Anda di halaman 1dari 26

BIOGRAFI WALISONGO

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Biografi Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )

Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim ) merupakan salah satu dari 9 Walisongo yang
menyebarkan agama islam di Tanah Jawa . tanggal lahir Sunan Gresik yaitu pada paruh awal abad
ke 14 dan meninggal pada tahun 1419 Masehi serta di makamkan di desa Gapurosukolilo , Kota
Gresik , Jawa Timur. Istri Sunan Gresik bernama Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil
( Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1 )

Kisah Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )


Sunan Gresik adalah seorang Walisongo , yang di anggap pertama kali menyebarkan agama islam
di Tanah Jawa. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal usul keturunan
Maulana Malik Ibrahim , banyak masyarakat yang sepakat bahwa Sunan Gresik bukanlah asli orang
Jawa melainkan dari wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara. Menurut beberapa versi Sunan Gresik
merupakan keturunan Rasulullah SAW.
Sunan Gresik di anggap sebagai salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di
Pulau Jawa, beberapa versi mengatakan bahwa kedatangannya di sertai oleh beberapa orang.
Daerah yang di tujunya pertama kali adalah Sembolo , sekarang adalah daerah Leran , Kecamatan
Manyar , yaitu 9 kilometer ke utara kota Gresik, beliau lalu menyebarkan dan menyiarkan agama
Islam di Tanah Jawa bagian Timur, dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucian Manyar.
Dalam penyebaran Agama Islam , pertama-tama yang beliau lakukan adalah dengan cara mendekati
masyarakat melalui pergaulan. Dengan menggunakan budi bahasa yang lembut. Beliau tidak
menentang agama dan juga kepercayaan hidup dari penduduk asli , melainkan beliau hanya
memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang di bawa dalam Agama Islam. Akhirnya berkat
keramah-tamahan serta kelembutannya banyak masyarakat yang tertarik dan masuk ke dalam
agama Islam.
Setelah beliau memikat hati masyarakat , akhirnya Sunan Gresik mulai berdagang di Pelabuhan
terbuka , sehingga memudahkan beliau untuk bertemu dengan banyak masyarakat bahkan dari
kalangan raja dan juga bangsawan . setelah beliau cukup di segani oleh masyarakat , kemudian
Maulana Malik Ibrahim melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan . Meskipun Raja
Majapahit tidak masuk islam namun ia menerima Sunan Gresik dengan baik, bahkan ia memberikan
sebidang tanah di pinggiran Kota Gresik dan daerah tersebut dinamakan Gapura dan di bangunlah
pesantren – pesantren di daerah tersebut sebagai tempat untuk menyebarkan agama islam.
Metode Dakwah Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )
 Dengan cara berdagang
 Dengan cara bergaul atau melakukan pendekatan dengan masyarakat luas
 Dengan cara membuka pengobatan gratis

Peninggalan Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahaim )


1. Masjid Pesucian yaitu masjid tertua di Pulau Jawa
Masjid Pesucian ini tercatat sebagai masjid tertua di Pulau Jawa karena daerah pertama yang di
singgahi atau di tuju oleh Sunan Gresik adalah Sembolo pada tahun 1389 Masehi yang berada di
dalam kekuasaan kerajaan Majapahit , yang sekarang berubah menjadi desa Leran , Sembilan
kilometer dari Pusat Kota Gresik . Di sisi utara Masjid Pesucian masih dapat di temukan bebatuan
arsenik peninggalan masa kejayaan Masjid Pesucian , bahkan terdapat satu batu besar yang tepat
berada di depan pagar Majid Pesucian di sisi timur, yang di percaya dahulu merupakan bekas batu
tempat berlabuhnya kapal.
Air sumur sebagai air penyembuhan
Air sumur yang terdapat di dalam Masjid Pesucian menjadi sebuah air yang banyak di percaya oleh
pakar Spiritual sebagai air yang mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Uniknya, sumber
air yang terdapat din dalam sumur ini sangat besar dan juga rasanya tawar , tidak seperti sumur di
wilayah desa ini yang semuanya mempunyai rasa yang asin.
Karomah Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )
1. Karomah Syekh Maulana Malik Ibrahaim dalam menurunkan hujan lebat.
2. Kisah Murid Syekh Maulana Malik Ibrahaim dalam menaklukkan perampok.
Karya Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )
1. Bidang Kesenian : Tembang Suluk , Gundul-Gundul Pacul dan lain-lain.
2. Bidang Pendidikan : Pondok Pesantren Leran Gresik .
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Asy-Syaikh As-Sayyid Al-Habib KH.Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini


(Peneliti Sejarah & Nasab Wali Songo, Mursyid Thariqah Wali Songo dan Pimpinan Majelis
Dakwah Wali Songo)

NAMA SUNAN AMPEL


Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Sayyid Muhammad ‘Ali Rahmatullah, setelah pindah ke
Jawa Timur dipanggil oleh masyarakat dengan panggilan Sunan Ampel atau Raden Rahmat. lahir
pada tahun 1401 Masehi di “Champa”

TEMPAT KELAHIRAN
Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan
bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di “Kamboja”. Pendapat lain, “Raffles”
menyatakan bahwa Champa terletak di “Aceh” yang kini bernama “Jeumpa”.
Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah
Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya ( kota Wonokromo
sekarang).

NASAB SUNAN AMPEL


Sunan Ampel bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin
bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath
bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin
Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal
Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah

ISTERI DAN ANAK SUNAN AMPEL


Sunan Ampel menikah dengan:
I. Isteri Pertama, yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-
Abbasyi, berputera:
1. Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang
2. Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Derajat
3. Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
4. Siti Muthmainnah
5. Siti Hafsah
II. Isteri Kedua adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:
1. Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
2. Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fattah
3. Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
4. Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
5. Pangeran Tumapel
6. Raden Faqih (Sunan Ampel 2)

DAKWAH SUNAN AMPEL


Ulama adalah pewaris para nabi. Sebuah pengakuan sekaligus penegasan resmi Rasulullah
saw. tentang penerus perjuangan Islam untuk memimpin umat dan membimbing mereka kepada
jalan agama Allah swt serta mengarahkan mereka menuju kebaikan.
Raden Rahmatullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel adalah satu dari
sekian banyak waratsatul anbiya’ yang dipercaya oleh Allah swt. untuk meneruskan estafet
perjuangan Rasulullah Saw. Beliau adalah sosok ulama teladan sekaligus waliyyun min auliyaillah’.
Tipe pemimpin ideal ada di sini: muballigh ulung, cendekiawan sejati, dan penuh perhitungan
dalam setiap langkah menapaki terjalnya jalan dakwah dan menghadapi tantangan masyarakat yang
sebelumnya telah mempunyai keyakinan yang membumi akan faham budhisme, hinduisme dan
kepercayaan “isme-isme” yang lain, jauh sebelum sunan Ampel datang menebarkan ajaran
rahmatan lil alamin.
Sebuah langkah tepat beliau lakukan sebagai strategi awal dalam metodologi dakwahnya,
yaitu pembauran dengan masyarakat akar rumput yang merupakan titik sentral dari sasaran
dakwahnya. Saat itulah kecendekiaan dan intlektualitasnya benar-benar teruji. Tidak mudah
tentunya. Di tempat yang sangat asing, jumud dan kolot, seorang pendatang dari negeri Campa
berusaha untuk beradaptasi dengan kultur-sosial yang tidak pernah dikenal sebelumnya.
Dengan diplomasinya yang gemilang, Kanjeng Sunan Ampel berhasil mensejajarkan kaum
Muslimin kala itu dengan kalangan “elite” dalam kasta-kasta mesyarakat dan pemerintahan
Majapahit. Pemerintahan Majapahit pun sangat menghormati dan menghargai hak-hak dan
kewajiban orang Islam, bahkan tidak sedikit dari punggawa kerajaan yang akhirnya memeluk
agama Islam sebagai way of life-nya.
Kalau metodologi dakwah Sunan Ampel dengan masyarakat akar rumput dilakukan dengan
cara pembauran dan pendekatan, beda halnya dengan metode yang ditempuh ketika menghadapi
orang-orang cerdik-cendikia. Pendekatan intelektual dengan memberikan pemahaman logis adalah
alternatif yang beliau tempuh. Hal ini sebagaimana tercermin dalam dialognya dengan seorang
biksu Budha.
Suatu ketika, seorang biksu datang menemui Sunan Ampel. Kemudian terjadilah percakapan
seputar akidah berikut:
Biksu: Setiap hari Tuan sembahyang menghadap ke arah kiblat. Apakah Tuhan Tuan ada di sana?”
Sunan Ampel: Setiap hari Anda memasukkan makanan ke dalam perut agar Anda bisa bertahan
hidup. Apakah hidup Anda ada di dalam perut?”
Biksu itu diam tidak menjawab. Tapi dia bertanya lagi, “Apa maksud tuan berkata begitu?”
“Saya sembahyang menghadap kiblat, tidak berarti Tuhan berada di sana. Saya tidak tahu
Tuhan berada di mana. Sebab, kalau manusia dapat mengetahui keberadaan tuhannya,
lantas apa bedanya manusia dengan Tuhan? Kalau demikian buat apa saya sembahyang?!”
Cerita berakhir. Dan si biksu kemudian masuk Islam karena ia gamang akan otentisitas
ajaran agamanya.

Satu ending yang sangat memuaskan. Tidak hanya bagi si pelaku cerita, tapi juga untuk kita:
sebuah pelajaran tentang metedologi dakwah di hadapan orang yang tidak bertuhankan Tuhan.
Sunan Ampel.: etos dakwah di tanah Jawa di samping icon Sunan Kalijaga, di sisi yang lain. Beliau
adalah satu dari sekian banyak wali Allah yang menghabiskan hidupnya hanya untuk berdakwah di
jalan-Nya. Metodologi dakwahnya memang tidak sama dengan metodologi ala Sunan Kalijaga atau
Sunan Muria, yang menggunakan pendekatan seni-budaya Jawa sebagai media dakwahnya. Sunan
Ampel lebih menggunakan pendekatan intelektual—dengan memberikan pemahaman tentang Islam
melalui wacana intelektual dan diskusi yang cerdas dan kritis serta dapat dinalar oleh akal. Cerita di
atas adalah bukti sejarahnya.
Dialog Sunan Ampel-biksu telah mengingatkan kita kepada jawaban Nabi Ibrahim as.
dilontarkan kepada raja Namrudz ketika beliau dituduh menghancurkan tuhan-tuhan mereka,
“Bahkan, Tuhan yang paling besar inilah yang melakukannya”. Bedanya, Namrudz tidak pernah
mau menerima kebenaran itu meski dia mengetahuinya. Kemudian kita bertanya, mungkinkah
orang sekelas biksu dapat ditaklukkan hanya dengan melalui pendekatan budaya? Bisa jadi, tapi
mungkin sulit.
Urgensitas budaya sebagai media dakwah alternatif memang tak bisa dibantah. Sejarah juga
membuktikan bahwa pendekatan kultur-budaya yang dimainkan oleh Sunan Kalijaga berhasil
dengan sangat gemilang. Tapi, sejatinya, pendekatan kultur-budaya hanya relevan untuk komunitas
masyarakat kelas menengah ke bawah. Sedang untuk obyek intelektual kelas atas mungkin sangat
pas bila menggunakan jalur seperti yang ditempuh Sunan Ampel.
Dus, dengan dua metodologi yang dipakainya, beliau telah berhasil menciptakan harmoni
antara ulama dan umara, antara akar rumput dan kalangan pemerintahan, walaupun masih berada
dalam sekat tertentu, karena beliau–sebagai sosok da’i yang mempertaruhkan hidupnya untuk
berdakwah dan mengayomi umat–tetap indipenden dan konsisten dengan posisinya sebagai ulama.
Beliau tidak pernah dan memang tidak sudi menggunakan alat kekuasaan sebagai kendaraan
dakwahnya.
Maka tidak berlebihan jika beliau mendapat prototype sebagai wali sejati, wali dalam
pengertian “kekasih Allah” di dunia, bukan wali dengan arti penguasa setempat sebagaimana
mispersepsi sebagian pemerhati sejarah (yang mungkin juga tidak mengakui adanya wali Allah
yang lain). Karena kalau kita merunut sejarah, maka akan menghasilkan sebuah hipotesa
sebagaimana di atas. Terbukti, beliau, sekali lagi, tidak mau menggunakan kendaraan kekuasaan
sebagai piranti memuluskan dakwahnya.
Ala kulli hal, metode dakwah Sunan Ampel melengkapi strategi dakwah walisongo secara umum,
untuk menjadi satu kesatuan yang nyaris sempurna guna memuluskan misi mulia yang mereka
emban: menyebarkan risalah Islam di tanah jawa. Dan, karena jasa-jasa mulianya inilah, ribuan atau
bahkan jutaan doa senantiasa mengalir, setiap saat, di setiap denyut doa umat Islam, hingga dunia
enggan meneruskan sejarahnya.

MAKAM SUNAN AMPEL


Sunan Ampel Wafat di Surabaya, tahun 1425 M. Makamnya terletak di daerah Ampel Denta, Kota
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
3. Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia
adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten
Rembang.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang.
Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada
dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya
yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah
beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain
kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang
berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang.
Mereka memperebutkannya.

Silsilah
 Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad
 Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
 Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
 Maulana Malik Ibrahim bin
 Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
 Ahmad Jalaludin Khan bin
 Abdullah Khan bin
 Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
 Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
 Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
 Ali Kholi’ Qosam bin
 Alawi Ats-Tsani bin
 Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
 Alawi Awwal bin
 Ubaidullah bin
 Ahmad al-Muhajir bin
 Isa Ar-Rumi bin
 Muhammad An-Naqib bin
 Ali Uradhi bin
 Ja’afar As-Sodiq bin
 Muhammad Al Baqir bin
 Ali Zainal ‘Abidin bin
 Hussain bin
 Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad).

Karya Sastra
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk
Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah
tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering
dinyanyikan orang.
Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan
Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku
(Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya
Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

Keilmuan
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang
berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernafasan[rujukan?]
yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan
Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk
huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya’. Ia
menciptakan

Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam
dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk
menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca
dan memahami isi Al-Qur’an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah
mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Sholat dan dzikir.
Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh
generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid
Indonesia.

1. Asal usul Sunan Bonang


Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana
Makdum Ibrahim. Putera Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng
Manila.

Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah puteri Prabu Kertabumi. Dengan demikian
Raden Makdum adalah seorang Pangeran Majapahit karena ibunya adalah puteri Raja Majapahit
dan ayahnya menantu Raja Majapahit.

Sebagai seorang wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se tanah jawa, tentu
saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Sejak kecil Raden Makdum Ibrahim sudah
diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin.
Sudah bukan rahasia bahwa latihan atau riadha para wali itu lebih berat daripada orang
awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon wali yang besar, maka Sunan Ampel sejak dini juga
mempersiapkan sebaik mungkin.
Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu
masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam ke tanah seberang yaitu negeri Pasai. Keduanya
menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga
belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama tasawuf yang
berasal dari bagdad, Mesin, Arab dan Parsi atau Iran.
Sesudah belajar di negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke jawa.
Raden paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.
Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem,
Rembang, Tuban dan daerah Sempadan Surabaya.

2. Bijak dalam Berdakwah


Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat
untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang
adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan
kayu lunak timbulah suara yang merdu di telinga penduduk setempat.

Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau
adalah seorang wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga apabila beliau bunyikan
pengaruhnya sangat hebat bagi pendengarnya.

Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang datang
ingin mendengarnya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang
sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden
Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya
tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan
ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan
senang hati, bukan dengan paksaan.

Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau
Bawean, Jepara, Surabaya maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam
berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang.

3. Karya Satra
Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra
Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya sastra yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna
kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di perpustakaan Universitas Leiden,
Belanda.

Suluk berasal dari bahasa Arab “Salakattariiqa” artinya menempuh jalan (tasawuf) atau
tarikat. Ilmunya sering disebut Ilmu Suluk. Ajaran yang biasanya disampaikan dengan sekar atau
tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut wirid.

4. Kuburnya ada dua


Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat
berdakwah di Pulau Bawean.
Berita segera disebarkan ke seluruh tanah jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru
untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan beliau di Pulau Bawean.
Tetapi murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenasah beliau dimakamkan di
dekat ayahnya yaitu Sunan Ampel di Surabaya. Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus
jenasah mereka pun tak mau kalah. Jenasah yang sudah dibungkus dengan kain kafan milik orang
bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk
membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkut jenasah Sunan Bonang
kedalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa kain kafan
jenasah tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah Surabaya, tetapi ketika berada diperairan Tuban tiba-
tiba kapal yang dipergunakan tidak bisa bergerak akhirnya jenasah Sunan Bonang dimakamkan di
Tuban yaitu sebelah barat Mesjid Jami’ Tuban.

Sementara kain kafannya yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenasahnya. Orang-
orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenasah Sunan Bonang, inilah karomah atau kelebihan yang
diberikan Allah kepada beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan diantara murid-muridnya.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M. Makam yang dianggap asli adalah yang berada dikota
Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak yang diziarahi orang darisegala tanah air.
4. Sunan Drajat (Raden Qosim/Raden Syaifudin)

Menurut buku-buku sejarah walisongo, nama asli Sunan Drajat yaitu Raden Qosim. Beliau
lahir sekitar tahun 1470 M, dan merupakan putra dari Sunan Ampel bersama Nyai Ageng Manila
atau Dewi Condrowati. Sunan Drajat merupakan anak kedua dari lima bersaudara, bersama dengan
Sunan Bonang, Siti Muntisiyah (istri dari Sunan Giri), Nyai Ageng Maloka (istri dari Raden Patah),
dan istri dari Sunan Kalijaga.
Dari silsilah Sunan Ampel, maka Sunan Drajat termasuk cucu dari Syekh Maulana Malik
Ibrahim, seorang perintis dan pelopor pertama yang membawa Islam di tanah Jawa.
Sementara itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Asmarakandi merupakan anak dari
seorang ulama besar dari Persia, yakni Syekh Jamaludin Akbar atau Jumadil Kubro yang dipercaya
sebagai keturunan ke-10 Sayidina Husein, cucu dari Nabi Muhammad SAW.
Ibu dari Sunan Drajat merupakan putri dari adipati Tuban yaitu Arya Teja IV, dan masih
memiliki nasab dengan Ronggolawe. Ketika masih muda Sunan Drajat sering dipanggil dengan
nama Raden Syarifuddin.
Selain itu beliau juga memiliki gelar Sunan Mayang Madu yang diberikan oleh Sultan Demak
pertama (Raden Patah), dan masih banyak gelar lainnya seperti Sunan Muryapada, Maulana
Hasyim, dan Syekh Masakeh.

SEJARAH RIYADHOH DAN ISTRI ISTRI SUNAN DRAJAT


Sama halnya Sunan Bonang, Sunan Drajat juga dibekali dengan ilmu agama oleh ayahnya
secara teratur di pondok pesantren Ampel Denta Surabaya. Selain itu, beliau juga pernah berguru
agama Islam pada Sunan Gunung Jati yang berada di Cirebon.
Meskipun sebelumnya Sunan Gunung Jati atau yang memiliki nama asli Syarif Hidayatullah
adalah murid dari Sunan Ampel sendiri yang ditugaskan di daerah Cirebon.
Saat di daerah Cirebon, Sunan Drajat sering disebut dengan Syekh Syarifuddin. Di sana
beliau turut membantu Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan dakwah agama Islam. Beliau
kemudian menikah dengan Dewi Sufiyah yang merupakan putri dari Sunan Gunung Jati, dan
dikaruniai anak bernama Pangeran Trenggana, Pangeran Sandi, dan Dewi Wuryan.
Selain itu, beliau juga menikah dengan Nyai Kemuning dan Nyai Retno Ayu Candrawati.
Nyai Kemuning merupakan putri dari Mbah Mayang Madu yang merupakan seorang tetua desa
Jelak.
Beliau merupakan orang yang telah menolong Sunan Drajat disaat terdampar dalam
perjalanan dakwahnya menuju ke pesisir Gresik. Di lain sisi, Sunan Drajat juga menikahi Nyai
Retno Ayu Candrawati yang merupakan putri dari Raden Suryadilaga, seorang adipati di kawasan
Kediri.
PERJALANAN DAKWAH SUNAN DRAJAT
Sunan Drajat merupakan salah satu dari anggota walisongo yang terkenal akan
kecerdasannya. Setelah beliau selesai dengan riyadhoh dan menguasai pelajaran agama Islam,
beliau kemudian diperintahkan untuk menyebarkan ajaran agama di sebelah barat Surabaya
khususnya pesisir Gresik.
Namun, dalam perjalanannya mengarungi lautan, perahu yang ditumpangi beliau mengalami
musibah ombak besar hingga akhirnya tenggelam dan menyebabkan beliau terdampar di daerah
pesisir Lamongan.

1. PERJALANAN DI TENGAH LAUT


Alkisah setelah belajar di Ampel Denta, Sunan Drajat memperoleh tugas dakwah pertama
dari Sunan Ampel untuk memusatkan penyebaran Islam di daerah pesisir Gresik. Namun di tengah
perjalanan dari Surabaya menggunakan perahu, beliau dihantam oleh ombak yang cukup besar
sehingga membuat perahunya tenggelam.
Beliau bertahan dengan berpegangan pada dayung perahu, yang pada akhirnya diselamatkan
oleh ikan cucut dan ikan talang (cakalang).

2. PERTOLONGAN IKAN DAN HIKMAH DI DALAMNYA


Jika melihat ke belakang sejarah, maka peristiwa Sunan Drajat ini hampir mirip dengan
kisah Nabi Yunus dan juga kisah Sri Tanjung. Yang mana ketika Nabi Yunus dilempar ke tengah
laut, beliau kemudian diselamatkan oleh ikan hiu yang sangat besar.
Jika kita mengambil hikmah dari ketiga kisah tersebut maka harusnya kita belajar dari ikan
yang tidak pernah terlepas dari lingkungannya (air).
Sama seperti ikan yang hidup di air maka manusia juga tidak boleh terlepas dari tanggung jawabnya
di lingkungan masyarakat. Ia harusnya menolong dan membantu bilamana dalam lingkungan
tersebut mengalami keterbelakangan, bodoh, miskin, atau sebagainya.
Dan sebagaimana ikan yang memasuki lorong-lorong bebatuan untuk mencari kebaikan,
maka manusia juga harus bisa membaca, mendengarkan, dan mencari tahu apa yang tengah
diinginkan oleh masyarakat

3. TERDAMPAR DI PESISIR JELAK, BANJARWATI


Dengan menaiki kedua ikan tersebut, akhirnya Sunan Drajat berhasil mendarat di sebuah
pesisir yang dikenal sebagai desa Jelak, Banjarwati. Menurut beberapa sumber, kejadian tersebut
terjadi sekitar tahun 1485 M.
Di desa Jelak tersebut, beliau mendapat sambutan yang hangat oleh tetua kampung yaitu
Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar yang diyakini sudah masuk Islam dengan bantuan
pendakwah yang berasal dari Surabaya.

4.MENETAP DI DESA JELAK


Sunan Drajat kemudian menetap di desa Jelak dan menikah dengan putri dari Mbah Mayang
Madu yaitu Nyai Kemuning. Beliau kemudian mendirikan surau yang akhirnya berkembang
menjadi sebuah pesantren untuk mengaji ratusan penduduk disana.
Sunan Drajat berhasil mengubah desa Jelak yang tadinya hanyalah kampung kecil dan terpencil
menjadi desa yang berkembang dan ramai. Nama desa tersebut akhirnya diubah menjadi desa
Banjaranyar.

5. BABAT ALAS WILAYAH YANG BARU


Setelah lebih dari setahun di Jelak, Sunan Drajat akhirnya memutuskan untuk mencari
tempat dakwah lain yang lebih strategis. Beliau kemudian berpindah sekitar satu kilometer ke arah
selatan dan membuka lahan baru yang masih berupa hutan belantara.
Untuk menempati lahan tersebut, beliau bersama dengan Sunan Bonang meminta izin
kepada Sultan Demak I dan mendapatkan ketetapan pemberian tanah tersebut tahun 1486 M.
Hutan yang berada di pegunungan tersebut dianggap sangat strategis karena jauh dari banjir
saat musim hujan. Selain itu, pemilihan gunung juga dipercaya dekat dengan Allah sebagaimana
Nabi Musa dan Nabi Muhammad yang mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya.
Menurut beberapa kisah, selama pembukaan lahan, banyak sekali makhluk halus yang
marah, meneror warga, serta menyebarkan penyakit, namun bisa diatasi oleh Sunan Drajat.

METODE DAKWAH SUNAN DRAJAT

1. MENJADI BAGIAN TERPENTING DALAM MASYARAKAT


Untuk bisa dihormati dan diikuti oleh masyarakat maka Sunan Bonang menjadi bagian terpenting
dalam lingkungan dakwahnya. Dalam beberapa naskah disebutkan bahwa beliau menikahi putri-
putri dari petinggi desa atau wilayah kabupaten.
Dengan demikian maka cukup mudah bagi beliau untuk mengajak pemimpin dan rakyatnya masuk
dalam agama Islam, atau mengajak orang-orang yang lebih kaya untuk menginfakkan sebagian
harta mereka pada fakir miskin.
Selain itu, beliau juga mampu mengambil hati masyarakat dengan menyembuhkan warga yang sakit
melalui doa dan juga ramuan tradisional.
Beliau juga terkenal dengan kesaktiannya, terbukti dengan adanya Sumur Lengsanga di daerah
Sumenggah, yang diciptakan dari sembilan lubang bekas umbi hutan yang dicabut dan akhirnya
memancarkan air bening untuk menghilangkan dahaga para pengikutnya selama perjalanan.

2. MENGAYOMI MASYARAKAT
Sunan Drajat kerap sekali memperhatikan rakyatnya, terutama setelah pembukaan lahan baru di
perbukitan Drajat. Beliau sering melakukan ronda atau mengitari perkampungan di malam hari
untuk mengamankan dan melindungi rakyatnya dari gangguan makhluk halus yang sering meneror
warga.

3. MENGENTASKAN KEMISKINAN RAKYAT


Sunan Drajat terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi dengan selalu memperhatikan kaum fakir
miskin. Sesuai dengan namanya Al-Qosim yang berarti orang yang suka memberi harta warisan,
rampasan perang, dan sebagainya.
Ajaran Sunan Drajat lebih ditekankan pada kesejahteraan masyarakat berupa kedermawanan,
solidaritas, gotong royong, menciptakan kemakmuran, dan pengentasan kemiskinan. Setelah hal itu
terwujud barulah beliau memberikan ajaran dan pemahaman tentang Islam.

4. DENGAN KEARIFAN DAN KEBIJAKSANAAN


Sunan Drajat menyampaikan ajaran Islam melalui metode dakwah bil-hikmah atau dengan cara-
cara yang bijak dan tidak memaksa. Beliau menggunakan pendekatan lewat pengajian-pengajian di
masjid, menyelenggarakan pendidikan pesantren, dan memberikan fatwa/petuah untuk berbagai
masalah.
Selain itu, beliau juga mengajarkan kepada muridnya tentang kaidah untuk tidak saling menyakiti
baik secara perkataan maupun perbuatan, seperti: “Hindari pembicaraan yang menjelek-jelekkan
orang lain, apalagi melakukannya”.
5. MELALUI KESENIAN TRADISIONAL
Sama seperti Sunan Bonang, Sunan Drajat juga sering berdakwah melalui adat lokal dan kesenian
tradisional, asalkan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Beliau sering menyampaikan petuah
melalui tembang pangkur yang diiringi dengan alat musik gending.
Beberapa tembang pangkur yang diubah telah disimpan rapi di museum Sunan Drajat. Selain itu,
keahlian bermusik Sunan Drajat juga dibuktikan dengan adanya seperangkat gamelan ‘Singo
Mengkok’.

6. LEWAT PITUTUR SOSIAL


Di sisi lain, Sunan Drajat juga mengajarkan tata cara hidup sebagai makhluk sosial yang harus
saling membantu. Terbukti dengan adanya artefak di komplek makam yang bertuliskan catur
piwulang.
Adapun empat pokok yang diajarkan oleh Sunan Drajat tersebut meliputi: berikan tongkat pada
orang buta, berikan makan orang yang kelaparan, berikan pakaian pada orang telanjang, dan berikan
payung pada orang yang kehujanan.

AJARAN SUNAN DRAJAT YANG TERKENAL


Dalam mengamalkan ajaran Islam terutama meningkatkan jiwa sosial dan juga pengentasan
kemiskinan, Sunan Drajat mengajarkan filosofi yang dilukiskan dalam tujuh sap tangga di komplek
makam Sunan Drajat. Tujuh ajaran tersebut sangat supel dan mampu diamalkan siapa saja dari
berbagai kalangan maupun tingkatan. Adapun makna filosofi ketujuh sap tangga tersebut yakni
sebagai berikut:
Pertama: “Memangun resep tyasing Sasoma”, artinya kita harus selalu membuat hati orang lain
merasa senang.
Kedua: “Jroning suka kudu éling lan waspada”, maka ketika kita merasa bahagia, kita harus selalu
ingat pada sang Kuasa (bersyukur) dan tetap waspada.
Ketiga: “Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah”, artinya dalam
perjalanan untuk menggapai cita-cita yang luhur maka kita tidak boleh takut dan mudah putus asa
terhadap segala macam rintangan.
Keempat: “Mèpèr Hardaning Pancadriya”, anjuran untuk selalu menekan hawa nafsu yang
bergelora.
Kelima: “Heneng – Hening – Henung”, artinya dalam keadaan diam kita bisa mendapat
keheningan, dan saat keadaan menjadi hening maka disitulah kita mampu menggapai cita-cita yang
mulia.
Keenam: “Mulya guna Panca Waktu”, maknanya adalah suatu kebahagiaan secara lahir dan batin
yang bisa kita peroleh dengan melaksanakan sholat lima waktu.
Ketujuh: Empat ajaran pokok bersosialisasi (catur piwulang) seperti yang dituliskan di atas.
Maknanya yaitu kita harus memberikan ilmu kepada orang yang belum mengerti (bodoh), kita harus
mensejahterakan orang yang miskin, kita harus mengajari tentang kesusilaan pada orang yang tidak
tahu malu, dan kita harus melindungi orang yang sedang menderita atau terkena musibah.
5. Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga – Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali songo yang memiliki perbedaan
menonjol dari para wali lainnya. Perbedaan tersebut di antaranya yaitu dalam hal berpakaian dan
berdakwah. Beliau lebih cenderung menggunakan pakaian yang berwarna hitam dengan blangkon
khas Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa beliau merupakan sosok seorang yang sederhana.
Dalam melakukan dakwahnya beliau cenderung memasukkan ajaran agama Islam dalam kebiasaan
atau tradisi Jawa. Beliau tidak merubah sama sekali adat istiadat yang di pegang orang Jawa. Selain
itu, beliau memiliki karya seni yang bernuasa Hindu-Budha.

PERJALAN SUNAN KALIJAGA HINGGA MENJADI WALI


Kala itu Raden said (Sunan kalijaga) merasa prihatin melihat keadaan masyarakat Tuban akibat
adanya upeti dan musim kemarau panjang. Kemudian beliau berinsiatif untuk membongkar gudang
kadipaten dan membagikan makanan tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan. Namun saat
itu belaiu tertangkap basah oleh penjaga gudang yang kemudian beliau di laporkan kepada ayahnya.
Semasa berdakwah, setiap para wali tentunya memiliki cara atau metode yang unik untuk memikat
hati masyarakatnya. Setiap wali memiliki hubungan baik itu hubungan saudara atau hubungan
antara guru dan murid, rata-rata para wali (sunan) bukan merupakan penduduk asli Jawa. Berikut
perjalan sunan Kalijaga hingga beliau menjadi seorang wali :

MASA KECIL DAN MUDA SUNAN KALIJAGA


Nama kecil sunan Kalijaga menurut sejarah adalah Raden mas Syahid atau Raden Said.
Beliau merupakan putra dari seorang adipati Tuban yang bernama Ki Tumenggung Wilatikta,
namun ada juga mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Raden Sahur Tumenggung Wilatikta.
Nama lain dari sunan Kalijaga adalah Lokajaya, Syekh Malaya dan Pangeran Tuban.
Pada masa mudanya beliau merupakan seorang yang giat belajar dalam mencari ilmu,
terutama ilmu agama Islam. Beliau juga pernah berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati
dan Sunan Ampel. Menurut cerita sejarah sunan Kalijaga memiliki usia hingga 100 tahun, dengan
begitu berarti beliau mengalami berakhirnya kekuasaan kerajaan Majapahit.
Selain itu beliau juga mengalami masa kesultanana Demak, Cirebon dan Banten. Bahkan juag
merasakan kerajaan Pajang yang berdiri pada tahun 1546 Masehi, dan juga kerajaan Mataram yang
di pimpin oleh senopati. Beliau juga di ceritakan ikut serta dalam merancang pembangunan masjid
Agung Demak dan masjid Agung Cirebon.
Raden Said merupakan putra dari adipati Tuban yang sangat dekat dengan rakyat jelata atau
miskin. Pada saat itu terjadi musim kemarau sangat panjang yang membuat masyarakat gaga panen,
namun dalam waktu yang bersamaan pemerintah pusat memerlukan dana besar untuk mengatasi
pembangunan, dan mau tidak mau rakyat miskin harus membayar pajak yang tinggi.
Melihat adanya keadaan yang kontradiksi antara pemerintah dan rakyat jelata, Raden Said yang
merasa dekat dengan rakyat jelata, beliau bergerak tanpa pikir panjang untuk membantu rakyat
tersebut. Beliau mencuri hasil bumi untuk di bagikan kepada rakyat yang tidak mampu tersebut di
gudang penyimpanan ayahnya.
Hasil bumi tersebut merupakan upeti dari masyarakat yang akan di setorkan kepada
pemerintah pusat. Biasanya pada malam hari Raden Said bergerak untuk melakukan aksinya dan
hasilnya di bagikan langsung kepada rakyat jelata secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengatahuan
rakyat sekalipun.
Seiring berjalannya waktu, penjaga gudang merasa curiga, karena upeti yang ada di gudang
mulai berkurang. Karena penasaran, si penjaga gudang dengan sengaja meninggalkan gudang dan
mengintip dari kejauhan, namun ternayata penjaga gudang berhasil memergoki aksi Raden Said
tersebut, dan kemudian Raden Said di bawa kapada ayahandanya.
Raden Said di marahi habis-habisan oleh ayahandanya, dan beliau mendapatkan hukuman tidak
boleh keluar rumah. Setelah lepas sepekan, Raden Said tidak merasakan jera atas hukumannya
tersebut. Beliau tetap melakukan aksinya di luar istana, yang targetnya adalah orang-orang kaya dan
pelit.
Hasil dari aksinya tersebut kemudian ia bagikan kepada rakyat jelata. Karena aksinya di luar
istana, Raden Said menggunakan pakaian serba hitam dan topeng layaknya seorang ninja. Hingga
suatu hari, Raden Said di jebak oleh perampok asli. Di suatu malam, perampok tersebut melakukan
pemerkosaan sekaligus memperkosa wanita cantik dengan memakai pakaian yang sama seperti
Raden Said ketika melakukan aksinya.Di saat Raden Said ingin menolong wanita tersebut,
perampok yang asli berhasil meloloskan diri. Dengan pakaian yang sama, Raden Said terjebak dan
menjadi kambing hitam masyarakat karena sudah mengepungnya. Dengan kejadian tersebut ayah
Raden Said kecewa terhadapnya dan langsung mengusirnya.

SILSILAH SUNAN KALIJAGA


Secara historis menurut catatan Babad Tuban, sunan Kalijaga merupakan orang Jawa asli.
Dalam Babad tersebut di ceritakan, Aria Teja alias Abdul Rahman yang berhasil mengislamkan
Adipati Tuban. Kemudian Arya Teja di kawinkan dengan putrinya yang kemudian lahir Aria
Wilatikta. Catatan juga di perkuat dengan catatan yang masyhur penulis dan bendahara portugis.
Dalam catatannya dengan bendaraha portugis Tome Pires (1468-1540), menurutnya penguasa
Tuban pada tahun 1500 Masehi merupakan cucu dari penguasa Islam pertama di Tuban yakni Aria
Wilatikta beserta puteranya sunan Kliajaga atau Raden Mas Said.
Pendapat lain menyebutkan yang berdasarkan keterangan penasihat khusus pemerintah
kolonial Belanda, Van Den Breng (1845-1927) yang menyatakan jika sunan Kalijaga merupakan
keturunan Arab yang silisilahnya sampai kepada Rasullah. Sejarawan lain juga menyebutkan seperti
De Graff menilai bahwa Aria Teja I memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas.

METODE DAKWAH SUNAN KALIJAGA


Dalam melakukan dakwahnya beliau mempunyai pola yang tidak jauh dari sunan Bonang,
yang merupakan salah satu guru dari sunan Kalijaga. Paham keagamaannya berbasis salaf bukan
sufistik panteistik (pemujaan semata). Beliau juga memilih kesenian sebagai sarana dakwahnya.
Sunan Kalijaga juga sangat toleran terhadap dengan adanya budaya lokal. Beliau berpendapat jika
masyarakat akan menjauh apabila menuruti keinganannya. Sehingga, mereka harus di dekati secara
bertahap, halus dan pelan-pelan. Beliau mengikuti tradisi, adat-istiadat yang ada di masyarakat.
Sunan Kalijaga meyakini jika Islam sebenarnya sudah di pahami, dengan sendirinya
kebiasaan-kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya. Beliau menggunakan senin ukir, wayang,
gamelan serta seni suara suluk sebagai sarana dakwahnya. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang
populer adalah lir-ilir dan gundul-gundul pacul.
Metode tersebut di nalian sangan efektif. Karena sebagain besar adipati Jawa memeluk
Islam melalui sunan Kalijaga, di antaranya ada adipati pandaran, kartasura, kebumen, Banyumas
serta Pajang.
6. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

Riwayat Hidup Sunan Kudus

Sunan Kudus

Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan lahir pada tanggal 9 September 1400 M / 808 H diPalestina. Anak
dari Raden Usman Hajji atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung, seorang panglima
perang Kesultanan Demak Bintoro. Ayahnya merupakan putra dari Sultan di Palestina yang
bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita / Raden Santri).

Kemudian berhijrah sampai ke Pulau Jawa dan tiba di Kesultanan Islam Demak lalu diangkat
menjadi panglima perang. Sunan Kudus belajar agama dengan ayahnya sendiri dan kepada Kyai
Telingsing serta Sunan Ampel.

Kyai Telingsing merupakan ulama China yang datang ke Jawa bersama Cheng Hoo, yang kemudian
menyebarkan agama Islam dan membuat tali persaudaraan dengan orang Jawa.

Setelah itu beliau berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Budha.
Selama hidupnya Ja’far Shadiq menjabat beberapa pekerjaan di Kekhalifahan Islam Demak,
diantaranya adalah

1. Penasehat Khalifah (Sultan Demak)


2. Panglima Perang
3. Qadhi
4. Mufti
5. Imam besar Masjid Demak dan Masjid Kudus
6. Mursyid Tarekat
7. Naqib Nasab keturunan Azmatkhan
8. Ketua Pasar Islam Walisongo
9. Penanggung Jawab Pencetak Dinar Dirham Islam
10. Ketua Baitulmal Walisongo

Metode Dakwah Sunan Kudus


Zaman dahulu, mayoritas masyarakat memeluk agama Hindu dan Budha. Tidak mudah dalam
memperkenalkan dan mengajari agama Islam, namun tidak bagi Sunan Kudus, beliau
menggunakan metode syiar atau pendekatan budaya sehingga dengan mudah diterima masyarakat.
Berikut ini cara dakwah yang disampaikan beliau :
1. Mendekati Masyarakat Hindu
Masyarakat Hindu sangat berpegang teguh pada kepercayaannya sehingga metode ini sulit
dilakukan, namun beliau mencoba agar masyarakat memeluk agama Islam. Ja’far Shadiq
mengajarkan bahwa umat Islam bertoleransi tinggi terhadap masyarakat Hindu sehingga
berjalannya waktu mereka mau masuk agama Islam.

Ajaran tersebut berupa menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu serta membangun
menara Masjid yang hampir sama dengan bangunan candi Hindu.

2. Mendekati Masyarakat Budha


Metode ini berbeda dengan yang diterapkan ke masyarakat Hindu, disini beliau membuat tempat
wudhu yang berbentuk pancuran sebanyak delapan titik pancuran.

Setiap pancuran diberi arca Kebo Gumarang yang dihormati di agama Budha. Sehingga mereka
menjadi penasaran dan akhirnya masuk ke area masjid kemudian terpengaruh dengan penjelasan
Sunan lalu ikut menjadi umat Islam.

3. Mengubah Ritual Mitoni (Selametan)


Acara ini merupakan acara yang sejak zaman dahulu disakralkan oleh masyarakat Hindu-Budha.
Isi dari mitoni adalah cara mengungkapkan rasa syukur karena telah dikaruniai seorang anak.

Wujud syukur mereka dipersembahkan kepada patung dan arca, bukan kepada Allah SWT. Tugas
utama Sunan adalah meluruskan isi acara tersebut yaitu acara dibuat ke jalan islami dan tidak
dihilangkan begitu saja.

Kisah Perjuangan Sunan Kudus

Ayah beliau merupakan pemimpin pasukan Majapahit sekaligus menjadi Senopati Demak.
Ayahnya gugur dalam pertempuran sengit melawan Husain atau Adipati Terung dari Majapahit.

Dan akhirnya Ja’far Shadiq menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Senopati Demak. Sebagai
seorang Senopati, beliau tetap menyampaikan dakwah didaerah Kudus dan sekitarnya.

Yang disampaikan dalam dakwah mengutamakan sikap tenang dan halus sehingga masyarakat
dapat menerima ajarannya tidak dengan paksaan. Selain itu Sunan ini dikenal sebagai seorang
ulama yang suka mengembara, pernah sampai ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji.

Saat berada di Mekkah, beliau membantu menyembuhkan warga yang sedang terkena wabah
penyakit. Yang kemudian penguasa Arab memberikan sebuah batu yang berasal dari Baitul
Maqdis. Lalu di bawa pulang batu tersebut ke Jawa dan meletakkannya di area Imam masjid
Kudus yang sudah berdiri kokoh.

Peninggalan Sunan Kudus

Sunan Kudus
Tidak hanya mengajarkan agama Islam, namun beliau meninggalkan bukti sejarah yang sampai
saat ini masih dirawat oleh masyarakat. Beberapa peninggalan tersebut antara lain :
1. Masjid Dan Menara Kudus

Disebut juga Masjid Al Manar atau nama resminya Masjid Al Aqsa Manarat Qudus. Sebuah
masjid yang berada di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Bangunan Masjid dengan gaya arsitektur
Islam, Hindu, dan Budha ini memiliki keunikan dan keindahan sehingga menunjukkan terjadinya
proses akulturasi. Masjid yang didirikan pada tahun 1549 M ini ramai dikunjungi masyarakat
untuk beribadah serta ziarah ke makam Sunan. Masjid ini menjadi pusat keramaian saat festival
Dhandhangan dalam menyambut bulan Ramadhan.

2. Keris Cintoko
Pusaka ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih dirawat sampai sekarang.
Terdapat ritual rutin setiap tahun usai idul adha yaitu menjamas atau memandikan keris. Acara ini
merupakan suatu rangkaian sakral wujud menghormati peninggalan Sunan Kudus. Dilakukan saat
menyambut tradisi buka luwur (pergantian kerai di cungkup makam).

3. Dua Tombak Sunan Kudus


Sama dengan Keris Cintoko. Dua tombak ini juga merupakan peninggalan yang masih dilestarikan
sampai sekarang. Upacara tradisi yang sudah berusia ratusan tahun dilaksanakan di dekat pintu
makam Sunan. Sebagai acara sakral menghormati peninggalannya ini dilakukan dengan cara
dijamas atau dimandikan. Selain menjaga pusaka peninggalannya, acara ini bertujuan mengingat
nilai yang terkandung didalamnya yaitu kebijaksanaan dan kekuasaan (Dapur Panimbal).

4. Tembang Asmarandana
Salah satu peninggalan kesenian yang masih ditembangkan oleh beberapa masyarakat. Melalui
tembang ini Sunan Kudus mengajarkan agama Islam dengan memasukkan lirik yang terkandung
didalamnya. Sehingga dengan mudah diterima baik oleh masyarakat Hindu Budha saat itu.

5. Peninggalan Lainnya

Adalah permintaan kepada masyarakat untuk tidak menyembelih hewan sapi untuk berkurban saat
Idul Adha. Bertujuan untuk menghormati masyarakat Hindu, sehingga mereka mengganti hewan
kurban dengan memotong kerbau. Dan kepercayaan ini masih dianut masyarakat sampai sekarang.

Wafatnya Sunan Kudus


Sunan Kudus
Beliau wafat pada tahun 1550 M. Meninggal dunia pada saat menjadi Imam sholat subuh di
Masjid Menara Kudus dalam posisi sujud. Kemudian di makamkan di lingkungan masjid
tersebut. sampai sekarang makam beliau masih ramai dikunjungi dengan tujuan berziarah atau
mendoakan. Kebesaran hati dan kesabaran Sunan Kudus tidak hanya dalam menyampaikan
dakwahnya saja, namun juga meninggalkan sejarah yang pantas untuk dilestarikan. Tokoh penting
dalam masyarakat Islam dan menjadi panutan menjadikan beliau masih dikenang sampai
sekarang. Cara menyampaikan ajaran Islam yang berbeda dari Wali lainnya menjadikan beliau
dengan mudah diterima oleh masyarakat. Peninggalan yang sekarang menjadi landmark Kota
Kudus ini sangat ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai Kota.

.
7. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Orangtua Sunan Muria


Sunan Muria adalah anggota Walisongo dan merupakan keturunan atau putra dari Sunan
Kalijaga dan Dewi Saroh (menurut informasi dari Wikipedia). Nama asli dari Sunan Muria adalah
Raden Umar Said. Beliau menyebarkan agama islam dengan cara yang halus seperti yang dilakukan
oleh ayahanda beliau Sunan Kalijaga. Raden Umar Syahid mempunyai peran penting dalam proses
penyebaran islam di sekitar gunung muria.

Tanggal Lahir Sunan Muria


Mengenai kapan lahir dan wafatnya tidak ada sumber yang sahih menyebutkannya, akan
tetapi dimana dimakamkannya beliau dimakamkan Gunung Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe,
Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Tempat Tinggal Sunan Muria


Tempat tinggal sunan muria berada di puncak gunung muria, yang salah satu puncaknya
bernama Colo. Gunung tersebut terletak di sebelah utara kota kudus. Merupakan informasi yang
lengkap yang saya dapatkan.

Keluarga Sunan Muria


Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah dan melahirkan seorang anak bernama
Pangeran Santri atau Sunan Ngadilangu yang merupakan cucu dari Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh.

Cara Dakwah Sunan Muria


Sunan muria menyebarkan agama islam kepada para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat
jelata. Cara beliau menyebarkan agama islam dengan tetap mempertahankan kesenian gamelan dan
wayang sebagai alat dakwah. Beliau juga yang telah menciptakan berbagai tembang jawa seperti
tembang Sinom dan Kinanti. Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai
sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ''menghanyutkan diri'' dalam masyarakat.
Tempat dakwahnya berada di sekitar gunung muria, kemudian dakwahnya diperluas meliputi Tayu,
Juwana, kudus, dan lereng gunung muria. Ia dikenal dengan sebutan sunan muria karena tinggal di
gunung muria.
Kesaktian Sunan Muria
Fisik kuat
Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat
karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar 750 meter. Bayangkan, jika ia dan
istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada
penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu
tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat.

Mengembalikan serangan lawan


Bukti bahwa sunan muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah
perkawinan sunan muria dengan dewi Roroyono. Beliau memiliki ilmu yang dapat mengembalikan
serangan dari lawannya. Itu terjadi ketika Kapa adik seperguruan beliau yang telah menculik istri
sunan muria menyerang sunan muria dengan mengerahkan aji pamungkas. Namun serangan itu
berbalik menghantam dirinya sendiri sehingga merenggut nyawanya.

Jasa Jasa Sunan Muria


Sunan Muria banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan Pulau Jawa. Ia
adalah putra atau keturunan dari Sunan kalijaga. Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Said,
sedangkan nama kecilnya adalah Raden Prawoto.
Peninggalan dan Karya Sunan Muria
Tembang Sinom dan Kinanti. Cara – cara yang ditempuh Sunan Muria dalam menyiarkan
agama Islam dengan mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat
biasa. Beliau lah yang menciptakan tembang dakwah “Sinom” dan “Kinanti”.

Minta Hujan
Banyak cerita mengenai karomah dari Sunan Muria diantaranya adalah benda bekas
peninggalannya diantaranya pelana kuda yang kerap digunakan masyarakat sekitar Gunung Muria
untuk meminta hujan jika terjadi kekeringan di wilayah tersebut. Ritual minta hujan tersebut dikenal
dengan nama guyang cekathak atau memandikan pelana kuda milik Sunan Muria. Ritual ini
biasanya digelar pada hari Jumat Wage di musim kemarau. Ritual diawali dengan membawa pelana
kuda peninggalan Sunan Muria dari Komplek Masjid Muria ke mata air Sedang Rejoso di Bukit
Muria. Di mata air ini, pelana kuda kemudian dicuci lalu air sendang lalu dipercik-percikan ke
warga. Usai mencuci pelana kuda, dilanjutkan dengan membacakan doa dan menunaikan salat
minta hujan (Istisqa). Lalu ditutup dengan makan bersama dengan lauk-pauk berupa sayuran dipadu
dengan parutan kelapa, opor ayam dan gulai kambing. Disediakan juga makanan penutup berupa
minuman khas warga Kudus berupa dawet yang melambangkan bahwa butiran dawet adalah
lambang turunnya hujan.

Pengobatan
Selain itu air gentong peninggalan Sunan Muria juga diyakini dengan keberkahannya dapat
menyembuhkan dan mencegah penyakit, membersihkan dari kotoran jiwa dan memberikan manfaat
kecerdasan bagi sebagian peziarah dan warga sekitar Gunung Muria.

Lokasi Makam Sunan Muria


Sunan Muria dimakamkan di atas puncak bukit bernama bukit Muria. Dari pintu gerbang
masih naik lewat beratus tangga (undhagan) menuju ke komplek makamnya, yang terletak persis di
belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai
pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya. Di batas utara pelataran ini berdiri
bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan
Muria.
8. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang
mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari
kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya
Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.

Orang Tua
Ayah
Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah
Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari
Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air.
Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik
putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang
silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.

Ibu
Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga
Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang dan
Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon
Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli
Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di
Komplek Astana Gunung Sembung ( Cirebon )

Silsilah
 Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan bin
 Sayyid 'Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
 Sayyid 'Ali Nuruddin Al-Khan @ 'Ali Nurul 'Alam bin
 Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
 Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
 Sayyid Abdullah Al-'Azhomatu Khan bin
 Sayyid Amir 'Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
 Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
 Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)bin
 Sayyid Ali Kholi' Qosim bin
 Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
 Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
 Sayyid Alawi Awwal bin
 Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah bin
 Ahmad al-Muhajir bin
 Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi bin
 Sayyid Muhammad An-Naqib bin
 Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
 Sayyidina Ja'far As-Sodiq bin
 Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
 Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin bin
 Al-Imam Sayyidina Hussain
 Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad

Silsilah dari Raja Pajajaran


 Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah
 Rara Santang (Syarifah Muda'im)
 Prabu Jaya Dewata @ Raden Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi II
 Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali)
 Niskala Wastu Kancana @ Prabu Siliwangi I
 Prabu Linggabuana @ Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat)

Pertemuan Orang Tuanya


Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar masih
diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di
Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan
mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar
Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Datuk Kahfi, Cirebon (tempat
belajar Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang, kakanda dari Rara Santang).

Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di
majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknua datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong
perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.

Pernikahan Rara Santang putri dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah
cucu Syekh Maulana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.

Perjalanan Hidup
Proses Belajar
Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana
Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan
ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin)
Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk
umat Islam.
Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak
mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil
peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru
dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.
Pernikahan
Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten
ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri yaitu
Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.

Kesultanan Demak
Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun
1487 yang mana ia memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang
kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini, ia berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama
dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al
Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden
Patah adalah keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka
Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti
dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan
Cirebon.

Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di
Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak
sebagai pelopornya.

Gangguan Proses Islamisasi


Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit,
baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami
gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah
dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.

Tentang personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik,
dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar
pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu
untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya.

Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti
Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat
sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten.
Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.

Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam
pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan misi utama
mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya
untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 pada tahun 1511.

Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal pada tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat
merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai
(belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di
Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis
bertempur di P. Jawa.
Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda
Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh
Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.

Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan
berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P. Jawa
setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.

Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam
yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.

Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah
nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat.
Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan
moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke
dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.

Perundingan yang sangat menentukan


Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayatullah adalah dalam riwayat jatuhnya
Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya setahun sebelum ia wafat dalam
usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan
para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana
Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran,
Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah
bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar
dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.

Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian
besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan
Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan
memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga
anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan.
Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar. Yang menjadi perdebatan
para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak
opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran
Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.

Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa
penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa
reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang
diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan,
Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya
penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari
wilayah Istana Pakuan. Bagi para sejarawan, ia adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika
itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai
puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang
dikenal dengan nama Sultan Haji.

Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh
Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.
9. Sunan Giri (Raden Paku/Muhammad Ainul Yakin)

TANGGAL DAN TEMPAT LAHIR

Sunan Giri adalah nama salah seorang Wali Songo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang
berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan (Sekarang Banyuwangi) 9 Juni
1442 Masehi.

NAMA DAN GELAR SUNAN GIRI

Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu


1. Raden Paku,
2. Prabu Satmata,
3. Sultan Abdul Faqih,
4. Raden ‘Ainul Yaqin
5. Joko Samudra.
6. Sultan Giri Kedathon.

AYAH SUNAN GIRI

Sunan Giri adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah.
Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Raja Menak Sembuyu
penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.

NASAB SUNAN GIRI

Sunan Giri bin Maulana Ishaq bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain
bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin
Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin
Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin
Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
Nabi Muhammad Rasulullah
KISAH MASA KECIL SUNAN GIRI
Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari
Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada
masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah
penyakit di wilayah tersebut. Dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu
menghanyutkannya ke laut. Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal
(pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik
kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.

Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama
kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas
sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya dan Makdhum
Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana
Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama
Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.

ISTRI & ANAK SUNAN GIRI


Sunan Giri menikah dengan Dewi Murtasiyah binti Sunan Ampel, berputera :
1. Sayyid Ali Zainal Abidin alias Alias Ali Sumodiro alias Raden Dalem alias Sunan
Dalem alias Sunan Giri II
2. Sayyid Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen)
3. Sayyid Abdullah alias Jayengresmi alias Syekh Amongraga alias Sunan Kidul,
menikah dengan Tambangraras, putri Ki Panurta. Jayengresmi memiliki karya yaitu
Suluk Serat Centhini.
4. Sayyid Ibrahim alias Jayengsari,
5. Sayyid Hasan alias Rancangkapti.
6. Sayyid Husain alias Darmakusuma

KARYA SUNAN GIRI


1. Gending Asmaradhana
2. Gending Pucung
3. Permainan Jelungan
4. Permainan Jamuran
5. Permainan Gendi Gerit
6. Permainan Jor,
7. Permainan Gula Ganti
8. Lagu Cublak-Cublak Suweng
9. Lagu Lir-ilir
10.Lagu Tembang Dolanan Bocah

CARA DAKWAH SUNAN GIRI:


Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden
‘Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan
di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal
masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah
satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok,
Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil
yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai
akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.
MAKAM SUNAN GIRI
Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.