Anda di halaman 1dari 17

BAB X

ELEKTROKIMIA
Sasaran pembelajaran dari bab ini adalah mahasiswa mampu:
1. Menjelaskan hubungan antara energi listrik dan reaksi kimia
2. Menuliskan notasi sel elektrokimia
3. Menjelaskan perbedaan sel elektrolisis dan sel volta atau sel galvani
4. Mengetahui aspek kuantitatif sel elektrokimia
Elektrokimia mempelajari hubungan antara reaksi kimia dengan energi listrik.
Sel dimana reaksi kimia menghasilkan arus listrik dikenal sebagai sel galvani atau sel
volta, sebaliknya sel dimana arus listrik mengakibatkan reaksi kimia disebut sel
elektrolisis. Suatu sel elektrokimia terdiri atas dua elektroda dan suatu elektrolit.
Reaksi yang terjadi pada sel elektrokimia adalah sebagai berikut :
1. Pada anoda terjadi reaksi oksidasi
2. Pada katoda terjadi reaksi reduksi
Pada sel elektrolisis: anoda adalah elektroda positif, katoda adalah elektroda negatif.
Pada sel volta/galvani: anoda adalah elektroda negatif, katoda adalah elektroda
positif.

10.1 SEL VOLTA


Luigi Galvani dan Allesandro Volta adalah nama-nama yang tak dapat
dilupakan jika membicarakan sel yang dapat menghasilkan listrik. Volta yang dapat
menjelaskan pengamatan Galvani tentang berkerutnya kaki kodok oleh listrik yang
dihasilkan jika menghubungkan dua macam logam yang dipisahkan oleh cairan dalam
kodok, berhasil membuat sel Volta atau sel Galvani pertama dari sederetan lempeng
perak dan seng yang dipisahkan oleh bahan penyerap yang dicelupkan ke dalam air.
John Daniell pada tahun 1835 berhasil membuat sel yang dikenal sebagai sel Daniell.
Dalam sel Volta perbedaan potensial listrik antara elektroda-elektroda dihasilkan oleh
reaksi yang berlangsung spontan pada setiap elektroda.
10.2 NOTASI SEL
Ada beberapa simbol yang digunakan sebagai notasi sel elektrokimia, yaitu :
1) Menurut konvensi internasional garis vertikal digunakan sebagai simbol antar
muka terminal padat dan larutan serta untuk partisi berpori, dan untuk jembatan
garam digunakan dua garis vertikal.
Sel Daniell dapat dinyatakan dengan persamaan :

X-1
Zn (p) │ Zn2+(aq) ║ Cu2+(aq) │ Cu (p) E˚ = + 1,10 V

2) Harga DGL (Daya Gerak Listrik) menyatakan harga batas (untuk arus nol) dari
potensi listrik terminal kanan dengan potensial listrik terminal kiri.
E˚sel = E˚kanan - E˚kiri
E˚sel = E˚reduksi - E˚oksidasi
3) Reaksi yang terjadi pada elektroda kiri ditulis sebagai reaksi oksidasi dan reaksi
yang terjadi pada elektroda kanan ditulis sebagai reaksi reduksi. Reaksi sel sama
dengan jumlah kedua reaksi ini
Zn (p) + Cu2+ (aq)  Zn2+ (aq) + Cu (p)
Jika harga DGL atau E sel positif, reaksi berlangsung dengan spontan ke kanan
apabila kedua sel tersebut dihubungkan
4) Jika menggunakan elektroda inert, misalnya untuk reaksi sel
Fe 3+ (aq) + I- (aq)  Fe2+ (aq) + ½ I 2 (p)
Maka sel dinyatakan sebagai
Pt │ I- (aq) I2 (p) ║ Fe3+ (aq), Fe 2+ (aq) Pt E˚ = 0,24 V
5) Potensial setengah sel Zn2+ (aq)  Zn adalah potensial untuk sel
Pt │ H2 (g) │ H+ (aq) ║ Zn2+ (aq) │ Zn (p)
dengan reaksi
½ H2 (g) + ½ Zn2+ (aq)  H+ (aq) + ½ Zn (p)
Potensial setengah sel Cl- (aq)  AgCl, Ag adalah perbedaan potensial sel
Pt │ H2 (g) │ H+ (aq) ║ Cl- (aq) │ AgCl (p) │ Ag
dengan reaksi
½ H2 (g) + AgCl (p)  H+ (aq) + Cl- (aq) + Ag (p)
6) Dari kedua contoh terakhir elektroda sebelah kiri adalah elektroda hidrogen
standar dan perbedaan potensial ini disebut potensial elektroda relatif, potensial
elektroda untuk sistem
Pt │ H2 (g) │ H+ (aq) ║ Zn 2+ (aq) │ Zn (p)
mempunyai DGL, E˚ = -0,763 volt pada keadaan standar, jadi untuk elektroda
Zn2+ │ Zn, E˚ (298 K) = -0,763 V
10.3 ELEKTRODA HIDROGEN STANDAR
Elektroda hidrogen standar (gas hidrogen dengan tekanan satu atm dialirkan
ke elektroda inert yang dilapisi platina, dicelupkan ke dalam larutan asam dengan
keaktifan ion hidrogen sama dengan satu), dan ditetapkan nol volt.
Keadaan standar meliputi :
a) semua ion dalam konsentrasi 1 M (lebih tepat  keaktifan = satu)
b) gas pada tekanan 1 atm (101,3 kNm-2)
c) suhu 25°C (298 K)
d) menggunakan elektroda platina jika sistem setengah sel tidak termasuk logam

Fungsi platina dalam sel elektrokimia adalah :

X-2
a) penghubung logam inert dengan sistem H2 – H+
b) tempat gas H2 yang terabsorbsi pada permukaannya
c) untuk memperbesar luas permukaan sehingga kesetimbangan antara H2(g) dan H+
lebih lebih cepat terjadi, elektroda dilapisi dengan serbuk platina halus.
Elektroda kalomel, terjadi dari setetes raksa yang bersentuhan dengan larutan
KCl yang dijenuhkan terhadap kalomel (Hg2Cl2). Biasanya digunakan tiga macam
konsentrasi yakni 0,1 M, 1 M, dan jenuh.
Elektroda kalomel jenuh : ½ Hg2Cl2 + e  Hg + Cl- E˚ = + 0,2412 V
Elektroda kalomel 1 M : ½ Hg2Cl2 + e  Hg + Cl- E˚ = + 0,2801 V
Elektroda kalomel 0,1 M : ½ Hg2Cl2 + e  Hg + Cl- E˚ = + 0,3337 V

10.4 POTENSIAL ELEKTRODA STANDAR


Potensial elektroda standar dari suatu elektroda adalah DGL, suatu sel terdiri
dari elektroda yang dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung ionnya dengan
keaktifan satu dan elektroda hidrogen standar. Sistem elektroda harus reversibel
secara termodinamika.

Mn+ + n e M

IUPAC menetapkan untuk menggunakan potensial reduksi atau potensial elektroda


a. Pt, H2 │ HCl (1 M) ║ CuSO4 (1 M) │ Cu
b. Pt, H2 │ HCl (1 M) ║ ZnSO4 (1 M) │ Zn

a) E˚sel = E˚Cu - E˚H2


0,34 = E˚Cu – 0
E˚Cu = 0,34 V

b) E˚sel = E˚Zn - E˚H2


-0,76 = E˚Zn – 0
E˚Zn = - 0,76 V
Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya elektroda hidrogen digunakan sebagai
standar dengan setengah reaksi :

1/2 H2 (1 atm, g) H+(aq) + e

X-3
dan ditetapkan potensial elektrodanya 0,000 V pada 25 ˚C. Dengan elektroda
pembanding ini dapat diperoleh potensial elektroda lainnya yang sebagian tercantum
pada Tabel 10.1
Pada tabel, potensial elektroda dapat dilihat berbagai reaksi elektrolisis yang
ditulis sebagai berikut :

Oksidator + n e-  Reduktor

Harga E˚ adalah untuk reaksi reduksi yang berlangsung dari kiri ke kanan.
Harga potensial elektroda menentukan kecenderungan berlangsungnya reaksi dari kiri
ke kanan.
Makin besar harga E (makin positif), makin mudah reaksi berlangsung ke
kanan. Oleh karena itu Cu2+ lebih mudah direduksi menjadi Cu (E = 0,34 V)
daripada Z2+ direduksi menjadi Zn (E = -0,76 V) atau dapat disimpulkan bahwa Zn
adalah reduktor yang lebih kuat dari pada Cu. Sebaliknya, daya mengoksidasi dari
spesies di ruas kiri, bertambah dari atas ke bawah misalnya, Cu2+ adalah oksidator
yang lebih kuat dari pada Zn2+.
Dari Tabel 10.1, dapat dilihat bahwa Li adalah reduktor terbaik di antara unsur
alkali. Sebaliknya, F2 adalah oksidator kuat (F mempunyai energi ionisasi besar 1707
kJ/mol jika dibandingkan dengan Li yang energi ionisasinya 520 kJ/mol). Urutan
unsur-unsur seperti pada tabel potensial elektroda dikenal juga sebagai Deret
Elektrokimia (Deret Volta).
Tabel 10.1 . Potensial elektroda standar dalam larutan air pada 25 ˚C.
Reaksi dalam larutan asam E˚, Volt

X-4
Li+ + e- Li (s) - 3,05
+ -
Na + e Na (s) - 2,71
Mg2+ + 2 e- Mg (s) - 2,36
3+ -
Al + 3 e Al (s) - 1,66
Mn2+ + 2 e- Mn (s) - 1,18
Zn2+ + 2 e- Zn (s) - 0,76
Cr3+ + 3 e- Cr (s) - 0,74
Fe2 + 2 e- Fe (s) - 0,44
Cr3+ + e- Cr2+(s) - 0,41
TI+ + e- TI (s) - 0,34
+2 -
Ni + 2 e Ni (s) - 0,25
H3Po4 + 2 H+ + 2 e- H3PO3 + H2O - 0,28
2+ -
Sn + 2 e Pb (s) - 0,14
Pb2+ + 2 e- Pb (s) - 0,13
H+ + e- ½ H2 (g) 0,00
S (s) + 2 H+ + 2 e- H2S (aq) + 0,14
4+ -
Sn + 2 e Sn2+ + 0,13
SO42- + 4 H+ + 2 e- H2SO3 + H2O + 0,17
-
Hg2Cl2 (s) + 2 e Hg (s) + Cl- + 0,24
Cu2+ + 2 e- Cu (s) + 0,34
½ I2 (s) + e- I- + 0,54
O2 (g) + 2 H+ + 2 e- H2O + 0,68
Fe3+ + e- Fe2+ + 0,77
Ag+ + e- Ag (s) + 0,80
NO3- + 3 H- + 2 e- HNO2 + H2O + 0,96
3- + -
IO + 6 H + 5 e ½ I2 + 3 H2O + 1,20
½ O2 (g) + 2H+ + 2e- H2O + 1,23
- -
½ Cl2 (g) + e Cl + 1,36
Cr2O72- + 14 H+ + 6 e- 2 Cr3+ + 7 H2O + 1,33
+ - -
HClO + H + 2 e Cl + H2O + 1,49
+ -
MnO4- + 8 H + 5 e Mn2+ + 4 H2O + 1,51
4+ - 3+
Ce + e Ce + 1,61
½ F2 (g) + H + e- +
HF + 2,87
Al(OH)4- + 3 e- Al(s) + 4 OH- - 2,33
HPO3- + 2H2O + 2 e- H2PO2- + 3 OH- - 1,57
-
2 H2O + 2 e H2 (g) + 2 OH- - 0,83
-
Fe(OH)3 (s) + e Fe(OH)2 OH- - 0,56
S (s) + 2 e- S - 0,45
Ag2O (s) + H2O + 2 e- 2 Ag (s) + 2 OH- - 0,34
O2 (g) + 2 H2O + 4 e- 4 OH- + 0,40
-
O3 (ozon) (g) + H2O + 2 e O2 (g) + 2 OH- + 1,24

Pada Tabel 10.2 terlihat bahwa urutan tersebut atau harga E berubah jika pelarutnya
diganti. Dari pasangan redoks yang tercantum dalam Tabel 10.1 dan 10.2 dapat
disimpulkan bahwa: oksidator yang mempunyai potensial elektroda negatif dengan
keaktifan satu mempunyai daya mengoksidasi lebih lemah daripada ion hidrogen

X-5
dengan keaktifan satu, sedangkan reduktornya dengan keaktifan satu adalah reduktor
yang lebih kuat dibandingkan dengan gas hidrogen pada tekanan 1 atm. Sebaliknya
oksidator dalam pasangan redoks yang mempunyai potensial elektroda positif adalah
oksidator yang lebih kuat dari ion hidrogen dengan keaktifan satu.

Tabel 10.2 Potensial elektroda standar dalam berbagai pelarut


Pelarut
Elektroda
H2O; E, V NH3; E, V CH3CN, E, V
+
Li │Li -3,05 -2,24 -3,23
Rb+│Rb -2,93 -1,93 -3,17
K+│K -2,93 -1,98 -3,16
Cs+│Cs -2,92 -1,95 -3,16
Ca+2│Ca -2,87 -1,74 -2,75
Na+│Na -2,71 -1,85 -2,87
Zn+2│Zn -0,76 -0,53 -0,74
Cd+2│Cd -0,40 -0,20 -0,47
Pb+2│Pb -0,13 +0,32 -0,12
H+│H2 0 0 0
Cu+2│Cu +0,24 +0,43 -0,28
Ag+│Ag +0,80 +0,83 +0,23

10.5 DGL SEL DAN PERSAMAAN REAKSI


DGL standar untuk suatu sel sama dengan potensial elektroda standar elektroda kanan
dikurangi dengan potensial elektroda standar elektroda kiri.
Esel = E elektroda kanan – E elektroda kiri
Contoh: Co2+ + 2e  Co E = -0,277 V
Ni2+ + 2e  Ni E = -0,250 V
Notasi sel: Co│Co2+ (1 M)║ Ni2+(1 M) │ Ni

Reaksi sel: Co + Ni2+  Co2+ + Ni

E sel = E elektroda kanan – E elektroda kiri


= -0,250 – (-0,277) = + 0,027 Volt.

10.6 PERSAMAAN NERNST

X-6
Reaksi redoks dengan persamaan umum aA + bB  cC + dD, Persamaan
Nernst adalah sebagai berikut:
RT [C ] c [ D ] d
E sel  E sel
0
 ln
nF [ A] a [ B ]b
2,303RT [C ]c [ D ] d
E sel  E sel
0
 log
nF [ A] a [ B]b

Pada 298 K
2,303RT 2,303x8,314 J .mol 1 .K 1 x 298K
  0,0591 J/C  0,0591 Volt
F 96500C.mol 1
sehingga:
0,0591 [C ] c [ D ] d
E sel  E sel
0
 log
n [ A] a [ B ]b

Dengan menggunakan Persamaan Nernst untuk sel dengan reaksi berikut:


Co + Ni2+  Co2+ + Ni

0,0591 [Co 2  ]
E sel  E sel
0
 log
n [ Ni 2  ]
0,0591 [Co 2  ]
E sel  0,03  log
2 [ Ni 2  ]

Untuk sel dengan reaksi:


2 Co + 2 Ni2+  2 Co2+ + 2 Ni

0,0591 [Co 2  ] 2
E sel  E sel
0
 log
n [ Ni 2 ] 2
0,0591 [Co 2  ] 2
E sel  0,03  log
4 [ Ni 2  ] 2
0,0591 [Co 2  ]
E sel  0,03  log
2 [ Ni 2  ]

Reaksi sel dapat dikalikan dengan suatu bilangan tanpa merubah harga DGL. Cara
perhitungan jika salah satu onsentrasi tidak sama dengan 1 M.
(a) Jika [Co2+] = 0,01 M, [Ni2+] = 1 M

X-7
0,0591 [Co 2  ]
E sel  0,03  log
2 [ Ni 2  ]
0,0591 [0,01]
E sel  0,03  log
2 [1]
E sel  0,03  0,0591  0,08 Volt

(a) Jika [Co2+] = 1 M, [Ni2+] = 0,01 M

0,0591 1
E sel  0,03  log
2 0,01
E sel  0,03  0,0591  0,032 Volt

Harga DGL negatif menunjukkan bahwa reaksi yang terjadi:

Co2+ (1 M) + Ni  Co + Ni2+ (0,01 M)

10.7 SEL KONSENTRASI

Sel ini terdiri atas dua elektroda yang bahannya sama dan dicelupkan ke dalam dua
larutan yang konsentrasinya (keaktifannya) berbeda.

Anoda : M  Mn+ (a1) + ne


Katoda : Mn+ (a2) + ne  M
Reaksi sel Mn+ (a2)  Mn+ (a1)

RT a1
E sel  E sel
0
 ln
nF a 2
RT a1
E sel   ln
nF a 2

Pada suhu 25 C
0,059 a
E sel   log 1
2 a2

X-8
Contoh:
Cu│Cu2+ (a1 = 0,01 M)║ Cu2+(a2 = 0,1 M) │ Cu
0,059 0,01
E sel   log  0,0296 Volt
2 0,1

Elektroda dalam larutan pekat merupakan katoda. Elektroda dalam larutan encer
merupakan anoda.

10.8 ELEKTRODA HIDROGEN DAN pH


E dari elektroda hidrogen bergantung pada konsentrasi laritan yaitu pada
pH. Jika suatu sel konsentrasi menggunakan salah satu elektroda adalah elektroda
standar dan yang lainnya bukan standar, sedang elektroda standar sebagai katoda
maka:
Anoda ½ H2 (g)  H+ + e E = 0 Volt
Katoda H+ + e  ½ H2 E = 0 Volt

0,0591 [ H  ] pH
E sel  E sel
0
 log 
n [ H ] standar pH

Jika pH pada kedua elektroda diukur pada 1 atm dan menurut perjanjian [H+]standar = 1
Esel = 0,059 log [H+] diperoleh Esel = 0,059 pH
Pada pH = 4  Esel = 0,059 x 4 = 0,236 Volt
Pada pH = 6  Esel = 0,059 x 6 = 0,354 Volt

M│Mn+ (a1)║ Mn+(a2) │ M

Jika elektroda hidrogen (tekanan hidrogen 1 atm) digabungkan dengan elektroda lain
dan elektroda tersebut dalam keadaan standar maka potensial selnya adalah:
E sel  E sel
0
 0,059 pH

DGL dan energi bebas, energi listrik yang dihasilkan oleh sel Galvani/sel Volta adalah
sebagai berikut:
G = - n F E

X-9
10.9 JENIS SEL VOLTA
Ada dua macam sel yang bekerja berdasarkan prinsi Galvani dan prinsip
Volta. Pada 1797, L. Galvani menemukan bahwa listrik dapat dihasilkan oleh reaksi
kimia. Pada 1880, A. Volta membuat sel praktis pertama yang menghasilkan listrik
dari reaksi kimia. Sel primer, sel dimana setelah komponen habis terpakai, hasil
reaksi tidak dapat diubah kembali menjadi pereaksi. Setelah sekunder, sel ini disebut “
sel penyimpan ”. Reaksi sel adalah reaksi reversibel.

10.9.1 Sel Primer


a. Sel Daniell
Zn │ Zn2+ (x M) ║ Cu2+ (y M) │ Cu

Reaksi anoda (-) Zn  Zn2+ + 2 e


Reaksi katoda (+) Cu2+ + 2e  Cu
Reaksi sel Zn + Cu2+  Zn2+ + Cu

b. Sel Konsentrasi
Ag │ Ag+ (0,050 M) ║ Ag+ (0,5 M) │ Ag

Reaksi anoda (-) Ag  Ag+ (0,05 M) + e


Reaksi katoda (+) Ag+ (0,5 M) + e  Ag
Reaksi sel Ag+ (0,5 M)  Ag+ (0,05 M)

c. Sel ion dengan bilangan oksidasi yang berubah-ubah


(1) Pt │ Fe2+ (x M) │ Fe3+ (y M) ║ Ce4+ (w M) │ Ce3+ (z M) │ Pt
Reaksi anoda (-) Fe2+  Fe3+ + e
Reaksi katoda (+) Ce4+ + e  Ce3+
Reaksi sel Fe2+ + Ce4+  Fe3+ + Ce3+

(2) Pt │ Fe2+ (x M) , H2SO4 ║ MnO4- (y M), H2SO4 │ Pt


Reaksi anoda (-) Fe2+  Fe3+ + e
Reaksi katoda (+) MnO4- + 8 H+ + 5 e  Mn2+ _+ 4 H2O
Reaksi sel 5 Fe2+ + MnO4- + 8 H+ 5 Fe3+ + Mn2+ + 4 H2O

X-10
d. Sel kering (sel Leclanche)
Zn : MnO2, NH4Cl, ZnCl2(pasta), C(grafit)
Reaksi anoda (-) Zn (s)  Zn2+ + 2e
Reaksi katoda (+) (a) 2 NH4+ + 2 e  2 NH3 + H2(g)
(b) H2(g) + 2 MnO2 (s)  Mn2O3 + H2O
Reaksi sel Zn (s) + 2 NH4+ + 2 MnO2 (s) Zn2+ +2 NH3 + Mn2O3 + H2O
Zn (s) + 2 NH4+ + 2 NH3+ 2 MnO2 (s) Zn(NH3)42+ + Mn2O3 + H2O

e. Sel bervoltase tetap


Cd│Cd(jenuh), CdSO4(s)║Hg2+(jenuh), HgSO4(s)│Hg
Reaksi anoda (-) Cd  Cd2+ + 2 e
Reaksi katoda (+) Hg2+ + 2e  Hg
Reaksi sel Cd + Hg2+  Cd2+ + Hg

10.9.2. Sel Penyimpan

a. Sel Penyimpan Timbal (aki)


Reaksi anoda (-) Pb(s) + HSO4-  PbSO4(s) + H+ + 2 e
Reaksi katoda (+) PbO2(s) + HSO4- + 3H+ + 2e  PbSO4(s) + 2 H2O
Reaksi sel Pb(s) + PbO2(s)+ 2HSO4- + 2H+  2PbSO4(s) + 2 H2O
Pada “pengisian” aki
2PbSO4(s) + 2 H2O + ENERGI LISTRIK  Pb(s) + PbO2(s)+ 2HSO4- + 2H+

b. Sel Edison
Fe │KOH (20%; sedikit LiOH)│Ni2O3xH2O(s)
Reaksi anoda (-) Fe(s) + 2OH-  Fe(OH)2(s) + 2 e
Reaksi katoda (+) Ni2O3(s) + 3H2O + 2e  2Ni(OH)2(s) + 2 OH-
Reaksi sel Fe(s) + Ni2O3(s) + 3H2O  Fe(OH)2(s) + 2Ni(OH)2(s)
c. Sel Nicad (Nickel Cadmium)
Cd │KOH (20%)│Ni2O3xH2O(s)
Reaksi anoda (-) Cd(s) + 2OH-  Cd(OH)2(s) + 2 e
Reaksi katoda (+) Ni2O3(s) + 3H2O + 2e  2Ni(OH)2(s) + 2 OH-
Reaksi sel Cd(s) + Ni2O3(s) + 3H2O  Cd(OH)2(s) + 2Ni(OH)2(s)

X-11
d. Sel bahan bakar
Sel bahan bakar adalah suatu sel Galvani dimana selalu tersedia pereaksi yang
dialirkan ke elektroda sehingga sel selalu bekerja secara kontinyu. Sel Bacon terdiri
dari anoda nikel dan katoda nikel. Nikel oksida dengan elektrolit larutan KOH.
Elektroda tersebut berpori dan gas-gas berdifusi sehingga bersentuhan dengan
elektroda.
Reaksi anoda (-) 2 H2 + 4 OH-  4H2O + 4 e
Reaksi katoda (+) 2 H2O + O2 + 4e  4 OH-
Reaksi sel 2 H2 + O2  2 H2O

e. Sel Merkuri
Reaksi anoda (-) Zn + 2 OH-  ZnO + H2O + 2 e
Reaksi katoda (+) HgO + H2O + 2e  Hg + 2 OH-
Reaksi sel Zn + HgO  ZnO + Hg

10.10 SEL ELEKTROLISIS


Alat elektrolisis terdiri dari sel elektrolitik yang berisi elektrolit (larutan atau
leburan) dan dua elektroda, anoda dan katoda. Pada anoda terjadi reaksi oksidasi,
sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi. Faktor-faktor yang menentukan kimia
elektrolisis adalah: (i) konsentrasi (keaktifan) elektrolit yang berbeda dan (ii)
komposisi kimia elektroda yang berbeda.

10.10.1 Konsentrasi (keaktifan) elektrolit yang berbeda


a. Larutan NaCl pekat
Reaksi anoda (+) 2 Cl-  Cl2(g) + 2 e
Reaksi katoda (-) 2 H2O + 2e  H2(g) + 2 OH-
Reaksi sel 2 Cl- + 2 H2O  Cl2(g) + H2(g) + 2 OH-
b. Larutan NaCl yang sangat encer
Reaksi anoda (+) 2 H2O  O2(g) + 4 H+ + 4 e
Reaksi katoda (-) 4 H2O + 4e  2H2(g) + 4 OH-
Reaksi sel 6 H2O  2H2(g) + O2(g) + 4 H+ + 4 OH-

10.10.2 Komposisi kimia elektroda yang berbeda


X-12
a. Elektroda innert (tak aktif)
Elektrolisis larutan Na2SO4
Reaksi anoda (+) 2 H2O  O2(g) + 4 H+ + 4 e
Reaksi katoda (-) 4 H2O + 4e  2H2(g) + 4 OH-
Reaksi sel 6 H2O  2H2(g) + O2(g) + 4 H+ + 4 OH-

b. Elektroda tidak innert (bukan Pt atau C)


Elektrolisis larutan CuSO4 dengan Cu sebagai anoda
Reaksi anoda (+) H2O  ½ O2(g) + 2 H+ + 2 e
Reaksi katoda (-) Cu2+ + 2e  Cu
Reaksi sel H2O + Cu2+  ½ O2(g) + 2 H+ + Cu

Hasil elektrolisis dapat disimpulkan sebagai berikut:


Reaksi pada katoda:
(a) K+, Ca2+, Na+, Mg2+
2 H2O + 2e  H2(g) + 2 OH-
(b) H+ dari asam
2 H+ + 2e  H2(g)
(c) ion logam yang lain
Cu2+ + 2e  Cu

Reaksi pada anoda, anoda innert:


(a) OH- (basa)
4 OH-  2 H2O + O2(g) + + 4 e
(b) Cl-, Br-, I-
2 Cl-  Cl2(g) + 2 e
(c) Sisa asam yang lain, misalnya SO42-
SO42-  SO2 + O2(g) + 2e
Elektroda tidak innert (bukan Pt atau C)
Cu2+ + 2e  Cu (reaksi pada katoda)

10.11 ASPEK KUANTITATIF ELEKTROLISIS


Michael Faraday menemukan aspek kuantitatif dari elektrolisis. Dari Hukum
Faraday yang terkenal itu dapat disimpulkan bahwa jumlah mol zat yang dioksidasi
X-13
atau direduksi pada suatu elektroda adalah sama dengan jumlah mol elektron yang
melalu elektroda tersebut dibagi dengan jumlah elektron yang terlibat dalam reaksi
pada elektroda untuk setiap ion atau molekul zat. Muatan dari satu mol elektron
adalah (6,02 x 10-23 mol-1) (1.602 x 1019 C) = 94.490 C/mol. Besaran ini disebut
tetapan Faraday dengan lambang F dan biasanya besaran ini dibulatkan menjadi
96500 C/mol. Proses reaksi pada elektroda dapat melibatkan lebih dari satu elektron

Proses satu elektron Ag+ + e  Ag


Fe2+  Fe3+ + e
Proses dua elektron Fe  Fe2+ + 2e
Fe2+ + 2e  Fe
H2O  2 H+ + ½ O2 + 2e
Proses tiga elektron Fe  Fe3+ + 3e
Al3+ + e  Al
Proses empat elektron Ce  Ce4+ + 4e
Proses lima elektron MnO4- + 8 H+ + 5e  Mn2+ + 4 H2O, dst.

Perubahan massa zat yang terjadi selama elektrolisis dapat diungkapkan dengan
rumus
A 1
M Q
n F

M = massa dinyatakan dalam gram


Q = jumlah listrik dalam Coulomb (Q = I x t, I = kuat arus (ampere))
t = waktu (detik), A/n = berat ekivalen, A = massa atom relatif
n = perubahan dalam bilangan oksidasi
F = Faraday 96500 Coulomb

Dari persamaan di atas trelihat bahwa satu Faraday adalah jumlah listrik yang
diperlukan untuk perubahan zat sebanyak satu ekivalen zat pada elektroda.
Contoh:
Berapa gram klor yang dihasilkan pada elektrolisis leburan NaCl dengan arus 1 A
selama 15 menit
Pembahasan:

X-14
Cara pertama: 1 A selamat 15 menit  Q = 1 x 15 x 60 = 900 C
900 C = 900/96500 F
1 F menghasilkan 35,45 g Cl
900/96500 F x 35,35 g/ 1 F = 0,331 g Cl
Cara kedua  menggunakan rumus
A 1
M Q
n F
900 C x 35,45 g/mol x 1
M   0,331 g Cl
2 x 96500 C
Jadi massa klor yang dihasilkan selama elektrolisis adalah 0,331 g Cl

10.12 EFISIENSI ARUS


Pada elektrolisis, untuk mengendapkan logam dari larutan asam, 90% arus
digunakan untuk mengendapkan logam, dan 10% arus untuk menghasilkan hidrogen.
Efisiensi arus untuk pengendapan logam adalah 90% sedangkan untuk hidrogen 10%.
Efisiensi arus sangat penting dalam industri elektrokimia. Jarang ditemukan efisiensi
arus sebesar 100%.
Contoh soal:
Dari wadah elektrolisis larutan tembaga(II)sulfat, logam Cu sebanyak 0,175 kg
diendapkan jika dialiri listrik sebanyak 550.000 C. Hitung efiesiensi arus dalam
proses pengendapan logam ini.
Pembahasan
A 1
M Q
n 96500
175x 2 x96500
Q  531555 C
63,54
531555
Efisiensi arus  x100%  95,78%
550000

10.13 KOROSI
Peristiwa korosi logam dapat dijelaskan dengan elektrokimia. Berbagai proses
elektroda memerlukan potensial elektroda yang lebih besar dari perhitungan. Potensial
tambahan ini disebut “overvoltage”.
Setengah reaksi yang terjadi adalah:
Fe  Fe2+ + 2e
½ O2 + H2O + 2e  2OH-

X-15
Akan tetapi disebabkan oleh overvoltage, setengah reaksi yang kedua hanya terjadi
pada bagian yang tidak murni atau bagian yang cacat di permukaan besi.
Mekanisme korosi dapat ditulis sebagai berikut:
1. Oksidasi besi : Fe(s)  Fe2+(aq) + 2e
2. Reduksi oksigen : ½ O2(g) + H2O(l) + 2e  2OH-(aq)
3. Pengendapan besi(II)hidroksida : Fe2+(aq) + 2OH-(aq)  Fe(OH)2(s)
4. Pembentukan karat :

Fe(OH)2 (s) +1/2O2(g)+(x-1)H2O(l) 1/2 Fe2O3.x H2O


Fe(s) + 3/4 O2 (g) + H2O (l) 1/2 Fe2O3 . xH2O
2Fe(s) + 3/2 O2 (g) + 2 H2O (l) Fe2O3 . xH2O

Salah satu cara mencegah korosi besi ialah poteksi katodik, misalnya batang
seng atau magnesium ditanam dekat pipa besi kemudian dihubungkan dengan pipa
tersebut bagian yang akan dilindungi dari korosi. Dalam hal ini pipa bisa bertindak
sebagai katoda dan logam seng yang mempunyai potensial elektroda lebih negatif
akan mengalami oksidasi, sehingga pipa besi dapat terlindungi dari korosi. Beberapa
cara untu mengurangi laju korosi besi ialah:
1. Mengontrol atmosfir, mengurangi konsentrasi O2 dan H2 pada permukaan besi.
2. Mencat atau menutupi permukaan besi.
3. Melapisi dengan jalan menutupi permukaan besi dengan minyak atau lemak.
4. Galvaniser atau melapisi besi dengan seng (seng atap).

Soal PR dan Bahan diskusi kelas


Bab 10. Elektrokimia

1. Jelaskan dan berikan contoh dari terminologi berikut: sel volta, sel
elektrolisis, sel konsentrasi, katoda, anoda, elektroda dan potensial sel.
2. Dengan menggunakan data potensial elektroda standar yang ada di diktat(or
any references), hitunglah potensial sel standard dan potensial sel (dalam
kalori), jika sel elektrokimia tersebut menggunakan larutan ZnSO4 0,35M dan
CuSO4 0,55M pada suhu 27oC. Diketahui tetapan R = 8,314 J/mol.K.

X-16
3. Tentukanlah jumlah gas klor yang dihasilkan dan pH larutan jika 500mL NaCl
0,4 M dielektrolisis selama 45 menit dengan arus 0,7A. Diketahui 1F = 96500
C.
4. Jika diketahui potensial reduksi standar Cu= 0,34V dan Zn = 0,76V, maka sel
dengan notasi Cu/Cu2+(1M) !! Zn2+(1M)/Zn akan menghasilkan arus listrik
sebesar berapa volt ?
5. Pernahkah Sdr. jalan-jalan ke pasar Sentral Makassar ? Di mana letak pasar
tersebut ? Dipasar itu, kita bisa melihat barang-barang perhiasan (baik perak,
emas dll) dimasukkan ke dalam larutan tertentu dan disambung dengan larutan
lain yang terkoneksi ke baterei. Coba ceritakan dan jelaskan dengan konsep-
konsep yang Sdr. pelajari di bab ini, apa nama atau proses apa yang dilakukan
oleh sebagian pedagang di pasar itu.
6. Pernahkah Sdr. menggunakan baterei ? Berikan contoh baterei yang ada
disekeliling Sdr.
7. Pernahkah Sdr. mendengar istilah rechargeable battery dan un-rechargeable
battery? Apa pula maksud istilah tersebut ? Berikan penjelasan singkat
(dengan reaksi tentunya) dari proses tersebut. Dimana letak perbedaan dasar
dari kedua istilah itu? Yang mana yang lebih mahal harganya, rechargeable
battery atau un-rechargeable battery?
8. Tuliskan dan jelaskan 3 perbedaan antara sel volta dengan sel elektrolisis
9. Tuliskan dan jelaskan 4 cara mengurangi laju korosi pada besi.

X-17