Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Rasionalisasi pentingnya CBR

Keterampilan membuat CBR pada penulis dapat menguji kemampuan dalam meringkas
dan menganalisis sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis dengan buku yang
lain, mengenal dan member nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang dianalisis.

Seringkali kita bingung memilih buku referensi untuk kit abaca dan pahami, terkadang
kita hanya memilih satu buku untuk dibaca tetapi hasilnya masih belum memuaskan misalnya
dari segi analisis bahasa dan pembahasan, oleh karena itu penulis membuat CBR dari buku
Fisika Statistik.

1.2. Tujuan penulisan CBR

Critical Book Report ini bertujuan :

1. Mengulas isi buku.


2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku.
3. Me;atih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap
bab dari buku.
4. Membedakan keunggulan dan kelemahan isi buku pada pembahasan.

1.3. Manfaat CBR


Critical Book Report ini bermanfaat untuk :
1. Untuk memenuhi tugas critical book report mata kuliah Fisika Statistik.
2. Untuk menambah pengetahuan tentang Fisika Statistik.

1
1.4. Identitas Buku Utama

Judul : Dasar Fisika Statistik Pendekatan Makroskopik dan Termodinamika


Edisi : (1)
Pengarang : Dr, Juniatel Rajagukguk, M.Si., Dr. Makmur Sirait, M.Si., Dr. Nurdin
Siregar, M.Si., Drs. Rappel Situmorang, M.Si.
Penerbit : Mahara Publishing
Tahun terbit : 2018
Kota terbit : Tanggerang
ISBN : 978-602-466-096-3

1.4 Identitas Buku Pembanding

Judul : Fisika Statistik


Edisi : (1)
Pengarang : Sukarmin

2
Penerbit : PT Yuma Pustaka
Tahun terbit : 2011
Kota terbit : Yogyakarta
ISBN : 978-979-099-477-5

3
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

RINGKASAN ISI BUKU UTAMA


2.1. Bobot Statistik
Koordinat suatu bilik dalam ruang fase dapat di analogikan sebagai bilangan kuantum.
Berdasarkan prinsip larangan Pauli, tidak boleh ada dua partikel yang memiliki 4 bilangan
kuantum yang sama. Larangan Pauli berimplikasi bahwa ada dua partikel dalam satu bilik.
Alasannya, bilangan kuantum spin untuk partikel fermion hanya ada dua kemungkinan yaitu +
½ atau – ½.

Untuk keperluan perumusan bobot statistik, setiap bilik dibagi atas dua sub – bilik, dimana
masing – masing sub-bilik hanya dapat diisi oleh satu fermion. Dengan demikian jumlah
maxsimum titik representasi dalam satu sel adalah dua kali dari jumlah bilik. Tentu saja jika ada
bilik yang kosong, jumlah sesungguhnya akan berbeda.

2.2. Konfigurasi Fermion


Untuk sistem kuantum fermion dengan bilangan kuantum spin merupakan kelipatan ganjil
dari h / 4𝜋. Dan perlu diingat, salah satu sifat yang dimiliki fermion adalah memenuhi prinsip
ekslusi Pauli. Tidak boleh ada fermion memiliki keadaan kuantum yang sama. Satu keadaan
hanya boleh kosong atau hanya ditempati oleh satu fermion.

Konsekuensi dari prinsip eksklusi Pauli adalah jumlah fermion harus lebih sedikit atau sama
dengan jumlah keadaan. Ini berbeda dengan sistem klasik atau boson di mana tidak ada
pembatasan jumlah partikel yang menempati keadaan tertentu. Berapa pun jumlah keadaan yang
tersedia, maka keadaan tersebut dapat menumpang partikel klasik maupun boson yang jumlah
berapa pun.

Untuk menurunkan fungsi distribusi Fermi – Dirac kita pun akan memulai dengan membagi
keadaan – keadaan atas kelompok – kelompok sebagai berikut:

Kelompok ke – 1 mengandung g1 keadaan dengan energi rata – rata E1

Kelompok ke – 2 mengandung g2 keadaan dengan energi rata – rata E2

Kelompok ke – M mengandung gM keadaan dengan energi rata – rata EM

Jumlah sistem maisng – masing yang menempati keadaan misalkan

n1 sistem menempati keadaan – 1


n2 sistem menempati keadaan – 2
nM sistem menempati keadaan – M

4
karena satu keadaan maksimum menampung satu sistem maka harus terpenuhi n1 ≥ g1, n2
≥ g2, …………..≥ nM ≥ gM.

Selanjutnya kita akan menentukan bagaima cara menyusun n1 sistem pada g1, n2 kepada
sistem pada g2,..., nM kepada sistem pada gM keadaan. Tinjau kelompok – 1. Di sini ada g1
keadaan dan menampung n1 sistem. Kembali kita menganalogikan keadaan sebagai wadah dan
bola sebagai benda yang akan di tempatkan pada wadah masing – masing.

Untuk menentukan jumlah cara menempatkan bola ke wadah, kita menempatkan bola
pada wadahnya masing – masing. Pada satu wadah hanya boleh diletakan satu bola. Penempatan
ini menjamin bahwa tidak boleh lebih dari satu bola berada pada stu wadah. Akibatnya didapat:

Ada n1 wadah yang ditempatkan bola

Ada g1 – n1 wadah yang kosong.

Kemudian dilakukan permutasi semua wadah yang ada, baik kosong maupun yang di
tempati bola. Karena bola sudah ditempati pada kursi, maka permutasi tidak memungkinkan
munculnya satu wadah yang mampu menampung lebih dari satu bola. Jumlah wadah yang
dipermutasi adalah g1 bola sehingga menghasilkan jumlah permutasi sebanyak g1! Cara. Tetapi
karena (g1 – n1) buah wadah kosong dan n1 buah wadah yang ditempati bola untuk mendapatkan
penyusunan yang berbeda. Jadi, jumlah penyusunan yang berbeda hanyalah
𝑔1 !
(𝑔1 − 𝑛1 )! 𝑛1 !

Dengan cara yang sama di dapatkan jumlah cara penyusunan secara bersama – sama n1 sistem
pada g1 keadaan, n2 sistem pada g2 keadaan ……… nm sistem pada gm keadaan adalah:
𝑚
𝑔𝑠 !

(𝑔𝑠 − 𝑛𝑠 )! 𝑛𝑠 !
𝑠=1

Selanjutnya kita perlu menentukan berapa cara membawa N sistem dari luar
untuk didistribusikan ke dalam keadaan-keadaan di dalam assembli. Seperti yang
kita bahas pada assembli boson, untuk partikel tidak terbe- dakan jumlah cara
tersebut adalah N!/N! = 1. Akhirnya, jumlah cara penyusunan fermion untuk konfigurasi di
atas adalah

5
𝑔𝑠 !
W = ∏𝑚
𝑠=1 (𝑔
𝑠 − 𝑛𝑠 )!𝑛𝑠 !

Dalam notasi logaritma


𝑔𝑠 !
ln W = ∑𝑀
𝑠=1 ln [ (𝑔 ]
𝑠 − 𝑛𝑠 )!𝑛𝑠 !

ln W = ∑𝑀
𝑠=1 ln 𝑔𝑠 ! − ln(𝑔𝑠 − 𝑛𝑠 )! − ln 𝑛𝑠 !

Selanjutnya kita gunakan pendekatan Stirling untuk menyederhanakan faktorial,


yaitu

ln gs ! ∼
= gs ln gs − gs

ln(gs − ns )! ∼
= (gs − ns ) ln(gs − ns ) − (gs − ns )

ln ns ! ∼
= ns ln ns − ns

2.3. Aplikasi Distribusi Fermi-Dirac


1. Fungsi Distribusi Fermi Dirac pada Suhu 0 K
Fungsi distribusi Fermi Dirac memiliki ciri menarik yang tidak dimiliki oleh
distribusi statistik lainnya, yaitu distribusi Maxwell-Boltzman dan Bose-Einstein. Pada suhu
0 K, semua fermion terkumpul pada tingkat energi di bawah energi maksimum yang
kemudian disebut dengan energi Fermi dengan kerapatan yang persis sama. Tiap keadaan
energi diisi oleh dua fermion yang memiliki dua kemungkinan nilai yang berlawanan, yaitu
+1/2 dan -1/2. Fermion tidak terdistribusi di atas energi Fermi yang merupakan energi batas
maksimum, artinya di atas energi batas, keadaan energi kosong. Hal inilah yang
menyebabkan fungsi distribusi Fermi Dirac tiba-tiba diskontinu pada energi batas tersebut.

Fungsi distribusi tersebut dapat dijelaskan dengan,

1
𝑓(𝐸) =
𝑒 −𝛼−𝛽𝐸 + 1

Karena 𝛽 = −1⁄𝑘𝑇 dan 𝐸𝐹 = 𝛼𝑘𝑇 , maka

1
𝑓(𝐸) =
(𝐸 − 𝐸𝐹 )⁄
exp [ 𝑘𝑇] + 1

6
Dari persamaan di atas, jika 𝐸 = 𝐸𝐹 maka 𝑓(𝐸) = 1⁄2 pada berapapun suhu assembli.
𝐸𝐹 adalah energi Fermi. Dengan demikian dapat didefnisikan bahwa nergi Fermi sama
dengan energi ketika fungsi distribusi memiliki nilai tepat setengah.

Ketika suhu assembli 0 K, berlaku:

 Jika 𝐸 > 𝐸𝐹 , maka


(𝐸 − 𝐸𝐹 )⁄ (𝐸 − 𝐸𝐹 )
𝑘𝑇 = =∞
0
Sehingga,
1
𝑓(𝐸 > 𝐸𝐹 , 𝑇 = 0) = =0
𝑒∞ +1
 Jika 𝐸 < 𝐸𝐹 , maka
(𝐸 − 𝐸𝐹 )⁄ (𝐸 − 𝐸𝐹 )
𝑘𝑇 = = −∞
0
Sehingga,
1
𝑓(𝐸 < 𝐸𝐹 , 𝑇 = 0) = =1
+1𝑒 −∞
Dari dua persamaan trsebut dapat disimpulkan bahwa pada suhu T=0, fungsi distribusi
Fermi-Dirac bernilai 1 untuk semua energi di bawah energi Fermi dan bernilai nol untuk
semua energi di atas energi Fermi, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.1. Fungsi distribusi Fermi-Dirac pada suhu 0K

2. Energi Fermi
Energi Fermi adalah energi maksimum yang ditempati oleh elektron pada suhu 0 K.
Dengan prinsip larangan pauli, fermion akan mengisi semua tingkat energi yang tersedia.
Namun pada suhu 0 K, tidak ada satupun fermion yang menempati energi di atas energi
Fermi seperti yang telah ditunjukkan oleh gambar fungsi distribusi Fermi dirac pada suhu 0
K.

Untuk mendapatkan persamaan energi Fermi, kita dapat menghitung terlebih dahulu
jumlah total fermion, yaitu

𝑁 = 𝑉 ∫ 𝑛(𝐸)𝑑𝐸
0

7

𝑁 = 𝑉 ∫ 𝑔(𝐸)𝑓(𝐸)𝑑𝐸
0

Jumlah total fermion dapat dihitung dengan mudah pada suhu 0 K karena fungsi
distribusi Fermi-dirac memiliki bentuk yang sederhana. Jika perhitungan dilakukan pada
T=0 maka
𝐸𝐹 ∞

𝑁 = 𝑉 ∫ 𝑔(𝐸)𝑓(𝐸)𝑑𝐸 + 𝑉 ∫ 𝑔(𝐸)𝑓(𝐸)𝑑𝐸
0 𝐸𝐹

𝐸𝐹 ∞

𝑁 = 𝑉 ∫ 𝑔(𝐸)𝑥 1 𝑥 𝑑𝐸 + 𝑉 ∫ 𝑔(𝐸) 𝑥 0 𝑥 𝑑𝐸
0 𝐸𝐹

𝐸𝐹

𝑁 = 𝑉 ∫ 𝑔(𝐸)𝑑𝐸
0

Rumus kerapatan keadaan per satuan volume, yaitu

1 3 1
𝑔(𝐸) = 3
4𝜋√2𝑚 ⁄2 𝐸 ⁄2

Khusus untuk electron, karena satu keadaan dapat ditempati oleh dua fermion yang
spin yang berlawanan, maka jumlah total fermion dapat dihitung,
𝐸𝐹
1 3 1
𝑁 = 𝑉∫ 2𝑥 3
4𝜋√2𝑚 ⁄2 𝐸 ⁄2 𝑑𝐸

0

𝐸𝐹
𝑉 3 1
𝑁 = 3 8𝜋√2𝑚 ⁄2 ∫ 𝐸 ⁄2 𝑑𝐸

0

𝑉 3 2 3
𝑁= 3
8𝜋√2𝑚 ⁄2 𝑥 𝐸𝐹 ⁄2
ℎ 3
3⁄
3𝑁 2𝑚 2
= ( 2 𝐸𝐹 )
8𝜋𝑉 ℎ
2⁄
3𝑁 3 2𝑚
( ) = 𝐸
8𝜋𝑉 ℎ2 𝐹

8
2⁄
ℎ2 3𝑁 3
𝐸𝐹 = ( )
2𝑚 8𝜋𝑉
Persamaan tersebut di atasdisebut dengan energi Fermi. Melalui hubungan suhu Fermi
yang berbanding lurus dengan energi Fermi, maka dapat diperoleh pernyataan mengenai suhu
Fermi pada suhu 0 K sebagai berikut

𝐸𝐹
𝑇𝐹 =
𝑘
2⁄
ℎ2 3𝑁 3
𝑇𝐹 = ( )
2𝑚𝑘 8𝜋𝑉

3. Fungsi Distribusi Fermi Dirac pada Suhu T > 0 K


Pada suhu T > 0 K , maka sudah ada fermion yang menempati tingkat energi di atas
energi Fermi. Hal ini menyebabkan jumlah fermion yang menempati tigkat energi di bawah
energi Fermi menjadi berkurang. Namun, tidak ada fermion yang memiliki energi yang jauh
di atas energi Fermi dan belum ada pula fermion yang memiliki energi yang jauh di bawah
energi Fermi. Akibatnya terjadi distorsi distribusi Fermi Dirac hanya di sekitar energi Fermi
saja. Distorsi tersebut hanya berada pada daerah yang ordenya sekitar kT di sekitar energy
Fermi. Gambar di bawah ini adalah bentuk fungsi distribusi Fermi dirac pada berbagai suhu.

4. Integral yang Mengandung Fungsi Fermi Dirac


Kita selanjutnya akan sering berhadapan dengan integral yang mengandung fungsi
distribusi Fermi-Dirac. Misalkan saat menghitung energy rata-rata fermion, kita

9
mengintegralkan energy dikali kerapatan keadaan dikali fumgsi Fermi-Dirac. Khusus untuk
suhu diatas 0 K, integral yang melibatkan fungsi Fermi-Dirac sulit dilakukan. Suatu
pendekatan perlu ditempuh untuk mendapatkan hasil integral secara analitik. Memang,
dengan menggunakan software yang sesuai, seperti matematika, kendala tersebut dapat
diatasi dengan mudah. Tetapi ketika ingin mendapatkan ungkapan secara analitik sederhana,
mau tidak mau kita mesti memecahkan integral tersebut dengan aproksimasi yang
reasonable.

Pada bagian ini kita mencari bentuk umum integral yang berupa perkalian fungsi Fermi-
Dirac dengan fungsi sembarang. Bentuk umum tersebut dapat diperoleh berkat beberapa
kekhasan dari fungsi Fermi-Dirac. Mari kita pecahkan integral bentuk umum berikut ini

𝐼 = ∫ 𝜑(𝐸)𝑓(𝐸)𝑑𝐸
0

Dimana 𝜑(𝐸) sembarang fungsi dari 𝐸. Kita selanjutnya mendefinisikan fungsi berikut ini.
𝐸
ψ(E) = ∫ 𝜑(𝐸)𝑑𝐸
0

Dari definisi tersebut kita mendapatkan

dψ = 𝜑(𝐸)𝑑𝐸

sehingga,

𝐼 = ∫0 𝑓(𝐸)𝑑ψ

Selanjutnya kita menggunakan dalil rantai untuk menguraikan integral. Dalil


tersebut terbentuk ∫ 𝑢𝑑𝑣 = 𝑢𝑣 − ∫ 𝑣𝑑𝑢. Dengan dalil ini maka persamaan menjadi
∞ 𝑑𝑓
𝐼 = [𝑓(𝐸)ψ(E)]∞
0 − ∫0 ψ 𝑑𝐸 𝑑𝐸

∞ 𝑑𝑓
= [𝑓(∞)ψ(∞) − 𝑓(0)ψ(0)] − ∫0 ψ 𝑑𝐸 𝑑𝐸

Tetapi, berdasarkan definisi fungsi Fermi-Dirac kita dapatkan 𝑓(∞) =


0 𝑑𝑎𝑛 𝑓(0) = 1. Selanjutnya berdasarkan definisi ψ pada persamaan sebelumnya
kita dapatkan
∞ 0
ψ(∞) = ∫0 𝜑(𝐸)𝑑𝐸, 𝑑𝑎𝑛 ψ(0) = ∫0 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 = 0

Dengan demikian persamaan menjadi


∞ ∞ dF
𝐼 = [0𝑥 ∫0 𝜑(𝐸) 𝑑𝐸 − 1𝑥0] − ∫0 ψ dE 𝑑𝐸

10
∞ dF
= − ∫0 ψ dE 𝑑𝐸

Selanjutnya kita uraikan ψ(E)dalam deret Taylor di sekitar 𝐸𝐹 hingga suku ketiga
yaitu

dψ 1 𝑑2
ψ(𝐸) = ψ(𝐸𝐹 ) + dE │𝐸 (𝐸 − 𝐸𝐹 ) + 2 𝑑𝐸2 │𝐸 (𝐸 − 𝐸𝐹 )2
𝐹 𝐹

Berdasarkan definisi ψ(𝐸) dalam persamaan sebelumnya maka kita dapatkan


𝐸
ψ(𝐸𝐹 ) = ∫0 𝐹 𝜑(𝐸)𝑑𝐸

dψ 𝑑𝜑 dψ
= 𝑠𝑒ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 │𝐸 = 𝜑(𝐸𝐹 )
dE 𝑑𝐸 dE 𝐹

d2 ψ 𝑑𝜑 d2 ψ d2 𝜑
= 𝑠𝑒ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 │ = │𝐸
dE2 𝑑𝐸 dE2 𝐸 𝐹 dE2 𝐹

Sehingga,
𝐸 1 𝑑𝜑
ψ(𝐸) = ∫0 𝐹 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 + 𝜑(𝐸𝐹 )(𝐸 − 𝐸𝐹 ) + 2 𝑑𝐸 │𝐸 (𝐸 − 𝐸𝐹 )2
𝐹

kemudian,
∞ 𝐸𝐹
1 𝑑𝜑 𝑑𝑓
𝐼 = − ∫ {∫ 𝜑(𝐸) 𝑑𝐸 + 𝜑(𝐸𝐹 )(𝐸 − 𝐸𝐹 ) + │𝐸 (𝐸 − 𝐸𝐹 )2 } − 𝑑𝐸
0 0 2 𝑑𝐸 𝐹 𝑑𝐸
𝐸𝐹 ∞∞
𝑑𝑓 𝑑𝑓
= − ∫ 𝜑(𝐸) 𝑑𝐸 − ∫ 𝑑𝐸 − 𝜑(𝐸𝐹 ) ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 ) 𝑑𝐸
0 0 𝑑𝐸 0 𝑑𝐸
1 𝑑𝜑 𝑑𝑓
− │𝐸 (𝐸 − 𝐸𝐹 )2 𝑑𝐸
2 𝑑𝐸 𝐹 𝑑𝐸
𝐸𝐹 ∞ ∞
𝑑𝑓 1 𝑑𝜑 𝑑𝑓
= − ∫ 𝜑(𝐸) 𝑑𝐸[𝑓(∞) − 𝑓(0)] − 𝜑(𝐸𝐹 ) ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 ) 𝑑𝐸 − │𝐸 ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 )2 𝑑𝐸
0 0 𝑑𝐸 2 𝑑𝐸 𝐹 0 𝑑𝐸
𝐸𝐹 ∞ ∞
𝑑𝑓 1 𝑑𝜑 𝑑𝑓
= − ∫ 𝜑(𝐸) 𝑑𝐸[𝑓(0) − 𝑓(1)] − 𝜑(𝐸𝐹 ) ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 ) 𝑑𝐸 − │𝐸 ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 )2 𝑑𝐸
0 0 𝑑𝐸 2 𝑑𝐸 𝐹 0 𝑑𝐸
𝐸𝐹 ∞ ∞
𝑑𝑓 1 𝑑𝜑 𝑑𝑓
= − ∫ 𝜑(𝐸) 𝑑𝐸 − 𝜑(𝐸𝐹 ) ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 ) 𝑑𝐸 − │𝐸 ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 )2 𝑑𝐸
0 0 𝑑𝐸 2 𝑑𝐸 𝐹 0 𝑑𝐸

Perhatian integral suku kedua diruas kanan persamaan di atas. fungsi 𝑑𝑓 ⁄𝑑𝐸
merupakan fungsi genap di sekitar 𝐸𝐹 , seperti diperlihatkan gambar 11.3. fungsi
(𝐸 − 𝐸𝐹 ) sendiri merupakana fungsi ganjil di sekitar 𝐸𝐹 . Dengan demikian,
perkalian (𝐸 − 𝐸𝐹 ) 𝑑𝑓⁄𝑑𝐸 merupakan fungsi ganjil disekitar 𝐸𝐹 sehingga integral

11
perkalian tersebut dalam daerah dari 𝐸 yang jauh lebih kecil dari 𝐸𝐹 sampai 𝐸 yang
lebih besar dari 𝐸𝐹 hasilnya nol. Dengan demikian kita peroleh
𝐸𝐹 ∞
1 𝑑𝜑 𝑑𝑓
𝐼=∫ 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 − │𝐸 ∫ (𝐸 − 𝐸𝐹 )2 𝑑𝐸
0 2 𝑑𝐸 𝐹 0 𝑑𝐸

Selanjutnya, dari fungsi distribusi Fermi-Dirac kita akan dapatkan


𝑑𝑓 exp[𝐸−𝐸𝐹 ]/𝑘𝑇 1
= (exp[𝐸−𝐸 2
Untuk
𝑑𝐸 𝐹 ]/𝑘𝑇+1) 𝑘𝑇
menyelesaikan integral di ruas kanan persamaan sebelumnya mari kita
definisikan 𝑥 = (𝐸 − 𝐸𝐹 )/𝑘𝑇.

Dengan definisi tersebut maka


𝑑𝑓 𝑒𝑥 1
= (𝑒 𝑥 +1)2 𝑘𝑇
𝑑𝐸

(𝐸 − 𝐸𝐹 )2 = (𝑘𝑇)2 𝑥 2

𝑑𝐸 = 𝑘𝑇 𝑑𝑥

Selanjutnya kita tentukan syarat batas untuk 𝑥. Jika 𝐸 = 0 maka 𝑥 =


−𝐸𝐹 /𝑘𝑇 dan jika 𝐸 = ∞ 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑥 = ∞. Akhirnya persamaan di atas dapat ditulis
sebagai
𝐸𝐹 ∞
1 𝑑𝜑 −𝑒 𝑥 1
𝐼=∫ 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 − │𝐸 −𝐸 /𝑘𝑇 ∫ (𝑘𝑇)2 𝑥 2 𝑥 2
𝑘𝑇 𝑑𝑥
0 2 𝑑𝐸 𝐹 𝐹 0 (𝑒 + 1) 𝑘𝑇
𝐸 1 𝑑𝜑 ∞ −𝑒 𝑥
= ∫0 𝐹 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 + 2 𝑑𝐸 │𝐸 (𝑘𝑇)2 ∫−𝐸 /𝑘𝑇
𝑥2 (𝑒 𝑥 +1)2
𝑑𝑥
𝐹 𝐹

12
Untuk 𝑇 sekitar suhu kamar maka berlaku 𝐸𝐹 ≫ 𝑘𝑇 sehingga → ∞.
Dengan demikian
𝐸 1 𝑑𝜑 ∞ 𝑒𝑥
𝐼 ≈ ∫0 𝐹 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 + 2 𝑑𝐸 │𝐸 (𝑘𝑇)2 ∫−∞ 𝑥 2 𝑑𝑥
𝐹 (𝑒 𝑥 +1)2

Dengan menggunakan matematika, kita dapat menentukan dengan


mudah bahwa integral diruas kanan memiliki hasil 𝜋 2 /3. Jadi
𝐸 1 𝑑𝜑 𝜋2
𝐼 ≈ ∫0 𝐹 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 + 2 𝑑𝐸 │𝐸 (𝑘𝑇)2
𝐹 3

𝐸 1 𝑑𝜑 𝜋2
= ∫0 𝐹 𝜑(𝐸)𝑑𝐸 + │𝐸 (𝑘𝑇)2
2 𝑑𝐸 𝐹 6

Persamaan tersebut di atas adalah bentuk umum yang akan kita gunakan
untuk mencari integral yang melibatkan fungsi Fermi Dirac.

5. Teori Bintang Katai Putih

Bintang katai putih adalah bintang yang sudah kehabisan bahan bakar hydrogen.
Tidak ada reaksi fusi lebih lanjut. Materi penyusun bintang hanyalah helium.Sumber
energi bintang semata-mata karena energi gravitasi yang berasal dari kontraksi bintang
secara perlahan-lahan. Energi yang dipancarkan sangat sedikit sehingga bintang tampak
putih remang-remang. Contoh bintang ini adalah pengiring Sirius. Bintang ini tidak
tampak oleh mata karena terlalu redup tetapi secara periodik menutup sirius. Bintang ini
dan sirius berotasi mengelilingi pusat massa keduanya.

Perkiraan besaran-besaran fisis bintang katai putih

Kerapatan  1010 kg/m3 107

Massa  1030 kg 

13
Suhu pusat  107 K  TM

Suhu sebesar 107 K berkaitan dengan energi sebesar kT  1,3  10-16 J  10-3 eV.
Pada suhu ini semua atom helium terionisasi. Bintang katai putih dapat dipandang
sebagaiu kumpulan inti helium dan lektron-elektron yang bergerak bebas

Berdasarkan data kerapatan biontang kita dapat memperkirakan jumlah atom


helium persatuan volume. Massa atom helium adalah 4  (1,67  10-27 kg )  6  10-27
kg. Jumlah atom helium per satuan volum adalah
𝜌 1
𝑁𝑁𝑒 = = × 1037 atom/𝑚3
6×10−27 6

Satu atom helium menyambung dua elektron. Dengan demikian, kerapatn


elektron adalah

1
𝑛 = 2𝑁𝑁𝑒 = × 1037 𝑒𝑙𝑒𝑘𝑡𝑟𝑜𝑛/𝑚3
3
Kerapatan ini melahirkan energi fermi sebesar
3⁄2 3⁄2
2𝜋ħ 3√𝜋 2𝜋ħ 3𝑛√𝜋
𝐸𝑟 = ( ) ( 4𝑣 ) = ( 𝑚 )( ) ≈20 MeV
𝑚 4𝑣

Tampak bahwa EF>> energi termal

Dapat dikatakan bahwa dalam bintang katai putih, elektron menempati tingkat-tingkat
energi paling dasar, jjauh di bawah energi fermi. Keadaan ini sangat mirip dengan
assembli elektron yang berada pada suhu mendekati nol.

Jadi meskipun suhu bintang katai sangat tinggi, tetapi kerapatn yang luar biasa tinggi
menyebabkan energi fermi sangat besar. Energi yang dimiliki elektron sangat jauh di
bawah energi fermi. Dari sifat ini kita dapat lakukan idealisasi sbb

a) Bintang katai putih adalah adalah assembli N elektron pada keadaan dasar dengan
kerapatan sangat tinggisehingga dinamika elektron harus dijelaskan secara
relativistik
b) Elektron bergerak dalam N/2 buah inti helium yang melakukan gaya gravitasi
sehingga seluruh sistem menyatu membentuk bintang.
Ada 3 mekanisme yang harus diperhitungkan secara bersama pada bintang katai putih,
yaitu :

a) Tekanan elektron akibat ekslusi Pauli


b) Hukum gravitasi
c) Dinamika relativistik

14
Perhitungan yang sedikit rumit menghasilkan tekanan yang dihasilkan gas Fermi dalam
bintang katai putih memenuhi

 untuk kasus non relativistik


4 𝑀̅ 5⁄3
𝑃0 ≈ 𝐾 5
5 𝑅̅
 untuk kasus relativistik
̅ 4⁄3 𝑀
𝑀 ̅ 2⁄3
𝑃0 ≈ 𝐾 ( 4 − 2 )
𝑅̅ 𝑅̅

Dengan

𝑚𝑒 𝑐 2 𝑚𝑒 𝑐 3
𝐾=− ( )
12𝜋 2 ħ
9𝜋 𝑀
̅=
𝑀
8 𝑚𝑝

𝑅
𝑅̅ =
ħ⁄𝑚𝑒 𝑐

Gambar 2.2. ketergantungan tekanan jari-jari bintang untuk kasus


relativistik dan nonrelativistik

15
RINGKASAN ISI BUKU PEMBANDING
2.1 Partikel Fermi
Dalam azas larangan Pauli “ untuk atom yang memiliki lebih dari satu ellektron, misalnya
Natrium, elekton-elektron tidak berkumpul ditingkat energi rendah, karen amsing- masing status
hanya boleh ditempati tidak lebih dari satu elektron. Tingkat paling rendah ( n =1) hanya boleh
ditempati oleh dua elektron, yang satu spin nya keatas dan yang lainnya spinnya kebawah.
Sedangkan tingkat energi berikutnya, ( n = 2), akan ditempati oleh 8 elektron, dan seterusnya,
tingkat energi ke - n akan diisi oleh 2n2 elektorn dengan konfigurasi yang didasarkan kepada
azas larangan Pauli. Azaz larangan Pauli ini, diperoleh sebagi konsekuensi dari sifat elektron
sebagai gelombang, seperti yang sudah disinggung diatas. pada mekanika kuantum untuk
partikel identik, akan ditemuakan bahwa fungsi gelombang totalnya, hanya boleh simetrik atau
anti simetrik terhadap pertukaran dua partikel. Azas larangan Pauli, akan muncul dengan
sendirinya, apabila kita memilih fungsi gelombang total yang anti simetrik. Partikel - partikel
yang memiliki sifat seperti ini, misalnya elektron, proton dinamakan “partikel fermi” atau
“Fermiun”. Dalam pokok bahasan ini akan dibahas tentang partikel- partikel fermi tersebut,
melalui statistik yang disebut “statistik fermi-Dirac” yang dikembang oleh Enrico Fermi dari
Italia dan P. Dirac dari Inggris.

2.2 Fungsi Distribusi Fermi Dirac


Distribusi Fermi Dirac ini memiliki 2 ciri khas yaitu: a. Partikel-partikel dalam sistem tidak
dapat dibedakan antara yang satu dengan yang lain. b. Satu status atau keadaan enerrgi, hanya
boleh diisi oleh satu partikel artinya tidak boleh diisi lebih dari satu partikel. Bila dilihat dengan
contoh sebuah partikel bebas bemassa m, dalam ruangan yang volume V, status energi partikel
itu ditentukan oleh 3 bilangan kuantum yaitu (nx, ny, dan nz yang merupakan bilangan bulat dari
0,1,2,3....

2.3 Hukum Distribusi Fermi Dirac


Elektron bebas mempunyai spin s=1/2, sehingga bilangan kuantum magnetiknya ms = ±1/2;
dalam keadaan tidak ada medan magnet elektron memiliki 2 keadaan yang berenergi sama
(degenerate). Jadi gi=2. Elektron dalam atom memiliki fungsi keadaan yang ditandai dengan
bilangan-bilangan kuantum: n, l, ml , s, ms

16
Untuk suatu harga ℓ ada (2ℓ +1) buah harga m ℓ ; sedangkan dengan s = 1/2, ada dua harga
ms = 1/2, -1/2. Jadi, tanpa medan magnet, ada 2(2 ℓ +1) buah keadaan yang degenerate. Jadi
gi = 2(2 ℓ +1). Berdasarkan prinsip Pauli, untuk suatu pasangan n, l, ml , s, ms hanya bisa
ditempati oleh satu elektron. Jadi ni ≤ gi.
Jika tingkat energi, Ei, akan diisi dengan ni buah elektron, maka dengan degenerasi gi,
jumlah cara mengisikan partikel adalah: gi(gi-1) (gi-2)…….. (gi-ni+1).
Energi eφadalah energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron
dari logam. Dalam kasus efek fotolistrik, elektron dilepaskan jika foton hν≥eφ. Besaran
φadalah potensial yang disebut fungsi kerja dari logam. Pada suhu tinggi, beberapa elektron
menempati keadaan di atas energi EF (lihat gambar (b)). Pada suhu yang cukup tinggi
beberapa elektron memperoleh energi sebesar E=EF+eφ sehingga lepas dari logam. Proses
ini disebut emisi termionik, dan merupakan dasar bagi tabung elektron.

2.4 SEMIKONDUKTOR DAN STATISTIK FERMI DIRAC


1. Pembawa Muatan Pada Semikonduktor
Gambar 2 adalah diagram pita energi dari semikonduktor, yang memperlihatkan pita
konduksi, vita valensi dan celah pita. Elektron pada pita valensi terikat pada atom Kristal.
Mereka membutuhkan beberapa energi tambahan untuk melintasi pita terlarang menuju pita
konduksi. Untuk mengukur konsentrasi elektron, kita hitung jumlah elektron pada pita
konduksi tiap satuan volume (cm3). Ini disimbolkan dengan n. Ketika sistem dalam
kesetimbangan, ditunjukkan dengan n0.

Gambar 2. Diagram pita energi

17
Ketika elektron meninggalkan pita valensi menuju pita konduksi, terbebas dari ikatan
utama, meninggalkan tempat kosong dibelakangnya untuk electron lain yang berada pada pita
valensi. Daerah yang kosong ini disebut ‘hole’ dan efektivitas yang dimilikinya menyerupai
partikel bermuatan positif. Jumlah hole pada pita valensi tiap satuan volume disebut dengan
‘konsentrasi hole’ dan disimbolkan dengan p. Pada kesetimbangan kita sebut p0.
Jika dimisalkan, medan listrik luar diberikan pada material, elektron pada pita konduksi
akan bebas pindah ke arah berlawanan dari medan karena banyak tempat sekitar yang cocok
dengan level energinya. Dibawah pengaruh dari medan yang sama, elektron pada pita valensi
juga dapat pindah, tapi hanya jika keadaannya cocok dengan level energinya (keadaan yang
cocok dengan pita valensi), dan mereka berkontribusi terhadap konduksi pada pita valensi jika
mereka adalah hole. Saat mengamati beberapa elektron pada pita valensi, kita anggap gerak
efektif dari hole, dengan arah yang sama terhadap medan listrik, seperti terlihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Elektron dan hole pada pita valensi dan konduksi

2. Material Intrinsik dan Ektrinsik


Semikonduktor intrinsik idealnya adalah kristal sempurna. Ketika elektron di
semikonduktor mendapat sedikit saja energi, maka dia bisa pindah menuju pita konduksi dan
meninggalkan hole. Proses ini disebut Elektron Hole Pair (pasangan elektron hole) EHP.
Untuk material intrinsik, karena elektron dan holenya selalu berpasangan, maka:
n = p = ni (1)
dimana ni adalah simbol untuk ‘pembawa konsentrasi intrinsik’

18
Pada temperatur ruang, secara relatif sedikit elektron dengan sedikit energi termal untuk
membuat lompatan ini. Faktanya, kadang hanya satu elektron tiap 6,9×1012 atom silikon.
Sehingga pembawa konsentrasi intrinsik silikon dalam temperatur ruang dapat ditulis
dengan pendekatan:
1 (2)
ni = 1,45×1010 [cm3] silikon, 300 K

Semikonduktor intrinsik awalnya dibuat dari atom yang berbeda, disebut atom dopant
dalam kristal. Ada dua jenis material intrinsik:
a. Tipe-n. Atom dopanT ditambahkan ke kristal semikonduktor yang disebut atom donor.
Untuk silikon, kita bisa menggunakan Fospor (p), Arsenik (As) atau Antimonium
(Sb) sebagai donor. Mereka adalah elemen golongan 5, yang mempunya 5 elektron di
kulit terluar. Ketika atom ini dimasukkan ke dalam kristal silikon, satu elektron di kulit
dapat dengan mudah melompat ke pita konduksi meninggalkan muatan positif. Proses
ini kadang-kadang disebut ‘aktivasi’ atau ‘ionisasi’ atom donor. Gambar 4
memperlihatkan energi yang dibutuhkan atom tersebut dalam silikon, dapat kita lihat
mereka sangat kecil dibandingkan celah pita silikon.
Atom donor muatan positif yang ditinggalkan setelah ionisasi tak bergerak dan
tidak berkontribusi terhadap konduksi. Elektron meninggalkan atom dengan ionisasi,
dihitung sebagai konsentrasi elektron n. Karena aktivasi elektron rendah pada
temperatur ruang, hampir semua atom donor yang dimasukkan dalam kristal
memberikan elektron ke pita konduksi. Sehingga jika ND adalah konsentrasi donor
untuk material tipe-n, maka persamannya:
1 (3)
n0 ≈ ND [cm3]

19
Gambar 4. Level energi ionisasi donor dan penerima.

b. Tipe-p. Atom dopant pada kasus ini sebagai atom penerima


Untuk silikon, kita bisa menggunaan Boron (B), Alumunium (Al) dan Galium
(Ga) sebagai penerima. Mereka adalah elemen golongan 3, yang mempunyai tiga
elektron di kulit terluar. Ketika atom ini dimasukkan ke dalam kristal silikon, satu
elektron pada pita valensi silikon dapat dengan mudah melompat ke kulit valensi atom
penerima, meninggalkan hole dan membuat atom penerima menjadi bermuatan negatif.
Gambar 4 memperlihatkan keadaan level energi kulit valensi atom relatif terhadap pita
valensi silikon.
Atom penerima bermuatan negatif setelah elektron bergabung dengan kulit
valensi, dia tidak bergerak dan tidak berkontribusi terhadap konduksi. Hole yang
ditinggalkan oleh elektron, dapat dihitung dalam konsentrasi hole p. Karena energi
aktivasi rendah pada temperatur ruang, hampir semua atom penerima yang dimasukkan
akan menerima elektron dari pita valensi. Sehingga jika NA adalah konsentrasi penerima
untuk material tipe-p persamaannya:
1 (4)
p0 ≈ NA [cm3 ]

20
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Fermi – Dirac
Pada buku utama Fermi Dirac menjelaskan bahwa koordinat suatu bilik dalam ruang fase
dapat di analogikan sebagai bilangan kuantum. Berdasarkan prinsip larangan Pauli, tidak boleh
ada dua partikel yang memiliki 4 bilangan kuantum yang sama. Larangan Pauli berimplikasi
bahwa ada dua partikel dalam satu bilik. Alasannya, bilangan kuantum spin untuk partikel
fermion hanya ada dua kemungkinan yaitu + ½ atau – ½.

Sedangkan pada buku pembanding, Fermi Dirac menjelaskan bahwa untuk atom yang
memiliki lebih dari satu ellektron, misalnya Natrium, elekton-elektron tidak berkumpul ditingkat
energi rendah, karen amsing- masing status hanya boleh ditempati tidak lebih dari satu elektron.
Tingkat paling rendah ( n =1) hanya boleh ditempati oleh dua elektron, yang satu spin nya keatas
dan yang lainnya spinnya kebawah. Sedangkan tingkat energi berikutnya, ( n = 2), akan
ditempati oleh 8 elektron, dan seterusnya, tingkat energi ke - n akan diisi oleh 2n2 elektorn
dengan konfigurasi yang didasarkan kepada azas larangan Pauli.

3.2 Aplikasi Fermi – Dirac

Pada buku utama dan buku pembanding memiliki aplikasi yang sama diantaranya sebagai
berikut :

1. Fungsi Distribusi Fermi Dirac pada Suhu 0 K


2. Energy Fermi
3. Fungsi Distribusi Fermi Dirac pada Suhu T > 0 K
4. Integral yang Mengandung Fungsi Fermi Dirac
5. Teori Bintang Katai Putih

3.3 Kelebihan dan Kekurangan Buku


3.4.1 Kelebihan Buku

Dari aspek layout dan tata letak, buku utama terlihat buku klasik. Penggunaan font pada
buku pertama juga cukup jelas sehingga tidak menyulitkan untuk dibaca.

Dari aspek informasi yang diberikan, buku utama lebih banyak memberikan informasi.
Namun, pada buku pembanding juga ada memberikan informasi yang tidak ada di buku utama.

21
3.4.2 Kekurangan Buku

Buku utama merupakan buku yang usianya sudah cukup tua dibandingkan dengan buku
pembanding. Namun, walupun begitu informasi yang diberikan pada buku utama tidak sedikit.

Sub bab yang ada pada buku pembanding tidak begitu lengkap, sehingga untuk beberapa
informasi yang tidak ada di terdapat di buku pembanding harus dillihat lagi dari buku utama atau
dari buku referensi yang lain untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai filsafat ilmu.

22
DAFTAR PUSTAKA

Rajagukguk Juniatel, Makmur Sirait, Nurdin Siregar, Rappel Situmorang. 2018. Dasar Fisika
Statistik Pendekatan Makroskopik dan Termodinamika. Tanggerang : Mahara Publishing

Sukarmin. 2011. Fisika Statistik. Yogyakarta : PT Yuma Pustaka.

23