Anda di halaman 1dari 5

Nama : Galang Alam

No Mahasiswa : 28784

PENGAUDITAN KAS DAN INSTRUMEN KEUANGAN

Kas merupakan satu-satunya akun yang tidak dimasukkan dalam setiap siklus kecuali
persediaan dan pergudangan. Kas merupakan hal yang penting bagi auditor terutama karena besarnya
potensi kecurangan, atau karena kemungkinan terjadinya kesalahan yang tidak disengaja.

Instrumen keuangan yang meliputi investasi dalam sekuritas utang dan ekuitas serta instrumen
derivatif, bervariasi secara signifikan pada masing-masing klien, mulai dari persentase aset yang kecil
untuk perusahaan manufaktur hingga persentase aset yang besar untuk institusi keuangan. Penilaian
instrumen keuangan dapat menjadi kompleks akibat adanya standar akuntansi dan mungkin
memerlukan jasa spesialis.

JENIS AKUN KAS DAN INSTRUMEN KEUANGAN (Mengidentifikasi jenis akun kas utama
dan instrument keuangan yang digunakan oleh entitas bisnis)

Terdapat beberapa jenis akun kas yang umumnya digunakan oleh sebagian perusahaan besar.
Auditor akan mengetahui lebih banyak jenis saldo kas setelah memahami bisnis klien. Berikut jenis
akun kas yang utama:
1. Akun Kas Umum: Merupakan bagian kas yang penting bagi sebagian besar organisasi karena
sebagain besar penerimaan dan pengeluaran kas mengalir melalui akun ini. Contoh : pengeluaran untuk
siklus akuisisi dan pembayaran biasanya dibayar dari akun ini, sementara penerimaan kas dalam siklus
penjualan dan penagihan disetorkan dalam akun ini.

2. Akun Impres: Perusahaan membuat akun penggajian impres yang terpisah untuk meningkatkan
pengendalian internal pengeluaran penggajian. Terdapat jenis akun impres lain yang sedikit berbeda
dari akun impres pada umumnya yaitu terdiri atas satu rekening bank untuk penerimaan dan
pengeluaran. Perusahaan bisa saja memiliki akun ini untuk setiap divisi berbeda. Seluruh penerimaan
disetorkan ke dalam akun impres dan totalnya dipindahkan ke akun umum secara periodik. Akun
pengeluaran ditetapkan berbasis impres, tetapi dengan cara yang berbeda dengan akun pengajian
impres.
3. Akun Bank Cabang: Berguna untuk membangun hubungan dengan perbankan di komunitas lokal
dan memungkinkan sentralisasi operasi pada tingkat cabang. Dengan kata lain untuk perusahaan yang
beroperasi di lokasi yang berbeda akan lebih mudah jika perusahaan memiliki saldo bank yang terpisah
di setiap lokasi.
Di beberapa perusahaan setoran dan pengeluaran untuk setiap cabang dilakukan di rekening bank
terpisah. Kelebihan kas akan ditransfer secara elektronik dan periodik ke rekening bank umum kantor
utama. Akun cabang dalam contoh ini hampir sama seperti akun umum namun pada tingkat cabang.

4. Dana Kas Kecil Impres: Ini bukan merupakan rekening bank, tetapi hampir sama dengan kas pada
bank. Akun ini digunakan untuk pengeluaran kas berjumlah kecil yang lebih mudah dibayarkan jika
menggunakan uang tunai dibandingkan dengan cek atau untuk memudahkan karyawan dalam
mencairkan cek gaji atau pribadi, selain itu juga digunakan untuk pengeluaran dalam jumlah kecil.
Beban yang umum meliputi perlengkapan minor kantor, perangko, dan sumbangan amal.
5. Ekuivalen Kas: Perusahaan seringkali menginvestasikan kelebihan kas yang diakumulasikan selama
bagian tertentu dari siklus operasi, yang akan diperlukan dalam waktu dekat dan bisa disebut Ekuivalen
kas yang bersifat jangka pendek dan sangat likuid. Ekuivalen kas bisa sangat material, dicantumkan
dalam laporan keuangan sebagai bagian dari akun kas jika merupakan investasi jangka pendek yang
siap dikonversikan menjadi sejumlah kas tertentu, dan tidak terdapat dirisiko signifikan atas perubahan
nilai dari perubahan tingkat bunga. Sekuritas yang dapat diperdagangkan dan investasi berbunga dengan
jangka waktu yang lebih panjang bukan merupakan ekuivalen kas.

6. Instrumen Keuangan: Mencakup investasi dalam sekuritas yang dapat diperdagangkan seperti
sekuritas utang dan ekuitas, instrumen derivatif, dan aktifitas lindung nilai (hedging). Insvestasi dalam
instrumen keuangan dapat diklasifikasikan sebagai sekuritas perdagangan, sekuritas yang tersedia untuk
dijual, atau sekuritas yang ditahan hingga jatuh tempo, sedangkan instrumen derivatif dapat
diklasifikasikan sebagai aset atau kewajiban, sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Perusahaan
dapat membeli sekuritas sebagai cara untuk menginvestasikan sementara kelebihan kas atau juga dapat
menginvestasikan dalam intrumen keuangan derivatif sebagai cara hedging. Contoh : maskapai
penerbangan akan berinvestasi dalam lindung nilai bahan bakar sebagai cara untuk mengoffset kenaikan
biaya bahan bakar operasi.

KAS DI BANK DAN SIKLUS TRANSAKSI


Dalam audit atas kas, auditor harus membedakan antara verifikasi rekonsiliasi saldo laporan
bank oleh klien dengan saldo buku besar, dan verifikasi bahwa pencatatan kas dalam buku besar
merefleksikan dengan benar seluruh transaksi kas yang terjadi sepanjang tahun. Verifikasi rekonsiliasi
klien ke akun saldo bank dan buku besar lebih mudah, tetapi bagian terpenting dalam total audit dalam
perusahaan adalah adanya verifikasi bahwa pencatatan transaksi kas dilakukan dengan benar.
Misalnya, setiap salah saji berikut ini menghasilkan kesalahan dalam pembayaran atau menyebabkan
kesalahan dalam penerimaan kas, tetapi tak satupun dapat ditemukan dalam audit atas rekonsiliasi bank
:

 Kesalahan dalam menagih konsumen


 Pencurian kas dengan menghambat pembayaran kas dari konsumen sebelumnya dicatat, dengan
akun dianggap sebagai piutang tak tertagih
 Duplikasi pembayaran faktur vendor
 Pembayaran tidak benar atas biaya pribadi pejabat perusahaan
 Pembayaran atas bahan baku yang tidak pernah diterima
 Pembayaran atas karyawan lebih besar daripada jam kerja aktualnya
 Pembayaran atas bunga pada pihak luar jumlahnya lebih besar dibandingkan tingkat bunga
sebenarnya

` Seluruh jenis salah saji biasanya ditemukan sebagai bagian dari pengujian atas rekonsiliasi bank.
Hal ini meliputi :

 Kesalahan dalam memasukkan cek yang tidak dicairkan didalam daftar cek beredar, meskipun telah
dicatat dalam jurnal pengeluaran kas
 Kas yang diterima dari klien masih dalam perjalanan pada tanggal neraca, tetapi sudah dicatat dalam
penerimaan kas pada tahun berjalan
 Setoran dicatat sebagai penerimaan kas mendekati akhir tahun, disetorkan pada bank dibulan yang
sama, dan dimasukan dalam rekonsiliasi bank sebagai setoran dalam perjalanan
 Pembayaran atas weswl bayar didebet langsung dari saldo bank oleh bank, tetapi tidak dimasukkan
dalam catatan klien.

PROSEDUR YANG BERORIENTASI KECURANGAN


Pertimbangan utama dalam audit saldo kas umum adalah kemungkinan terjadinya kecurangan.
Auditor harus memperluas prosedur audit kas akhir tahun untuk menentukan kemungkinan adanya
kecurangan yang material apabila pengendalian internal tidak memadai. Dalam merancang prosedur
untuk mengungkapkan kecurangan, auditor harus mempertimbangkan secara cermat defisiensi
pengendalian internal, jenis kecurangan yang mungkin terjadi akibat defisiensi itu, materialitas
kecurangan yang potensial dan prosedur audit yang paling efektif dalam mengungkapkan kecurangan.
Prosedur yang dapat mengungkapkan kecurangan dalam bidang penerimaan kas termasuk:
 Konfirmasi piutang
 Pengujian yang dilaksanakan untuk mendeteksi lapping
 Mereview ayat jurnal buku besar umum dalam akun kas untuk pos-pos tidak biasa
 Membandingkan pesanan pelanggan dengan penjualan dan penerimaan kas selanjutnya
 Memeriksa persetujuan dan dokumen pendukung piutang tak tertagih serta retur penjualan dan
pengurangan
Pengujian serupa dapat digunakan untuk menguji kemungkinan pengeluaran kas yang
mengandung kecurangan. Untuk mengungkapkan kecurangan yang berhubungan secara langsung
dengan saldo kas akhir tahun prosedurnya adalah memperluas pengujian rekonsiliasi bank, bukti kas
dan pengujian transfer antar bank.

a. Memperluas Pengujian Rekonsiliasi Bank


Jika auditor yakin bahwa rekonsiliasi bank akhir tahun disalahsajikan dengan sengaja, maka
tepat untuk melaksanakan pengujian lebih lanjut atas rekonsiliasi bank akhir tahun. Prosedur yang
diperluas ini memverifikasi apakah semua transaksi yang dicantumkan dalam jurnal selama transaksi
yang dicantumkan dalam jurnal selama beberapa bulan terakhir tahun berjalan telah dimasukkan dalam
atau dikeluarkan dari rekonsiliasi bank secara benar, dan memverifikasi apakah semua item dalam
rekonsiliasi bank telah dicantumkan secara benar. Misalnya terdapat ada kelemahan pengendalian
internal yang material dan akhir tahun klien adalah 31 Desember. Dengan menggunakan pendekatan
umum, auditor:
 Memulai dengan rekonsiliasi bank bulan November dan membandingkan semua item yang di
rekonsiliasi dengan cek yang dibatalkan dan dokumen lain dalam laporan bank bulan Desember.
 Membandingkan semua cek yang dibatalkan yang tersisa dan slip setoran dalam laporan bank bulan
Desember dengan jurnal pengeluaran kas dan penerimaan kas.
 Menelusuri semua item yang belum dikliring dalam rekonsiliasi bank bulan November serta jurnal
pengeluaran dan penerimaan kas bulan desember ke rekonsiliasi bank tanggal 31 Desember untuk
memastikan bahwa item-item tersebut telah dimasukkan.
 Memverifikasi bahwa semua item rekonsiliasi dalam rekonsiliasi bank tanggal 31 Desember
menyajikan item dari rekonsiliasi bank bulan November dan jurnal bulan Desember yang belum
dikliring oleh bank.
Selain keempat pengujian tersebut, auditor juga harus melaksanakan prosedur setelah akhir
tahun dengan menggunakan laporan pisah batas bank.
b. Bukti Kas
Auditor menggunakan bukti kas untuk menentukan apakah hal-hal berikut telah dilakukan:
 Semua penerimaan kas yang tercatat telah disetorkan
 Semua setoran di bank dicatat dalam catatan akuntansi
 Semua pengeluaran kas yang tercatat telah dibayarkan oleh bank
 Semua jumlah yang telah dibayar oleh bank dicatat

Bukti kas (proof of cash) meliputi empat tugas rekonsiliasi berikut:


 Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besr pada awal periode bukti kas
 Merekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan per bank dengan penerimaan yang dicatat dalam
jurnal penerimaan kas selama periode tertentu
 Merekonsiliasi pembayaran elektronik dan kliring cek yang dibatalkan oleh bank dengan yang
dicatat oleh jurnal pengeluaran kas selama periode tertentu
 Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar umum dapa akhir periode bukti kas
Penerimaan bukti kas adalah pengujian atas transaksi yang tercatat, sementara rekonsiliasi bank
adalah pengujian atas saldo kas pada suatu waktu tertentu. Bukti kas merupakan metode jitu untuk
membandingkan penerimaan dan pengeluaran kas yang tercatat dengan rekening bank dan dengan
rekonsiliasi bank. Akan tetapi, bukti pengeluaran kas tidak efektif untuk mengungkapkan cek yang
ditulis dalam jumlah yang tidak sesuai, cek palsu atau salah saji lainnya dimana jumlah dolar yang
muncul dalam catatan pengeluaran kas tidak benar. Demikian juga, bukti penerimaan kas tidak dapat
digunakan untuk digunakan untuk mengungkapkan pencurian kas atau pencatatan dan penyetoran
jumlah kas yang tidak tepat.

c. Pengujian Transfer Antarbank


Para penggelap uang biasanya menutupi pencurian kas dengan praktik yang dikenal sebagai
kiting, yaitu mentransfer uang dari satu bank ke bank lainnya dan mencatat transaksi tersebut dengan
tidak benar. Jika transfer antarbank tidak dicatat hingga setelah tanggal neraca, jumlah yang ditrasfer
dicatat sebagai aset dikedua bank. Untuk menguji kiting, serta kesalahan tidak sengaja dalam mencatat
transfer antarbank auditor dapat mendata semua transfer antarbank yang dilakukan beberapa hari
sebelum dan setelah tanggal neraca dan menelusuri masing-masing ke catatan akuntansi agar
pencatatannya benar. Terdapat beberapa hal yang sebaiknya diaudit dalam skedul transfer bank, yaitu:
 Ketepatan informasi di skedul transfer antarbank harus diverifikasi
 Transfer antarbank harus dicatat baik dalam laporan bank yang menerima maupun bank yang
mengeluarkan
 Tanggal pencatatan pengeluaran dan penerimaan dari setiap transfer harus berada dalam tahun
fiskal yang sama
 Pengeluaran dalam skedul transfer antarbank harus dimasukkan dalam atau dikeluarkan dari
rekonsiliasi bank akhir tahun dengan benar sebagai cek yang beredar
 Penerimaan dalam skedul transfer antarbank harus dimasukkan dalam atau dikeluarkan dari
rekonsiliasi bank akhir tahun dengan benar sebagai setoran dalam perjalanan
Walaupun pengujian audit untuk transfer antarbank biasanya berorientasi pada kecurangan,
pengujian tersebut sering kali dilakukan pada audit dimana terdapat sejumlah transfer bank, tanpa
memperhatikan pengendalian internal. Selain kemunkinan adanya kiting, penanganan transfer yang
salah juga dapat menghasilkan misklasifikasi antara kas dan utang usaha. Materialitas transfer dan
kemudahan melaksanakan pengujian membuat banyak auditor yakin bahwa prosedur tersebut harus
selalu dilaksanakan.