Anda di halaman 1dari 31

BIOMEDIK II

HORMON & SIKLUS KREBS

OLEH
KELOMPOK 4

1. MARIA APOLONIA INA ABO


2. SHAFIRA AURA RAMADHANI
3. STELI STEVANIA RUNESI
4. MALTHIDIS DOLVINA DONA
5. AKRINCE MALEIMAKUMI
6. LOISA JUMEIGA S. METKONO
7. MEILIANA RISKA GALA TUA
8. MERI YANI DEREK SUIDALE
9. PRIMA D. ANOIT
10. HENRICO T. BAGO
11. DEDI H. LAITABUN
12. SIRONIMA SURYANI
13. MARCEL TULASI

PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2018

Hormon dan Siklus Krebs Page 1


HORMON DAN SIKLUS KREBS

1. HORMON
A. Definisi, Klasifikasi hormon (menurut struktur molekul & menurut
mekanisme kerja/lokasi reseptor) dan Transporter hormon
a. Pengertian Hormon
Hormon merupakan senyawa kimia organik yang dihasilkan oleh kelenjar
endokrin dan mempunyai fungsi tertentu atau spesifik dalam mengontrol sistem
pada tubuh manusia. Pada prinsipnya, pengaturan produksi hormon dilakukan
oleh hipotalamus.
Hormon berasal dari bahasa Yunani “hormao” yang berarti menggerakan atau
membangkitkan. Hal ini mencerminkan peran hormon yang bertindak sebagai
katalis untuk perubahan kimia lainnya pada tingkat sel yang diperlukan untuk
pertumbuhan, perkembangan, dan energi. Hormon beredar bebas dalam aliran
darah, menunggu untuk dikenali oleh sel target yang menjadi tujuan mereka. Sel
target memiliki reseptor yang hanya dapat diaktifkan dengan jenis hormon
tertentu. Setelah diaktifkan, sel tahu untuk memulai fungsi tertentu, misalnya
mengaktifkan gen atau memproduksi energi kembali.
b. Klasifikasi Hormon
 Klasifikasi hormon berdasarkan struktur kimianya dibedakan dalam beberapa
kelompok, yaitu:
1. Hormon Amina
Hormon ini merupakan molekul hormon paling sederhana. Modifikasi dari
senyawa asam amino tyrosine, contohnya hormon tiroid epineprin dan
norepineprin.
2. Hormon Steroid
Molekul hormon steroid merupakan derivat kolesterol. Contohnya
testosteron, estrogen, progesteron, mineralokortikoids, dan glukokortikoid.
Steroid dapat melintasi membran plasma.
3. Hormon Protein atau Peptida
Molekul hormon protein tersusun dari rantai asam amino. Hormon ini
merupakan kelompok terbesar dan diarahkan oleh mRNA pada
endoplasmic retikulum, sebagian besar dibentuk sebagai pheromone.

Hormon dan Siklus Krebs Page 2


Contohnya insulin, hypothalamus-signaling hormons. Hormon protein tidak
dapat melintasi membran plasma.
 Klasifikasi hormon berdasarkan lokasi reseptor, dibagi atas:
1. Hormon yang berikatan dengan reseptor intraseluler
2. Hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel (plasma membran)
 Klasifikasi hormon berdasarkan mekanisme kerja reseptornya dibagi atas :
1. Hormon Steroid
Cara kerja hormon ini adalah dengan cara menduduki reseptor yang terletak
di mebran sel. Hormon selanjutnya akan mengaktifkan second messenger
yang akan mengaktifkan protein kinaseyang menyebabkan berbagai
aktivitas sel.
2. Hormon Nonsteroid
Hormon ini mudah melewati membran sel dan reseptornya di sitoplasma.
Kompleks hormon reseptor memasuki inti sel, mengaktifkan DNA pada
kromatin untuk transkripsi mRNA yang selanjutnya ditranslasi untuk
menghasilkan protein atau enzim.
c. Transporter Hormon
Hormon beredar di dalam sirkulasi udara dan fluida cell untuk mencari sel
target. Ketika hormon menemukan sel target, hormon akan mengikat protein
reseptor tertentu pada permukaan sel tersebut dan mengirimkan signal. Reseptor
protein akan menerima signal tersebut dan bereaksi dengan baik dengan
mempengaruhi ekspresi genetic sel atau mengubah aktivitas protein selular,
termasuk diantaranya adalah perangsangan atau penghambatan pertumbuhan serta
apoptosis (kematian sel terprogram), pengaktifan atau penonaktifan sistem
kekebalan, pengaruh metabolisme dan persiapan aktivitas baru (misalnya
terbang,kawin,dan perawatan anak), atau fase kehidupan (misalnya pubertas dan
menopause). Pada banyak kasus, satu hormon dapat mengatur produksi dan
pelepasan hormon lainnya. Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada hampir
semua organisme multiseluler.

Hormon dan Siklus Krebs Page 3


B. Pengaturan Umpan Balik Hormon
Hormon mengontrol banyak kegiatan sel, sehingga mereka sangat penting
untuk homeostasis. Kebanyakan hormon diatur oleh mekanisme umpan balik.
Mekanisme umpan balik loop di mana produk umpan kembali untuk mengontrol
produksi sendiri. Kebanyakan mekanisme umpan balik hormon melibatkan loop
umpan balik negatif.
Umpan balik Negatif
Umpan balik negatif terjadi ketika produk umpan kembali untuk mengurangi
produksi sendiri. Jenis umpan balik membawa sesuatu kembali normal setiap kali
mereka mulai menjadi terlalu ekstrim. Kelenjar tiroid adalah contoh yang baik
dari jenis regulasi ini. Hal ini dikendalikan oleh loop umpan balik negative.
Berikut adalah cara kerja regulasi tiroid. Hipotalamus thyrotropin-releasing
hormone, atau TRH. TRH merangsang kelenjar pituitari untuk menghasilkan
thyroid-stimulating hormone, atau TSH. TSH, pada gilirannya, merangsang
kelenjar tiroid untuk mengeluarkan hormon tersebut. Ketika tingkat hormon tiroid
sudah cukup tinggi, umpan balik hormon untuk menghentikan hipotalamus
mengeluarkan dari TRH dan pituitari mensekresi TSH.
Tanpa stimulasi TSH, kelenjar tiroid berhenti mensekresi hormon tersebut.
Segera, tingkat hormon tiroid mulai turun terlalu rendah.
Umpan balik Positif
Umpan balik positif terjadi ketika produk umpan kembali untuk meningkatkan
produksi sendiri. Hal ini menyebabkan kondisi menjadi semakin ekstrim. Contoh
dari umpan balik positif adalah produksi susu oleh seorang ibu untuk bayinya.
Saat bayi menyusu, pesan saraf dari puting menyebabkan kelenjar pituitari
mensekresi prolaktin. Prolaktin, pada gilirannya, merangsang kelenjar susu untuk
menghasilkan susu, sehingga bayi menyusu lagi. Hal ini menyebabkan lebih
banyak prolaktin yang akan dikeluarkan dan lebih banyak susu yang diproduksi.
Contoh ini merupakan salah satu mekanisme umpan balik positif beberapa di
tubuh manusia.

Hormon dan Siklus Krebs Page 4


C. Hormon Tiroid
Hormon tiroid adalah salah satu hormon paling penting dalam tubuh karena
keberadaannya memengaruhi tiap sel dan organ. Hormon ini diproduksi oleh
kelenjar berbentuk seperti kupu-kupu yang berada di tengah leher bagian depan.
Ada tiga hormon yang diproduksi dan dilepaskan oleh kelenjar tiroid, yaitu
tiroksin (T4), triiodothyronine (T3), dan kalsitonin. Karena hormon tiroid
memegang peranan penting bagi tubuh, produksi yang berlebihan maupun terlalu
sedikit akan berdampak langsung kepada kesehatan tubuh secara umum.
Fungsi Hormon Tiroid
1) Melakukan kontrol terhadap proses pembakaran kalori yang dilakukan oleh
tubuh. Kontrol metabolisme ini dapat berdampak kepada kenaikan atau
penurunan berat badan seseorang.
2) Mengontrol kecepatan pengolahan makanan dalam sistem pencernaan.
3) Membantu mengatur irama detak jantung dan tekanan darah.
4) Menaikkan atau menurunkan suhu tubuh.
5) Mengontrol kecepatan tubuh dalam melakukan reproduksi sel.
6) Membantu pertumbuhan pada anak-anak.
7) Mengoptimalkan pertumbuhan otak, terutama pada anak-anak.
Untuk bisa bekerja secara optimal, hormon tiroid memerlukan stimulus dari
kelenjar hipofisis (pituitary). Kelenjar yang berada di otak ini akan memproduksi,
menyimpan, dan melepaskan thyroid stimulating hormone (TSH) atau pemicu
produksi hormon tiroid. Jumlah TSH inilah yang menjadi salah satu penanda
tinggi atau rendahnya hormon tiroid dalam tubuh.
Dampak Kelebihan Hormon Tiroid
Salah satu kondisi yang dapat memengaruhi hormon tiroid adalah
hipertiroidisme. Hipertiroidisme merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid terlalu
aktif memproduksi hormon, sehingga kadar hormon tiroid di dalam darah
menjadi sangat tinggi.
Beberapa gejala kelebihan hormon tiroid, antara lain:
1) Mengalami penurunan berat badan.
2) Gemetar atau tremor.
3) Mengalami kerontokan rambut.
4) Menjadi gugup atau gelisah.
5) Sulit berkonsentrasi.
Hormon dan Siklus Krebs Page 5
Dampak Kekurangan Hormon Tiroid
Jumlah hormon tiroid yang terlalu sedikit lebih dikenal dengan istilah
hipotiroidisme. Hipotiroidisme merupakan kondisi di mana kelenjar tiroid tidak
mampu memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup. Hal inilah yang
membuat proses metabolisme tubuh menjadi terganggu.
Beberapa gejala kekurangan hormon tiroid, antara lain:
6) Mengalami metabolisme tubuh yang lambat.
7) Mudah mengalami kenaikan berat badan.
8) Mudah lelah.
9) Gangguan memori.
10) Susah buang air besar atau konstipasi.

D. Hormon-hormon yang mengatur metabolisme kalsium


Metabolisme kalsium diatur oleh tiga hormon utama yaitu dua
hormon polipeptida, paratiroid dan kalsitonin dan satu hormon sterol yaitu 1,25
dihidrokolekalsiferol.
1. Hormon Paratiroid
Hormon paratiroid merupakan hormon utama yang mengatur metabolisme
kalsium untuk mempertahankan kadar kalsium plasma dalam batas
normal.
Pada keadaan normal hormon paratiroid mempertahankan kadar
kalsium plasma agar t i d a k terjadi hipokalsemi. Dalam
metabolisme kalsium, hormon paratiroid bekerja secara
langsung dengan 2 alat yaitu tulang dan ginjal, sedangkan tidak
langsung dengan usus halus melalui metabolisme vitamin.
2. Kalsitonin
Kalsitonin berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalsium di dalam darah
sehingga mencegah kalsium keluar dari tulang.

Hormon dan Siklus Krebs Page 6


E. Hormon Pankreas dan Gastrointestinal
Hormon Pankreas
Hormon yang paling penting yang pankreas produksi adalah insulin. Insulin
dilepaskan oleh ‘sel beta dalam pulau Langerhans dalam respons terhadap
makanan. Perannya adalah untuk menurunkan kadar glukosa darah dalam aliran
darah dan meningkatkan penyimpanan glukosa dalam lemak, otot, hati dan
jaringan tubuh lainnya.
‘Sel Alpha’ di pulau Langerhans juga menghasilkan hormon penting lain,
yaitu glukagon yang berfungsi untuk meningkatkan kadar gula dalam darah dan
mengubah glikogen menjadi glukosa dalam peristiwa glikolisis. Oleh karena itu,
glukagon dan insulin bekerja bersamaan untuk mengontrol keseimbangan glukosa
dalam aliran darah. Hormon lain yang diproduksi oleh pankreas yaitu pankreas
polipeptida dan somatostatin. Mereka diyakini berperan dalam mengatur sel
insulin dan penghasil glukagon.
Hormon Gastrointestinal
Karakteristik dari sel yang menghasilkan hormon di GI : sel tunggal, tersebar
(lambung dan usus halus), satu sisi distimulasi oleh lumen sisi lainnya menghadap
ke basal, dan dapat distimulasi oleh kimus. Hormon yang dihasilkan seperti biasa
akan dikeluarkan ke darah. Hormon-hormon GI,yaitu: Gastrin yang berfungsi
untuk memacu pengeluaran sel sekret/getah lambung dan membantu dalam proses
pencernaan, Secretin yang berfungsi memacu sekresi getah usus dan pankreas, dan
Kolesistokinin yang berfungsi memacu sekresi getah empedu dan pankreas.

F. Hormon Katekolamin
Katekolamin adalah istilah yang digunakan untuk merujuk sekelompok
hormon yang memiliki gugus katekol yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal
dalam menanggapi stress.
Katekolamin epinefrin dan norepinefrin memerantai respon fisiologik terhadap
keadaan gawat yang dikenal sebagai respon “bertempur atau lari” (fight or flight).
Respon ini berupa perangsangan susunan saraf, peningkatan aliran darah pada
otot, dan mobilisasi energi. Epinefrin dan norepinefrin keduanya disintesis dan
dikeluarkan oleh medulla adrenal. Norepinefrin juga dikeluarkan oleh neuron
susunan saraf simpatis, sehingga fungsinya sebagai hormon dan neurotransmitter.

Hormon dan Siklus Krebs Page 7


2. SIKLUS KREBS
A. Berbagai sumber asetil Ko-A, fungsi amfibolik, dan tempat pembentukan
ATP pada siklus Krebs
a. Sumber asetil Ko-A
Saat memasuki mitokondria melalui transpor aktif, piruvat pertama-tama
diubah menjadi senyawa yang disebut asetil koenzim A, atau asetil KoA
(acetyl CoA). Langkah ini, persambungan antara glikolisis dan siklus asam
sitrat, diselesaikan oleh suatu kompleks multienzim yang mengkatalisis tiga
reaksi:
1) Gugus karboksil (-COO-) piruvat, yang telah dioksidasi sepenuhnya
sehingga hanya memiliki sedikit energi kimia, disingkirkan dan
dilepaskan sebagai CO2. (Inilah langkah pertama yang melepaskan
CO2 selama respirasi.)
2) Fragmen berkarbon-dua yang tersisa dioksidasi, membentuk senyawa
yang dinamai asetat (bentuk terionisasi dari asam asetat). Suatu enzim
mentransfer elektron-elektron yang terekstraksi ke NAD+, menyimpan
energi dalam bentuk NADH.
3) Terakhir, koenzim A (KoA), suatu senyawa pengandung-sulfur yang
berasal dari vitamin B, dilekatkan ke asetat oleh suatu ikatan tak stabil
yang membuat gugus asetil (asetat yang melekat) menjadi sangat
reaktif. Karena sifat kimia gugus KoA, produk penyimpanan kimiawi
ini, asetil KoA, memiliki energi potensial yang tinggi; dengan kata lain,
reaksi asetil KoA untuk menghasilkan produk-produk yang berenergi
lebih rendah sangatlah eksergonik. Molekul tersebut kini siap
memasukka gugus asetilnya ke dalam siklus asam sitrat untuk
dioksidasi lebih lanjut
b. Fungsi Amfibolik Siklus
Siklus asam sitrat adalah katabolic sebab terlibat dalam penguraian dan
penghasil energi utama dalam sebagian besar organisme. Akan tetapi beberapa
jalur fotosintesis menggunakan senyawa intermedier dalam siklus asam sitrat
sebagai senyawa awalnya (anabolisma). Jadi siklus asam sitrat bersift
amfibolik , katabolic maupun anabolic. Semua jalur biosintesis yang
menggunakan senyawa intermedier siklus asam sitrat juga memerlukan energi

Hormon dan Siklus Krebs Page 8


bebas. Konsekuensinya, fungsi katabolic siklus tidak dapat diganggu: senyawa
intermedier yang sudah digunakan harus digantikan.
Siklus asam sitrat bersifat amfibolik, yang artinya memiliki dua sifat yaitu
anabolik (sintesis molekul untuk menjadi senyawa yang lebih kompleks)
maupun katabolik (pemecahan molekul menjadi molekul yang lebih
sederhana) hal ini disebabkan karena senyawa intermidiete harus digantikan.
c. Tempat Pembentukan ATP pada Siklus Kreb
Mitokondria terdiri dari membran luar, membran dalam dan bahan
seperti gel disebut matriks. Matriks ini lebih kental daripada sitoplasma sel
karena mengandung sedikit air. Matriks mitokondria memiliki beberapa fungsi
yang salah satunya adalah sebagaitempat di mana siklus asam sitrat
berlangsung. Ini merupakan langkah penting dalam respirasi selular, yang
menghasilkan molekul energi yang disebut ATP.
Mitokondria banyak terdapat pada sel yang memilki aktivitas
metabolisme tinggi dan memerlukan banyak ATP dalam jumlah banyak,
misalnya sel otot jantung. Jumlah dan bentuk mitokondria bisa berbeda-beda
untuk setiap sel. Mitokondria berbentuk elips dengan diameter 0,5 µm dan
panjang 0,5 – 1,0 µm. Struktur mitokondria terdiri dari empat bagian utama,
yaitu membran luar, membran dalam, ruang antar membran, dan matriks yang
terletak di bagian dalam membrane.
Membran luar terdiri dari protein dan lipid dengan perbandingan yang
sama serta mengandung protein porin yang menyebabkan membran ini
bersifat permeabel terhadap molekul-molekul kecil yang berukuran 6000
Dalton. Dalam hal ini, membran luar mitokondria menyerupai membran luar
bakteri gram-negatif. Selain itu, membran luar juga mengandung enzim yang
terlibat dalam biosintesis lipid dan enzim yang berperan dalam proses transpor
lipid ke matriks untuk menjalani β-oksidasi menghasilkan asetil-KoA.
Membran dalam yang kurang permeabel dibandingkan membran luar
terdiri dari 20% lipid dan 80% protein. Membran ini merupakan tempat utama
pembentukan ATP. Luas permukaan ini meningkat sangat tinggi diakibatkan
banyaknya lipatan yang menonjol ke dalam matriks, disebut krista. Stuktur
krista ini meningkatkan luas permukaan membran dalam sehingga
meningkatkan kemampuannya dalam memproduksi ATP. Membran dalam
mengandung protein yang terlibat dalam reaksi fosforilasi oksidatif, ATP
Hormon dan Siklus Krebs Page 9
sintase yang berfungsi membentuk ATP pada matriks mitokondria, serta
protein transpor yang mengatur keluar masuknya metabolit dari matriks
melewati membran dalam.
Ruang antar membran yang terletak di antara membran luar dan
membran dalam merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi yang penting
bagi sel, seperti siklus Krebs, reaksi oksidasi asam amino, dan reaksi β-
oksidasi asam lemak. Di dalam matriks mitokondria juga terdapat materi
genetik, yang dikenal dengan DNA mitkondria (mtDNA), ribosom, ATP,
ADP, fosfat inorganik serta ion-ion seperti magnesium, kalsium, dan kalium.

B. Glikolisis Embden Meyerhof, Glikolisis Aerob dan Anaerob


a) Glikolisis Embden Meyerhof
Reaksi ini disebut glikolisis, pemecahan gula secara anaerob sampai
asam piruvat yang dilakukan oleh kebanyakan jasad dari tingkat tinggi
hingga tingkat rendah. Reaksi glikolisis terjadi dalam sitoplasma dan tidak
menggunakan oksigen sebagai aseptor elektronnya, melainkan zat lain.
Asam piruvat mempunyai kedudukan yang penting karena merupakan
titik pusat dari berbagai reaksi pemecahan maupun pembentukan. Jasad
yang fakultatif anaerob misalnya Saccharomyces cerevisiae melakukan
fermentasi gula secara anaerob menjadi alkohol dan CO2. Lactobacillus
spp. yang homo fermentatif merombak gula secara anaerob menjadi asam
laktat. Jasad yang obligat anaerob seperti Clostridium spp. memecah gula
menjadi aseton, butanol, butirat, dsb. Jasad aerob melakukan proses
glikolisis sebagai bagian pertama dari pemecahan karbohidrat secara
Hormon dan Siklus Krebs Page 10
anaerob, yang akan diteruskan pada bagian kedua yang aerob. Pada otot
manusia dan binatang yang kurang gerak akan tertimbun asam laktat,
sebab glikolisis tidak diteruskan ke tingkat aerob melainkan ke asam
laktat. Jasad yang melakukan fermentasi lewat glikolisis hanya
menghasilkan 2 mol ATP dari setiap glukosa yang dimetabolisme.
Glikolisis adalah pemecahan glukosa menjadi piruvat atau asam laktat.
Glikolisis merupakan lintasan utama pemakaian glukosa, terjadi dalam
sitosol semua sel dengan tujuan untuk menghasilkan energi (ATP).
Glikolisis dapat terjadi pada suasana aerobik maupun anaerobik. Pada
suasana aerobik dapat menghasilkan 6 atau 8 ATP dan 2 molekul asam
piruvat per molekul glukosa, Apabila glikolisis terjadi dalam suasana
anaerobik maka akan menghasilkan 2 ATP dan 2 molekul asam laktat.
b) Glikolisis anaerob dan aerob
Glikolisis aerob
Glikolisis aerob adalah jalur glikolitik yang terjadi di sitosol dengan
adanya oksigen. Bila dibandingkan dengan glikolisis anaerob, jalur ini jauh
lebih efisien dan menghasilkan lebih banyak ATP per molekul glukosa.
Dalam glikolisis aerobik, produk akhir, piruvat ditransfer ke mitokondria
untuk memulai siklus asam sitrat. Oleh karena itu, produk akhir dari
glikolisis aerobik adalah 34 molekul ATP, air, dan karbon dioksida.
Glikolisis anaerob
Glikolisis anaerob terjadi di sitoplasma ketika sel kekurangan oksigen
lingkungan atau tidak memiliki mitokondria. Dalam hal ini, NADH
dioksidasi menjadi NAD + dalam sitosol dengan mengubah piruvat
menjadi laktat. Glikolisis anaerobik menghasilkan (2 laktat + 2 ATP + 2
H2O + 2 H+) dari satu molekul glukosa. Berbeda dengan glikolisis aerobik,
glikolisis anaerob menghasilkan laktat, yang mengurangi pH dan
menginaktivasi enzim.

C. Oksidasi piruvat menjadi asetil Ko-A


Pada suasana aerob, piruvat dapat masuk ke dalam mitokondria dengan
adanya suatu transporter. Piruvat mengalami dekarboksilasi oksidatif menjadi
asetil-KoA oleh suatu enzim yang tersusun rapi dalam matriks mitokondria,
yang disebut piruvat dehidrogenase kompleks. Mula-mula piruvat mengalami
Hormon dan Siklus Krebs Page 11
dekarboksilasi oleh enzim piruvat dehidrogenase dengan tiamin pirofosfat
sebagai koenzim yang menghasilkan CO2 dan α-hidroksietil-tiaminpirofosfat
atau disebut juga active acetadehyde. Senyawa yang disebut belakangan ini
dipindah pada protetik lipoamide dari enzim lipoil transasetilase. Dalam
perpindahan ini disulfida dari liamida tereduksi. Asetidehida teroksidasi
menjadi asetil aktif yang terikat sebagai tioester. Gugusan asetil ini kemudian
dipindahkan pada koenzim A, membentuk asetil –S-CoA dan menghasilkan
lipoamida dalam bentuk disulfhidril. Koenzim yang tereduksi dioksidasi
kembali oleh suatu flavoprotein, dihidrolipoil dehidrogenase.
Flavoprotein yang tereduksi kemudian dioksidasi oleh NAD+. Piruvat
dehidrogenase diaktivasi oleh fruktosa bisfosfat dan dihambat oleh hasil
reaksinya yaitu NADH dan asetil-CoA. Arsenit atau ion merkuri membentuk
komplek dengan gugusan –SH dari asam lipoat dan menghambat piruvat
dehidrogenase. Kekurangan tiamin akan menyebabkan piruvat tertimbun.
Pada oksidasi piruvat ini akan dihasilkan asetil-KoA dan NADH. Untuk satu
molekul glukosa akan dihasilkan dua NADH dan dua molekul asetil-KoA.
NADH dapat memasuki rantai respirasi dan fosforilasi oksidatif, yang dapat
menghasilkan 3 ATP per satu molekul NADH, sedangkan asetil-KoA dapat
dioksidasi lebih lanjut melalui siklus asam sitrat.

D. Proses Glikogenesis dan glikogenolisis


Glikogenesis
Glikogenesis adalah pembentukan glikogen dari glukosa. Apabila
terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah (misalnya beberapa saat setelah
makan) maka pankreas akan mensekresikan hormon insulin yang akan
menstimulasi penyimpanan glukosa dalam bentuk glikogen di dalam hati dan
otot. Hormon insulin akan menstimulasi enzim glikogen sintase untuk
memulai proses glikogenesis.
Dalam sintesis glikogen, satu ATP dibutuhkan untuk setiap molekul
glukosa. Molekul glukosa diubah menjadi glukosa-6-fosfat sebagai struktur
pembangun glikogen. Glukosa-6-fosfat akan ditambahkan pada molekul
glikogen yang sudah ada sehingga glikogen menjadi lebih panjang. Hati
mampu menyimpan glikogen sebesar 6% dari massa total hati, sedangkan otot
hanya mampu menyimpan gikogen kurang dari 1% saja.
Hormon dan Siklus Krebs Page 12
Glikogenolisis
Glikogenolisis merupakan proses pemecahan molekul glikogen
menjadi glukosa. Apabila tubuh dalam keadaan lapar, tidak ada asupan
makanan, kadar gula dalam darah menurun, gula diperoleh dengan memecah
glikogen menjadi glukosa yang kemudian digunakan untuk memproduksi
energi.
Dalam glikogenolisis, glikogen yang disimpan dalam hati dan otot
dipecah menjadi glukosa-1-fosfat kemudian diubah menjadi glukosa-6-fosfat.
Glukogenolisis diatur oleh hormon glukagon yang disekresikan pancreas dan
epinefrin (adrenalin) yang disekresikan kelenjar adrenal. Kedua hormon
tersebut akan menstimulasi enzim glikogen fosforilase untuk memulai
glikogenolisis dan menghambat kerja enzim glikogen sintase (menghentikan
glikogenesis).
Glukosa-6-fosfat akan masuk ke dalam proses glikolisis untuk
menghasilkan energi. Glukosa-6-fosfat juga dapat diubah menjadi glukosa
untuk didistribusikan oleh darah menuju sel-sel yang membutuhkan glukosa.

E. Penyakit penimbunan glikogen serta faktor penyebabnya


Istilah “penyakit simpanan glikogen (glycogen storage diseases)”
merupakan istilah generik yang dimaksudkan untuk menjelaskan suatu
kelompok kelainan bawaan yang ditandai oleh penumpukan glikogen dengan
jumlah atau jenis yang abnormal di dalam jaringan tubuh.
Kelainan penimbunan glikogen "glycogen storage disease" adalah suatu
penyakit yang diturunkan. Ada beberapa tipe, yakni:
a) Tipe I glikogenosis ( von Gierke's disease )
Dalam sel-sel hepar dan "renal convulated tubules" penuh dengan
glikogen. Secara mtabolik glikogen ini tidak bisa dipakai. Terbukti dengan
terjadinya hipoglisemia pada penderita ini. Ketosis dan heperlipemia
terjadi pada penderita ini, yang merupakan suatu tanda adanya kekurangan
karbohidrat. Dalam hepar, ginjal dan usus halus aktivitas glukosa 6
fosfatase sedikit sekali atau tidak ada pada penderita ini.
b) Tipe II ( Pompe's disease )
Merupakan kelainan yang menyebabkan kematian. Terjadi kekurangan
enzim lisosom dan 6-glukosidase (asid maltase). Adapun fungsi kedua
Hormon dan Siklus Krebs Page 13
enzim tersebut adalah memecah glikogen. Sebagai akibatnya adalah
terjadi penimbunan glikogen dalam lisosom.
c) Tipe III ( limit dextrinosis: Forbes' or Cori's disease ).
Enzim "debranching" tidak ada pada penderita ini. Limit dekstrin
tertimbun dalam sel-sel jaringan.
d) Tipe IV ( amylopectinosis,Anderson's disease )
Pada tipe ini enzim "branching" tidak ada, hingga terdapat akumulasi
polisakarida den-gan sedikit titik-titik cabang. Kematian biasanya terjadi
pada tahun pertama karena kegagalan jantung atau kegagalan hepar.
e) Tipe V glikogenosis ( myophosphorylase deficiency glycogenosis:
McArdle's syn-drome)
Fosforilase otot tidak ada. Penderita dengan tipe ini tidak tahan olahraga.
Meskipun kadar glikogen dalam otot tinggi (2,5-4,1%) namun sedikit
sekali atau tidak terukur adanya asam laktat dalam darahnya.
f) Tipe VI glikogenosis ( Hers' s disease ).
Dalam hepar kekurangan enzim fosforilase. Terjadi penimbunan glikogen
dalam hepar. Ada tendensi mengalami hipoglikemi.
g) Tipe VII glikogenosis ( Tarui's disease )
Fosfofrukto kinase dalam otot dan eritrosit menurun. Bisa mengalami
anemi hemolitik.

F. Proses “HMP Shunt” Hexosa Mono Phosphat


HMP-Shunt disebut juga jalur pentosa fosfat / heksosa monofosfat. Jalur ini
menghasilkan NADPH dan ribosa di luar mitokondria. NADPH diperlukan
untuk biosintesis; asam lemak, kolesterol, dan steroid lain. Ribosa untuk
biosintesis asam nukleat.
HMP-shunt terdiri dari beberapa fase dan terdapat 2 fase pada penthosa fosfat:
1. Fase oksidatif yang menghasilkan NADPH
Pada fase yang pertama , glukosa 6-phosphate menjalani proses
dehidroginase dan dekarboksilase untuk memberikan sebuah senyawa
pentosa, yaitu ribosa 5-phosphate.
Fase Oksidatif Menghasilkan NADPH
Reaksi dehidrogenasi glukosa 6-fosfat menjadi 6-fosfoglukonat terjadi
lewat pembentukan 6-fosfoglukonolakton yang dikatalisis oleh enzim
Hormon dan Siklus Krebs Page 14
glukosa-6-fosfat dehidrogenase, suatu enzim yang bergantung NADP.
Hidrolisis 6-fosfoglukonolakton dilaksanakan oleh enzim glukonolakton
hidrolase.
Tahap oksidasi yang kedua dikatalisis oleh enzim 6-fosfoglukonat
dehidrogenase, yang juga memerlukan NADP+ sebagai akseptor hidrogen.
Dekarboksilase kemudian terjadi dengan pembentukan senyawa
ketopentosa , yaitu ribulosa 5-fosfat. Reaksi mungkin berlangsung dalam
dua tahap melalui intermediate 3-keto-6-fosfoglukonat.
Secara singkat, reaksi pada proses ini adalah :
Glukosa 6-phosphat + 2 NADP+ +H2O → ribulosa 5-phosphate +
2NADPH + 2H + + CO2

2. Fase Nonoksidatif Menghasilkan Prekursor


Ribulosa 5-fosfat kini berfungsi sebagai substrat bagi dua enzim yang
berbeda. Ribulosa 5-fosfat 3-epimerase mengubah konfigurasi disekitar
karbon 3 dari ribulosa 5 fosfat, dengan membentuk epimer xilulosa 5-
pospat, yaitu senyawa ketopentosa lainnya. Ribosa 5-fosfat ketoisomerase
mengubah ribulosa 5-fosfat menjadi senyawa aldopentosa yang
bersesuaian, yaitu ribosa 5-fosfat yang merupakan precursor bagi residu
ribosa yang diperlukan dalam sintesis nukleotida dan asam nukleat.
Transketolase memindahkan unit dua-karbon yang terdiri atas karbon 1
dan 2 dari sebuah ketosa kepada atom karbon aldehid pada gula aldosa.
Karena itu, enzim ini mempengaruhi konversi gula pentosa menjadi
aldosa dengan berkurangnya dua karbon, dan sekaligus mengonversi gula
aldosa menjadi ketosa dengan bertambahnya dua atom karbon. Reaksi
tersebut memerlukan vitamin B, yaitu tiamin.
Jadi, enzim transketolase mengatalisis proses pemindahan unit dua
karbon dari xilulosa 5 fosfat kepada ribulosa 5 fosfat , yang menghasilkan
ketosa sedoheptulosa 7-fosfat tujuh karbon dan aldosa gliseraldehid 3-
fosfat . Kedua produk ini kemudian memasuki reaksi lainnya yang dikenal
sebagai reaksi transaldolasi. Enzim transaldolasi memungkinkan
pemindahan moietas dihidroksiaseton tiga - karbon (karbon 1-3), dari
ketosa sedoheptulosa 7-fosfat kepada aldosa gliseraldehid 3-fosfat untuk

Hormon dan Siklus Krebs Page 15


membentuk ketosa fruktosa 6-fosfat dan aldosa eritrosa 4-fosfat empat
karbon.
Kemudian berlangsung reaksi selanjutnya yang sekali lagi melibatkan
enzim transketolase , dengan xilulosa 5-fosfat berfungsi sebagai donor
glikoaldehid. Pada keadaan ini, eritrosa 4-fosfat yang terbentuk di atas
bertindak sebagai akseptor , dan hasil reaksinya adalah fruktosa 6-fosfat
serta gliseraldehid 3-fosfat.
Pintasan Pentosa Fosfat menimbulkan Hemolisis Eritrosit. Mutasi yang
terjadi pada beberapa populasi menyebabkan defisiensi enzim glukosa-6-
fosfat dehidrogenase dengan konsekuensi gangguan pembentukan
NADPH. Gangguan ini bermanifestasi dalam bentuk hemolisis sel darah
merah jika penderita yang rentan menggunakan preparat oksidan, seperti
obat antimalaria primaquin, aspirin atau sulfonamid, atau memakan fava
beans.
Peroksidase merupakan antioksidan alami yang ditemukan di banyak
jaringan yang bergantung pada pasokan NADPH. Enzim ini akan
menyerang peroksida organik di samping H2O2.
Bersama dengan vitamin E, enzim glutathione peroksidase menjadi
bagian pertahanan tubuh untuk melawan peroksidasi lipid. Kaitan antara
insiden beberapa penyakit kanker dan rendahnya kadar selenium darah
serta aktivitas glutathione peroksidase telah dilaporkan.
Pengukuran aktivitas enzim transketolase di dalam darah dapat
digunakan untuk memperkirakan derajat defisiensi tiamin. Aktivitas
enzim ini meningkat hanya pada keadaan anemia pernisiosa.

G. Proses Glukoneogenesis
Glukoneogenesis adalah proses sintesis (pembentukn) glukosa dari
sumber bukan karbohidrat. Molekul yang umum sebagai bahan baku glukosa
adalah asam piruvat, namun oxaloasetat dan dihidroxiaseton fosfat dapat juga
menjalani proses glukoneogenesis. Asam laktat, beberapa asam amino dan
gliserol dapat dikonversi menjadi glukosa. Glukoneogenesis hampir mirip
dengan glikolisis dengan proses yang dibalik, hanya beberapa tahapan yang
membedakannya dengan glikolisis. ATP dibutuhkan dalam tahapan
glukoneogenesis.
Hormon dan Siklus Krebs Page 16
Glukoneogenesis terjadi terutama dalam hati dan dalam jumlah sedikit
terjadi pada korteks ginjal. Sangat sedikit glukoneogenesis terjadi di otak, otot
rangka, otot jantung dan beberapa jaringan lainnya. Umumnya
glukoneogenesis terjadi pada organ-organ yang membutuhkan glukosa dalam
jumlah banyak. Glukoneogenesis terjadi di hati untuk menjaga kadar glukosa
darah agar tetap dalam kondisi normal.

Hormon dan Siklus Krebs Page 17


DAFTAR PUSTAKA

 Prawihartono Slamet dan Sri Hidayati. 2007. Sains Biologi 3 SMA. MA. Jakarta : PT.
bumi Aksar
 Panil, Zulbadar. Memahami Teori dan Praktik Biokimia Dasar Medis. Jakarta : Buku
Kedokteran ECG, 2008.
 Syaifuddin. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta:
Salemba Medika, 2009.
 Sumber: Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., Jackson, R. B., 2010, Biologi, Edisi 8, Jilid 1, Penerbit Erlangga,
Jakarta

Hormon dan Siklus Krebs Page 18


1. Bagaimana cara kerja steroid dan nonsteroid pada klasifikasi hormone? (Alci Y. Beti)
Jawab : (Hironima Suryani)
 Hormon Steroid
Cara kerja hormone ini adalah dengan cara menduduki reseptor yang terletak
di membrane sel. Hormone selanjutnya akan mengaktifkan second messenger
yang akan mengaktifkan protein kinase yang menyebabkan berbagai aktivitas
sel.
 Hormone Nonsteroid
Hormone ini mudah melewati membrane sel dan reseptornya di sitoplasma.
Kompleks hormone reseptor memasuki inti sel mengaktifkan DNA pada
kromatin untuk transkripsi mRNA yang selanjutnya ditranslasi untuk
menghasilkan protein atau enzim

2. Bagaimana upaya preventif dan kuratif dari kelebihan dan kekurangan hormone
tiroid? (Mariela D. Dida)
Jawab : (Maria A. Ina Abo)
Pencegahan Kelebihan dan kekurangan hormon tiroid :
Mengonsumsi makanan yang mengandung :
 Yodium
Jika seseorang kekurangan yodium maka risiko mengalami hipotiroidisme akan
semakin tinggi. Jika hipotirodisme akibat mengalami kekurangan yodium,
tambahkan garam beryodium ke makanan atau makan lebih banyak makanan yang
mengandung yodium tinggi, seperti ikan, susu, dan telur.
 Selenium
Mineral selenium ini juga memiliki manfaat antioksidan, yang berarti mineral ini
bisa melindungi kelenjar tiroid dari radikal bebas. Tambahkanlah dalam makanan
ekstra selenium. Selenium bisa didapatkan dari kacang-kacangan, ikan tuna,dan
ikan sarden.
 Kalsium
Kondisi hipertiroidisme dapat menyebabkan kalsium sulit diserap dalam tubuh.
Makan makanan tinggi kalsium dapat membantu tubuh agar mendapatkan lebih
banyak kalsium yang diserap. Maka itu, sebaiknya mengonsumsi:Brokoli, Kacang
almond, dan Ikan.

Hormon dan Siklus Krebs Page 19


Pengobatan kelebihan dan kekurangan hormon tiroid :
 Pengobatan Kelebihan hormon tiroid (hipertiroidisme) :
Dapat diobati dengan yodium (termasuk yodium radioaktif), obat antitiroid atau
operasi. Yodium radioaktif dapat menghancurkan bagian dari kelenjar tiroid.
 Pengobatan kekurangan hormon tiroid ( hipotiroidisme )
Pengobatan untuk hipotiroidisme adalah terapi penggantian hormon tiroid.
Dengan pengobatan ini, pemberian oral hormon sintetis buatan diberikan untuk
mengganti hormon yang hilang. Pengobatan ini biasanya seumur hidup.

3. Penyakit tiroid apa yang dapat disembuhkan dengan terapi penggantian hormon?
(Christin Nakmofa)
Jawab : (Maria A. Ina Abo)
Hipotiroidisme : Gejala penyakit ini yang berada di bagian leher sering diakibatkan
karena terlalu sedikit hormon yang dihasilkan (hipotiroid). Contoh obatnya adalah
levothyroxine.

4. Penyakit apa yang ditimbulkan dari gangguan pada pancreas? (Hanyta P. M Biffel)
Jawab : (Prima D. Anoit)
Pankreas yang sehat akan memproduksi zat-zat yang tepat dalam jumlah dan waktu
yang tepat pula. Namun, pankreas yang memiliki gangguan tidak mampu
memproduksi enzim pencernaan secara optimal sehingga penyerapan makanan juga
terganggu. Akibatnya, mungkin mengalami masalah pencernaan seperti diare atau
penurunan berat badan yang cukup kentara. Tidak hanya diare atau penurunan berat
badan, gangguan yang dialami oleh pankreas juga bisa menyebabkan beberapa
penyakit berbahaya lainnya. Berikut ini adalah beberapa jenis gangguan kesehatan
yang paling sering menyerang pankreas.
o Diabetes tipe 1 dan tipe 2
o Pankreatitis
o Fibrosis kistik
o Kanker pankreas
o Pankreas pseudokista

Hormon dan Siklus Krebs Page 20


5. Mengapa aktifitas HMP Shunt dalam otot lemah? (Fransiska U. Adiningsih)
Jawab : (Dedi Laitabun)
Dalam otot enzim glukosa 6-fosfat dehidro-genase dan 6-fosfoglukonat dehidrogenase
hanya sedikit sekali, sehingga itu yang menyebabkan aktivitas HNP Shunt ini lemah.

6. Berikan contoh umpan balik negative dan positif! Dan apakah umpan balik tersebut
hanya karena perubahan suhu atau ada faktor lain? (Fatmah M. Djawas)
Jawab : (Dedi Laitabun)
 Contoh Umpan Balik Negatif
Pada penderita diabetes mellitus terjadi peningkatan kadar gula dalam darah
karena kurangnya hormone insulin sehingga pada saat kita mengkonsumsi
gula yang kita ketahui sifat gula membawa air hal ini menyebabkan pada saat
penyaringan di glomerulus sebagian gula yang lolos dari penyaringan akan
keluar bersama urine dan terjadi peningkatan urine (poliuri) karena banyaknya
air yang keluar dari tubuh lewat urine maka tubuh akan mengalami dehidrasi
akibatnya penderita akan merasa kehausan.
 Contoh Umpan Balik Positif
Pada saat terjadi kontraksi saat persalinan, hormon oksitosin dilepaskan
kedalam tubuh yang merangsang kontraksi lebih lanjut yang meyebabkan
kontraksi meningkat.
 Faktor selain suhu dalam homeostatis (Umpan Balik Negatif)
- Konsentrasi nutrisi
- Konsentrasi oksigen dan karbondioksida
- pH
- Volume dan tekanan
- Konsentrasi cairan, garam, dan elektrolit

7. Penyakit atau gangguan apa yang terjadi jika kekurangan hormone? (Darius Bane Pa)
Jawab : (Henrico T. Bago)
Ya sangat jelas apabila seseorang kekurangan atau kelebihan hormon akan
menyebabkan penyakit,contoh apabila seseorang kekurangan hormon insulin maka
glukosa dalam darah tidak akan diubah menjadi glikogen sehingga akan terjadi
penyakit gula darah atau dengan kata lain tidak terjadi proses glikogenisis atau proses

Hormon dan Siklus Krebs Page 21


glikogenenisis terganggu sedangkan jika kelebihan hormon insulin akan
menyebabkan Tingginya kadar insulin dalam aliran darah disebut hiperinsulinemia.
Kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan yang serius.
Beberapa gejala yang dapat timbul akibat kelebihan insulin antara lain:
 Kadar glukosa darah tinggi atau rendah
 Perasaan lapar sepanjang waktu
 Perasaan lelah dan / atau depresi
 Kenaikan berat badan
 Penumpukan lemak visceral, yaitu jenis lemak yang ditemukan di sekitar
organ dalam tubuh.

8. Apakah ada hubungan antara lingkungan dan hormone? (Darius Bane Pa)
Jawab : (Henrico T. Bago)
Sistem indera merupakan suatu sensor yang menangkap berbagai perubahan dari
lingkungan sehingga tubuh bisa mengetahui keadaan disekitarnya. Sinyal yang
dihasilkan oleh sistem indera akan disampaikan oleh sistem saraf. Tujuannya adalah
untuk mengintegrasikan berbagai rangsangan yang ada sehingga bisa menghasilkan
tanggapan/respon yang tepat dan cepat terhadap kondisi lingkungan yang ada.
Sedangkan sistem hormone, lebih pada mekanisme jangka panjang dan member
respon yang lambat. Sistem hormone berfungsi untuk menjaga kadar zat yang ada di
dalam tubuh, dengan rangsangan dari sistem indera, sehingga tubuh bisa melakukan
aktivitas dengan baik dan lancar. Selain itu, sistem saraf juga mengatur beberapa
kelenjar hormone yang ada di dalam tubuh sehingga mekanisme kerja tubuh dapat
berjalan secara sinergis.

9. Apakah ada hubungan antara umur dan sistem hormone? (Darius Bane Pa)
Jawab : (Meiliana Riska Gala Tua)
Ya ada hubungan, jika usia seseorang semakin tinggi (tua) maka hormone yang
dihasilkan pun semakin berkurang sesuai kerja tubuhnya.

Hormon dan Siklus Krebs Page 22


10. Mengapa hormone tiroid tidak dimasukkan dalam klasifikasi hormone? (Ary Kurniati
Teuf)
Jawab : (Akrince Maleimakumi)
Hormone tiroid masuk dalam klasifikasi hormone yaitu klasifikasi hormone
berdasarkan struktur kimia lebih tepatnya contoh dari hormone amina. Hormon amina
merupakan molekul hormon paling sederhana. Modifikasi dari senyawa asam amino
tyrosine, contohnya hormon tiroid epineprin dan norepineprin.

11. Pada glukoneogenesis sumber bukan karbohidrat itu apa saja? Dan berikan contoh
glukoneogenesis yang terjadi pada ginjal! (Anna M. Mesia)
Jawab : (Steli S. Runesi)
Glukoneogenesis adalah pembentukan glukosa dari sumber sumber non karbohidrat ;
seperti asam laktat; beberapa jenis asam amino ( asam amino glukogenik) gliserol
dan beberapa jenis asam lemak; contoh glukoneogenesis yg terjadi pada ginjal adalah
ketika ginjal membentuk glukosa.

12. Apa yang menyebabkan ketidakstabilan emosi pada gangguan hormone tiroid? Dan
adakah hubungan hormone dan saraf? (Ishak O. Terru Leo)
Jawab : (Shafira A. Ramadhani)
 Dilansir dari Prof dr Sri Hartati Kariadi Sp PD, jika kelenjar tiroid mempunyai
aktivitas berlebihan, sedangkan pengendalian thyroid stimulating hormone
(TSH) berkurang, hormon tiroksin yang dihasilkan akan berlebihan. Pada
keadaan ini hormon tersebut akan merangsang tubuh. Perangsangan hormon
ini mengakibatkan tubuh menjadi lebih aktif.
 Sistem saraf bersama sistem endokrin mengkoordinasikan seluruh sistem di
dalam tubuh. Sistem saraf dan sistem endokrin ini merupakan suatu sistem
yang saling berhubungan sehingga dinamakan sistem neuroendokrin. Hormon
bekerja atas perintah dari sistem sarafdan sistem yang mengatur kerjasama
antara saraf dan hormon terdapat pada daerah hipotalamus. Daerah
hipotalamus sering disebut daerah kendali saraf endokrin (neuroendocrine
control).

Hormon dan Siklus Krebs Page 23


13. Berikan contoh molekul sederhana pada amina! (Dwi Natasya)
Jawab : (Meri Yani Suidale)
Amina sederhana biasanya diberi nama berdasarkan sistem gugus-fungsional. Gugus
alkil atau aril disbut terlebih dahulu, kemudian ditambahkan akhiran –amina.

Hormone amina dimodifikasi dari senyawa asam amino tyrosine, contohnya hormon
tiroid epineprin dan norepineprin.

14. Jelaskan proses siklus krebs dari sitrat hingga menjadi isositrat! (David
Ndapahambur)
Jawab : (Malthidis D. Dona)
Siklus asam sitrat ini dimulai dengan satu molekul asetil ko-A bereaksi dengan satu
molekul H20, melepaskan gugus koenzim A, dan mendonorkan 2 atom karbon yang
tersisa dalam bentuk gugus asetil kepada asam oksaloasetat yang memiliki molekul
dengan 4 karbon, hingga menghasilkan asam sitrat dengan 6 atom karbon.
a. Proses pengubahan asetil ko-A menjadi asam sitrat dibantu oleh enzim sitrat
sintase pada tahap reaksi hidrolisis.
Penjelasan: Setelah enzim sitrat sintase melepaskan satu ion H+ dari molekul
CH3 gugus asetil dari asetil ko-A, molekul dari CH2- pada gugus asetil tersebut
akan bereaksi dengan asam oksaloasetat membentuk metabolit S-sitril-KoA.
Reaksi hidrolisis yang terjadi selanjutnya pada gugus koenzim-A akan
mendorong reaksi hingga menghasilkan tiga jenis produk.
b. Proses pengubahan asam sitrat menjadi Isositrat dengan bantuan enzim
Asonitase yang melewati 2 reaksi yaitu tahap reaksi dehidrasi dan hidrasi.
Selanjutnya, Proses pengubahan isositrat menjadi oksalosuksinat dengan
bantuan enzim asonitase pada tahap reaksi oksidasi.
Penjelasan: reaksi isomerisasi terjadi dengan 2 tahap, enzim asonitase akan
melepaskan gugus air dari asam sitrat membentuk metabolit cis-Asonitat,
kemudian terjadi penambahan kembali molekul air dengan pergeseran lokasi
gugus hidroksil dan menghasilkan isomer asam sitrat.

Hormon dan Siklus Krebs Page 24


c. Proses pengubahan oksalosuksinat menjadi α-ketoglutarat dengan bantuan
enzim isositrat dehidrogenase pada tahap reaksi dekarboksilasi.
Penjelasan: enzim isositrat dehidrogenase bersama dengan koenzim NAD+
akan mengubah gugus karboksil menjadi gugus karbonil, membentuk
senyawa intermediat yang disebut oksalosuksinat. Eksitasi oleh ion H+ akan
menyebabkan oksalosuksinat melepaskan gugus COO- yang tidak stabil dan
membentuk senyawa CO2.
d. Proses pengubahan α-ketoglutarat menjadi suksinil Co-A dengan bantuan
enzim α-ketoglutarat dehidrogenase pada tahap proses dekarboksilasi.
Penjelasan: kompleks enzim α-ketoglutarat dehidrogenase mirip kompleks
piruvat dehidrogenase yang menjadi enzim pada transformasi asam piruvat
menjadi asetil Ko-A. Bersama dengan koenzim NAD+ akan mempercepat
oksidasi yang membentuk koenzim baru, disebut suksinil-KoA, yang memiliki
ikatan tioester antara koenzim-A dengan gugus suksinil.
e. Proses pengubahan Suksinil Co-A menjadi asam suksinat dengan bantuan
enzim Suksinil-KoA sintetase pada tahap reaksi fosforilasi substrat.
Penjelasan: senyawa Pi akan menggantikan gugus CoA pada suksinat,
kemudian didonorkan ke GDP untuk membentuk GTP. Pada bakteri dan
tumbuhan, gugus Pi akan didonorkan ke ADP guna menghasilkan ATP.

15. Apa yang terjadi dalam hormone sehingga dapat menyebabkan kematian? (Lidya D.
Danu)
Jawab : (Loisa Jumeiga Metkono)
Beberapa peneliti mengamati 6200 orang di Denmark yang didiagnosis hipertiroid
bahwa mereka menemukan produksi hormone tiroid yang berlebihan bisa
menyebabkan kematian akibat penyakit jantung atau hal lain. Hal ini diakibatkan
kelebihan produksi tiroid memantik banyak masalah di tubuh yang ditandai dengan
sejumlah gejala yaitu salah satunya membuat metabolism tubuh meningkat dan
menguras cadangan energy. Karena meningkatnya metabolism membuat tubuh
penderita sering panas dan gerah sehingga gejala lainnya menyebabkan menurunnya
produksi sel-sel darah yang berujung pada kematian.

Hormon dan Siklus Krebs Page 25


16. Bagaimana perbedaan gondok dengan gondok dalam? (Tiara Jelita)
Jawab : (Akrince Maleimakumi)
Gondok adalah pembengkakan di leher (di bawah jakun atau laring) karena kelenjar
tiroid yang membesar. Pada gondok dalam (struma basedow), pembesaran di leher
tidak bisa diukur, leher hanya gembluk atau melebar ke samping. Sebaliknya, pada
gondok luar (struma nodus), leher menggelambir sampai ke bawah. Panjang dan lebar
benjolan juga bisa diukur. Dua jenis gondok itu sama-sama disebabkan gangguan
kelenjar tiroid.

17. Bagaimana parameter dari kelebihan dan kekurangan hormone tiroid? (Juviter
Praimanjani)
Jawab : (Henrico T. Bago)
Tidak ada parameter yang mengukur kelebihan dan kekurangan hormon,seseorang
akan diketahui apakah dia kekurangan atau kelebihan hormon dengan menunjukan
gejala-hejala kekurangan atau kelebihan hormon.

18. Apa perbedaan hormone untuk orang yang obesitas dengan orang yang gizi kurang?
(Juviter Praimanjani)
Jawab : (Henrico T. Bago)
Obesitas merupan penyakit yang disebabkan karena konsumsi nutrisi tidak diimbangi
dengan keja otot atau olahraga sedangkan gizi buruk merupan penyakit yang
disebabkan karena kekurangan konsumsi karbohidrat, protein dan lemak. Hormon
merupakan senyawa kimia organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin dan
mempunyai fungsi tertentu atau spesifik dalam mengontrol sistem pada tubuh
manusia. Jadi tidak ada hubungan antara hormon dengan obesitas dan gizi buruk.

19. Bagaimana hubungan antara glikogenesis, glikogenolisis, dan glukoneogenesis?


(Juviter Praimanjani)
Jawab : (Henrico T. Bago)
Hubungan antara glikolisis dan glikogenolisis yaitu glikolisis merupakan proses
pembentukan glikogen dari glikogen.Apabila terjadi peningkatan kadar glukosa dalam
darah (misalnya beberapa saat setelah makan) maka pankreas akan mensekresikan
hormon insulin yang akan menstimulasi penyimpanan glukosa dalam bentuk glikogen
di dalam hati dan otot.apabila tubuh dalam keadaan lapar, tidak ada asupan makanan,
Hormon dan Siklus Krebs Page 26
kadar gula dalam darah menurun, gula diperoleh dengan memecah glikogen menjadi
glukosa yang kemudian digunakan untuk memproduksi energi atau proses
glikogenolisis terjadi, itulah hubungan antara glikolisis dan glikogenolisis sedangkan
glikogneogenisisadalah proses sintesis (pembentukn) glukosa dari sumber bukan
karbohidrat. Molekul yang umum sebagai bahan baku glukosa adalah asam piruvat,
namun oxaloasetat dan dihidroxiaseton fosfat dapat juga menjalani proses
glukoneogenesis. Jadi hanay ada hubungan antara glikolisis dan glikogenolisis.

20. Apa yang terjadi jika fermentasi asam laktat terus berlangsung? (Ratna Purandima)
Jawab : (Steli Runesi)
Fermentasi asam laktat yang terjadi didalam tubuh kita; terjadi pada sel- sel manusia;
tepatnya didaerah otot. Fermentasi asam laktat terjadi pada otot manusia jika otot kita
kekurangan oksigen. Fermentasi asam laktat yang terjadi didalam otot kita; akan
menyebabkan kita merasa pegal; kaku bahkan kram.

21. Apa yang terjadi apabila seorang mengkonsumsi suplemen penambah hormone?
Apakah hormone dalam diri berkurang atau bertambah? (Ardiansyah Abidin)
Jawab : (Meiliana Riska Gala Tua)
Apabila seseorang mengkonsumsi suplemen penambah hormon apakah hormondalam
diri orang tersebut bertambah? Ya pasti bertambah jika ia kekurangan hormon dan
apabila ia tidak kekurangan hormon maka akan ada penolakan dari dalam tubuh orang
tersebut, baik itu berupa muntah atau lain sebagainya.

22. Bagaimana kekurangan hormone tiroid dapat menyebabkan susah BAB? (Dwi Ayu
Pareira)
Jawab : (Dedi Laitabun)
Tiroid berfungsi melepaskan hormon-hormon yang berperan dalam sejumlah proses di
dalam tubuh, termasuk sistem pencernaan. Ketika kelenjar tiroid kurang aktif, maka
kinerja usus bisa melemah dan melembat, mengakibatkan susah buang air besar.

23. Hormon apa yang berperan pada perubahan glikogenesis dan glikogenolisis?
Jawab : (Malthidis D. Dona)
 Glikogenesis

Hormon dan Siklus Krebs Page 27


Glikogenesis adalah proses pembentukan glikogen dari glukosa. Apabila
terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah (misalnya beberapa saat setelah
makan) maka pankreas akan mensekresikan hormon insulin yang akan
menstimulasi penyimpanan glukosa dalam bentuk glikogen di dalam hati dan
otot. Hormon insulin akan menstimulasi enzim glikogen sintase untuk
memulai proses glikogenesis. Sehingga kesimpulannya , hormon yang
berperan dalam proses glikogenesis adalah hormon insulin yang dihasilkan
oleh pankreas.
 Glikogenolisis
Glikogenolisis merupakan proses pemecahan molekul glikogen menjadi
glukosa. Apabila tubuh dalam keadaan lapar, tidak ada asupan makanan, kadar
gula dalam darah menurun, gula diperoleh dengan memecah glikogen menjadi
glukosa yang kemudian digunakan untuk memproduksi energi.
Dalam glikogenolisis, glikogen yang disimpan dalam hati dan otot dipecah
menjadi glukosa-1-fosfat kemudian diubah menjadi glukosa-6-fosfat.
Glukogenolisis diatur oleh hormon glukagon yang disekresikan pancreas dan
epinefrin (adrenalin) yang disekresikan kelenjar adrenal. Kedua hormon
tersebut akan menstimulasi enzim glikogen fosforilase untuk memulai
glikogenolisis dan menghambat kerja enzim glikogen sintase (menghentikan
glikogenesis). Jadi kesimpulannya, hormon yang berperan dalam proses
glikogenolisis adalah hormon glukagon yang disekresikan oeh pankreas dan
hormon epinefrin yang disekresikan kelnejar adrenal.

24. Apa yang terjadi jika salah satu dari glikogenesis, glikogenolisis, dan glukoneogenesis
tidak berjalan dengan baik? (Senior)
Jawab : (Hironima Suryani)
Akan terjadi penimbunan glikogen, dimana merupakan istilah generic yang
dimaksudkan untuk menjelaskan suatu kelompok kelainan bawaan yang ditandai oleh
penumpukan glikogen dengan jumlah atau jenis yang abnormal di dalam jaringan
tubuh.

Hormon dan Siklus Krebs Page 28


25. Apa hubungan hormone dan saraf?
Jawab : (Shafira A. Ramadhani)
Sistem saraf bersama sistem endokrin mengkoordinasikan seluruh sistem di dalam
tubuh. Sistem saraf dan sistem endokrin ini merupakan suatu sistem yang saling
berhubungan sehingga dinamakan sistem neuroendokrin. Hormon bekerja atas
perintah dari sistem sarafdan sistem yang mengatur kerjasama antara saraf dan
hormon terdapat pada daerah hipotalamus. Daerah hipotalamus sering disebut daerah
kendali saraf endokrin (neuroendocrine control).

26. Jelaskan kembali umpan balik positif dan negative! (Lidya D. Danu)
Jawab : (Shafira A. Ramadhani)
Umpan balik negative adalah proses penyimpangan dari ketidaknormalan atau
abnormal, tubuh secara otomatis akan melakukan mekanisme umpan balik untuk
menyeimbangkan penyimpangan yang terjadi. Sedangkan umpan balik positif adalah
ketika respon terhadap suatu peristiwa meningkatkan kemungkinan kegiatan untuk
berlanjut.

27. Bagaimana efek samping dari terapi hormone? Dan adakah cara lain untuk mengobati
diabetes selain terapi hormone? (Katharina De Rosari)
Jawab : (Malthidis D. Dona)
 Iya ada. Namun efek samping ini tidak terlalu berbahaya karena efek samping
yang biasa ditimbulkan yaitu masalah pencernaan seperti kembung dan sakit
perut. Ini khususnya pada terapi hormon yang menggunakan obat diabetes
metformin.
 Iya ada. Terdapat 2 tipe diabetes melitus yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe
2. Biasanya terapi insulin dibutuhkan pada orang dengan diabetes tipe 1,
karena pankreas mereka tidak lagi memproduksinya secara alami. Namun,
untuk pengobatan diabetes tipe 2 disediakan obat-obat oral. Selain itu, untuk
mengontrol level glukosa darah maka diharuskan untuk berolahraga secara
teratur, menjaga berat badan yang sehat, pola makan yang seimbang dan sehat,
menghindari makanan yang berlemak dan kolesterol tinggi, meningkatkan
asupan buah-buahan dan sayuran, serta menjaga konsumsi gula. Dokter juga

Hormon dan Siklus Krebs Page 29


mungkin akan memberikan resep obat untuk diminum pada stadium lanjut
penyakit ini untuk membantu mengontrol level glukosa darah.

28. Pada saat mana glikolisis aerob digunakan dan pada saat mana glikolisis anaerob
digunakan? (Ishak O. Terru Leo)
Jawab : (Malthidis D. Dona)
Glikolisis aerob adalah proses pemecahan glukosa yang membutuhkan oksigen untuk
menghasilkan energi dalam jumlah yang besar dimana energi tersebut akan digunakan
oleh tubuh untuk beraktivitas. Respirasi aerob digunakan pada saat terjadi proses
glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transpor elektron. Ketika tubuh
membutuhkan energi, glukosa akan diproses untuk menghasilkan energi melalui
tahapan glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transpor elektron.
Tahapan-tahapan tersebut dapat terjadi apabila terdapat oksigen dalam jaringan
sehingga prosesnya disebut respirasi aerob (menghasilkan energi dengan adanya
oksigen). Glikolisis merupakan tahapan pertama dari proses respirasi aerob untuk
menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Glikolisis anaerob adalah proses pemecahan glukosa tanpa membutuhkan oksigen.
Proses ini dibedakan menjadi 2 yaitu fermentasi alkohol dan fermentasi asam laktat.
Glikolisis anaerob digunakan pada saat terjadi fermentasi asam laktat. Ketika kita
bernafas, proses anaerob dalam tubuh kita memproduksi asam laktat yang dapat
meracuni otot-otot kita. Fermentasi asam laktat terjadi pada otot manusia saat
melakukan kerja keras dan pada saat persediaan oksigen kurang mencukupi.
Penimbunan asam laktat pada otot menyebabkan elastisitas otot menjadi berkurang
dan menimbulkan gejala kram serta kelelahan.

29. Jelaskan mengapa pada bagan umpan balik negative ada respone berhenti! (Melisa
Mardianti)
Jawab : (Shafira A. Ramadhani)
Misalnya, tubuh kita memiliki termostat internal. Selama musim dingin, di rumah kita
termostat merasakan suhu di dalam ruangan. Ketika suhu tubuh meningkat, reseptor
di kulit dan otak merasakan perubahan suhu. Perubahan suhu memicu perintah dari
otak. Perintah ini dapat menyebabkan beberapa tanggapan. Jika kita terlalu panas,
kulit mengeluarkan keringat dan pembuluh darah dekat permukaan kulit membesar.

Hormon dan Siklus Krebs Page 30


Tanggapan ini membantu suhu tubuh menurun dan mengakibatkan respon berhenti
karena suhu tubuh sudah kembali normal.

Hormon dan Siklus Krebs Page 31