Anda di halaman 1dari 11

KOLEKSI SPESIMEN

Oleh :
Nama : Syakilah
NIM : B1A017019
Rombongan :V
Kelompok :1
Asisten : Nugroho Dwi Septianto

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Suhardjono (1999), koleksi spesimen merupakan aset ilmiah yang


penting sebagai bahan penelitian keanekeragaman fauna baik taraf nasional ataupun
taraf internasional. Secara garis besar, ada dua cara pengawetan obyek biologi, yaitu
pengawetan basah dan pengawetan kering. Pengawetan basah dilakukan dengan
mengawetkan obyek biologi dalam suatu cairan pengawet. Pengawetan kering
dilakukan dengan mengeringkan obyek biologi hingga kadar air yang sangat rendah,
sehingga organisme perusak atau penghancur tidak bekerja (Alters, 1999 ).
Pengawetan basah dilakukan bagi hewan tidak bercangkang yang ukurannya
relatif besar, direndam dalam larutan pengawet. Pengawetan kering untuk organisme
yang berukuran relatif besar biasanya dilakukan dengan cara mengeringkan dengan
sinar matahari atau dengan oven dan selanjutnya agar lebih awet dapat disimpan
dalam media pengawet resin(bioplastik). Obyek yang dapat dijadikan sebagai
spesimen utama dalam pengawetan basah maupun kering merupakan objek biologi
yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar (Sudarsono, 2006).
Spesimen dari bermacam-macam hewan sering dibutuhkan untuk
dibutuhkan untuk keperluan penelitian maupun alat peraga dalam dunia pendidikan,
seperti Spesimen objek biologi sebagai media pembelajaran dapat digunakan dalam
keadaan segar ataupun awetan, utuh ataupun sebagian, sesuai dengan kondisi dan
tujuannya (Syafitri, 2016). Ahli pengetahuan alam, tidak dapat mengambil manfaat
pada suatu spesimen yang tidak diawetkan. Hewan yang dikoleksi adalah hewan-
hewan yang dibutuhkan untuk pengawetan dengan tujuan pengujian di kemudian
hari. Semua spesimen koleksi harus diberi label, yang berisi keterangan tentang nama
spesies, lokasi penemuan, tanggal koleksi dan data lain yang diperlukan. Label harus
ditulis ketika spesimen diawetkan agar tidak terjadi kesalahan informasi mengenai
spesies awetan. Macam-macam koleksi spesimen yaitu koleksi utama, terdiri dari
koleksi kering dan basah, koleksi spesimen tipe, semua spesimen yang secara
internasional telah dikategorikan dan dipublikasikan menjadi tipe untuk jenis yang
bersamngkutan, koleksi pertukaran, koleksi baru dari lapangan, koleksi pinjaman,
koleksi pengembalian dari peminjaman, koleksi pembagian, koleksi bukti, koleksi
untuk belajar-mengajar, dan koleksi pelengkap (Taylor & O’Shea, 2004).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Koleksi Spesimen ini antara lain:


1. Mengetahui berbagai teknik pengawetan spesimen.
2. Melakukan pengawetan terhadap hewan avertebrata dan vertebrata.
3. Membuat koleksi spesimen yang dapat bertahan lama.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Terdapat dua macam tipe preservasi koleksi spesimen, yaitu koleksi


basah dan koleksi kering. Koleksi basah adalah koleksi yang disimpan dalam
larutan pengawet ethanol, sedangkan koleksi kering berupa tulang dan kulit
yang diawetkan dengan bahan kimia formalin atau boraks. Menurut Yayuk et
al. (2010 ), pengawetan hewan dapat dilakukan dengan cara-cara seperti
berikut:
Menurut Pratiwi (2006), macam-macam spesimen, yaitu :
1. Berupa awetan kering, yaitu bahan yang dijadikan spesimen ini
yaitu berupa awetan yang sudah dikeringkan terlebih dahulu.
a. Herbarium, yaitu tumbuhan hasil pengawetan yang sudah
dikeringkan terlebih dahulu.
b. Taksidermi, adalah hewan hasil pengawetan, biasanya
golongan vertebrata yang dapat dikuliti. Pada pembuatan
taksidermi, hewan dikuliti, organ-organ dalam dibuang,
untuk selnjutnya dibentuk kembali seperti bentuk aslinya.
Hewan-hewan vertebrata yang sering dibuat taksidermi
misalnya berbagai jenis mamalia, kadal atau reptil, dsb.
Taksidermi seringkali dipergunakan sebagai bahan referensi
untuk identifikasi hewan vertebrata, juga menunjukkan
berbagai macam ras yang dimiliki suatu spesies. Selin itu,
tentu saja teksidermi dapat dijadikan sebagai media
pembelajaran biologi.
c. Insektarium, adalah sampel jenis serangga hidup yang ada
di alam, sampel yang digunakannya yaitu berupa serangga
yang sudah di awetkan.
2. Berupa awetan basah, yaitu baik untuk hewan maupun
tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh
specimen dalam larutan formalin 4%. Semua spesimen koleksi
basah tersimpan dalam botol yang berisi larutan pengawet
alkohol. Setelah spesimen koleksi tersimpan dan tertata
dengan rapi, maka perlu dilakukan pearawatan secara rutin,
teratur dan insidental. Pengecekan alkohol secara berkala,
setiap 3 atau 6 bulan sekali, bila jumlah alkohol berkurang
harus ditambah kembali hingga penuh. Pemeriksaan wadah
dan label, bila label rusak harus diganti, dan label lama dapat
tetap disimpan. Sedangkan pemeriksaan secara insidental
dapat dilakukan kapan saja, bila terlihat ada wadah yang harus
segera diganti, keadaan spesimen yang perlu diselamatkan
karena kadar alkohol yang sudah berubah warna dan keruh,
maka harus segera diganti. Spesimen jangan ditempatkan
terlalu banyak dalam satu botol, dengan demikian tidak
mudah rusak. Botol terbuat dari kaca yang jernih, tahan panas,
memiliki dinding yang lurus dan bermulut lebar serta dasar
botol rata. Tutup terbuat dari plastik, rapat dan kuat untuk
menghindari terjadi penguapan alkohol. Pembersihan botol
juga harus dilakukan, tidak saja bagian dalam tetapi juga
badan botol yang selalu terkena debu dan jamur. Selain itu
juga kondisi ruangan koleksi harus dijaga agar tidak terjadi
kebakaran, instalasi listrik, AC, suhu ruangan dan kebersihan
ruangan harus diperhatikan. Suhu dalam ruangan dijaga agar
tetap stabil, dan tetap rendah. Suhu dalam ruangan harus
tetap lebih rendah dibandingkan dengan suhu di luar ruangan.
Suhu rata-rata 24 °C dengan kelembaban tidak lebih dari 60
%. Bila lebih dari 60 % maka koleksi dapat dengan mudah
diserang oleh jamur.
Holotipe merupakan suatu spesimen atau unsur lain yang dipakai oleh
seorang pengarang atau ditunjuk olehnya sebagai dasar waktu pertama kali
mengusulkan nama jenis baru. Selama holotipe masih ada, penerapan nama
yang bersangkutan dengannya dapat dipastikan secara otomatis. Jika pengarang
yang mempertelakan suatu takson tidak menentukan holotipe,atau jika holotipe
hilang maka tipe pengganti atau tipe baru dapat ditunjuk untuk
menggantikannya. Tipe pengganti Lectotype ialah suatu spesimen atau unsur
lain dari spesimen-spesimen asli (isotope atau sintipe) yang dipilih untuk
menjadi tipe tatanama, jika holotipe tidak ditentukan atau holotipe hilang atau
hancur. Sintipe Syntypus adalah salah satu daripada beberapa spesimen atau
contoh yang disebutkan pengarang jika holotipe tidak ditentukan, atau salah
satu daripada beberapa spesimen yang bersama-sama ditunjuk sebagai tipe.
Tipe baru Neotypus yaitu spesimen yang dipilih untuk menjadi tipe tatanama,
kalau holotipe hilang atau rusak dan tidak mungkin untuk menunjuk tipe
pengganti karena tidak adanya isotope atau sintipe. Nama-nama baru yang
diusulkan untuk mengganti nama-nama lain, ataupun nama-nama kombinasi
baru yang berasal dari nama-nama sebelumnya, haruslah memakai tipe-tipe
tatanama dari namanama yang lebih tua atau yang digantinya ( Campbell,
2008).
III. MATERI DAN METODE

3.1 Insektarium

A. Materi
Alat yang digunakan untuk pembuatan Insektarium adalah jaring serangga,
killing bottle, pembasmi serangga, toples, styrofoam, kertas kalkir, jarum,
kardus, spuit injeksi dan kardus yang dilubangi.
Bahan yang digunakan adalah chloroform,alkohol 70%, formalin 10%, Insekta
dari Ordo Coleoptera dan Hymenoptera.

B. Metode
1. Serangga ditangkap dengan cara penangkapan sesuai dengan ukuran dan
habitat serangga. Serangga yang terbang ditangkap dengan menggunakan
jaring serangga.
2. Serangga dibius menggunakan killing bottle yang berisi kapas yang
mengandung chloroform.
3. Serangga yang sudah mati lemas kemudian dibentuk sesuai kehendak kita
diatas styrofoam dan thorax bagian kiri ditusuk menggunakan jarum.
4. Sayap serangga dibentangkan dan ditahan dengan kardus dan kertas kalkir.
5. Abdomen serangga disuntik dengan alkohol 70 % supaya tidak busuk, namun
apabila serangga kecil tidak perlu disuntik alkohol, dan setelah itu disemprot
dengan alkohol agar tidak berjamur.
6. Serangga dijemur dibawah sinar matahari atau di oven agar cepat kering.
7. Serangga yang sudah kering tersebut diletakkan pada kotak penyimpanan dan
diberi silica gel agar lebih awet.
8. Diberi label yang berisi data-data dari spesimen tersebut dan nama
kolektornya.
3.2 Koleksi Rangka
A. Materi

Alat yang digunakan untuk pembuatan koleksi rangka adalah killing


bottle, scalpel, baki preparat, sikat, pinset, wadah awetan, wadah pembiusan,
kompor gas, dan oven.
Bahan yang digunakan adalah chloroform, alkohol 70%, lem, sabun cair,
Natruim hipoklorit (NaOCl), dan spesimen yang akan digunakan, yaitu kodok
(Bufo sp.), katak (Duttaphrynus melanoticus), katak sawah (Fejervarya
cancrivora), dan burung puyuh.

B. Metode
1. Hewan dibius memiliki cara yang berbeda sesuai ukuran tubuhnya. Hewan
kecil dibius menggunakan killing bottle dan hewan bertubuh besar dibius
secara langsung.
2. Hewan dibedah menggunakan scalpel dengan torehan dari perut ke dada.
3. Hewan dikuliti sampai semua daging dan tulangnya terlepas.
4. Didokumentasikan sebelum direbus bertujuan untuk melihat bentuk aslinya
ketika akan disusun.
5. Spesimen direbus untuk melunakan sisa-sisa daging agar mudah terlepas dan
menguatkan tulang rawan.
6. Direndam dengan sabun cair + alkohol 70% untuk mengangkat lemak.
Konsentrasi dan waktu perandamannya menyesuaikan ukuran hewannya.
7. Bleching atau pemutihan tulang dilakuakan dengan merendam tulang
menggunakan Natruim hipoklorit (NaOCl) dengan waktu dan konsentrasi
menyesuaikan ketebalan tulang. Pemutihan diulang beberapa kali sampai
benar-benar putih dan dilakukan penyikatan supaya bersih.
8. Pengeringan bisa dengan dikering anginkan dan dioven, tetapi lebih cepat
dengan menggunakan oven.
9. Rangka yang sudah kering kemudian disusun lagi menggunakan lem
menyerupai bentuk yang sesungguhnya.
10. Rangka yang sudah disusun kemudian didisplay di tempat yang tertutup dan
transparan dan diberi silica gel.
11. Diberi label yang berisi data-data dari spesimen tersebut dan nama
kolektornya.
3.3 Koleksi Basah
A. Alat

Alat yang digunakan untuk pembuatan koleksi basah adalah tissue, spuit
injeksi, bak preparat, dan botol display.
Bahan yang digunakan adalah alkohol 70%, formalin 10%, spesimen yang
akan digunakan yaitu, cicak (Hemidactylus spp.), Morella viridis, Metapheneus
sp, buaya, Heteropoda sp., dan Gekko gecko.

B. Metode
1. Dicari spesimen hewan yang akan dibuat sebagai awetan basah.
2. Spesimen dimatikan sesuai dengan jenisnya. Contoh hewan laut dimatikan
secara bertahap yaitu dengan menambahkan air tawar sedikit demi sedikit.
3. Diidentifikasi karakter morfologinya langsung di tempat.
4. Dilakukan transportasi atau pemindahan spesien dari lapangan menuju
laboratorium.
5. Diproses dan preservatif dengan membasahi tissue dengan formalin 10%,
spesimen diberi suntikan formalin pada bagian yang mudah busuk, spesimen
tersebut ditutupi dengan tissue yang sudah dibasahi formalin dan ditunggu 24
jam. Spesimen dimasukkan ke dalam botol display dengan posisi kepala
dibawah dan kemudian diberi alkohol 70 %.
6. Perawatan spesimen dilakukan dengan mengganti alkohol apabila sudah
keruh.
7. Diberi label yang berisi data-data dari spesimen tersebut dan nama
kolektornya.
1.
3.4 Taksidermi
A. Alat
Alat-alat yang digunakan pada pembuatan taksidermi adalah scalpel, jarum
jahit, freezer, dan spuit injeksi.
Bahan-bahan yang digunakan pada pembuatan taksidermi adalah
chloroform, borax, alkohol, kapas, benang, kawat, tepung maizena, mata palsu
dan koleksi spesimen, yaitu Tyto alba, kelinci, dan Callosciurus notatus.

B. Metode
1. Spesimen dibius (narkose) sampai mati lemas.
2. Spesimen dibedah menggunakan scalpel dari atas anal sampai dekat leher,
apabila hewan besar dibedah sampai kakinya.
3. Spesimen dikuliti dan ditaburi dengan tepung maizena untuk menyerap
cairan ditubuh termasuk darah.
4. Otaknya diambil dengan scalpel.
5. Kulit bagian dalam digosok dengan boraks untuk mengangkat lemak dan
kotoran lain.
6. Dikering anginkan sampai kering lemas ± 1 minggu dan sebaiknya jangan
dibawah sinar matahari langsung.
7. Tulang dikonstruksi dan diganti dengan kawat yang dililitkan di bagian
tengkorak dan ekstrimitas, serta diberi kapas untuk mengganti daging.
8. Dijahit kembali bagian yang telah dibedah menggunakan benang nilon
kemudian dikeringkan atau difreezer.
9. Disimpan didalam lemari kaca dan diberi silica gel.
10. Diberi label yang berisi data-data dari spesimen tersebut dan nama
kolektornya.
DAFTAR REFERENSI

Afifah, N., Sudarmin, & Widianti, T. 2014. Efektivitas Penggunaan Herbarium Dan
Insektarium Pada Tema Klasifikasi Makhluk Hidup Sebagai Suplemen Media
Pembelajaran IPA Terpadu Kelas VII Mts. Unnes Science Education Journal,
3(2): 494-501.
Alters, Sandra. 1999. Biology. USA: Jones and Braflet Publisher.

Demirci, B., Gultiken M.E., Karayigit, M.O. and Atalar, K. 2012. Is Frozen
Taxidermy an Alternative Method for Demonstration of Dermatopaties.
Eurasian Journal of Veterinary Sciences, 28(3): 172-176.
Richfield, J. 2008. Practical of Spesimen Collection. London : Oxford University
Press.
Sudarsono. 2006. Pengertian Konservasi dan Preservasi. Universitas Sumatera
Utara, Medan. Suyitno, 2004. Yogyakarta: UNYpress.
Suhardjono, Y.R. 1999. Buku Pegangan Pengelolaan Koleksi Spesimen Zoologi.
Bogor: LIPI Press.
Taylor, B. and M. O’Shea. 2004. The great big books of snakes and reptiles. London:
Hermes House Publications.
Yayuk, S., Hartini, U. dan Sartiami, E. 2010. Koleksi, Preservasi, Identifikasi, Kurasi
dan Manajemen Data. Bandung: Angkasa Duta.
Zhu, W., Bai, C., Wang, S., Soto-Azat, C., Li, X., Liu, X., & Li, Y. 2014.
Retrospective survey of museum spesimens reveals historically widespread
presence of Batrachochytrium dendrobatidis in China. EcoHealth, 11(2): 241-
250.