Bagi wanita akan mengalami gangguan menstruasi
Bila seorang wanita berada pada tekanan mental ekstrim seperti stres, maka
produksi esterogen dan progesteronnya akan terganggu. Ketidakseimbangan ini
dapat menyebabkan siklus haid tidak teratur.
7. Gangguan seksual (impotensi)
Individu yang mengalami stress ada kecenderungan menurun libidonya. Jika
tingkat stress individu lebih berat cenderung akan mengalami impoten.
C. STRES SALAH SATU FAKTOR YANG MENYEBABKAN PENYAKIT JANTUNG
KORONER
Dalam tingkat yang lebih parah, stres dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami
penyakit jantung koroner. Meski tidak berkaitan secara langsung, nyatanya stres berlebihan
memang bisa memicu kondisi ini. Hal itu berkaitan dengan perubahan dan kondisi tubuh yang
terjadi saat seseorang mengalami stres. Perubahan-perubahan tersebut menjadi pemicu
terjadinya gangguan pada kesehatan dan salah satunya bisa berujung pada penyakit jantung
koroner. Berikut perubahan yang muncul ketika stres menjadi berat (Harvard, 2017):

1. Tekanan darah meningkat


Tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat diakibatkan oleh stress yang diderita
individu, sebab reaksi yang muncul terhadap impuls stressa dalah tekanan darahnya
meningkat. Selain itu umumnya individu yang mengalami stress sulit tidur, sehingga akan
berdampak pada tekanan darahnya yang cenderung tinggi.
Tekanan darah yang tinggi ini yang kemudian menyebabkan seseorang berisiko
terkena penyakit jantung. Ketika tekanan darah tinggi, maka aliran darah tidak lancar,
sehingga bisa saja menimbulkan gangguan pada kerja jantung.
2. Nafsu makan meningkat
Banyak orang yang mengalami stres berkepanjangan justru menjadikan makanan
sebagai pelariannya. Selain itu, terbukti juga jika stres dapat meningkatkan nafsu makan.
Hal ini terkait dengan tingginya hormon kortisol ketika stres terjadi. Hormon ini memiliki
kemampuan untuk meningkatkan nafsu makan, sehingga membuatnya makan berlebihan
dan tak terkendali. Makanan-makanan tersebut tentu melebihi kebutuhan tubuh dan
menyebabkan tumpukan lemak semakin banyak. Tumpukkan lemak ini yang akan membuat
seseorang terserang penyakit jantung. Lemak dapat membuat pembuluh darah tersumbat dan
akhirnya aliran darah tidak lancar. Kemudian, fungsi jantung pun terganggu.
3. Tidak ada gairah untuk melakukan aktivitas lain
Munculnya stres menyebabkan malas untuk melakukan kegiatan lain. Rasanya
murung dan sedih saja seharian. Kondisi ini membuat tidak melakukan aktivitas fisik
apapun. Semakin lama kita tdak melakukan aktivitas fisik maka menyebabkan tubuh
mengalami penambahan berat badan. Sebab, gaya hidup sedentari atau tidak melakukan
aktivitas fisik sama sekali hanya akan membuat timbunan lemak tubuh semakin banyak.
Lemak memiliki kemampuan untuk menyumbat aliran darah dan akhirnya jantung tidak bisa
memompa darah dengan baik. Sehingga dapat menyebabkan penyakit jantung koroner.
4. Melakukan kebiasaan buruk
Stres akan mencari pelarian lain yang dapat membuat dirinya nyaman, seperti
halnya mengonsumsi alhokol dan merokok. Kebiasaan buruk tersebut tentu semakin
meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, tidak hanya risiko penyakit jantung saja.
D. CARA MENGATASI STRES
Beberapa cara untuk mengurangi stress antara lain (Sukadiyanto, 2010):
1. Memelihara kebugaran jasmani
Individu yang memiliki kebugaran jasmani baik akan terhindar dari stress, karena
memiliki kemampuan ambang rangsang psikis yang tinggi terhadap stress. Dianjurkan
individu untuk melakukan aktifitas fisik, antara lain seperti:
a. jogging, jalan, renang, bersepeda dengan intensitas ringan sampai sedang, dalam durasi
waktu minimal 20 menit, frekuensinya 3 kali setiap minggu, akan membantu
memelihara kebugaran jasmani.
b. Latihan pernapasan, Pernapasan yang baik adalah menarik napas secara perlahan dan
dalam yaitu menggunakan diagphragma dan sesaat ditahan di perut, selanjutnya
dikeluarkan secara perlahan pula melalui mulut. Cara bernapas seperti ini sangat
membantu mereduksi stress. Sebagai contoh, jika individumengalami jantung berdebar-
debar, lakukanlah bernapas secara perlahan dan dalam maka denyut jantung relatih akan
lebih lambat.
2. Latihan relaksasi
Relaksasi dapat dilakukan dengan bebrapa hal seperti:
a. Massage
b. Hiburan yang lucu
c. Ataupun juga dapat melakukan hal religius. Seperti sebagai contoh bagi umat muslim
pada waktushalat tahajud atau setelah shalat subuh wajib melakukan dzikir atau
wiridan yang dibarengi dengan merasakan dan melakukan cara bernapas yang baik dan
benar.
d. Melakukan aktivitas yang menggembirakanakan membantu individu terhindar dari
perasaan stress. Sebab melalui aktivitas yang menggembira-kan, individu yang
memiliki masalah, sejenak akan melupakan permasalahannya.Oleh karena itu, akhir-
akhir ini muncul terapi melalui tertawa yang sampai terbahak-bahak dan bahkan
sampai menangis, yang tujuannya untuk mendorong munculnya hormon endorphin
dari dalam diri individu itu sendiri.
3. Berlibur
Berlibur atau rekreasi merupakan aktivitas yang bertujuan untuk melepaskan segala
kelelahan (kepenatan) baik fisik maupun psikis dengan cara mengubah suasana yang
menjadi ruti-nitas.
4. Menghindari kebiasaan yang jelek
Menghindari kebiasaan yang jelek. Pada umumnya individu yang mengalami stress
penyalurannya antara lain melalui merokok, makan secara berlebihan, minum minuman
keras, dan mengkonsumsi narkoba. Sesaat mungkinkegiatantersebut dapat menghilang-kan
stress, tetapi dalam jangka waktu yang lama dan berlebihan justru akan membahayakan
terhadap kesehatan individu itu sendiri.
5. Mendikstraksi dengan kegiatan yang disukai
Memelihara tanaman dan binatang dapat sebagai sarana untuk mengurangi beban
stress pada individu. Dengan menanam dan merawat tanaman dapat sebagai hiburan dan
pengalihan perhatian atau konsentrasi pada suatu permasalahan. Dengan merawat tanaman
konsentrasi sesaat akan tercurahkan pada tanaman tersebut, sehingga beban stress dapat
berkurang. Selain itu, memelihara binatang piaraan antara lain seperti kucing, anjing,
burung, ikan dan sejenisnya merupakan hiburan yang mampu mengalihkankonsentrasidari
suatu permasalahan ke objek yang di-rawat.
6. Menghindari diri dalam kesendirian.
Jika individu mengalami stress sebaiknya banyak bergaul dengan orang lain agar
tidak dalam kesendirian, sebab jika dalam kesendirian individu itu akan semakin
menikmati stressnya. De-ngan semakin menikmati stresskondisi-nya akan semakin
burukdan memba-hayakan. Untuk itu, akan lebih baik individu yang mengalami stressmen-
cari teman yang dapat diajak untuk mencurahkan isi hati (curhat), sehingga beban
psikologis penyebab stressdapat dikurangi.
Daftar Pustaka
1. Anies. 2005. Pencegahan Dini Gangguan Kesehatan. Jakarta: PT Elex Media.
2. Harvard Publications. (2017). Stress and your heart - Harvard Health. [online] Harvard Health.
Available at: https://www.health.harvard.edu/heart-health/stress-and-your-heart diakses pada
tanggal 22 Oktober 2019
3. Hermawati, dkk. 2014. Penyakit Jantung Koroner. Jakarta: FMedia.
4. https:// hellosehat.com. (2017). Bagaimana Stress dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Availabel at: https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/stres-penyebab-penyakit-jantung/
diakses pada tanggal 22 Oktober 2019
5. Majid, abdul. 2008. Penyakit Jantung Koroner: Patofisiologi, Pencegahan, dan Pengobatan
Terkini. USU e-repository.
6. Sukadiyanto. 2010. Stress dan Cara Mengatasinya. Cakrawala Pendidikan, Februari 2010, Th.
XXIX, No. 1.
7. Yahya. 2010. Mencegah dan Mengatasi Penyakit Jantung Koroner Secara Tepat dan Cepat.
Jakarta: Salemba Medika.
Lampiran 2. Daftar hadir
DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN KESEHATAN
TENTANG MENGENAL PENYAKIT ANGINA PEKTORIS
DI RUANG PPJT LT.3 RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA

Tempat : Ruang PPJT Lt.3 Dr. Soetomo Surabaya


Hari, tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Waktu : 10.00 – 10.30 WIB
No Nama Tanda tangan
1. 1.
2. 2.
3. 3.
4. 4.
5. 5.
6. 6.
7. 7.
8. 8.
9. 9.
10. 10.
11. 11.
12. 12.
13. 13
14. 14.
15. 15.
16. 16.
17. 17.
18. 18.
19. 19.
20. 20.
DAFTAR HADIR PEMBIMBING PENYULUHAN KESEHATAN
TENTANG MENGENAL PENYAKIT ANGINA PEKTORIS
DI RUANG PPJT LT.3 DR. SOETOMO
SURABAYA

Tempat : Ruang PPJT Lt.3 Dr. Soetomo Surabaya


Hari, tanggal : Kamis, 31 Oktober 2019
Waktu : 10.00 – 10.30 WIB
No Nama Tanda tangan
1. 1.
2. 2.
3. 3.
4. 4.
5. 5.
6. 6.
Lampiran 3. Lembar penilaian
FORMAT PENILAIAN
PENYULUHAN KESEHATAN RUMAH SAKIT(PKRS)
I. Penyajian
Bobot
No. Aspek Yang Dinilai
1 2 3 4
1. Sesuai waktu yang dialokasikan
2. Menggunakan bahasa yang bisa dimengerti
3. Kelancaran dan kejelasan penyajian
4. Kemampuan mengemukakan intisari penyuluhan
5. Penampilan penyaji dalam penyuluhan
TOTAL : ……………..

II. Isi Penyuluhan ( Bobot : 4 )


Bobot
No. Aspek Yang Dinilai
1 2 3 4
1. Kesesuaian TIK denga TIU
2. Kesesuaian materi dengan TIK
3. Kesesuaian kegiatan penyuluhan
4. Kesesuian Media/ alat dan sumber
5. Kesesuian alat evaluasi
TOTAL : ……………..

III. Tanya Jawab ( Bobot : 3)


Bobot
No. Aspek yang Dinilai
1 2 3 4
1. Ketepatan Menjawab
2. Kemampuan mengemukan argumen
3. Sikap penyuluh menanggapi pertanyaan

TOTAL : ……………..

Score Akhir = ( Penyajian + Isi + Tanya Jawab ) X 100 = ……..


52

Keterangan : Surabaya, 17 Oktober 2019


1 : Kurang
2 : Cukup
3 : Baik
4 : Sangat Baik

(______________________________)