Anda di halaman 1dari 10

1.

Psikologi Pendidikan
A. Pengertian
 Whiterington, 1982:10
Pengertian Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan
 Kajian tentang masalah yang terjadi dalam proses belajar
 Psyche : Jiwa
Logos : lmu
B. Ruang Lingkup (Sumadi Suryobroto (1987))
 Pengetahuan mengenai psikologi pendidikan, mulai dari pengertian ruang
lingkup, sejarah psikologi pendidikan, dan tujuan untuk mempelajari ilmu
tersebut.
 Lingkungan fisik dan psikologis
 Proses-pross tingkah laku
 Perkembangan siswa
 Hakikat dan ruang lingkup belajar
 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar
 Pengukuran pendidikan
 Hukum dan teori belajar
 Aspek praktis pengukuran pendidikan
 Kurikulukum pendidikan sekolah dasar
 Kurikulum pendidikan sekolah menengah
C. Tujuan mempelajari psikologi pendidikan:
1. Meramalkan
2. Menerangkan Behavior
3. Menggambarkan (Mental)
4. Mengontrol/Merubah Peserta didik
D. Peranan Pendidik dalam upaya pendidikan
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
A. Pertumbuhan dan Perkembangan
 C.P. Chaplin (2002), mengartikan pertumbuhan sebagai satu pertambahan atau
kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme sebagai
suatu keseluruhan.
 Sinolungan (1997), pertumbuhan menunjukan pada perubahan kuantitatif, yaitu
yang dapat dihitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh.
 Perkembangan adalah bertambah kemampuan atau skill dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil
proses pematangan.
 Monks, dkk. (2001), perkembangan menunjukan pada “suatu proses ke arah yang
lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali.
 Santrock (2007) makna sebagai pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan,
yangberlanjut sepanjang rentang hidup.
B. Faktor Perkembangan (Papalia, dkk., 2009).
1. Herediter, Lingkungan, dan Kematangan
2. Konteks Perkembangan
a. Keluarga
b. Status social-ekonomi dan lingkungan tempat tinggal
c. Budaya dan ras/kelompok etnik
d. Konteks historis
3. Pengaruh Normatif dan Nonnormatif
4. Pengaruh Waktu: Periode Sensitif atau Kritis

C. Prinsip/Hukum Perkembangan
(Syamsuddin (2004))
1) Perkembangan dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan, lingkungan dan
kematangan.
2) Proses perkembangan itu berlangsung secara bertahap (progresif dan sistematik).

3) Bagian-bagian dari fungsi-fungsi organisme mempunyai garis perkembangan dan


tingkat kematangan masing-masing.

4) Terdapat variasi dalam tempo dan irama perkembangan antar-individual dan


kelompok tertentu (menurut latar belakang jenis, geografis, dan kultural).

5) Proses perkembangan itu pada taraf awalnya lebih bersifat diferensiasi dan pada
akirnya lebih bersifat integrasi antar bagian dan fungsi organisme.

6) Dalam batas-batas masa peka, perkembangan atau pertumbuhan dapat dipercepat


atau diperlambat oleh kondisi lingkungan.

7) Laju perkembangan anak berlangsung lebih cepat pada periode kanak-kanak


daripada periode-operiode berikutnya.

3. Tugas dan Tahap Perkembangan


A. Tahap Perkembangan Manusia (Santrock 2010)
(1) Periode anak : sebelum kelahiran (pranatal), masa bayi (infacy), masa awal
anak-anak (early childhood), masa pertengahan dan akhir anak
(midle and late childhood);
(2) Periode remaja (adolescence)
(3) Periode dewasa : masa awal dewasa (early adulthood), masa pertengahan
dewasa (middle adulthood), dan masa akhir dewasa (late
adulthood).
B. Tugas Perkembangan (Robert j. Harvighust : 1961)
1) Tugas perkembangan pada masa kanak-kanak/anak:
 belajar berjalan;
 belajar makan makanan padat;
 belajar mengendalikan gerakan badan;
 mempelajari peran yang sesuai dengan jenis kelaminnya;
 belajar membedakan yang benar dan salah.
2) Tugas perkembangan masa remaja:
 memperoleh hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan yang
sebaya dari kedua jenis kelamin;
 memperoleh kebebasan diri melepaskan ketergantungan diri dari orang
tua dan orang dewasa lainnya;
 memperoleh kebebasan ekonomi;
 memupuk dan memperoleh perilaku yang dapat dipertanggung
jawabkan secara sosial;
3) Tugas Perkembangan masa dewasa
 memilih pasangan hidup;
 memulai kehidupan berkeluarga;
 membimbing dan merawat anak;
 mengolah rumah tangga;
 membina hubungan dengan pasangan hidup sebagai pribadi;
 menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik
sendiri;
 menyesuaikan diri dengan pertambahan umur.

D. Implementasi (Sumatri,M (2014))


 Merespon tindakan peserta didik sebagai mana mestinya
 Memperlakuka peserta didik sebagai mana mestinya
 Memberikan kebebasan pada peserta didik sesuai kemampuannya dalam
pemberian tanggung jawab.

4. INTELEGENSI
A. Pengertian
 Walgito (2010:210)
Individu dalam menyelesaikan masalah, apakah cepat atau lambat, faktor yang
turut menentukan
 Mulyasa (2005 : 122)
Kemampuan mental yang bersifat umum (general ability) untuk membuat atau
mengadakan analisa, memecahkan masalah, menyesuaikan diri dan menarik
generalisasi, serta merupakan kesanggupan berpikir seseorang.
B. Klasifikasi IQ ( Thurstone (1914))

C. Multiple Intelligence (Gardner, 1983)


1) Kecerdasan verbal-linguistik
Kecerdasan verbal-linguistik berkaitan erat dengan kata-kata, baik lisan maupun
tertulis beserta dengan aturan-aturannya. Ciri-ciri:
 Berbicara yang baik dan efektif,
 Cenderung dapat mempengaruhi orang lain melalui kata-katanya
 Suka dan pandai bercerita serta melucu dengan kata-kata
 Cepat menangkap informasi lewat kata-kata
 Mudah hafal kata-kata, nama (termasuk nama tempat)
 Memiliki kosakata yang relatif banyak
 Cepat mengeja kata-kata
 Berminat terhadap buku (membuka-buka, membawa, mengoleksi)
 Cepat membaca dan menulis
2) Kecerdasan logika-matematika
Kecerdasan logika-matematika berkaitan dengan kemampuan mengolah angka
dan atau kemahiran menggunakan logika.ciri-ciri :
 Tertarik memanipulasi lingkungan serta cenderung suka menerapkan strategi
coba-ralat.
 Menduga-duga sesuatu
 Terus menerus bertanya dan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang
peristiwa di sekitarnya. Pertanyaan seperti, “mengapa telur berubah jadi
ayam?”
 Relatif cepat dalam kegiatan menghitung, gemar berhitung, dan menyukai
permainan strategi seperti permainan catur jawa
 Cenderung mudah menerima dan memahami penjelasan sebab-akibat.
 Suka menyusun sesuatu dalam kategori seperti urutan besar ke kecil, panjang
ke pendek, dan mengklasifikasi benda-benda yang memiliki sifat sama.

3) Kecerdasan visual-spasial
Kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah,
dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk
lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, patung. Ciri-ciri:
 Memiliki kepekaan terhadap warna, garis-garis, bentuk-bentuk, ruang, dan
bangunan.
 Memiliki kemampuan membayangkan sesuatu, melahirkan ide secara visual
dan spasial (dalam bentuk gambar atau bentuk yang terlihat mata) (armstrong,
1996)
 Memiliki kemampuan mengenali identitas objek ketika objek tersebut ada dari
sudut pandang yang berbeda.
 Mampu memperkirakan jarak dan keberadaan dirinya dengan sebuah objek
(indra supit, dkk., 2003:39).
 Suka mencoret-coret, membentuk gambar, mewarnai, dan menyusun
unsurunsur bangunan seperti puzzle dan balok-balok;

4) Kecerdasan kinestetik
Kecerdasan gerak-kinestetik berkaitan dengan kemampuan menggunakan gerak
seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan
mempergunakan tangan untuk mencipta atau mengubah sesuatu. Ciri :
 Terlihat menonjol dalam kemampuan fisik (terlihat lebih kuat, lebih lincah)
daripada anak-anak seusianya.
 Suka bergerak, tidak bisa duduk diam berlama-lama.
 Suka meniru gerak atau tingkah laku orang lain yang menarik perhatiannya.
 Senang pada aktivitas yang mengandalkan kekuatan gerak seperti mamanjat,
berlari, melompat, berguling; suka menyentuh barang-barang;.
 Memiliki kecerdasan gerak-kinestetik memiliki koordinasi tubuh yang baik
 Gerakan-gerakan mereka terlihat seimbang, luwes, dan cekatan

5) Kecerdasan musikal
Kecerdasan musikal berkaitan dengan kemampuan menangkap bunyi-bunyi,
membedakan, menggubah, dan mengekspresikan diri melalui bunyi-bunyi atau
suarasuara yang bernada dan berirama. Ciri :
 Cenderung cepat menghafal lagu-lagu dan bersemangat ketika kepadanya
diperkenalkan lagu;
 Menikmati musik dan menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai irama music
tersebut;
 Mengetuk-ngetukkan benda ke meja pada saat menulis atau menggambar.
 Suka menyanyi, bersenandung, atau bersiul;
 Dapat mengidentifikasi perbedaan suara-suara sejenis, seperti suara-suara
sepeda motor dari merk yang berbeda, suara berbagai burung, suara kucing
lapar dan berkelahi, suara beberapa guru dan temannya
 Mudah mengenali suatu lagu hanya dengan mendengar nada-nada pertama lagu
tersebut.
6) Kecerdasan interpersonal
Kecerdasan interpersonal melibatkan kemampuan untuk memahami dan
bekerjasama dengan orang lain. Ciri-ciri :
 Cenderung mudah memahami perasaan orang lain;
 Sering menjadi pemimpin di antara teman-temannya
 Pandai mengorganisasi teman-teman mereka dan pandai mengkomunikasikan
keinginannya pada orang lain;
 Memiliki perhatian yang besar pada teman sebayanya
 Memiliki kemahiran mendamaikan konflik.
 Cinta damai, pengamat dan motivator yang baik.
 Mempunyai banyak teman;
 Mudah bersosialisasi serta senang terlibat dalam kegiatan atau kerja kelompok;
 Menikmati permainan-permainan yang dilakukan secara berpasangan atau
berkelompok;
7) Kecerdasan intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal berkaitan dengan aspek internal dalam diri seseorang,
seperti, perasaan hidup, rentang emosi, kemampuan untuk membedakan emosi-
emosi, menandainya, dan menggunakannya untuk memahami dan membimbing
tingkah laku sendiri (gardner, 1993:24-25). Ciri-ciri:
 Terlihat lebih mandiri,
 Memiliki kemauan yang keras,
 Penuh percaya diri,
 Memiliki tujuan-tujuan tertentu (schmidt, 2002:36)
 Tidak mengalami masalah ketika dibiarkan “bekerja sendiri karena mereka
cenderung memiliki gaya “belajar” tersendiri;
 Suka menyendiri dan merenung (armstrong, 2002:34).
 Mereka mampu belajar dari kegagalan dan memahami kekuatan serta
kelemahan mereka sendiri.
8) Kecerdaan naturalis
Kecerdasan naturalis berkaitan dengan kemahiran dalam mengenali dan
mengklasifikasikan benda-benda alam, binatang, dan tumbuhan. Ciri-ciri
 Cenderung menyukai alam terbuka, akrab dengan hewan peliharaan
 Menghabiskan waktu mereka di dekat akuarium;
 Memiliki keingintahuan yang besar tentang seluk-beluk hewan dan tumbuhan
(armstrong, 1993).
 Cenderung suka mengoleksi bunga-bunga dan daun-daun kering;
 Mengoleksi mainan binatang tiruan, seperti dinosaurus, harimau, dan ular;
 Menikmati “komunikasi” dengan binatang piaraan dan memberi mereka
makan;
 Memiliki perhatian yang relatif besar terhadap binatang, tumbuhan, dan alam.
 Mereka tidak takut memegang-megang serangga dan berada di dekat binatang
(indra-supit, 2003:110).

9) Kecerdasan eksistensial
Kecerdasan eksistensial berkaitan dengan kemampuan merasakan, memimpikan,
dan menjadi pemikir menyangkut hal-hal yang besar (menjadi pemimpin)
(theacorn, 2003).
Kecerdasan eksistensial juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
menempatkan diri dalam lingkup kosmos yang terjauh, dengan makna hidup,
makna kematian, nasib dunia jasmani maupun kejiwaan, dan dengan makna
pengalama mendalam seperti cinta atau kesenian (armstrong, 1996). Ciri-ciri:
 Cenderung memiliki kesadaran akan hakikat sesuatu.
 Menanyakan berbagai hal yang mungkin sekali tidak terpikirkan oleh anak lain
sebayanya. Pertanyaan “apakah benar ada hantu?”, “mengapa kita harus berdoa
pada tuhan?”, dan “di mana tuhan berada?” Merupakan contoh pertanyaan anak-
anak yang berhulu pada kecerdasan eksistensial ini.
D. Usaha guru membantu siswa dalam belajar sesuai dengan potensinya
 Contextual Teaching Learning
Contextual Teaching Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, yang
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa
dapat diperoleh dari usaha siswa mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan
keterampilan baru ketika ia belajar.
 Pembelajaran berbasis masalah
Pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas
pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi
secara ilmiah.
 Quantum learning
Mulai diujicobakan oleh Bobby DePorter, Eric Jensen dan Greg Simmons lewat
program yang diberi nama Super Camp. Quantum learning menerapkan tiga
keterampilan dasar yang sangat diperlukan dalam proses belajar. Tiga keterampilan
dasar itu meliputi keterampilan akademis, prestasi fisik dan keterampilan hidup.
strategi pembelajaran yang diterapkan quantum learning menekankan partisipasi aktif
siswa untuk menenukan makna dan menciptakan kaitan materi dengan kehidupan
sehari-hari.
 Pembelajaran Kooperatif /Cooperatif learning
Pada beberapa model pembelajaran kooperatif juga menjadi salah satu alternatif cara
belajar aktif siswa untuk mengembangkan potensi siswa. Belajar kooperatif adalah
suatu keberhasilan strategi pengajaran di dalam kelompok kecil, dimana setiap siswa
dengan kemampuan yang berbeda-beda, menggunakan kegiatan pembelajaran yang
bervariasi untuk memperbaiki pemahaman mereka terhadap subjek .