Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

“Perkembangan Kognitif dan Moral Anak Pada Masa Kanak- Kanak Awal”
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan yang diampu
oleh Dr. Nonoh Siti Aminah, M. Pd

Disusun oleh:
Bayu Pradana (K2315014)
Bretani Raviah (K2315015)
Fatimah Azzahroh (K2315029)
Rosa Dewi Marta (K2315056)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum
kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa
(sinthesis), evaluasi (evaluation). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan
mental (otak). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk
mengembangkan kemampuan rasional (akal). Teori kognitif lebih menekankan
bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang
dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang
lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara
kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya. Dalam kehidupan
sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya.
Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru
harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan
mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya. Seiring dengan
masuknya anak ke sekolah dasar, maka kemampuan kognitifnya turut mengalami
perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, dunia dan minat anak semakin
luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan
objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Pada sekolah dasar, pemikiran
seorang anak sudah berkembang ke arah konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya
menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar dalam stadium belajar..
2. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana perkembangan kognitif anak pada masa kanak - kanak awal disebut
perkembangan praoperasional oleh piaget?
2. Apa saja nilai – nilai moral yang berkembang pada masa kanak – kanak awal?
3. TUJUAN MAKALAH
1. Untuk mengetahui perkembangan kognitif anak pada masa kanak - kanak awal
sehingga disebut perkembangan praoperasional oleh piaget.
2. Untuk mengetahui nilai – nilai moral yang berkembang pada masa kanak – kanak
awal.
BAB I
PEMBAHASAN

A. PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK PADA MASA KANAK – KANAK AWAL


DISEBUT PERKEMBANGAN PRAOPRASIONAL OLEH PIAGET
Jean Piaget menggambarkan masa kanak-kanak awal sebagai tahap praoperasional
(preoperational stage) yaitu, tahap utama kedua dalam perkembangan kognitif Piaget
dimana seorang anak menjadi lebih canggih dalam menggunakan pemikiran simbolis
tetapi masih belum dapat menggunakan logika. Tahap praoperasional berlangsung pada
usia sekitar 2-7 tahun, ditandai oleh ekspansi besar dalam pemikiran-pemikiran simbolis,
atau kemampuan representasi yang pertama kali muncul pada akhir tahap sensorimotorik
(tahap pertama dalam perkembangan kognitif). Pada tahapan ini, Piaget membaginya lagi
menjadi dua bagian, yaitu :
a. Umur 2 – 4 tahun
Pada usia ini dicirikan oleh perkembangan pemikiran simbolis yang ditandai
dengan berkembangnya representasional atau symbolic function, yaitu kemampuan
menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan symbol
– symbol (bahasa, gambar, tanda/isyarat, benda, gesture, atau peristiwa) untuk
melambangkan suatu kegiatan, benda yang nyata, atau peristiwa.
b. Umur 4 – 7 tahun
Pada periode ini dicirikan oleh perkembangan intuitif. Pemikiran intuitif yaitu
persepsi langsung akan dunia luar tanpa dinalar terlebih dahulu. Begitu seorang anak
berhadapan dengan suatu hal, maka akan mendapatkan gagasan atau gambaran yang
akan langsung digunakan
I. Kemajuan pemikiran Praoperasional menurut piaget.
Kemajuan pemikiran simbolis disertai pemahaman yang tumbuh mengenai ruang, sebab
akibat, identitas, kategorisasi, dan lainya.
1) Fungsi simbolis
Fungsi simbolis (Symbolic function): kemampuan anak menggunakan
representasi mental (kata-kata, angka, atau gambar). Tanpa simbul-simbul, individu tidak
dapat berkomuniasi secara verbal, membuat perubahan, membaca peta, atau mengenali
foto-foto yang disayangi dari kejauhan. Simbol-simbol bisa membantu seorang anak
untuk mengingat dan berpikir tentang sesuatu yang tidak hadir secara fisik.Penggunaan
simbol bagi anak pada tahap ini tampak dalam lima gejala berikut:
a. Imitasi tidak langsung
Anak mulai dapat menggambarkan sesuatu hal yang dialami atau dilihat, yang
sekarang bendanya sudah tidak ada lagi. Jadi pemikiran anak sudah tidak dibatasi waktu
sekarang dan tidak pula dibatasi oleh tindakan-tindakan indrawi sekarang. Contoh: anak
dapat bermain kue-kuean sendiri atau bermain pasar-pasaran. Ini adalah hasil imitasi.
b. Permainan Simbolis
Sifat permainan simbolis ini juga imitatif, yaitu anak mencoba meniru kejadian
yang pernah dialami. Contoh: anak perempuan yang bermain dengan bonekanya, seakan-
akan bonekanya adalah adiknya.
c. Menggambar
Pada tahap ini merupakan jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran
mental. Unsur pada permainan simbolis terletak pada segi “kesenangan” pada diri anak
yang sedang menggambar. Sedangkan unsur gambaran mentalnya terletak pada “usaha
anak untuk memulai meniru sesuatu yang riel”. Contoh: anak mulai menggambar sesuatu
dengan pensil atau alat tulis lainnya.
d. Gambaran Mental
Merupakan penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengalaman yang
lampau. Gambaran mental anak pada tahap ini kebanyakan statis. Anak masih
mempunyai kesalahan yang sistematis dalam mengambarkan kembali gerakan atau
transformasi yang ia amati.Contoh yang digunakan Piaget adalah deretan lima kelereng
putih dan hitam.
e. Bahasa Ucapan
Anak menggunakan suara atau bahasa sebagai representasi benda atau kejadian.
Melalui bahasa anak dapat berkomunikasi dengan orang lain tentang peristiwa kepada
orang lain.
2) Memahami Identitas
Dalam memahami identitas, biasanya anak akan mengenal atau memahami
identitas seseorang yang dekat dengannya, misalnya orang tua, guru, dll. Anak-anak
mulai memahami bahwa perubahan penampilan atau perubahan di permukaan tidak
mengubah seseorang tersebut. Misalnya gurunya yang memakai baju olahraga, anak akan
mengenal bahwa orang tersebut adalah gurunya, hanya saja menggunakan pakaian yang
berbeda dari biasanya. kemampuan anak menyadari bahwa perubahan artifisial tidak
akan mengubah sifat suatu hal.Contoh : Antonio tahu bahwa meskipun gurunya
berpakaian seorang bajak laut, dibalik kostum itu gurnya tetap menjadi seorang guru
bukan bajak laut.
3) Pemahaman sebab-akibat (transduction)
Dalam memahami hubungan sebab-akibat, anak-anak pada tahap praoperasional
hanya mengetahui bahwa setiap kejadian memiliki sebab. Namun penalaran sebab-
akibatnya belum bersifat logis dan objektif. kemampuan anak secara mental untuk
mengkaitkan fenomena partikular, terlepas dari atau ada atau tidaknya sebab-akibat yang
logis. contoh : ketika melihat ada bola yang menggelinding dari balik dinding, Rafi
mencari orang yang menendang bola tersebut dibalik dinding.
4) Pemahaman terhadap angka.
Pemahaman angka pada anak-anak preoperational berbeda-beda. Seberapa cepat
anak dapat memahami angka dan berhitung tergantung pada seberapa besar penggunaan
angka di kebudayaan masing-masing. Kemampuan anak untuk dapat menghitung dan
menangani kuantitas. Contoh : Lisa membagi beberapa permen dengan temannya,
menghitung untuk memastikan bahwa masing-masing temannya mendapatkan jumlah
yang sama.
5) Kemampuan mengklasifikasikan.
Pengkategorian atau klasifikasi pada anak-anak di tahap praoperational biasanya
berdasarkan persamaan dan perbedaan diantara objek-objek yang ada. Anak-anak yang
berumur 4 tahun biasanya dapat mengklasifikasikannya ke dalam dua kriteria, seperti
yang samawarnanya dan bentuk atau ukurannya. Sedangkan dalam pengkategorian,
anak-anak menggunakannya dalam aspek kehidupannya yang berkaitan dengan implikasi
psikososial, seperti membedakan orang yang baik , jahat, dll. Kemampuan anak untuk
mengorganisasikan benda-benda, orang, dan kejadian ke dalam kategori yang
bermakna.Contoh : Rosa memilah-milah biji cemara yang ia kumpulkan ketika berjalan-
jalan sesuai dengan ukurannya yang besar atau kecil.
6 )Empati.
Kemampuan anak utuk mulai lebih bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh
orang lain.Contoh : Emi berusaha menghibur temannya ketika ia melihat temannya itu
sedang sedih.
7) Teori tentang pikiran.
Kemampuan anak untuk menyadari aktivitas mental dan fungsi dari
pikiran.Contoh : Bianca ingin menyimpan kue untuk dirinya sendiri sehingga ia
menyembunyikan kuenya dari kakanya di kotak pasta. Ia tahu bahwa kuenya akan aman
karena kakanya tidak akan mencari kue di tempat di mana ia tidak mengharapkan akan
menemukan kue.
II. Aspek-aspek Ketidakmatangan Pemikiran Praoperasional
Salah satu karekteristikdari pemikiran praoperasional adalah Sentrasi, kecendrungan
fokus pada salah satu aspek dari sebuah situasi dan melalaikan yang lain. Menurut
Piaget, anak-anak prasekolah menjadi tidak logis karena tidak dapat berpikir tentang
beberapa aspek dari suatu situasi pada saat yang sama. Sentrasi dapat membatasi anak-
anak uantuk berpikir tentang hubungan sosial dan fisik.
1) Centration
Anak hanya berfokus pada satu aspek dari situasi dan mengabaikan aspek-aspek
lainnya. Ketidakmampuan untuk decenter (berfikir mengenai berbagai aspek dari sebuah
situasi pada saat yang bersamaan). Contoh : Timothy menggoda adiknya dengan
menagtakan bahwa ia memiliki jus yang lebih banyak karena jusnya dituang kedalam
gelas yang kurus dan tinggi sementara jus adiknya dituang kedalam gelas yang pendek
dan lebar.
2) Irreversabilitas
Kegagalan anak dalam memahami bahwa sebuah operasi dapat berlangsung dua
arah atau lebih.Contoh : Timothy tidak menyadari bahwa jus dalam setiap gelas bisa
dituang kembali dalam kotak asalnya, menyanggah klaimnya bahwa ia mendapatkan
lebih banyak dari adiknya.
3) Fokus pada keadaan daripada transformasi
Anak gagal dalam memahami signifikasi transformasi diantara beberapa
keadaanContoh : Dalam tugas konservasi, Timothy tida memahami bahwa mengubah
bentuk zat cair (menuangkan dari satu wadah ke wadah lain) tidak mengurangi
jumlahnya.
4) Penalaran transduktif.
Anak tidak menggunakan penalaran deduktif ataupun induktif ; tetapi mereka
melompat dari satu pasrtikular lain melihat sebuah kausal meskipun pada kenyataannya
tidak ada.Contoh : Sarah bersikap kasar kepada saudaranya. Kemudian saudaranya jatuh
sakit. Sarah menyimpulkan bahwa ia menyebabkan saudaranya jatuh sakit.
5) Egosentris.
Salah satu wujud dari centration dan menjadi ciri utama pada masa kanak-kanak
awal (praoperasional) adalah egosentrisme. Banyak yang salah mengartikan kata
egosentrisme sama dengan sifat egois. Namun pengertian tersebut salah. Egosentrisme
yang dimaksud disini adalah sifat dimana anak praoperational hanya berpusat pada sudut
pandangnya atau prespektifnya saja dan tidak mampu mempertimbangkan atau
memikirkan dari sudut pandang orang lain.Anak mengasumsikan bahwa semua orang
lain befikir, mempersepsi, dan merasa hal yang sama dengan mereka.Contoh : Kara tiak
menyadari bahwa ia perlu membalik buku yang dipegangnya sehingga ayahnya melihat
gambar yang ia tanyakan. Ia bahkan memegang buku tersebut tepat didepannya,
sehingga hanya ia yang bisa melihat gambaranya.
6) Animisme.
Keterbatasan lain dari pemikiran praopresional, adalah keyakinan bahwa benda-
benda mati memiliki kualitas yang seolah-olah hidup dan mampu bereaksi.Anak
mengatribusikan kehidupan pada benda-benda mati. Contoh : Amanda mengatakan
bahwa pagi ingin muncul tetapi malam berkata “aku tidak akan pergi”.

7) Ketidakmampuan membedakan tampilan luar dengan realitas.


Sentrasi, yaitu kecenderungan yang hanya berfokus pada satu keadaan, hanya
pada satu dimensi dari objek atau situasi dan mengabaikan yang lain. Pada tahap ini
anak-anak juga tidak dapat berfikir beberapa hal dalam satu waktu, yaitu dikenal dengan
istilah decenter. Decenter inilah yang menyebabkan anak-anak pada masa kanak-kanak
awal sering menyimpulkan hal-hal yang bersifat tidak logis.Anak bingung mengenai apa
yang nyata melalui tampilan luar.Contoh : Ami bingung ketika melihat gabus yang
dibentuk mirip batu. Ia menyatakan bahwa itu keliahtan seperti batu, dan itu memang
benar-benar batu.
III. Proses dasar dan kapasitas
Teori pengolahan informasi berpikir bahwa informasi sebagai system pengarsipan
yang memiliki tiga langkah, atau proses: pengodean, penyimpanan, dan pemanggilan
kembali. Pengodean seperti meletakkan informasi kedalam folder untuk di masukkan
dalam memori; melekat dalam bentuk kode, atau label, mengenai sebuah informasi
sehingga memudahkan untuk ditemukan jika diperlukan. Peristiwa-peristiwa telah
dikodekan bersama informasi tentang konteks-konteks yang mereka jumpai.
Penyimpanan adalah meletakkan folder dalam lemari arsip. Pemanggilan kembali terjadi
ketika informasi diperlukan; anak kemudian mencari berkas dan membawanya ke luar.
Kesulitan dalam proes-proes ini bisa mengganggu efisiensi.
Cara otak menyimpan informasi sudah dipercaya secara universal, meskipun
efisiensi dari sistemnya beragam (siegler, 1998). Model pengolahan informasi
melukiskan otak yang berisi tiga “gudang penyimpanan”: memori sensori, memori kerja,
dan memori jangka panjang.
Memori sensoris adalah tangki penahanan sementara berbagai informasi yang
akan datang. Memori sensoris menunjukkan sedikit perubahan sejak masa infant.
Bagaimanapun, tanpa proses (pengodean),memori sensoris bisa lenyap dengan cepat.
Informasi yang dikode atau dipanggil kembali disimpan dalam memori kerja
kadang-kadang disebut juga memori jangka pendek- sebuah tempat penyimpanan
informasi sementara untuk individu yang aktif bekerja; mencoba memahami, mengingat
dan berpikir tentang sesuatu. Studi gambaran otak menemukan bahwa memori kerja
berada pada bagian koreks prafontal, bagian besar dari lobus frontal yang berada persis
dibelakang dahi (C. A. Nelson dkk., 2000).
Efisiensi memori kerja dibatasi oleh kapasitasnya. Peneliti dapat menaksir
kapasitas memori kerja dengan dengan meminta anak-anak untuk memanggil kembali
digit uruta angka dari belakang (contohnya 2-8-5-7-5-1 jika mereka mendengar 1-5-7-3-
8-2). Kapasita memori kerja- jumlah angka yang dapat diingat anak kembali- meningkat
secara cepat. Pada usia 4 tahun, anak-anak biasanya hanya mengingat dua digit angka;
pada usia 12 mereka umumnya mengingat 12 angka (Zelazo, Muller, Frye, &
Marcovitch, 2003).
Pertumbuhan memori kerja mengizinkan berkembangnya fungsi eksekutif,
control kesadaran dari pikiran, emosi, dan tindakan untuk melakukan tujuan atau
memecahkan permasalahan. Fungsi eksekutif memungkinkan anak-anak bermain dan
mencapai tujuan yang diarahkan oleh aktivitas mental. Pikiran ini muncul disekitar
berakhirnya masa infant dan terus berkembang sesuai dengan usianya. Perubahan fungsi-
fungsi eksekutif terjadi antara usia 2 dan 5 tahun membantu anak mengembangkan dan
menggunakan aturan-aturan yang kompleks untuk memecahkan masalah (Zelaso dkk,
2003; Zelaso & Muller, 2002).
Berdasarkan perluasan model yang digunakan, eksekutif sentral mengontrol
proses operasi dalam memori kerja (Baddeley, 1981, 1986, 1992, 1996, 1998). Eksekutif
sentral memesan informasi yang berkode untuk mentransfernya ke memori jangka
panjang, sebuah penyimpanan dengan kapasitas tidak terbatas secara virtual yang
menahan semua informasi dalam jangka waktu lama. Eksekutif sentral juga memanggil
kembali informasi dari memori jangka panjang untuk proses selanjutnya. Eksekutif
sentral bisa memperluas sementara kapasitas dari memori kerja dengan memindahkan
informasi ke dua bagian terpisah ketika eksekutif sentral sibuk dengan tugas-tugas lain.
Salah satu system tambahan adalah menahan informasi verbal (sebagaimana dengan
tugas angka), dan yang lain, gambaran visual/spasial.
Karena penggambaran proses atensi begitu menonjol dalam mengembangkan
fungsi-fungsi eksekutif, eksekutif sentral dapat dikonseptualisasikan sebagai sebuah
system atensi pusat. Sebagaimana anak kecil mengembangkan kemampuan mereka untuk
memberikan atensi yang lebih selektif terhadap stimulus, untuk mengabaikan informasi
yang tidak relevan, dan untuk mengalihkan atensi sebagai hal yang diperlukan untuk
mengalami kemajuan dramatis. Sejumlah kemampuan didasari oleh munculnya fungsi
eksekutif. Contohnya, ada hubungan antara memori kerja dan fungsi eksekutif, untuk itu
penyimpanan materi dalam memori kerja dikonrol oleh jumlah atensi yang diberikan
untuk hal tersebut. Jika perhatian mengembara kemana-mana, maka materi akan hilang.
Sebagai tambahan, kemampuan untuk menghalangi respons- seperti misalnya menunggu
giliranmu untuk melakukan aktivitas yang menggembirakan- juga hal pentig untuk
fungsi eksekutif. Mampu untuk mencapai tujuan yang diinginkan seringkali
membutuhkan kesadaran dan control dorongan, dan anak memiliki control yang baik
sejalan dengan usia mereka. Terakhir menjadi mampu untuk mengalihkan atensi dengan
sengaja diperlukan untuk tugas krusial –dan yang paling rumit- kemampuan mendasari
fungsi eksekutif (Garon, Bryson, & Smith, 2008).
IV. Merekognisi dan Mengingat
Merekognisi dan mengingat adalah jenis-jenis dari proses pemanggilan kembali.
Merekognisi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi sesuatu yang telah dihadapi
sebelumnya (sebagai contoh mengambil sarung tangan yang hilang dari kotak temuan
dan kehilangan). Mengingat adalah kemampuan menghasilkan ulang pengetahuan dari
memori. Anak prasekolah, seperti halnya kelompok usia lain, melakukan pengenalan
yang lebih baik dari pada pemanggilan kembali, tapi kedua kemampuan tersebut
meningkat sejalan dengan usia. Semakin familier anak dengan sesuatu akan lebih mudah
bagi mereka melakukan pemanggilan ulang.
Anak kecil seringkali gagal dalam menggunakan strategi untuk mengingat –
meskipun strategi sudah mereka ketahui- kecuali diingatkan. Kecenderungan ini tidak
menggenaralisasi strategi yang efisien dapat merefleksikan kurangnya kesadaran tentang
bagaimana sebuah strategi akan berguna (shopian, Wood, & Vong, 1995). Anak yang
lebih tua cenderung menjadi lebih efisien dalam menggunakan strategi memori yang
lebih spontan).
Selengkapnya :
B. PERKEMBANGAN MORAL PADA MASA KANAK – KANAK AWAL
Pola Perkembangan Moral
Perkembangan moral masa anak awal masih di taraf rendah. Hal ini disebabkan
karena perkembangan intelektual anak-anak belum mencapai titik dimana ia dapat
mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak tentang benar-salah ia juga tidak
mempunyai dorongan untuk mengikuti aturan karena tidak mengerti manfaat sebagai
anggota kelompok sosial. Awal masa kanak-kanak merupakan masa dimana menurut
Piaget disebut sebagai moralitas dengan paksaan. Pada tahap ini anak-anak mengikuti
aturan moral tanpa berpikir dan menilai. Ia juga menilai benar dan salah berdasarkan
akibat bukan berdasarkan motivasi, perbuatan yang salah adalah perbuatan yang
mengakibatkan hukuman.
Menurut Peaget (dalam Harlock, 1998) tahapan moral terbagi menjadi dua yaitu :
1. Tahap realisme moral atau moralitas oleh pembatasan
Dalam tahap ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah atas dasar
konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Moral anak
otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai, dan cenderung
menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting
menurut Piaget bahwa anak menilai suatu perbuatan benar atau salah berdasarkan
hukuman bukan pada nilai moralnya.
2. Tahap moralitas otonomi
Pada tahap ini anak sudah mampu mepertimbangkan berbagai cara untuk
memecahkan masalah. Anak tidak lagi terpaku pada satu sudut pandang, tetapi
mampu memikirkan dari berbagai sudut pandang. Tahap moral ini dicapai ketika
anak telah memasuki tahap operasi formal.
Kohlberg merinci dan memperluas tahap perkembangan Piaget dengan
memasukan dua tahap dari tingkat perkembangan pertama yang disebutnya sebagai
moralitas konvensional. Struktur pertimbangan moral (moral judgement) berbeda
dengan isi pertimbangan moral (content of moral judgement). Pilihan untuk minum atau
tidak minum merupakan isi pertimbangan moral. Adapun dasar pemikiran mengenai
pilihan itu merupakan struktur pertimbangan moral.
Kohlberg (Hurlock, 1993 : 163) memperluas teori Piaget dan menyebut tingkat
kedua dari perkembangan moral masa ini sebagai tingkat moralitas dari aturan – aturan
dan penyesuaian konvensional. Pada tingkat ini, Kohlberg membagi menjadi dua
tahapan, diantaranya :
- Tahap pertama  moralitas anak baik, anak mengikuti aturan untuk
mengambil hati orang lain dan untuk mempertahankan hubungan – hubungan
yang baik.
- Tahap kedua  bila kelompok social menerima peraturan – peraturan yang
sesuai bagi semua anggota kelompok, ia harus menyesuaikan dri dengan
peraturan untuk menghindari celaan dan penolakan dari kelompok social.
Menurut Kohlberg (Sumantri, 1994) struktur pertimbangan moral itu adalah
sebagai berikut:
1. Pra Konvensional (Pre Conventional Level) meliputi:
a. Orientasi kepatuhan karena takut hukuman. Kepatuhan terhadap norma karena
takut hukuman fisik.
b. Orientasi kepatuhan karena alat. Mematuhi norma karena mengharapkan sesuatu.
2. Tingkat Konvensional (Conventional Level) meliputi:
a. Orientasi kepatuhan karena ingin diterima orang lain. Mentaati norma karena
ingin menyenangkan orang lain.
b. Orientasi kepatuhan karena memelihara tertib sosial. Mematuhi hukum ditujukan
untuk memelihara tertib sosial.
3. Tingkat Pasca Konvensional (Post Convensional Level)
a. Orientasi kepatuhan kepada kesepakatan sosial yang telah baku. Tindakan yang
baik mencerminkan hak-hak individu yang sesuai dengan standar yang telah
teruji. Jadi tindakan yang baik itu adalah tindakan yang dapat menerima
perubahan hukum apabila hukum itu sudah tidak sesuai lagi.
b. Orientasi pada prinsip-prinsip etika universal (Universal Ethical Principle
Orientation). Tindakan yang baik itu ialah tindakan yang tidak lagi didasari oleh
tertib sosial tertentu, melainkan didasari oleh prinsip-prinsip universal tentang
keadilan, resiprositas, hak-hak asasi manusia.
c. Orientasi pada rasa cinta sebagai suatu refleksi. Tindakan yang baik itu adalah
tindakan yang berdasar pada keperayaan terhadap Tuhan (supreme policy),
dengan keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Tuhan adalah Maha
Pemberi Petunjuk. (God is confident dan God is principle behind morality).
Hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan moral
Disiplin
Masalah penting dalam perkembangan moral adalah penerapan disiplin karena
melalui disiplin, anak dapat mengenali, mempelajari dan mengambil nilai-nilai
kebenaran dan kebaikan di masyarakat. Disiplin berasal dari kata “disciple” yang
artinya seseorang yang belajar secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Satu
pandangan keliru yang cukup meluas di kalangan masyarakat adalah menganggap
disiplin sebagai hukuman. Jadi disiplin akan diterapkan ketika ada pelanggaran saja.
Sesungguhnya tujuan dari penerapan disiplin adalah agar terbentuk perilaku yang sesuai
dengan peran dalam kelompok sosial. Untuk itu perlu 4 unsur pokok agar tujuan
tersebut dapat tercapai. Keempat unsur tersebut adalah peraturan, hukuman,
penghargaan dan konsistensi (Hurlock, 1998):
1. Peraturan
Peraturan merupakan pola tingkahlaku yang diterapakan dan sebagai pedoman
perilaku dalam suatu situasi. Peraturan ini bisa dibuat oleh orang tua, guru atau
teman sebaya. Fungsi peraturan adalah sebagai nilai pendidikan karena peraturan
memperkenalkan anak pada perilaku yang disetujui oleh kelompok. Fungsi
berikutnya adalah membantu mengekang tingkahlaku yang tidak dikehendaki.
Dengan demikian, anak perlu mengerti, mengingat, dan menerima peraturan, agar
kedua fungsi tersebut dapat terpenuhi.
2. Hukuman
Hukuman berasal dari bahasa Latin “punierí” yang artinya menjatuhkan hukuman
pada seseorang Karena suatu kesalahan, perlawanan, atau pelanggaran sebagai
ganjaran atau pembalasan.
a. Sebagai penghalang
Hukuman dapat menghalangi pengulangan tingkahlaku yang tidak dikehendaki.
Pada masa anak awal, anak belum mampu membedakan benar dan salah.
Dengan hukuman, anak akan mengetahui bahwa suatu tingkahlaku dinilia salah
menurut lingkungan, sehingga anak tidak mau melakukannya lagi.
b. Untuk mendidik
Agak sukar bagi anak prasekolah untuk sepenuhnya memahami peraturan.
Mereka akan lebih memahami apabila ada konsekuensi dari peraturan tersebut.
Apabila anak taat peraturan, mereka tidak akan dihukum dan ketika ada
penlanggaran, anak akan menerima hukuman. Dari pengamatan dan pengalaman
tersebut, anak akan memahami tingkahlaku yang diharapkan oleh orang dewasa.
Namun demikian, tetap perlu dilakukan penjelasan verbal agar fungsi
pendidikan dari hukuman dan penghargaan semakin menguasai.
c. Untuk memberi motivasi
Pengetahuan tentang akibat tindakan yang salah dapat memberi motivasi agar
anak menghindar dari perilaku yang tidak dikehendaki.
3. Penghargaan
Penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk hasil yang baik. Bentuk
penghargaan dapat berupa materi atau pun non-materi seperti pujian, senyuman,
acungan jempol dan tepuk tangan. Penghargaan diberikan setelah anak melakukan
tindakan yang terpuji, hal ini berbeda suapan. Suapan adalah janji akan imbalan
yang diberikan jika anak melakukan suatu tindakan. Jadi suapan diberikan sebelum
anak bertindak.
Menurut Harlock, fungsi penghargaan ada 3, yaitu :
a. Untuk mendidik
Penghargaan diasosiasikan dengan perilaku yang baik, sehingga anak mengenali
apa yang dikehendaki dan tidak dikehendaki oleh lingkungan.
b. Sebagai motivasi
Penghargaan adalah suatu konsekuensi positif yang diterima anak sehingga anak
termotivasi untuk mengulang perilaku yang baik.
c. Sebagai penguat perilaku
Tanpa penghargaan, anak kurang menyadari apa harapan lingkungan terhadap
dirinya. Penjelasan verbal kurang cukup bila tidak disertai konsekuensi berupa
penghargaan dan hukuman.

4. Konsistensi
Yang dimaksud konsistensi adalah tingkat keseragaman dalam penerapan disiplin.
Konsistensi dari segi peraturan, hukuman dan ganjaran. Misalnya, bagaimana
prosedur penerapan hukuman, jenis pelanggaran yagn perlu dihukum, peraturan
berlaku sampai waktu yang disepakati bersama.
Cara menerapkan disiplin dapat dikategorikan ke dalam 3 gaya yaitu: otoriter,
permisif dan demokratis (Harlock, 1998; Ginsburg & Bronstein, 1993 dalam Paplia,
Ods & Feldman, 1998). Berikut uraiannya.
a. Otoriter
Orang tua menerapkan peraturan dengan ketat, tingkahlaku anak telah ditentukan
sesuai dengan standar. Anak tidak dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri,
melainkan telah diambil alih orang tua. Sikap otoriter ini dapat dalam bentuk yang
lemah lembut sampai ke kasar dengan menggunakan hukuman fisik. Mislanya, anak
tidak boleh main hujan. Meski anak merengek, orang tua tetap tidak membolehkan.
b. Permissif
Orang tua yang permissif cenderung membiarkan anak, tanpa memberi pengarahan
tentang yang boleh-tidak boleh, berbahaya-aman, dan baik-tidakb aik. Kondisi
seperti ini akan mengakibatkan anak harus meraba-raba tindakan apa yang tepat
sehingga anak bisa merasa cemas. Misalnya: ketika anak main hujan, orang tua
hanya melihat main hujan-hujanan, orang tua tidak berkomentar.
c. Demokratis
Orang tua yang demokratis akan melakukan dialog dengan anak, memberikan
alasan yang rasional tentang suatu peraturan. Orang tua juga memberikan
kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan berdasarkan masukan yang
diberikan oleh orang tua. Misalnya, orang tua menjelaskan akibat dari main hujan
baik yang positif maupun negatif, kemudian menyerahkan ke anak, mana yang akan
dilakukannya.
Dari ketiga gaya disiplin tersebut, orang tua yang demokratis adalah yang terbaik
sebab anak dapat mematuhi suatu peraturan tidak karena terpaksa melainkan karena
mereka memahami alasan dan kegunaannya bagi diri mereka sendiri.
 Upaya Pendidikan Terhadap Perkembangan Moral
Dalam rangka membimbing perkembangan moral anak prasekolah, sebaiknya
orang tua atau guru TK melakukan beberapa upaya antara lain:
a. Memberikan contoh atau teladan yang baik, dalam berperilaku atau bertutur kata.
b. Menanamkan kedisiplinan pada anak dalam berbagai aspek kehidupan seperti
memelihara kesehatan atau kebersihan dan tata karma atau budi pekerti luhur.
c. Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak, baik melalui
pemberian informasi atau melalui cerita seperti riwayat orang-orang yang baik(para
nabi atau pahlawan), dunia binatang yang mengisahkan tentang nilai kejujuran,
kedemawanan, kesetiakawanan atau kerajinan.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Jean Piaget menggambarkan masa kanak-kanak awal sebagai tahap
praoperasional (preoperational stage) yaitu, mengenai kemajuan pemikiran seorang
anak terhadap penggunaan pemikiran simbolis, empati, pemahaman terhadap angka,
pemahaman sebab akibat, tetapi masih belum dapat menggunakan logika, ketidak
matangan pemikiran anak, proses dasar dan kapasitas, dan merekognisi dalam
pengingatan.
Pada perkembangan moral anak dapat dilakukan dengan menanamkan sikap
disiplin pada anak. Sesungguhnya tujuan dari penerapan disiplin adalah agar
terbentuk perilaku yang sesuai dengan peran dalam kelompok sosial. Moralitas anak
akan terbentuk dengan baik jika ada pembimbingan yang baik pula. Penerapan sikap
disiplin pada anak dapat dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) unsur, yaitu:
peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi. Jika keempat unsur tersebut
diterapkan dengan benar maka akan terbangun sikap moral yang baik pada anak.

B. SARAN
Perkembangan sosial dan moral anak akan memberikan pengaruh terhadap
kelangsungan hidup anak. Untuk itu, perlu adanya pemahaman sikap anak, dimana
masing-masing anak tidaklah mempunyai sikap yang sama. Dengan upaya
pemahaman anak tersebut orang tua akan tahu bagaimana seharusnya memposisikan
anak dan memberikan perlakuan yang sesuai usianya.
Menilik pembahasan dalam makalah ini diharapkan orang tua dapat memahami
perkembangan anak sesuai tahapan usianya. Sehingga orang tua tidak salah dalam
mengembangkan sikap sosial dan moral anak.
DAFTAR PUSTAKA

Asri, Dahlia N., S.Psi.,M.Si dkk. 2009. Perkembangan Peserta Didik. Madiun: IKIP PGRI
Madiun.

Crow, L & A. Crow. 1989. Psychologi Pendidikan. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Djiwandono, Sri E. W. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo

https://www.academia.edu/30038438/PERKEMBANGAN_MASA_KANAK_KANAK_AW
AL

http://www.kompasiana.com/ajidah/perkembangan-kognitif-pada-masa-kanak-kanak-
awal_553df5876ea834532ef39b2e