Anda di halaman 1dari 6

IDENTIFIKASI KARAKTER TAKSONOMI INVERTEBRATA

Oleh:
Nama : Syakilah
NIM : B1A017019
Rombongan :V
Kelompok :1
Asisten : Solikhul Amin

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN 1

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Taksonomi adalah mekanisme yang digunakan untuk mengelompokan sesuatu


menurut hubunagnnya dengan yang lain. Di bidang ilmu pengetahuan misalnya,
taksonomi adalah sarana yang digunakan untuk mengklaisfikasikan tumbuhan dan satwa
dalam urutan yang sistematik dan logis (Bastable, 2002).
Menurut Setyanto (2016), Taksonomi adalah proses pengelompokan suatu hal
berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Kata taksonomi diambil dari bahasa Yunani
tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi
merupakan cabang ilmu Biologi yang mempelajari penggolongan atau sistematika
makhluk hidup. Taksonomi biologi berperan untuk memilah suatu spesies ke dalam suatu
kelompok tertentu pada tingkatan klasifikasi, dan menyediakan prinsip untuk
mengklasifikasikan taksa ke taksa yang lebih spesifik.
Sistematika didefinisikan sebagai sebagai kajian keilmuan dari jenis-jenis dan
keragaman mahluk hidup sebagian atau semua hubungan yang terjadi di antara mereka
(Simpson, 1961). Pada perkembangannya , kata taksonomi dan sistematika sebagai
padanan, denagn pengertian yang sama. Padahal sebenarnya taksonomi dan sistematika
memiliki perbedaan yaitu taksonomi hanya membahas satu spesies kedalam penggolong
an taksa-taksa,sedangkan sistematika membahas sampai karakter dan spesies tersebut
seperti habitat, morfologi, , fisiologi dan lain sebagainnya.
Takson-takson dibedakan dalam tingkat yang berbeda-beda, sehingga takson-
takson itu menurut urut-urutannya. Ada 7 tingkatan takson yang utama berturut-turut dari
bawah keatas, yaitu : jenis (spesies), marga (genus), suku (famili), bangsa (ordo), kelas
(class), divisi (diviso), dan dunia (regnum). Dalam sistem klasifikasi, istilah tingkat takson
disebut kategori. Spesies merupakan kategori dasar dari hierarki taksonomi, karena
spesies merupakan batu dasar dalam klasifikasi biologic, dan dari spesies itu konsep-
konsep golongan-golongan yang lebihn tinggi maupun yang lebih rendah dikembangkan.
Istilah kategori, lazim digunakan dalam taksonomi hewan namun jarang digunakan secara
eksplisit dalam taksonomi tumbuhan (Oemardjati, 1990).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Pengenalan Karakter Taksonomi untuk Identifikasi


Invertebrata antara lain :
1. Praktikan mengetahui pengertian dan beberapa contoh dari karakter taksonomi
hewan invertebrata.
2. Praktikan mengetahui karakter morfologi dari beberapa jenis hewan invertebrata.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Karakter taksonomi yaitu suatu sifat yang membedakan dari satu anggota takson
dengan yang lainnya. Takson adalah yunit formal dan nama dalam klasifikasi taksonomi
seperti filum, kelas, ordo, family, genus dan spesies (Jasin, 1989).
Invertebrata adalah jenis hewan yang tidak memiliki tulang belakang atau tulang
punggung dan paling beragam hampir 95% dari populasi hewan di bumi. Pada tahun
2009 lebih dari 1,3 juta invertebrata telah diidentifikasi dan di permukaan laut
invertebrata banyak berperan besar dalam ekosistem laut, terutama pada ekosistem
terumbu karang. Komposisi dan karakter dari suatu komunitas invertebrata merupakan
indikator yang cukup baik untuk menunjukkan keadaan dimana komunitas tersebut berada
Ekosistem terumbu karang merupakan habitat dari berbagai jenis biota laut (Luthfi, 2017).
Menurut Sulistiyowati (2018) perairan atau badan air merupakan naungan bagi
sebagian besar hewan invertebrata. Secara umum, invertebrata memiliki karakteristik
yang unik seperti ditemukan di hampir semua badan air, peka terhadap lingkungan (dalam
hal ini adalah perairan) Kepekaan invertebrata terhadap lingkungan mampu mengubah
komposisi (keanekaragaman) dan kelimpahannya, mampu mengakumulasi racun di
tubuhnya, sehingga dapat diketahui seberapa tercemar lingkungannya. jenis invertebrata
sangat banyak, namun relatif mudah diidentifikasi. Semua karakteristik khas invertebrata
dapat digunakan sebagai indikator kualitas peraira. Invertebrata terdiri dari 8 phyllum,
yaitu : Phyllum Porifera ( Hewan yang tubuhnya berpori ), Phyllum Coelenterata ( Hewan
yang tubuhnya berongga ), Phyllum Platyhelminthes ( Hewan Cacing yan tubuhnya
pipih), Phyllum Nemathelmintes ( Hewan cacing yang tubuhnya Gilig ), Phyllum
Annelida ( Hewan Cacing yang bergelang gelang), Phyllum Mollusca ( Hewan yang
tubuhnya lunak ), Phyllum Arthropoda ( Hewan yang tubuhnya beruas ruas), dan Phyllum
Echinodermata (Hewan yang tubuhnya berkulit duri ).
Bullough (1960) menyatakan bahwa di dunia ini terdapat 40 phyla hewan
avertebrata yang dikelompokkan berdasarkan: (1) banyaknya sel penyusun tubuh, (2)
konstruksi tubuh, (3) jumlah lapisan tubuh, (4) kesimetrian tubuh, (5) pembentukan anus
dan mulut pada awal perkembangan embrional, (6) kondisi rongga tubuh, serta (7) ada
tidaknya lofofora dan segmentasi tubuh. Berdasarkan pengelompokkan tersebut, dapat
dipelajari bentuk simetri tubuh dan keberadaan segmentasi tubuh, melalui pengamatan ciri
morfologi.
Hewan avertebrata dari kelompok protozoa, Porifera, Cnidaria, Protostomata dan
Deuterostomata, sebagian besar hidup di perairan, walaupun ada yang hidup di darat.
Protozoa yang umum dapat ditemukan jika media air diberi bahan pakan adalah
Trichodina, Tetrahymena, Paramaecium, Spirostomata, Stentor, Stylonychia, Euglena,
Volvox, Phacus dan Vorticella. Classis Rotifera dari Pseudocoelomata cukup banyak
yang hidup di perairan tawar, sebagai contoh Branchionus, Rotaria, Keratella, Polyarthra
dan Fitinia.
Mollusca terutama dari classis Gastropoda, memiliki anggota yang hidup di air
taawar. Sebagai contoh : Bellamya, Pila, Brotia, Melanoides dan Lymnaea. Di samping
itu, yang juga hidup di air tawar dari anggota classis Pelecypoda, antara lain Contradens,
Corbicula dan Anodonta.
Echinasteridae jika memiliki Variasi lebih besar dalam jumlah spesies per genus
menunjukkan ketidakseimbangan dalam keragaman spesies, dibandingkan dengan
keluarga lain dari kelas Asteroidea. Genera spesies yang dikenal dari keluarga
Echinasteridae. Kedua genera beragam juga yang paling banyak dipelajari, tetapi spesies
batas dan taksonomi klasifikasi dalam dua genera telah terbukti sulit ()

Cacing Tubifex merupakan satu-satunya anggota phylum Annelida yang hidup di


air tawar. Udang-udang renik seperti Moina, Daphnia dan Cyclops atau udang tingkat
tinggi seperti Macrobrachium, umum terdapat di air tawar.
Hewan avertebrata metazoa tingkat tinggi, phyla Mollusca, Annelida, dan
Arthropoda banyak dijumpai memiliki aktivitas di daratan. Achatina fulica dan Felicaulis
sp. merupakan contoh Mollusca yang hidup di darat. Beragam spesies cacing tanah dari
genus Lumbricus dan Pheretima tersebar cukup luas di daratan.
Phylum Arthropoda yang memiliki anggota terbanyak memberikan kontribusi
terhadap pemahaman hewan avertebrata yang hidup di darat. Scolopendra, Lulus,
Heterometrus dan Valanga merupakan genus yang umum dikenal oleh masyarakat di
pedesaan. Beragam anggota Orthoptera (jangkrik, kecoa, dan belalang), Coleoptera
(kumbang), Odonata (capung), Isoptera (rayap), Lepidoptera (kupu-kupu), dan Diptera
(nyamuk, lalat) banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat–alat yang digunakan pada praktikum acara Pengenalan Karakter Taksonomi


untuk Identifikasi Invertebrata adalah bak preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop
cahaya, mikroskop stereo, kamera, sarung tangan karet (gloves), masker, dan alat tulis.
Bahan–bahan yang digunakan pada praktikum acara Pengenalan Karakter Taksonomi
untuk Identifikasi Invertebrata adalah beberapa spesimen hewan invertebrata dan alkohol
70%.

B. Metode

Metode yang dilakukan pada praktikum acara Pengenalan Karakter Taksonomi untuk
Identifikasi Invertebrata antara lain:

1. praktikan mengamati karakter pada beberapa spesimen hewan invertebrata yang


telah disiapkan.
2. Praktikan melakukan proses identifikasi hewan invertebrata yang telah disiapkan
berdasarkan karakter morfologi yang diamati. Masing-masing praktikan membuat
deskripsi hasil identifikasi hewan tersebut.
3. Praktikan melengkapi tabel hasil pengamatan karakter dan identifikasi pada hewan
invertebrata.
4. Praktikan membuat laporan sementara dari hasil praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Bastable, B. S., 2002. Perawat Sebagai Pendidik. Jakarta. EGC.

Bullough, W. S. 1960. Practical Invertebrate Anatomy. New York. St Martin’s Press.

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya. Sinar


Wijaya.

Luthfi O. M, Saputra P. A, Mutiara N. F, Arisyaputra R. A, Sinaga J. K, Bisel M. R. S,


Ika S. N, Ria A. M, Murti M. P. H, Girindra L. A, Rizal S. R, Bagus N. M, Naufal A,
Raditya M. 2017. Pemantauan kondisi invertebrata menggunakan metode reef check di
perairan Selat Sempu Kabupaten Malang. Jurnal kelautan. 10(2), pp. 129-135.

Oemardjati, B. S dan W. Wardhana. 1990. Taksonomi Avertebrata Pengantar.

Simpson, G. G. 1961. Principles of Animal Taxonomy. Ney York. Columbia University


Press.

Setyanto H. A, Amin M. U., and Lestari M. 2016. Pengembangan Buku Suplemen


Pendekatan Molekuler Taksonomi Hewan Vertebrata. Jurnal pendidikan. 1(6), pp. 1180-
1184.

Sulistiyowati T. I, Rahmawati I., & Prameswari I. T. 2018. Kelimpahan Capung


(odonata) di Das Brantas Kota Kediri: Sebagai Studi Pendahukuan Biomonitoring
Perairan. Jurnal Bioma. 7(2), pp. 211-218.

Lopes E.M, Portela R. P, Paiva P.C,4., and Ventura C.R. R. 2016. The molecular
phylogeny of the sea star Echinaster (Asteroidea: Echinasteridae) provides insights for
genus taxonomy. Invertebrate Biology. 135(3), pp.